UMM Borong Penghargaan di East Java Academic Librarian Awards 2020

Berawal dari kecintaannya terhadap kepenulisan dan literasi, Dian Puspitasari, S.AP, memutuskan untuk terjun ke dunia perpustakaan. Kini ia sudah menjadi pustakawan di perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kecintaannya itu juga mengantarkannya menjadi juara satu pada ajang East Java Academic Librarian Awards 2020 pada Selasa kemarin (15/12). Tidak cukup sampai di situ, ia juga menyabet juara favorit di kompetisi yang diikuti oleh berbagai pustakawan dan perpustakaan kampus terbaik se-Jawa Timur tersebut. Sebagai seorang pustakawan, Dian tentu aktif dalam berbagai kegiatan literasi. Sebut saja seminar literasi, menjadi bagian dari kepanitiaan dan juga organisasi perpustakaan. Anak kedua dari dua bersaudara ini juga kerap menulis karya ilmiah setiap tahunnya. Salah satu karya unggulan yang ia sertakan dalam perlombaan ini berkaitan dengan perbandingan transformasi literasi di era normal dan pandemi. Lebih khusus yang dilaksanakan di Unit Pelksana Teknis (UPT) perpustakaan UMM. Lebih lanjut, Dian juga memiliki harapan lain di samping mendalami dunia perpustakaan. Ia berencana mengembangkan berbagai kelompok literasi. Kelompok literasi inilah yang nantinya bisa menginisiasi kenaikan tingkat literasi di masyarakat secara luas. “Saya sangat menyukai semua hal tentang buku dan perpustakaan. Meski begitu, saya juga punya mimpi untuk terjun langsung dalam usaha mendorong tingkat pemahaman literasi yang ada di masyarakat,” dengan ujar pustakawan UMM kelahiran Jombang ini. Selain prestasi yang diraih oleh Dian, perpustakaan UMM juga terpilih menjadi perpustakaan favorit di ajang East Java Academic Librarian Awards 2020 tersebut. Hal itu tidak lepas dari inovasi-inovasi yang sudah diterapkan perpustakaan UMM selama ini. Salah satu di antaranya adalah pengembangan one top service dalam pelayanan perpustakaan di era pendidikan jarak jauh. Inovasi ini bertujuan untuk memudahkan para mahasiswa dan dosen untuk mengakses buku maupun literasi, sekalipun di tengah pandemi. Ditemui di kesempatan berbeda, Dr. Asep Nurjaman, M.Si, kepala perpustakaan UMM mengungkapkan rasa bangganya karena sudah berhasil memperoleh hasil yang baik di ajang penghargaan tersebut. Ia juga menilai bahwa keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras seluruh elemen yang ada di perpustakaan UMM. “Kami juga berterimakasih pada pihak kampus yang selalu mendukung program dan inovasi yang kami lakukan. Perpustakaan UMM tentu akan terus berbenah dan berkembang agar mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada. Selain itu juga agar tapi tetap selaras dengan visi misi UMM,” jelas Asep Nurjaman. (syi/wil)

Dosen UMM Berdayakan Masyarakat Melalui Bisnis Kopi

Tingginya potensi bisnis kopi serta melemahnya perekonomian di Malang saat pandemi, membuat tim dosen UMM tergerak untuk melakukan sosialisasi mengenai bisnis kopi. Melalui program DIKTI tentang Produk Teknologi Didiseminasikan ke Masyarakat (PTDM), tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan sosialisasi pengelolahan kopi kepada para petani, narapidana, dan siswa Praktek Kerja Lapangan (PKL). Sosialisasi ini diadakan di kedai Kopi Jagongan Jail pada Minggu (29/11) kemarin. Tim dosen UMM terdiri dari tiga orang yaitu Rahadi, Novin Farid Setyo Wibowo, dan Eka Kadharpa. Sosialisasi ini berfokus pada pengembangan produksi kopi, mulai dari cara menghasilkan biji kopi berkualitas, pengolahan biji kopi, hingga proses penjualan melalui digital marketing. Adapun kegiatan ini diadakan dalam dua tahap. Tahap pertama pada tanggal 29 November kemarin. Sementara tahap kedua akan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember yang akan datang. Ketiga dosen tersebut ingin sosialisasi ini dapat memberikan manfaat ke banyak orang. Karena hal itu, Rahadi selaku ketua tim menggandeng Pandu, pemilik kedai kopi Loss dan kedai kopi Jagongan Jail sebagai mitra. Uniknya, Pandu juga bekerja sebagai sipir di Lapas Lowokwaru serta memiliki kelompok petani kopi binaan di Karangploso. Dengan jaringan yang dimiliki oleh Pandu, sosialisasi ini dapat menjangkau berbagai kalangan. Tidak hanya memberikan materi, ketiga dosen UMM tersebut juga memberikan bantuan mesin roasting kepada mitra. Natinya, mesin ini dapat menambah kapasitas produksi serta menghemat waktu pengelolahan biji kopi. “Kami ingin agar para peserta juga bisa langsung belajar teknis dari materi yang sudah disampaikan. Jadi teman-teman tidak hanya mendengarkan tapi juga bisa memegang langsung alatnya,” ungkap Rahadi. Rahadi dan tim juga sangat berharap sosialisasi ini dapat memberikan wawasan baru kepada mereka yang membutuhkan. Di samping itu juga bisa memberikan keterampilan khususnya dalam dunia kopi. “Kami ingin materi dan pelatihan yang disosialisasikan dapat membantu mitra kita untuk tetap survive di industri kopi, apalagi di tengah pandemi seperti ini. Kami juga berharap mitra akan membagikan wawasan ini kepada konsumen yang tertarik di dunia kopi”, pungkasnya di akhir sesi wawancara. (syif/wil)

UMM Jalin Kerja Sama dengan Universidad EAFIT Kolombia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tidak pernah berhenti mengembangkan jalinan kerjasama nasional dan internasionalnya. Salah satunya dengan menggaet Universidad Escuela de Administración, Finanzas e Instituto Tecnológico (EAFIT), Kolombia. Kedua perguruan tersebut melangsungkan penandatanganan kerangka perjanjian kerja sama di bidang pendidikan pada Selasa secara daring (15/12). Turut hadir, duta besar Indonesia untuk Kolombia Drs. Priyo Iswanto, M.H. dan duta besar Kolombia untuk Indonesia, Juan Camilo Valencia Gonzalez. Rektor UMM, Dr. Fauzan M.Pd mengapresiasi jalinan kerja sama antara UMM dan EAFIT. Ia yakin keduanya bisa saling mendukung dan juga bersinergi. Sinergitas inilah yang nanti dapat mempercepat akselerasi kemajuan di perguruan tinggi masing-masing. “Dengan potensi yang dimiliki kedua universitas, kerja sama ini tentu akan memberikan kemajuan dan inovasi baru, terutama di level internasional,” tuturnya dalam sambutan. Ia juga menyampaikan bahwa kerja sama ini bukan sekadar formalitas semata. Lebih jauh, bisa ditindaklanjuti dengan  program strategis dan terukur dalam waktu dekat. Ia percaya banyak hal besar yang bisa dilakukan bersama EAFIT mengingat kualitas kedua universitas yang bagus pula. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor EAFIT, Claudia Maria Zea Restrepo juga mengungkapkan kerja sama ini bisa memperkuat hubungan bilateral antara Kolombia dan Indonesia. Khususnya dalam bidang pendidikan tinggi. “Kesepakatan ini dilaksanakan beriringan dengan peringatan 40 tahun hubungan diplomatik Kolombia dan Indonesia. Selain itu juga bertepatan dengan ulang tahun Universidad EAFIT yang ke-60,” imbuhnya. Maria melihat bahwa UMM dan Universidad EAFIT memiliki banyak kesamaan. Keduanya merupakan perguruan tinggi swasta yang sama-sama sudah melayani di bidang pendidikan selama lebih dari lima puluh tahun. Sudah barang tentu, ia berharap agar kerja sama yang terjalin bisa memberikan kontribusi dalam hubungan kedua universitas dan transformasi masyarakat. Senada dengan apa yang disampaikan Maria, duta besar Indonesia untuk Kolombia, Drs. Priyo Iswanto, M.H. juga ingin agar penandatanganan ini dapat melengkapi kerjasama pendidikan antar dua negara. Mengingat sampai saat ini hanya terbatas pada beasiswa yang disediakan oleh pemerintah seperti Darmasiswa dan beasiswa lainnya. Ia juga mengapresiasi proses perundingan yang sangat intensif dan meski masih berada di tengah pandemi. Hal ini tidak lepas dari kemajuan sarana tekonologi dan Informasi. “UMM dan EAFIT sama-sama menyandang status pendidikan berkualitas tinggi. Sudah barang tentu bisa dimulai dengan melaksanaka kegiatan di bidang yang tidak memerlukan biaya dan resource yang tinggi. Kemudian diikuti dengan kegiatan lainnya secara bertahap,” terang Priyo. Lebih lanjut, Juan Camilo Valencia Gonzalez, duta besar Kolombia untuk Indonesia menganggap kerja sama strategis antara kedua universitas terkemuka ini bisa menjembatani kesenjangan jarak geografis, meningkatkan potensi pertukaran budaya serta akademi. Ia juga berharap perjanjian bebas visa kedua negara mampu memberikan kemudahan dalam hal mobilitas akademik. (wil)

Kembangkan Kampus Merdeka Belajar, UMM Undang Mensesneg

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengambil langkah cepat dalam dunia pendidikan. Salah satunya bersiap menjadi kampus merdeka belajar dengan mengundang Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prof.Dr. Drs. Pratikno, M.Soc. Sc. dalam kuliah tamu. Agenda yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (15/12) tersebut menekankan tema Membangun Ekosistem Inovasi Perguruan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0. Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. membuka acara dengan memberikan sambutan dan pengantar. Ia mengungkapkan bahwa tantangan dan tuntutan bagi perguruan tinggi semakin banyak seiring waktu. Dua hal kunci yang bisa membantu menghadapinya adalah dengan meningkatkan inovasi dan improvisasi dari segala sisi. Menurutnya, perubahan di era ini bukanlah sebuah pilihan melainkan keharusan. Pratikno dalam pemaparannya menerangkan perubahan di masa kini berbeda dengan era sebelumnya. Perubahan yang ada sekarang tidak bisa diprediksi. Maka dari itu, menyusun rencana memang penting tapi mengubah perencanaan jauh lebih penting, lebih-lebih di era disrupsi. Menteri yang sempat mengenyam pendidikan di University of Birmingham itu juga mendorong perguruan tinggi untuk mengubah peran para pendidik. Tidak hanya sebagai pengajar tapi juga sebagai activator, co-designer, learning partner bahkan juga bisa menjadi community developer. “Kiasan perguruan tinggi sebagai menara air sudah tidak relevan lagi. Sekarang, perguruan tinggi lebih dituntut untuk menjadi korek api. Menyulut semangat  dan mendukung mahasiswanya untuk menjadi lebih baik,” tutur Pratikno. Di samping itu, ia juga mendorong perguruan tinggi untuk berkolaborasi dengan praktisi, khususnya para digital expert. Ia memberi contoh seorang dokter yang kini mau tidak mau harus memahami tentang Artificial Intelegent (AI) maupun algoritma sederhana. Begitupun juga para lawyer yang perannya kini mulai tergeser oleh keberadaan AI. Pratikno juga menekankan bahwa materi di dalam kelas tidaklah cukup bagi mahasiswa. Mereka memerlukan portofolio dan karya nyata dalam mengahdapi era disrupsi. Selain itu, perguruan tinggi juga dituntut untuk memberikan softskill bagi para peserta didiknya. “Dua hal itu adalah kunci penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan yang akan datang,” terangnya lebih lanjut. Ia melihat bahwa UMM memiliki potensi yang besar untuk menginisiasi perubahan ini, apalagi dengan jaringan kerjasama yang luas. Jaringan tersebut nantinya harus diberi faslitas yag luas pula. “Mungkin nanti UMM bisa membuat platform yang memebrikan kmudahan bagi mahasiswa untuk menentukan tempat magang. Jadi tidak perlu repot mengurus surat dan hal sulit lainnya,” jelas Pratikno. Terakhir, ia berharap nantinya institusi pendidikan bisa memberikan porsi lebih bagia mahasiswa untuk mengembangkan dirinya. Salah satunya dengan memperbanyak mata kuliah pilihan yang ada. “Kurikulum harus dibuka semerdeka mungkin, dengan begitu pemuda-pemuda yang kita miliki bisa memberikan inovasi dan ide baru,” pungkasnya di akhir uraian materi. (wil)

Dosen UMM Tulis Buku Matematika dengan Kearifan Lokal

Melihat realita bahwa mata pelajaran matematika masih menjadi momok bagi peserta didik, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dyah Worowirastri Ekowati menggagas penyusunan buku pendamping untuk matematika kelas 1 SD. Apalagi didukung dengan data dari Progress International Reading Literacy Study (PIRLS) tahun 2019 yang menunjukkan penurunan nilai matematika. Uniknya, buku ini juga memuat kearifan lokal serta disajikan dalam lima bahasa. Dyah, panggilan akrabnya, menuturkan bahwa pelajaran matematika bisa dikemas secara menarik berdampingan dengan kearifan lokal. Penggabungan ini membuat peserta didik tidak hanya memahami matematika, tapi juga budaya kearifan lokal yang ada. “Kesan rumit dan sulit dari matematika bisa dikurangi dengan adanya corak-corak yang sudah disediakan. Tentunya sudah disusun dengan asyik dan menarik bagi peserta didik,” jelas dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut. Lebih lanjut, buku berjudul Ayo Bermain dan Belajar Matematika ini tidak hanya disajikan dalam satu bahasa saja. Ada lima bahasa yang sudah disiapkan, mulai dari bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Thailand, serta Arab. Dyah juga ingin agar buku ini bisa memberikan banyak pengetahuan di samping matematika, baik itu dari corak budaya maupun bahasa yang digunakan dalam buku. Tak kalah menarik, buku ini merupakan kolaborasi antara dosen dan alumni UMM serta para mitra. Ada beberapa dosen yang tergabung dalam tim penyusun seperti Dyah Worowirastri Ekowati, Beti Istanti Suwandayani, dan  Erlyna Abidasari. Beberapa alumni juga turut andil dalam penulisan dan penyusunan buku itu. Sebut saja Leny Suryaning Astutik, Dwi Irfandy Rachman, dan  Fitri Linda Sari yang sudah menjadi dosen dan guru di berbagai institusi pendidikan. “Kami juga mengajak para mitra untuk ikut dalam penyusunan buku matematika ini. Bahkan ada beberapa guru dari Darul Muhmin School Thailand yang nantinya akan membantu dalam menerjemahkannya ke bahasa Thailand,” terang Dyah lebih lanjut. Ia berharap buku pendamping ini dapat menjadi buku referensi yang membantu para siswa, guru, dan orang tua dalam kegiatan Belajar dari Rumah (BDR). Kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) sebagai akibat belum berakhirnya pandemi memang menyisakan tantangan tersendiri bagi semua pihak, terlebih pada jenjang sekolah dasar kelas rendah. “Para orang tua memiliki latar belakang yang beragam sehingga tidak semua bisa memfasilitasi anak belajar dengan optimal. Dengan adanya buku ini, kami berharap mereka dapat terbantu serta bisa belajar dengan baik di masa pandemi ini,” tandas dosen yang juga telah menerbitkan buku Etnomatematik tersebut. (*/wil)

FEB UMM Mantapkan Mahasiswa Hadapi Bisnis Digital

Sadar akan berbagai tantangan dunia digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Pusat Perkembangan Karir Kewirausahaan (PPKWU) bekerja sama dengan Pegadaian Jakarta untuk langsungkan kuliah tamu. Agenda yang mengusung tema Peluang dan Tantangan Bisnis Start Up bagi Generasi Millenial ini dilaksanakan secara daring di Zoom Meeting dan kanal Youtube FEB UMM pada Sabtu (12/12). Webinar diawali dengan sambutan pembukaan oleh Wakil Dekan I Dr. Widayat, M.M. Ia menyampaikan pentingnya teknologi informasi bagi manusia dalam berbagai aspek. Semakin ke sini, teknologi semakin erat dengan kegiatan kita. Hal ini membuat teknologi seakan punya dua sisi yang berbeda, dapat menjadi peluang bisa juga menjadi ancaman. “Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika mampu memanfaatkannya, maka itu bisa jadi peluang yang bagus. Begitupun sebaliknya,” tuturnya lebih lanjut. Agenda ini menghadirkan dua pemateri yang sudah terjun langsung di bidangnya. Sebut saja Arif Bawono, S.E, founder Letsplay.id sekaligus praktisi bisnis digital. Ia memulai materinya dengan mengajak para peserta untuk menjadi detektif. Memecahkan beberaa kasus dan masalah di dunia bisnis. Kemudia ia mengajak mereka untuk mengambil kesimpulan terkait perlu tidaknya sebuah bisnis mengambil langkah digital. Arif juga tidak lupa memberikan tips mengembangkan bisnis melalui digitalisasi. Beberapa di antaranya dengan manajemen tugas, pemilihan platform, serta deteksi kompetensi dan potensi. Ia yakin jika sebuah bisnis menggunakan digital dengan benar, omset yang didapat akan bertambah. Salah satu caranya yakni melalui Googe Bisnis sebagai media pemasaran yang murah meriah. Selain Arif, turut diundang pula Luqman Bassam Ramadhani, S.P, founder Cetivo Digital Marketing. Saat itu ia menjelaskan lebih dalam terkait bagaimana generasi milenial melihat peluang di era ini. Ia juga menyingggung tentang tahapan bisnis yang ada, sehingga para peserta dapat mengetahui harus memulai dari mana. Apalagi di era revolusi industry 4.0 yang meberikan banyak akses dan pilihan digital untuk memulai sebuah bisnis atau usaha. (*/wil)

UMM Kampus Swasta Terunggul Jawa Timur 13 Kali Berturut-Turut

Untuk ketiga belas kalinya secara berturut-turut Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat penghargaan Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2020 dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Raihan itu diumumkan dalam agenda Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur di Ijen Suit Resort Malang, Kamis (20/12). Rektor UMM, Dr. Fauzan, M.Pd. menerima langsung penghargaan yang menobatkan UMM sebagai perguruan tinggi swasta terbaik pertama di Jawa Timur itu. Perolehan ini didasarkan pada empat kriteria penilaian. Pertama, kriteria Kelembagaan dan Kerjasama (20%). Kedua, kriteria Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (25%). Ketiga, kriteria Pembelajaran dan Kemahasiswaan (30%). Terakhir, kriteria Risbang dan Inovasi (25%). Setelah UMM, 4 universitas swasta lainnya yang mendapat AKU kategori Universitas secara berurutan yakni Universitas Surabaya, Universitas Kristen Petra, Universitas Islam Malang, serta Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Selain dinyatakan sebagai perguruan tinggi swasta terbaik pertama di Jawa Timur, UMM juga memperoleh penghargaan khusus, yakni terbaik pertama di kategori Kemahasiswaan. Disusul Universitas PGRI Madiun dan Universitas PGRI Adi Buana. Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. menyatakan usai menerima penghargaan bahwa raihan ini merupakan bentuk konsistensi dari sivitas akademika UMM untuk menghadirkan komitmen terhadap kualitas pelayanan pendidikan. “Prestasi ini tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi harus ditingkatkan terus. Karena masyarakat butuh pembuktian kualitas, butuh karya nyata, dan butuh contoh konkrit. Inilah yang menjadi tantangan perguruan tinggi, khususnya UMM,” katanya. Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Ir. Soeprapto, DEA. secara khusus memberikan apresiasi atas raihan ketiga belas kalinya sebagai kampus swasta terunggul di Jawa Timur. Ia berharap agar UMM dapat terus berprestasi dan meluaskan kebermanfaatannya. (can/wil)

Optimalkan Potensi Kulit bawang Merah, Mahasiswa UMM Raih Juara di PIMTANAS 2020

Prestasi demi prestasi terus ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini giliran Radya Kusuma Ardianto, Lucky Dimas Abimanyu, dan Afif Wafiq Waliyuddin yang mengharumkan nama kampus. Ketiganya tergabung dalam tim yang berhasil menyabet juara pertama di Pekan Kreativitas  Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta Tingkat Nasional (PIMTANAS) 2020. Kompetisi yang berlokasi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut dilangsungkan secara daring pada tanggal 24-26 November 2020 lalu. Adapun mereka bertiga mengangkat judul Potensi Ekstrak Kulit Bawang Merah Sebagai Agen Restorasi Glutation Tereduksi dan Hepatoprotektor Pada Acetaminophen-Induced Liver Injury: Sebuah Tinjauan Mekanisme Biomolekuler. Ada alasan mengapa tim UMM mengusung tema tersebut. Seringkali mereka melihat perilaku masyarakat yang cenderung tidak waspada akan efek dan pengaruh obat. “Salah satu contoh yang sering kita dapati adalah obat paracetamol. Meski mudah ditemukan, tapi tidak jarang menyebabkan alergi bahkan keracunan,” tutur Radya selaku ketua tim. Melihat fenomena tersebut, akhirnya ia dan kedua temannya tergerak untuk menggarap PKM-PE, membahas mengenai kuliat bawang merah yang notabene termasuk bahan herbal. Disamping itu, mereka juga ingin mematahkan anggapan masyarakat bahwa bahan herbal tidak perlu diteliti lebih dalam. “Padahal Indonesia memiliki bahan herbal yang melimpah. Sayang kalau tidak ada penelitian yang membahas kegunaannya lebih lanjut,” tandas mahasiswa kedokteran UMM tersebut. Radya kembali  menjelaskan bahwa mereka butuh satu setengah bulan untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan. Salah satu diantaranya adalah dengan mereview 42 jurnal internasional agar bisa memahami materi secara mendalam. ”Prosesnya memang cukup melelahkan, namun semua terbayar tuntas karena kami bertiga dapat memenangkan juara pertama,” ungkapnya. Tidak lupa, mereka bertiga juga berterimakasih pada pihak kampus yang selalu mendukung dalam setiap kreativitas mahasiswanya. Terutama kepada dosen pembimbing dr. Abi Noerwahjono, Sp.An yang sudah menyisihkan waktu saat proses pengerjaan. Selain itu, mereka juga berterimakasih kepada dr. Dian Yuliartha Lestari, Sp.PA selaku pemonev dalam pelaksanaan PKM tersebut. (wil)

Undang Okky Madasari, Lembaga Kebudayaan UMM Bangun Komitmen Budaya Menulis bagi Masyarakat

Setelah sukses menerbitkan buku cerita pendek karya para Narapidana dari Lapas Wanita Kelas 2A Malang pada 2019 lalu, Lembaga Kebudayaan (LK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar seri lanjutan ketiga pendampingan dan pelatihan menulis yang dilaksanakan pada Selasa (08/12). Adapun topik yang diangkat adalah Menulis Cerita Anak dalam Bingkai Budaya Anti Korupsi. Pelatihan ini ditujukan untuk para Guru PAUD, TK, dan SD se-Malang Raya. Penulis ternama, Okky Madasari yang didapuk sebagai pemateri menyampaikan mengenai pentingnya sastra anak sebagai jihad anti korupsi. Menurutnya, sastra mampu mengusik kenyamanan, menggugah kesadaran, memberikan sudut pandang baru serta membentuk karakter manusia baru. Ia juga menekankan bahwa sastra bagi anak sangatlah penting, bahkan jauh lebih penting ketimbang bagi orang dewasa. “Akses sastra bagi anak-anak perlu diberikan ruang lebih. Hal itu tak lepas dari peran penting sastra bagi tumbuh kembang anak di masa depan,” tutur sastrawan yang sudah dikenal di kancah nasional dan internasional tersebut.   Pemateri lain yang didatangkan LK UMM yakni Tinuk Dwi Cahyani S.H. S.Hi M.Hum, Pengurus Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang. Ia menjelaskan bahwa budaya anti korupsi harus ditanamkan kepada calon-calon pemimpin masa depan sedini mungkin. Ia juga sempat menyebutkan sepuluh karakter budaya Islam yang relevan dengan usaha menumbuhkan budaya korupsi. “Banyak contoh perbuatan korupsi yang sering kita temui di lingkungan sekitar kita. Ada baiknya mulai dihindari karena bisa memberikan contoh buruk bagi anak,” ungkap perempuan yang juga menjadi peneliti dan dosen di UMM tersebut. Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si, Kepala LK UMM menuturkan seri pelatihan menulis ini merupakan komitmen LK UMM pada budaya menulis dan bercerita. Ia berharap agenda ini dapat memberikan dampak positif dan memotivasi orang lain untuk menulis. Apalagi tulisan-tulisan yang berdasarkan pengalaman atau pemikiran yang mendalam sehingga ada rekaman yang bisa menginspirasi orang lain. “Selain dengan pengayaan melalui webinar, LK UMM juga akan mendampingi dan menerbitkan kumpulan tulisan para peserta dalam sebuah buku,” jelasnya lebih lanjut. Sebelumnya, LK UMM juga sudah melaksanakan seri kedua dari pendampingan dan pelatihan  menulis yang diperuntukkan bagi karyawan UMM pada Sabtu (28/11). Mereka diajak untuk menuliskan pengalaman menarik yang pernah dialami. “Menulis yang asyik adalah menulis dengan perasaan senang dan gembira. Pokoknya ditulis dulu, masalah penulisan bisa diperbaiki nantinya,” ajak Arif Budi, kepala Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UMM yang juga menjadi pemateri di seri itu. Pada seri kedua tersebut, hadir pula Dr. Frida Kusumastuti, M.Si sebagai pemateri. Ia merasa yakin bahwa tiap peserta memiliki pengalaman unik sendiri yang tidak pernah dialami orang lain. Baik di kehidupan kampus, berumah tangga, organisasi maupun kehidupan bertetangga. Ia juga tidak lupa memaparkankan fungsi dan manfaat menulis, tidak hanya bagi pembaca tapi juga bagi penulis itu sendiri. Rencananya, LK UMM bekerjasama dengan Tiga Serenada Publisher akan menerbitkan buku yang berisi karya tulisan para peserta.  Karya ini sekaligus menjadi hasil akhir dari pendampingan dan pelatihan menulis yang sudah dilksanakan sebelumnya. Adapun penerbitan buku karya para peserta akan dicetak pada tahun 2021. (*/wil)

Bos Maspion Dorong Wisudawan UMM Berbisnis Sejak Dini

Universitas Muhamammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar wisuda ke-98 periode IV tahun 2020. Agenda yang berlokasi di Hall Dome UMM tersebut dilaksanakan pada Kamis (10/12) dan menghadirkan Dr. Alim Markus sebagai tamu. Ia merupakan Chief Executive Officer (CEO) dari Maspion Group. Alim Markus memulai orasi ilmiah dengan menceritakan kisah masa mudanya. Ia sama sekali tidak menghabiskan waktu untuk bermain dan bersenang-senang. Sebaliknya, Markus sudah mulai mencoba peruntungan dan bekerja sejak usia 15 tahun. Ia percaya bahwa semakin dini untuk memulai, maka semakin banyak pula yang dihasilkan. “Saya ingat sekali satu peribahasa Cina yang menyebutkan kalau burung yang terbangnya lebih pagi akan mendapat makanan yang lebih banyak,” tuturnya. Markus juga mendorong para wisudawan yang hadir untuk berani mengambil keputusan. Tidak asal berani, tapi juga mempertimbangkan banyak aspek sehingga pilihan yang diambil bisa memberikan dampak baik di masa depan. “Lakukan banyak hal selagi muda, baik bekerja, berinvestasi maupun membuka bisnis. Akumulasi pengalaman-pengalaman yang didapat pasti akan berguna nantinya,” tutur Alim Markus. Dalam kesempatan itu, ia kembali mengajak wisudawan dan wisudawati untuk mengambil kesempatan dan mengerjakannya dengan baik. Deretan prinsip berbisnis seperti kejujuran, keberanian, rajin, dan bersikap baik. prinsip dasar itu juga harus dilengkapi dengan mengedepankan prinsip win-win solution kepada rekan kerja maupun partner bisnis. Dalam wisuda ini, Dr. H. Fauzan M.Pd, rektor UMM juga mengucapkan terima kasih kepada para wali dan wisudawan yang sudah menaati protokol kesehatan dengan baik. ia juga berpesan agar para wisudawan terus berjuang meski banyak kesulitan yang akan menghadang. “Setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Terus berusaha dan mencari celah agar bisa menemukan jalan keluar,” terangnya dalam sambutan. Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Drs.H. Wakidi, sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMM. Ia berharap agar mereka bisa menjadi ujung tombak bagi Muhammadiyah. Mampu mengamalkan apa yang sudah di dapat di UMM serta memberikan solusi-solusi yang diperlukan atas masalah yang sedang Indonesia hadapi. (wil)