Bukti Komitmen Jadi Kampus Berdampak, UMM Kirim Puluhan Relawan ke Sumatera Barat

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya. Ia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. “Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya. (faq) Penulis; Ahmad Faqih Wafir Rahman
Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan UMM

pwmu.co –Menatap tantangan tahun 2026 yang semakin kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menyiapkan langkah strategis guna menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah.Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., hadir sebagai narasumber utama. Dalam arahannya pada Jumat (26/12/2025), ia menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak dalam zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian. Muhadjir mengibaratkan pengembangan institusi layaknya industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi. Oleh karena itu, pembaruan sistem secara berkala dinilai menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama. “Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah teratasi, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang solid. Keberhasilan perguruan tinggi, menurutnya, tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung, di mana setiap individu menjadi bagian penting dari ekosistem kampus. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir mendorong seluruh civitas akademika untuk berperan aktif dalam proses rekrutmen secara bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai krusial di tengah persaingan antarkampus yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Untuk itu, UMM dituntut berani melakukan investasi yang lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik. Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa setiap pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi. Muhadjir berharap tahun 2026 menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, serta menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukan tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Wildan Nanda Rahmatullah | Editor : Agus Wahyudi
Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Cegah Bullying dari Rumah

BIN, PANGKALPINANG — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak. Ia menekankan pentingnya peran ibu dalam menjaga lisan, terutama saat berkomunikasi dengan anggota keluarga. Menurutnya, kata-kata yang diucapkan orang tua, baik kepada suami maupun anak, memiliki dampak psikologis yang besar. “Saya sudah melakukan semacam kuesioner, hasilnya 80% dari ibu-ibu di Pangkalpinang ini tanpa ia sadari berkata-kata yang telah menyakiti hati atau perasaan anaknya,” ungkap Rokayah. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya dari kekerasan verbal yang tidak terkontrol. Rokayah mencontohkan sebuah kasus yang baru-baru ini terjadi di Medan, di mana seorang anak tega membunuh ibunya karena tidak tahan melihat sang ibu kerap memarahi ayahnya. Founder Khoiru Ummah Bangka Belitung itu juga menegaskan bahwa bullying tidak hanya terjadi di media sosial, sekolah, atau lingkungan luar rumah, tetapi sering kali justru bermula dari dalam keluarga tanpa disadari oleh orang tua. “Bullying paling awal sering terjadi bukan di sekolah tapi di rumah. Kadang tanpa sadar, melalui ucapan yang merendahkan, gertakan, membanding-bandingjan dengan anak lain dan julukan yang dianggap bercanda, padahal lisan orang tua bisa menjadi doa tapi juga bisa menjadi luka,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, Rokayah berharap para ibu semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan bernilai islami dalam keluarga. “Ini sebagai langkah awal mencegah perundungan sejak dari rumah,” tukasnya. (*)

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Alumnus Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Nanda Risydianto, turut berperan dalam keberhasilan Tim Nasional Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu SEA Games 2025 yang digelar di Thailand. Indonesia memastikan naik podium setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 62–55 pada laga perebutan tempat ketiga yang berlangsung Jumat (19/12/2025). Dalam ajang tersebut, Nanda bertugas sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Sejak 2021, Nanda telah dipercaya mendampingi tim nasional basket putri. Perannya berfokus pada menjaga kebugaran atlet, pencegahan cedera, serta pemulihan fisik selama masa persiapan hingga pertandingan berlangsung. Menurut Nanda, tantangan utama sebagai fisioterapis tim nasional adalah memahami kondisi fisik dan karakter setiap atlet. Hal ini menjadi penting karena kebutuhan penanganan atlet tidak bisa disamaratakan. “Setiap atlet memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Terutama atlet perempuan, yang penanganannya memerlukan perhatian khusus terhadap faktor fisiologis yang dapat memengaruhi performa dan risiko cedera,” ujarnya. Pengalaman Nanda di dunia olahraga nasional dan internasional ditopang oleh latar belakang pendidikan dan sertifikasi profesional. Ia merupakan lulusan Fisioterapi UMM dan Magister Olahraga, serta mengantongi sejumlah sertifikasi di bidang fisioterapi olahraga, di antaranya AIFO, CDNP, dan COMT. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda telah berpengalaman mendampingi berbagai tim olahraga. Ia pernah terlibat dalam Prapon Futsal Jawa Timur 2019 serta menjadi fisioterapis Basket Putri Fever Surabaya sejak 2021 hingga saat ini. Keterlibatan Nanda dalam ajang SEA Games 2025 menunjukkan peran penting tenaga pendukung dalam olahraga prestasi, khususnya fisioterapis, yang berkontribusi langsung terhadap kesiapan dan performa atlet di kompetisi internasional. (raf)
Tinggalkan Kampus, Dosen Akuakultur UMM Pimpin Posko Kemanusiaan di Agam

AGAM, JATIMSATUNEWS.COM — Selama hampir satu bulan, aktivitas perkuliahan ditinggalkan demi tugas kemanusiaan. Rindya Fery Indrawan, S.Pi., MP., dosen Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), terjun langsung ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sepanjang Desember 2025. Ia menjadi bagian dari misi kemanusiaan UMM yang melibatkan dokter muda Fakultas Kedokteran, tenaga medis RS UMM, apoteker, perawat, serta Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Penugasan ini merupakan bentuk kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam memperkuat peran perguruan tinggi pada respons kebencanaan. Di lapangan, Indra Ferry dipercaya sebagai Ketua Pos Koordinasi. Perannya krusial dalam menghubungkan kerja lintas klaster, sekaligus memastikan kebutuhan logistik dapat terpenuhi sejak tahap perencanaan hingga distribusi bantuan kepada penyintas. “Tugas utama saya memastikan koordinasi antar-klaster berjalan dan kebutuhan logistik, baik internal maupun eksternal, bisa terkelola dengan baik,” ungkapnya saat ditemui tim Humas UMM, 25 Desember lalu. Wilayah kerja relawan difokuskan pada sejumlah titik terdampak di Kabupaten Agam, seperti Malalak, Maninjau, dan Palembayan. Medan berat menjadi tantangan utama. Di Malalak, relawan harus berhadapan dengan jembatan putus yang memaksa mereka menyeberangi sungai, dengan risiko meningkat saat debit air naik. “Kalau air sungai sudah tinggi, kami tidak bisa menyeberang karena sangat berbahaya,” jelasnya. Sementara di Maninjau, ancaman longsor susulan menjadi perhatian serius. Material batuan dari kawasan pegunungan berpotensi kembali bergerak saat hujan turun dalam waktu lama. Kondisi ini membuat relawan harus menghentikan aktivitas ketika hujan berlangsung lebih dari dua jam. Untuk memaksimalkan penanganan, tim relawan dibagi ke dalam empat klaster utama. Klaster medis fokus pada pelayanan kesehatan di puskesmas serta kunjungan langsung ke rumah penyintas. Klaster psikososial memberikan pendampingan mental kepada anak-anak, lansia, ibu rumah tangga, hingga remaja guna membantu pemulihan trauma pascabencana. Sementara itu, klaster logistik bertugas menyalurkan bantuan berupa obat-obatan, bahan pangan, perlengkapan dapur umum, hingga alat kesehatan seperti kursi roda. Klaster WASH memastikan ketersediaan air bersih melalui pemasangan unit filtrasi di fasilitas umum dan hunian sementara. Kehadiran Indra Ferry dan tim relawan menjadi bagian dari komitmen UMM untuk hadir di tengah masyarakat saat krisis terjadi. Kampus tidak hanya berkontribusi melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Menutup pengabdiannya, Indra Ferry menyampaikan pesan penguatan kepada para penyintas agar tetap bertahan dan tidak kehilangan harapan. Ia juga mengapresiasi sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam misi kemanusiaan tersebut. “Jangan merasa sendirian. Banyak pihak yang peduli dan terus berupaya membantu pemulihan saudara-saudara di sini,” ujarnya.
Cegah Bullying dari Rumah, Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Bersama DPD Al Hidayah Pangkalpinang dan Ketua TP PKK

NEGERI LASKAR PELANGI – PANGKALPINANG, LASPELA — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak. Ia menekankan pentingnya peran ibu dalam menjaga lisan, terutama saat berkomunikasi dengan anggota keluarga. Menurutnya, kata-kata yang diucapkan orang tua, baik kepada suami maupun anak, memiliki dampak psikologis yang besar. “Saya sudah melakukan semacam kuesioner, hasilnya 80% dari ibu-ibu di Pangkalpinang ini tanpa ia sadari berkata-kata yang telah menyakiti hati atau perasaan anaknya,” ungkap Rokayah. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya dari kekerasan verbal yang tidak terkontrol. Rokayah mencontohkan sebuah kasus yang baru-baru ini terjadi di Medan, di mana seorang anak tega membunuh ibunya karena tidak tahan melihat sang ibu kerap memarahi ayahnya. Founder Khoiru Ummah Bangka Belitung itu juga menegaskan bahwa bullying tidak hanya terjadi di media sosial, sekolah, atau lingkungan luar rumah, tetapi sering kali justru bermula dari dalam keluarga tanpa disadari oleh orang tua. “Bullying paling awal sering terjadi bukan di sekolah tapi di rumah. Kadang tanpa sadar, melalui ucapan yang merendahkan, gertakan, membanding-bandingjan dengan anak lain dan julukan yang dianggap bercanda, padahal lisan orang tua bisa menjadi doa tapi juga bisa menjadi luka,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, Rokayah berharap para ibu semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan bernilai islami dalam keluarga. “Ini sebagai langkah awal mencegah perundungan sejak dari rumah,” tukasnya. (*/rel)
Milad ke-113 Muhammadiyah, PP Muhammadiyah Anugerahi UMM Sebagai Kampus Islami

*Milad ke-113 Muhammadiyah, PP Muhammadiyah Anugerahi UMM Sebagai Kampus Islami* Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya di kancah pendidikan tinggi nasional. Bertepatan dengan gelaran Milad Muhammadiyah ke-113 dan Refleksi Akhir Tahun yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu, 27 Desember 2025, UMM resmi meluncurkan identitas baru sebagai Kampus Islami. Langkah besar ini diambil setelah UMM sukses menduduki peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pencapaian ini berdasarkan Indikator penilaian Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mencakup dimensi yang komprehensif, diawali dari komitmen institusional dan kebijakan strategis yang menempatkan AIK sebagai standar mutu utama, serta integrasi kurikulum yang secara efektif menyatukan sains dan nilai Islam. Penilaian ini juga menyoroti kualitas pembinaan SDM yang sistematis dan atmosfer budaya kampus yang kondusif bagi penerapan etika Islami dan literasi Al-Qur’an. Selain itu, aspek krusial lainnya meliputi internalisasi nilai ideologis dalam aktivitas kemahasiswaan, tingginya produktivitas riset keilmuan Islam berkemajuan, serta dukungan sistem monitoring dan evaluasi kinerja AIK yang terstruktur dan berkelanjutan untuk memastikan seluruh elemen berjalan secara organik dan berintegritas. Kegembiraan bertambah saat UMM menerima penghargaan Cabang Ranting Award. Piagam penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas dedikasi UMM sebagai PTMA yang paling peduli terhadap pengembangan cabang, ranting, dan kemakmuran masjid. Sinergi antara kampus dan organisasi inilah yang membuat UMM memiliki fondasi yang kuat di tengah masyarakat. Hadir sebagai pemateri utama, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., memaparkan refleksi mendalam mengenai rahasia di balik kokohnya Muhammadiyah hingga usia 113 tahun. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang membuat persyarikatan ini tetap berdiri tegak yaitu keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, dan ketaatan pada sistem organisasi yang rapi. “Muhammadiyah bisa bertahan melampaui satu abad karena ia tidak bergantung pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkannya, bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Keberhasilan meraih peringkat satu PTMA harus berbanding lurus dengan kebermanfaatan kita bagi ranting-ranting Muhammadiyah yang menjadi ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin. Beliau juga mengingatkan bahwa identitas Kampus Islami yang baru saja diluncurkan harus tercermin dalam perilaku setiap individu, mulai dari mahasiswa hingga pimpinan. Islam yang dibawa UMM adalah Islam berkemajuan yang solutif bagi persoalan bangsa. Ia menekankan bahwa keberlanjutan Muhammadiyah juga sangat ditentukan oleh kemampuan amal usahanya dalam merespons kebutuhan zaman tanpa meninggalkan jati diri aslinya. “Melalui UMM Kampus Islami, kita diajak mengembalikan fungsi masjid seperti zaman KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak boleh berhenti pada fungsi ibadah ritual semata, tapi harus menjadi pusat gagasan, laboratorium sosial, hingga pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat,” jelasnya. Di sisi lain, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., turut memberikan pandangannya terkait arah kebijakan kampus ke depan. Menurutnya, stabilitas dan prestasi yang diraih hari ini merupakan buah dari kerja keras kolektif seluruh elemen universitas yang selalu mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme manajemen. “Prestasi ini adalah kado indah di akhir tahun. Namun, refleksi hari ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan posisi sebagai yang terbaik jauh lebih sulit, sehingga dukungan finansial dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk penguatan dakwah di tingkat cabang dan ranting,” tutupnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Akuntan Bukan Lagi Tukang Catat: CoE Akuntansi UMM Siapkan Mahasiswa Hadapi Realitas Industri

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Profesi akuntan terus mengalami pergeseran peran. Tidak lagi sebatas pencatat angka dan penyusun laporan keuangan, akuntan kini dituntut menjadi mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Menyikapi perubahan tersebut, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Tamu Center of Excellence (CoE), Kamis (18/12). Kegiatan ini membahas dua kelas profesional unggulan, yakni School of Sustainability Accounting (SSAC) dan School of Accounting for SME’s (SAFS). Keduanya dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia usaha, mulai dari korporasi berskala global hingga penguatan sektor UMKM. Melalui CoE SSAC, mahasiswa dipersiapkan menjadi penyusun laporan keberlanjutan perusahaan sesuai standar internasional, termasuk memperoleh sertifikasi dari National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Kompetensi ini dinilai penting seiring meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Sementara itu, CoE SAFS memfokuskan pembelajaran pada penguatan UMKM melalui pemahaman manajemen bisnis dan keuangan berbasis praktik. Mahasiswa didorong mampu membaca kondisi usaha secara komprehensif serta merumuskan strategi bisnis jangka panjang yang berkelanjutan. Dalam paparannya, Arief Satrio Wibowo dari PT Petrokimia Gresik menegaskan bahwa perusahaan modern wajib mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam operasionalnya. Menurutnya, kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi acuan penting agar pertumbuhan industri tidak mengorbankan keseimbangan alam dan keadilan sosial. “Perusahaan harus mampu menjaga keseimbangan antara pilar ekonomi dan sosial agar kesejahteraan masyarakat serta ketahanan pangan dapat tercapai,” jelasnya. Pandangan tersebut diperkuat oleh Alan W. Hafludin dari Narasumber.id yang menyoroti transformasi profesi akuntan menjadi strategic business partner. Ia menekankan pentingnya business acumen, yakni kemampuan memahami alur bisnis, membaca risiko, serta mengubah data keuangan menjadi dasar strategi usaha. Alan mengungkapkan, banyak UMKM gagal bukan karena produknya tidak laku, melainkan akibat kesalahan dalam pengelolaan keuangan. Karena itu, mahasiswa SAFS diarahkan untuk tidak berhenti pada pencatatan transaksi, tetapi mampu menafsirkan angka menjadi strategi pertumbuhan. “Banyak bisnis tumbang karena salah kelola keuangan. Di sinilah akuntan dibutuhkan sebagai mitra yang memahami bisnis secara utuh,” ujarnya. Menutup sesi, Alan mendorong mahasiswa Akuntansi UMM memperkuat penguasaan dasar akuntansi sekaligus memperluas pengalaman industri, khususnya di sektor UMKM dan startup. Ia menilai dunia kerja membutuhkan akuntan yang mampu mengombinasikan pemahaman bisnis, kreativitas, dan teknologi. “Akuntansi hari ini bukan sekadar laporan, tapi tentang bagaimana angka memberi dampak nyata,” pungkasnya.
Magang di Omega & Partners Law Firm, Mahasiswi FH UMM Dalami Peran In-House Lawyer dan Praktik Langsung Tangani Kasus Hukum

JurnalPost.com – Tiga mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sedang menjalankan program Magang Mandiri yang di adakan oleh Laboratorium Fakultas Hukum UMM yang dimana ketiga mahasiswa tersebut yaitu Kinanthi Aisyah F.A. Selaku Koordinator, Mia Erliana Dewi, dan Callista Putri Paramesti, saat ini tengah menjalani program magang mandiri di kantor advokat Omega & Partners Law Firm dengan Dosen Pembimbing Mahasiswa (DPM) yaitu ibu Echa Annisa’ul Izzah, S.H. dan didampingi Dosen Pembimbing Lapang Yaitu Mega Fandita Sari, S.H., M.H. Selama kegiatan magang, ketiganya mendapatkan kesempatan untuk merasakan langsung dinamika dunia advokat profesional, baik di bidang litigasi maupun non-litigasi. Melalui magang ini, mereka tidak hanya memperdalam teori hukum dari bangku kuliah, tetapi juga mengasah kemampuan manajemen kantor advokat, mulai dari pelayanan klien, sistem kearsipan, hingga pembagian tugas dalam penanganan perkara. Hal ini menjadi bagian dari penerapan target magang pertama, yaitu memahami bagaimana struktur kerja dan pelayanan hukum dalam sebuah kantor advokat profesional. Dalami Dunia In-House Lawyer: Dari Visit Mingguan hingga Penyusunan Perjanjian Salah satu hal paling berkesan bagi ketiganya adalah kesempatan mendalami peran in-house lawyer. In-house lawyer adalah pengacara yang bekerja di dalam perusahaan secara tetap untuk memberikan nasihat hukum, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, serta menjaga agar aktivitas perusahaan tidak melanggar hukum yang berlaku. Sebagai bagian dari kegiatan magang, mereka ikut serta dalam kegiatan visit mingguan ke perusahaan klien, di mana mereka mendampingi advokat dalam memberikan konsultasi hukum dan mengevaluasi pelaksanaan aturan internal perusahaan. Tak hanya itu, mereka juga terlibat dalam penanganan pekerja yang lalai atau melakukan pelanggaran, mempelajari bagaimana perusahaan menyelesaikan permasalahan ketenagakerjaan secara hukum tanpa harus melalui pengadilan. Selain itu, mereka juga dilibatkan dalam proses penyusunan dan pemeriksaan perjanjian kerja, mulai dari kontrak karyawan hingga kesepakatan kerja sama dengan pihak ketiga. Aktivitas ini menjadi implementasi nyata dari target magang di bidang penyelesaian sengketa non-litigasi, karena melibatkan kemampuan menyusun dokumen hukum dan menyelesaikan masalah melalui pendekatan konsultatif. Menariknya, Omega & Partners Law Firm tidak hanya bekerja layaknya in-house lawyer bagi perusahaan tertentu, tetapi juga menerima klien tidak tetap seperti advokat pada umumnya, baik individu maupun lembaga yang datang dengan permasalahan hukum. Kombinasi ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswi magang karena bisa melihat dua sisi praktik hukum sekaligus, yakni korporat dan litigasi umum. Praktik Penyelesaian Sengketa Litigasi: Kasus Nyata di Polres dan Pengadilan Selain kegiatan non-litigasi, Kinanthi, Mia, dan Callista juga aktif dalam kegiatan litigasi, baik pidana maupun perdata, yang masuk ke dalam target magang bidang penyelesaian sengketa secara litigasi. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat mereka ikut menangani kasus penggelapan dalam jabatan di Polres Mojokerto yang dijerat dengan Pasal 378, 372, dan 374 KUHP. Dalam kegiatan ini, mereka mengikuti bedah kasus dan gelar perkara bersama advokat pembimbing, mempelajari penyusunan berkas perkara, serta memahami strategi pembelaan hukum terhadap klien. Selanjutnya, mereka juga terlibat dalam penanganan perkara perdata penetapan wali anak di Pengadilan Negeri Malang, yang sekaligus menjadi bagian dari target magang penyelesaian sengketa litigasi perdata. Dalam kasus ini, mereka membantu mengurus pendaftaran surat kuasa, pengisian formulir saksi, serta mengikuti jalannya sidang saksi di Pengadilan Agama Malang (PA Malang). Tidak berhenti di situ, ketiganya juga berkesempatan menghadiri sidang banding di Pengadilan Negeri Kepanjen, di mana mereka mempelajari bagaimana advokat menyusun dokumen hukum banding dan menyampaikan argumen hukum di hadapan majelis hakim. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari target magang litigasi tingkat lanjutan, yang bertujuan memperkenalkan mahasiswa pada mekanisme hukum acara banding. Hukum Ketenagakerjaan dan Pembelajaran Etika Profesi Selain perkara pidana dan perdata, para mahasiswi juga memperoleh pengalaman di bidang hukum ketenagakerjaan, mulai dari memahami mekanisme penyelesaian sengketa hubungan industrial, hingga mempelajari peran advokat dalam membela hak-hak pekerja dan perusahaan. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dijalankan di bawah bimbingan advokat profesional di Omega & Partners Law Firm, yang tidak hanya memberikan ilmu teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan integritas profesi hukum. Bekal Nyata Menuju Dunia Profesional Hukum Magang di Omega & Partners Law Firm menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi ketiga mahasiswi ini. Mereka mendapatkan gambaran utuh tentang bagaimana teori hukum diterapkan dalam praktik, bagaimana advokat berinteraksi dengan klien, serta bagaimana penyelesaian perkara dilakukan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dengan semangat belajar dan pengalaman lapangan yang kaya, Kinanthi, Mia, dan Callista berharap dapat melanjutkan langkah mereka menjadi praktisi hukum yang profesional, beretika, dan berintegritas tinggi, sebagaimana nilai-nilai yang telah mereka pelajari selama magang di Omega & Partners Law Firm.
Kiprah Fisioterapis Alumnus UMM di Pentas SEA Games 2025 Thailand

KLIKMU.CO – Capaian membanggakan kembali diraih oleh alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Muhammad Nanda Risydianto SKes MOr, lulusan Program Studi Fisioterapi UMM angkatan 2015, turut ambil bagian dalam keberhasilan Tim Nasional Basket Putri Indonesia meraih medali perunggu pada SEA Games 2025 di Thailand. Sejak 2021, Nanda—sapaan akrabnya—telah dipercaya sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri Indonesia. Komitmen dan profesionalismenya kembali berbuah manis pada SEA Games 2025, saat tim Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 62–55 pada laga perebutan medali perunggu, Jumat (19/12/2025). Keberhasilan tersebut memastikan Indonesia naik podium dan tidak terlepas dari peran tim fisioterapis dalam menjaga kondisi fisik atlet tetap optimal sepanjang turnamen. Dalam olahraga prestasi, kesiapan fisik, pencegahan cedera, serta pemulihan yang tepat merupakan faktor krusial dalam menunjang performa atlet di lapangan. Dalam menjalankan perannya sebagai fisioterapis Timnas Basket Putri, Nanda mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah memahami karakter, kebutuhan, dan kondisi fisik setiap atlet. “Setiap atlet memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Terlebih atlet perempuan, penanganannya membutuhkan kepekaan lebih, terutama terkait faktor fisiologis seperti siklus bulanan yang dapat memengaruhi kebugaran, performa, hingga risiko cedera,” jelasnya. Pengalaman Nanda di level nasional dan internasional didukung oleh latar belakang pendidikan formal dan nonformal yang kuat. Selain menyelesaikan pendidikan fisioterapi dan magister olahraga, ia juga mengantongi berbagai sertifikasi profesional seperti AIFO, CDNP, dan COMT yang menunjang kompetensinya sebagai fisioterapis olahraga. Keahlian tersebut membantunya memahami respons fisiologis tubuh atlet, menyusun strategi pemulihan, serta melakukan pencegahan kelelahan dan cedera selama latihan maupun pertandingan. Sebelum bergabung dengan Timnas Basket Putri Indonesia, Nanda telah memiliki pengalaman luas di dunia olahraga nasional. Ia pernah mendampingi Prapon Futsal Jawa Timur 2019 serta menjadi fisioterapis tim Basket Putri Fever Surabaya sejak 2021 hingga sekarang, di samping berbagai pengalaman profesional lainnya. Kiprah Muhammad Nanda Risydianto menjadi bukti nyata bahwa lulusan Fisioterapi UMM mampu berkontribusi di level nasional hingga internasional. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama almamater, tetapi juga menegaskan peran strategis fisioterapis dalam mendukung kemajuan olahraga prestasi Indonesia. (Faqih/AS)