Cindy Adams Telusuri Biografi Bung Karno, Warga Gelar Rekonstruksi Peringati 62 Tahun Kunjungan Perdana di Ploso Artikel ini telah tayang di Rmoljatim.id dengan judul Cindy Adams Telusuri Biografi Bung Karno, Warga Gelar Rekonstruksi Peringati 62 Tahun Kunjungan Perdana di Ploso

rmoljatim – Pegiat sejarah bersama warga menggelar rekonstruksi peristiwa bersejarah untuk memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Ploso, Kabupaten Jombang. Kegiatan ini menjadi penanda 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964, saat menelusuri jejak masa kecil Bung Karno guna menyusun biografi Penyambung Lidah Rakyat. Dalam rekonstruksi tersebut digambarkan kunjungan legendaris Cindy Adams yang kala itu merupakan mandat langsung dari Presiden Soekarno. Di Ploso, Cindy Adams melakukan riset mendalam dengan mewawancarai sejumlah sosok kunci yang mengetahui masa kecil Sang Proklamator, di antaranya pengasuh Bung Karno Mbok Suwi dan Mbok Mirah, serta teman masa kecilnya Mbah Joyo Dipo. Melalui napak tilas dan rekonstruksi ini, suasana Ploso pada tahun 1964 dihidupkan kembali. Tokoh Cindy Adams diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang tampil membersamai tokoh-tokoh pendamping Cindy Adams kala itu, seperti Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan peresmian Tetenger Situs Kelahiran Ir. Soekarno. Hadir dalam acara itu perwakilan Keluarga Persada Soekarno Kediri, Raden Mas Kuswartono, yang menegaskan pentingnya pelurusan sejarah keluarga terkait tempat kelahiran Bung Karno. “Menurut keterangan keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk wilayah Karesidenan Surabaya,” ujar Kuswartono, dikutip RMOLJATIM, Jumat (16/1/2026). Hal senada disampaikan Masfiin, Kuncen Titik Nol Soekarno, yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger. Ia menegaskan keyakinan Bung Karno lahir di Ploso bukan sekadar klaim sepihak, melainkan memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung. “Warga setempat sejak lama mengenal lokasi ini sebagai tempat lahirnya Raden Koesno Sosro Di Hardjo, nama kecil Bung Karno,” jelasnya. Sementara itu, Binhad Nurrohmad, Inisiator Titik Nol Soekarno, mengungkapkan bahwa dukungan data atas fakta tersebut semakin menguat. Hingga kini pihaknya telah mengantongi lebih dari 10 dokumen yang menjelaskan kelahiran Bung Karno di Ploso. “Data ini juga diperkuat oleh penelusur sejarah Jombang, Moch. Faisol, yang memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung,” tuturnya. Dukungan juga datang dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang. Koordinator Wilayah Ploso, Arif Yulianto atau Cak Arif, menyebut kajian teknis telah dilakukan dan memberikan rekomendasi kuat mengenai validitas kelahiran Soekarno di Ploso. Melalui peringatan ini, para pegiat sejarah berharap upaya pelestarian sekaligus pelurusan sejarah Bung Karno dapat terus berlanjut, sehingga generasi muda memperoleh edukasi yang akurat tentang jejak dan perjalanan hidup Sang Proklamator.

Menakar Arah Bangsa Menuju 2045, PSIB UMM Dorong Refleksi Kritis Indonesia Emas

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika awal tahun kerap dimaknai sebagai sekadar jeda rutinitas dan perayaan seremonial, Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memilih jalur berbeda. Awal 2026 dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menakar arah masa depan bangsa melalui diskusi bertajuk “Refleksi Awal Tahun: Mempercepat Transformasi Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar di Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, Senin (12/1/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi kritis terhadap visi besar Indonesia Emas 2045 yang selama ini kerap digaungkan dalam wacana politik. Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menegaskan bahwa pemilihan waktu di awal tahun bukan tanpa alasan. Menurutnya, refleksi sejak dini merupakan langkah proaktif untuk menawarkan inovasi dan koreksi arah pembangunan. “Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan. Ia adalah visi besar yang harus diuji secara akademik dan ditopang fondasi ilmiah yang kuat. Diskusi ini tidak berhenti pada wacana, tetapi akan kami rumuskan menjadi book chapter yang dapat menjadi rujukan kebijakan bagi pemerintah dalam mengambil langkah strategis,” tegas Prof. Gonda. Diskusi kian menghangat saat Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PWM Jawa Timur, Luthfi J. Kurniawan, menyampaikan peringatan keras terkait bonus demografi. Ia menyebut, peluang besar tersebut dapat berubah menjadi ancaman serius jika tidak diiringi pembangunan sumber daya manusia dan sektor kesehatan yang memadai. “Bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju negara maju. Jika pendidikan dan kesehatan diabaikan, justru akan menjadi bencana pembangunan. Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai dengan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, bukan sekadar jumlah penduduk usia produktif,” ujarnya. Kekhawatiran itu diperkuat oleh paparan Abdus Salam, M.Si., pakar sosiologi politik UMM. Ia mengajak peserta melihat sisi gelap pembangunan yang kerap luput dari jargon kemajuan, yakni kemiskinan struktural. Menurutnya, persoalan ini masih nyata dan berlapis, mulai dari sektor agraria hingga wilayah perkotaan. “Kita menghadapi kemiskinan agraria ketika petani kehilangan akses lahan, serta kemiskinan urban akibat struktur industri yang lemah sehingga masyarakat bergantung pada sektor informal. Ini pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia benar-benar ingin melangkah menuju kemajuan,” paparnya. Diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari aktivis mahasiswa, akademisi, hingga pegiat literasi—ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal isu-isu strategis kebangsaan. PSIB UMM berharap gagasan kritis yang lahir dari forum ini dapat menjadi kontribusi nyata dalam merumuskan peta jalan Indonesia menuju masa depan yang adil, berkelanjutan, dan berkemajuan. (ANS)

UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional

Prof Elfi Anis Saati bersama tim mahasiswa UMM. Kompetensi Halal Jadi Senjata Lulusan, UMM Cetak Garda Depan Penggerak Ekosistem Halal Nasional MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya membangun industri halal nasional tidak bisa dilakukan secara parsial. Dengan indeks literasi ekonomi syariah Indonesia yang masih berada di bawah 50 persen, dibutuhkan sinergi lintas sektor sekaligus penguatan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil progresif dengan menjadikan mahasiswa sebagai garda terdepan penggerak ekosistem halal. Melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal), UMM secara konsisten mengintegrasikan kompetensi halal ke dalam kurikulum lintas program studi. Mulai dari Teknologi Pangan, Agribisnis, Ekonomi Syariah, hingga Fakultas Hukum, mahasiswa dibekali pemahaman dan keterampilan halal yang aplikatif serta relevan dengan kebutuhan industri. Ketua PS P3 Halal UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP, menegaskan bahwa industri halal bertumpu pada empat pilar utama, yakni produk barang dan jasa, infrastruktur, SDM, serta dukungan regulasi pemerintah. Karena itu, penguatan kompetensi halal di bangku kuliah menjadi investasi strategis bagi masa depan lulusan. “Kompetensi halal saat ini membuka peluang karier yang sangat luas. Salah satunya dalam mendukung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur-dapur MBG bukan hanya membutuhkan ahli gizi, tetapi juga SDM yang memahami dan mampu menjamin kehalalan proses produksinya,” ujar Prof. Elfi kepada tim Humas UMM, 12 Januari 2026 lalu. Ia mencontohkan keberhasilan Iffi Amalia, S.T.P., alumni Teknologi Pangan UMM yang setelah hampir dua tahun magang di tim halal UMM, kini dipercaya menjadi Ahli Gizi dapur MBG di Banyuwangi. Keunggulannya terletak pada keahlian ganda, yakni pemahaman gizi sekaligus sertifikasi halal. PS P3 Halal UMM sendiri tercatat sebagai pusat kajian pangan aman halal pertama di Indonesia sejak berdiri pada 2008. Melalui program Pendamping Proses Produk Halal (P3H), mahasiswa diterjunkan langsung mendampingi pelaku UMKM dalam proses sertifikasi halal. “Mahasiswa mendapatkan empat manfaat sekaligus. Pertama, kompetensi teknis halal. Kedua, konversi nilai A tanpa harus mengikuti UAS jika berhasil meloloskan sertifikat halal UMKM. Ketiga, percepatan kelulusan karena laporan pendampingan dapat dijadikan skripsi. Keempat, ini menjadi amal jariyah karena membantu UMKM mendapatkan sertifikasi halal secara gratis,” jelas Prof. Elfi. Dampak program ini terbukti nyata. Dalam waktu hanya empat minggu, dari 90 mahasiswa yang terlibat, sebanyak 14 mahasiswa berhasil menuntaskan tugas terstruktur dan mengawal terbitnya sertifikat halal bagi sejumlah produk, seperti Minuman Bu Neneng (Sengkaling), Bumbu Pecel Bu Romlah (Singosari), hingga Dimsum Littlebite. “Mahasiswa adalah agent of change. Dengan bekal kompetensi halal ini, mereka tidak hanya siap terjun ke dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi penggerak gaya hidup halal yang inklusif di tengah masyarakat,” pungkasnya. (ANS)

Memperingati 62 Tahun Kedatangan Cindy Adams di Ploso Jombang: Rekonstruksi Sejarah Kelahiran Bung Karno

Jombang (beritajatim.com) –Puluhan pegiat sejarah dan masyarakat Jombang menggelar rekonstruksi bersejarah yang memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jumat, 16 Januari 2026. Acara ini diadakan bertepatan dengan peringatan 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964 yang menjadi bagian dari riset penting dalam penulisan biografi Penyambung Lidah Rakyat, yang diinisiasi langsung oleh Presiden Soekarno. Kunjungan Cindy Adams pada tahun 1964 ini memiliki nilai sejarah yang mendalam. Dalam penugasan tersebut, Cindy melakukan riset dan wawancara dengan berbagai sosok kunci dari masa kecil Bung Karno, termasuk Mbok Suwi dan Mbok Mirah, pengasuh Bung Karno, serta Mbah Joyo Dipo, teman masa kecil Bung Karno. Di Ploso, Cindy Adams mengumpulkan banyak bahan penting untuk biografi Sang Proklamator. Rekonstruksi Sejarah dan Napak Tilas 1964 Dalam rangkaian acara tersebut, suasana tahun 1964 dihidupkan kembali melalui rekonstruksi yang diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang menggambarkan sosok Cindy Adams. Sejumlah tokoh yang turut hadir dalam kegiatan ini juga diperankan, antara lain Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Suasana tahun 1964 yang ditampilkan dalam rekonstruksi ini memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana situasi pada masa itu. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peresmian Tetenger Situs Kelahiran Ir. Soekarno, yang menjadi sorotan utama. Raden Mas Kuswartono, perwakilan dari Keluarga Persada Soekarno Kediri, hadir dalam acara tersebut dan menegaskan pentingnya meluruskan sejarah keluarga. Dalam sambutannya, Kuswartono menekankan, “Persoalan tempat kelahiran Bung Karno memang sering diperdebatkan. Namun, berdasarkan keterangan internal keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk dalam wilayah Karesidenan Surabaya.” Memori Kolektif Masyarakat Desa Rejoagung Masfiin, yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger, menjelaskan bahwa keyakinan bahwa Bung Karno lahir di Ploso bukanlah klaim sepihak. “Ini adalah memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung,” kata Masfiin. Sejak lama, warga setempat mengenal lokasi tersebut sebagai tempat kelahiran Raden Koesno Sosrodihardjo, nama kecil Bung Karno. Dukungan terhadap klaim ini semakin menguat dengan adanya lebih dari 10 dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di Ploso, sebagaimana disampaikan oleh Binhad Nurrohmad, inisiator Titik Nol. “Kami memiliki lebih dari 10 bukti dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di sini,” ungkapnya. Moh Faisol, seorang penelusur sejarah Jombang, juga memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung. Penelusuran ini juga diperkuat oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang yang melakukan kajian teknis terkait validitas klaim kelahiran Soekarno di Ploso. Koordinator Wilayah Ploso, Arif Yulanto atau Cak Arif, menyatakan bahwa kajian ini memberikan rekomendasi kuat mengenai kebenaran klaim tersebut. Peringatan ini menjadi momen penting bagi para pegiat sejarah dan masyarakat Ploso, yang berharap upaya pelestarian dan pelurusan sejarah dapat terus berlanjut. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi yang akurat tentang jejak hidup dan perjalanan Bung Karno kepada generasi muda. Dengan adanya bukti-bukti autentik dan kajian mendalam, diharapkan masyarakat luas dapat lebih memahami fakta sejarah yang sebenarnya. [suf]

Tiga Pilar Pendidikan di Ambang Runtuh saat Guru dan Orang Tua Saling Menuding

Oleh : Gusti Bayu MandastanaAkademisi Universitas Muhammadiyah Malang pwmu.co – Di banyak lembaga pendidikan, terdapat sebuah ritual yang rutin dilaksanakan pada setiap awal semester, yaitu Pertemuan Guru dan Orang Tua Wali (PGOTW). Mari sejenak membayangkan suasana di ruang pertemuan tersebut. Udara dipenuhi harapan dan optimisme yang terasa nyata. Para orang tua peserta didik menyimak dengan saksama pemaparan program yang disampaikan oleh kepala sekolah, sesekali mengangguk sebagai tanda persetujuan.Para wali kelas pun tak kalah antusias menyampaikan target dan rencana pembelajaran yang akan dicapai bersama peserta didik. Jabat tangan antara wali kelas dan orang tua peserta didik seolah menjadi penanda kesepakatan bersama demi kebaikan dan perkembangan peserta didik. Pada momen inilah tiga pilar utama pendidikan ditegakkan sebagai penopang keberhasilan proses belajar, yaitu sekolah, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Pada hakikatnya, pendidikan yang berhasil tidak dapat ditopang oleh satu kaki saja. Ia membutuhkan ketiga pilar tersebut berdiri sama kokoh dan saling menguatkan. Sekolah berperan sebagai penyelenggara pendidikan, orang tua sebagai mitra utama pendampingan di rumah, dan peserta didik sebagai subjek aktif dalam keseluruhan proses pembelajaran. PGOTW menjadi momentum penting ketika ketiga pihak ini menyamakan frekuensi, menyepakati aturan main yang berlaku, serta meneguhkan komitmen untuk senantiasa berjalan beriringan. Pada tataran gagasan, semuanya tampak begitu indah dan ideal untuk diwujudkan. Namun, mari kita renungkan sejenak dengan jujur. Seberapa sering energi positif dari PGOTW itu benar-benar bertahan hingga akhir semester. Tak jarang, semangat yang semula membara perlahan meredup, bahkan menguap tanpa bekas seiring berjalannya waktu. Komitmen bersama pun seolah terlupakan. Masing-masing pihak perlahan menjauh dari kesepakatan awal. Orang tua, dengan dalih yang terdengar logis seperti tuntutan pekerjaan dan kesibukan sehari-hari, secara bertahap kembali pada pola pikir lama, sekadar menitipkan anak di sekolah. Tanggung jawab pembentukan karakter yang sejatinya menjadi inti dalam evaluasi Pendidikan Agama Islam (PAI) kerap dilimpahkan sepenuhnya ke pundak guru. Sekolah tidak lagi dipandang sebagai mitra dalam membina akhlak, melainkan sekadar penyedia jasa yang diharapkan mampu mencetak anak saleh secara instan. Di sinilah muncul gejala lepas tangan dalam proses pendidikan. Ketika peserta didik melanggar aturan, orang tua refleks mengambil posisi berseberangan dengan guru dan sekolah, seolah mereka adalah lawan. Aduan sepihak dari peserta didik sering kali lebih dipercaya mentah-mentah. Sekolah dan para guru sebagai motor penggerak pendidikan tidak jarang dihadapkan pada kenyataan adanya oknum guru yang mengajar seolah sekadar menggugurkan kewajiban. Proses pembelajaran kehilangan ruh, tanpa cita-cita untuk menumbuhkan kecerdasan intelektual maupun spiritual peserta didik. Kesepakatan yang dibangun di awal pun kerap runtuh dengan alasan kelelahan akibat beban administrasi. Ketika terdapat peserta didik dengan akhlak yang kurang baik, sekolah seakan memandang bahwa orang tua tidak mampu menjadi teladan. Kesibukan orang tua dalam bekerja lebih mudah dijadikan alasan, alih-alih sekolah dan guru bersama-sama mencari solusi terbaik bagi perkembangan peserta didik. Di sisi lain, peserta didik pun tidak luput dari persoalan. Cita-cita yang dirajut di awal perlahan sirna, tergerus oleh rayuan game dan hiruk pikuk media sosial. Mereka kerap melupakan target yang seharusnya dicapai di akhir semester. Hilangnya sosok teladan, atau setidaknya figur yang mampu mengarahkan perilaku, membuat peserta didik tanpa ragu menjadikan apa pun yang tampil di media sosial sebagai panutan. Dari sekian banyak pengaruh yang masuk ke dalam pikiran mereka, bukan mustahil hal tersebut memicu terbentuknya akhlak yang kurang baik. Di sinilah letak persoalan utama dalam evaluasi PAI. Ranah afektif atau akhlak menjadi tantangan terbesar karena sifatnya yang subjektif. Guru kerap mencurigai peserta didik memiliki persoalan di rumah, sementara orang tua menilai guru tidak cakap dalam mendidik. Di sisi lain, peserta didik merasa bahwa baik guru maupun orang tua tidak mampu memberikan “kenyamanan” dalam proses belajar. Persoalan ini bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah, melainkan bukti nyata bahwa ketiga pilar tersebut wajib bekerja sama. Hal ini mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam, “Bagaimana sebenarnya kita memandang PGOTW?” Apakah ia menjadi titik awal dari sebuah hubungan kemitraan, atau sekadar transaksi formalitas belaka?. Perbedaannya sangat mendasar. Jika dipahami sebagai transaksi, maka logika di benak orang tua pun menjadi sederhana, “Saya sudah membayar SPP, saya sudah hadir, maka tugas saya selesai.” Di sisi guru, pandangan serupa juga muncul, “Saya sudah hadir di sekolah, saya sudah menyampaikan materi, maka tugas saya selesai Pendidikan karakter kerap dianggap lunas di gerbang sekolah. Namun, jika dipahami sebagai bentuk kerja sama, PGOTW justru menjadi pintu komunikasi bagi terbangunnya kolaborasi berkelanjutan dan tanggung jawab bersama dalam mengevaluasi perkembangan peserta didik, terutama pada aspek akhlak. Biaya sekolah bukanlah ongkos untuk “lepas tangan” dari tanggung jawab moral, melainkan sebuah investasi berharga yang harus dikelola dan diawasi secara bersama-sama. Ini adalah panggilan refleksi bagi kita semua, orang tua, guru, dan peserta didik. Sudah saatnya kesepakatan di awal semester kembali diingat dan dihidupkan. Jabat tangan tidak akan bermakna jika tidak disertai tangan-tangan yang terus memeluk dan menopang peserta didik sepanjang perjalanan belajar mereka. Keberhasilan pendidikan, terutama PAI, tidak lahir dari satu pilar semata, melainkan dari tiga pilar yang berdiri sama kokohnya, dari awal hingga akhir. Bagi orang tua, PGOTW bukanlah akhir dari kewajiban, melainkan awal keterlibatan aktif dalam evaluasi yang paling penting. Bagi pihak sekolah, PGOTW bukan sekadar seremoni, tetapi gerbang untuk membangun komunikasi yang hidup, menjalankan kewajiban pendidikan dengan sepenuh hati, dengan jiwa dan ruh seorang murabbi, yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menghadirkan teladan. Sementara itu, bagi para peserta didik, sadari bahwa orang tua dan guru sedang berjuang untuk kalian. Karena itu, ikutlah berjuang bersama mereka dengan menjadi seorang pembelajar sejati. (*)

Ranking Webometrics Universitas Indonesia 2026: Ini Posisi Unila di Tingkat Dunia

SEPUTARLAMPUNG.COM – Memilih universitas tidak hanya soal jurusan, tetapi juga kualitas institusi pendidikan secara keseluruhan. Di tengah persaingan global pendidikan tinggi, pemeringkatan kampus menjadi salah satu rujukan penting bagi calon mahasiswa, orang tua, hingga pemangku kebijakan. Salah satu pemeringkatan yang kerap dijadikan acuan adalah Webometrics Ranking of World Universities. Webometrics secara berkala merilis daftar universitas terbaik di dunia, termasuk di Indonesia. Pada edisi 2026, ribuan perguruan tinggi dari berbagai negara dinilai berdasarkan kinerja digital dan akademik. Pemeringkatan ini tidak hanya menyoroti reputasi, tetapi juga dampak nyata perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan keterbukaan informasi. Mengutip laman resmi Webometrics, pemeringkatan 2026 menggunakan sejumlah indikator utama, di antaranya visibilitas (50 persen) yang mengukur dampak institusi melalui jumlah domain eksternal yang merujuk ke situs universitas. Selain itu, indikator keunggulan (40 persen) dinilai dari jumlah artikel ilmiah yang masuk 10 persen teratas paling banyak dikutip secara global berdasarkan data Scopus dan Scimago periode 2019–2023. Berdasarkan hasil tersebut, Universitas Indonesia (UI) menempati peringkat pertama nasional dengan peringkat global ke-503. Posisi ini diikuti Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat nasional kedua dan Institut Teknologi Bandung (ITB) di peringkat ketiga. Dominasi perguruan tinggi negeri masih terlihat kuat di jajaran 10 besar nasional, meskipun sejumlah kampus swasta juga menunjukkan peningkatan signifikan. Lalu, Universitas Lampung (Unila) peringkat berapa? Dalam daftar Webometrics 2026, Unila menempati peringkat ke-17 nasional dengan peringkat global 1.591. Capaian ini menunjukkan lonjakan positif dengan kenaikan 165 peringkat dibandingkan periode sebelumnya, sekaligus menegaskan peran Unila sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di Sumatera. Secara nasional, Unila berada di atas sejumlah perguruan tinggi besar lainnya dan menjadi salah satu kampus dengan peningkatan peringkat paling signifikan pada tahun ini. Hal tersebut mencerminkan penguatan kinerja institusi, baik dari sisi visibilitas digital maupun kontribusi akademik melalui publikasi ilmiah. Universitas Indonesia (UI) Peringkat dunia 503, turun 10 peringkat, tetap menjadi kampus terbaik nasional. Universitas Gadjah Mada (UGM) Peringkat dunia 666, naik 8 peringkat, konsisten di posisi elite nasional. Institut Teknologi Bandung (ITB)  Peringkat dunia 852, posisi relatif stabil. Universitas Brawijaya (UB)  Peringkat dunia 914, melonjak 89 peringkat. Universitas Diponegoro (Undip) Peringkat dunia 996, naik 66 peringkat. IPB University  Peringkat dunia 1.000, mempertahankan posisi. Universitas Sebelas Maret (UNS)  Peringkat dunia 1.056, naik 42 peringkat. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)  Peringkat dunia 1.115, naik signifikan 129 peringkat. Telkom University Peringkat dunia 1.164, posisi stabil sebagai PTS unggulan. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)  Peringkat dunia 1.209, naik 8 peringkat. Universitas Hasanuddin (Unhas)  Peringkat dunia 1.268, turun 9 peringkat. Universitas Negeri Malang (UM) Peringkat dunia 1.296, naik 49 peringkat. Universitas Bina Nusantara (Binus) Peringkat dunia 1.371, naik 106 peringkat. Universitas Andalas (Unand) Peringkat dunia 1.418, turun 21 peringkat. Universitas Airlangga (Unair)  Peringkat dunia 1.421, turun drastis 676 peringkat. Universitas Sumatera Utara (USU) Peringkat dunia 1.491, naik 70 peringkat. Universitas Lampung (Unila) Peringkat dunia 1.591, melonjak 165 peringkat. Universitas Sriwijaya (Unsri) Peringkat dunia 1.595, naik 329 peringkat. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  Peringkat dunia 1.768, naik 259 peringkat. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)  Peringkat dunia 1.824, naik 222 peringkat. Universitas Padjadjaran (Unpad) Peringkat dunia 1.832, turun 876 peringkat. Universitas Jember (Unej)  Peringkat dunia 1.849, naik 463 peringkat. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Peringkat dunia 1.907, naik 214 peringkat. Universitas Medan Area (UMA) Peringkat dunia 2.153, naik 495 peringkat. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Peringkat dunia 2.222, turun 84 peringkat. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Peringkat dunia 2.270, naik 373 peringkat. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)  Peringkat dunia 2.397, naik 115 peringkat. Universitas Halu Oleo (UHO) Peringkat dunia 2.411, naik 484 peringkat. Universitas Mataram (Unram) Peringkat dunia 2.455, naik 418 peringkat. UIN Sunan Gunung Djati Bandung  Peringkat dunia 2.531, naik 80 peringkat. Universitas Tadulako (Untad) Peringkat dunia 2.591, naik 530 peringkat. Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Peringkat dunia 2.627, naik 204 peringkat. Universitas Pelita Harapan (UPH) Peringkat dunia 2.656, naik 397 peringkat. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Peringkat dunia 2.685, turun 1.216 peringkat. Universitas Syiah Kuala (USK) Peringkat dunia 2.807, turun 1.306 peringkat. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)  Peringkat dunia 2.836, posisi relatif stabil. Universitas Riau (Unri) Peringkat dunia 2.930, turun 954 peringkat. Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Peringkat dunia 3.081, naik tajam 697 peringkat. Universitas Gunadarma Peringkat dunia 3.085, naik 396 peringkat. Universitas Negeri Semarang (Unnes) Peringkat dunia 3.091, turun 1.344 peringkat. Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)  Peringkat dunia 3.105, naik 422 peringkat. Universitas Udayana (Unud) Peringkat dunia 3.136, turun 1.051 peringkat. Universitas Negeri Padang (UNP) Peringkat dunia 3.172, turun 1.683 peringkat. Universitas Lambung Mangkurat (ULM)  Peringkat dunia 3.202, turun 1.065 peringkat. Universitas Ahmad Dahlan (UAD)  Peringkat dunia 3.224, turun 928 peringkat. Universitas Islam Malang (Unisma) Peringkat dunia 3.307, naik 219 peringkat. Universitas Islam Indonesia (UII)  Peringkat dunia 3.333, turun 1.099 peringkat. Universitas Surabaya (Ubaya) Peringkat dunia 3.398, naik 516 peringkat. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Peringkat dunia 3.406, naik 306 peringkat. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Peringkat dunia 3.417, melonjak 627 peringkat. Pemeringkatan Webometrics tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya ukuran kualitas universitas, namun menjadi indikator penting dalam menilai keterbukaan informasi, dampak riset, dan daya saing global perguruan tinggi. Bagi calon mahasiswa, data ini dapat menjadi referensi awal sebelum menentukan pilihan kampus yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana masa depan. Dengan posisi ke-17 nasional dan tren peningkatan yang konsisten, Universitas Lampung menunjukkan perkembangan positif dalam peta pendidikan tinggi Indonesia, sekaligus membuka peluang lebih besar untuk bersaing di level internasional. ***

“Hutan Reborn” Rayz UMM Hotel Tanam Bibit Pohon Kopi Hingga Pisang

Buat Malang Lebih Hijau MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Malang Raya akan semakin asri dan hijau. Pasalnya puluhan bibit Pohon Kopi Robusta hingga Bibit Pohon Pisang Emas ditanam di Lahan Camp 3 Retaka, Sumbersekar, Dau, Kabupaten Malang, Kamis (15/1/26). Program itu dilakukan Rayz UMM Hotel Malang tadi pagi dalam aksi Tanam Pohon. Aksi itu tidak begitu saja dilakukan, melainkan juga sebagai komitmen dalam program Hutan Reborn yang selalu diusung Rayz UMM Hotel Malang. Hal tersebut juga menandai rangkaian HUT ke-6 Rayz UMM Hotel Malang. Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A bersama Hotel Manager Rayz UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien secara simbolis melakukan aksi tanam bibit pohon itu. Bibit Kopi Robusta yang dipadukan dengan pisang Emas Kirana sebagai tanaman inang dilakukan pagi tadi. Kopi Robusta dipilih karena karakteristiknya yang adaptif terhadap kondisi lingkungan di wilayah Dau, Kabupaten Malang, serta kemampuannya dalam menjaga tutupan lahan dan struktur tanah. Sementara itu, pisang Emas Kirana berperan sebagai tanaman penaung alami yang membantu menciptakan mikroklimat, menjaga kelembapan tanah, serta mengurangi risiko erosi. Pemilihan kedua jenis tanaman tersebut merupakan bagian dari pendekatan agroforestry, di mana fungsi hutan sebagai penjaga keseimbangan alam tetap berjalan, namun dikombinasikan dengan tanaman bernilai produktif. “Melalui konsep ini, Hutan Reborn diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan hijau yang tidak hanya lestari secara ekologis, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” papar Hotel Manager Rayz UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien. Program Hutan Reborn ini terlaksana melalui kolaborasi multipihak yang saling mendukung. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berperan sebagai pemilik lahan Camp 3 Retaka di Sumbersekar, Dau, sekaligus mitra strategis dalam pengembangan kawasan berbasis edukasi dan lingkungan. PT Retaka berperan sebagai pengelola lahan yang mendampingi proses perencanaan, pengelolaan, serta pemeliharaan kawasan agar program berjalan sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Sementara itu, JATAM atau Jamaah Tani Muhammadiyah berkontribusi sebagai penyedia bibit tanaman kopi Robusta dan pisang Emas Kirana, sekaligus memberikan pendampingan teknis serta perawatan tanaman pascatanam. Kolaborasi ini menegaskan bahwa Program Hutan Reborn tidak berhenti pada seremoni penanaman, melainkan dirancang sebagai upaya jangka panjang yang terkelola dan berkesinambungan. Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel Malang, Gustam Duga Prasetya, menyampaikan bahwa ulang tahun ke-6 ini menjadi momentum untuk menghadirkan dampak yang lebih luas. “Ulang tahun ke-6 Rayz UMM Hotel Malang kami maknai sebagai momentum untuk memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan. Melalui Program Hutan Reborn, kami mengajak para tamu untuk terlibat langsung dalam aksi pelestarian lingkungan. Penanaman kopi Robusta dengan pisang Emas Kirana sebagai tanaman inang mencerminkan konsep hutan produktif berkelanjutan, di mana fungsi ekologis dan nilai jangka panjang dapat berjalan beriringan,” pungkasnya. (ica/udi)

RBC Institute AMF Ajak Anak Desa Karangnongko Cintai Buku

mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF), berkolaborasi dengan komunitas Republik Gubuk, menggelar kegiatan literasi menggunakan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) di Pondok Anyam, Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, 4 Januari 2026. Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar, M. Subhan Setowara MA, menjelaskan kegiatan ini upaya konkret menghadirkan akses bacaan inklusif. Pihaknya ingin memastikan budaya membaca tidak hanya eksklusif di ruang formal, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat komunitas. “Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci memperluas jangkauan gerakan literasi. Kegiatan serupa akan terus kami inisiasi agar upaya pelestarian budaya baca dapat menjangkau setiap lapisan masyarakat, sekaligus memperkuat literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia,” ungkap Subhan lewat situs resmi umm.ac.id. Puluhan peserta yang terdiri dari anak-anak dan warga setempat datang dan mengerubuti Mobil Terbang yang membawa beragam koleksi buku. Kepala Dusun Paras, Hani Masudi, mengapresiasi langkah UMM ini mengingat kehadiran perpustakaan keliling sangat relevan di tengah tantangan era digital. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute AMF. Program ini sangat membantu kampung kami meningkatkan minat baca anak-anak. Di saat gawai mendominasi, mobil ini menjadi inovasi yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku.” Kegiatan dilaksanakan di Pondok Anyam, salah satu ruang belajar di bawah naungan komunitas literasi Republik Gubuk yang dipimpin Fachrul Alamsyah (Cak Irul). Sinergi antara RBC Institute AMF dan Pondok Anyam memperkuat ekosistem literasi, khususnya dalam menumbuhkan kreativitas dan kebiasaan belajar anak sejak dini. Acara ini melibatkan mahasiswa UMM yang mendampingi anak-anak selama proses membaca dan belajar. Melalui program ini, UMM berharap dapat terus menghadirkan literasi yang kontekstual dan menyenangkan, sebagai bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya literasi hingga ke pelosok desa. (Faqih Ahmad)

Baca Arah Kiblat dengan Kompas Laser, Siswa Smamita Padukan Ilmu Sains dan Ibadah

KLIKMU.CO – Pembelajaran bermakna kembali ditunjukkan oleh SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) melalui kegiatan edukatif yang memadukan ilmu sains dan ibadah. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Manarul Ilmi lantai 2, Rabu (14/1/2026). Siswa kelas X dan XI Program Tahfidz Smamita mengikuti pembelajaran verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern berupa kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan literasi sains sekaligus pemahaman praktik keagamaan. Pembelajaran dirancang secara kontekstual agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkan langsung penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya terkait ketepatan arah kiblat sebagai salah satu syarat sah salat. Sebelum praktik, siswa dibekali materi dasar mengenai penentuan lokasi geografis, mulai dari mengenali tempat yang akan diverifikasi, menentukan koordinat lintang dan bujur, hingga memahami konsep arah kiblat berdasarkan posisi Ka’bah di Makkah. Pembekalan ini menjadi fondasi penting untuk memahami hubungan antara data geografis, arah mata angin, dan perhitungan arah kiblat secara ilmiah. Pada sesi praktik, siswa secara berkelompok melakukan pengukuran arah kiblat dengan memanfaatkan kompas laser 16 line. Instrumen ini memungkinkan visualisasi arah yang lebih presisi melalui bantuan garis laser, sehingga memudahkan verifikasi kesesuaian arah kiblat di berbagai titik lokasi yang diuji. Antusiasme siswa tampak ketika mereka membandingkan hasil pengukuran dengan pengetahuan sebelumnya. Siswa Tahfidz Smamita amati Kompas Laser 16 Line sebagai penentu arah kiblat (Satrio/KLIKMU.CO) Muhammad Syamsu Alam Darajat SH MA, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang selaku pembimbing, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern berbasis ilmu astronomi. “Sebelum kegiatan, siswa Tahfidz Smamita mendapatkan pembekalan materi dasar yang meliputi cara menentukan lokasi yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis lintang dan bujur, hingga menentukan azimut kiblat secara ilmiah,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya ketepatan arah kiblat. Menurutnya, kesalahan satu derajat saja dapat menyebabkan arah kiblat melenceng sejauh kurang lebih 111 kilometer dari titik Ka’bah. Jika melenceng satu derajat ke utara, arah salat bisa menghadap wilayah Eropa, sedangkan jika satu derajat ke selatan, arah salat dapat menghadap wilayah Afrika. “Peserta diharapkan tidak lagi sekadar menghadap ke arah barat saat salat. Arah barat bukanlah arah kiblat, dan bangunan masjid atau musala pun tidak selalu dapat dijadikan acuan karena arah bangunan bisa berbeda dengan arah kiblat yang sebenarnya,” jelasnya. Staf Ismuba Smamita, Ummu Syarifah SPdI, yang mendampingi siswa Tahfidz, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran bahwa ibadah dalam Islam dapat dan perlu didukung oleh pendekatan ilmiah. Dengan demikian, ketepatan dan keyakinan dalam beribadah semakin kuat. Selain itu, siswa juga dilatih berpikir kritis, teliti, serta bertanggung jawab terhadap data yang mereka peroleh. Melalui kegiatan ini, Smamita terus menghadirkan pembelajaran integratif yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman. Diharapkan, pengalaman belajar tersebut mampu membentuk siswa yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang kuat serta mampu mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata.

Terapkan Pembelajaran Kontekstual, Siswa Smamita Verifikasi Arah Kiblat dengan Instrumen Modern

  pwmu.co – Pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan sains dan nilai-nilai keislaman kembali diterapkan di SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Melalui kegiatan praktik verifikasi arah kiblat, siswa diajak memahami konsep ilmiah sekaligus menguatkan kesadaran beribadah dengan memanfaatkan instrumen modern berupa kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line, Rabu (14/1/2026).Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas X dan XI Program Tahfidz sebagai bagian dari pembelajaran terpadu antara sains dan ibadah. Sebelum praktik lapangan, para siswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan materi mengenai cara menentukan lokasi yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis berupa lintang dan bujur, serta memahami prinsip dasar penentuan arah kiblat secara ilmiah. Dengan bimbingan guru, siswa kemudian mempraktikkan secara langsung penggunaan kompas laser 16 line untuk menentukan arah kiblat secara akurat. Garis-garis laser yang dipancarkan membantu siswa melihat arah secara presisi sehingga proses verifikasi menjadi lebih mudah dipahami dan aplikatif. Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Syamsu Alam Darajat, SH, MA, selaku pembimbing, menjelaskan bahwa pembelajaran yang dilakukan berupa kegiatan verifikasi arah kiblat menggunakan instrumen modern, yakni kompas kiblat yang dilengkapi laser 16 line. “Sebelum kegiatan, siswa Tahfidz Smamita mendapatkan pembekalan materi dasar yang meliputi cara menentukan lokasi atau tempat yang akan diverifikasi, mencari koordinat geografis lintang dan bujur, hingga menentukan azimut kiblat secara ilmiah,” ujarnya. Sebagai bagian dari praktik lapangan, verifikasi arah kiblat dilaksanakan di Masjid Manarul Ilmi Smamita. Melalui kegiatan ini, siswa memperoleh pemahaman langsung tentang cara melakukan verifikasi arah kiblat yang benar sesuai dengan kaidah ilmu astronomi dengan memanfaatkan instrumen modern. Ia juga menjelaskan dampak ketidaksesuaian arah kiblat. Jika terjadi kesalahan sebesar 1 derajat, arah tersebut akan melenceng sejauh kurang lebih 111 kilometer dari titik Ka’bah. Apabila melenceng 1 derajat ke arah utara, arah salat dapat menghadap ke wilayah Eropa, sedangkan jika melenceng 1 derajat ke arah selatan, arah salat dapat menghadap ke wilayah Afrika. Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik menjadi lebih peka dan peduli terhadap ketepatan arah kiblat di lingkungan sekitar. Arah kiblat merupakan salah satu syarat sah salat bagi umat Islam sehingga tidak boleh dianggap sepele. “Peserta didik tidak lagi sekadar menghadap ke arah barat saat melaksanakan salat. Arah barat bukanlah arah kiblat. Bangunan masjid atau musala juga tidak selalu dapat dijadikan acuan, karena arah bangunan bisa saja berbeda dengan arah kiblat yang sebenarnya. Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan, meningkatkan kesadaran, serta menumbuhkan sikap ilmiah dalam memahami dan menjaga ketepatan arah kiblat,” imbuhnya. Direktur Smamita, Edwin Yogi Laayrananta, MIKom, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran. Pemanfaatan instrumen modern seperti kompas kiblat dengan laser 16 line dinilai tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep sains, khususnya geografi dan astronomi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ketepatan dalam menjalankan ibadah. Pembelajaran kontekstual semacam ini diharapkan mampu membangun cara berpikir kritis, teliti, dan bertanggung jawab pada diri siswa. Edwin menegaskan bahwa Smamita berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi siswa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. (*)