UMM Raih Gold dari Kemendukbangga: Bawa Perubahan Tangible Bagi Keluarga

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi. Kali ini, Kampus Putih meraih Gold Kategori Perguruan Tinggi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) dalam forum “GENTING COLLABORATION SUMMIT TAHUN 2025” yang berlangsung pada 10 Desember lalu. Tema yang diangkat adalah “Sinergi Untuk Negeri, Wujudkan Indonesia Bebas Stunting”. Penghargaan ini diberikan atas kepedulian UMM terhadap masalah nyata di masyarakat melalui riset terapan dan program pengabdian. Berbagai kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membawa perubahan tangible bagi kehidupan warga. Dukungan Kemendukbangga semakin meneguhkan komitmen kampus yang berbasis layanan dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan. Bahwa penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kontribusi UMM dalam pengabdian kepada masyarakat. Termasuk inisiatif terbaru di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menegaskan bahwa riset tidak boleh berhenti pada tataran konseptual, melainkan harus dirasakan secara konkret oleh publik. “Beberapa waktu lalu, kami mengirimkan lebih dari 50 dosen UMM ke NTT. Di sana banyak permasalahan, mulai dari stunting, kemiskinan ekstrem, hingga isu di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan,” ujarnya. Program-program dosen UMM di NTT beragam. Antara lain Pelatihan Pengolahan Nutricorn yang memanfaatkan kekayaan bahan baku lokal, pendampingan komoditas hortikultura, padi dan jagung Hingga pendampingan pakan ternak, kesehatan hewan serta penataan ulang praktik budidaya dan manajemen perikanan. Menurut Salis, semua kegiatan itu lahir dari riset para akademisi UMM melalui Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M). Program strategis ini mengintegrasikan riset, inovasi, dan pengabdian dengan fokus pada sektor prioritas seperti pertanian, peternakan dan perikanan, dalam kemitraan dengan pemerintah daerah serta masyarakat. Tujuan utamanya adalah meningkatkan produktivitas, pendapatan, serta kesejahteraan warga, sekaligus mengatasi kemiskinan dan stunting di berbagai wilayah Indonesia. Salis berharap penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh akademisi UMM untuk terus berinovasi dan meningkatkan layanan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa kampus harus berdampak nyata dalam menyelesaikan persoalan publik. “Kami ucapkan terima kasih kepada Kemendukbangga atas penghargaan ini. Kami berkomitmen penuh untuk terus mengabdi dan menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat,” tutupnya. (M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pelajar Lamongan Didorong Manfaatkan AI untuk Tumbuhkan Minat Menulis

jatimnow.com – Upaya memperkuat literasi digital terus digencarkan kepada kalangan pelajar, seperti yang tampak di MAN 1 Lamongan. Program pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar oleh Mahasiswa Program Doktoral S3 Pendidikan Agama Islam UMM, Ali Zulfikar mendapat sambutan antusias. Dalam kegiatan tersebut, para siswa didorong menjadi pribadi yang bisa memanfaatkan berbagai kecanggihan teknologi termasuk penggunaan Artifisial Intelegen (AI) dengan tepat. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi. Ini pekerjaan rumah bersama. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujarnya, Jumat (12/12/2025). Menurutnya, literasi tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi karakter dan kompetensi kerja. Karena itu, siswa diberi stimulus melalui latihan menulis esai ilmiah maupun esai keseharian yang dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak siswa yang memilih tema menarik seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” tuturnya. Selain teknik penulisan, Ali juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. Ia menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan kemampuan menulis, melainkan menjadi alat bantu agar siswa mampu menyusun struktur dan alur pemikiran yang lebih runtut. Output dari kegiatan ini direncanakan akan dikompilasi menjadi sebuah buku sebagai bentuk kontribusi nyata pelajar MAN 1 Lamongan dalam mendukung program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait penguatan literasi. “Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengembangkan kemampuan literasi mereka. Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat,” kata Ali. Salah satu siswa MAN 1 Lamongan yang mengikuti kegiatan, Ahmad Al Ghany Wardani, menyampaikan bahwa pelatihan penulisan esai dan literasi digital yang diberikan sangat memberikan pemahaman baru, terutama terkait pentingnya literasi di era teknologi. “Dari kegiatan tadi saya dapat banyak hal. Mulai dari pengertian literasi itu apa, cara membuat esai seperti apa, dan contoh-contoh tema yang dekat dengan kehidupan kami,” ungkapnya.
Siswa Lamongan Diajarkan Penulisan Esai Berbasis AI

Lamongan, (afederasi.com) – Upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar terus digencarkan. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Zulfikar, melaksanakan program pengabdian masyarakat di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan dengan memberikan pelatihan menulis esai ilmiah berbasis pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), Jumat (12/12/2025). Pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan literasi siswa di tengah derasnya arus digitalisasi. Ali menegaskan bahwa literasi menjadi salah satu indikator penting kualitas sumber daya manusia. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi. Ini pekerjaan rumah bersama. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujarnya. Menurutnya, literasi tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi karakter dan kompetensi kerja. Karena itu, siswa diberi stimulus melalui latihan menulis esai ilmiah maupun esai keseharian yang dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak siswa yang memilih tema menarik seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” tuturnya. Selain teknik penulisan, Ali juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. Ia menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan kemampuan menulis, melainkan menjadi alat bantu agar siswa mampu menyusun struktur dan alur pemikiran yang lebih runtut. Output dari kegiatan ini direncanakan akan dikompilasi menjadi sebuah buku sebagai bentuk kontribusi nyata pelajar MAN 1 Lamongan dalam mendukung program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait penguatan literasi. “Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengembangkan kemampuan literasi mereka. Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat,” kata Ali. Ia menambahkan, penguatan literasi di kalangan pelajar merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika generasi muda dibekali kemampuan literasi dan pemanfaatan teknologi sejak dini. Salah satu siswa MAN 1 Lamongan yang mengikuti kegiatan, Ahmad Al Ghany Wardani, menyampaikan bahwa pelatihan penulisan esai dan literasi digital yang diberikan sangat memberikan pemahaman baru, terutama terkait pentingnya literasi di era teknologi. Menurutnya, materi yang disampaikan mulai dari pemahaman dasar tentang apa itu literasi, langkah-langkah membuat esai, hingga contoh konkret topik keseharian seperti pentingnya makanan sehat bagi pelajar, membuat siswa semakin mudah memahami proses penulisan. “Dari kegiatan tadi saya dapat banyak hal. Mulai dari pengertian literasi itu apa, cara membuat esai seperti apa, dan contoh-contoh tema yang dekat dengan kehidupan kami,” ungkapnya. Ia menilai pemanfaatan AI dalam membuat outline esai juga sangat membantu siswa memulai tulisan. “Tadi juga diajari cara memakai AI seperti ChatGPT untuk membuat kerangka esai. Itu mempermudah kami menyusun alur tulisan sebelum benar-benar menulis,” tambahnya. (yan)
Siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu Rencanakan Karier dengan Metode Ikigai

radarmalang, BATU – SMA Muhammadiyah 3 Batu menggelar workshop bertajuk Know Yourself, Know Your Future bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin lalu (8/12). Kegiatan itu berlangsung di Musala SMA Muhammadiyah 3 Batu mulai pukul 07.30 WIB hingga 10.30 WIB. Diikuti siswa kelas X, XI, dan XII. Workshop itu merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan asesmen yang telah dilaksanakan pada 27 Oktober 2025. Pada kegiatan tersebut, siswa memperoleh materi edukasi mengenai pengenalan dan eksplorasi diri, orientasi studi lanjutan, serta perencanaan karier masa depan. Materi disampaikan mahasiswa Program Studi Psikologi UMM yang berperan sebagai fasilitator kegiatan. Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah pengenalan konsep Ikigai. Konsep ini diperkenalkan kepada siswa sebagai pendekatan untuk memahami diri secara lebih mendalam dan terarah. Setelah pemaparan materi, siswa diminta melakukan metode Ikigai untuk menggali potensi, minat, bakat, dan cita-cita pribadi. Lalu, beberapa siswa diberi kesempatan menyampaikan hasil pemikirannya. ”Melalui kegiatan ini saya jadi lebih mengenal diri sendiri. Sekarang saya semakin yakin dan termotivasi untuk menjadi pengusaha sukses di masa depan,” ujar Siswa kelas XII Nabil Giovani. Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu Aris Sahruli SPd menyampaikan, kegiatan itu sangat penting bagi siswa. ”Pengenalan diri menjadi fondasi utama bagi siswa dalam menentukan pilihan studi dan karier. Harapannya siswa lebih bersemangat belajar, memiliki tujuan yang jelas, mampu merencanakan masa depan sesuai potensi yang dimiliki,” tuturnya. (gp)
Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di TikTok

Oleh: Zahira Rachmawati, Mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang DALAM beberapa tahun terakhir, isu tentang kesehatan mental sedang sangat naik dan menjadi topik yang sering muncul di berbagai media sosial termasuk TikTok. Berbagai konten tentang stres, depresi, kecemasan, serta kepribadian bermunculan setiap hari. Konten-konten ini sering muncul dalam bentuk video singkat, kutipan motivasi, infografik, hingga cerita pengalaman pribadi mulai dari pengguna biasa sampai influencer. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, terutama pada generasi muda. Namun, fenomena ini juga dapat menimbulkan gejala baru yang cukup serius dan memprihatinkan, yaitu mengdiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan konten yang dilihat di sosial media tanpa adanya bantuan profesional. Self-diagnose dapat diartikan sebagai tindakan seseorang dalam menilai, menafsirkan, dan menyimpulkan suatu gangguan mental dalam dirinya tanpa adanya bantuan profesional dan tanpa melalui proses evaluasi klinis. Proses diagnostik membutuhkan serangkaian prosedur yang panjang dan mendalam sebenarnya, prosesnya meliputi wawancara klinis, observasi perilaku, mengisi tes psikologi, serta interpretasi profesional berdasarkan standar. Namun, media sosial sangat sering menyederhanakan serangkaian proses ini menjadi daftar gejala singkat. Misalnya, “Tanda kamu memiliki perilaku avoidant attachment” atau “Ciri-ciri kamu memilki OCD”. Konten-konten di media sosial yang terutama sering muncul di TikTok ini sangat mudah diakses dan dicerna serta menarik bagi para remaja dan sering kali banyak yang jadi merasa cocok dengan gejala yang disebutkan dalam konten-konten tersebut. Hasilnya, banyak yang langsung mengambil kesimpulan bahwa mereka mengalami gangguan tersebut. Fenomena self-diagnose sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum itu, masyarakat Indonesia sudah mengenal bentuk self-diagnose tradisional melalui aturan adat, suku, dan kepercayaan turun-temurun. Misal saat seseorang mudah takut, sering melamun, atau merasa gelisah tanpa sebab, orang tua zaman dulu sering mengaitkan hal tersebut dengan mistis dan mengatakan bahwa mereka sedang ketempelan, pamali, kurang berdoa, atau terkena angin malam, padahal bisa saja mereka sedang mengalami gejala depresi ringan, burnout, atau cemas berlebihan karena faktor lainnya.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Pelatihan Penulisan Esai di Lamongan

SURYAMALANG.COM, LAMONGAN – Upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar terus digencarkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Lamongan. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ali Zulfikar, yang sedang melaksanakan program pengabdian masyarakat di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lamongan, memberikan pelatihan menulis esai ilmiah berbasis pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), Jumat (12/12/2025). “Pelatihan ini bertujuan memperkuat kemampuan literasi siswa di tengah derasnya arus digitalisasi,” kata Ali kepada SURYAMALANG.COM. Ia mengatakan, bahwa literasi menjadi salah satu indikator penting kualitas sumber daya manusia. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi.” “Ini pekerjaan rumah bersama. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujar Ali. Menurutnya, literasi tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi karakter dan kompetensi kerja. Karena itu, siswa diberi stimulus melalui latihan menulis esai ilmiah maupun esai keseharian yang dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak siswa yang memilih tema menarik seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” tuturnya. Selain teknik penulisan, Ali juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. AI bukan untuk menggantikan kemampuan menulis, melainkan menjadi alat bantu agar siswa mampu menyusun struktur dan alur pemikiran yang lebih runtut. Output dari kegiatan ini direncanakan akan dikompilasi menjadi sebuah buku sebagai bentuk kontribusi nyata pelajar MAN 1 Lamongan dalam mendukung program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait penguatan literasi. “Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengembangkan kemampuan literasi mereka.” “Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat,” kata Ali. Ia menambahkan, penguatan literasi di kalangan pelajar merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan Indonesia Emas 2045.
Siswa SMA Muhammadiyah 3 Batu Rencanakan Karier dengan Metode Ikigai

radarmalang, BATU – SMA Muhammadiyah 3 Batu menggelar workshop bertajuk Know Yourself, Know Your Future bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin lalu (8/12). Kegiatan itu berlangsung di Musala SMA Muhammadiyah 3 Batu mulai pukul 07.30 WIB hingga 10.30 WIB. Diikuti siswa kelas X, XI, dan XII. Workshop itu merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan asesmen yang telah dilaksanakan pada 27 Oktober 2025. Pada kegiatan tersebut, siswa memperoleh materi edukasi mengenai pengenalan dan eksplorasi diri, orientasi studi lanjutan, serta perencanaan karier masa depan. Materi disampaikan mahasiswa Program Studi Psikologi UMM yang berperan sebagai fasilitator kegiatan. Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah pengenalan konsep Ikigai. Konsep ini diperkenalkan kepada siswa sebagai pendekatan untuk memahami diri secara lebih mendalam dan terarah. Setelah pemaparan materi, siswa diminta melakukan metode Ikigai untuk menggali potensi, minat, bakat, dan cita-cita pribadi. Lalu, beberapa siswa diberi kesempatan menyampaikan hasil pemikirannya. ”Melalui kegiatan ini saya jadi lebih mengenal diri sendiri. Sekarang saya semakin yakin dan termotivasi untuk menjadi pengusaha sukses di masa depan,” ujar Siswa kelas XII Nabil Giovani. Kepala SMA Muhammadiyah 3 Batu Aris Sahruli SPd menyampaikan, kegiatan itu sangat penting bagi siswa. ”Pengenalan diri menjadi fondasi utama bagi siswa dalam menentukan pilihan studi dan karier. Harapannya siswa lebih bersemangat belajar, memiliki tujuan yang jelas, mampu merencanakan masa depan sesuai potensi yang dimiliki,” tuturnya. (gp)
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Pelatihan Penulisan Esai di Lamongan

pwmu.co – Sebagai upaya meningkatkan budaya literasi di kalangan pelajar. Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengabdian masyarakat di MAN 1 Lamongan, Jumat (12/12/2025). M. Nur Ali Zulfikar, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Agama Islam UMM, melaksanakan pelatihan penulisan esai ilmiah berbasis pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI). Dalam keterangannya, pria yang akrab disapa Ali Zulfikar ini menjelaskan bahwa, pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan literasi siswa di tengah derasnya arus digitalisasi. lebih jauh, Ali menegaskan bahwa literasi menjadi salah satu indikator penting kualitas sumber daya manusia. “Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam survei literasi. Ini pekerjaan rumah bersama. Pelajar harus diperkuat kemampuan literasinya agar siap menghadapi era kecerdasan artifisial,” ujarnya. Lliterasi, kata Ali, tidak hanya berdampak pada capaian akademik, tetapi juga menjadi fondasi karakter dan kompetensi kerja. Oleh karena itu, siswa diberi stimulus melalui latihan menulis esai ilmiah, maupun esai keseharian yang dekat dengan kehidupan mereka. “Banyak siswa yang memilih tema menarik seperti pentingnya konsumsi makanan sehat dan literasi keuangan bagi pelajar. Tema-tema ini relevan dengan rutinitas mereka,” katanya. Selain teknik penulisan, Ali juga mengenalkan pemanfaatan AI seperti ChatGPT untuk membantu menyusun outline esai. Ia menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan kemampuan menulis, melainkan menjadi alat bantu agar siswa mampu menyusun struktur dan alur pemikiran yang lebih runtut. Output dari kegiatan ini direncanakan akan dikompilasi menjadi sebuah buku, sebagai bentuk kontribusi nyata pelajar MAN 1 Lamongan dalam mendukung program Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, Sains dan Teknologi (Diktisaintek Berdampak). “Dengan menghasilkan buku, siswa diharapkan memiliki kemandirian dan kepercayaan diri, serta semangat mengembangkan kemampuan literasi mereka. Tidak ada bangsa yang maju tanpa literasi yang kuat,” tegasnya. Tidak hanya itu, penguatan literasi di kalangan pelajar merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan Indonesia Emas 2045. Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika generasi muda dibekali kemampuan literasi dan pemanfaatan teknologi sejak dini. Salah satu siswa MAN 1 Lamongan yang mengikuti kegiatan, Ahmad Al Ghany Wardani, menyampaikan bahwa pelatihan penulisan esai dan literasi era AI yang diberikan sangat memberikan pemahaman baru, terutama terkait pentingnya literasi di era teknologi. Menurutnya, materi yang disampaikan mulai dari pemahaman dasar tentang apa itu literasi, langkah-langkah membuat esai, hingga contoh konkret topik keseharian seperti pentingnya makanan sehat bagi pelajar, membuat siswa semakin mudah memahami proses penulisan. “Dari kegiatan tadi saya dapat banyak hal. Mulai dari pengertian literasi itu apa, cara membuat esai seperti apa, dan contoh-contoh tema yang dekat dengan kehidupan kami,” ungkapnya. Ia menilai pemanfaatan AI dalam membuat outline esai juga sangat membantu siswa memulai tulisan. “Tadi juga diajari cara memakai AI seperti ChatGPT untuk membuat kerangka esai. Itu mempermudah kami menyusun alur tulisan sebelum benar-benar menulis,” tambahnya. Pihak MAN 1 Lamongan menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap pelatihan serupa dapat berkelanjutan guna menumbuhkan budaya menulis serta kecakapan digital di lingkungan madrasah. (*)
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Gelar Pelatihan Penulisan Esai di Lamongan

suryamalang.com – Bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika generasi muda dibekali kemampuan literasi dan pemanfaatan teknologi sejak dini. Salah satu siswa MAN 1 Lamongan yang mengikuti kegiatan, Ahmad Al Ghany Wardani, menyampaikan bahwa pelatihan penulisan esai dan literasi digital yang diberikan sangat memberikan pemahaman baru, terutama terkait pentingnya literasi di era teknologi. Menurutnya, materi yang disampaikan mulai dari pemahaman dasar tentang apa itu literasi, langkah-langkah membuat esai, hingga contoh konkret topik keseharian seperti pentingnya makanan sehat bagi pelajar, membuat siswa semakin mudah memahami proses penulisan. “Dari kegiatan tadi saya dapat banyak hal. Mulai dari pengertian literasi itu apa, cara membuat esai seperti apa, dan contoh-contoh tema yang dekat dengan kehidupan kami,” ungkapnya. Ia menilai pemanfaatan AI dalam membuat outline esai juga sangat membantu siswa memulai tulisan. “Tadi juga diajari cara memakai AI seperti ChatGPT untuk membuat kerangka esai.” “Itu mempermudah kami menyusun alur tulisan sebelum benar-benar menulis,” tambahnya. MAN 1 Lamongan menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap pelatihan serupa dapat berkelanjutan guna menumbuhkan budaya menulis serta kecakapan digital di lingkungan madrasah
Pakar UMM Soroti Kekeliruan Menyamakan Sawit dengan Hutan

Ramainya pemberitaan mengenai rencana pemerintah membuka ratusan ribu hektare lahan sawit memunculkan kembali perdebatan mengenai dampak ekologis komoditas tersebut. Ada sekelompok masyarakat yang masih menganggap bahwa sawit memiliki fungsi yang serupa dengan pohon hutan dalam hal penyerapan air dan pencegahan banjir. Dalam hal ini, Febri Arif Cahyo Wibowo, M.Sc., akademisi kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti bahwa penyamaan fungsi tersebut justru dapat menyesatkan pemahaman publik mengenai ekosistem hutan dan daya dukung lingkungannya. Dalam pandangannya, perbedaan paling mendasar antara sawit dan pohon hutan terletak pada struktur akar dan karakter vegetasi. Ia menjelaskan bahwa akar sawit bersifat serabut dengan kedalaman rata-rata hanya sekitar satu meter sehingga kemampuan menyerap dan menyimpan air sangat terbatas. Sebaliknya, pohon hutan memiliki akar yang dapat menjangkau kedalaman dua hingga tiga meter, dan pada kondisi tertentu bahkan mencapai sepuluh meter. Perbedaan struktur ini membuat pohon hutan jauh lebih efektif dalam menjaga keseimbangan hidrologi dan kestabilan tanah. “Sawit adalah tanaman perkebunan bukan tanaman hutan. Masyarakat tidak bisa begitu saja menyamakan kapasitas ekologis sawit dengan pohon hutan alam. Kalau soal mempertahankan air, pohon jelas lebih unggul,” ujarnya saat diwawancara tim humas UMM 12 Desember lalu. Lebih jauh, dosen kehutanan tersebut menerangkan bahwa sistem tanam sawit yang bersifat monokultur turut memperbesar kerentanan ekologis. Lantai kebun sawit yang bersih dari tumbuhan bawah membuat air hujan jatuh langsung menghantam permukaan tanah tanpa peredam alami. Sementara itu, hutan alam memiliki struktur vegetasi berlapis yang mampu menahan, memperlambat, dan menyebarkan aliran air hujan sebelum mencapai tanah. Kondisi ini tidak hanya menjaga kelembapan tanah, tetapi juga mengurangi peluang terjadinya erosi. “Dalam konteks kebijakan ekspansi sawit, risiko erosi merupakan ancaman paling dekat terutama pada kawasan dengan topografi miring. Banyak penelitian menunjukkan tingkat erosi di lahan sawit pada lereng tergolong tinggi. Kalau intensitas hujan tinggi dan tidak ada vegetasi penahan, dampaknya bisa sangat besar. Regulasi sebenarnya sudah sangat jelas, tinggal ditaati saja,” tuturnya. Menurut Febri, meningkatnya intensitas hujan akibat perubahan iklim dapat memperburuk kerentanan lingkungan ini apabila perluasan sawit dilakukan tanpa memperhatikan karakteristik lahan. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan pengembangan sawit tidak terjadi di kawasan rawan bencana dan harus mempertimbangkan daya dukung tanah. Ia juga menambahkan bahwa kementerian terkait sebenarnya sudah memiliki aturan tentang pengelolaan hutan produksi dan hutan tanaman industri, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan aspek ekologis. Pemerintah, kata dia, harus menghindari keputusan yang mengorbankan fungsi ekologis hutan demi kepentingan ekonomi jangka pendek. “Buat blok-blok khusus untuk sawit, dan kembalikan fungsi hutan pada kawasan yang secara ekologis tidak cocok untuk kebun. Jangan memaksakan sawit tumbuh di tempat yang memang bukan habitatnya. Kalau konservasi ingin berjalan, fungsikan hutan sesuai peruntukannya,” tegasnya. Ia berharap diskusi tentang sawit dapat ditempatkan dalam perspektif yang seimbang antara ekonomi dan konservasi. Febri mengingatkan bahwa sawit memang memberi keuntungan ekonomi, tetapi tidak dirancang oleh alam untuk menggantikan fungsi ekologis hutan alam. Karena itu, kebijakan ke depan harus memastikan bahwa ekspansi sawit tidak mengganggu ketahanan ekologis kawasan hutan, apalagi mengancam keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman