Rektor Ingatkan Mahasiswa UMM Jangan Jadi Follower

DALAM Silaturahim antara rektor dan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM), serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jumat (15/1) Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyebut mahasiswa saat ini lebih baik dibandingkan mahasiswa saat ia baru menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III, 33 tahun yang lalu.       Dulu, kata rektor, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sedikit jumlahnya tapi nakal. Setiap ujian akhir, lanjutnya, mahasiswa selalu demo minta ditunda pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). “Sampai-sampai, ada mahasiswa UMM dulu tidak bayar sampai selesai kuliah. Tapi ya tidak banyak, paling hanya satu atau dua orang saja,” kenang Muhadjir.       Karena terbatasnya mahasiswa dan Sumber Daya Manusia (SDM) di UMM, beberapa mahasiswa bahkan waktu itu juga merangkap sebagai karyawan UMM. “Biarpun saya dulu PR III, tapi kadang-kadang saya juga ngrangkap menjadi supir,” ceritanya disambut tawa mahasiswa.       Selama bernostalgia dihadapan sekitar 250 fungsionaris mahasiswa, rektor mengucapkan maafnya karena sangat jarang dekat dengan mahasiswa. “Saya sengaja, supaya PR III lebih deket dengan mahasiswa. Kalo saya datang terus gimana PR III, itu namanya tidak memberi kesempatan. Itulah pemimpin. Saya juga dulu fungsionaris mahasiswa seperti anda,” katanya.       Dalam belajar menjadi pemimpin, Muhadjir bercerita bahwa semasa menjadi mahasiswa ia merangkap di beberapa organisasi. Baginya, menjadi mahasiswa harus pandai mengatur waktu. Jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia. “Menurut saya, semakin kita multiplayer, kekuatan kita makin berlimpah. Pandai-pandai saja me-manage energi. Saya tidak suka mahasiswa boros waktu, tidak investasi masa depan,” tegasnya.       Namun, lanjutnya, kesehatan juga harus dijaga, jika tidak nanti penyakitnya panen. “Apa artinya Anda pinter tapi di hari tua tidak bisa digunakan, malah sakit-sakitan. Makanya olahraga bagi aktivis itu mutlak,” tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah ini.       Muhadjir juga memberikan beberapa petuah kepada para fungsionaris yang memadati ruang Theater UMM Dome, salah satunya mengenai pengkaderan. Ia bahkan punya cara sendiri yang dibagikan kepada mahasiswa. “Dalam hal pengkaderan saya itu pakai teori anak Indian belajar renang, dicemplungi saja nanti ketemu sendiri caranya. Kalau terlalu banyak minta nasehat nanti malah tidak jalan-jalan. Orang yang suka minta saran itu follower,” jelas rektor.       Untuk itu, Muhadjir berpesan kepada calon-calon pemimpin bangsa ini untuk menemukan model kepemimpinannya sendiri. “Pemimpin itu harus memanfaatkan style, karakter, dan potensi masing-masing. Tunjukkan Anda beda. Optimalkan dengan gaya itu. Kalo ada yang mulai meniru Anda, berarti Anda mulai jadi role model,” ujarnya.       Sebelum mengakhiri ceritanya, rektor berpesan agar siapapun nantinya yang terpilih menjadi Rektor UMM menggantikan Muhadjir, mahasiswa dapat menerimanya dengan baik dan didukung penuh. “Karena pilihan tersebut berasal dari bawah dan sudah sesuai dengan tata aturan. Prosesnya memang panjang karena mendengar masukan dari berbagai pihak, tapi hasilnya semoga itu yang terbaik buat UMM,” ucap Muhadjir. (zul/han)

Rektor Nilai UMM Besar Karena Majemuk

SILATURRAHIM Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berlangsung hangat. Selain bercerita tentang dinamika mahasiswa UMM dalam rentang tiga dekade terakhir, Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effendy MAP juga memaparkan tentang perjalanan UMM hingga menjadi kampus swasta yang disegani.       “Ini saya silaturrahim sekaligus pamitan, karena saya sebagai rektor UMM tinggal menghitung hari, menunggu SK (Surat Keputusan) PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah. Tapi saya masih akan tetap di sini mendampingi secara informal,” kata rektor pada acara silaturrahim, Jumat malam (15/1) di theater UMM Dome.       Muhadjir menjelaskan, dulu tak ada yang bisa dikenal di UMM selain tradisi demonstrasi dan berkelahi. “Dulu saya sempat bingung apa yang bisa dipamerkan. Akhirnya saya coba ngangkat sepakbola. Pemain-pemain Persema (Persatuan Sepakbola Malang) saya tarik kesini, gratis SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan),” kata salah satu ketua PP Muhammadiyah ini.       Sewaktu menjabat Pembantu Rektor III pada 1986, Muhadjir berusaha membangun rasa bangga mahasiswa melalui sepakbola. Karena kiprahnya, UMM sangat aktif dalam kompetisi Baladhika Jaya Cup memperebutkan Piala Korem Malang. “Kalau ada pertandingan, kita libur. Stadion penuh dengan mahasiswa UMM, Rektor juga ikut nonton,” kenangnya.       Bahkan, sebut Muhadjir, UMM sampai menang berturut-turut pada kejuaraan tersebut. “Pialanya masih kita pegang sampai sekarang. Kita bahkan pernah menjuarai Piala Presiden mengalahkan Untag (Universitas 17 Agustus 1945) Surabaya.”       Karena itu, melihat perkembangan UMM yang sepesat ini, Muhadjir meminta agar mahasiswa bangga menjadi bagian dari UMM. “Anda harus bangga, karena UMM memang membanggakan,” kata guru besar Universitas Negeri Malang ini.       Bagi Muhadjir, UMM bisa besar karena mampu me-manage keanekaragaman. “UMM ini besar karena majemuk. UMM telah menciptakan miniatur masyarakat berkemajemukan. Karena itu, saya senang kalau dinamika mahasiswa itu tidak diwarnai satu organisasi, nanti kita tidak berkembang kalau begitu.”       Saat ini, tambahnya, UMM telah menjadi social enterprise. Karenanya, ia berharap suatu saat share dana dari mahasiswa tidak sampai 75 persen, sehingga sekitar 25 persen biaya ditanggung dari unit bisnis kampus. “Sekarang ini masih di bawah 10 persen, kalau kampus seperti Harvard itu sekarang sudah 50 persen. Tapi itu wajar, Harvard sudah merintis itu sejak 500 tahun yg lalu,” ungkap Rektor.       Jika terus dikembangkan, UMM diyakini bisa menjadi perguruan tinggi terdepan, mengalahkan kampus-kampus negeri. Menariknya, Muhadjir menambahkan, fenomena keunggulan kampus swasta sudah terjadi di Amerika. Di negara tersebut, kampus swasta seperti Harvard University Stanford University, dan Yale University lebih bergengsi daripada kampus negeri.       “Di Amerika itu, kalau kuliah di kampus negeri itu malu. Itulah mengapa anda harus bangga kuliah di sini,” ucap Muhadjir di hadapan lebih dari 250 aktivis mahasiswa UMM. (han)