Pergeseran Peran Orang Tua Akibat Teknologi dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Mental Anak

suaraaisiyah.id – Kehidupan keluarga modern menunjukan teknologi mendominasi keseharian orang tua. Dalam hal bekerja, berkomunikasi, dan melakukan berbagai hiburan, manusia tidak bisa terlepas dari teknologi. Interaksi yang semula bersifat tatap muka dan penuh perhatian, kini tidak jarang tergantikan oleh kehadiran perangkat digital. Sehingga kualitas hubungan emosional antara orang tua dan anak berpotensi mengalami penurunan (Fajar dkk., 2025). Ketika orang tua lebih sering terfokus pada teknologi dibandingkan pada interaksi langsung dengan anak, anak dapat merasa diabaikan atau kurang diperhatikan. Selain itu, kurangnya keterlibatan orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan anak. Mereka akan merasa susah membangun hubungan sosial, serta mengelola tekanan yang muncul dalam lingkungan sekolah maupun pergaulan (Kusuma, 2025). Menanggapi fenomena tersebut, diperlukan pemahaman mendalam tentang pengaruh teknologi terhadap peran orang tua dan dampaknya pada kesehatan mental anak. Hal ini agar pengasuhan bisa berjalan adaptif, seimbang, berorientasi pada kebutuhan emosional-psikologis di era teknologi pesat (Fatih dkk., 2025). Aesong (2023) menjelaskan, bahwa perkembangan teknologi dan informasi di era sekarang terutama penggunaan pangkat digital, telah mempengaruhi kehidupan anak (Herimanto dan Winarno,2012:161)”. Hal tersebut menegaskan bahwa anak-anak yang hidup di era milenial pasti dipengaruhi oleh teknologi digital. Tidak heran jika anak-anak sekarang dikategorisasi sebagai generasi digital. Memang sulit untuk menghindarkan anak dari penggunaan gedget. Anak dengan keterlibatan orang tua tinggi lebih tangguh mental, sedangkan dominasi teknologi dan kesibukan memicu risiko kekosongan emosional anak modern. Kurangnya interaksi langsung dapat membuat anak merasa tidak didengar dan tidak dipahami. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kestabilan mentalnya. Di sinilah dibutuhkan peran orang tua yanh tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga mencakup pendampingan emosional yang konsisten, sebagai fondasi utama kesehatan mental anak (Sit, 2025). Dampak Positif Kemajuan Teknologi terhadap Peran Orang Tua Teknologi yang dimanfaatkan tepat, tentu dapat memperluas akses informasi pengasuhan sehat, perkembangan psikologis anak, serta edukasi kesehatan mental keluarga. Oleh karena akses informasi tersebut, orang tua dapat memperoleh pengetahuan yang lebih lengkap dan terkini mengenai cara mendampingi anak secara efektif. Peran mereka tidak hanya terbatas pada fungsi fisik atau administratif, tetapi juga mencakup pendampingan emosional yang lebih matang (Hijrianti, 2025). Penggunaan aplikasi edukatif dan media pembelajaran digital juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendukung kegiatan belajar anak di rumah. Orang tua tetap merasa terlibat dan anak mendapatkan perhatian yang diperlukan untuk pertumbuhan kognitif maupun emosional (Ulfadhilah, 2025). Dengan demikian, keberhasilan teknologi dalam mendukung pengasuhan sangat bergantung pada kemampuan orang tua untuk menyeimbangkan penggunaannya, menjaga kualitas interaksi langsung, serta menjadikan teknologi sebagai alat bantu yang memperkuat, bukan menggantikan, peran utama mereka dalam mendampingi perkembangan anak (Jonathan, 2025). Strategi Mengembalikan Keseimbangan Peran Orang Tua di Tengah Kemajuan Teknologi Orang tua perlu menyadari bahwa kehadiran secara fisik saja tidak cukup, melainkan harus disertai dengan keterlibatan emosional yang nyata. Menyediakan waktu khusus untuk berinteraksi langsung dengan anak sangat diperlukan. Misalnya berbincang, bermain, atau melakukan aktivitas bersama tanpa gangguan perangkat digital. Hal ini dapat membantu memperkuat ikatan emosional dan menciptakan rasa aman bagi anak. Waktu kebersamaan tersebut menjadi ruang penting bagi anak untuk mengekspresikan perasaan, berbagi pengalaman, serta mendapatkan perhatian penuh dari orang tua (Tricintya, 2025) Literasi digital memungkinkan orang tua untuk mengenali tanda-tanda penggunaan teknologi yang berlebihan pada anak serta mengambil langkah pencegahan sebelum berdampak pada kesehatan mentalnya. Orang tua dituntut untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman agar tetap relevan dalam menjalankan perannya (Maha, 2025) Pengasuhan partisipatif menyeimbangkan peran orang tua, menjadikan teknologi pendukung hubungan keluarga harmonis. Melalui penerapan strategi-strategi tersebut, peran orang tua dapat tetap terjaga secara seimbang dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan emosional serta kesehatan mental anak di tengah tantangan era digital (Suryani, 2025) Melalui strategi tersebut, orang tua dapat tetap hadir secara utuh dalam kehidupan anak, sehingga kesehatan mental anak dapat terjaga di tengah perkembangan teknologi. *Mahasiswa S1 Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Karate UMM Borong Enam Medali di Batu Karate Challenge

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatatkan prestasi dalam Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu, pada 26–28 Desember 2025. Dalam kejuaraan yang diikuti atlet dari berbagai daerah di Jawa Timur itu, tim Karate UMM berhasil membawa pulang enam medali. Turnamen tersebut berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya sukses menyumbangkan medali bagi UMM. Capaian ini diraih di tengah proses regenerasi atlet serta terbatasnya jumlah personel aktif yang dimiliki tim. Ketua Umum Karate UMM, Fadil Inayatullah, mengatakan timnya tampil di sejumlah nomor pertandingan, baik kata maupun kumite. Medali yang diraih antara lain berasal dari kategori Kata Perorangan Senior Putri, Kumite Perorangan Senior Putra dan Putri, serta Kata Beregu Junior Putri. Salah satu atlet bahkan meraih dua medali dari dua nomor berbeda. “Persiapan kami cukup intens. Atlet yang diturunkan mengikuti training center khusus selama lebih dari satu bulan sebelum kejuaraan,” ujar Fadil. Program tersebut difokuskan pada peningkatan fisik dan kesiapan bertanding, dengan latihan intensif dua kali dalam sepekan. Pembina Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A., menilai hasil ini merupakan buah dari pembenahan internal yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut Karate UMM sempat vakum dari kejuaraan akibat pergantian kepengurusan dan pelatih, sebelum akhirnya kembali aktif mengikuti kompetisi. “Setelah pembenahan internal, kami juga melakukan penyesuaian metode latihan dengan pelatih baru. Pendekatannya lebih humanis dan menekankan chemistry antara pelatih dan atlet,” kata Ageng. Menurutnya, keberanian pengurus dan atlet untuk melakukan perubahan menjadi faktor penting dalam pencapaian prestasi tersebut. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, baik tingkat provinsi, nasional, maupun multievent mahasiswa. Dengan raihan ini, UKM Karate UMM menegaskan konsistensinya sebagai salah satu unit olahraga kampus yang tetap kompetitif di tengah keterbatasan sumber daya. (raf)
Karate UMM Borong Enam Medali di Turnamen FORKI Kota Batu

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga. Kali ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil meraih enam medali dalam ajang Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu, pada 26–28 Desember 2025. Kejuaraan tersebut diikuti atlet karate dari berbagai daerah di Jawa Timur dan berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya sukses menyumbangkan medali bagi UMM. Capaian ini dinilai istimewa karena diraih di tengah proses regenerasi atlet serta berkurangnya jumlah personel yang aktif bertanding. Meski demikian, Karate UMM tetap mampu menjaga reputasinya sebagai salah satu UKM olahraga berprestasi di lingkungan kampus. Ketua Umum Karate UMM Fadil Inayatullah menjelaskan bahwa timnya tampil di sejumlah kategori pertandingan dan berhasil membawa pulang enam medali. “Kami meraih juara tiga Kata Perorangan Senior Putri, juara tiga Kumite Perorangan Senior Putra, juara tiga Kumite Perorangan Senior Putri, serta juara tiga Kata Beregu Junior Putri. Salah satu atlet bahkan meraih dua medali dari dua kategori berbeda, yakni kata beregu junior putri dan kata perorangan senior putri, keduanya juara tiga,” jelasnya. Untuk menghadapi Batu Karate Challenge, para atlet menjalani program latihan khusus berupa training center (TC) intensif selama lebih dari satu bulan. Program ini dirancang khusus bagi atlet yang akan diturunkan dalam kejuaraan. “Saat TC, latihannya benar-benar dipacu. Fokusnya bukan hanya fisik, tetapi juga kesiapan tanding. Dalam sepekan ada dua kali latihan khusus, minimal satu bulan sebelum kejuaraan,” ujar Fadil. Di sisi lain, Pembina Karate UMM Havidz Ageng Prakoso MA menilai capaian ini sebagai hasil dari proses adaptasi dan pembenahan internal yang cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya Karate UMM sempat vakum dari berbagai kejuaraan akibat pergantian kepengurusan dan pelatih. “Kami fokus membenahi internal terlebih dahulu, kemudian kembali aktif berlatih. Sebelum turun ke kejuaraan, kami juga mengadakan pelatihan khusus dengan pelatih baru,” terangnya. Menurut Ageng, perubahan pelatih membawa pendekatan baru yang lebih sesuai dengan karakter atlet muda saat ini. “Pelatih yang sekarang pendekatannya lebih soft dan humanis. Tidak hanya fisik, tetapi juga membangun feeling dan chemistry antara pelatih dan atlet. Ternyata itu sangat penting,” ungkapnya. Ageng juga mengaku bangga terhadap keberanian atlet dan pengurus Karate UMM dalam mengambil keputusan demi kemajuan tim. “Saya puas dan bangga karena mereka berani menentukan arah sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka memilih pelatih baru, dan sekarang bisa membuktikannya dengan prestasi,” ujarnya. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, mulai tingkat provinsi, nasional, hingga multievent seperti POMPROV dan SEA Games. Dengan dukungan kampus serta semangat baru dari atlet dan pelatih, Karate UMM optimistis dapat terus melahirkan prestasi yang membanggakan dan mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang di tingkat yang lebih luas. (Faqih/AS)
Panggung Jadi Ruang Belajar, Mahasiswa BSI Modern UMM Pentaskan Dua Lakon Sarat Konflik

Tipu daya yang menyisakan luka dan kesetiaan yang diuji oleh waktu bertemu di atas satu panggung. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghidupkan dua lakon kontras yang menggugah emosi penonton melalui pementasan teater selama dua hari, 11–12 Januari 2026, di Lorong Masjid AR Fachruddin UMM. Pertunjukan ini merupakan luaran mata kuliah Penyutradaraan yang menampilkan dua naskah dalam dua hari berturut-turut. Hari pertama menghadirkan “Lakon Elegi Musim Panas” karya Chandra Kudapawarna, disusul hari kedua dengan “Orang Kasar” karya Anton Chekov saduran W.S. Rendra. Keduanya menjadi ruang eksplorasi penyutradaraan, keaktoran, dan pembacaan teks drama oleh mahasiswa. Pada hari pertama, “Lakon Elegi Musim Panas” mengisahkan Nikolas, seorang lelaki yang menjalin perselingkuhan dengan seorang perempuan demi menguasai hartanya. Perselingkuhan tersebut merupakan bagian dari rencana yang ia susun bersama istrinya. Tanpa disadari, perempuan yang menjadi selingkuhannya mengalami kebangkrutan dan keterpurukan batin setelah mengetahui bahwa hubungan yang ia jalani hanyalah manipulasi. Lakon ini dibangun dengan suasana emosional yang intens, menonjolkan pengkhianatan, tipu daya, dan kehancuran perasaan. Hari kedua menampilkan “Orang Kasar” dengan nuansa yang lebih dinamis dan penuh ironi. Lakon ini berkisah tentang seorang nyonya yang setia pada mendiang suaminya dengan memilih hidup dalam balutan pakaian serba hitam. Konflik muncul ketika Bilal, sahabat mendiang suaminya, datang menagih utang lama dan menolak pergi sebelum utang tersebut dilunasi. Kehadiran Bilal justru menumbuhkan perasaan cinta, sementara sang nyonya berada dalam dilema antara perasaan baru dan kesetiaannya. Adegan-adegan komikal yang dibangun dari gengsi dan kecanggungan dua tokoh membuat penonton dibuat greget hingga akhir pertunjukan. Dr. Hari Sunaryo, M.Si., selaku pembina mata kuliah penyutradaraan menilai pementasan ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam memahami tanggung jawab artistik seorang sutradara. Ia menyebut bahwa kedua naskah memiliki tantangan tersendiri yang menuntut kepekaan dan kedewasaan dalam mengolah adegan. “Saya yang mendampingi adik-adik ini berproses sejak awal membatin bahwa naskah ini memiliki banyak jebakan, terutama pada adegan-adegan yang terlibat. Jika tidak seksama sebagai sutradara dan pelaku, ada banyak hal yang bisa masuk dalam wilayah sensor. Karena itu, penting untuk tetap mengusung nilai-nilai. Sutradara dan UMM memiliki filter yang lebih presisi. Semua ini menjadi pelajaran berharga ketika menyutradarai—sebagai pribadi yang memiliki kehidupan sekaligus penjaga kehidupan,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Prodi BSI Modern UMM, Dr. M. Isnaini, M.Pd., mengapresiasi proses panjang yang dijalani mahasiswa selama produksi. Menurutnya, dinamika suka dan duka selama latihan justru memperkuat kualitas permainan aktor di atas panggung. Ia juga berharap pementasan teater mahasiswa dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui publikasi yang lebih masif, karena pertunjukan semacam ini sayang jika dilewatkan dan memiliki nilai penting sebagai bekal mahasiswa ketika lulus, khususnya dalam dunia kerja yang berkaitan dengan akting dan keaktoran. “Banyak proses yang mereka jalani selama produksi, ada suka dan dukanya. Namun, mereka mampu membawakan adegan demi adegan dengan baik sehingga imajinasi penonton dibuat sulit menebak alur ceritanya. Plot twist yang dihadirkan bahkan memancing reaksi jengkel penonton, dan itu artinya para aktor berhasil menyesuaikan diri dalam mendalami setiap perannya,” tuturnya. Melalui dua lakon dengan konflik yang kontras, pertunjukan ini menegaskan bahwa panggung teater di UMM tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ruang pembelajaran yang membentuk kepekaan dan profesionalitas mahasiswa. Perbedaan pendekatan penyutradaraan dan keaktoran pada masing-masing lakon menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membaca konflik serta mengolah emosi di atas panggung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi artistik dan profesional setelah lulus.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Awali Tahun Akademik, Magister Sosiologi UMM Bedah Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga

KETIK..COM, MALANG – Program Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kuliah tamu bertajuk “Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga”, Sabtu, 10 Januari 2025. Acara yang mengawali tahun akademik ini dihadiri dosen, mahasiswa, serta guru-guru sosiologi dari MGMP Kabupaten Malang dan Kota Batu. Dalam acara ini, dibedah kompleksitas pembangunan dari tiga sudut pandang: akademik, praktik kebijakan lokal, dan perspektif internasional. Sebagai pemantik diskusi, Ketua Prodi Magister Sosiologi UMM, Rachmad K. Dwi Susilo Ph.D, menekankan bahwa pembangunan tersebut, sejatinya, sekadar diskursus atau wacana karena bersifat dinamis dan setiap daerah konteksnya berbeda. Dalam paparannya, Rachmad mengkritik kecenderungan pembangunan yang hanya berorientasi fisik. “Siapa yang mengais keuntungan dari pembangunan itu? Apakah pemerintah, investor, atau masyarakat?” tanyanya. Pertanyaan ini, menurut Rachmad, menjadi dasar untuk menguji pelbagai teori pembangunan, dari modernisasi, ketergantungan, hingga pemberdayaan berkelanjutan. Baca Juga: Diuji Praktisi Media, 4 Portal Berita Karya Mahasiswa Ikom UMM Dinilai Layak Industri Sementara itu, dalam acara ini, Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Malang, Yuyun Nanik E, memaparkan inovasi program RT Berkelas. Dia menyebut, program ini merupakan program bottom-up murni. “Setiap RT di Kota Malang mendapatkan alokasi Rp50 juta per tahun untuk merencanakan dan melaksanakan program sesuai kebutuhan warganya,” jelasnya. Namun, Yuyun pun mengakui sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam program ini. Salah satunya, dia menambahkan, adalah banyaknya usulan program bersifat fisik, seperti pengadaan tenda, kursi juga meja. “Kita perlu mengarahkan agar dana ini benar-benar untuk pemberdayaan yang menyentuh masalah riil, seperti pengentasan banjir atau peningkatan ekonomi,” tuturnya. Baca Juga: UMM Sapu Dua Penghargaan PKM 2025, Bukti Pembinaan Riset Berjalan Sistematis Dalam kuliah tamu ini, juga dibahas perspektif global dari pembangunan di dunia ketiga. Mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania, Jacqueline Makolo, membahas soal pemberdayaan perempuan dalam pembangunan di negaranya. “Di Tanzania, representasi perempuan dalam politik telah meningkat, dengan presiden terpilihnya seorang perempuan menjadi presiden saat ini. Namun, ini sering kali hanya menjadi tokenisme. Perempuan hadir secara kuantitas, tetapi kekuatan substantif dan pengambilan keputusan masih didominasi oleh laki-laki,” jelasnya. Kuliah tamu ini menegaskan kembali komitmen Magister Sosiologi UMM untuk menghadirkan ruang dialektika yang kritis dan kontekstual. “Kami mengajak mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis kebijakan dari dimensi sosiologis, kultural, dan politik, serta melihat langsung kompleksitasnya di lapangan,” tutup Rachmad. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi penelitian dan kontribusi nyata ilmu sosial dalam pembangunan yang lebih partisipatif dan berkeadilan.(*)
Karate UMM Borong Enam Medali di Batu Karate Challenge Open Tournament 2025

pwmu.co – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM sukses meraih enam medali dalam ajang Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu, pada 26–28 Desember 2025.Kejuaraan yang berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu tersebut diikuti atlet-atlet karate dari berbagai daerah di Jawa Timur. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya berhasil menyumbangkan medali untuk UMM. Capaian ini terbilang istimewa karena diraih di tengah proses regenerasi atlet serta berkurangnya jumlah personel aktif. Meski demikian, UKM Karate UMM tetap mampu menjaga konsistensi prestasi dan reputasi sebagai salah satu UKM olahraga unggulan di lingkungan kampus. Ketua Umum Karate UMM, Fadil Inayatullah, mengungkapkan bahwa para atlet tampil di sejumlah kategori pertandingan. “Kami meraih juara tiga pada kategori Kata Perorangan Senior Putri, Kumite Perorangan Senior Putra, Kumite Perorangan Senior Putri, dan Kata Beregu Junior Putri. Bahkan satu atlet kami berhasil meraih dua medali dari dua kategori berbeda,” ujarnya. Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari program training center (TC) intensif yang dijalani para atlet lebih dari satu bulan sebelum kejuaraan. “Latihan TC benar-benar kami push. Fokusnya bukan hanya fisik, tapi juga kesiapan mental tanding. Latihan khusus dilakukan dua kali seminggu minimal sebulan sebelum pertandingan,” jelasnya. Sementara itu, Pembina Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A., menilai capaian ini sebagai hasil dari proses pembenahan internal yang cukup signifikan. Ia menyebut Karate UMM sempat vakum mengikuti kejuaraan karena pergantian kepengurusan dan pelatih. “Kami fokus membenahi internal terlebih dahulu, lalu kembali aktif latihan dan menggelar pelatihan khusus bersama pelatih baru,” tuturnya. Menurut Ageng, pergantian pelatih membawa pendekatan yang lebih humanis dan sesuai dengan karakter atlet muda. “Pendekatannya lebih soft, tidak hanya menekankan fisik, tetapi juga membangun chemistry dan feeling antara pelatih dan atlet. Itu ternyata sangat berpengaruh,” ungkapnya. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, baik tingkat provinsi, nasional, maupun multievent seperti POMPROV hingga SEA Games. Dengan dukungan kampus serta semangat baru dari atlet dan pelatih, Karate UMM optimistis terus mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan
Aksi Relawan UMM Pulihkan Aceh Tamiang

TAMIANG, Suara Muhammadiyah – Komitmen kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program “UMM Berbagi untuk Negeri” terus bergulir secara masif di wilayah terdampak bencana Sumatera. Memasuki tahap ketiga, Kampus Putih tidak sekadar mengirimkan bantuan logistik, melainkan menerjunkan tim ahli yang terdiri dari dosen dan teknisi untuk memimpin percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang sejak awal Januari 2026. Fokus utama tim kali ini adalah menghidupkan kembali denyut nadi pendidikan yang sempat lumpuh total akibat banjir bandang. Langkah konkret terlihat di Kecamatan Bandar Pusaka, di mana tim UMM Berbagi berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal yang menimbun ruang-ruang kelas di Madrasah Aliyah (MA) Al Hikmah dan Raudhatul Athfal (RA) Darul Muta’allimin, Desa Sunting. Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., Koordinator UMM Berbagi untuk Negeri, menegaskan bahwa normalisasi fasilitas pendidikan menjadi prioritas utama timnya. Ia menggambarkan kondisi lapangan yang cukup berat, di mana material sisa banjir membuat aktivitas belajar mengajar mustahil dilakukan tanpa intervensi alat dan tenaga yang memadai. “Tim kami langsung bergerak cepat membersihkan lumpur pekat yang memenuhi ruang kelas di MA Al Hikmah dan RA Darul Muta’allimin. Target kami jelas, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dengan aman dan nyaman. Selain pembersihan fisik, kami juga mendistribusikan paket hygiene kit kepada para guru dan siswa di Dusun Anggrek. Ini adalah pendekatan komprehensif; kami perbaiki fisiknya, sekaligus kami jaga kesehatan warga sekolahnya,” jelas Ary. Berbeda dengan gelombang sebelumnya yang didominasi oleh semangat juang mahasiswa dalam fase tanggap darurat, penerjunan tahap ketiga ini membawa misi spesifik rehabilitasi dan rekonstruksi. Eka Kadarpa Utama Dewayani, MM., salah satu relawan sekaligus dosen UMM dalam tim tersebut, menjelaskan perubahan strategi ini. Menurutnya, komposisi tim yang diisi oleh jajaran dosen dan tenaga ahli disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang kini bergeser ke arah pemulihan infrastruktur vital dan manajemen posko. “Berdasarkan hasil asesmen lapangan terakhir, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) serta pendampingan psikososial. Oleh karena itu, tim tahap ketiga ini memiliki tugas spesifik untuk pengelolaan logistik, perbaikan sarana air bersih, hingga trauma healing. Kami ingin memastikan sistem pendukung kehidupan di sini kembali berfungsi,” ungkap Eka. Pergeseran fokus wilayah operasi ini juga merupakan respons cepat atas mandat Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur. Sumber daya yang sebelumnya terkonsentrasi di Langkat, Sumatera Utara, kini digeser penuh ke Aceh Tamiang mengingat eskalasi kebutuhan penanganan yang lebih intensif di wilayah tersebut. Aksi nyata ini mempertegas posisi UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya hadir saat sorotan kamera tertuju pada bencana, namun tetap setia mengawal hingga fase pemulihan. Melalui sinergi antara pembersihan sarana pendidikan, bantuan kesehatan, dan dukungan psikososial, UMM Berbagi berupaya memastikan masyarakat Aceh Tamiang, khususnya generasi mudanya, dapat segera bangkit dan menatap masa depan kembali. (*) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Aksi Relawan UMM Pulihkan Aceh Tamiang, https://suaramuhammadiyah.id/read/aksi-relawan-umm-pulihkan-aceh-tamiang
Ulas Klasterisasi Perguruan Tinggi, Wamendiktisaintek Dorong Penguatan Nilai Civitas Akademika UMM

Kesinambungan nilai dan budaya organisasi kampus menjadi fondasi utama dalam menghadapi dinamika. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., selaku Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), saat memberikan pengarahan kepada jajaran UMM di Aula BAU, Sabtu (10/1). Fauzan menekankan bahwa kekuatan institusi pendidikan tinggi tidak semata bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga pada proses kesinambungan nilai lintas generasi. Proses tersebut menjaga spirit, etos kerja, dan cara beraktivitas sivitas akademika agar tetap selaras dengan cita-cita institusi. “Proses sambung cerita dan sambung nilai inilah yang menjadi kekuatan fundamental kampus dalam menghadapi perubahan dan persaingan perguruan tinggi,” ujarnya. Ia juga menyinggung kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang diterapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kebijakan tersebut, UMM masuk dalam klaster mandiri. Ke depan, perguruan tinggi swasta pada klaster ini akan diarahkan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) unggul mandiri, dengan kewenangan yang lebih luas dalam pengelolaan program studi serta akreditasi. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat transformasi dan meningkatkan daya saing PTS yang telah mapan secara tata kelola. “Program khusus untuk PTS klaster mandiri sedang kami desain agar ke depan memiliki kewenangan yang lebih luwes dan berdampak,” jelasnya. Selain itu, Fauzan mengapresiasi iklim akademik dan corporate culture UMM yang dinilainya kondusif, stabil, dan minim konflik. Menurutnya, budaya kampus yang nyaman dan kolaboratif justru menjadi pembeda utama dibandingkan banyak perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta. Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter UMM yang lebih menekankan substansi dan keberlanjutan, bukan sekadar pencapaian simbolik. Dalam kesempatan yang sama, ia menegaskan bahwa program studi merupakan mesin utama perguruan tinggi. Ketua program studi diposisikan sebagai pemimpin akademik yang bertanggung jawab atas keberlanjutan keilmuan, relevansi, serta dampak keilmuan bagi masyarakat. Ia pun mendorong perubahan cara pandang kampus, dari sekadar tempat transfer ilmu menjadi institusi pemberi solusi, sejalan dengan agenda pendidikan tinggi berdampak yang tengah digencarkan pemerintah. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa arahan yang disampaikan Sekretaris BPH sekaligus Wamendiktisaintek itu menjadi penguat langkah strategis UMM dalam menjaga konsistensi nilai, budaya kerja, dan mutu tata kelola kampus. Ia menegaskan komitmen UMM untuk terus beradaptasi dengan kebijakan nasional tanpa meninggalkan karakter dan identitas institusi. “UMM akan terus menjaga budaya kampus yang sehat, inklusif, dan produktif, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai institusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Arahan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus bergerak maju dengan pijakan nilai yang kuat,” pungkasnya.(*alg/faq) Penulis: Musthofa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Awali Tahun 2026, Magister Sosiologi UMM Mendiskusikan Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga

jogjainsight, MALANG – Program Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali tahun akademik dengan menggelar kuliah tamu bertajuk “Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga.” Acara yang dihadiri para dosen, mahasiswa, serta guru-guru sosiologi dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kabupaten Malang dan Kota Batu ini berhasil membedah kompleksitas pembangunan dari tiga sudut pandang. Yakni, akademik, praktik kebijakan lokal, dan perspektif internasional. Sebagai pemantik diskusi, Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D., Ketua Prodi Magister Sosiologi UMM, menekankan bahwa pembangunan itu sejatinya sekadar diskursus atau wacana karena bersifat dinamis dan setiap daerah konteksnya berbeda. Dalam paparannya, ia mengkritik kecenderungan pembangunan yang hanya berorientasi fisik. “Siapa yang mengais keuntungan dari pembangunan itu? Apakah pemerintah, investor, atau masyarakat?” tanya Rachmad, Sabtu (10/1/2026). Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk menguji berbagai teori pembangunan, dari modernisasi, ketergantungan, hingga pemberdayaan berkelanjutan. Dari sisi praktisi kebijakan, Yuyun Nanik E., S.STP., M.Si., Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah (Sekda) Kota Malang memaparkan, inovasi program RT Berkelas. “Ini adalah program bottom up murni. Setiap RT di Kota Malang mendapatkan alokasi Rp 50 juta per tahun untuk merencanakan dan melaksanakan program sesuai kebutuhan warganya,” jelasnya. Namun, Yuyun juga mengakui banyaknya tantangan yang muncul. “Fenomena di lapangan, banyak usulan yang bersifat fisik seperti pengadaan tenda, kursi, atau meja. Kita perlu mengarahkan agar dana ini benar-benar untuk pemberdayaan yang menyentuh masalah riil. Seperti pengentasan banjir atau peningkatan ekonomi,” paparnya. Ia juga menyoroti keberhasilan revitalisasi Kayu Tangan Heritage yang menjadi penggerak ekonomi warga. Sebagai Upaya menambah perspektif global, Jacqueline Makolo, Mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania membawakan topik “Women Empowerment and Tokenism in Local Development,” “In Tanzania, women’s representation in politics has increased, with our current president being a woman. However, this often remains tokenism. Women are present in numbers, but substantive power and decision-making are still dominated by men (Di Tanzania, representasi perempuan dalam politik telah meningkat, dengan presiden kita saat ini adalah seorang perempuan. Namun, ini sering kali hanya menjadi tokenisme. Perempuan hadir secara kuantitas, tetapi kekuatan substantif dan pengambilan keputusan masih didominasi oleh laki-laki,red),” jelas Jacqueline dalam Bahasa Inggris. Jacqueline menambahkan, SDGs telah memberikan kerangka penting untuk memajukan kesetaraan gender dan pembangunan inklusif. Diskusi yang dipandu Rachmad K. Dwi Susilo tersebut hidup dengan pertanyaan kritis dari peserta. Seorang mahasiswa, Izza Amalia mempertanyakan posisi SDGs dalam pembangunan Indonesia yang masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya. Sementara itu, Fahmi Huda, seorang peserta lain menyoroti dilema antara perencanaan top-down dan bottom-up yang kerap berbenturan di lapangan. Salah satunya memicu masalah banjir. Merespons berbagai pertanyaan yang muncul Yuyun menegaskan pentingnya kolaborasi dan edukasi. “Kami di pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan akademisi, CSR perusahaan, dan partisipasi cerdas masyarakat sangat dibutuhkan. Seperti kerja sama kita dengan UMM, merupakan bentuk konkrit governance kolaboratif,” ujarnya. Ditambahkan Yuyun, pihaknya juga membuka peluang bagi mahasiswa Sosiologi UMM untuk terlibat dalam monitoring dan evaluasi program RT Berkelas, memberikan ruang bagi analisis sosiologis terhadap kebijakan publik. Kuliah tamu tersebut menegaskan kembali komitmen Magister Sosiologi UMM untuk menghadirkan ruang dialektika yang kritis dan kontekstual. “Kami mengajak mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis kebijakan dari dimensi sosiologis, kultural, dan politik, serta melihat langsung kompleksitasnya di lapangan,” tegas Rachmad. Kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi pemicu bagi penelitian dan kontribusi nyata ilmu sosial dalam pembangunan yang lebih partisipatif dan berkeadilan. (Heroe)
Seminar Nasional, PGSD UMM Bahas Inovasi Pembelajaran Literasi Numerasi Berbasis Teknologi Bagi Siswa SD

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui seminar nasional (8/1) 2026 di GKB IV membahas tema Inovasi Pembelajaran Literasi Numerasi Berbasis Teknologi Untuk Siswa Sekolah Dasar. Menurut Ketua Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Enik Chairul Umah, M.Pd, seminar nasional ini diharapkan menjadi Penguatan Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar. Hal ini selaras dengan judul materi yang disampaikan sebagai opening seminar. Menurut Enik Chairul Umah, bahwa literasi adalah keterampilan mental berpikir peserta didik dalam memaknai informasi, yang mempengaruhi tidak hanya pengetahuan, melainkan sikap dan pengambilan keputusan. Tidak hanya itu literasi juga adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, menghitung, dan berkomunikasi menggunakan materi visual, audio, dan digital lintas disiplin ilmu dan dalam konteks apa pun. Nah, terkait penguatan literasi dalam pembelajaran dan asesmen, Enik Chairul Umah menegaskan bahwa para guru atau pendidik menyiapkan buku bacaan yang bermutu untuk peserta didik, seperti buku yang memiliki daya pikat visual dan daya pikat cerita, memiliki tema dan materi yang diminati oleh peserta didik, kesesuaian dengan kemampuan membaca peserta didik, muatan budaya yang mewakili peserta didik atau budaya lain yang meluaskan wawasan pengetahuan peserta didik, serta pemantik kegembiraan bagi anak dekat dengan kehidupan anak, melibatkan dan menginspirasi peserta didik. Di tempat sama, Ketua Prodi PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd, mengupas materi tentang Numerasi Itu Seru! Mengajar Matematika SD Dengan Pembelajaran Kontekstual. Bahwa numerasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam menggunakan pengetahuan matematika yang dimilikinya dalam menjelaskan kejadian, memecahkan masalah, atau mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Numerasi tidak hanya berhitung tetapi memahami angka dalam kehidupan, bernalar dan mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah sehari hari. Numerasi juga menekankan penggunaan pengetahuan matematika secara kontekstual, kritis, dan fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya perlu diketahui tentang kompetensi numerasi yaitu knowing (pemahaman), applaying (penerapan), dan reasoning (penalaran). Terlebih lagi bagi mahasiswa PGSD untuk bermain operasi bilangan yang dilakukan dengan berdiri di atas ubin dan menghitung sesuai dengan peraturan operasi bilangan. Permainan tersebut bertujuan meningkatkan konsentrasi dan kemampuan berhitung. Selain itu, Beti Istanti Suwandayani meberikan contoh numerasi lintas mata pelajaran seperti literasi yang memiliki unsur numerasi bilangan, pendidkan IPA unsur numerasi pengukuran (berat), Pendidikan IPS unsur numerasi pengukuran (waktu), seni music unsur numerasi (bilangan dan pola), Pendidikan jasmani unsur numerasi (geometri), dan seni budaya unsur numerasi pengukuran dan geometri. Berikutnya, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM, sebagai pemateri ketiga mengupas tentang Inovasi Pengembangan Kurikulum Literasi dan Numerasi Berbasis Teknologi di Sekolah Dasar: Aspek Humanis dan Integratif. Pengembangan kurikulum literasi dan numerasi yang memanfaatkan teknologi di Sekolah Dasar saat ini menjadi kebutuhan mendesak, mengingat kemajuan teknologi dan tuntutan kompetensi abad ke‑21. Kurikulum Merdeka memberi kebebasan kepada guru untuk menyusun pembelajaran yang kontekstual, tematik, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Teknologi tidak hanya dijadikan alat bantu, melainkan menjadi bagian integral dari pengalaman belajar yang bermakna melalui media interaktif, aplikasi edukatif, dan sistem pembelajaran adaptif. Meskipun begitu, implementasinya masih terhambat oleh faktor seperti kesiapan guru, keterbatasan infrastruktur, dan kurangnya sumber daya pendukung. Oleh karena itu, tandas Prof. Mahfud Effendi, diperlukan indikator kompetensi yang jelas serta kerja sama berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya agar kemampuan literasi dan numerasi siswa dapat berkembang secara optimal. Inilah perlunya pendekatan humanis menjadi landasan yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran yang memiliki karakteristik dan kebutuhan berbeda. Kurikulum yang humanis mendorong pembelajaran yang memperhatikan aspek emosional, fleksibel, dan adaptif, serta menumbuhkan budaya literasi dan numerasi di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Kemudian integrasi pembelajaran dilakukan melalui rancangan pembelajaran tematik terpadu, penilaian autentik berbasis teknologi, dan kolaborasi interdisipliner. Hal ini dilengkapi dukungan kebijakan, peningkatan profesionalisme guru, penyediaan infrastruktur, serta keterlibatan orang tua dan komunitas, pengembangan kurikulum ini mampu meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan mempersiapkan siswa menjadi generasi yang kompeten, mandiri, dan berkarakter. Sekedar diketahui, seminar nasional ini di-ikuti mahasiswa PGSD UMM. Tampil sebagai opening tarian tradisional oleh mahasiswa UKM Sansekerta PGSD UMM. Usai sesi pemaparan materi oleh para nara sumber peserta antusias bertanya tentang implementasi numerasi dan literasi. (tim pgsd umm/don)