Sosialisasi SPP-IRT Mahasiswa Hukum UMM Perkuat Legalitas UMKM Makaroni Daun Jeruk Malang

Kabar Baru, Malang – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku usaha rumahan di Kota Malang. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum 1 yang wajib diikuti oleh mahasiswa hukum. Sosialisasi ditujukan untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya legalitas pangan bagi pelaku usaha mikro. Melalui pendampingan ini, mahasiswa berupaya membantu pelaku UMKM meningkatkan kualitas dan keamanan produk makanan. Kegiatan berlangsung dengan suasana interaktif dan penuh antusiasme dari kedua belah pihak. Sosialisasi diberikan kepada pemilik usaha Makaroni Daun Jeruk bernama Ertjui Susanti yang beralamat di Jalan Simpang Borobudur 39, Malang, Jawa Timur. Produk tersebut memiliki komposisi sederhana, yaitu makaroni, bubuk cabai, garam, dan daun jeruk sebagai penambah aroma khas. Makaroni sendiri merupakan jenis pasta yang terbuat dari gandum durum, air, dan telur sehingga memiliki tekstur kenyal dan mudah diolah. Usaha ini masih berskala rumah tangga, namun memiliki potensi besar untuk berkembang di pasar lokal. Oleh karena itu, legalitas melalui SPP-IRT dianggap sangat penting untuk menunjang kepercayaan konsumen. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa SPP-IRT merupakan izin edar pangan olahan skala rumahan yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. Izin ini berfungsi memastikan bahwa produk makanan memenuhi standar kebersihan, keamanan, dan kelayakan konsumsi. Pemilik usaha diberikan penjelasan mengenai persyaratan, prosedur pendaftaran, hingga tahapan pemeriksaan fasilitas produksi. Mahasiswa juga menekankan manfaat SPP-IRT bagi pengembangan usaha, termasuk peluang masuk ke toko ritel dan marketplace. Dengan adanya SPP-IRT, pelaku UMKM dapat bersaing secara lebih profesional di pasar. Mahasiswa yang terlibat dalam sosialisasi ini terdiri dari Aura Sabilla U, Rosi Haidiyani, Ibnu Thoyyib, Nurul Fatimah, dan Priscilla Miracle. Mereka melakukan observasi langsung terhadap proses produksi dan lingkungan usaha pemilik Makaroni Daun Jeruk. Selain memberikan edukasi hukum, mahasiswa turut membantu menyiapkan dokumen administrasi awal untuk pengajuan SPP-IRT. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan mempermudah pelaku usaha memahami langkah-langkah yang harus ditempuh. Kegiatan semacam ini menjadi wujud nyata implementasi pengetahuan hukum di tengah masyarakat. Melalui sosialisasi ini, Fakultas Hukum UMM berharap semakin banyak pelaku UMKM di Malang menyadari pentingnya legalitas dalam usaha pangan. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman empiris mengenai peran hukum dalam pemberdayaan masyarakat. Pemilik usaha menyambut baik kegiatan ini karena merasa terbantu dalam meningkatkan kualitas dan legalitas produknya. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Dengan demikian, upaya pemberdayaan UMKM dapat berjalan efektif dan berdampak langsung bagi perekonomian masyarakat.

UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru, Paparkan Industri Hijau, Pendidikan Islam, dan Stunting

TRIBUNJATIM.COM, MALANG –  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga guru besar baru menjelang akhir tahun, Rabu (26/11/2025). Ketiganya memiliki kepakaran yang menyentuh isu strategis nasional: industri hijau, ekosistem pendidikan Islam, dan krisis stunting pada generasi muda. Guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T, Prof. Dr. Khozin, M.Si., dan Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep., Sp.Kom. Dalam orasi ilmiah masing-masing, mereka memaparkan tantangan nasional sekaligus menawarkan solusi berbasis riset. Prof. Ahmad Mubin, menekankan bahwa industri modern harus bergerak melampaui orientasi profit semata. Industri harus mengadopsi prinsip triple bottom line yang menekankan keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Ia menekankan pentingnya ekologi industri sebagai kerangka baru untuk menjawab tantangan global. Circular economy, efisiensi sumber daya, dan proses produksi ramah lingkungan menjadi kunci. Prof. Mubin juga menilai bahwa keberlanjutan tidak akan tercapai tanpa pengukuran yang kredibel. Karena itu, ia menyoroti penggunaan berbagai instrumen seperti Sustainability Balanced Scorecard, GRI, AHP, hingga OMAX sebagai alat analitis. Ia mendorong pemerintah memperkuat regulasi industri hijau, insentif inovasi ramah lingkungan, hingga pembangunan eco industrial parks. “Industri dapat menjadi motor ekonomi sekaligus ramah lingkungan jika teknologi bersih dan kebijakan tepat berjalan bersama,” ucapnya. Sementara itu, Prof. Khozin mengangkat isu krisis nilai di lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, banyak sekolah tumbuh tanpa pondasi nilai yang jelas sehingga budaya sekolah rapuh menghadapi perubahan.

Teliti AI dan Bahasa, Dosen UMM Raih Beasiswa Doktor ke Austria

KLIKMU.CO – Perjalanan Fida Pangesti SPd MA, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menuju studi doktoral di Austria menyimpan kisah menarik. Ia telah mengincar beasiswa IASP sejak dua tahun lalu, meski saat itu belum memenuhi salah satu syarat tahun kelulusan. Namun rangkaian pengalaman akademik—mulai Microcredential Literacy di Western Sydney University Australia pada 2023 hingga program PKBI di UPI Bandung pada 2024—justru membuka jalur baru yang mempertemukannya dengan dua minat besarnya: pengajaran tata bahasa Indonesia dan kecerdasan buatan (AI). Austria dipilih Fida bukan hanya karena kualitas akademiknya yang kuat, tetapi juga karena lingkungan studinya yang aman, inklusif, serta ramah bagi peneliti internasional. “Saya sudah mengetahui beasiswa IASP sejak dua tahun lalu dan tertarik karena kualitas institusi di Austria. Ketika syarat masa kelulusan magister dihapus, saya merasa inilah waktunya mencoba. Perjalanan akademik sejak 2023 justru menjadi pintu yang mengarahkan saya sampai ke titik ini,” ujarnya, Rabu (26/11/2025). Proses seleksi beasiswa dijalani Fida melalui tahapan yang cukup intens, mulai seleksi berkas hingga wawancara luring bersama empat pewawancara Austria dan satu pewawancara Indonesia. Wawancara berlangsung langsung ke inti penelitiannya. “Yang paling menantang adalah mencari supervisor karena banyak yang menolak topik saya. Wawancara juga langsung masuk ke riset tanpa perkenalan, seperti seminar proposal versi kilat,” katanya. Penelitian doktoralnya berjudul AI-Assisted Grammar Learning in Indonesian as a Foreign Language, yang berfokus pada bagaimana generative-AI dapat meningkatkan metalinguistic awareness atau kesadaran kebahasaan pemelajar BIPA. Ia menyebut tata bahasa sebagai area yang sering dianggap “menguras tenaga” baik bagi pengajar maupun pemelajar. Dengan pendekatan mixed method, Fida akan melakukan eksperimen intervensi berbasis AI yang dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Penyusunan desain intervensi pun menjadi tantangan tersendiri karena harus mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik. “Supervisor sangat suportif. Saya bebas memilih mata kuliah lintas jenjang dan diarahkan melakukan pilot penelitian di kelas BIPA di Vienna. Bahkan saya disarankan berkunjung dan berkolaborasi dengan ahli AI dalam pembelajaran bahasa di Nanyang Technological University Singapore,” ujarnya. Di luar kegiatan akademik, Austria juga memberikan pengalaman budaya yang menarik. Mulai dari rutinitas Ruhetag yang membuat seluruh toko tutup pada hari Minggu, budaya ramah pejalan kaki, hingga banyaknya diskusi dan workshop lintas budaya, agama, serta disiplin ilmu. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya karena suasananya yang tenang dan pemandangan lansia yang tetap giat belajar—hal yang menurutnya sangat menginspirasi. “Saran saya, persiapkan portofolio sejak awal, bangun jaringan dengan calon pembimbing, dan pilih topik yang benar-benar relevan. Kesiapan dan ketekunan sering lebih berpengaruh daripada sekadar kecerdasan,” pesan Fida. Bagi Fida, perjalanan ini bukan sekadar kisah meraih beasiswa internasional, tetapi juga ikhtiar memperkuat pengembangan BIPA berbasis teknologi. Penelitiannya menegaskan bahwa AI bukan hanya tren, melainkan instrumen strategis untuk membuat pembelajaran tata bahasa Indonesia lebih efektif, menarik, dan siap bersaing di kancah global. (Wildan/AS)

Cegah Radikalisme, Bakesbangpol Kota Malang Gelar Diskusi Kewaspadaan Dini

Sudutkota.id – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bangkesbangpol) Kota Malang menggelar diskusi mengenai kewaspadaan dini dan penanganan konflik 2025. Hal ini sebagai upaya pencegahan radikalisme di Kota Malang Menurut Ratih Sulistyo Handayani ST MSi selaku Kabid Wasnas dan Penflik Bakesbangpol Kota Malang. Bahwa acara ini sebagai ikhtiar untuk menindaklanjuti kegiatan yang dilaksanakan oleh BNPT Republik Indonesia pada beberapa waktu lalu. Dimana menyebutkan bahwa ternyata Malang  merupakan termasuk wilayah rawan radikalisme dan terorisme. “Maka kami menindaklanjuti dengan upaya penangkalan dan pencegahan radikalisme. Yakni dengan melibatkan para nara sumber dari jajaran samping yang berkompeten dan juga dari akademisi,” ungkap Ratih, (26/11). Acara diskusi ini diselenggarakan di Hotel Grand Palace Kota Malang, yang dihadiri 100  peserta yang melibatkan tokoh masyarakat. Juga tokoh agama, serta tokoh kemuda, dan tokoh wanita. Termasuk pula perwakilan dari kampus-kampus. Menurut Kabid Wasnas ini, kegiatan ini termasuk yang pertama, artinya kalau selama ini Bakesbangpol Kota Malang selalu mengundang jajaran samping saja. Namun kali ini melibatkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) karena ternyata UMM memiliki tenaga ahli peneliti radikalisme dan deradikalisasi. Diskusi kali ini mengacu pada kejadian belakangan, diantaranya kasus di SMA 72 Jakarta yang membutuhkan perhatian khusus. Acara ini juga sebagai bentuk bahwa pemerintah hadir di dunia pendidikan. Sehingga setelah ini Bakesbangpol Kota Malang akan lebih sering menggelar sosialisasi ke sekolah-sekolah terutama ke SMP dan SMA. “Sebenarnya kita mulai sosialisasi ke PAUD, dengan pembelajaran lewat Telling Story,” ucap Ratih. Ia menguraikan pula, ternyata berdasarkan penelitian banyak sekali yang mulai terpapar radikalisme dimulai kelas 2 SMP. Para narasumber yang hadir tampak dari Kepolisian  Jawa Timur, dan yang kedua dari Densus. Kemudian dari Kodim dan dari Akademisi.

Kota Malang Perkuat Benteng Kewaspadaan Dini, Forum Strategis 2025 Bahas Ancaman Radikalisme dan Konflik Sosial

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya pencegahan radikalisme dan penguatan stabilitas keamanan kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Malang. Hal ini terlihat dalam Gelar Diskusi Kewaspadaan Dini dan Penanganan Konflik Tahun 2025 yang digelar di The Grand Palace Hotel Malang, Rabu (26/11/2025). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB itu dihadiri sekitar 100 peserta, terdiri dari unsur pemerintah, TNI/Polri, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Acara ini menjadi ruang strategis bagi para narasumber lintas sektor, mulai dari Badan Intelijen Negara, Densus 88 Anti Teror, Polresta Malang Kota, Kodim 0833, hingga akademisi Universitas Muhammadiyah Malang, untuk memaparkan kondisi faktual, potensi ancaman, serta langkah konkret dalam membendung penetrasi radikalisme di Kota Malang. Dalam paparannya, Kapten Arm Kholisin, Pasi Intel Kodim 0833 Kota Malang, menegaskan bahwa radikalisme bukan fenomena baru di Indonesia. Bahkan jauh sebelum kemerdekaan, perdebatan mengenai dasar negara telah mewarnai dinamika menuju lahirnya NKRI. Menurutnya, hingga kini masih terdapat kelompok-kelompok yang ingin memaksakan ideologinya dan menjelma dalam bentuk organisasi, aktivitas, serta narasi ekstrem. Ia menguraikan tiga jenis radikalisme yang masih mengancam kesatuan bangsa: Radikal kanan: identik dengan paham ekstrem keagamaan dan ideologi transnasional seperti khilafah. Radikal kiri: merujuk pada ideologi yang mengusung perubahan ekstrem antikapitalis dan berakar pada komunisme. Radikal lainnya: kelompok atau individu dengan sikap anti-NKRI dan berpotensi menciptakan disintegrasi bangsa. Kapten Kholisin juga menekankan pentingnya deteksi dini, termasuk pengawasan media sosial, penyaringan narasumber kegiatan keagamaan, hingga pemantauan buku bacaan yang mengandung ajaran ekstrem. Sementara itu, Kompol Agung Santoso dari Satgaswil Jatim Densus 88 AT memaparkan bahwa terorisme adalah proses yang berlangsung bertahap: intoleransi → radikalisme → ekstremisme → terorisme. Ia membeberkan sasaran utama kelompok teroris, mulai dari fasilitas asing, tempat ibadah, kantor pemerintahan, hingga objek vital. Lebih lanjut, ia memaparkan ciri-ciri orang yang terpapar paham teror, seperti perubahan sikap drastis, narasi hitam-putih terhadap pihak luar, hingga disharmoni keluarga. Ia menekankan bahwa masyarakat memegang peran paling penting, mulai dari pengawasan lingkungan, deteksi awal, hingga pelaporan kepada pihak berwenang. Penguatan kesadaran, toleransi, dan kolaborasi menjadi langkah kunci dalam memutus mata rantai radikalisasi. Dari unsur kepolisian, AKP Iwan Setiawan menyoroti faktor-faktor pendukung keberhasilan program deradikalisasi, seperti kepemimpinan lokal yang dipercaya, dukungan keluarga, hingga evaluasi berkelanjutan. Ia juga menegaskan sejumlah tantangan, mulai dari literasi publik yang rendah, stigma, hingga koordinasi antarlembaga. Upaya penanggulangan yang ditekankan meliputi: Sosialisasi dan penerangan kepada masyarakat Penguatan karakter keagamaan moderat Penghapusan kesenjangan sosial Pendidikan wawasan kebangsaan Strategi preventif berbasis masyarakat Prof. Gonda Yumitro, pakar Hubungan Internasional UMM, memberikan perspektif akademik melalui penjelasan konsep Early Warning dan Early Response sebagai pendekatan ilmiah dalam mencegah konflik. Ia menjelaskan berbagai strategi penyelesaian konflik seperti mediasi, diplomasi preventif, hingga peacebuilding, yang menurutnya perlu diterapkan untuk menjaga harmoni sosial dan mencegah eskalasi kekerasan. Melengkapi diskusi, Kolonel Sus Damianus Supangkat, Dankorwil BIN Kota Malang, menegaskan bahwa radikalisme tidak hanya mengancam ideologi, tetapi juga menyusup ke ranah politik, ekonomi, dan sosial budaya. Ia menyoroti beberapa kondisi yang rawan dieksploitasi kelompok radikal: Polarisasi politik dengan isu agama Distrust terhadap pemerintah akibat propaganda Isu ekonomi pada masyarakat miskin Struktur sosial Jawa Timur yang majemuk Kesenjangan sosial-ekonomi di wilayah Tapal Kuda dan Madura BIN juga memberikan rekomendasi strategis seperti memperkuat program kontraideologi, dialog politik inklusif, pemberdayaan ekonomi UMKM, serta mendorong peran tokoh masyarakat yang moderat. Diskusi kewaspadaan dini ini merupakan tindak lanjut dari program Nasional BNPT yang juga digelar di Kota Malang. Pemerintah Kota Malang menyatakan bahwa format diskusi seperti ini menjadi salah satu bentuk langkah preventif untuk menjaga wilayah tetap aman dan kondusif. Selain memperkuat pemahaman masyarakat soal bahaya radikalisme, kegiatan ini juga memperkokoh jejaring antarinstansi agar mampu mengidentifikasi dan mengatasi potensi konflik sebelum berkembang menjadi ancaman nyata. Acara berlangsung dengan lancar, aman, dan terkendali, menandai komitmen kolektif seluruh unsur yang hadir untuk terus menjaga Kota Malang sebagai kota yang harmonis, toleran, dan bebas dari infiltrasi paham radikal.

UMM Tambah Tiga Profesor Baru dari Tiga Bidang Ilmu yang Berbeda

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai kampus penggerak peradaban. Melalui riset mendalam, gagasan visioner, dan komitmen panjang terhadap kemajuan bangsa, UMM resmi mengukuhkan tiga guru besar baru pada Rabu (26/11/2025). Kepakaran mereka meliputi pendidikan Islam, ekologi dan keberlanjutan industri, serta keperawatan komunitas. Ketiganya ialah Prof Dr Khozin MSi, Prof Dr Ir Ahmad Mubin ST MT, dan Prof Dr Yoyok Bekti Prasetyo MKep SpKom. Orasi ilmiah pertama disampaikan Ahmad Mubin. Ia menguraikan bahwa industri modern harus bergerak melampaui orientasi profit semata. Industri wajib mengadopsi prinsip triple bottom line yang menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Menurutnya, ekologi industri adalah kerangka penting untuk menjawab tantangan global melalui penerapan circular economy, efisiensi sumber daya, serta pengembangan proses produksi yang ramah lingkungan. Mubin juga menegaskan pentingnya instrumen evaluasi yang kredibel untuk mengukur keberlanjutan industri. Beragam alat ukur seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), metode AHP, hingga OMAX diperlukan agar dampak keberlanjutan dapat dipantau secara akurat. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menilai efektivitas strategi lingkungan dan sosial secara terukur. Ia juga memberikan sejumlah rekomendasi kebijakan, mulai dari penguatan regulasi industri hijau, pemberian insentif inovasi ramah lingkungan, pengembangan eco-industrial parks, hingga peningkatan kapasitas SDM berorientasi teknologi bersih. “Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antarsektor (simbiosis industri), dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan, meningkatkan kesejahteraan sosial, sekaligus memiliki daya saing global,” ujarnya. Berikutnya, Prof Khozin menekankan pentingnya penyusunan nilai dasar sebagai pondasi ekosistem sekolah di tengah pesatnya perkembangan pendidikan Islam. Menurutnya, banyak lembaga pendidikan tumbuh tanpa kerangka nilai yang jelas sehingga budayanya rapuh. Ia menegaskan tiga nilai fundamental: ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Ketiganya melahirkan nilai inti seperti amanah, empati, solidaritas, dan inovasi, yang diwujudkan melalui budaya sekolah seperti 5S, disiplin, kolaborasi, dan perbaikan berkelanjutan. Khozin menegaskan bahwa pendidikan Islam harus kembali pada misi utamanya: membentuk manusia merdeka dan berperadaban, bukan sekadar menyampaikan pengetahuan semata. “Sekolah dengan ekosistem dan budaya yang baik tentu akan melahirkan lulusan berkualitas, hidup bahagia di bawah lindungan syariat Islam, serta berkontribusi bagi kemanusiaan. Jika ingin ekosistem dan budaya sekolah kuat dan adaptif terhadap perubahan, maka fondasi nilai dasar dan nilai utama harus kokoh,” tegasnya. Sementara itu, Prof Yoyok Bekti Prasetyo menggarisbawahi bahwa stunting bukan hanya persoalan gizi, tetapi juga krisis kemanusiaan. Ia menyebut stunting sebagai bentuk “kemiskinan biologis” yang menghambat kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi muda. Meski prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8% pada 2024, ancaman masih besar, terutama di wilayah Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat angka lebih dari 42–50%. Yoyok memaparkan berbagai program UMM sebagai Impactful University yang hadir secara langsung di tengah masyarakat NTT. Program tersebut meliputi penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, edukasi pola asuh, hingga intervensi infrastruktur berupa pembangunan sumur bor sedalam 71 meter di Desa Nusa. Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak “profesor penggerak”, yakni akademisi yang tidak hanya aktif meneliti, tetapi juga turun langsung memperkuat masyarakat. “Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” tuturnya. (Wildan/AS)