Segarkan Diskursus Pembangunan, Magister Sosiologi UMM Gelar Kuliah Pakar

malanglive, SMARTLIVE — Isu pembangunan negara berkembang dikupas tuntas dalam Kuliah Tamu Awal Tahun Magister Sosiologi UMM. Bertempat di GKB IV, Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu lalu (10 /01/2026). Acara yang menggandeng praktisi kebijakan Kota Malang dan mahasiswa internasional serta guru-guru Sosiologi yang tergabung dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Malang dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Kota Batu ini berhasil jembatani analisis akademis dengan realitas yang sesungguhnya. Sebagai pemantik diskusi, Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D, Ketua Program Studi Magister Sosiologi UMM membuka diskusi dengan pertanyaan langsung menohok. “Bicara pembangunan jangan terjebak pada pembangunan fisik saja. Pembangunan sosial dan komunitas juga tidak kalah penting. Apa artinya fisik dibangun tetapi tidak ada yang memanfaatkan atau merawat? Kemudian, pertanyaan sosiologisnya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembangunan itu? Ini soal kuasa dan distribusi manfaat,” tegasnya. Selanjutnya, Rachmad menjelaskan penelusuran teori-teori pembangunan mulai teori modernisasi sampai teori sustainable development goals (SDGs) memberikan peta kritis untuk membaca program-program pembangunan di sekitar kita. Sementara itu, sebagai pemateri pertama, Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Malang, Yuyun Nanik E., S.STP., M.Si., memaparkan terobosan Program RT Berkelas sebagai salah satu Program Unggulan Kota Malang. “Dana Rp50 juta per RT ini adalah instrumen untuk membalik logika perencanaan. Dari warga, oleh warga. Ini benar-benar pendekatan bottom up,” paparnya. Namun, ia mengaku perlu ‘perjuangan’ untuk mengarahkan usulan warga. Ia menunjukkan data dari “kamus usulan” “Awalnya, 20% usulan adalah pengadaan tenda dan kursi. Kami harus ingatkan, ini untuk menyelesaikan banjir dan kemiskinan, bukan untuk bisnis sewa tenda RT,” candanya serius. Sedangkan pemateri selanjutnya, Jacqueline Makolo, mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania, membawa analisis segar. “Having a female president does not automatically eliminate patriarchal structures. Women’s participation often remains symbolic without real power in decision-making,” yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia. “Memiliki presiden perempuan tidak serta-merta menghapus struktur patriarki.Partisipasi perempuan seringkali hanya simbolis tanpa kekuatan nyata dalam pengambilan keputusan,” ungkapnya. Presentasinya mengingatkan bahwa pemberdayaan harus substantif, bukan sekadar memenuhi kuota. Dalam sesi diskusi, Hari, seorang guru sosiologi asal Kabupaten Malang memberi komentar bahwa ia belum sepenuhnya percaya pada komitmen pemerintah, adanya surat edaran dalam pemberdayaan itu jelas menunjukkan kepentingan negara yang masih mengatur-atur. Sementara itu, Kabag Kesra Pemkot Malang, Yuyun Nanik dengan santai meyakinkan bahwa pemerintah kota selalu berupaya mencari jalan keluar agar pembangunan di Kota Malang tetap berjalan dengan baik. Selain itu teris diupayalkan agar tujuan dan harapan program benar-benar berhasil untuk menyejahterakan rakyat. Rachmad sendiri menyatakan bahwa sosiolog harus memberi masukan dan analisis kritis. Kritik bersifat membanguin sepanjang memberi perbaikan kepada program-program pembangunan. “Di sinilah sosiologi kebijakan penting: untuk menganalisa regulasi agar benar-benar berpihak kepada masyarakat sebagai penerima manfaat kebijakan. Seperti dalam Perwali nomor 18 tahun 2025 yang mengatur RT Berkelas ini hanya diatur evaluasi monitoring pada internal pemerintah atau birokrasi. Belum diatur evaluasi dari perguruan tinggi. Padahal sosiologi matang dalam penelitian evaluasi kebijakan dan program, ” katanya Kuliah tamu ini ditutup dengan pesan kuat: ilmuwan sosial harus turun dari menara gading. “Sosiolog tidak boleh puas hanya dengan teori abstrak. Harus masuk ke ruang kebijakan, memahami regulasi, dan mendampingi proses agar pembangunan benar-benar membumi dan memberdayakan,” pungkas Rachmad. Sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, lanjut Rachmad, Magister Sosiologi UMM terus berkomitmen mencetak lulusan yang bukan hanya piawai analisis, tetapi juga siap terjun dalam gelanggang model-model pembangunan yang kompleks. (Shin)

Magister Sosiologi UMM Malang Diskusikan Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga

jambiinsight, MALANG – Program Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali tahun akademik dengan menggelar kuliah tamu bertajuk “Diskursus Pembangunan di Dunia Ketiga.” Acara yang dihadiri para dosen, mahasiswa, serta guru-guru sosiologi dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kabupaten Malang dan Kota Batu ini berhasil membedah kompleksitas pembangunan dari tiga sudut pandang. Yakni, akademik, praktik kebijakan lokal, dan perspektif internasional. Sebagai pemantik diskusi, Rachmad K. Dwi Susilo, MA., Ph.D., Ketua Prodi Magister Sosiologi UMM, menekankan bahwa pembangunan itu sejatinya sekadar diskursus atau wacana karena bersifat dinamis dan setiap daerah konteksnya berbeda. Dalam paparannya, ia mengkritik kecenderungan pembangunan yang hanya berorientasi fisik. “Siapa yang mengais keuntungan dari pembangunan itu? Apakah pemerintah, investor, atau masyarakat?” tanya Rachmad, Sabtu (10/1/2026). Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk menguji berbagai teori pembangunan, dari modernisasi, ketergantungan, hingga pemberdayaan berkelanjutan. Dari sisi praktisi kebijakan, Yuyun Nanik E., S.STP., M.Si., Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah (Sekda) Kota Malang memaparkan, inovasi program RT Berkelas. “Ini adalah program bottom up murni. Setiap RT di Kota Malang mendapatkan alokasi Rp 50 juta per tahun untuk merencanakan dan melaksanakan program sesuai kebutuhan warganya,” jelasnya. Namun, Yuyun juga mengakui banyaknya tantangan yang muncul. “Fenomena di lapangan, banyak usulan yang bersifat fisik seperti pengadaan tenda, kursi, atau meja. Kita perlu mengarahkan agar dana ini benar-benar untuk pemberdayaan yang menyentuh masalah riil. Seperti pengentasan banjir atau peningkatan ekonomi,” paparnya. Ia juga menyoroti keberhasilan revitalisasi Kayu Tangan Heritage yang menjadi penggerak ekonomi warga. Sebagai Upaya menambah perspektif global, Jacqueline Makolo, Mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania membawakan topik “Women Empowerment and Tokenism in Local Development,” “In Tanzania, women’s representation in politics has increased, with our current president being a woman. However, this often remains tokenism. Women are present in numbers, but substantive power and decision-making are still dominated by men (Di Tanzania, representasi perempuan dalam politik telah meningkat, dengan presiden kita saat ini adalah seorang perempuan. Namun, ini sering kali hanya menjadi tokenisme. Perempuan hadir secara kuantitas, tetapi kekuatan substantif dan pengambilan keputusan masih didominasi oleh laki-laki,red),” jelas Jacqueline dalam Bahasa Inggris. Jacqueline menambahkan, SDGs telah memberikan kerangka penting untuk memajukan kesetaraan gender dan pembangunan inklusif. Diskusi yang dipandu Rachmad K. Dwi Susilo tersebut hidup dengan pertanyaan kritis dari peserta. Seorang mahasiswa, Izza Amalia mempertanyakan posisi SDGs dalam pembangunan Indonesia yang masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya. Sementara itu, Fahmi Huda, seorang peserta lain menyoroti dilema antara perencanaan top-down dan bottom-up yang kerap berbenturan di lapangan. Salah satunya memicu masalah banjir. Merespons berbagai pertanyaan yang muncul Yuyun menegaskan pentingnya kolaborasi dan edukasi. “Kami di pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan akademisi, CSR perusahaan, dan partisipasi cerdas masyarakat sangat dibutuhkan. Seperti kerja sama kita dengan UMM, merupakan bentuk konkrit governance kolaboratif,” ujarnya. Ditambahkan Yuyun, pihaknya juga membuka peluang bagi mahasiswa Sosiologi UMM untuk terlibat dalam monitoring dan evaluasi program RT Berkelas, memberikan ruang bagi analisis sosiologis terhadap kebijakan publik. Kuliah tamu tersebut menegaskan kembali komitmen Magister Sosiologi UMM untuk menghadirkan ruang dialektika yang kritis dan kontekstual. “Kami mengajak mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis kebijakan dari dimensi sosiologis, kultural, dan politik, serta melihat langsung kompleksitasnya di lapangan,” tegas Rachmad. Kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi pemicu bagi penelitian dan kontribusi nyata ilmu sosial dalam pembangunan yang lebih partisipatif dan berkeadilan. (*)

Sosiologi UMM Malang Kritisi Model Pembanguan Terkini Melalui Kuliah Pakar

indonesiyes.com, MALANG – Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pascasarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan Kuliah Tamu bagi mahasiswa Program Pascasarjana dan guru-guru Sosiologi yang tergabung dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Malang dan Kota Batu. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat analisis sosiologis dalam studi-studi pembangunan, Pada kuliah tamu kali ini, tema yang diangkat adalah “Diskursus Pembangunan Dunia Ketiga.” Tema ini menjadi relevan dan kontekstual untuk membaca ulang arah pembangunan Indonesia hari ini, khususnya dalam relasi dengan dunia global, di mana tidak stabil dalam kekuasaan global, rasionalitas pembangunan, serta posisi masyarakat sebagai subjek maupun objek kebijakan. Bertempat di GKB 4, Kampus Tiga Universitas Muhammadiyah Malang, kegiatan akademik ini diselenggarakan, Sabtu (10/1/2026). Adapun pesertanya sebanyak 40 orang. Mereka terdiri dari mahasiswa Program Pascasarjana UMM, anggota guru-guru dalam MGMP Sosiologi Kabupaten Malang dan MGMP Sosiologi se-Kota Batu. Pembicara dalam Kuliah Pakar ini adalah Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Malang Yuyun Nanik Ekowati, M.Si dan mahasiswa Maagister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Tanzania Jacquilene Makolo. Dalam pemaparannya, Yuyun menjelaskan, Program RT Berkelas yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Pemkot memberikan bantuan maksimal Rp. 50.000.000 sebagai progam yang menyejahterkan rakyat. “Program RT Berkelas, jika dilihat secara sosiologis, adalah bentuk nyata dari pembangunan sosial berbasis masyarakat yang bertujuan membentuk komunitas yang berdaya, solid, partisipatif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik melalui pendekatan gotong royong dan nilai-nilai lokal,” jelas Yuyun. Ia melanjutkan, program tersebut benar-benar dari rakyat dan untuk rakyat dengan pendekatan bottom up. Sekalipun di tengah kebijakan “efisiensi” pemerintah pusat, namun Pemkot Malang memastikan program akan berjalan dengan baik. Sementara itu, Jacquilene Makolo memaparkan praktik pembangunan yang terjadi di Tanzania, di mana pemberdayaan perempuan tidak sepenuhnya berhasil. “Perwakilan perempuan telah meningkat secara jumlah. Namun agenda dan kepemimpinan masih didominasi oleh laki-laki, sebab keterlibatan perempuan biasanya bersifat representatif atau simbolis. Hambatan budaya dan struktural masih ada,” ungkap Jacquilene. Adapun Ketua Program Studi Magister Sosiologi UMM, Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D., dalam paparan menyampaikan, kajian pembangunan membutuhkan pendekatan teoritis yang kritis dan reflektif. Mulai dari teori modernisasi, teori pembangunan alternatif sampai ke SDGs (Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). “Sosiologi pembangunan tidak boleh menjaga jarak dengan praktisi kebijakan. Bahkan, studi sosiologi ini patut dikembangkan mengingat sosiolog harus mengawal, memonitor dan mengontrol praktik-praktik pembangunan baik dari tingkat lokal sampai global. Saatnya para sosiolog menguasai baik ketrampilan teoritis dan kompetensi praktis yang dibutuhkan para stakeholders,” jelas Rachmat. Diskusi berlangsung dinamis dengan sejumlah pertanyaan kritis dari peserta. Salah satunya disampaikan Izza Amalia, mahasiswa Magister Sosiologi UMM semester pertama. Ia menanyakan pembangunan daerah sebagai implementasi dari SDGs. Kemudian ia juga menanyakan, bagaimana SDGs dipraktikkan di Tanzania, mengingat sama dengan Indonesia, Tanzania juga merupakan negara berkembang. Melalui Kuliah Pakar tersebut, Program Studi Magister Sosiologi UMM menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan tradisi akademik yang kritis, memperkuat kompetensi analitis mahasiswa, serta mendorong kajian kebijakan publik yang berpihak pada keadilan sosial dan kepentingan masyarakat luas. (Arumi) analisis sosiologisDirektorat Program PascasarjanaDPPSglobalguru SosiologiKabupaten MalangKota BatuKuliah TamuMagister SosiologimahasiswaMGMPMusyawarah Guru Mata Pelajaranobjek kebijakanPembangunan Dunia Ketigaprogram Pascasarjanaprogram studirasionalitasSosiologistudi Pembangunansubjek kebijakanUMMUniversitas Muhammadiyah Malang

Karate UMM Raih Enam Gelar Juara Event Batu Karate Challenge Open Tournament

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang olahraga. Kali ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil meraih enam gelar juara dalam ajang Batu Karate Challenge Open Tournament yang digelar di GOR Gajah Mada, Kota Batu pada 26 – 28 Desember 2025. Kejuaraan ini diikuti oleh atlet karate dari berbagai daerah di Jawa Timur dan berada di bawah naungan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI) Kota Batu. Dari enam atlet yang diturunkan, lima di antaranya berhasil menyumbangkan medali bagi UMM. Capaian ini dinilai semakin istimewa karena diperoleh di tengah proses regenerasi atlet dan berkurangnya jumlah personel yang aktif bertanding. Meski demikian, Karate UMM tetap mampu menjaga reputasi sebagai salah satu UKM olahraga berprestasi di lingkungan kampus. Ketua Umum Karate UMM, Fadil Inayatullah menjelaskan bahwa timnya tampil di sejumlah kategori pertandingan dan berhasil membawa pulang enam juara. “Kemarin itu dapat juara tiga Kata Perorangan Senior Putri, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putra, Juara tiga Kumite Perorangan Senior Putri, dan Juara Tiga Kata Beregu Junior Putri. Salah satu atlet kami bahkan meraih dua medali dari dua kategori berbeda yakni kata beregu junior putri serta kata perorangan senior putri masing-masing juara tiga,” jelasnya. Untuk menghadapi Batu Karate Challenge, para atlet menjalani program latihan khusus yaitu training center (TC) intensif selama lebih dari satu bulan. Program ini dirancang khusus bagi atlet yang akan diturunkan di kejuaraan. “Kalau di TC, latihannya benar-benar dipush. Fokusnya bukan hanya fisik, tapi juga kesiapan tanding. Seminggu dua kali latihan khusus, minimal sebulan sebelum kejuaraan,” ujar Fadil. Disisi lain, pembina Karate UMM, Havidz Ageng Prakoso, M.A., menilai capaian ini sebagai hasil dari proses adaptasi dan pembenahan internal yang cukup signifikan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya Karate UMM sempat vakum dari berbagai kejuaraan karena adanya pergantian kepengurusan dan pelatih. “Kita fokus dulu pada internal, lalu kembali aktif latihan. Sebelum turun ke kejuaraan, kita juga mengadakan pelatihan khusus dengan pelatih baru,” jelasnya. Menurut Ageng, perubahan pelatih membawa pendekatan baru yang lebih sesuai dengan karakter atlet muda saat ini. “Pelatih yang sekarang pendekatannya lebih soft, lebih humanis. Tidak hanya fisik, tapi juga membangun feeling dan chemistry antara pelatih dan atlet. Ternyata itu sangat penting,” ungkapnya. Selain itu, Ageng juga mengaku bangga dengan keputusan para atlet dan pengurus Karate UMM yang berani melakukan perubahan demi kemajuan tim. “Saya puas dan bangga karena mereka berani menentukan arah sendiri dan bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka memilih pelatih baru, dan sekarang bisa membuktikan dengan prestasi,” ungkapnya. Ke depan, Karate UMM menargetkan peningkatan prestasi di berbagai ajang, termasuk kejuaraan tingkat provinsi, nasional, hingga multievent seperti POMPROV dan SEA Games. Dengan dukungan kampus serta semangat baru dari para atlet dan pelatih, Karate UMM optimistis dapat terus melahirkan prestasi yang membanggakan, sekaligus mengharumkan nama Universitas Muhammadiyah Malang di tingkat yang lebih luas. (*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Arbain Nurdin Raih Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam di UMM

gurusiana.id, MALANG,- Tantangan digitalisasi yang kian masif mendorong lembaga pendidikan Islam untuk terus berbenah. Madrasah berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), yang selama ini dikenal kuat dalam pembinaan akhlak dan pendalaman ilmu agama, kini dihadapkan pada tuntutan baru: menyiapkan generasi santri yang juga unggul dalam literasi teknologi. Isu strategis inilah yang menjadi fokus utama dalam ujian terbuka disertasi Arbain Nurdin di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ujian terbuka tersebut digelar di Program Pascasarjana UMM dengan mengusung disertasi berjudul Model Kurikulum Islamic Boarding School Berbasis Teknologi di Padepokan Kiyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan. Disertasi ini mendapat perhatian karena menawarkan model kurikulum pesantren yang berupaya menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tuntutan kompetensi abad ke-21. Dalam pemaparannya, Arbain menegaskan bahwa IBS memiliki peran vital dalam membentuk insan intelektual yang berakhlak mulia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak lembaga pendidikan Islam yang menghadapi kendala serius dalam merespons perkembangan zaman, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, resistensi terhadap perubahan, hingga minimnya infrastruktur teknologi. “Pesantren tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu. Nilai tradisi harus tetap dijaga, tetapi cara dan instrumen pendidikan perlu menyesuaikan dengan konteks zaman,” ujar Arbain di hadapan tim penguji. Menurut Arbain, kurikulum di madrasah berasrama selama ini cenderung fokus pada penguatan dimensi spiritual dan moral. Orientasi ini merupakan kekuatan utama pesantren. Namun, tanpa integrasi teknologi yang terencana, lulusan IBS berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin kompetitif. Disertasi ini menggarisbawahi bahwa teknologi sejatinya dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Pemanfaatan learning management system, media digital, dan pembelajaran berbasis proyek terbukti mampu membuat proses belajar lebih dinamis, efektif, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda. “Integrasi teknologi bukan berarti menghilangkan identitas pesantren, melainkan memperkuatnya agar tetap kontekstual,” kata Arbain. Penelitian Arbain mengambil studi kasus di Padepokan Kiyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Pamekasan, sebuah lembaga IBS yang dinilai berhasil mengembangkan kurikulum berbasis teknologi secara sistematis. PKMKK berafiliasi dengan MTs Negeri 3 Pamekasan serta memperoleh rekomendasi dari Kementerian Agama. PKMKK mengembangkan kurikulum yang relatif lengkap, mulai dari kurikulum boarding, kurikulum multimedia, kurikulum merdeka, hingga layanan pendidikan individual bagi santri berkebutuhan khusus yang terintegrasi dengan teknologi. Lingkungan pendidikan yang dibangun mendorong santri untuk tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga terampil dalam pemanfaatan teknologi digital. Berbagai capaian santri menjadi bukti konkret keberhasilan model ini, antara lain kemampuan mengelola website lembaga serta memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, sebagai media pembelajaran dan dakwah yang kreatif. Agar penelitian lebih terarah, Arbain menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Desain penelitian yang digunakan adalah single case embedded, dengan dua unit kajian utama, yakni model kurikulum IBS berbasis teknologi dan pengorganisasian kurikulum IBS berbasis teknologi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggali secara mendalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kurikulum di PKMKK. Kurikulum dipahami bukan sekadar dokumen administratif, melainkan praktik pendidikan yang hidup dan dialami langsung oleh santri serta pendidik. Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah lahirnya Model Kurikulum Al-Muwahhid. Model ini dirancang dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan teknologi dalam satu kesatuan yang utuh, berlandaskan prinsip tauhid. Menurut Arbain, seluruh cabang ilmu pengetahuan pada hakikatnya bersumber dari Allah SWT. Karena itu, tidak semestinya terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kurikulum Al-Muwahhid berupaya menyatukan keduanya agar santri memiliki pandangan keilmuan yang integral. Model ini ditopang oleh tujuh pilar pendidikan, yaitu: One Day One Ayat, One Hadith One Presentation, One Week Three Languages, One Week Three Theme, One Week Three Fashl, One Activity One Paragraph, dan One Student One Laptop. Ketujuh pilar tersebut dirancang untuk membentuk santri yang kuat secara spiritual, cakap berkomunikasi, kritis dalam berpikir, serta melek teknologi. Kurikulum Al-Muwahhid dibangun di atas empat fondasi utama, yakni filosofis, budaya masyarakat lokal, karakteristik santri, dan sejarah lembaga. Dengan fondasi ini, kurikulum diharapkan tidak tercerabut dari akar tradisi pesantren, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman. Tujuan kurikulum dirumuskan secara jelas, yaitu mencetak santri yang bertauhid dan beretika, serta unggul, inovatif, berdaya saing, dan santun dalam pemanfaatan teknologi. Setiap program pembelajaran dirancang dengan target berbasis teknologi, baik dari sisi materi, metode, maupun evaluasi. PKMKK Pamekasan menegaskan komitmennya terhadap pendidikan berbasis teknologi. Proses pembelajaran menerapkan Project-Based Learning berbasis teknologi, sistem penugasan digital, serta evaluasi yang terintegrasi. Santri terbiasa menggunakan e-portofolio dan sistem i’lan berbasis teknologi sebagai bagian dari proses belajar. Model ini dinilai mampu membekali santri dengan keterampilan abad ke-21, tanpa mengabaikan pembinaan akhlak dan spiritualitas. Kurikulum Al-Muwahhid yang digagas Arbain bukan sekadar inovasi teknis, melainkan sebuah visi pendidikan Islam masa depan yang berani dan visioner. Disertasi ini juga mengungkap pengorganisasian kurikulum PKMKK yang dilakukan secara sistematis. Dalam dimensi vertikal, seluruh program kegiatan disusun berurutan, berkelanjutan, dan terintegrasi dari pagi hingga malam hari. “Setiap langkah santri adalah bagian dari perjalanan pendidikan yang dirancang secara sadar dan terencana,” ujar Arbain. Sementara dalam dimensi horizontal, pengorganisasian materi pelajaran mengacu pada prinsip ruang lingkup dan integrasi. Seluruh mata pelajaran yang terangkum dalam tujuh pilar pendidikan diatur agar saling terkait dan membentuk pengalaman belajar yang utuh. Model ini diklasifikasikan sebagai activity curriculum, di mana pembelajaran terjadi melalui aktivitas nyata dan pengalaman langsung. Melalui ujian terbuka ini, Arbain berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kurikulum IBS di berbagai daerah. Model Kurikulum Al-Muwahhid dinilai dapat diadaptasi oleh pesantren dan madrasah berasrama lain yang ingin bertransformasi secara digital tanpa kehilangan identitas keislamannya. “Kami berharap lembaga pendidikan Islam dapat mengambil inspirasi dari PKMKK Pamekasan untuk memperkuat struktur kurikulum mereka,” ungkap Arbain. Ia juga mendorong pemerintah agar mengambil peran lebih sentral melalui kebijakan yang mendukung pengembangan kurikulum IBS berbasis teknologi. Dukungan regulasi dan fasilitas dinilai penting untuk mempercepat lahirnya generasi unggul dari lembaga pendidikan keagamaan. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan nilai tauhid dan kemajuan teknologi, disertasi ini menjadi kontribusi penting dalam upaya memajukan pendidikan Islam agar tetap relevan, berkualitas, dan berdaya saing di tengah tantangan zaman.

Top 50 Kampus Indonesia Versi Webometrics Januari 2026

medcom.id – Jakarta: Kualitas perguruan tinggi dapat tercermin dalam perankingan. Lembaga pemeringkatan biasanya melakukan pemeringkatan lewat sejumlah indikator. Perankingan juga dapat mempengaruhi reputasi perguruan tinggi, baik nasional maupun internasional. Lembaga pemeringkatan Webometrics kembali merilis peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia periode Januari 2026. Pemeringkatan ini dilakukan setiap enam bulan atau pada Januari dan Juli. Webometrics merilis daftar peringkat kinerja universitas di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pemeringkatan dilakukan berdasarkan kemampuan perguruan tinggi berdasarkan persaingan global, keunggulan riset, keterbikaan hingga kinerja akademik dari perguruan tinggi. Pemeringkatan ini dapat kamu jadikan referensi sebagai pilihan tempat melanjutkan studi sehingga dapat memilih universitas yang tepat. Perankingan ini juga dapat mencerminkan kualitas pendidikan, termasuk fasilitas yang tersedia sebagai penunjang pendidikan di kampus tersebut. Di samping itu, perankingan ini juga dapat memengaruhi peluang karier lulusan karena perusahaan atau organisasi sering mempertimbangkan reputasi perguruan tinggi. Dengan demikian, perankingan perguruan tinggi dapat menjadi alat yang berguna dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian serta membantu berbagai pihak dalam membuat keputusan yang lebih tepat. Dari daftar ranking pada webometrics.org Januari 2026, satu universitas dari Indonesia masuk dalam top 500 kampus dunia, yakni Universitas Indonesia. Mau tahu pemeringkatan kampus Indonesia versi Webometrics Januari 2026? Berikut daftarnya: Universitas terbaik di Indonesia versi Weometrics Januari 2026 1. Universitas Indonesia World Rank: 409 Impact Rank: 306 Opennes Rank: 676 Excellence Rank: 1.001 2. Universitas Gadjah Mada World Rank: 539 Impact Rank: 502 Opennes Rank: 717 Excellence Rank: 1193 3. Universitas Airlangga World Rank: 590 Impact Rank: 694 Opennes Rank: 10423 Excellence Rank: 1056 4. Institut Teknologi Bandung World Rank: 658 Impact Rank: 781 Opennes Rank: 980 Excellence Rank: 1345 5. Universitas Padjadjaran Bandung World Rank: 723 Impact Rank: 917 Opennes Rank: 19075 Excellence Rank: 1472 6. Universitas Brawijaya World Rank: 747 Impact Rank: 572 Opennes Rank: 822 Excellence Rank: 1906 7. Universitas Diponegoro World Rank: 784 Impact Rank: 734 Opennes Rank: 831 Excellence Rank: 1890 8. IPB University World Rank: 792 Impact Rank: 863 Opennes Rank: 737 Excellence Rank: 1756 9. Universitas Sebelas Maret World Rank: 808 Impact Rank: 793 Opennes Rank: 881 Excellence Rank: 1965 10. Telkom University World Rank: 850 Impact Rank: 528 Opennes Rank: 1373 Excellence Rank: 2577 11. Universitas Pendidikan Indonesia World Rank: 876 Impact Rank: 833 Opennes Rank: 767 Excellence Rank: 2453 12. Institut Teknologi Sepuluh Nopember World Rank: 888 Impact Rank: 930 Opennes Rank: 1119 Excellence Rank: 1889 13. Universitas Hasanuddin World Rank: 898 Impact Rank: 1438 Opennes Rank: 1171 Excellence Rank: 1798 14. Universitas Negeri Malang World Rank: 951 Impact Rank: 1005 Opennes Rank: 948 Excellence Rank: 2438 15. Universitas Andalas World Rank: 979 Impact Rank: 746 Opennes Rank: 1457 Excellence Rank: 3007 16. Universitas Negeri Yogyakarta World Rank: 1017 Impact Rank: 1073 Opennes Rank: 19931 Excellence Rank: 2859 17. Universitas Bina Nusantara World Rank: 1022 Impact Rank: 1540 Opennes Rank: 2084 Excellence Rank: 1814 18. Universitas Negeri Padang World Rank: 1031 Impact Rank: 1305 Opennes Rank: 22809 Excellence Rank: 3576 19. Universitas Syiah Kuala World Rank: 1039 Impact Rank: 2542 Opennes Rank: 19955 Excellence Rank: 2017 20. Universitas Sumatera Utara World Rank: 1073 Impact Rank: 1297 Opennes Rank: 1157 Excellence Rank: 2575 21. Universitas Negeri Semarang World Rank: 1171 Impact Rank: 1168 Opennes Rank: 31421 Excellence Rank: 3584 22. Universitas Lampung World Rank: 1175 Impact Rank: 622 Opennes Rank: 1198 Excellence Rank: 3763 23. Universitas Sriwijaya World Rank: 1246 Impact Rank: 1060 Opennes Rank: 1323 Excellence Rank: 3001 24. Universitas Riau World Rank: 1269 Impact Rank: 799 Opennes Rank: 21952 Excellence Rank: 3764 25. Universitas Muhammadiyah Malang World Rank: 1291 Impact Rank: 904 Opennes Rank: 1526 Excellence Rank: 3640 26. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta World Rank: 1300 Impact Rank: 1330 Opennes Rank: 1682 Excellence Rank: 3136 27. Universitas Islam Negeri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta World Rank: 1311 Impact Rank: 1284 Opennes Rank: 1499 Excellence Rank: 10099 28. Universitas Udayana World Rank: 1316 Impact Rank: 2449 Opennes Rank: 25908 Excellence Rank: 2660 29. Universitas Jenderal Soedirman World Rank: 1332 Impact Rank: 898 Opennes Rank: 1571 Excellence Rank: 3947 30. Universitas Negeri Surabaya World Rank: 1340 Impact Rank: 1523 Opennes Rank: 1153 Excellence Rank: 3984 31. Universitas Lambung Mangkurat World Rank: 1340 Impact Rank: 957 Opennes Rank: 12018 Excellence Rank: 4039 32. Universitas Islam Indonesia World Rank: 1390 Impact Rank: 1795 Opennes Rank: 24531 Excellence Rank: 3418 33. Universitas Islam Negeri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta World Rank: 1396 Impact Rank: 2093 Opennes Rank: 13783 Excellence Rank: 3523 34. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta World Rank: 1418 Impact Rank: 1757 Opennes Rank: 10223 Excellence Rank: 3225 35. Universitas Jember World Rank: 1423 Impact Rank: 1070 Opennes Rank: 1276 Excellence Rank: 3656 36. Universitas Muhammadiyah Surakarta World Rank: 1511 Impact Rank: 2030 Opennes Rank: 1299 Excellence Rank: 3897 37. Universitas Bengkulu World Rank: 1517 Impact Rank: 1319 Opennes Rank: 24367 Excellence Rank: 4177 38. Universitas Islam Negeri UIN Sunan Gunung Djati Bandung World Rank: 1546 Impact Rank: 1444 Opennes Rank: 1242 Excellence Rank: 4620 39. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa World Rank: 1556 Impact Rank: 1190 Opennes Rank: 1584 Excellence Rank: 4254 40. Universitas Medan Area World Rank: 1557 Impact Rank: 704 Opennes Rank: 1534 Excellence Rank: 4687 41. Universitas Jambi World Rank: 1571 Impact Rank: 1702 Opennes Rank: 9553 Excellence Rank: 4100 42. Universitas Mulawarman World Rank: 1579 Impact Rank: 1767 Opennes Rank: 30350 Excellence Rank: 3774 43. Universitas Negeri Medan World Rank: 1588 Impact Rank: 1262 Opennes Rank: 15021 Excellence Rank: 4565 44. Universitas Mercu Buana World Rank: 1595 Impact Rank: 1327 Opennes Rank: 17185 Excellence Rank: 4117 45. Universitas Negeri Jakarta World Rank: 1597 Impact Rank: 2908 Opennes Rank: 19766 Excellence Rank: 3682 46. Universitas Negeri Makassar World Rank: 1627 Impact Rank: 2046 Opennes Rank: 21289 Excellence Rank: 3992 47. Universitas Islam Negeri UIN Ar Raniry World Rank: 1633 Impact Rank: 3284 Opennes Rank: 13449 Excellence Rank: 12209 48. Universitas Sam Ratulangi World Rank: 1640 Impact Rank: 3279 Opennes Rank: 1092 Excellence Rank: 3860 49. Universitas Mataram World Rank: 1658 Impact Rank: 1426 Opennes Rank: 1308 Excellence Rank: 4434 50. Universitas Halu Oleo Kendari World Rank: 1666 Impact Rank: 1001 Opennes Rank: 1811