HUT ke-6, Rayz UMM Hotel Malang Hijaukan 25 Hektare Lahan Lewat Hutan Reborn

JATIMTIMES – Alih-alih sekadar perayaan seremonial, ulang tahun ke-6 Rayz UMM Hotel Malang diwujudkan lewat aksi nyata pelestarian lingkungan. Sebanyak 500 bibit kopi Robusta dan pisang pilihan ditanam di lahan 25 hektare Camp 3 Retaka UMM, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Kamis (15/1/2026). Aksi tanam Program Hutan Reborn ini secara resmi dilakukan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Malan, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A bersama Hotel Manager Rayz UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien sarta jajaran dengan menanam secara langsumg bibit kopi dan pisang di lokasi. Ratusan bibit yang dipilih, yakni kopi Robusta 308 dipadukan dengan pisang Emas Kirana ditanam untuk membangun kembali kawasan hijau yang berkelanjutan, produktif, sekaligus bernilai ekologis. Baca Juga : Rezeki Musim Hujan, 9 Tanaman Ini Bisa Tumbuh Lebih Cepat dan Subur Ya kopi Robusta 308 asal Sumbermanjing Wetan dipilih, karena kemampuannya beradaptasi dengan kondisi lingkungan di wilayah Dau serta perannya dalam menjaga struktur tanah dan tutupan lahan. Sementara pisang Emas Kirana berfungsi sebagai tanaman inang atau penaung alami yang membantu menciptakan mikroklimat, menjaga kelembapan tanah, dan menekan risiko erosi. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A, mengapresiasi kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam menyelamatkan lingkungan untuk jangka panjang. Terlebih peringatan anniversary yang dikemas dalam aksi nyata seperti ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. “Walaupun kemasannya anniversary, momentumnya adalah menyelamatkan bumi. Spirit yang saya tangkap dari teman-teman Rayz UMM Hotel Malang adalah spirit untuk menyelamatkan, bukan untuk hari ini saja, tapi untuk kehidupan generasi berikutnya,” kata Juanda usai menanam bibit kopi. Pemanfaatan lahan Camp 3 Retaka, lanjut Juanda untuk penanaman kopi ini bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan hijau sekaligus membuka peluang pengembangan tanaman lokal unggulan. Karena itu memilih kopi robusta 308x “Kopi yang ditanam ini adalah kopi pilihan, Robusta 308. Ke depan ini bisa menjadi kajian akademik dan unggulan tanaman lokal Indonesia untuk dipasarkan ke dunia,” tambah Juanda. Sementara itu, Hotel Manager Rayz UMM Hotel Malang, Yanuar Arifien, mengatakan bahwa penanaman 500 bibit tersebut merupakan wujud komitmen Rayz UMM Hotel Malang untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat. Melihat bencana banjir bandang yang melanda Sumatra, pihaknya ingin momentum ulang tahun ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan ekosistem. “Kami menginisiasi penanaman bibit kopi ini sebagai bentuk kepedulian atas bencana yang terjadi di Sumatra. Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi lingkungan dan orang lain,” ucap Yanuar. Ia menambahkan, kopi Robusta dipilih karena relatif cepat tumbuh dan memiliki nilai ekonomi jangka panjang. Rayz UMM Hotel Malang juga menggandeng berbagai pihak agar program ini berjalan berkelanjutan. Baca Juga : 200 Becak Listrik Siap Mengaspal, Wisata Kota Malang Bakal Naik Kelas “Kami berkolaborasi dengan Jamaah Tani Muhammadiyah untuk penyediaan bibit kopi Robusta dan pendampingan perawatan pascatanam. Harapannya, tanaman ini bisa tumbuh optimal dan memberi manfaat ke depan,” jelas Yanuar. Sedang, Marketing Communication Manager Rayz UMM Hotel Malang, Gustam Duga Prasetya, menambahkan bahwa ulang tahun ke-6 ini menjadi momentum untuk menghadirkan dampak yang lebih luas. Melalui Program Hutan Reborn, ingin mengajak para tamu untuk terlibat langsung dalam aksi pelestarian lingkungan. “Penanaman kopi Robusta dengan pisang Emas Kirana sebagaitanaman inang mencerminkan konsep hutan produktifberkelanjutan, di mana fungsi ekologis dan nilai jangka panjangdapat berjalan beriringan,” terang Duga. Aksi tanam ini merupakan puncak dari rangkaian kontribusi para tamu Rayz UMM Hotel Malang. Selama periode 14 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026, setiap tamu yang menginap turut berpartisipasi dalam Program Hutan Reborn dengan menyumbangkan satu pohon selama masa menginap. “Seluruh kontribusi tersebut kemudian diwujudkan melalui aksi tanam bersama sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-6 Rayz UMM Hotel Malang,” tutup Suga. Lewat Program Hutan Reborn, Rayz UMM Hotel Malang berharap bisa terus berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungansekaligus menginspirasi kolaborasi antara industri perhotelan, institusi pendidikan, pengelola lahan, dan komunitas lingkungan. Dengan Hutan Reborn diharapkan bisa memberikan manfaat ekologis, sosial, dan edukatif yang berdampak positif bagi lingkungan dan generasi mendatang.

Warga Ploso Jombang Gelar Rekonstruksi Kedatangan Cindy Adams

Jombang, Bhirawa. Pegiat danpecinta sejarah menggelar rekonstruksi bersejarah memperingati kedatangan penulis asal Amerika Serikat, Cindy Adams, ke Ploso, Jombang. Acara yang berlangsung pada Jumat (16/01/2026) di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang ini bertepatan dengan 62 tahun kunjungan perdana Cindy Adams pada 16 Januari 1964 silam ke Ploso, Jombang Digambarkan dalam rekonstruksi tersebut, kunjungan legendaris Cindy Adams pada masa itu merupakan mandat langsung dari Presiden Soekarno untuk mengumpulkan bahan biografi Penyambung Lidah Rakyat. Di Ploso, Cindy Adams melakukan riset mendalam dengan mewawancarai sosok-sosok kunci masa kecil Sang Fajar, seperti pengasuh Bung Karno, Mbok Suwi dan Mbok Mirah, serta teman masa kecil beliau, Mbah Joyo Dipo. Dengan rekonstruksi dan napak tilas sejarah tersebut, suasana tahun 1964 dihidupkan kembali. Sosok Cindy Adams diperankan oleh Yesinta Aprilia, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang, yang tampak membersamai tokoh-tokoh yang mendampingi Cindy saat itu, seperti Wedono Ploso Soetomo, Abdussukur, Hutauruk, dan Nusyirwan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peresmian Tetenger Situs Kelahiran Ir. Soekarno. Hadir dalam acara tersebut perwakilan Keluarga Persada Soekarno Kediri, Raden Mas Kuswartono. Kuswartono menekankan pentingnya meluruskan sejarah keluarga. “Persoalan tempat kelahiran Bung Karno memang sering diperdebatkan. Namun, berdasarkan keterangan internal keluarga kami, Bung Karno lahir di Ploso, yang pada masa itu secara administratif masuk dalam wilayah Karesidenan Surabaya,” tegas Kuswartono. Senada dengan hal tersebut, Masfiin selaku Kuncen Titik Nol Soekarno yang memimpin pembacaan pernyataan tetenger, menyampaikan bahwa keyakinan Bung Karno lahir di Ploso bukan sekadar klaim sepihak, melainkan memori kolektif yang terjaga turun-temurun di Desa Rejoagung. Warga setempat sejak lama mengenal lokasi tersebut sebagai tempat lahirnya Raden Koesno Sosro Di Hardjo (nama kecil Bung Karno). Inisiator Titik Nol, Binhad Nurrohmad, mengungkapkan bahwa dukungan data terhadap fakta ini kian menguat. “Kami memiliki lebih dari 10 bukti dokumen yang menjelaskan kelahiran Soekarno di sini,” ungkapnya. Hal ini diperkuat oleh penelusur sejarah Jombang, Moch. Faisol, yang memaparkan sejumlah foto autentik sebagai bukti pendukung. Bahkan, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang melalui Koordinator Wilayah Ploso, Arif Yulianto atau Cak Arif menyatakan bahwa kajian teknis telah dilakukan dan memberikan rekomendasi kuat mengenai validitas kelahiran Soekarno di Ploso. Melalui peringatan ini, para pegiat sejarah berharap upaya pelestarian dan pelurusan sejarah dapat terus berlanjut demi memberikan edukasi yang akurat bagi generasi muda mengenai jejak Sang Proklamator.(rif.hel)

Students Action for Freedom & Equality (SAFE): Kampanye Hari HAM untuk Menumbuhkan Kesadaran Hak Asasi di Kalangan Pelajar SMA

balpos – DALAM rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang diperingati setiap 10 Desember, para mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan kegiatan kampanye dan sosialisasi HAM bertajuk Students Action for Freedom & Equality (SAFE). Kegiatan ini mengusung tema “Every Voice Matters: Suara Remaja untuk HAM” dan dilaksanakan di SMA An Nur Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kesadaran kemanusiaan di kalangan pelajar. Kegiatan berlangsung Rabu, 14 Januari 2026. Hak Asasi Manusia merupakan prinsip fundamental yang melekat pada setiap individu tanpa memandang latar belakang, status sosial, agama, gender, maupun perbedaan lainnya. HAM menjamin hak-hak dasar seperti hak untuk hidup, kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, hak atas pendidikan, serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Selain itu, HAM juga mencakup hak ekonomi, sosial, dan budaya yang menjadi prasyarat terciptanya kehidupan yang layak dan bermartabat. Namun, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa pelanggaran HAM masih sering terjadi, termasuk di lingkungan yang dekat dengan kehidupan remaja. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 terdapat 3.883 laporan pelanggaran hak anak. Angka tersebut mencerminkan masih maraknya kekerasan fisik, kekerasan psikologis, perundungan (bullying), serta berbagai bentuk diskriminasi yang tidak jarang terjadi di lingkungan sekolah. Padahal, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi pelajar untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensi diri. Kegiatan Students Action for Freedom & Equality (SAFE) dilaksanakan dengan sasaran siswa-siswi kelas XI IPA 15 SMA An Nur Bululawang. Pemilihan kelas XI IPA 15 didasarkan pada pertimbangan bahwa peserta berada pada fase penting dalam pembentukan karakter, pola pikir kritis, dan kesadaran sosial. Pada tahap ini, pelajar mulai aktif berinteraksi di lingkungan sekolah maupun di ruang digital, sehingga edukasi mengenai Hak Asasi Manusia menjadi relevan dan strategis untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, empati, serta kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai individu. Pelajar SMA berada pada masa pencarian jati diri dan pembentukan nilai. Tanpa pemahaman HAM yang memadai, perilaku seperti meremehkan teman, menyebarkan ujaran kebencian, melakukan perundungan, atau mendiskriminasi individu lain dapat dianggap sebagai hal yang wajar. Oleh karena itu, peringatan Hari HAM menjadi momentum penting untuk mengajak pelajar memahami bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dan wajib saling menghormati dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan SAFE dilaksanakan dengan konsep diskusi dua arah yang interaktif. Pemateri menyampaikan materi dasar mengenai Hak Asasi Manusia, dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan partisipasi aktif peserta. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga diajak untuk berpikir kritis, menyampaikan pendapat, serta merefleksikan bentuk-bentuk pelanggaran HAM yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Selama pelaksanaan kegiatan, siswa-siswi kelas XI IPA 15 menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan aktif dan responsif, baik saat pemaparan materi maupun dalam sesi diskusi. Para siswa terlihat berani mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, serta menanggapi isu-isu HAM yang dibahas. Hal ini menunjukkan bahwa topik yang disampaikan relevan dengan pengalaman dan realitas yang mereka hadapi sebagai pelajar. Antusiasme peserta semakin terlihat pada sesi kuis interaktif yang diselenggarakan sebagai bagian dari evaluasi pemahaman materi. Dalam sesi ini, siswa-siswi kelas XI IPA 15 menunjukkan semangat kompetitif yang positif, saling berlomba untuk menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Suasana kelas menjadi hidup, dinamis, dan penuh semangat, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara menyenangkan tanpa mengurangi substansi edukatif yang ingin disampaikan. Selain partisipasi aktif, peserta juga memberikan feedback yang positif terhadap pelaksanaan kegiatan SAFE. Banyak siswa menyampaikan bahwa kegiatan ini membantu mereka memahami konsep Hak Asasi Manusia dengan cara yang lebih sederhana, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Diskusi dan kuis dinilai mampu mendorong keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat serta meningkatkan kepekaan terhadap isu-isu pelanggaran HAM di sekitar mereka. Kegiatan ini diinisiasi oleh Kelompok 03, Kelas Gerakan Sosial Global A, Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang. Melalui kegiatan SAFE, mahasiswa berupaya menanamkan nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan inklusivitas kepada generasi muda sebagai bekal dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil dan berperikemanusiaan. Sebagai output kegiatan, SAFE berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai konsep dasar Hak Asasi Manusia, khususnya terkait hak kebebasan berpendapat, kesetaraan, dan perlindungan dari diskriminasi. Selain peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga mendorong perubahan sikap ke arah yang lebih positif, seperti meningkatnya kesadaran untuk saling menghormati, menjaga etika dalam berinteraksi, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Lebih jauh, kegiatan ini berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif, aman, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Melalui kegiatan Students Action for Freedom & Equality (SAFE), diharapkan siswa-siswi kelas XI IPA 15 SMA An Nur Bululawang dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya masing-masing. Kegiatan ini menegaskan bahwa peringatan Hari HAM bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap suara remaja memiliki arti dan peran penting dalam membangun kehidupan yang adil, setara, dan bermartabat. (*)

Maknai Isra Mi’raj, Dosen PAI UMM Ungkap Shalat Adalah Kompas Kesadaran

Kota Malang, Tagarjatim.id – Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi bagi mahasiswa untuk menata kembali arah hidup di tengah tekanan akademik. Salah satu pesan penting dari peristiwa Isra Mi’raj yang kerap luput dibahas adalah bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme kehidupan manusia. Hal tersebut disampaikan I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan spiritual tentang penguatan diri di saat manusia berada pada titik terendah. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di fase paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana saat diwawancarai tim Humas UMM, Rabu (14/1/2026). Ia menilai pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Tekanan akademik, kecemasan terhadap masa depan, hingga kelelahan mental kerap tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang sering kali terabaikan. Lebih lanjut, I’ana menjelaskan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada ditetapkannya satu ibadah utama, yakni shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang disampaikan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara Malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelas dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) tersebut. Menurutnya, shalat tidak hanya dimaknai sebagai ritual, tetapi juga sebagai sistem pengelolaan waktu yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat membentuk pola hidup teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan mahasiswa yang kerap terjebak pada kesibukan tanpa jeda, shalat justru berfungsi sebagai penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, melainkan membantu menjaga fokus, ketenangan, dan kesadaran diri. I’ana kemudian memaknai setiap waktu shalat sebagai tahapan pengelolaan hidup. Subuh mengajarkan perencanaan dan niat, Dzuhur menjadi ruang evaluasi aktivitas, Ashar menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan waktu, Maghrib sebagai momen refleksi, dan Isya menjadi saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Dalam konteks pembentukan karakter mahasiswa, nilai Isra Mi’raj dan shalat dinilai memiliki peran strategis. Isra Mi’raj memberikan orientasi hidup bahwa kuliah bukan sekadar mengejar indeks prestasi, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas,” tegasnya. Ia pun berpesan agar shalat benar-benar dijadikan kompas kesadaran hidup mahasiswa. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif, shalat menjadi pengingat agar tetap berjalan di jalur yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual yang berhenti di atas sajadah, tetapi kompas kesadaran yang menuntun sikap dan perilaku dalam nilai-nilai yang penuh keberkahan,” pungkasnya. (*)

7 Kampus Terbaik di Jawa Timur 2026 Versi UniRank dan Akreditasi BAN-PT

NGAWI PIKIRAN RAKYAT – Jawa Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan jumlah perguruan tinggi terbaik terbanyak di Indonesia. Memasuki tahun 2026, pencarian tentang kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank dan akreditasi BAN-PT semakin meningkat, terutama bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi negeri maupun swasta unggulan. Artikel ini merangkum 7 kampus terbaik di Jawa Timur berdasarkan peringkat UniRank serta akreditasi resmi BAN-PT. 1. Universitas Airlangga (UNAIR) – Surabaya Universitas Airlangga menempati posisi teratas sebagai kampus terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. UNAIR unggul di bidang kedokteran, kesehatan, hukum, dan ilmu sosial. Kampus ini juga telah meraih akreditasi Unggul dari BAN-PT, menjadikannya salah satu universitas terbaik di Indonesia. 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) – Surabaya ITS dikenal sebagai kampus teknologi dan rekayasa terbaik di Jawa Timur. Reputasinya sangat kuat di bidang teknik, sains, dan inovasi. ITS juga berstatus akreditasi Unggul BAN-PT serta memiliki pengakuan internasional. 3. Universitas Brawijaya (UB) – Malang Universitas Brawijaya merupakan salah satu kampus favorit di Indonesia. UB unggul dalam bidang pertanian, ekonomi, hukum, dan teknik. Popularitas digital yang tinggi membuat UB konsisten berada di peringkat atas UniRank Jawa Timur. 4. Universitas Negeri Malang (UM) – Malang Universitas Negeri Malang dikenal sebagai kampus pendidikan terbaik di Jawa Timur. Selain unggul di bidang kependidikan, UM juga berkembang pesat di bidang sains dan humaniora serta telah meraih akreditasi Unggul BAN-PT. 5. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) – Surabaya UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi kampus Islam negeri terbaik di Jawa Timur. Kampus ini memadukan keilmuan modern dan keislaman serta memiliki reputasi akademik dan digital yang terus meningkat. 6. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) – Malang UMM merupakan perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur versi UniRank 2026. Kampus ini dikenal dengan julukan The White Campus dan memiliki fasilitas modern serta jaringan internasional yang luas.

Dosen HI UMM Ungkap Akar Ketegangan AS-Venezuela dan Dampak Bagi Indonesia

Konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak dapat dipahami secara sederhana. Ketegangan kedua negara ini melibatkan beragam lapisan, mulai dari ideologi, politik, ekonomi, hingga kepentingan geopolitik global. Hal tersebut disampaikan Azza Bimantara, M.A., Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat mengulas dinamika hubungan AS–Venezuela yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir. Azza menjelaskan bahwa akar konflik dapat ditelusuri sejak era kepemimpinan Hugo Chávez yang terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998. Chávez menerapkan kebijakan ekonomi sosialis, salah satunya melalui nasionalisasi sektor minyak yang sebelumnya dikuasai perusahaan asing. “Kebijakan ini secara ideologis bertolak belakang dengan model ekonomi Amerika Serikat yang neoliberal dan sangat mengedepankan kepentingan perusahaan multinasional,” jelasnya. Hasil nasionalisasi minyak tersebut kemudian dialokasikan untuk kebijakan populis, seperti pengentasan kemiskinan serta peningkatan akses layanan kesehatan dan pendidikan. Namun, langkah ini justru membuat Venezuela dipandang sebagai ancaman ideologis oleh Amerika Serikat. “Sejak saat itu, Venezuela mulai diantagonisasi melalui berbagai tekanan, mulai dari pemboikotan hingga pembatasan akses ekonomi internasional,” ujarnya. Kompleksitas konflik semakin meningkat ketika Venezuela menjalin hubungan erat dengan Kuba, serta kekuatan besar lain seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Azza, kedekatan ini dipersepsikan Amerika Serikat sebagai ancaman geopolitik, terutama mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak yang sangat besar. “Venezuela merupakan negara dengan cadangan energi strategis. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Rusia jelas dipandang mengganggu kepentingan Amerika Serikat,” katanya. Tekanan politik Amerika Serikat terus berlanjut hingga era kepemimpinan Nicolás Maduro. Maduro dinilai melanjutkan, bahkan memperkuat, kebijakan Chávez dengan gaya kepemimpinan yang lebih otoriter. Dukungan Barat terhadap oposisi Venezuela, termasuk Maria Corina Machado, turut memperuncing konflik. “Dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap oposisi menunjukkan adanya upaya perubahan rezim yang semakin nyata,” ungkap Azza. Dari perspektif energi, Azza menegaskan bahwa minyak menjadi faktor kunci dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa keamanan energi merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi AS. “Amerika Serikat belajar dari krisis minyak 1970-an bahwa ketergantungan energi harus dikendalikan. Karena itu, akses terhadap minyak Venezuela menjadi kepentingan strategis,” jelasnya. Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS pasca penangkapan Nicolás Maduro yang secara terbuka menyampaikan keinginan untuk mengelola minyak Venezuela. Terkait dampaknya bagi Indonesia, Azza menilai belum terlihat efek signifikan dalam jangka pendek. “Hingga saat ini belum ada perubahan besar dalam tata kelola sektor energi Venezuela. Pertamina juga memastikan bahwa operasi migas di Venezuela masih berjalan normal,” katanya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa dampak jangka panjang tetap perlu dicermati seiring dinamika konflik yang terus berkembang. Azza menutup dengan menekankan pentingnya konflik ini sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Kasus Amerika Serikat dan Venezuela menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak pernah lepas dari kepentingan ekonomi dan energi. Ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa HI untuk mengkaji isu global secara lebih komprehensif,” pungkasnya(*bim/faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman | Editor: Bima Chusnul Triwibowo

UMM Siapkan Eksportir Muda Agribisnis Hadapi Pasar Dunia

Kota Malang, Tagarjatim.id – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan perannya dalam mencetak sumber daya manusia unggul di sektor ekspor agribisnis. Memasuki tahun 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum berbasis praktik langsung bersama pelaku ekspor internasional. Langkah tersebut merupakan respons atas besarnya peluang ekspor agribisnis Indonesia yang belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan SDM andal. Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk berbagai komoditas unggulan seperti kopi, rempah-rempah, minyak nabati, dan pangan olahan. Namun, peluang tersebut kerap terkendala persoalan teknis, mulai dari dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga pemetaan pasar internasional. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, menjelaskan bahwa penguatan Kelas CoE pada 2026 menjadi wujud konsistensi kampus dalam menjembatani kebutuhan industri dengan dunia akademik. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, namun juga dipersiapkan untuk memahami ekosistem ekspor secara menyeluruh. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global. Di kelas ini, mereka belajar dari praktisi yang sehari-hari berinteraksi dengan pembeli luar negeri,” ujar Zul. Kurikulum CoE Ekspor Agribisnis 2026, memadukan pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan teknis dari pelaku industri, serta kajian penetrasi pasar internasional. Mahasiswa ditargetkan mampu menguasai seluruh tahapan ekspor, mulai dari pemetaan potensi komoditas, standardisasi produk, pemenuhan legalitas, hingga teknis distribusi dan pengiriman. UMM juga menggandeng mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah berpengalaman di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara untuk menjaga kualitas pembelajaran, Agribisnis. Para praktisi dari sektor kopi, hortikultura, pangan olahan, hingga produk turunan agribisnis dijadwalkan menjadi pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, tantangan agribisnis global saat ini menuntut eksportir muda yang adaptif terhadap isu-isu modern. “Mahasiswa harus memahami riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, manajemen risiko global, hingga isu keberlanjutan, ketertelusuran produk, dan preferensi konsumen lintas negara,” jelasnya. Kelas CoE Agribisnis UMM kini menjadi salah satu program unggulan karena menawarkan arah karier yang jelas. Lulusannya diproyeksikan mampu mendukung ekspansi perusahaan agro ke pasar internasional atau menjadi eksportir mandiri melalui skema inkubasi bisnis kampus. Dengan penguatan kurikulum dan jejaring global, tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting bagi lahirnya generasi eksportir muda agribisnis Indonesia. (*)

Salat Adalah Kompas Kesadaran, Dosen PAI UMM Maknai Isra’ Mi’raj

MALANG POST – Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya menyampaikan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Siswa Mamumtaza Dibekali Literasi Keuangan Digital agar Tak Terjerat Pinjol dan Judol

KLIKMU.CO – Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (FAI UMM) membekali literasi keuangan digital kepada siswa MA Muhammadiyah 1 Malang (Mamumtaza) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh siswa kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa. Kepala MA Muhammadiyah 1 Malang Akhmad Ari Wibowo MPd dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama antara Mamumtaza dan FAI UMM selama ini berjalan sangat baik. Menurutnya, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut memberikan manfaat besar bagi siswa sebagai bekal kehidupan, khususnya dalam mengelola keuangan secara bijak. “Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim pengabdian dan FAI UMM atas kontribusi dan perhatiannya kepada siswa-siswi kami,” tegasnya. Ketua tim pengabdian Prof Dr Khozin MSi menjelaskan bahwa setiap siswa umumnya menerima uang saku dari orang tua, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk menyisihkan sebagian uang saku tersebut untuk ditabung dan tidak dihabiskan seluruhnya. Ia menekankan pentingnya kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan harus dipenuhi karena tidak bisa ditunda, sementara keinginan perlu disesuaikan dan tidak selalu dituruti. “Mereka yang mampu membedakan dan memprioritaskan antara kebutuhan dan keinginanlah yang kelak akan meraih keberhasilan dan kesuksesan hidup,” ungkap Khozin yang juga Ketua Komite Mamumtaza. Sementara itu, pemateri Afifah Nur Millatina SE MSEi memaparkan sejumlah data terkait fenomena pinjaman online dan judi online di kalangan generasi muda. Mengutip Suara Aisyiyah 2024 yang dilansir dari BPS, ia menyebutkan bahwa 37,17 persen kredit macet pinjaman online dilakukan oleh generasi Z. Selain itu, terdapat 191.380 pemain judi online dari generasi Z dengan sekitar 2,1 juta transaksi senilai Rp282 miliar. Adapun dari generasi Alpha tercatat 4.514 anak dengan 45 ribu transaksi senilai Rp7,9 miliar. Afifah menegaskan kembali pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sebagaimana disampaikan Prof Khozin. Ia juga mengingatkan bahwa sebagai seorang muslim, setiap transaksi harus dijauhkan dari riba dan perilaku boros, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 26–27. Menurutnya, di era digital dan keterbukaan informasi saat ini, berbagai tawaran menggiurkan sangat mudah diakses, mulai dari bunga rendah, bonus, giveaway, hingga potongan harga. Namun, jika tidak berhati-hati dan tidak mampu menahan keinginan, seseorang dapat terjerumus dalam pinjaman online, judi online, maupun gaya hidup konsumtif. “Karena itulah, membangun kesadaran literasi keuangan digital menjadi sangat penting agar generasi muda terhindar dari pinjol dan judol,” pungkasnya. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme. Para siswa mengikuti acara hingga selesai, aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman, bahkan sejumlah peserta mendapatkan doorprize atas keaktifan mereka.

Dosen PAI UMM Maknai Isra’ Mi’raj, Sholat Adalah Kompas Kesadaran

MALANG | JATIMSATUNEWS Peringatan Isra Mi’raj tidak hanya menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan kembali arah hidup mahasiswa di tengah tekanan akademik. Namun sering kali tersimpan pesan penting yang jarang dibahas, yaitu bagaimana shalat seharusnya menjadi pengatur ritme hidup manusia, termasuk bagi mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh I’anatut Thoifah, M.Pd.I., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi ke langit, melainkan pesan kuat tentang bagaimana manusia menguatkan diri di tengah krisis. “Isra Mi’raj terjadi ketika Rasulullah berada di titik paling berat secara psikologis. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia berada di titik paling lemah, Allah justru menguatkan dengan pendekatan spiritual,” ujar I’ana 14 Januari lalu saat diwawancara tim humas UMM. Ia menilai kondisi tersebut sangat relevan dengan realitas mahasiswa hari ini. Tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil. Spiritualitas, menurutnya, menjadi sumber ketenangan yang kerap diabaikan. Lebih lanjut, I’ana sapaan akrabnya melanjutkan bahwa keistimewaan Isra Mi’raj terletak pada satu ibadah yang ditetapkan di dalamnya, yaitu shalat. Berbeda dengan ibadah lain yang diperintahkan melalui wahyu, shalat justru “dijemput” langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj. “Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara malaikat Jibril. Itu menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim,” jelasnya. Lebih dari sekadar ritual, dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) itu memandang shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai. “Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya. Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan. Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi. Dan Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat. Bagi mahasiswa, I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. “Prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas. Nilai spiritual menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya. Terakhir, Ia berpesan kepada mahasiswa bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan kampus yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting. Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu mahasiswa mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar. “Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya.(Ans)