Tragedi Mahasiswa di Malang: Alarm Darurat Kesehatan Mental Berbunyi Keras, Butuh Penanganan Komprehensif!

Malang, Liputan12.com – Aksi percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta pada Senin (19/1/2026) dini hari kembali mengguncang Kota Malang. Kejadian ini menambah panjang daftar kasus serupa yang menimpa mahasiswa di kota pendidikan ini, sekaligus menjadi sinyal darurat tentang krisis kesehatan mental yang semakin mengkhawatirkan. TA (25) ditemukan tergeletak di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di wilayah Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meskipun mengalami patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan ini berhasil diselamatkan dan dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapatkan perawatan intensif. Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta, Kepala Polsek Lowokwaru, membenarkan terjadinya peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan seorang pengemudi ojek daring yang menjadi saksi mata, korban terlihat mondar-mandir dengan gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya memutuskan untuk melompat. “Saksi melihat seseorang jatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melaporkan kejadian ini kepada polisi dan relawan. Petugas dan tim medis segera mengevakuasi korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis,” jelas Anang pada Selasa (20/1/2026). Motif di balik aksi nekat TA terungkap dari pesan singkat yang dikirimkan kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Dalam pesan tersebut, korban meminta maaf dan merasa bersalah karena telah merepotkan keluarga akibat skripsinya yang tak kunjung selesai. Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi saksi bisu bagi tragedi yang menimpa mahasiswa yang mengalami kebuntuan dalam hidupnya. Sebelumnya, pada akhir November 2025, seorang mahasiswa berinisial NFR (25) ditemukan meninggal dunia di lokasi yang sama. Bahkan, pada Juli 2024, seorang mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidupnya di Jembatan Tunggulmas, meskipun nyawanya berhasil diselamatkan. Kompol Anang Tri Hananta mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menjadi pemicu utama dari rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa. Faktor-faktor tersebut antara lain tekanan akademik yang tinggi, ancaman drop out, kegagalan dalam ujian, masalah percintaan, konflik dengan orang tua, serta jeratan pinjaman online (pinjol). Luluk Dwi Kumalasari, seorang sosiolog dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti fenomena ini sebagai akibat dari tekanan struktural yang dialami oleh Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis yang semakin berat dengan adanya standardisasi internasional tidak hanya menekan para dosen, tetapi juga para mahasiswa yang memiliki kemampuan dan potensi yang beragam. Selain itu, ekspektasi yang tinggi dari keluarga juga menjadi faktor yang memperparah situasi. Biaya kuliah yang mahal seringkali diartikan sebagai tuntutan untuk mendapatkan nilai yang sempurna, tanpa memperhatikan proses belajar dan pemanfaatan ilmu yang diperoleh. “Tuntutan dari keluarga ini seringkali menimbulkan ketakutan pada anak jika nilainya tidak sesuai harapan. Akhirnya, mereka mulai berbohong demi menutupi kekurangan mereka,” ujar Luluk. Luluk juga menambahkan bahwa kesepian menjadi salah satu faktor pemicu utama bagi mahasiswa yang merantau. Banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian dan pengawasan.

Siapkan Eksportir Kelas Dunia, UMM Matangkan Kurikulum CoE Agribisnis di Tahun 2026

ZCAMPUS, INDOZONE.ID – Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat komitmennya dalam mencetak tenaga profesional di bidang perdagangan internasional. Sebagai langkah strategis menghadapi 2026, UMM mematangkan persiapan Kelas Center of Excellence (CoE) Profesional Ekspor Agribisnis dengan menghadirkan kurikulum yang dirancang khusus bersama para praktisi ekspor tingkat dunia. Langkah ini diambil sebagai jawaban atas tingginya permintaan pasar internasional terhadap produk agribisnis Indonesia yang selama ini belum tergarap maksimal karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Meskipun Indonesia dikenal sebagai pemasok utama komoditas seperti kopi, rempah-rempah, hingga minyak nabati di Asia Tenggara, para pelaku usaha seringkali terbentur masalah teknis. Kendala yang terjadi biasanya meliputi kerumitan dokumen perdagangan, standarisasi kualitas produk, hingga strategi pemetaan pasar yang tepat. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, M.Sc., menjelaskan bahwa program CoE 2026 adalah upaya kampus untuk mempersempit jarak antara teori akademik dengan dinamika industri ekspor yang nyata. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berkutat pada teori pemasaran, tetapi langsung terjun ke lapangan. “Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran semata, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global (global value chain). Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ungkapnya. Kurikulum yang ditawarkan pada edisi 2026 sangat komprehensif, yang mencakup tiga pilar utama, yaitu analisis akademik, pelatihan praktis, dan strategi penetrasi pasar internasional. Mahasiswa akan dibekali keahlian mulai dari mengidentifikasi potensi komoditas, mengurus legalitas, hingga teknis logistik pengiriman barang. Untuk memastikan standar kualitas, UMM berkolaborasi dengan mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang telah memiliki jaringan luas di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Akademisi Nilai Rotasi JPTP Pemkot Batu Tepat, Perkuat Soliditas Birokrasi Era Nurochman-Heli

KETIK, BATU – Langkah Pemerintah Kota Batu melakukan rotasi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di awal kepemimpinan Wali Kota Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto mendapat apresiasi dari akademisi. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya positif dalam memperkuat soliditas birokrasi guna mengakselerasi program unggulan daerah. Ketua Program Studi Magister (S2) Sosiologi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Assoc. Prof. Rachmad Kristiono Dwi Susilo, Ph.D., menegaskan bahwa mutasi pejabat adalah instrumen penting untuk membangun kerja tim yang kuat. “Menurut saya, mutasi itu justru bagus. Birokrasi membutuhkan teamwork yang solid. Tidak mungkin pemerintahan hanya mengandalkan wali kota dan wakil wali kota, sementara birokrasi sudah ada jauh sebelum kepemimpinan sekarang,” ujarnya, Jumat, 23 Januari 2026. Ia menilai, birokrasi yang solid menjadi faktor kunci dalam mendorong keberhasilan visi unggulan dan program prioritas kepala daerah. Selain itu, rotasi jabatan juga berfungsi sebagai penyegaran organisasi agar tetap adaptif dan produktif. Rachmad memberikan sorotan khusus pada rotasi jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu. Menurutnya, Sekda merupakan “panglima” ASN yang harus selaras dengan visi kepala daerah agar administrasi pemerintahan tidak timpang. “Sekda itu sangat krusial. Ia adalah panglima ASN. Jangan sampai kepala daerah dan sekda tidak kompak. Di beberapa daerah lain, ada pengalaman sekda yang tidak sejalan dengan kebijakan kepala daerah, dan itu tidak sehat bagi organisasi,” tegasnya. Menurut Rachmad, Sekda harus memiliki kesamaan visi dengan wali kota agar seluruh jajaran birokrasi bergerak dalam satu komando dan mampu menerjemahkan kebijakan kepala daerah secara efektif. Ia menambahkan bahwa sinergitas antara Sekda dan Wali Kota sangat menentukan efektivitas kebijakan di lapangan. “Sekda harus memahami betul output dan outcome dari kebijakan wali kota. Semua harus satu komando, karena agenda Kota Batu itu sangat banyak. Potensi sumber daya alam sudah mendukung, tetapi tanpa tata kelola yang baik, tujuan pembangunan tidak akan tercapai,” ujarnya. Terkait komitmen Pemkot Batu yang menjadikan capaian kinerja sebagai dasar rotasi, Rachmad menilai hal tersebut sebagai bentuk implementasi good governance. Ia berharap sistem reward and punishment ini konsisten dilakukan agar jauh dari praktik primordialisme. “Itu sangat bagus. Artinya, penghargaan dan penilaian jabatan didasarkan pada capaian kinerja, bukan karena kedekatan politik, kekerabatan, atau kepentingan primordial,” katanya. Meski demikian, Rachmad menekankan pentingnya konsistensi dalam implementasi kebijakan tersebut. Ia berharap evaluasi kinerja ini diterapkan secara tegas dan berkelanjutan. “Kita tunggu implementasinya. Kalau memang dalam beberapa bulan target tidak tercapai, seharusnya ada keberanian untuk melakukan pergantian. Di situlah letak keseriusan reformasi birokrasi,” pungkasnya. Sebagai informasi, Pemerintah Kota Batu melakukan penyegaran birokrasi melalui rotasi terhadap 15 pejabat Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) sebagai upaya memperkuat kinerja organisasi perangkat daerah (OPD) sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik. Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu Nurochman dan dilaksanakan di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, pada Rabu, 21 Januari 2026. Wali Kota Nurochman menjelaskan, rotasi tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi kinerja birokrasi yang dilakukan selama 10 bulan sepanjang tahun 2025. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan perlunya percepatan atau akselerasi kinerja dari seluruh kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD). “Akselerasi dari seluruh kepala SKPD memang dibutuhkan. Ini merupakan hasil evaluasi yang kami lakukan selama 10 bulan selama 2025,” ujar Nurochman. Ia menambahkan, sebelum rotasi dilaksanakan, seluruh pejabat eselon II atau JPTP telah mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh tim profesional. Hasil uji kompetensi tersebut menjadi salah satu dasar utama dalam menentukan penempatan jabatan, guna memastikan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan organisasi dan arah kebijakan pemerintahan daerah. (Adv)

Ribuan Mahasiswa PPG UMM Dikukuhkan, Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah, 22 Januari 2026. Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M.. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Tetapi juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

PPG UMM Kukuhkan 3.016 Guru Madrasah, Siap Hadapi Tantangan Era Digital

Kota Malang, Tagarjatim.id — Sebanyak 3.016 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan diambil sumpah profesinya pada Kamis (22/1/2026). Pengukuhan ini menjadi bagian dari Program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Prosesi pengukuhan yang digelar secara luring dan daring tersebut menandai komitmen UMM dalam mencetak guru-guru profesional yang berdaya saing serta siap berkontribusi dalam transformasi pendidikan nasional, khususnya di lingkungan madrasah. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan madrasah tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, melainkan oleh pengakuan negara terhadap profesi guru yang berkompetensi dan berkelanjutan. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan, profesionalisme guru menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Tanpa guru yang kompeten dan memiliki kepastian status profesional, upaya mencetak generasi Indonesia yang unggul dan berakhlak mulia tidak akan berjalan optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah ujung tombak pembelajaran,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Program PPG FKIP UMM, Prof. Trisakti Handayani, menyatakan bahwa pengambilan sumpah profesi bukan sekadar tahapan administratif, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, tetapi komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri,” ujarnya. Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital yang menuntut guru mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak, tanpa menghilangkan peran keteladanan dan pembentukan karakter peserta didik. Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Menurutnya, dikotomi antara pendidikan madrasah dan pendidikan umum sudah tidak relevan. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum adalah satu kesatuan untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter. Yang terpenting adalah bagaimana guru merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan ini tidak hanya menandai berakhirnya satu tahapan pendidikan profesi, tetapi juga menjadi awal tanggung jawab baru bagi para guru madrasah untuk berperan aktif membangun pendidikan inklusif, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta berorientasi pada terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.(*)

Dorong Inovasi Pembelajaran, Polbangtan Malang Bekali Dosen Pengembangan Bahan Ajar Berbasis AI

timesindonesia, MALANG – Upaya menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi terus dilakukan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang. Melalui Workshop Persiapan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Polbangtan Malang membekali dosen dan tenaga kependidikan dengan pemahaman pengembangan bahan ajar dan petunjuk praktikum berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang tetap berlandaskan kaidah akademik. Kegiatan yang berlangsung pada 22–24 Januari 2026 di Brizantha Hall, Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu ini diikuti oleh dosen dan tenaga pendidik Polbangtan Malang. Workshop ini menjadi ruang belajar bersama dalam menyikapi perubahan lanskap pendidikan tinggi di era digital. Sebagai narasumber, Polbangtan Malang menghadirkan Ahmad Fauzi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kehadiran AI saat ini sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas dosen. “Di era saat ini, AI menjadi teknologi yang sulit dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan dosen. Berbagai platform dan fitur AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu dosen menyiapkan serta mengembangkan berbagai bahan ajar,” jelas Ahmad Fauzi. Ia memaparkan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu dosen dalam berbagai aspek pembelajaran, mulai dari penyusunan slide presentasi, video pembelajaran, hingga penyusunan draf buku ajar dan petunjuk praktikum. “Ada platform untuk membantu menyiapkan slide presentasi, ada yang membantu menyiapkan video pembelajaran, hingga membantu menyiapkan draf buku ajar dan petunjuk praktikum,” tambahnya. Meski demikian, Ahmad Fauzi menekankan pentingnya sikap bijak dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Menurutnya, dosen perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan peran akademiknya. “Sebagai pendidik, kita sebaiknya mengikuti perkembangan teknologi. Tidak terlalu anti AI tapi juga tidak terlalu bergantung pada AI. Kita tetap perlu mempelajari dan mengikutinya, namun kita juga harus tahu etika dan kebijakan penggunaannya,” tegasnya. Melalui materi ini, para dosen diajak untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu strategis yang mendukung kreativitas dan efektivitas pembelajaran, sekaligus menjaga integritas akademik dan kualitas capaian pembelajaran mahasiswa. Polbangtan Malang berharap, pembekalan ini dapat mendorong dosen dan tenaga pendidik untuk lebih siap mengembangkan perangkat pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa di era digital, tanpa mengesampingkan nilai-nilai akademik yang menjadi fondasi pendidikan tinggi. (*)

Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi tersendiri bagi perilaku keuangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya di kalangan mahasiswa. Menurut Rifqi, sistem pembayaran digital menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Berbeda dengan transaksi tunai yang menghadirkan sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung cepat dan minim hambatan psikologis. Kondisi tersebut membuat pengguna cenderung lebih impulsif dalam berbelanja. “Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026). Ia menjelaskan, kebiasaan ini sering memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, namun berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti kopi, jajanan, atau belanja impulsif harian berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari. Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, serta efisiensi waktu. Namun, kelemahan utamanya terletak pada lemahnya kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon. “Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang tidak disiplin. Nilai uang menjadi abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meskipun saldo digital masih terlihat aman. Sebagai langkah pencegahan, Rifqi menyarankan agar pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satunya dengan menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi. “Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, asalkan diiringi dengan perencanaan dan kesadaran finansial yang baik. (raf)

KKN Berdampak UMM 2026: Rektor Tekankan Solusi Nyata Bangun Desa Berbasis SDGs MALANG –

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya dalam membangun desa secara berkelanjutan melalui program KKN Berdampak 2026. Bukan sekadar rutinitas akademik, KKN kali ini dirancang sebagai solusi konkret atas persoalan desa dengan pendekatan jangka panjang berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Hal tersebut ditandai dengan pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026 oleh Rektor UMM pada Sabtu (24/1). Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan di 17 kecamatan di wilayah Malang Raya dengan target intervensi pembangunan desa hingga sepuluh tahun ke depan. Program KKN Berdampak UMM secara khusus difokuskan pada tiga pilar utama SDGs, yakni Pendidikan Berkualitas (SDGs 4), Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3), serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDGs 17). Ketiga pilar ini diposisikan sebagai fondasi untuk mewujudkan desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa KKN Berdampak 2026 dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data dan pemetaan partisipatif. Prinsip kemitraan menjadi kunci utama dalam menentukan lokasi dan program pengabdian. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat untuk memetakan potensi dan persoalan riil yang ada,” ujarnya. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dalam merancang program yang tepat sasaran. Pada sektor pendidikan, mahasiswa berperan aktif dalam pendampingan sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, serta pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa guna mendukung terwujudnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Sementara itu, pada aspek kesehatan dan kesejahteraan, mahasiswa didorong terlibat langsung dalam penyuluhan kesehatan masyarakat, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM desa. Penerapan teknologi tepat guna juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya dampak nyata dari kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mampu mentransformasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi praktis yang relevan dengan kebutuhan warga desa. “Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban akademik, tetapi harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang visioner, menyatukan pemikiran akademis dengan realitas yang dirasakan masyarakat,” tegasnya. Melalui KKN Berdampak 2026, UMM berharap pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada program sesaat, melainkan menjadi bagian dari proses pembangunan desa yang berkelanjutan dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ans

Rentetan Percobaan Bunuh Diri Mahasiswa di Malang, Alarm Krisis Kesehatan Mental

Malang (beritajatim.com) – Percobaan bunuh diri yang dilakukan seorang mahasiswi berinisial TA (25) di Jembatan Soekarno-Hatta, Senin (19/1/2026) dini hari, menambah daftar mahasiswa yang hendak melakukan upaya penghilangan nyawa di Kota Malang. Peristiwa ini bukan sekadar statistik kriminalitas, melainkan sinyal bahaya yang terus berulang, menyingkap sisi krisis kesehatan mental yang menghantui kota pendidikan ini. TA (25) ditemukan terempas di dasar Sungai Brantas dengan kedalaman sekitar 12 meter di kawasan Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru. Meski menderita patah tulang tangan kanan, mahasiswi asal Jakarta Selatan itu ditemukan dalam kondisi masih bernapas dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. Kepala Polsek Lowokwaru Komisaris Polisi (Kompol) Anang Tri Hananta mengonfirmasi peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan saksi pengemudi ojek daring, korban terlihat mondar-mandir gelisah di sekitar jembatan pada pukul 00.30 WIB sebelum akhirnya melompat. “Saksi melihat ada seseorang terjatuh dari atas jembatan, kemudian langsung melapor ke polisi dan relawan. Petugas dan tim medis membawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Anang, Selasa (20/1/2026). Motif di balik aksi nekat ini terungkap dari pesan terakhir yang dikirimkan TA kepada adiknya beberapa jam sebelum kejadian. Korban meminta maaf dan merasa telah merepotkan keluarga karena skripsinya yang tak kunjung usai. Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) dan Jembatan Tunggulmas di Kota Malang seolah menjadi titik gelap bagi mahasiswa yang mengalami kebuntuan hidup. Sebulan sebelum kejadian TA, tepatnya akhir November 2025, NFR (25) ditemukan tewas di lokasi yang sama. Jauh sebelumnya, pada Juli 2024, mahasiswa berinisial AHM (19) juga mencoba mengakhiri hidup di pagi hari yang ramai, meski beruntung nyawanya selamat. Pola serupa terjadi di Jembatan Tunggulmas, sekitar 4 kilometer ke arah barat. Pada April 2025, BGS (20) asal Jakarta Timur tewas, disusul satu bulan kemudian oleh seorang perempuan muda berinisial A (20). Kompol Anang Tri Hananta memetakan sejumlah motif dominan dari rentetan kasus tersebut. “Ada beberapa motif yang melatarbelakangi, antara lain kuliah yang tidak kunjung rampung dan terancam drop out, gagal ujian, masalah asmara, konflik dengan orang tua, hingga jeratan pinjaman daring (pinjol),” ungkapnya. Sosiolog Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari, menyoroti fenomena ini sebagai dampak dari tekanan struktural yang dihadapi Generasi Z (kelahiran 1997–2012). Menurutnya, beban akademis dengan standardisasi internasional tidak hanya menekan dosen, tetapi juga mahasiswa yang memiliki kemampuan beragam. Situasi diperparah oleh ekspektasi keluarga yang tinggi. Biaya kuliah yang besar sering kali dikonversikan menjadi tuntutan nilai yang harus sempurna, tanpa melihat proses atau pemanfaatan ilmu itu sendiri. “Tuntutan dari keluarga ini menimbulkan ketakutan pada si anak jika nilainya jelek. Akhirnya mereka mulai berbohong demi menutupi nilainya,” kata Luluk. Ia menambahkan, faktor kesepian menjadi pemicu krusial bagi mahasiswa rantau. Banyak orang tua yang melepaskan pengawasan karena menganggap anaknya sudah dewasa, bahkan jarang berkomunikasi. Luluk menekankan pentingnya kampus menyeimbangkan pencapaian akademis dengan nilai kemanusiaan. “Dukungan emosional keluarga tetap diperlukan. Misalnya, saling berbagi kabar setiap hari. Ini menjadi support system yang menenangkan, karena banyak dari mereka merasa kesepian dan tidak punya tempat menyalurkan unek-unek,” tuturnya. Dari kacamata psikologi, tindakan bunuh diri tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ketua Program Studi Magister Psikologi UIN Malang, Dr. Novia Solichah, menjelaskan bahwa keinginan mengakhiri hidup adalah puncak dari akumulasi pengalaman psikologis negatif dan depresi. “Kalau ada keinginan mengakhiri hidup, itu salah satu simptom depresi. Secara fisik individu bisa terlihat sehat, tapi yang sakit itu psikisnya,” jelas Novia. Ia menguraikan bahwa kerentanan mental sering kali terbentuk dari masa kecil, seperti perundungan (bullying), pelabelan negatif, atau diremehkan oleh keluarga maupun lingkungan. Situasi ini disebut sebagai conditioning event, di mana individu akhirnya memercayai label negatif tersebut, menarik diri, dan tidak tahu cara membangun relasi sosial yang sehat. Fenomena ini sejalan dengan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya bertajuk World Mental Health Today (2025) yang secara spesifik menyoroti bahwa bunuh diri telah menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada penduduk usia 15–29 tahun secara global. Laporan tersebut menegaskan bahwa kerentanan ini tidak mengenal batas wilayah. Tekanan psikologis pada rentang usia produktif—masa di mana seseorang biasanya menempuh pendidikan tinggi atau memulai karier—telah menjadi epidemi senyap. Kasus-kasus di Malang, di mana korbannya rata-rata berusia 19 hingga 25 tahun, adalah manifestasi nyata dari statistik global tersebut. Data WHO juga menyebutkan, dari setiap satu kasus kematian akibat bunuh diri, terdapat setidaknya 20 upaya percobaan bunuh diri lainnya yang mungkin tidak terlaporkan. Merespons insiden yang terus berulang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan perubahan strategi penanganan. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tidak akan lagi berfokus hanya pada infrastruktur fisik seperti menambah tinggi pagar jembatan, melainkan menyasar akar masalah kesehatan mental. “Pagar itu sebenarnya sudah ada dan sudah kami lakukan. Tapi yang ingin kami dorong sekarang adalah pendekatan lain, karena yang harus diselesaikan adalah akarnya. Kalau hanya fisik tanpa menyentuh akarnya, kecenderungan seperti ini tidak akan selesai,” tegas Wahyu saat ditemui di Balai Kota Malang, Senin (19/1/2026). Wahyu berencana membawa isu ini ke meja diskusi strategis bersama para pimpinan perguruan tinggi melalui Forum Rektor. Tujuannya adalah merumuskan pola pendampingan yang efektif dan sistematis bagi mahasiswa. Pemkot Malang juga telah menjalin komunikasi dengan lembaga psikologi untuk merancang kolaborasi penanganan bagi kelompok rentan. “Saya akan minta Forum Rektor menjadikan ini sebagai salah satu agenda penting. Kita evaluasi bersama, bagaimana pendekatan yang paling tepat,” pungkasnya. Disclaimer: Informasi dalam tulisan ini tidak bertujuan untuk menginspirasi siapa pun melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan ingin mencoba bunuh diri, segera konsultasikan masalah Anda ke penyedia layanan kesehatan mental, seperti psikiater, psikolog, atau klinik kesehatan mental terdekat. (dan/kun)