Dosen UMM Soroti Efek QRIS, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Masalah Besar

Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa Gen Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menyoroti fenomena ini sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa secara psikologis, bertransaksi dengan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan lembaran uang fisik dari dompet. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya pada tim humas UMM pada 19 Januari lalu.   Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon, padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial mereka. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih. (ali)   Penilis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Bukan Hanya di Indonesia, UMM Beri Kontribusi Nyata Melalui KKN di Malaysia

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas pengabdian masyarakat ke ranah internasional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan sosial ke ranah global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional ke Penang, Malaysia dilaksanakan pada Selasa, (20/01/2026) bertempat di ruang inovasi bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan berangkat pada Rabu, (21/01/2026). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Internasional bukan sekadar kegiatan pengabdian lintas negara, melainkan bagian dari strategi internasionalisasi UMM yang berbasis nilai dan kebermanfaatan nyata. Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab besar sebagai representasi institusi di ruang global. “KKN Internasional ini menjadi pintu awal bagi UMM untuk menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan keunggulan akademik, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam konteks lintas budaya,” ungkapnya. Salis sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan KKN Internasional ini, kampus putih menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitranya. Menurutnya, kerja sama dengan PERMAI Malaysia dipilih karena adanya karakter komunitas yang unik. Ia menilai, meskipun secara kewarganegaraan mereka telah berasimilasi sebagai warga Malaysia. Namun ikatan kultural dan emosional dengan Indonesia masih sangat kuat, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis lintas budaya. Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP., menuturkan bahwa program KKN Internasional ini pertama kali yang diinisiasi oleh LPPM sebagai bentuk pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Kemudian difasilitasi oleh Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM akan secara khusus memfokuskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang dan terukur. Jika program perdana ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata, maka ke depan jejaring pengabdian UMM akan diperluas hingga ke luar kawasan ASEAN,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM, Dr. Arina Restian, M.Pd., menyampaikan bahwa mahasiswa KKN Internasional tidak hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga dituntut menghasilkan luaran akademik yang konkret dan berkelanjutan. Luaran tersebut mencakup penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari riset fenomena sosial, serta publikasi artikel. “Kami mendorong mahasiswa untuk menjadikan KKN Internasional sebagai ruang integrasi antara pengabdian, riset, dan publikasi. Dengan begitu, pengalaman lintas budaya yang mereka peroleh dapat memberikan kontribusi akademik yang nyata bagi universitas dan masyarakat,” tuturnya. Ke depannya, UMM berharap jumlah peserta KKN Internasional dapat terus meningkat seiring dengan meluasnya jejaring mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata.(ali)     Penulis; Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Rumah Baca dan Ponpes Internasional AMF Wujudkan Masjid Ramah Anak

Indonesiandaily.com – Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (AMF) mewujudkan masjid yang ramah anak. Mereka menjadikan masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak. Yakni melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Dengan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak, mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik,” ungkap Manda. Diantaranya melalui literasi dan pembinaan akhlak, dengan harapan, anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. Menurutnya, gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujarnya. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. Ada beberapa anak yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ mereka belajar mengenali karakter anak-anak. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan

Dosen Manajemen UMM Jabarkan Risiko Finansial Penggunaan QRIS

Indonesiandaily.com – Dosen Prodi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjabarkan risiko finansial pada penggunaan QRIS. Di balik kepraktisannya, tersimpan ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen UMM tersebut, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat MM yang menyoroti fenomena hal tersebut di atas. Menurutnya fenomena sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya. Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon. Padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo. Akhirnya terjebak repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi. Padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan, agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga. Dengan begitu tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” tandasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih.

Kisah Sedih Jembatan Suhat di Malang, Jadi Pelarian Jiwa yang Terluka

KOMPAS – Seorang perempuan berinisial TA (25), mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Jawa Timur, ditemukan di bawah jembatan Jalan Soekarno-Hatta, Kota Malang, Senin (19/1/2026) dini hari. Dalam kondisi masih bernapas, warga Jakarta Selatan itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Syaiful Anwar untuk dirawat. TA diduga berusaha mengakhiri hidup dengan melompat dari jembatan ke Sungai Brantas yang berkedalaman 12 sekitar meter di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, tidak jauh dari kampusnya berada. Sebelum aksi nekat itu dilakukan, seorang pengemudi ojek daring yang tengah melintas melihat seorang perempuan mondar-mandir di sekitar jembatan pada pukul 00.30. Sejurus kemudian, dia melihat orang itu seperti melompat. Saksi kemudian melongok ke bawah jembatan dan mendapati tubuh korban ada di dasar sungai. Kepala Polsek Lowokwaru Ajun Komisaris Anang Tri Hananta mengatakan, saat dicek kondisi korban masih hidup. Korban menderita patah tulang tangan kanan. ”Petugas dan tim medis relawan membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya, Selasa (20/1/2026). Sejauh ini belum diketahui motif yang melatarbelakangi TA melakukan itu. Polisi telah menghubungi keluarga TA di Jakarta terkait peristiwa ini. KOMPAS/DEFRI WERDIONO Pengendara melintas di jembatan Jalan Soekarno-Hatta atau Jembatan Suhat di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (22/12/2022). Bukan kali ini saja jembatan Jalan Soekarno-Hatta, atau disebut juga Jembatan Suhat, yang ada di tengah Kota Malang menjadi lokasi korban mengakhiri hidup dengan cara terjun ke sungai. Sebulan lalu, akhir November 2025, NFR (25), mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang, juga ditemukan tewas setelah melompat dari atas jembatan. Sang adik yang datang ke lokasi menunjukkan pesan terakhir kakaknya yang dia terima beberapa jam sebelum peristiwa. Dalam pesannya, korban meminta maaf kepada keluarga. Dia menilai telah merepotkan keluarga karena skripsinya tidak kunjung usai. Pada Juli 2024, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang, AHM (19), mencoba bunuh diri di tempat yang sama. Peristiwa ini cukup mengejutkan karena dilakukan pagi hari, saat kondisi sekitar telah ramai. Beruntung, AHM selamat. Lokasi lain yang juga beberapa kali menjadi lokasi tindakan nekat ialah Jembatan Tunggulmas yang berada sekitar 4 kilometer di sisi barat Jembatan Suhat. Pada April 2025, BGS (20), mahasiswa asal Jakarta Timur, ditemukan tewas di bawah jembatan yang juga membentang di atas Sungai Brantas itu. Satu bulan kemudian, seorang perempuan muda A (20) juga ditemukan tewas di kolong jembatan yang menghubungkan Kelurahan Tunggulwulung dan Tlogomas itu. Dari beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, Anang Tri Hananta mengungkapkan, ada beberapa motif yang melatarbelakangi tindakan pelaku, antara lain kuliah yang tidak kunjung rampung dan terancam drop out, gagal ujian, asmara atau putus cinta, konflik dengan orangtua, hingga jeratan pinjaman daring (pinjol). Arie Tingkat Kesepian dan Pikiran Bunuh Diri pada Remaja Meningkat Anak muda sendiri menjadi kelompok umur yang kerap menempuh jalan pintas jika menghadapi persoalan. Berdasarkan catatan Kompas, data nasional Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa prevalensi depresi paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun. Di antara anak muda yang ditemukan dengan depresi, sebanyak 61 persen memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup. Fenomena bunuh diri pada usia muda tidak hanya menjadi persoalan di Indonesia. Fenomena ini menjadi masalah global. Bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar kedua penduduk usia 15-29 tahun. Sebesar 77 persen kasus bunuh diri terjadi di negara berpendapatan rendah-menengah. Dikutip dalam laporan ”World Mental Health Today” dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbit pada 2025, tingkat bunuh diri antarnegara bervariasi kurang dari 1 per 100.000 penduduk sampai 30 per 100.000 penduduk. Dari setiap satu kasus bunuh diri, ada 20 upaya bunuh diri yang dilakukan (Kompas.id, 3/11/2025). Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang, Luluk Dwi Kumalasari, menilai, alasan mayoritas anak muda mengambil jalan pintas karena stres atau depresi. Hal itu bisa disebabkan beberapa faktor, salah satunya beban akademis yang kian berat. Tuntutan akademis dengan standardisasi internasional saat ini sebenarnya tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi juga akademisi. ”Ada perubahan kurikulum yang menuntut dosen dan mahasiswa mengikuti tuntutan kemajuan saat ini,” ucap Luluk saat dihubungi secara terpisah. Secara umum, menurut Luluk, generasi Z yang lahir pada 1997-2012 cukup rentan akan masalah kesehatan mental. Hal itu perlu menjadi perhatian bersama. ARIE/KOMPAS Tingkat Kesepian dan Pikiran Bunuh Diri pada Remaja Meningkat Selain itu, yang juga harus dipahami bahwa kemampuan mahasiswa secara akademis tidak sama. Sementara dari sisi tuntutan terkadang tidak membedakan, semua harus berada pada tipe ideal sebagaimana yang ditentukan. Adapun di sisi lain, tuntutan dari orangtua dan keluarga akan nilai kuliah mesti bagus sebagai konsekuensi biaya besar yang mereka keluarkan. ”Tuntutan dari keluarga ini tidak dalam konteks bagaimana pertanggungjawaban ilmu yang manfaat tadi seperti apa, tetapi yang lain, sehingga menimbulkan ketakutan pada si anak jika nilainya jelek. Akhirnya mereka mulai berbohong demi menutupi nilainya,” ungkapnya. Masalah lainnya terkait gaya hidup, tekanan sosial di lingkungan tempat tinggal, hingga lingkungan pertemanan. Tak jarang terjadi perundungan di lingkungan-lingkungan tersebut, termasuk kampus, sehingga membuat mental seseorang menjadi down. Belum lagi ditambah masalah pribadi dan trauma masa lalu. ”Jadi, banyak faktor yang memengaruhi. Dukungan emosional keluarga juga ikut andil, mungkin orangtua telah menganggap anaknya sudah besar sehingga tidak perlu dikontrol lagi. Bahkan, ada lho orangtua yang tidak tahu alamat kos anaknya lantaran jarang dikontrol, jarang komunikasi,” ujarnya. Oleh karena itu, menurut Luluk, kampus tidak boleh hanya mengejar keberhasilan akademis, teoretis, dan praktis. Namun, nilai kemanusiaan dan kesejahteraan emosional juga penting untuk diperhatikan. Begitu pula dukungan emosional keluarga tetap diperlukan oleh anak-anak yang tinggal di luar kota (ngekos). ”Misalnya, dengan saling berbagi kabar setiap hari. Ini support system keluarga yang menenangkan. Ini jadi poin yang penting sehingga mereka punya tempat menyalurkan unek-unek karena banyak dari mereka yang merasa kesepian, tidak bisa mengungkapkan apa yang dialami dan mencari solusinya. Kepedulian sosial perlu,” tuturnya. Disclaimer: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan ingin mencoba bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikolog, psikiater, dan klinik kesehatan jiwa.

Para Pendekar Hukum Bedah Relasi Konstitusi, Kekuasaan, dan Teknologi Digital di UMM

KLIKMU.CO – Musuh utama konstitusi sejatinya adalah kekuasaan itu sendiri, karena pada akhirnya kekuasaan selalu ingin menerobos batas yang membatasinya. Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Jawa Timur Dr Himawan Estu Bagijo SH MH dalam Seminar Nasional Call for Paper 2026 bertajuk Konstitusi di Era Digital: Peluang dan Tantangan yang digelar di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/1/2026). Seminar nasional yang digelar Fakultas Hukum (FH) ini menjadi ruang diskusi akademik untuk membedah relasi antara konstitusi, kekuasaan, dan perkembangan teknologi digital yang kian pesat. Himawan menjelaskan bahwa konsep negara hukum tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap hukum tertulis semata. Ia menekankan pentingnya asas kepatutan, rasionalitas, serta prinsip pemerintahan yang baik sebagai dasar setiap kebijakan negara. Tanpa kesadaran konstitusional yang kuat, digitalisasi justru berpotensi memperluas ruang dominasi kekuasaan. “Kecenderungan konstitusi konservatif dalam UUD 1945 memberi ruang luas bagi pembentuk undang-undang. Ruang tersebut sering dimanfaatkan kekuasaan politik untuk mengisi kekosongan konstitusi tanpa pengawasan publik memadai, terlebih di era digital yang serba cepat. Undang-undang bisa sah secara prosedural, tetapi tetap inkonstitusional bila proses pembentukannya tidak rasional dan mengabaikan partisipasi publik,” ujarnya. Pandangan ini menegaskan bahwa legislasi yang tidak rasional dan minim partisipasi publik berpotensi melahirkan produk hukum cacat secara konstitusional. Konstitusi seharusnya berfungsi sebagai instrumen pengendali kekuasaan, bukan sekadar legitimasi formal kebijakan negara. Sejalan dengan itu, dosen FH UMM Dr Catur Wido Haruni SH MHum menyoroti peran teknologi digital yang kini tidak lagi sekadar alat bantu administrasi negara. Menurutnya, teknologi telah menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi arah demokrasi dan praktik kekuasaan. Kecepatan perkembangan digital sering kali melampaui kesiapan regulasi negara. “Konstitusi harus mengendalikan arah digitalisasi, bukan tertinggal oleh teknologi. Pengaturan ruang digital harus menjamin kebebasan berekspresi sekaligus perlindungan data pribadi warga negara. Tanpa keseimbangan konstitusional yang jelas, kebijakan digital berpotensi menjadi alat pengawasan berlebihan,” jelasnya. Sementara itu, Dekan FH UMM Prof Dr Tongat MHum menyampaikan bahwa kegiatan ini bagian dari komitmen fakultas mengembangkan tradisi akademik kritis dan kontekstual. Perguruan tinggi memiliki peran strategis merespons dinamika hukum dan ketatanegaraan yang terus berkembang. Forum akademik semacam ini menghadirkan ruang dialog reflektif berbasis kajian ilmiah. “Seminar nasional dan call for paper ini diharapkan melahirkan gagasan akademik yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi dan negara hukum,” ujar Tongat. Seminar ini menunjukkan bahwa tantangan konstitusi di era digital tidak hanya terkait teknologi, tetapi juga bagaimana kekuasaan dijalankan, dibatasi, dan diawasi secara konstitusional. Pendekatan akademik yang kritis menjadi penting agar konstitusi tetap melindungi hak-hak warga negara di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang. (Faqih/AS)

Unggas Jadi Ladang Peluang 2026, Prodi Agribisnis Unggas UMM Kupas Strategi Industri Bersama Praktisi

Malangpariwara.com – Prospek cerah agribisnis perunggasan Indonesia pada 2026 menjadi sorotan utama dalam Kuliah Tamu Nasional Perunggasan. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas, Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (20/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room My Dormy Hostel UMM ini, menghadirkan praktisi nasional untuk mengupas tantangan, peluang, hingga strategi menghadapi dinamika industri unggas ke depan. Dekan Fakultas Vokasi UMM, Dr. Lailis Syafaah, dalam sambutannya menegaskan sektor perunggasan merupakan salah satu bidang agribisnis dengan prospek berkelanjutan. Serta, memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional. Menurutnya, mahasiswa vokasi harus dipersiapkan secara komprehensif agar mampu menangkap peluang industri tersebut. “Mahasiswa harus dibekali pemahaman yang kuat, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari praktik industri secara langsung,” ujar Lailis. Menurutnya hal ini penting agar lulusan vokasi siap kerja dan siap usaha. Tantangan Industri Unggas Jelang 2026 Diundang sebagai narasumber utama, ialah Konsultan Bisnis Broiler dan Layer drh. Bambang Rudianto. Ia menyampaikan, agribisnis perunggasan masih menjadi tulang punggung penyedia protein hewani nasional. Namun, kata Bambang, memasuki tahun 2026 pelaku usaha akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Mulai dari fluktuasi harga pakan hingga tekanan margin usaha. Ia menekankan, keberhasilan usaha unggas tidak semata ditentukan oleh harga pasar, melainkan oleh kualitas manajemen internal peternak. “Peternak harus fokus menekan biaya produksi dan break even point, bukan semata-mata menunggu harga pasar membaik. Perencanaan usaha yang matang dan berbasis data menjadi kunci menghadapi dinamika industri,” ungkap Bambang. Peran Strategis Obat Hewan dan Sinergi Industri Sementara itu, narasumber lain, drh. Suyud, Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Jawa Timur, menyoroti peran strategis industri obat dan suplemen ternak dalam menjaga produktivitas serta efisiensi usaha perunggasan. Dijelaskannya, kesehatan ternak menjadi faktor fundamental di tengah meningkatnya risiko penyakit unggas dan tuntutan keberlanjutan industri. Penggunaan obat hewan yang tepat dan sesuai regulasi tidak hanya berdampak pada performa produksi. Tetapi, juga menentukan keberlangsungan industri perunggasan nasional. Suyud juga menekankan pentingnya sinergi antara peternak, industri obat hewan, dan pemerintah untuk membangun ekosistem perunggasan yang sehat dan berdaya saing. Melalui kuliah tamu nasional ini, Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas Fakultas Vokasi UMM menegaskan komitmennya menghadirkan pembelajaran vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri. Kegiatan ini diharap mampu memperluas wawasan mahasiswa sekaligus mendorong generasi muda melihat agribisnis perunggasan sebagai ladang peluang karier dan usaha yang menjanjikan di masa depan, khususnya menjelang 2026. (Djoko W)

Agribisnis UMM Cetak Eksportir Muda Handal hingga Tembus Pasar Mancanegara

MALANG, SURYAKABAR.com – Merespons tingginya permintaan pasar global yang kerap terkendala minimnya SDM andal, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat ‘pabrik’ pencetak eksportir muda. Memasuki persiapan 2026, UMM memastikan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis akan diisi dengan kurikulum yang langsung menghadirkan para praktisi ekspor dunia. Inisiatif ini hadir sebagai respons strategis atas besarnya potensi agribisnis Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk komoditas unggulan seperti kopi, rempah, minyak nabati, hingga pangan olahan. Sayangnya, besarnya peluang ini kerap terbentur kendala teknis. Banyak pelaku usaha kesulitan dalam dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga segmentasi pasar. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja terampil yang benar-benar memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat minim. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menegaskan, pembukaan CoE pada 2026 adalah bukti konsistensi kampus dalam menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas industri ekspor. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujar Zul. Baca Juga:  Nilai Ekspor Banyuwangi Tembus Rp 3,9 Triliun di 2025, Jangkau Berbagai Belahan Dunia CoE Ekspor edisi 2026 ini akan menawarkan kurikulum komprehensif yang memadukan tiga elemen vital: pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, dan analisis penetrasi pasar internasional. Melalui skema ini, mahasiswa ditargetkan menguasai seluruh alur ekspor, mulai dari memetakan potensi komoditas, standardisasi produk, aspek legalitas, hingga teknis pengiriman. Untuk menjamin kualitas lulusan, Agribisnis UMM menggandeng mitra dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jam terbang tinggi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Para praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lainnya dijadwalkan hadir sebagai pengajar tamu sepanjang semester. Zul menambahkan, era agribisnis masa depan menuntut SDM yang peka terhadap isu-isu global modern. Baca Juga:  Mahasiswa ITN Malang Borong Tiga Penghargaan, Harumkan Nama Papua Lewat Duta Inspirasi “Generasi eksportir muda ini tidak boleh hanya mengandalkan intuisi bisnis. Mereka harus menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, hingga manajemen risiko global. Lebih jauh lagi, mereka harus paham tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan (sustainability), isu karbon, serta preferensi konsumen di tiap kawasan,” tambahnya. Kini, CoE Agribisnis UMM menjadi salah satu program primadona karena menawarkan output karier yang jelas. Program ini diproyeksikan mampu membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional melalui tenaga kerja andal, atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri lewat inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan yang matang, tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi angkatan keempat CoE ini untuk berperan aktif dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia. (abs)