FH UMM Gelar Seminar Nasional, Kaji Konstitusi di Era Digital: Peluang dan Tantangan

MALANG POST – Musuh utama konstitusi sejatinya adalah kekuasaan itu sendiri. Karena pada akhirnya kekuasaan selalu ingin menerobos batas yang membatasinya. Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Jawa Timur, Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H., dalam Seminar Nasional Call for Paper 2026 bertajuk Konstitusi di Era Digital: Peluang dan Tantangan. Event digelar di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat 17 Januari lalu. Seminar nasional oleh Fakultas Hukum (FH) ini menjadi ruang diskusi akademik untuk membedah relasi antara konstitusi, kekuasaan, dan perkembangan teknologi digital yang kian pesat. Lebih lanjut, Himawan sapaan akrabnya menjelaskan bahwa konsep negara hukum tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap hukum tertulis semata. Ia menekankan pentingnya asas kepatutan, rasionalitas, serta prinsip pemerintahan yang baik sebagai dasar dalam setiap kebijakan negara. Menurutnya, tanpa kesadaran konstitusional yang kuat, digitalisasi justru berpotensi memperluas ruang dominasi kekuasaan. “Kecenderungan konstitusi konservatif dalam UUD 1945 memberi ruang yang sangat luas bagi pembentuk undang-undang. Ruang tersebut kerap dimanfaatkan oleh kekuasaan politik untuk mengisi kekosongan konstitusi tanpa pengawasan publik yang memadai, terlebih di era digital yang serba cepat.” “Undang-undang bisa saja sah secara prosedural, tetapi tetap inkonstitusional apabila proses pembentukannya tidak rasional dan mengabaikan partisipasi publik,” ujarnya. Pandangan tersebut menegaskan bahwa proses legislasi yang tidak rasional dan minim partisipasi publik berpotensi melahirkan produk hukum yang cacat secara konstitusional. Kondisi ini menunjukkan bahwa konstitusi seharusnya berfungsi sebagai instrumen pengendali kekuasaan. Dengan demikian, konstitusi tidak boleh direduksi sekadar sebagai legitimasi formal atas kebijakan negara. Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Catur Wido Haruni, S.H., M.Hum., Dosen FH UMM menilai bahwa teknologi digital saat ini tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat bantu administrasi negara. Ia menjelaskan bahwa teknologi telah berkembang menjadi kekuatan yang mampu memengaruhi arah demokrasi dan praktik kekuasaan. Kecepatan perkembangan digital, menurutnya, sering kali melampaui kesiapan regulasi yang dimiliki negara. “Konstitusi harus mampu mengendalikan arah digitalisasi, bukan justru tertinggal oleh teknologi. Pengaturan ruang digital harus menjamin kebebasan berekspresi sekaligus perlindungan data pribadi warga negara. Tanpa keseimbangan konstitusional yang jelas, kebijakan digital berpotensi bergeser menjadi alat pengawasan yang berlebihan,” ujarnya. Terakhir, Dekan FH UMM Prof. Dr. Tongat, M.Hum., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan tradisi akademik yang kritis dan kontekstual. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons dinamika hukum dan ketatanegaraan yang terus berkembang. Melalui forum akademik semacam ini, fakultas berupaya menghadirkan ruang dialog yang reflektif dan berbasis kajian ilmiah. Menurutnya, sinergi antara akademisi dan praktisi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan konstitusi di era digital. “Seminar nasional dan call for paper ini kami harapkan mampu melahirkan gagasan akademik yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi dan negara hukum,” ujar Tongat. Seminar nasional ini menunjukkan bahwa tantangan konstitusi di era digital tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi. Lebih dari itu, persoalan utama terletak pada bagaimana kekuasaan dijalankan, dibatasi, dan diawasi secara konstitusional. Pendekatan akademik yang kritis menjadi penting untuk memastikan konstitusi tetap berfungsi sebagai pelindung hak-hak warga negara di tengah arus digitalisasi yang terus berkembang.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Bisnis Unggas Nasional Masih Menjanjikan, UMM Soroti Strategi Hadapi Tantangan Industri 2026

pwmu.co –Industri perunggasan Indonesia diproyeksikan tetap menjadi salah satu sektor strategis penopang ketahanan pangan nasional pada tahun 2026. Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Tamu Nasional Perunggasan yang diselenggarakan Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas, Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (20/1/2026).Kegiatan ini menghadirkan praktisi industri dan asosiasi nasional untuk mengupas secara komprehensif tantangan, peluang, serta strategi pengelolaan agribisnis perunggasan di tengah dinamika harga pakan, tekanan margin usaha, hingga tuntutan efisiensi dan keberlanjutan produksi. Dekan Fakultas Vokasi UMM, Dr. Lailis Syafaah, dalam sambutannya menegaskan bahwa sektor perunggasan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi sekaligus penyedia utama protein hewani masyarakat. Ia menilai perguruan tinggi vokasi memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan industri. “Mahasiswa harus mampu membaca peluang dan mengambil peran strategis di sektor perunggasan yang terus berkembang,” ujarnya. Narasumber utama, drh. Bambang Rudianto, Konsultan Bisnis Broiler dan Layer, menyampaikan bahwa prospek usaha unggas masih terbuka luas, namun membutuhkan pengelolaan bisnis yang lebih disiplin dan terukur. Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi peternak menjelang 2026 bukan semata fluktuasi harga pasar, melainkan lemahnya manajemen internal usaha. Ia menekankan pentingnya perencanaan produksi, pengendalian biaya, serta pengelolaan risiko agar peternak mampu menekan titik impas (break even point) dan menjaga keberlanjutan usaha. Sementara itu, drh. Suyud, Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Jawa Timur, menyoroti aspek kesehatan ternak sebagai fondasi utama produktivitas agribisnis perunggasan. Ia menyampaikan bahwa penggunaan obat dan suplemen ternak yang tepat, aman, dan sesuai regulasi menjadi faktor krusial dalam menjaga performa produksi unggas. “Industri obat hewan berperan strategis dalam mendukung efisiensi usaha sekaligus memastikan keberlanjutan sektor perunggasan nasional,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara peternak, industri obat hewan, dan pemerintah untuk membangun ekosistem perunggasan yang sehat dan berdaya saing. Menurutnya, kepatuhan terhadap regulasi dan standar mutu merupakan bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas industri. Melalui kuliah tamu nasional ini, Program Studi Sarjana Terapan Agribisnis Unggas Fakultas Vokasi UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan industri. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan mahasiswa, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi profesional yang siap berkontribusi bagi pengembangan agribisnis perunggasan Indonesia. *) Penulis : Wahid M. Shodiq *) Editor : Aalimah Qurrata Ayun
Gawai Bisa Jauhkan Anak dari Ruang Ibadah: RBC, Ponpes Malik Fadjar Hadirkan literasi di Masjid Baiturrahmah Sawojajar

MALANG POST – Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) justru menghadirkan wajah berbeda. Masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak yang digelar pada 18 Januari 2026. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak. Menerapkan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak. Ini mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujar Azhar Izzudin. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)