KKN Tematik UMM Gelar Selametan Wirogo

RRI.CO.ID, Malang – Upaya pelestarian tradisi Jawa terus dilakukan oleh generasi muda. Pada Selasa, 28 Januari 2025, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UMM Bersampak Kelompok 14 melaksanakan kegiatan pembuatan jenang abang dan jenang petak bersama masyarakat Kampung Budaya Polowijen (KBP). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Selametan Wirogo, sebuah tradisi selametan weton yang sarat dengan nilai spiritual, refleksi diri, dan penghormatan terhadap leluhur. Prosesi pembuatan jenang dilakukan secara gotong royong di pawon tradisional KBP. Mulai dari persiapan bahan hingga proses memasak, mahasiswa KKN didampingi langsung oleh warga setempat agar tetap mengikuti pakem budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Jenang abang dan jenang petak tidak sekadar sajian kuliner, tetapi menjadi simbol keseimbangan hidup, kesucian niat, serta harapan akan keselamatan dan keberkahan. Budayawan Malang, Syamsul Subakri, yang turut ngujubkan doa dalam selametan tersebut, menjelaskan bahwa selametan weton merupakan bentuk selametan wirogo, yakni doa yang ditujukan untuk keselamatan raga dan batin manusia. “Selametan weton itu disebut selametan wirogo. Di dalamnya ada bubur merah putih sebanyak tujuh macam, terdiri dari lima bubur sengkolo dan dua bubur palang. Ini bukan sekadar makanan, tapi simbol penolak bala dan permohonan keselamatan hidup,” ujar Syamsul Subakri, Kamis (29/1/2026). Ia menambahkan, bubur merah melambangkan unsur darah, keberanian, dan dinamika kehidupan manusia, sementara bubur putih melambangkan kesucian, niat yang bersih, serta asal mula kehidupan. Lima bubur sengkolo dimaknai sebagai upaya manusia untuk menyingkirkan energi negatif, kesialan, dan hambatan hidup, sedangkan dua bubur palang melambangkan penyeimbang sekaligus penjaga agar manusia tetap berada di jalan yang lurus dan selaras dengan alam serta Sang Pencipta. “Tujuh bubur itu mencerminkan tujuh lapisan kesadaran manusia. Harapannya, yang diselameti diberi kekuatan lahir batin, dijauhkan dari sengkolo, dan diberi umur yang manfaat,” imbuhnya. Selain prosesi selametan, kegiatan ini juga diisi dengan sesi sharing budaya bersama Mbah Jo, yang juga dalang wayang suket, Mahasiswa aktif berdialog untuk menggali pemahaman mengenai dinamika budaya tradisional di tengah arus modernisasi. Salah satu mahasiswa, Shela Putri, mempertanyakan fenomena penggunaan musik remix dalam tradisi berot dan kaitannya dengan modernisasi budaya. Diskusi ini membuka ruang refleksi tentang batas adaptasi tanpa menghilangkan ruh tradisi. Mahasiswa lainnya, Siti Afrima, juga mengajukan pertanyaan mengenai peran wayang dalam kehidupan masyarakat masa kini. Hal ini menegaskan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan moral, sejarah, dan filosofi kehidupan. Melalui kegiatan Selametan Wirogo dan diakusi dalam acara sinau budaya ini, mahasiswa KKN tematikUMM kelompok 14 tidak hanya belajar tentang tradisi kuliner lokal, tetapi juga memperoleh pemahaman mendalam mengenai nilai spiritual, seni, dan kearifan lokal Kampung Budaya Polowijen. Diharapkan kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali tradisi budaya agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. (Mey)
Kerja Berlebihan Ancam Kesejahteraan Sosial Pekerja, Ini Faktanya

MAKLUMAT – Fenomena kerja berlebihan yang kian jamak di tengah masyarakat Indonesia tak bisa dipandang sebagai persoalan etos kerja. Di balik jam kerja panjang yang kerap diagungkan sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi. Pada dasarnya, persoalan ini tersembunyi ancaman serius terhadap kesejahteraan sosial individu dan keluarga. Sebagaimana disampaikan dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW. Dalam pandangannya, kerja berlebihan merupakan isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Menurutnya, kesejahteraan tidak bisa diukur dari besaran pendapatan, tetapi dari kemampuan individu menjalankan fungsi sosial secara seimbang. “Kerja berlebihan tidak bisa dianggap sepele. Ini persoalan keadilan sosial. Jika negara ingin kuat, kesejahteraan individu dan keluarga harus menjadi prioritas,” ujar Eko, Selasa (27/1/2026). Pentingnya Perlindungan Kesehatan Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan skala persoalan tersebut. Sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia tercatat bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Data ini menunjukkan bahwa kerja berlebihan bukan lagi fenomena kasuistik, melainkan persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan. Eko menjelaskan, bekerja melampaui batas kerap bukan pilihan bebas pekerja. Minimnya perlindungan dan jaminan sosial membuat banyak orang terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi bertahan hidup. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakannya adalah well-being. Bukan hanya ekonomi, tapi juga aspek sosial, psikologis, dan kesehatan,” jelasnya. Baca Juga UMM Cetak Pemimpin Masa Depan Melalui LKMM Peran Sosial Berpotensi Terkikis Dampak kerja berlebihan, lanjut Eko, tidak berhenti di ruang kerja. Jam kerja panjang berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Relasi orang tua dananak, hingga keharmonisan rumah tangga, menjadi taruhannya. Kelompok pekerja rentan seperti sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, serta pekerja perempuan dengan beban ganda berada pada posisi paling terdampak. Tanpa perlindungan memadai, kerjaberlebihan berisiko menjadi bentuk eksploitasi modern yang terselubung. “Negara yang kuat dibangun dari keluarga yang sehat secara psikososial. Jika kerja justru merusak relasi keluarga, ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa,” tegas akademisi Universitas Muhammadiyah Malang itu. Ia mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, regulasi tidak semestinya hanya berorientasi pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup manusia.
Ecoprint Lebih Efisien dan Berkualitas, Mahasiswa UMM Hadirkan Teknologi Tepat Guna untuk UMKM

Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium canggih atau proyek berskala besar. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), solusi bagi pelaku UMKM justru dirancang dari ruang kelas. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri UMM menghadirkan Steam Press Ecoprint, sebuah alat produksi yang menawarkan efisiensi sekaligus peningkatan kualitas pada proses ecoprint. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Iqbal Rafif Yuliono, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2023, bersama timnya. Gagasan ini berangkat dari pengamatan langsung terhadap praktik ecoprint di lapangan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama pada konsistensi hasil dan durasi produksi. Iqbal menuturkan bahwa proses ecoprint yang umum digunakan pelaku usaha masih mengandalkan metode manual atau sistem otomatis sederhana. Keduanya dinilai belum mampu menghasilkan kualitas warna dan detail motif yang optimal. Dari persoalan itulah, ide untuk menggabungkan sistem manual dan otomatis mulai dirumuskan. “Kami melihat ecoprint itu biasanya dilakukan secara manual atau otomatis. Dari situ muncul ide untuk menggabungkan keduanya dengan memanfaatkan mesin press yang dipadukan dengan sistem uap,” ujar Iqbal saat diwawancara Tim Humas UMM, 27 Januari lalu. Steam Press Ecoprint bekerja dengan mengintegrasikan panas, uap, dan tekanan melalui pelat logam pada mesin press. Pendekatan ini berbeda dari metode kukus konvensional yang menggunakan air secara langsung dan kerap menghasilkan warna yang kurang tajam serta motif yang tidak merata. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan uap bertekanan terbukti mampu memunculkan warna kain yang lebih kuat dan detail motif yang lebih jelas. Metode ini juga membantu menjaga konsistensi hasil, terutama pada produksi dalam jumlah lebih banyak. “Ketika kami bandingkan, hasil ecoprint menggunakan uap melalui mesin press warnanya jauh lebih keluar dan motifnya lebih tegas dibandingkan metode kukus biasa,” tambahnya. Alat ini telah diuji coba secara terbatas pada pelaku UMKM, salah satunya Kenikir Natural Ecoprint yang berlokasi di Bululawang, Kabupaten Malang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Steam Press Ecoprint mampu menghasilkan warna yang lebih konsisten, sekaligus meningkatkan kualitas visual kain ecoprint. Dari sisi efisiensi, Steam Press Ecoprint tidak semata-mata mengejar kecepatan produksi. Alat ini justru dirancang untuk menyesuaikan proses dengan tingkat detail motif yang diinginkan. Dengan demikian, pelaku usaha tetap dapat menghasilkan kain ecoprint yang presisi dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Steam Press Ecoprint juga dirancang agar ramah bagi UMKM skala kecil. Alat ini fleksibel digunakan pada berbagai jenis kain, bahkan beberapa material dengan tekstur tertentu menunjukkan hasil motif yang lebih maksimal ketika diproses menggunakan sistem uap dan tekanan. Dalam proses perancangannya, Iqbal mengakui peran dosen pembimbing sangat krusial, terutama dalam mendorong mahasiswa agar peka terhadap kebutuhan masyarakat dan mampu menghadirkan inovasi yang aplikatif. Ke depan, ia berharap Steam Press Ecoprint dapat dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, struktur yang lebih kuat, serta sistem pengoperasian yang semakin sederhana. “Jangan takut mencoba. Mulai saja dulu, karena dari proses itulah kita belajar memahami masalah dan menemukan solusi yang benar-benar dibutuhkan,” pesannya. Sementara itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., mengapresiasi karya mahasiswa tersebut sebagai bukti nyata keberhasilan pembelajaran berbasis praktik. Menurutnya, inovasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis, mengolah ide, dan menerapkan konsep perkuliahan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Prodi Teknik Industri UMM, lanjutnya, berkomitmen mendorong pengembangan karya mahasiswa agar tidak berhenti sebagai tugas akademik semata, melainkan mampu memberi manfaat luas bagi masyarakat. “Kami ingin mahasiswa berani mencoba, peka terhadap masalah di sekitarnya, dan mampu menghadirkan solusi yang relevan melalui karya-karya inovatif,” tutupnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kisah Mahasiswa Farmasi UMM Bangun Apotek 24 Jam di Malang, Kuliah dan Bisnis Jalan Bersama

SURYAMALANG.COM, MALANG – Tak sedikit mahasiswa yang mampu menjalankan bisnis di tengah padatnya jadwal perkuliahan. Mereka harus mampu mengorbankan waktunya, demi menjalani bisnis sebagai upaya dalam meningkatkan ekonominya. Hal yang tak biasa itu dilakukan oleh Melani Rahmabutri, mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Perempuan asal Kalimantan Selatan itu nekat merintis bisnis apotek 24 jam yang diberi nama Apotek M-24 yang berlokasi di Jalan Candi Panggung Nomor 30, Mojolangu Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Sembari tetap aktif menjalani perkuliahan dan praktikum, mahasiswa semester tujuh itu telah membuka bisnisnya sejak September 2025 kemarin. Tertarik Dunia Farmasi Melani tertarik pada dunia farmasi sejak ia duduk bangku sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia merupakan lulusan SMK Farmasi sebelum melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang itulah yang menjadi bekal sekaligus penguat keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ucapnya, Rabu (28/1/2026). Keputusan Melani terjun ke dunia usaha bukan tanpa risiko. Saat sebagian besar mahasiswa Gen Z fokus mengejar kelulusan, ia harus pandai membagi waktu antara tugas akademik dan tanggung jawab mengelola apotek. Namun bagi Melani, dunia kampus dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. APOTEK SENDIRI – Melani Rahmabutri, melayani masyarakat di apoteknya sendiri. Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 mampu membuka Apotek 24 jam disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa. Bisnisnya ini dimulai dari ketertarikannya dengan dunia farmasi. Konsep Apotek Tertata Sejak Awal Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 tersebut mengusung konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek milik Melani juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
KKN Tematik UMM Olah Singkong Jadi Jajanan Tradisional

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen (KBP) terus menghidupkan pawon sebagai dapur tradisional Jawa yang dimaknai bukan sekadar tempat memasak, tetapi sebagai ruang edukasi sosial budaya. Pawon menjadi pusat interaksi warga, ruang rewang, serta sarana menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan pelestarian tradisi kuliner lokal yang kian tergerus modernisasi. Kelompok 14 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan KKN Tematik di Kampung Budaya Polowijen, pada Senin (26/1/2026), mempraktikkan pembuatan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang dipanen dari pekarangan warga. Kegiatan ini diikuti oleh Desfian Achmad Saputra (Hukum), Najwa Nabila (Farmasi), dan Elsa (Ilmu Kesejahteraan Sosial). Pemangku Pawon KBP, Siti Juwariyah, mengaku senang pawon masih menjadi ruang belajar lintas generasi. “Saya senang anak-anak muda masih mau dan bisa membuat jajanan tradisional. Di pawon KBP ini segala macam makanan tradisional bisa dibuat, mulai dari bubur selametan, jenang gede, cenil, kue srabi, apem, sampai masak sego berkat dan tumpeng. Semua biasanya dibuat di pawon ini,” tuturnya, Rabu (28/1/2026). Advertisement Ia menambahkan, pawon KBP juga terbuka bagi pengunjung yang ingin mengambil paket edukasi membuat jajanan tradisional maupun sekadar mencicipi hidangan khas. Kegiatan diawali dengan pengenalan singkong sebagai bahan utama jajanan pasar karena rasanya gurih, teksturnya kenyal, dan harganya terjangkau. Beragam olahan diperkenalkan, seperti getuk, misro, combro, lemet, sawut, sentiling, sate singkong, putri noong, onde-onde singkong, timus, keripik, tape singkong, hingga singkong keju yang umumnya disajikan dengan parutan kelapa. Mahasiswa juga mempelajari pembuatan wadah makanan dari daun pisang, mulai dari takir, pincuk, sudi, sumpil, tempelang, pinjung, hingga pasung. Proses melipat dan menyemat daun pisang ini menjadi bagian penting dari pembelajaran kuliner tradisional yang ramah lingkungan. Advertisement Salah satu peserta KKN, Najwa Nabila, mengaku kegiatan ini terasa dekat dengan pengalaman pribadinya. “Sebenarnya jajanan seperti ini masih sering saya jumpai di kampung halaman saya. Saya juga pernah membantu ibu membuat jajanan lemet, dan kalau ke pasar tradisional masih bisa menemukan jajanan singkong seperti ini,” ujarnya. Proses pembuatan lemet singkong dilakukan secara tradisional, mulai dari mencampur singkong parut, gula merah, kelapa parut, dan garam, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus menggunakan tungku kayu bakar di pawon KBP dengan dandang logam dan kukusan anyaman bambu. Setelah matang, jajanan tradisional tersebut dihidangkan dan dinikmati bersama seluruh mahasiswa KKN Tematik UMM. Melalui pawon, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga menumbuhkan ruang belajar bersama yang memperkuat solidaritas, gotong royong, dan kesadaran budaya lintas generasi. (Mey)
Di Balik Kasih Sayang Palsu, Psikolog UMM Bongkar Modus Pelaku Child Grooming

KLIKMU.CO – Kasus child grooming yang kembali mencuat ke ruang publik menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Kekerasan ini kerap bekerja melalui manipulasi emosional yang disamarkan sebagai perhatian dan kasih sayang, sebagaimana yang dialami artis Aurelie Moeremans. Di tengah sorotan media dan perdebatan warganet, pemahaman keliru tentang posisi korban masih menguat, mulai dari penghakiman hingga anggapan bahwa kekerasan terjadi atas dasar “kesepakatan”. Menanggapi situasi tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ratih Eka Pertiwi SPsi MPsi Psikolog menegaskan bahwa child grooming merupakan persoalan serius yang sering luput dikenali karena berlangsung secara perlahan, sistematis, dan melibatkan relasi kuasa yang timpang. “Pelaku sering dipersepsikan sebagai sosok yang baik, peduli, dan penuh perhatian. Akibatnya, korban merasa nyaman bahkan membela pelaku karena terbentuk emotional attachment yang kuat, mirip dengan Stockholm syndrome,” ujar Ratih kepada Tim Humas UMM, Senin (26/1/2026). Dia menjelaskan, fase awal grooming kerap diabaikan karena tidak menunjukkan kekerasan fisik secara langsung. Banyak kasus baru dipahami sebagai kekerasan ketika sudah terjadi pelecehan seksual, padahal manipulasi emosional telah berlangsung jauh sebelumnya dan meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi korban. “Proses grooming itu tidak kasat mata. Ketika kekerasan baru diakui setelah ada kontak fisik, berarti kita sudah terlambat melindungi anak,” tegasnya. Menurut Ratih, relasi kuasa menjadi elemen kunci dalam praktik child grooming, terutama ketika pelaku memiliki usia lebih tua, posisi sosial lebih tinggi, atau popularitas tertentu. Ketimpangan ini kerap berujung pada praktik victim blaming, di mana korban justru disalahkan atas kekerasan yang dialaminya. Kondisi tersebut semakin menyempitkan ruang aman bagi korban untuk berbicara dan mencari pertolongan. “Ketika korban disalahkan atau dianggap ikut berperan, itu adalah bentuk victim blaming yang sangat merugikan dan justru memperparah trauma psikologis korban,” ujarnya. Ia menambahkan, tanda-tanda child grooming dapat dikenali melalui perubahan emosi dan perilaku anak, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan suasana hati yang ekstrem, serta kecenderungan menyimpan rahasia dari keluarga. Di era digital, risiko ini semakin besar karena pelaku dapat menjangkau anak melalui media sosial, gim daring, dan berbagai platform komunikasi lainnya. “Jika anak diminta merahasiakan hubungan atau dibuat merasa bersalah saat menolak permintaan orang dewasa, itu sudah merupakan alarm serius yang tidak boleh diabaikan,” tandas Ratih. Sebagai penutup, Ratih menekankan bahwa pencegahan child grooming membutuhkan kesadaran kolektif melalui relasi keluarga yang hangat, komunikasi terbuka, pendidikan seksual yang sesuai usia, serta pengawasan aktif terhadap aktivitas digital anak. “Perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga keberanian masyarakat untuk mengkritisi relasi yang tampak normal namun berpotensi membahayakan,” katanya. (Faqih/AS)
Budaya Gila Kerja Dinilai Mengancam Kualitas Hidup, Dosen UMM Sebut Overwork Masalah Sistemik

Malang, JATIMSATUNEWS.COM – Budaya kerja berlebihan atau overwork yang kian dianggap lumrah di Indonesia mendapat sorotan serius dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial UMM, Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW, menilai overwork bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah sistemik yang berkaitan erat dengan keadilan sosial dan kualitas hidup manusia. Menurut Eko, kesejahteraan tidak bisa hanya diukur dari besarnya penghasilan atau capaian produktivitas kerja. Lebih dari itu, kesejahteraan menyangkut kemampuan individu menjalankan fungsi sosialnya secara seimbang, termasuk dalam keluarga dan lingkungan sosial. “Overwork bukan hal sepele. Ini menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Jika Indonesia ingin menjadi negara yang kuat dan berdaya, maka kesejahteraan individu dan keluarga harus menjadi prioritas,” ujarnya, Selasa (27/1/2026). Fenomena jam kerja panjang, kata Eko, masih kerap dipersepsikan sebagai simbol loyalitas dan etos kerja tinggi. Padahal, di balik glorifikasi budaya “gila kerja”, terdapat persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan yang perlahan menggerus kesejahteraan pekerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 25,5 persen atau 37,3 juta pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Angka tersebut menandakan bahwa overwork telah menjadi persoalan yang meluas dan sistemik. Eko menjelaskan, dalam banyak kasus, bekerja melebihi batas bukanlah pilihan bebas pekerja. Minimnya perlindungan dan jaminan sosial membuat banyak orang terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan hidup. Situasi ini memperlihatkan lemahnya sistem sosial dalam melindungi hak dasar pekerja, termasuk ketika lembur dianggap sebagai kewajiban yang dinormalisasi. “Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakan utamanya adalah well-being. Ini mencakup keseimbangan aspek ekonomi, sosial, psikologis, hingga kesehatan,” jelasnya. Dampak overwork, lanjut Eko, tidak hanya berhenti di tempat kerja. Jam kerja yang berlebihan berpotensi menimbulkan kelelahan fisik dan mental, serta melemahkan peran sosial individu di dalam keluarga. Ia menyoroti kelompok pekerja yang paling rentan, seperti pekerja sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, dan pekerja perempuan yang kerap menghadapi beban ganda. Tanpa perlindungan dan kompensasi yang layak, jam kerja panjang berisiko berubah menjadi praktik eksploitasi modern yang terselubung di balik tekanan ekonomi. “Negara yang kuat dibangun dari individu dan keluarga yang sehat secara psikososial. Jika beban kerja justru merusak relasi keluarga, seperti renggangnya hubungan orang tua dan anak, ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa,” tegasnya. Sebagai solusi, Eko mendorong penguatan advokasi serta kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan produktivitas, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial tenaga kerja. “Kebijakan ketenagakerjaan harus menjamin batas kerja yang wajar, perlindungan sosial yang memadai, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga, agar pembangunan ekonomi tidak dibayar dengan hilangnya kualitas hidup manusia,” pungkasnya. Sumber: Rilis berita UMM
Cerita Mahasiswa Gen Z UMM yang Nekat Buka Apotek di Tengah Padatnya Jadwal Kuliah

pwmu.co – Di tengah jadwal kuliah yang padat dan tuntutan akademik sebagai mahasiswa semester tujuh, Melani Rahmabutri justru mengambil langkah yang tak biasa bagi kebanyakan mahasiswa seusianya.Mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 ini nekat merintis bisnis apotek 24 jam, sembari tetap menjalani perannya sebagai mahasiswa aktif. Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan. Di saat sebagian besar mahasiswa Gen Z masih berfokus menyelesaikan studi, Melani harus membagi waktu antara perkuliahan, praktikum, dan tanggung jawab mengelola usaha. Namun baginya, dunia akademik dan bisnis justru bisa berjalan beriringan. Apotek yang mulai beroperasi sejak September 2025 itu hadir dengan konsep pelayanan komprehensif dan humanis. Tak hanya melayani penjualan obat, apotek ini juga aktif melakukan edukasi kesehatan, penyuluhan ke desa-desa, hingga menyediakan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Mulai dari pemeriksaan gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah, semuanya dapat diakses tanpa dipungut biaya. Mahasiswa asal Kalimantan Selatan itu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia farmasi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Ia merupakan lulusan SMK Farmasi yang kemudian melanjutkan pendidikan S1 Farmasi di UMM. Latar belakang tersebut menjadi bekal kuat sekaligus alasan di balik keberaniannya membuka apotek di usia muda. “Sejak awal memang ingin punya apotek. Dari SMK sampai kuliah saya berada di jalur farmasi, jadi ini bukan keputusan yang tiba-tiba,” ujarnya. Dalam pengelolaan usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA), sementara tanggung jawab kefarmasian dijalankan oleh dua apoteker resmi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh layanan berjalan sesuai regulasi dan standar profesi. “Kami selalu mengedepankan konsultasi sebelum pemberian obat. Pasien ditanya dulu kondisinya, riwayat obatnya, lalu kami jelaskan cara penggunaan dan penyimpanan agar tidak terjadi medication error,” jelasnya. Kesibukan mengelola apotek tak membuat Melani berhenti berkontribusi langsung ke masyarakat. Bersama timnya, ia rutin terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, mulai dari acara RT, desa, hingga kegiatan warga, sambil membuka layanan cek kesehatan gratis sebagai bentuk pengabdian. “Kami sering ikut kegiatan warga. Di sana kami adakan cek gula darah, asam urat, kolesterol, dan tekanan darah gratis. Ini bagian dari edukasi supaya masyarakat lebih peduli pada kesehatan,” tuturnya. Mengikuti karakter Gen Z yang akrab dengan teknologi, apotek ini juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Layanan pemesanan obat daring pun terhubung langsung ke WhatsApp, lengkap dengan fasilitas antar obat gratis untuk pelanggan dalam radius dua kilometer. Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Melani juga memberdayakan generasi muda dengan merekrut pegawai dari kalangan Gen Z. Selain memiliki latar belakang farmasi, para pegawai dilibatkan aktif dalam pembuatan konten edukasi sebagai bagian dari strategi branding. Melalui pengalamannya, Melani berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, meski di tengah kesibukan kuliah. “Jangan takut memulai. Ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah seharusnya bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim