Mahasiswa UMM Redam Potensi Konflik Air di Desa Jambangan

Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Masalah distribusi air sawah yang tidak merata sering kali menjadi “api dalam sekam” bagi kerukunan antarpetani. Memahami risiko tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 7 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah taktis dengan membangun pintu irigasi di Desa Jambangan, Selasa (10/2/2026). Langkah ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya preventif untuk menjaga keadilan distribusi air di sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi desa. Sebelum adanya pintu irigasi ini, aliran air sering tidak terkendali, yang berpotensi memicu perselisihan antarpetani akibat rebutan pasokan. “Distribusi air yang tidak merata bisa menurunkan hasil panen dan memicu konflik. Dengan pintu irigasi ini, aliran air menjadi lebih teratur dan pembagiannya jauh lebih adil,” ujar Rifdah Nuur Fauziyyah, koordinator program kerja. Diplomasi Mahasiswa Ubah Pandangan Desa Sudut pandang menarik dari proyek ini adalah kegigihan mahasiswa dalam meyakinkan pemerintah desa. Awalnya, pembangunan pintu irigasi ini dianggap belum mendesak. Namun, melalui observasi lapangan yang mendalam dan diskusi yang alot, tim KKN berhasil memberikan pemahaman bahwa produktivitas pertanian jangka panjang sangat bergantung pada sistem pengairan yang tertib. Meskipun sempat terkendala anggaran dan keterbatasan tenaga kerja, tim KKN menyiasatinya dengan strategi kolaborasi. Mereka menggandeng tukang profesional untuk standar teknis dan melibatkan perangkat desa dalam koordinasi lapangan. Warisan untuk Produktivitas Petani Pemerintah desa dan para petani menyambut positif selesainya infrastruktur ini. Keberadaan pintu irigasi baru tersebut kini menjadi “wasit” otomatis dalam pembagian air sawah. Namun, tim KKN UMM mengingatkan bahwa keberlanjutan fasilitas ini kini berada di tangan warga. Masyarakat didorong untuk aktif merawat pintu irigasi tersebut agar manfaatnya—baik secara ekonomi maupun sosial—dapat dirasakan terus menerus oleh generasi petani berikutnya di Desa Jambangan.

UMM Dorong Literasi Konstitusi Jadi Fondasi Pendidikan Warga Negara

MAKLUMAT – Arus informasi yang kian deras menuntut warga negara tak sekadar paham pasal-pasal hukum. Lebih dari itu, dibutuhkan kesadaran berkonstitusi yang tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Inilah yang menjadi perhatian serius Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sebagai kampus inovatif dan mandiri, UMM mempertegas pentingnya literasi konstitusi sebagai fondasi pendidikan kewarganegaraan. Melalui riset dosen Pendidikan Konstitusi, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, UMM mendorong model pembelajaran yang tak berhenti pada hafalan, tetapi membentuk cara berpikir kritis dan demokratis. Menurut Wahyu, konstitusi seharusnya dipahami sebagai pedoman hidup bersama. Karena itu, pendidikan konstitusi mesti diarahkan pada pembentukan kesadaran bertindak sebagai warga negara. Komitmen Kampus Inovatif “Konstitusi bukan sekadar teks hukum. Ia harus hadir dalam perilaku. Warga negara perlu memahami hak dan kewajibannya secara utuh,” ujarnya. Dari hasil kajiannya, Wahyu menemukan tingkat literasi konstitusi masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Padahal, konstitusi merupakan rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berangkat dari temuan itu, ia mengembangkan Model Literasi Konstitusi yang disesuaikan dengan karakter sosial dan budaya Indonesia. Model tersebut dirancang melalui pendekatan riset dan pengembangan dengan metode campuran. Hasilnya, lahir kerangka pembelajaran yang bisa diterapkan di sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Tujuannya adalah membentuk peserta didik yang reflektif, kritis, sekaligus solutif. Dorong Generasi Aktif “Literasi konstitusi harus menumbuhkan keberanian berpikir. Bukan patuh tanpa pemahaman,” tegasnya. UMM menilai pendidikan konstitusi memiliki posisi strategis dalam membangun demokrasi yang sehat. Mahasiswa dan pelajar tidak hanya diajak memahami isi konstitusi, tetapi juga dilatih menilai kebijakan publik secara rasional serta menyampaikan kritik secara konstruktif. Tak berhenti di ruang akademik, hasil riset tersebut juga disusun dalam bentuk policy brief sebagai rekomendasi kebijakan pendidikan. Langkah ini menunjukkan komitmen UMM agar riset dosen tidak sekadar menjadi arsip perpustakaan, melainkan berdampak langsung bagi masyarakat. Bagi UMM, literasi konstitusi adalah modal penting untuk melahirkan generasi yang aktif, bukan pasif. Generasi yang mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.

Mahasiswa Malang Berkomitmen Awasi Perlindungan Anak di Era Digital

Headline.co.id, Malang ~ Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Malang menunjukkan antusiasme tinggi dalam acara CommuniAction yang diadakan oleh Direktorat Informasi Publik, Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Acara ini mengangkat tema “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?” dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berdiskusi langsung dengan para ahli di bidang digital. Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah pertukaran ide dan meningkatkan literasi digital di kalangan generasi muda. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya tanggapan positif terhadap acara tersebut. Farah, seorang mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyatakan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru tentang pemanfaatan ruang digital secara bijak. “Sangat bermanfaat. Selain menambah wawasan mengenai ruang digital seperti pembuatan konten dan penggunaan Artificial Intelligence (AI), kami juga belajar tentang berbagai risiko yang dapat muncul jika teknologi digunakan tidak semestinya,” ujar Farah setelah acara di Kota Malang, Jawa Timur, pada Kamis (12/01/2026). Farah, yang merupakan mahasiswi Jurusan Komunikasi, menekankan pentingnya pengawasan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini diperlukan tidak hanya untuk mencegah tindakan kriminal, tetapi juga untuk melindungi generasi muda dari penyalahgunaan teknologi digital. Selain Farah, Zizi, mahasiswi UMM lainnya, mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Komdigi dalam menyusun regulasi perlindungan anak di ruang digital, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Menurutnya, kebijakan ini penting di tengah berbagai persoalan terkait anak dan internet. “Di media sosial, anak-anak sudah terpapar tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal itu berbahaya karena bisa memengaruhi kebiasaan, cara berbahasa, hingga lingkungan pertemanan,” ujar Zizi. Acara CommuniAction di Malang ini dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, generasi muda, perwakilan kementerian/lembaga, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Malang. Acara ini merupakan platform sinergi, kolaborasi, dan aksi nyata yang menyatukan tiga elemen komunikasi publik pemerintah: Media Monitoring (FoMo), Pemberdayaan Komunitas (IGID Goes to Campus), dan Penguatan Konten Kreatif (SOHIB Berkelas). Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat komunikasi publik terkait perlindungan anak yang berbasis data, responsif, dan berdampak di tengah dinamika isu digital yang terus berkembang. “Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat peran Kementerian Komdigi sebagai penghubung dan penggerak dalam memfasilitasi peningkatan kualitas komunikasi publik antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, komunitas, hingga generasi muda,” tegas Nursodik. CommuniAction, lanjutnya, bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat ekosistem komunikasi publik Indonesia, khususnya dalam isu perlindungan anak di ruang digital. “Inilah kontribusi kita bersama menuju Indonesia Emas 2045: sebuah Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga dewasa dalam berkomunikasi,” pungkas Nursodik Gunarjo. Acara ini menghadirkan narasumber seperti Dwi Santoso, yang dikenal sebagai Bang Anto Motulz, seorang Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi. Selain sebagai kreator lintas bidang, Motulz juga aktif mengeksplorasi teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan strategi komunikasi dan produksi konten digital. Hadir pula Reza A. Maulana, Praktisi Public Relations yang berpengalaman dalam membangun strategi komunikasi berbasis riset dan monitoring isu publik. Selain itu, Naning Puji Julianingsih, Child Protection Specialist UNICEF, turut hadir sebagai aktivis dalam program-program perlindungan anak di Indonesia. Ia aktif mengampanyekan perlindungan anak dari kekerasan, pengasuhan positif, serta pentingnya reunifikasi keluarga bagi anak. Hari Obbie, seorang Content Creator yang memiliki sertifikasi sebagai AI Trainer, juga hadir. Ia aktif sebagai Social Media Agency serta pengajar di Thematic Academy dan Digital Talent Scholarship (DTS) Kementerian Komdigi.

Generasi Muda Malang Siap Awasi Perlindungan Anak di Dunia Digital

Headline.co.id, Sejumlah Mahasiswa Dari Berbagai Universitas Di Malang Menghadiri Acara Communiaction Yang Diadakan Oleh Direktorat Informasi Publik ~ Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Acara ini mengangkat tema “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?” dan bertujuan untuk meningkatkan literasi digital di kalangan generasi muda. Para peserta berkesempatan berdiskusi dengan narasumber ahli di bidang digital. Antusiasme peserta terlihat dari respons positif yang diberikan. Farah, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyatakan bahwa acara ini memberikan wawasan baru tentang penggunaan ruang digital secara bijak. “Sangat bermanfaat. Selain menambah wawasan mengenai ruang digital seperti pembuatan konten dan penggunaan Artificial Intelligence (AI), kami juga belajar tentang berbagai risiko yang dapat muncul jika teknologi digunakan tidak semestinya,” ujar Farah setelah acara di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (12/01/2026). Farah, yang merupakan mahasiswi Jurusan Komunikasi, menekankan pentingnya pengawasan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. Hal ini diperlukan untuk mencegah tindakan kriminal dan melindungi generasi muda dari penyalahgunaan teknologi digital. Zizi, mahasiswi UMM lainnya, menilai langkah pemerintah melalui Kementerian Komdigi dalam menyusun regulasi perlindungan anak di ruang digital, seperti Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas), sudah tepat. Menurut Zizi, kebijakan tersebut penting di tengah berbagai persoalan yang muncul terkait anak dan internet. “Di media sosial, anak-anak sudah terpapar tayangan yang tidak sesuai dengan usia mereka. Hal itu berbahaya karena bisa memengaruhi kebiasaan, cara berbahasa, hingga lingkungan pertemanan,” ujar Zizi. Acara CommuniAction di Malang dihadiri sekitar 300 peserta, termasuk mahasiswa, generasi muda, perwakilan kementerian/lembaga, dan organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Malang. Acara ini merupakan platform sinergi, kolaborasi, dan aksi nyata yang menyatukan tiga elemen komunikasi publik pemerintah: Media Monitoring (FoMo), Pemberdayaan Komunitas (IGID Goes to Campus), dan Penguatan Konten Kreatif (SOHIB Berkelas). Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, menyatakan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperkuat komunikasi publik terkait perlindungan anak berbasis data, responsif, dan berdampak di tengah dinamika isu digital yang terus berkembang. “Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat peran Kementerian Komdigi sebagai penghubung dan penggerak dalam memfasilitasi peningkatan kualitas komunikasi publik antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, komunitas, hingga generasi muda,” tegas Nursodik. CommuniAction bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari gerakan nasional untuk memperkuat ekosistem komunikasi publik Indonesia, khususnya dalam isu perlindungan anak di ruang digital. “Inilah kontribusi kita bersama menuju Indonesia Emas 2045: sebuah Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga dewasa dalam berkomunikasi,” pungkas Nursodik Gunarjo. Acara ini menghadirkan narasumber seperti Dwi Santoso atau Anto Motulz, Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, yang juga kreator lintas bidang dan aktif mengeksplorasi teknologi baru seperti AI. Reza A. Maulana, Praktisi Public Relations, dan Naning Puji Julianingsih, Child Protection Specialist UNICEF, turut hadir. Hari Obbie, seorang Content Creator dan Certified AI Trainer, juga memberikan pandangannya. Kemkomdigi mendorong generasi muda untuk memanfaatkan ruang digital secara positif, kreatif, dan bertanggung jawab. Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Malang, Tri Joko, yang hadir mewakili Wali Kota Malang, menekankan pentingnya berhati-hati dalam aktivitas di media sosial. Ia mengingatkan bahwa pelanggaran terhadap UU ITE dapat berujung pada sanksi pidana. Naning Puji Julianingsih menyoroti tingginya intensitas interaksi anak dengan internet, dengan rata-rata penggunaan 5,4 jam per hari. Ia mengapresiasi kegiatan CommuniAction yang fokus pada perlindungan anak. Reza A. Maulana menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan perlindungan anak di ruang digital. Hari Obbie mengimbau masyarakat untuk mewaspadai perundungan siber dan tidak asal mengejar popularitas saat membuat konten. Dwi Santoso menegaskan bahwa pembuatan konten berbasis AI harus tetap berpegang pada etika dan tanggung jawab kepada publik. Ia mendorong kreator muda untuk menghadirkan nilai guna melalui konten yang mengangkat potensi lokal.

Kemkomdigi Sosialisasikan PP Tunas dan Literasi Digital di CommuniAction Malang

medcom.id – Malang: Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Malang menghadiri kegiatan CommuniAction yang diselenggarakan Direktorat Informasi Publik, Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi). Mengusung tema “Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi?”, kegiatan ini menjadi ruang diskusi literasi digital dan perlindungan anak di ruang digital. Sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, generasi muda, kementerian/lembaga, serta organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Malang hadir dalam forum tersebut. Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Farah, menilai kegiatan ini menambah wawasan terkait pembuatan konten dan penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak. “Sangat bermanfaat. Selain menambah wawasan mengenai ruang digital seperti pembuatan konten dan penggunaan Artificial Intelligence (AI), kami juga belajar tentang berbagai risiko yang dapat muncul jika teknologi digunakan tidak semestinya,” ujarnya, Kamis, 12 Januari 2026. Mahasiswi UMM lainnya, Zizi, menilai penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) sudah tepat untuk merespons paparan konten digital yang tidak sesuai usia anak. Waspada Risiko Hukum dan Etika di Ruang Digital Direktur Informasi Publik, Nursodik Gunarjo, mengatakan CommuniAction dirancang untuk memperkuat komunikasi publik berbasis data dan berdampak, khususnya dalam isu perlindungan anak. “Kegiatan ini merupakan upaya memperkuat peran Kementerian Komdigi sebagai penghubung dan penggerak dalam memfasilitasi peningkatan kualitas komunikasi publik antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, komunitas, hingga generasi muda,” kata Nursodik. Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang, Tri Joko, mengingatkan risiko hukum dari penyalahgunaan media sosial. Pasal 27 UU ITE melarang distribusi konten bermuatan asusila, perjudian, kekerasan, maupun perundungan yang dapat berujung pidana. “Saring terlebih dahulu sebelum membagikan, karena banyak perkara berawal dari konten di media sosial,” ujarnya. Child Protection Specialist UNICEF, Naning Puji Julianingsih, menyebut rata-rata anak mengakses internet 5,4 jam per hari dan 70 persen memiliki lebih dari satu akun media sosial. Ia menilai literasi digital penting agar generasi muda dapat menjadi agen perlindungan anak. Praktisi PR Reza A. Maulana menambahkan, partisipasi masyarakat dan tanggung jawab platform digital diperlukan untuk menekan kasus pornografi anak yang disebut mencapai 5,5 juta kasus di Indonesia. Sementara kreator konten Hari Obbie dan Tenaga Ahli Ditjen KPM Kemkomdigi, Dwi Santoso atau Anto Motulz, menekankan pentingnya etika dalam produksi konten, termasuk penggunaan AI agar tidak memicu plagiarisme dan pelanggaran hukum. Dok. Istimewa

Kiprah Perempuan UMM Dorong Inovasi Pangan

RRI.CO.ID, Malang – Kiprah perempuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi terus menunjukkan kontribusi nyata. Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Elfi Anis Saati, menegaskan bahwa perempuan memiliki peluang yang sama untuk menjadi peneliti, inovator, sekaligus pemimpin riset yang berdampak bagi masyarakat. Dalam Dialog Malang Menyapa edisi Kamis (12/2/2026), Prof. Elfi menjelaskan ketertarikannya meneliti pewarna alami pangan berawal dari latar belakang pendidikannya di bidang Gizi Masyarakat serta pengalamannya mengajar teknologi pangan di UMM. Ia mengaku prihatin dengan maraknya penggunaan pewarna sintetis berbahaya, bahkan pewarna tekstil, yang disalahgunakan untuk produk makanan. “Dari situ muncul kegelisahan. Padahal Allah sudah mengaruniakan begitu banyak sumber pewarna alami dari buah dan bunga yang aman dan bermanfaat,” ujarnya. Ia kemudian mendalami berbagai sumber pigmen alami seperti bunga pacar air, bunga kana, dan bunga mawar. Hasil risetnya menunjukkan pigmen tersebut tidak hanya menghasilkan warna alami, tetapi juga mengandung senyawa bioaktif dan antioksidan yang baik bagi kesehatan. Sebagai muslim dan peneliti, ia menilai pendekatan ilmiah perlu diintegrasikan dengan nilai keimanan. Ia mencontohkan inspirasi dari Surah An-Nahl ayat 68–69 tentang lebah dan madu yang bermanfaat bagi kesehatan. “Pigmen yang kami ekstrak larut dalam air, air juga banyak terkandung di dalam tubuh sehingga lebih aman dan dalam konteks kehalalan juga bebas dari unsur yang diharamkan,” jelasnya. Prof. Elfi menegaskan, selama perjalanan akademiknya tidak ada pembatasan gender dalam dunia riset. “Tidak ada perbedaan peluang antara laki-laki dan perempuan. Siapa yang lebih dulu peka terhadap persoalan masyarakat dan sigap mencari solusi, dialah yang berpeluang diakui sebagai inovator,” tegasnya. Riset yang dirintisnya sejak 2022 kini telah memberi dampak nyata. Inovasi berbasis bunga mawar diterapkan oleh UMKM dan dikembangkan menjadi minuman sehat serta suplemen herbal. Melalui pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, produk tersebut diuji cobakan kepada sekitar 30 remaja putri serta ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Pasuruan. Hasilnya, 78 persen peserta yang mengalami anemia menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin hingga kembali normal. Sebagai Kepala Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal UMM, Prof. Elfi juga membangun tim riset yang inklusif dan kolaboratif lintas disiplin, mulai dari teknologi pangan, peternakan, farmasi, hingga ekonomi syariah. Kolaborasi tersebut diperluas dengan berbagai perguruan tinggi dan pusat kajian halal untuk mengembangkan ekosistem halal yang berdampak pada pemberdayaan masyarakat. Prof. Elfi juga mengajak generasi muda untuk lebih peka terhadap persoalan di sekitar dan berani menghadirkan solusi melalui riset dan inovasi. “Bonus demografi harus diarahkan menjadi generasi emas yang respect terhadap masalah bangsa. Riset jangan berhenti di laporan dan jurnal, tetapi harus berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (Annisa)

Kenalkan SGC, Tim Komunikasi UMM Latih Branding Siswa SMAM 1 Bojonegoro

KETIK, MALANG – Menjawab tantangan promosi pendidikan di era digital, Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (Komunikasi UMM) menggelar pelatihan branding berbasis Student Generated Content (SGC) bagi siswa SMA Muhammadiyah 1 Bojonegoro, pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 30 siswa ini dilatarbelakangi kebutuhan sekolah untuk beradaptasi dengan pola komunikasi dan promosi yang berkembang di media sosial. Ketua tim pengabdian, Widiya Yutanti, memandang siswa sebagai representasi dalam membangun citra positif sekolah di ruang digital. Peran siswa, tambahnya, sangat strategis dalam membentuk persepsi publik. “Di era media sosial, masyarakat cenderung lebih mempercayai cerita yang autentik dari siswa dibandingkan materi promosi yang bersifat formal. Karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan sebagai kreator konten yang mampu menampilkan wajah sekolah secara kreatif dan tetap bertanggung jawab,” ujarnya. Materi pelatihan disampaikan oleh Isnani Dzuhrina dan Arum Martikasari. Keduanya mengenalkan konsep dasar branding sekolah, optimalisasi Student Generated Content, teknik produksi konten yang menarik, hingga etika dalam bermedia sosial. Selain pemaparan teori, peserta juga mengikuti praktik pembuatan konten bertema “A Day in My School”. Dalam kelompok kecil, siswa menyusun konsep, mengambil gambar, melakukan proses penyuntingan, hingga menyiapkan publikasi di media sosial sekolah. Isnani Dzuhrina memaparkan, pendekatan tersebut tidak semata-mata mengajarkan teknik promosi, melainkan membangun kesadaran siswa sebagai duta sekolah di ranah digital. “Setiap konten yang diunggah akan memengaruhi persepsi publik terhadap sekolah. Oleh karena itu, penting bagi siswa memahami prinsip ‘saring sebelum sharing’ agar citra yang terbentuk tetap positif dan profesional,” katanya. Salah satu peserta mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi yang kreatif. “Biasanya kami hanya mengunggah kegiatan sekolah apa adanya. Setelah mengikuti pelatihan ini, kami jadi memahami bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan bisa memperkenalkan sekolah dengan cara yang lebih kreatif,” tuturnya. (*)

Ramadan Berkemajuan ala UMM: Dari Tilawah hingga Tadabbur, Menata Ulang Makna HidupRamadan Berkemajuan ala UMM: Dari Tilawah hingga Tadabbur, Menata Ulang Makna Hidup

MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Di tengah derasnya arus digital, banjir informasi, dan gaya hidup serba cepat yang kerap membuat manusia kehilangan arah, Ramadan hadir sebagai ruang jeda untuk kembali menata makna. Menjawab tantangan zaman tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaungkan semangat Ramadan Berkemajuan melalui kajian Tarhib Ramadan yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026, di Masjid AR. Fachruddin. Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Mudzakkir, Lc., MA., Ph.D., sebagai narasumber utama, sekaligus mengajak sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berilmu. Mengusung tema “Ramadan Berkemajuan: Menyiapkan Diri Menjadi yang Bertaqwa dan Berilmu.”, Rofiq menyoroti realitas manusia modern yang kerap terjebak dalam distraksi dan pengalihan fokus. Kesibukan duniawi serta derasnya arus teknologi, menurutnya, sering kali menjauhkan manusia dari tujuan hakiki penciptaannya. Ramadan, kata dia, hadir sebagai momentum emas untuk melakukan reorientasi diri. “Momen Ramadan sebenarnya adalah momen untuk kembali kepada siapa diri kita yang sebenarnya, yaitu hamba Allah yang tugasnya mencari rida-Nya,” tegasnya. Ia juga mengajak jamaah lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam. Ibadah puasa, jelasnya, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan melatih manusia memahami ritme waktu dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bagian dari keteraturan kosmis ciptaan Allah. Kesadaran terhadap ritme ini akan melahirkan kedisiplinan sekaligus memperdalam ketundukan spiritual. Salah satu poin menarik yang disampaikan Rofiq adalah keindahan diksi Al-Qur’an dalam menempatkan urgensi aktivitas manusia. Ia menjelaskan, ketika berbicara tentang mencari rezeki, Al-Qur’an menggunakan kata famsyu (berjalanlah). Namun, saat menyeru manusia menuju ampunan dan perlindungan Allah, diksi yang digunakan meningkat menjadi fafirru (berlarilah). “Al-Qur’an membedakan urgensi dengan sangat indah. Untuk urusan dunia cukup berjalan biasa, namun saat menuju Allah gunakanlah fafirru atau berlarilah kencang, karena ini adalah kondisi darurat untuk menyelamatkan jiwa kita,” ungkapnya. Lebih jauh, Rofiq mengingatkan agar interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan tidak dilakukan secara parsial. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian orang yang hanya mengejar target kuantitas bacaan (tilawah) tanpa memahami maknanya (tadabbur), atau sebaliknya terlalu fokus pada kajian tanpa membiasakan diri membaca secara rutin. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan agar ibadah mencapai kualitas yang optimal. “Jangan dipilih salah satu. Dua-duanya harus dilakukan seimbang. Baca Al-Qur’an setiap hari minimal satu juz dan upayakan setiap hari ada ayat yang kita tadaburi maknanya agar meresap ke dalam hati,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah melakukan refleksi menyeluruh sebelum memasuki Ramadan. Dengan pendekatan manajerial “4M” (Memahami, Merencanakan, Melaksanakan, dan Mengevaluasi), ia menekankan bahwa ibadah perlu dirancang secara sadar dan terukur agar menghasilkan perubahan nyata. “Mari kita mengevaluasi apa yang kita lakukan dalam satu tahun terakhir, kemudian mengimplementasikan perbaikannya di bulan suci ini agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” tuturnya. Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berinovasi secara akademik, tetapi juga konsisten menghadirkan ruang-ruang penguatan spiritual. Sinergi antara keilmuan dan nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting dalam membentuk insan yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.(*)

Perkuat Branding Sekolah, Komunikasi UMM Latih Siswa SMAM 1 Bojonegoro Jadi Content Creator

KLIKMU.CO – Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pelatihan content creator di SMA Muhammadiyah 1 (SMAM 1) Bojonegoro, Rabu (12/2/2026). Acara tersebut dikemas bertajuk Pelatihan dan Pendampingan Branding dan Digital Marketing untuk Meningkatkan Daya Saing Sekolah Muhammadiyah. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 siswa dan difokuskan pada penguatan branding sekolah melalui strategi konten digital berbasis Student Generated Content (SGC). Pelatihan ini dilatarbelakangi kesadaran akan pentingnya branding sekolah Muhammadiyah, terutama untuk promosi dan marketing melalui media digital. Tim pengabdian melihat potensi besar siswa sebagai agen branding sekolah melalui konten kreatif di media sosial. Ketua tim pengabdian Widiya Yutanti menjelaskan bahwa siswa memiliki peran strategis dalam membentuk citra sekolah di ruang digital. “Di era media sosial, orang lebih percaya cerita autentik dari siswa dibandingkan materi promosi formal. Karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan menjadi content creator yang mampu menampilkan wajah positif sekolah secara kreatif dan bertanggung jawab,” ujarnya. Dalam pelatihan ini, Isnani Dzuhrina dan Arum Martikasari sebagai anggota tim pengabdian sekaligus pemateri, mengenalkan siswa pada konsep branding sekolah, peran Student Generated Content, teknik membuat konten menarik, hingga etika bermedia sosial. Peserta juga diajak praktik langsung membuat konten bertema A Day in My School dalam kelompok kecil, mulai dari perencanaan ide, pengambilan gambar, hingga proses editing dan publikasi. Isnani Dzuhrina menambahkan, pendekatan ini bukan sekadar mengajarkan promosi, tetapi juga membangun kesadaran siswa sebagai duta sekolah di ruang digital. “Apa yang mereka unggah di media sosial turut membentuk persepsi publik. Karena itu, penting untuk memahami prinsip ‘saring sebelum sharing’ agar branding sekolah tetap positif dan profesional,” jelasnya. Salah satu peserta mengaku kegiatan ini membuka wawasan baru tentang cara mempromosikan sekolah secara kreatif. “Biasanya kami hanya posting kegiatan biasa saja. Setelah pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan bisa memperkenalkan sekolah dengan cara yang seru,” ungkapnya. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi SMAM 1 Bojonegoro dalam mengoptimalkan potensi siswa sebagai agen branding sekolah, sekaligus meningkatkan daya saing melalui strategi digital marketing yang lebih adaptif dan partisipatif.

Siswa Punya Peran Strategis Bangun Citra Sekolah di Ruang Digital

MAKLUMAT — Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Widiya Yutanti menjelaskan bahwa siswa memiliki peran strategis dalam membentuk citra sekolah di ruang digital. Hal itu ia sampaikan setelah timnya menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan dan Pendampingan Branding dan Digital Marketing untuk Meningkatkan Daya Saing Sekolah Muhammadiyah” di SMA Muhammadiyah 1 Bojonegoro, Rabu (12/2/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 30 siswa dan difokuskan pada penguatan branding sekolah melalui strategi konten digital berbasis Student Generated Content (SGC). “Di era media sosial, orang lebih percaya cerita autentik dari siswa dibandingkan materi promosi formal. Karena itu, siswa perlu dibekali keterampilan menjadi content creator yang mampu menampilkan wajah positif sekolah secara kreatif dan bertanggung jawab,” ujarnya. Widya menjelaskan bahwa pelatihan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya branding sekolah Muhammadiyah, terutama dalam promosi dan pemasaran melalui media digital. Tim pengabdian melihat potensi besar siswa sebagai agen branding sekolah melalui konten kreatif di media sosial. Dalam pelatihan ini, Isnani Dzuhrina dan Arum Martikasari sebagai anggota tim pengabdian sekaligus pemateri, mengenalkan siswa pada konsep branding sekolah, peran Student Generated Content, teknik membuat konten menarik, hingga etika bermedia sosial. Peserta juga diajak praktik langsung membuat konten bertema “A Day in My School” dalam kelompok kecil, mulai dari perencanaan ide, pengambilan gambar, hingga proses editing dan publikasi. Baca Juga  UMM Jadi Tuan Rumah KKI dan Abdidaya yang Digelar Terpadu, Tegaskan Posisi dalam Ekosistem Inovasi Nasional Isnani menjelaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar mengajarkan promosi, tetapi membangun kesadaran siswa sebagai duta sekolah di ruang digital. “Apa yang mereka unggah di media sosial turut membentuk persepsi publik. Karena itu, penting untuk memahami prinsip ‘saring sebelum sharing’ agar branding sekolah tetap positif dan profesional,” jelasnya. Ia berharap agar kegiatan ini menjadi langkah awal bagi sekolah dalam mengoptimalkan potensi siswa sebagai branding agent sekolah. Hal ini pun juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing melalui strategi digital marketing yang lebih adaptif dan partisipatif.​ Salah satu peserta mengaku kegiatan ini membuka wawasan baru tentang cara mempromosikan sekolah secara kreatif. “Biasanya kami hanya posting kegiatan biasa saja. Setelah pelatihan ini, kami jadi tahu bagaimana membuat konten yang lebih menarik dan bisa memperkenalkan sekolah dengan cara yang seru,” ungkapnya.​