Angkat Isu Menstruasi, Riset Mahasiswa UMM Tembus Jurnal Internasional Scopus Q2

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) UMM, berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 melalui penelitian yang mengangkat isu kesehatan perempuan, khususnya strategi coping dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Capaian ini terbilang istimewa, mengingat publikasi di jurnal bereputasi internasional bukan hal yang mudah, terlebih bagi mahasiswa strata satu. Penelitian Rintan dinilai memiliki kebaruan sekaligus relevansi tinggi karena mengulas topik menstruasi yang kerap dianggap sepele, padahal berdampak signifikan terhadap kondisi fisik dan psikologis perempuan. Rintan menjelaskan, penelitiannya berfokus pada bagaimana perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan kepada tim Humas UMM, Kamis (22/1/2026). Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan untuk memahami lebih dalam bagaimana perempuan dapat mengelola kondisi emosional dan fisik secara sehat dan efektif. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelas Rintan. Selain itu, riset ini juga menegaskan pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi dan mampu menerapkan strategi coping secara lebih cepat, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak waktu istirahat. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping tersebut. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan stigma justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat terkait kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dipahami dan dikelola, bukan diabaikan. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegasnya. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya menekankan aspek biologis, tetapi juga psikologis dan sosial. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa penelitian ini sejak awal memang dirancang agar tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” ujarnya. Menurut Henny, penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. Dengan instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran. Ia berharap capaian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan serta mendorong semakin banyak mahasiswa UMM berani mengangkat isu-isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. (Ans)
PT Muhammadiyah Mendominasi 20 PT Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics 2026

Optika.id – PT Muhammadiyah (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) mendominasi peringkat akademik untuk PT Swasta versi Webometrics. Webometrics adalah platform pemeringkatan universitas global yang dirancang untuk mencerminkan kinerja multidimensional lembaga pendidikan tinggi. Jika Webometrics membuat 20 peringkat PT Swasta maka PT Muhammadiyah masuk dalam 5 peringkat besar. Secara ajeg, konsisten, dan prestasi akademik dari tahun ke tahun PT Muhammadiyah berada dalam urutan atas dan menengah. Secara umum PT Muhammadiyah berada dalam urutan ke tiga (3) Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, empat (4) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jawa Tengah, enam (6) Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Jawa Tengah, tujuh (7) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, dan dua belas (12) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ranking PT Muhammadiyah itu menunjukkan prestasi akademik selalu baik dan diperhitungkan. Berbagai prestasi akademik, dukungan digital dan ITnya, prestasi mahasiswa, pengabdian masyarakat, penelitian, dan kerja sama nasional dan internasional yang bagus. Berikut daftar PT Swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026: Universitas Telkom Peringkat dunia: 850. Universitas Bina Nusantara Peringkat dunia: 1.022. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat dunia: 1.291. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat dunia: 1.300. Universitas Islam Indonesia Peringkat dunia: 1.390. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat dunia: 1.418. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat dunia: 1.511. Universitas Medan Area Peringkat dunia: 1.557. Universitas Mercu Buana Peringkat dunia: 1.588. Universitas Kristen Satya Wacana Peringkat dunia: 1.705. Baca juga: Mahasiswi Katolik Jadi Wisudawan Terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun, Raih IPK 3,79 Universitas Pelita Harapan Peringkat dunia: 1.730. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Peringkat dunia: 1.761. Universitas Katolik Atma Jaya Peringkat dunia: 1.789. Universitas Islam Sultan Agung Semarang Peringkat dunia: 1.878. Universitas Gunadarma Peringkat dunia: 1.897. Universitas Islam Malang Peringkat dunia: 1.913. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Peringkat dunia: 1.921. Universitas Trisakti Peringkat dunia: 1.945. Universitas Kristen Petra Peringkat dunia: 1.974. Universitas Katolik Parahyangan Peringkat dunia: 2.012. Tolak Ukur Webometrics kali ini menilai universitas dari kehadiran digital, pengaruh akademik, keterbukaan, dan visibilitas global. Ada beberapa indikator penilaian yang digunakan Webometrics, salah satunya visibilitas untuk menilai dampak berdasarkan jumlah domain pada perujuk eksternal dengan bobot sebesar 50 persen. Di samping itu ada juga indikator transparansi yang menggambarkan keterbukaan akademik universitas yang melihat jumlah kutipan dari 310 peneliti yang paling banyak dikutip, tidak termasuk 20 peneliti teratas yang termasuk kategori outlier, dengan bobot penilaian 10 persen. Sementara itu, indikator keunggulan berfokus pada kualitas riset yang menilai jumlah makalah penelitian yang termasuk dalam 10 persen teratas yang paling banyak dikutip pada 2019–2023 merujuk Scopus atau Scimago. Indikator ini memiliki bobot 40 persen. Atas adasar ukuran di atas itulah PT Muhammadiyah selalu bisa berperan dalam peringkat akademik nasional dan internasional. Dan peringkat atau ranking itu konsisten.
10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia versi Webometrics 2026, Tel-U Masih Juara!

medcom.id – Jakarta: Lembaga pemeringkatan perguruan tinggi dunia, Webometrics Ranking of World Universities, kembali merilis daftar peringkat universitas terbaik edisi Januari 2026. Dalam daftar tersebut, sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Indonesia menunjukkan performa yang sangat kompetitif, bersaing ketat dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Melansir data dari laman resminya webometrics.org pada Jumat, 23 Januari 2026, Telkom University (Tel-U) kembali mengukuhkan posisinya sebagai universitas swasta terbaik nomor satu di Indonesia. Secara nasional (gabungan PTN dan PTS), kampus yang berbasis di Bandung ini menempati peringkat ke-9, sementara di tingkat global berada di posisi 1.164. Menyusul di posisi kedua untuk kategori swasta adalah Bina Nusantara University (Binus). Kampus ini menempati peringkat ke-13 nasional dan posisi 1.371 dunia. Dominasi kampus berbasis ormas Islam juga terlihat kuat di lima besar. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertengger di posisi ketiga swasta terbaik (peringkat 19 nasional), disusul ketat oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di posisi keempat (peringkat 20 nasional). Webometrics melakukan pemeringkatan berdasarkan tiga indikator utama, yakni visibility (dampak konten web), transparency (jumlah kutipan peneliti teratas), dan excellence (jumlah makalah di antara 10% teratas yang paling banyak dikutip). Berikut rincian 10 PTS terbaik di Indonesia berdasarkan pemeringkatan Webometrics edisi Januari 2026: Daftar 10 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia 1. Telkom University Peringkat Nasional: 9 Peringkat Global: 1.164 2. Universitas Bina Nusantara (Binus University) Peringkat Nasional: 13 Peringkat Global: 1.371 3. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Peringkat Nasional: 19 Peringkat Global: 1.768 4. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Peringkat Nasional: 20 Peringkat Global: 1.824 5. Universitas Medan Area Peringkat Nasional: 24 Peringkat Global: 2.153 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Peringkat Nasional: 27 Peringkat Global: 2.397 7. Universitas Pelita Harapan (UPH) Peringkat Nasional: 33 Peringkat Global: 2.656 8. Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Peringkat Nasional: 36 Peringkat Global: 2.836 9. Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Peringkat Nasional: 38 Peringkat Global: 3.081 10. Universitas Gunadarma Peringkat Nasional: 39 Peringkat Global: 3.085 Itulah 10 universitas swasta terbaik versi Webometrics edisi Januari 2026. Adakah incaran kamu? (Sultan Rafly Dharmawan)
Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

jatimsatunews – SOPO TOKOH: Muhammad Hamzah yang akrab disapa Hamzah merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) yang lahir di Kalimantan Selatan dan tumbuh besar di sebuah perkampungan terpencil Tambak Pipi’i Desa Batu Laki (HSS). Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan desa dengan aktivitas sederhana namun baginya penuh makna mulai dari berteman dan bersosial bersama warga sekitar, bermain di alam perkampungan, hingga belajar dalam keterbatasan. Pengalaman hidup tersebut membentuk karakter Hamzah menjadi pribadi yang adaptif dalam berbagai hal, kini justru karakter tersebutlah yang mengantarkannya melangkah jauh dari kampung halaman hingga duduk di bangku sidang akhir perkuliahan menandai perjalanan panjang seorang anak yang punya impian dari pelosok Kalimantan Selatan menuju dunia akademik. Setelah menamatkan sekitar enam tahun pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya, ia tidak sepenuhnya menghabiskan masa remajanya di kampung halaman tempat ia tumbuh. Demi menempuh pendidikan yang lebih baik ia memilih untuk merantau ke Hulu Sungai Utara tepatnya di Amuntai, Alabio. Di daerah tersebut ia mengenyam pendidikan di MTs Muallimin dan MA Muallimin Muhammadiyah Alabio sekaligus menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio. Dalam perjalanannya ia kerap mendengar pandangan dari sebagian warga desa yang menyarankan agar tidak perlu bersekolah terlalu jauh karena latar belakangnya sebagai anak desa. Namun baginya anggapan tersebut bukanlah sebuah pembatas melainkan motivasi untuk belajar lebih giat.“Pendidikan orang kota dan orang desa itu sama mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan di mana pun,” ujarnya, menegaskan keyakinannya bahwa asal-usul tidak boleh menjadi penghalang dalam meraih cita-cita melalui pendidikan. Selama menempuh pendidikan di MTs Muallimin Muhammadiyah Alabio, MA Muallimin Muhammadiyah Alabio hingga di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan berprestasi baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Berbagai capaian yang diraihnya menjadi bukti kesungguhan dalam belajar dan mengembangkan diri di tengah keterbatasan sebagai perantau. Semangat juang tersebut tidak berhenti di jenjang pendidikan menengah melainkan terus ia bawa hingga ke bangku awal perkuliahan. Bagi Hamzsah konsistensi dalam berprestasi bukan sekadar pencapaian pribadi melainkan bentuk persembahan dan tanggung jawab moral kepada kedua orang tuanya yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan penuh terhadap perjalanan pendidikannya. Setelah menamatkan pendidikan menengah ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dengan memilih Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selama masa perkuliahan waktunya tidak hanya diisi dengan aktivitas akademik, tetapi juga membangun relasi pertemanan, aktif berorganisasi, serta mengikuti berbagai ajang perlombaan. Sejak memasuki semester dua ia mulai dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki prestasi dan kerap mengharumkan nama kampus melalui kompetisi tingkat nasional. Sejumlah capaian berhasil ia torehkan di antaranya juara I Kompetisi Debat Nasional Aksara Law Competition, juara I Debate Competition For University Season 4, juara II Lomba Debat Semarak Nasional Pendidikan Masyarakat Ke-3, juara II Lomba Debat Hukum Nasional bertajuk Good Governance in the Digital Era for Protection of Cyberspace, juara II Debate Competition For University Season 3, serta juara III Sharia National Debate Championship 2025 (SNDC) disertai berbagai prestasi lainnya yang semakin menegaskan kiprahnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UMM yang unggul dan berdaya saing. Kini perjalanan akademiknya memasuki babak akhir setelah ia resmi menyelesaikan tugas akhirnya yang ditandai dengan pelaksanaan sidang akhir perkuliahan pada 10 Januari 2026 kemaren hari. Momen tersebut menjadi penanda bahwa langkah panjang yang ia tempuh sejak dari perkampungan Tambak Pipi’i hingga bangku perkuliahan hampir mencapai garis akhir. Melalui capaian tersebut Hamzah menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak desa “agar tidak pernah menyerah pada mimpi dan cita-cita yang ingin diraih. Ia menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah, dan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berjalan di jalan yang diyakini, meski banyak orang menilai jalan tersebut tidak mungkin untuk ditempuh.
Jalankan KKN Berdampak, Rektor UMM Tekankan Wujud Nyata Bangun Desa Melalui SDG’s

Bukan sekadar rutinitas akademik, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengubah paradigma pengabdian masyarakat menjadi solusi konkret masalah desa. Melalui pelepasan 500 mahasiswa peserta KKN Berdampak 2026, Sabtu (24/1), Kampus Putih menargetkan intervensi jangka panjang di 17 kecamatan Malang Raya. Program ini dirancang khusus sebagai katalisator tiga pilar utama SDGs, Pendidikan Berkualitas, Kehidupan Sehat, dan Kemitraan Strategis demi mewujudkan kemandirian desa hingga sepuluh tahun ke depan. Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM, Ir. Iis Siti Aisyah, MT. PhD. IPM, menegaskan bahwa KKN Berdampak kali ini dirancang dengan pendekatan strategis berbasis data. Dalam penentuan lokasi dan program pengabdian, pihaknya menerapkan prinsip Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17) sebagai landasan utama. Prinsip kemitraan ini menjadi pondasi untuk menggerakkan pilar-pilar lainnya secara efektif. “Kami tidak sekadar menempatkan mahasiswa, tetapi membangun sinergi. Karena itu, kami berkoordinasi intensif dengan tiga komponen kunci yaitu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), serta pemerintah desa setempat. Tujuannya adalah memetakan potensi dan masalah riil, sehingga program yang digarap benar-benar menjawab kebutuhan desa secara presisi,” ujar Iis. Dari hasil pemetaan partisipatif tersebut, para mahasiswa kemudian diterjunkan untuk mengakselerasi pencapaian target di dua sektor krusial lainnya. Pertama, mahasiswa menjadi garda terdepan mendukung Pendidikan Berkualitas (SDGs 4) melalui pendampingan intensif di sekolah dan madrasah, penguatan kurikulum pesantren, hingga pelatihan literasi digital bagi guru dan siswa. Kedua, aspek kesejahteraan fisik dan mental masyarakat disentuh secara mendalam melalui program Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3). Mahasiswa diproyeksikan aktif dalam penyuluhan kesehatan serta perbaikan sanitasi lingkungan. Upaya mewujudkan kehidupan yang sejahtera ini juga diperkuat dengan pendampingan ekonomi bagi pelaku UMKM dan penerapan teknologi tepat guna, yang bermuara pada peningkatan kualitas hidup warga desa secara menyeluruh. Disisi lain, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan agar mahasiswa KKN mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia mendorong mahasiswa untuk mentransformasikan ilmu konseptual dari kampus menjadi solusi praktis di lapangan. Kehadiran mahasiswa diharapkan tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban akademik, tetapi mampu menciptakan lingkungan visioner yang menyatukan pemikiran akademis dengan kebutuhan riil warga, sehingga keberadaan mereka benar-benar dirasakan manfaatnya. “Saya harap mahasiswa dapat menciptakan situasi atau lingkungan belajar yang visioner, yaitu menggabungkan antara pengalaman belajar secara konseptual dan praktik agar pikiran kita dapat menyatu dengan suasana yang dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Inovasi Untuk UMKM, Petani Hingga Tunanetra: UMM Gelar Industrial Engineering Expo 2026

MALANG POST – Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 sebagai ajang pameran karya dan inovasi mahasiswa pada Rabu (22/1/2026). Bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, hingga pengembangan produk aplikatif. Pada IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Mulai dari alat untuk membantu para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti ekstraksi buah, roaster kopi, serta alat yang membantu para petani padi dalam mengeringkan gabah tanpa harus menjemur dibawah sinar matahari. Menariknya, juga ada alat yang dapat membantu tunanetra dalam mengetahui area sekitar dengan memberi getaran berdasarkan sensor. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menjelaskan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Rinciannya, sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk dari Perancangan dan Pengembangan Produk. Sistem Taktil Jarak Hands Free, Peringatan Getar Dini Untuk Gerak Yang Lebih Aman bagi Tunanetra. (Foto: Istimewa) “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST juga dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak memulai penelitian dari nol, melainkan mengembangkan kajian yang telah dirancang. Dengan demikian, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan produk, tetapi juga membangun cara berpikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin ilmu. “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa IE EXPO sejalan dengan visi Fakultas Teknik UMM. Untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha serta di kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari aspek akademik semata. Namun juga diberi ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer, serta membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional di bidang teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual, jembatan kolaborasi dengan dunia industri, serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri.(*/M Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
PPG UMM Kukuhkan 3.016 Guru, Siap Wujudkan Indonesia Emas 2045

radarmalang, MALANG – PPG Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dan mengambil sumpah profesi terhadap 3.016 guru, Kamis (22/1). Ribuan peserta yang mengikuti prosesi secara luring dan daring tersebut merupakan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Pengukuhan ini menegaskan komitmen UMM dalam mencetak guru profesional dan berdaya saing untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. Para peserta telah menuntaskan seluruh rangkaian pendidikan profesi sebagai syarat pengakuan kompetensi dan legalitas profesi pendidik. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RIDr. Fesal Musaad, M.Pd., menegaskan, mutu pendidikan madrasah sangat ditentukan oleh kualitas guru. ”Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya diakui sebagai profesi yang berkompetensi dan berkelanjutan,” ujarnya. BERI AMANAH: Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menegaskan pendidikan madrasah sebagai bagian integral dari kultur pendidikan bangsa. Ia menambahkan, guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran. ”Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah ujung tombak pembelajaran,” tegas Fesal. Karena itu, menurutnya, program PPG dalam jabatan menjadi bagian penting dari upaya negara menjamin mutu pendidikan madrasah. Ketua Program PPG FKIP UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menyebut pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting perjalanan pendidik. SAMBUTAN: Ketua Program PPG UMM Prof Trisakti Handayani menekankan pendidik yang terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. ”PPG dalam jabatan bukan sekadar proses administratif memperoleh sertifikat, tetapi pengakuan atas dedikasi dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri dan pendidikan nasional,” jelasnya. Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital.
Angkat Tentang Menstruasi, Penelitian Mahasiswa UMM Tembus Publikasi Scopus

Capaian membanggakan diraih Rintan Rikawati, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Riset yang ia lakukan berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q2, sebuah prestasi bergengsi di tingkat global yang tidak mudah dicapai oleh mahasiswa. Penelitian tersebut mengangkat isu strategi coping perempuan dalam menghadapi perubahan pramenstruasi, topik yang kerap dianggap sepele namun berdampak besar pada kesehatan fisik dan psikologis perempuan. Rintan menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada cara perempuan mengelola perubahan emosi, fisik, dan psikologis menjelang menstruasi melalui berbagai mekanisme coping. Menurutnya, respons perempuan terhadap fase pramenstruasi sangat beragam dan dipengaruhi oleh banyak faktor. “Setiap perempuan memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. Ada yang lebih mudah mengelola emosinya, ada juga yang membutuhkan dukungan lebih besar dari lingkungan sekitar,” ujar Rintan 22 Januari lalu pada tim humas UMM. Ketertarikan Rintan terhadap topik ini berawal dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami perubahan suasana hati menjelang menstruasi. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk lebih memahami bagaimana perempuan dapat mengelola emosi dan kondisi fisik secara sehat. “Saya juga mengalami perubahan emosi menjelang menstruasi. Dari situ muncul keinginan untuk memahami apakah ada cara yang lebih sehat dan efektif untuk mengelola kondisi tersebut,” ungkapnya. Penelitian berjudul “Translation and Validation of the Premenstrual Change Coping Inventory in Indonesian Version” ini melibatkan 321 responden perempuan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak perempuan menerapkan strategi coping dengan menyibukkan diri melalui aktivitas positif, seperti berkumpul bersama teman atau berbagi cerita. “Dari hasil penelitian, komunikasi dan dukungan sosial terbukti menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga kestabilan emosi perempuan menjelang menstruasi,” jelasnya. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti pentingnya kesadaran diri terhadap kondisi tubuh. Perempuan yang memahami siklus menstruasinya cenderung lebih siap secara mental dalam menghadapi perubahan pramenstruasi. “Perempuan yang mengenal tubuhnya sendiri biasanya lebih cepat menyadari tanda-tanda perubahan emosi. Mereka kemudian bisa langsung menerapkan strategi coping, seperti mengatur aktivitas atau memperbanyak istirahat,” tambahnya. Rintan juga menemukan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam keberhasilan strategi coping. Dukungan keluarga, teman, dan lingkungan kampus membuat perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat menghadapi fase pramenstruasi. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar justru dapat memperburuk kondisi emosional. “Lingkungan yang suportif sangat membantu perempuan untuk tidak merasa sendirian. Sebaliknya, stigma atau anggapan berlebihan justru bisa memperparah tekanan emosional,” katanya. Melalui riset ini, Rintan menyoroti masih adanya kesenjangan pemahaman terkait kesehatan reproduksi, terutama di kalangan masyarakat awam. Ia menilai banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan emosi saat pramenstruasi merupakan kondisi alami yang perlu dikelola dengan tepat. “Perubahan emosi menjelang menstruasi itu wajar. Yang penting adalah bagaimana perempuan memahami dan mengelolanya, bukan memendam atau mengabaikannya,” tegas Rintan. Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi dasar pengembangan edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif. Menurutnya, edukasi tidak hanya perlu menekankan aspek biologis menstruasi, tetapi juga aspek psikologis dan sosial. “Perempuan perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi perubahan ini. Ada cara-cara sehat yang bisa dilakukan untuk menjaga keseimbangan fisik dan mental,” ujarnya. Sementara itu, dosen pembimbing Rintan, Henny Dwi Susanti, MKep., Sp.Kep.Mat., PhD, menjelaskan bahwa sejak awal penelitian ini memang dirancang tidak berhenti sebagai skripsi semata. “Kami mendorong mahasiswa untuk memahami metodologi penelitian secara mendalam, konsisten dengan kaidah ilmiah, dan siap menerima masukan, termasuk dari reviewer internasional,” jelas Henny. Ia menegaskan bahwa penelitian ini memiliki implikasi langsung bagi praktik keperawatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan reproduksi perempuan. “Dengan adanya instrumen yang telah tervalidasi, perawat dapat lebih mudah mengidentifikasi pola coping perempuan terhadap perubahan pramenstruasi dan menyusun intervensi keperawatan yang lebih tepat sasaran,” tambahnya. Henny berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan bagi pengembangan riset lanjutan, baik dalam konteks pendidikan keperawatan maupun pelayanan kesehatan reproduksi di Indonesia.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman