Bahasa Guru Bukan Sekadar Instruksi: Penelitian UMM Ungkap Peran Strategis Tindak Tutur dalam Pendidikan Karakter dan Literasi Kritis Siswa SD

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Bahasa guru di ruang kelas ternyata tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai materi pelajaran. Lebih dari itu, bahasa menjadi instrumen strategis yang membentuk karakter, nilai moral, serta kemampuan berpikir kritis siswa sejak usia dini. Temuan tersebut mengemuka dalam penelitian berjudul “Kajian Pragmatik pada Bahasa Guru dalam Pendidikan Karakter dan Literasi Kritis Pembelajaran Siswa SD” yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian ini diketuai oleh Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., dosen Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, dengan anggota Dr. Erna Yayuk, M.Pd. (dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM), serta melibatkan dua mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM, Devi Putri Susilo dan Fatin Safunatunnaja. Kajian ini secara khusus menyoroti bagaimana tindak tutur guru, yang meliputi ujaran, instruksi, pertanyaan, hingga respons verbal. Kajian tersebut berperan dalam menanamkan pendidikan karakter dan mendorong literasi kritis siswa sekolah dasar. Tri Ningsih, Guru di SDN Sukamaju 04 sedang menjelaskan materi IPAS Kelas IV (bagian-bagian tumbuhan) dengan menghadirkan contoh tumbuhan secara langsung di kelas, sehingga pembelajaran berlangsung kontekstual, interaktif, dan membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman nyata. Penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap sembilan pembelajaran uji kinerja mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu SD tahun 2024. Guru-guru tersebut berasal dari berbagai sekolah dasar di Indonesia, sehingga merepresentasikan keragaman konteks, latar sosial, serta gaya komunikasi guru dalam pembelajaran. Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si. menjelaskan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lensa pragmatik, cabang linguistik yang mengkaji makna bahasa dalam konteks penggunaannya. “Bahasa guru tidak berdiri sendiri sebagai teks, tetapi selalu hadir dalam situasi sosial, relasi kuasa, tujuan pembelajaran, dan kondisi psikologis siswa. Di situlah makna pragmatik bekerja,” ujarnya. Melalui analisis transkrip tuturan guru, tim peneliti mengidentifikasi bentuk-bentuk tindak tutur, fungsi pragmatik, serta implikasinya terhadap pembentukan karakter dan literasi kritis. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang dan mendalam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengembangan kebijakan pendidikan, program Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta pelatihan komunikasi pedagogis guru di Indonesia. Ke depan, tim peneliti menargetkan publikasi hasil kajian ini pada jurnal nasional terakreditasi dan media massa sebagai bagian dari kontribusi akademik UMM bagi peningkatan mutu pendidikan dasar. “Jika kita ingin membangun pendidikan karakter dan literasi kritis, maka salah satu kuncinya ada pada bahasa guru di kelas,” tandas Daroe Iswatiningsih. Di tempat sama, dosen Pendidikan Profesi Guru FKIP UMM, Dr. Erna Yayuk, M.Pd, yang juga anggota tim peneliti, mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan berbagai bentuk tindak tutur yang berorientasi pada penguatan pendidikan karakter. Tindak tutur direktif, asertif, dan ekspresif muncul dominan dalam interaksi pembelajaran. Contohnya, guru menggunakan tuturan yang mendorong siswa untuk menghargai perbedaan pendapat, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta berani menyampaikan pandangan. Ujaran sederhana seperti meminta siswa mendengarkan pendapat teman, memberi apresiasi atas keberanian menjawab, atau menegaskan pentingnya disiplin dalam mengerjakan tugas, terbukti mengandung nilai karakter yang kuat. “Bahasa guru adalah model nyata yang ditiru siswa. Ketika guru menggunakan bahasa yang santun, menghargai, dan empatik, siswa belajar karakter bukan dari ceramah, tetapi dari praktik langsung,” terang Erna Yayuk. Selain pendidikan karakter, tambah Erna Yayuk,  penelitian ini juga mengungkap peran signifikan bahasa guru dalam mengembangkan literasi kritis siswa SD. Literasi kritis tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menganalisis, mempertanyakan, dan mengevaluasi informasi. Guru yang mengajukan pertanyaan terbuka seperti “Mengapa kamu berpikir demikian?”, “Apakah ada pendapat lain?”, atau “Apakah semua informasi itu selalu benar?” terbukti mendorong siswa untuk berpikir lebih dalam dan reflektif. Tuturan semacam ini mengajak siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi menimbang alasan, membandingkan perspektif, dan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan sehari-hari. Devi Putri Susilo, salah satu anggota peneliti menambahkan, kajian tim peneliti praktik ini sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan Higher Order Thinking Skills (HOTS). “Literasi kritis tidak tumbuh secara instan. Akan tetapi, dibangun melalui kebiasaan dialogis yang difasilitasi oleh bahasa guru,” jelas Devi Putri Susilo. Murid sedang mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas, Guru sebagai fasilitator pembelajaran memberikan umpan balik atas presentasi murid. Hal menarik diungkapkan Devi Putri Susilo bahwa penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai fungsi pragmatik tuturan guru, antara lain sebagai sarana memotivasi, mengarahkan, menegur secara konstruktif, memuji, hingga membangun suasana belajar yang aman dan inklusif. Fungsi-fungsi ini bekerja secara simultan dalam membentuk iklim pembelajaran yang kondusif bagi perkembangan karakter dan daya kritis siswa. Tuturan guru yang bersifat persuasif dan dialogis terbukti lebih efektif dibandingkan bahasa instruksional satu arah. Guru tidak lagi sekadar pusat informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, mediator, dan motivator yang membuka ruang partisipasi aktif siswa. Temuan penelitian ini memiliki implikasi kuat terhadap pengembangan strategi komunikasi guru yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa serta penguatan Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis, dan berakhlak mulia. Bahasa guru yang dialogis, reflektif, dan menghargai keberagaman pandangan dinilai mampu menjadi jembatan antara tujuan kurikulum dan praktik nyata di kelas. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pelatihan guru yang tidak hanya fokus pada metode dan media pembelajaran, tetapi juga pada kesadaran berbahasa secara pragmatis. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa bahasa guru adalah kekuatan pedagogis yang sering kali luput disadari. Melalui kajian pragmatik, bahasa tidak lagi dipandang sebagai aspek teknis semata, melainkan sebagai sarana strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat dan berpikir kritis. (tim peneliti dosen umm/don)

Pakar UMM Soroti Maraknya Industri Hiburan Malam di Kota Malang

Sketsamalang.com — Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan berada di persimpangan serius seiring pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial. Perkembangan tersebut bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap dampak sosial dan akademik di lingkungan kampus. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai perubahan wajah kota tidak hanya berdampak pada lanskap fisik, tetapi juga memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di sekitarnya. “Sejak dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Banyaknya mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis,” ujar Wahyudi. Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat kota tidak hanya memiliki kebutuhan akademik, tetapi juga kebutuhan rekreatif untuk memperoleh rasa senang, nyaman, dan bahagia. Namun, apabila ruang rekreasi sepenuhnya dikuasai oleh industri berbasis pasar dan berada di luar kontrol sosial kampus, kondisi tersebut berpotensi memicu pergeseran nilai. Dalam perspektif sosiologis, Wahyudi menilai fenomena ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreasi mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam jangka panjang situasi tersebut dapat menumbuhkan budaya hedonisme dan melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. “Ketika kontrol sosial melemah, ukuran baik dan buruk menjadi sangat subjektif. Mahasiswa berisiko kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut, lanjut Wahyudi, terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, mengabaikan tanggung jawab akademik, serta tidak mampu memanfaatkan kampus secara optimal sebagai pusat pengembangan kompetensi dan keilmuan. Ia juga menyoroti lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan pendidikan dan nilai moral masyarakat. “Jika tidak ada penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” ujarnya. Selain itu, Wahyudi menilai minimnya ruang ekspresi rekreatif di dalam kampus turut mendorong mahasiswa mencari alternatif hiburan di luar lingkungan akademik. Aktivitas kampus yang cenderung formal dan akademis membuat ruang nonformal untuk berekspresi semakin terbatas. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan dan pengawasan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral,” katanya. Ia menegaskan, penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas Malang sebagai kota pendidikan. Tanpa pengendalian sosial dan dialog berkelanjutan, identitas tersebut dikhawatirkan akan terus terkikis dan bergeser menjadi kota konsumsi.

Lawan Polusi Plastik, Universitas Muhammadiyah Malang Ubah Sampah Jadi Ecobrick

03/02/2026 KREATIF: Para mahasiswa Prodi Akuakultur UMM mempraktikkan pemanfaatan limbah plastik dengan inovasi ecobrik MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sampah plastik bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan. Bergerak dari keprihatinan tersebut, 16 mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 melakukan aksi nyata di hilir masalah. Yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri Kota Batu, pekan lalu. ​Melalui program bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik”, para mahasiswa ini mencoba menjawab tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui langkah sederhana namun berdampak besar. ​Di lokasi, para mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi terjun langsung berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Mereka memilah sampah plastik rumah tangga yang kering, lalu memadatkannya ke dalam botol plastik bekas hingga sekeras bata. Inovasi yang dikenal sebagai ecobrick ini menjadi solusi agar plastik tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau tercecer ke ekosistem. ​Ketua Pelaksana kegiatan Daffa Rayhan Zaky menjelaskan bahwa fokus aksi ini adalah perlindungan ekosistem daratan yang menjadi poin ke-15 dalam SDGs. “Pengelolaan sampah yang buruk berdampak langsung pada kualitas tanah dan air. Melalui ecobrick, kami ingin memberikan nilai guna baru pada plastik. Material ini nantinya bisa digunakan sebagai bahan bangunan sederhana atau elemen dekorasi di area TPST,” papar Daffa. ​Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan. Pembina kegiatan Rindya Fery Indrawan, M.P., menekankan pentingnya mahasiswa untuk tidak hanya berkutat pada teori di dalam kelas. “Kami ingin mahasiswa belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya. Kehadiran mereka di sini juga membantu meringankan beban rutin petugas TPST,” ujar Rindya. ​Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah kunci jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat dan lestari. Meskipun berfokus pada ekosistem darat, aksi ini sangat relevan dengan disiplin ilmu akuakultur. Sampah plastik yang tidak terkelola di daratan pada akhirnya akan hanyut dan mencemari perairan, merusak kualitas air yang menjadi media utama budidaya perikanan. Dengan menjaga daratan tetap bersih, para mahasiswa ini secara tidak langsung sedang memproteksi masa depan ekosistem perairan Indonesia. (imm/lim)

Pakar Sosiologi UMM Soroti Menjamurnya Hiburan Malam Dekat Kampus, Begini Analisanya

Malang (beritajatim.com) – Citra Kota Malang sebagai Kota Pendidikan kini berada di ujung tanduk. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial yang merambah hingga ke area institusi pendidikan mulai menggeser identitas kota dan memicu kekhawatiran terkait degradasi moral mahasiswa. Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menurutnya, pergeseran wajah kota ini bukan sekadar masalah tata ruang, melainkan ancaman nyata bagi iklim akademik dan karakter generasi muda. Secara sosiologis, Prof. Wahyudi menilai adanya tarik-menarik kepentingan yang tidak seimbang antara pertumbuhan ekonomi perkotaan dengan peran institusi pendidikan. Malang yang dulu dikenal dengan jargon Ribina Cita (Kota Industri, Pendidikan, dan Pariwisata), kini perlahan bertransformasi menjadi ruang sosial yang terlalu didominasi oleh logika pasar. “Mahasiswa memang membutuhkan ruang rekreatif untuk melepas penat. Namun, ketika ruang tersebut sepenuhnya dikendalikan oleh industri hiburan tanpa kontrol sosial, nilai-nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama,” ujar Prof. Wahyudi pada Senin (30/1/2026). Ia memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang ketat, mahasiswa rentan terjebak dalam budaya hedonisme. Standar perilaku yang seharusnya berlandaskan etika intelektual, berisiko bergeser menjadi ukuran individual yang subjektif. Dampak dari masifnya industri hiburan di sekitar kampus mulai terlihat pada menurunnya kualitas akademik. Prof. Wahyudi menegaskan bahwa kemudahan akses terhadap kesenangan instan membuat mahasiswa rentan kehilangan fokus. Beberapa dampak negatif yang disoroti diantaranya, kehilangan orientasi akademik, mahasiswa lebih mengutamakan gaya hidup dibandingkan proses intelektual yang membutuhkan kedisiplinan. Selain itu, ketika batas antara area pendidikan dan hiburan kabur, fungsi kampus sebagai pusat pembentukan kompetensi menjadi tidak optimal. Hubungan antar-individu di Malang berisiko hanya diukur berdasarkan nilai konsumsi semata. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi jangan sampai mengorbankan pendidikan dan moral. Jika dibiarkan tanpa penataan, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, Malang hanya akan menjadi kota konsumsi,” tegasnya. Selain menyoroti regulasi pemerintah daerah yang dinilai masih lemah, Prof. Wahyudi juga memberikan kritik membangun bagi institusi perguruan tinggi. Ia berpendapat bahwa salah satu alasan mahasiswa mencari pelarian ke luar adalah karena menyempitnya ruang ekspresi di dalam kampus. Menurutnya, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat kaku untuk berpikir ilmiah. Kampus harus menyediakan ruang nonformal yang sehat bagi mahasiswa untuk berpuisi, bernyanyi, dan berdiskusi santai. “Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi,” tambahnya. Sebagai solusi, pakar sosiologi UMM ini menekankan tiga poin utama yang harus segera dilakukan oleh pemangku kebijakan. Pertama, pemerintah daerah harus mengatur jarak dan izin operasional industri hiburan di kawasan pendidikan. Kedua, kampus harus menyediakan fasilitas rekreasi internal yang edukatif. “Ketiga, perlu ada dialog berkelanjutan antara pemerintah, pihak kampus, dan masyarakat untuk menjaga marwah Kota Malang,” ujar Prof Wahyudi Winarjo. Prof Wahyudi Winarjo menegaskan bahwa tanpa langkah konkret, identitas Malang sebagai mercusuar pendidikan di Jawa Timur terancam hilang, terkikis oleh gemerlap industri hiburan yang semakin tak terkendali. [dan/aje]

Industri Hiburan Ancam Marwah Kota Malang, sebagai Kota Pendidikan

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi Kota Malang, Bhirawa Identitas Kota Malang sebagai barometer pendidikan nasional kini berada di titik nadir. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam dan komersialisasi ruang rekreasi dinilai mulai menggerus iklim akademik serta karakter mahasiswa. Jika tidak segera dikendalikan melalui regulasi yang ketat, Malang berisiko kehilangan jati diri dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena pergeseran lanskap kota ini. Menurutnya, dominasi industri hiburan yang merambah kawasan institusi pendidikan menciptakan benturan nilai antara kepentingan ekonomi dan misi intelektual. “Malang sejak lama menyandang predikat kota pendidikan, industri, dan pariwisata. Namun, saat ini terjadi tarik-menarik yang tidak seimbang. Mahasiswa sebagai subjek sosial membutuhkan ruang rekreatif, namun ketika ruang tersebut sepenuhnya dikendalikan logika pasar tanpa filter moral, maka budaya hedonisme akan menguat,” ujar Prof. Wahyudi, Senin (2/2) kemarin. Prof. Wahyudi menyoroti bahwa kehadiran tempat hiburan yang menjamur di sekitar kampus memicu melemahnya kontrol sosial. Hal ini berdampak langsung pada orientasi mahasiswa yang cenderung terjebak pada pencarian kesenangan instan (hedonisme) daripada ketekunan intelektual. “Jika kontrol sosial hilang, standar baik dan buruk menjadi subjektif. Mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih mengejar kesenangan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan,” tegasnya. Dampak jangka panjangnya, lanjut Wahyudi, adalah terjadinya pendangkalan intelektual. Kampus yang seharusnya menjadi pusat kompetensi justru terdistraksi oleh gaya hidup konsumtif yang membuat mahasiswa mengabaikan tanggung jawab akademiknya. Lebih jauh, pihaknya mengkritik kebijakan Pemerintah Daerah yang dianggap terlalu longgar dalam memberikan izin industri hiburan demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan dampak sosiologis. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, serta masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Sebagai solusi, ia mendorong perguruan tinggi untuk menyediakan ruang ekspresi non-formal yang lebih humanis. Menurutnya, mahasiswa keluar mencari hiburan karena kampus cenderung terlalu kaku dan formal. “Kampus harus menjadi ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, dan berpuisi. Ruang-ruang ini perlu dikelola agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi. Kolaborasi lintas institusi dan ketegasan regulasi adalah kunci agar identitas Malang sebagai Kota Pendidikan tidak terus terkikis,” pungkasnya. [mut.wwn]

Malang di Persimpangan Identitas: Antara Kota Pendidikan dan Budaya Hiburan

Prof. Wahyudi Winarjo, M.Si., Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang semakin lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota. Tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dari perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, serta melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., menilai Malang telah lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita—mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah membuat Malang menjadi ruang sosial yang dinamis.” “Namun, mahasiswa sebagai manusia tidak hanya membawa kebutuhan akademik. Melainkan juga kebutuhan akan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya pada 30 Januari 2026 kepada Tim Humas UMM yang diteruskan ke Malang Post. Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Kalau kontrol sosial hilang, orang akan mengukur baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, juga tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Jika tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal. Sementara ruang nonformal yang memungkinkan mahasiswa mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Situasi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang tersebut perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” ujarnya. Terakhir, ia menekankan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi yang tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Ecobrick Jadi Senjata UMM Tekan Sampah Plastik di Kota Batu

MAKLUMAT — Masalah sampah plastik kian mendesak dan tak bisa lagi dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Ancaman kerusakan lingkungan hingga terhambatnya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) kini menjadi perhatian serius. Sejumlah mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memilih turun tangan dengan menciptakan ecobrick. Sebah metode pemadatan sampah plastik kering ke dalam botol bekas hingga membentuk material padat menyerupai bata. Aksi tersebut dikemas dalam Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik, 16 mahasiswa prodi Akuakultur terjun ke tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri, Kota Batu, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini menjadi bukti peran kampus dalam menjawab persoalan lingkungan dari level paling dasar. Jalan Tengah Pemanfaatan Sampah Implementasi yang dilakukan mahasiswa angkatan 2025 berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Kegiatan yang dilakukan menangani timbulan sampah plastik rumah tangga yang terus meningkat, dengan metode ecobrick. “Ecobrick merupakan solusi praktis untuk mengurangi sampah plastik sekaligus mendukung SDGs, khususnya perlindungan ekosistem daratan,” ujarnya, Ketua pelaksana kegiatan, Daffa Rayhan Zaky. Menurut Daffa, plastik yang tidak terkelola berpotensi mencemari tanah dan air. Karena itu, ecobrick menjadi jalan tengah agar sampah tidak berakhir di lingkungan atau menumpuk di tempat pembuangan akhir. Tak hanya menekan volume sampah, ecobrick juga memiliki nilai guna. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sederhana, elemen estetika, hingga fasilitas pendukung di area TPST. Langkah ini dinilai efektif dalam memperpanjang siklus hidup plastik. Baca Juga  Kampus Berdampak, Jejak UMM di Timor Tengah Selatan Melawan Stunting Peran sebagai Agen Perubahan Pembina kegiatan, Rindya Fery Indrawan, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa UMM bukan sekadar praktik lapangan. “Kami ingin mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah adalah kunci pengelolaan lingkungan berkelanjutan,” katanya. Ia menambahkan, kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan pengelola TPST menjadi fondasi penting dalam membangun budaya peduli lingkungan. Bagi UMM, ecobrick bukan sekadar proyek mahasiswa, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Gandeng AYG dari Malaysia, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM Perkuat Internasionalisasi Pembelajaran

MAKLUMAT — Prodi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang (FISIP UMM) menegaskan komitmen dalam upaya penguatan internasionalisasi pembelajaran sekaligus memperkaya pengalaman mahasiswa di bidang pekerjaan sosial, dengan menyelenggarakan kuliah tamu internasional. Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Rapat My Dormy UMM, pada Kamis (29/1/2026) lalu itu, bekerja sama dengan NGO Adab Youth Garage (AYG), yaitu organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak dalam pengembangan komunitas, pemberdayaan anak dan remaja, serta pembangunan kapasitas pemuda di kawasan urban Malaysia. Ketua Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Hutri Agustino, menyampaikan bahwa kuliah tamu internasional tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif profesional dan kompetensi sosial, sekaligus memotivasi sivitas akademika untuk terus membangun jejaring global di bidang kesejahteraan sosial. Kegiatan tersebut juga dinilai sejalan dalam rangka mendukung program internasionalisasi yang dijalankan prodi, serta memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktik profesional di layanan masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan komunitas anak dan remaja serta pendekatan kerja sosial berbasis komunitas. “Sejak tahun lalu Prodi Kesejahteraan Sosial UMM telah terakreditasi oleh lembaga internasional FIBAA yang bermarkas di Jerman,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id, Senin (2/2/2026). Selain itu, ia juga menyebut bahwa kerja sama antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan AYG telah terjalin selama tiga tahun terakhir dan melahirkan berbagai kegiatan. Baca Juga  Awas! Krisis Beras Jelang Akhir Tahun 2025: Bagaimana Strategi Menjaga Stok dan Harga Pangan? “Mulai dari sharing sessions tematik, kolaborasi dalam pelaksanaan program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Pemberdayaan Masyarakat, hingga penempatan mahasiswa praktikum,” ungkap Hutri. Menurut Hutri, materi yang disampaikan AYG relevan karena mampu menguatkan keterkaitan antara teori dan praktik, memperluas perspektif internasional, serta meningkatkan kompetensi profesional calon pekerja sosial. Melalui penyelenggaraan kuliah tamu internasional tersebut, ia menegaskan bahwa Prodi Kesejahteraan Sosial UMM berkomitmen dalam membangun internasionalisasi yang produktif dan berkelanjutan. “Internasionalisasi tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan indikator kinerja, tetapi sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan, relevansi keilmuan, serta daya saing lulusan di tingkat global,” tandas Hutri. Komitmen tersebut, lanjutnya, diwujudkan melalui pengembangan jejaring akademik dan praktik profesional lintas negara, penyelenggaraan kegiatan akademik internasional secara berkelanjutan seperti kuliah tamu internasional, international webinar, dan joint academic activities dengan mitra luar negeri. Berbagai kegiatan tersebut, menurutnya memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk memperoleh perspektif global, memperkaya pemahaman isu kesejahteraan sosial, serta membandingkan praktik kerja sosial di berbagai konteks budaya dan kebijakan. Selain itu, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM secara aktif membangun dan memelihara kerja sama kelembagaan dengan universitas serta organisasi sosial internasional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. “Kerja sama tersebut diarahkan pada kegiatan yang aplikatif dan berdampak, seperti pertukaran pengetahuan, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat internasional, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia,” kata Hutri. Baca Juga  Soroti Batalion Teritorial Pembangunan, Pakar Hukum: Kita Punya Pengalaman Buruk Orba Sementara itu, sambung Hutri, dalam aspek kurikulum dan pembelajaran, internasionalisasi diintegrasikan melalui pengayaan materi berbasis isu global, penggunaan referensi internasional, serta penguatan kompetensi multikultural dan etika kerja sosial internasional. “Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berorientasi keberlanjutan, Prodi Kesejahteraan Sosial UMM menegaskan komitmen menjadikan internasionalisasi sebagai proses jangka panjang yang produktif, bermakna, dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu serta praktik kesejahteraan sosial,” sebutnya. Sebagai informasi, AYG sendiri dikenal sebagai platform komunitas yang menyediakan ruang kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja untuk berkembang secara sosial, moral, dan akademik melalui berbagai program berbasis komunitas. Kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara Prodi Kesejahteraan Sosial UMM dengan mitra internasional, termasuk Universiti Kebangsaan Malaysia, serta sejumlah lembaga sosial mitra lainnya. AYG diundang untuk berbagi wawasan praktik kerja sosial dan pengalaman komunitas lintas negara yang menjadi referensi penting bagi mahasiswa dalam memahami dinamika kesejahteraan sosial dalam konteks global.

TPJ 2026 Lahirkan Kolaborasi HPI dan UMM, Dorong Penguatan Ekosistem Penerjemah

KETIK, JAKARTA – Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komisariat Daerah Jawa Timur sukses menggelar acara Temu Penerjemah Jawa Timur (TPJ) 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Menata Ulang Karier Penerjemah: Bertahan, Beradaptasi, dan Bertumbuh”. Tema tersebut merefleksikan tantangan dan peluang profesi penerjemah di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan pasar. Acara itu juga dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan, profesi penerjemahan, serta pelaku usaha jasa bahasa. Ketua Umum HPI Pusat, Dr. Indra Listyo menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada HPI Komda Jawa Timur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan dengan baik. Ia mengaku bangga melihat peran aktif pengurus daerah dalam menghadirkan forum yang mempertemukan unsur pendidikan, organisasi profesi, praktisi penerjemahan, serta pelaku usaha jasa bahasa dan industri terkait. “Sinergi lintas sektor tersebut menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan profesi penerjemah,” ungkap Dr. Indra dalam keterangannya, Senin, 2 Februari 2026. “Perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan, menuntut penerjemah untuk terus meningkatkan kompetensi, memperkuat etika profesi, serta memahami dinamika industri,” sambungnya. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dinilai sangat strategis. Baca Juga: Afif Musthofa Terpilih Jadi Ketua HPI Jatim, Jawab Tantangan Penerjemah di Tengah Perkembangan AI Kelas Interpreting yang digelar HPI Komda Jatim di sela-sela kegiatan TPJ 2026 (Foto: HPI Komda Jatim) Sementara Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi menyatakan bahwa kegiatan TPJ sangat strategis karena profesi penerjemah juga dituntut untuk memiliki kompetensi linguistik sekaligus kemampuan adaptasi. “Sehingga hasil terjemahan yang dihasilkan memiliki makna yang bisa dipahami dan diresapi, tidak hanya sekadar mengalihbahasakan teks,” jelasnya. Penandatanganan MoU antara HPI dan UMM menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. MoU ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya lulusan yang lebih siap memasuki dunia kerja dan memahami standar profesi penerjemahan. Pihak Universitas Muhammadiyah Malang menyambut baik kerja sama tersebut dan menilai bahwa keterlibatan organisasi profesi seperti HPI sangat penting dalam menjembatani kebutuhan akademik dan realitas industri. Acara ini juga dihadiri Dekan Fakultas Agama Islam, Imamul Hakim, Kepala CoE (Center of Excellence), Achmad Fauzan Hery Soegiharto dan Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UMM, Mochammad Firdaus. Selain agenda seremonial, TPJ 2026 juga diisi dengan gelar wicara yang menghadirkan narasumber lintas bidang. Tasfan Sadikin, Interpreter Senior sekaligus Mindfulness Mentor, membagikan perspektif tentang pentingnya kesehatan mental dan kesadaran diri bagi penerjemah dan interpreter yang bekerja di bawah tekanan tinggi. Baca Juga: Diuji Praktisi Media, 4 Portal Berita Karya Mahasiswa Ikom UMM Dinilai Layak Industri Ia menekankan bahwa keberlanjutan karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental. Para penerjemah berfoto bersama dalam kegiatan TPJ 2026 (Foto: Dok. HPI Komda Jatim) Sementara itu, Sony Novian, Ketua Umum Ikatan Agensi Jasa Bahasa (IKASA) sekaligus Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) Jakarta Barat, menyoroti pentingnya jejaring profesi dan sertifikasi dalam memperkuat posisi penerjemah di pasar kerja. Ia mendorong para penerjemah, khususnya pemula, untuk aktif membangun reputasi profesional dan terlibat dalam organisasi profesi. Dari sisi industri, Andri Manik, Bendahara HIPPI Jakarta Barat dan Pengurus KADIN DKI Jakarta, memaparkan sudut pandang dunia usaha terhadap jasa bahasa. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan industri terhadap layanan penerjemahan yang berkualitas masih sangat besar, namun menuntut standar profesionalisme, kecepatan, dan pemahaman konteks bisnis. Ketua HPI Komda Jawa Timur, Muhammad Afif Musthofa menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan pengurus yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa TPJ tidak hanya dimaksudkan sebagai agenda rutin, tetapi sebagai upaya membangun ekosistem penerjemahan yang saling terhubung dan berkelanjutan. Acara ini terselenggara berkat dukungan perusahaan jasa bahasa ternama di Indonesia, seperti MainKata Translation Studio, Licolize Communications, Katagonia Language Solution, Translation Transfer, talabahasa, CMM Translation, dan Solusi Penerjemah.(*)