Muhammadiyah Gelar Tarawih Perdana, Jemaah Padati Masjid di Kota Malang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Muhammadiyah resmi menggelar salat tarawih malam pertama Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2) malam. Ratusan hingga ribuan jamaah memadati masjid-masjid naungan Muhammadiyah di Kota Malang, menyambut datangnya bulan suci dengan penuh antusias. Sejumlah masjid terlihat dipenuhi jamaah sejak Salat Isya, di antaranya Masjid A.R. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang dan Masjid Manarul Islam Sawojajar. Warga Muhammadiyah dijadwalkan mulai menjalankan ibadah puasa pada Rabu (18/2). Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2). Salah satu tokoh Muhammadiyah Kota Malang, KH Zubeir Suryadi Abdullah, Lc, menjelaskan bahwa perbedaan waktu dalam memulai puasa merupakan hal yang wajar di Indonesia. Ia menyebut, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dalam menentukan kalender Hijriah. “Dalam metode lain ada rukyat dan hisab yang digunakan sebagian masyarakat Indonesia dan juga beberapa negara seperti Malaysia. Ini hal yang diperbolehkan, dan jika berpegang pada keduanya, semuanya tepat,” ujarnya. Pembina Yayasan Amal Shaleh Malang yang menaungi Masjid Manarul Islam itu juga menekankan agar perbedaan awal puasa tidak menimbulkan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. “Kita bisa memulai puasa besok dan ada yang memulai lusa. Jangan sampai bertemu saudara kita lalu muncul perasaan yang tidak baik. Ini hal wajar dan beberapa kali juga pernah bersamaan,” katanya saat memberikan tausiyah sebelum tarawih. Ia berharap umat Muslim, khususnya warga Muhammadiyah yang mulai berpuasa lebih awal, tetap menjaga sikap saling menghormati. Menurutnya, puasa adalah ibadah mulia yang tidak boleh ternodai oleh perasaan tidak nyaman akibat perbedaan. “Mari kita ikhlaskan bersama. Kalau Allah saja membolehkan kita berbeda, maka kita perlu saling mengerti dan memahami, serta memperbanyak ibadah di bulan Ramadan ini,” pungkasnya. (rex/aim)

ASPIKOM Jawa Timur Tegaskan Kepemimpinan Strategis Pendidikan Ilmu Komunikasi, Kukuhkan Pengurus 2025–2029 di UMM

tuntasmedia, ASPIKOM Jawa Timur menegaskan kepemimpinan strategisnya dalam penguatan pendidikan tinggi ilmu komunikasi melalui rangkaian pelantikan pengurus periode 2025–2029 dan seminar nasional yang digelar di Aula GKB 5 Universitas Muhammadiyah Malang pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri sekitar 80 dosen dan perwakilan dari 32 perguruan tinggi se-Jawa Timur, mencerminkan konsolidasi organisasi profesi yang semakin solid dan terarah. Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. selaku tuan rumah. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran organisasi profesi dalam menjaga mutu lulusan komunikasi agar adaptif terhadap transformasi digital dan responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah. Prosesi pelantikan dipimpin oleh Ketua ASPIKOM Pusat Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM. Ketua ASPIKOM Jawa Timur periode 2025–2029, Awang Dharmawan, S.Ikom., M.A., dosen Universitas Negeri Surabaya, memimpin pembacaan ikrar kepengurusan yang diikuti seluruh pengurus dan peserta sebagai simbol komitmen kolektif menjalankan amanah organisasi secara profesional dan berdampak. Struktur kepengurusan periode ini dirancang lebih komprehensif melalui pembentukan Badan Pengurus Harian, Dewan Pakar dalam lima bidang strategis, serta enam departemen utama yang mencakup kurikulum dan laboratorium, akreditasi dan penjaminan mutu, penelitian dan publikasi ilmiah, kehumasan, kerjasama strategis, serta organisasi dan keanggotaan. Struktur ini diarahkan untuk menjawab tantangan kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi serta kebutuhan penguatan mutu prodi komunikasi di Jawa Timur. Rangkaian kegiatan juga diisi seminar nasional bertema Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Diktisaintek yang Berdampak untuk Pembangunan Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. Emil Elestianto Dardak berhalangan hadir dan diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP. Dalam paparannya, Sherlita menyampaikan bahwa ilmu komunikasi memiliki peran krusial dalam mendukung literasi digital, pengelolaan informasi publik, serta penyebarluasan kebijakan pendidikan tinggi yang inklusif dan akurat. Diskusi berlangsung interaktif dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi yang membahas integrasi kecerdasan artifisial dalam kurikulum komunikasi, etika media digital, serta kontribusi riset komunikasi terhadap pembangunan daerah. Seminar ini memperkuat posisi ASPIKOM Jawa Timur sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mengawal kebijakan pendidikan tinggi berbasis kebutuhan lokal. Sebagai langkah konkret penguatan akademik, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara ASPIKOM Jawa Timur dan Intrans Publishing untuk mendukung penerbitan buku dan publikasi ilmiah dosen anggota. Usai pelantikan dan seminar, kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi wilayah dan sidang pleno yang membahas penyusunan program kerja lima tahunan serta pemaparan rencana strategis tiap departemen. Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum seremonial, tetapi juga ruang silaturahmi dan peningkatan insight antar dosen komunikasi se-Jawa Timur. Konsolidasi yang terbangun diharapkan memperkuat kolaborasi lintas kampus dalam peningkatan akreditasi, riset bersama, pengabdian masyarakat, serta pengembangan laboratorium komunikasi. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, ASPIKOM Jawa Timur menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan ilmu komunikasi yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi pembangunan Jawa Timur. (RF)

Arak-Arakan dan Nyadran Empu Topeng Malang, Puncak Sakral Festival Kampung Budaya Polowijen #9

KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut. Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) kliktimes, Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual. Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival. Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang. Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya, “Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (HO/KLIKTIMES.COM) Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.

Ramadan Momentum Bangun Peradaban Unggul

TVRINEWS, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menekankan pentingnya transformasi karakter intelektual melalui momentum Ramadan 1447 Hijriah untuk mencetak generasi Ulul Albab. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa bulan suci Ramadan harus dimaknai sebagai titik balik kebangkitan peradaban bagi kaum intelektual, melampaui sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin pada Selasa 17 Februari 2026, Prof. Nazaruddin menyerukan agar nilai-nilai ibadah diintegrasikan ke dalam karakter penggerak kemajuan sosial. Menurutnya, esensi dari puasa, shalat, dan zakat seharusnya menjadi kekuatan internal (indigenous forces) yang mendorong inovasi tanpa pamrih. “Apabila dimensi ibadah telah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, maka akan muncul dorongan kuat untuk menciptakan kemajuan baru, alih-alih melakukan pengrusakan,” ujar Prof. Nazaruddin. Pendidikan sebagai Instrumen Reformasi Bangsa Sebagai pimpinan di institusi yang dikenal dengan julukan “Kampus Putih”, Prof. Nazaruddin memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi karakter bangsa. Ia mendorong civitas akademika untuk menjadi golongan Ulul Albab, yakni para pemikir yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kepekaan spiritual terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan. Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan sosial kontemporer seperti ketidaktertiban di ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Dalam perspektifnya, perilaku koruptif tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga mencakup ketidakmampuan individu dalam mengendalikan ego sektoral di ranah sosial. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan yang mampu mencegah karakter korup. Perilaku korup dalam makna luas adalah ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelas Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Etos Kerja sebagai Jihad Modern Dalam kerangka berpikir yang lebih luas, Prof. Nazaruddin mereformulasi makna jihad dalam konteks profesionalisme modern. Ia mendefinisikan jihad sebagai badzlul juhdi, atau ikhtiar maksimal dalam berkarya dan bekerja. Ia menekankan bahwa umat Islam harus bertransformasi dari sekadar konsumen peradaban menjadi produsen kebudayaan yang inovatif dan solutif. Bangsa yang unggul, menurutnya, adalah bangsa yang konsisten melakukan perubahan demi kemaslahatan bersama. “Marilah kita mewujudkan the society of Ulul Albab, sebuah masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk selalu memberikan kontribusi terbaik bagi lingkungannya,” pungkasnya menutup ceramah tersebut. Melalui pesan ini, UMM berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama dalam pengembangan Center of Excellence, guna melahirkan insan yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga unggul secara sosial dan intelektual bagi kemajuan bangsa.

Berbeda dengan Pemerintah? Pakar Ilmu Falak UMM Jelaskan Dasar Ilmiah Penetapan 1 Ramadan 1447 H

pwmu.co – Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu (18/2/2026) oleh Muhammadiyah kembali memicu diskusi publik. Potensi perbedaan awal puasa dengan keputusan pemerintah ramai dibicarakan, terutama di media sosial.Menanggapi hal itu, Pakar Ilmu Falak Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Drs. M. Sarif, M.Ag., memaparkan penjelasan dari perspektif astronomi dan fikih. Ia menegaskan bahwa perbedaan awal Ramadan merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam. Menurutnya, persoalan tersebut bukan tentang benar atau salah, melainkan tentang metode yang digunakan dalam menetapkan awal bulan hijriah. Sarif menjelaskan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Penetapan tersebut menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yakni kalender Islam berbasis perhitungan astronomis (hisab) yang berlaku secara internasional. KHGT, lanjutnya, dirancang sebagai upaya menghadirkan kalender Islam yang lebih terintegrasi, memiliki kepastian jauh hari, dan dapat digunakan lintas negara. Sistem ini dibangun atas Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP), dengan ketentuan antara lain tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat setelah ijtimak, yang terpenuhi di mana pun di permukaan bumi. Untuk Ramadan tahun ini, parameter tersebut telah tercapai di Alaska, Amerika Serikat. Dalam kerangka KHGT, apabila hilal telah memenuhi kriteria secara definitif di satu wilayah di bumi, maka awal bulan berlaku secara global tanpa dibatasi batas negara. Secara astronomis, ijtimak terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 12.01 UTC atau sekitar 19.01 WIB. Peristiwa ini menandai berakhirnya bulan sebelumnya sekaligus menjadi titik awal terbentuknya hilal. Setelah matahari terbenam, posisi hilal di wilayah tertentu telah memenuhi parameter KHGT, sehingga keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadan. Namun, situasi di Indonesia berbeda. Pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah ufuk atau bernilai negatif. Artinya, belum memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah melalui Kementerian Agama, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat di wilayah Indonesia. Karena itu, secara astronomis pemerintah berpotensi menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026 setelah proses rukyat dan sidang isbat dilaksanakan. Sarif menekankan bahwa kedua pendekatan tersebut memiliki landasan ilmiah masing-masing. Muhammadiyah menggunakan metode hisab global yang bersifat definitif, sedangkan pemerintah memadukan hisab dan verifikasi rukyat dengan cakupan teritorial Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa perbedaan ini tidak menyentuh aspek akidah maupun substansi ibadah, melainkan sebatas perbedaan teknis dalam metodologi falak dan ruang lingkup penerapannya. Dari sisi fikih, penerapan KHGT berpijak pada konsep ittihad al-mathali’ atau kesatuan matlak global. Konsep ini memandang bahwa apabila hilal telah terbukti secara ilmiah di satu tempat, maka umat Islam dapat menetapkannya secara bersama. Sebagai akademisi, ia mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan tersebut secara arif. Menjaga ukhuwah, menghormati otoritas masing-masing, serta tetap memprioritaskan kualitas ibadah Ramadan dinilai jauh lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan metode.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Nyadran Makam Empu Topeng, Puncak Acara Kampung Budaya Polowijen#9

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut. Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (Foto:rri/mey) Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen. Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual. Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi. Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival. Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang. Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya, “Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara. Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. (Mey)

Tradisi Bertemu Teknologi, KBP Digital Resmi Mengudara di Festival KBP #9

JATIMTIMES  – Upaya pelestarian budaya Malangan kini memasuki babak baru. Di tengah gelaran Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9, Minggu (15/2/2026), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang resmi meluncurkan KBP Digital, platform dokumentasi budaya berbasis daring yang digagas mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026. Peluncuran dilakukan langsung oleh Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, dalam suasana khidmat prosesi Megengan dan Wilujengan. Kehadiran platform ini menjadi penanda transformasi Kampung Budaya Polowijen dari ruang budaya berbasis tradisi lisan menuju bank data digital yang bisa diakses lintas generasi. KBP Digital dirancang sebagai pusat arsip budaya yang memuat e-book serta dokumentasi beragam kekayaan lokal, mulai dari Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga kuliner khas Malang. Seluruh konten dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke Linktree, memudahkan masyarakat menjelajahi informasi secara praktis. Prof. Sutawi menegaskan, digitalisasi bukanlah bentuk pengaburan tradisi, melainkan strategi menjaga keberlanjutan budaya di tengah perubahan zaman. “Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan. Modernisasi itu perlu, dan digitalisasi menjadi salah satu cara agar budaya tetap hidup dan dikenal luas,” ujarnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan warisan budaya tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga tersimpan secara ilmiah dan terdigitalisasi. Peluncuran ini turut disaksikan Kepala Lembaga Kebudayaan UMM Dr. Daroe Wahyutiningsih selaku dosen pendamping lapangan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Rendra Fatrisna Kurniawan, serta Camat Blimbing I Ketut Widi Eka Wirawan. Sementara itu, Ki Demang selaku penggagas Kampung Budaya Polowijen menyebut KBP Digital lahir melalui proses panjang pembelajaran dalam program Sinau Budaya. Para mahasiswa tidak hanya melakukan dokumentasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik kebudayaan, mulai dari membatik, mengolah kuliner tradisional, hingga produksi konten budaya. “Mereka belajar langsung di lapangan. Ini bukan sekadar proyek digital, tetapi bagian dari laku budaya bersama,” ungkapnya. Festival KBP #9 sendiri berlangsung sejak pagi dengan berbagai agenda. Kegiatan diawali Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan. Dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang yang mengangkat praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng. Memasuki siang hingga sore, panggung seni menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, hingga tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai budaya. Puncak acara ditandai dengan prosesi Megengan, peluncuran KBP Digital, wilujengan, serta ditutup Nyadran dan arak-arakan topeng sebagai simbol penghormatan leluhur. Hadirnya KBP Digital mempertegas bahwa pelestarian budaya tidak harus berseberangan dengan teknologi. Justru melalui pendekatan digital, Kampung Budaya Polowijen menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi, terdokumentasi, dan menjangkau khalayak yang lebih luas, tanpa kehilangan akar nilai lokalnya.

Kolaborasi UMM-Undana Berbagi Teknologi Pupuk Hayati di TTS, Dorong Produktivitas Lahan Kering

TTS, MataTimor.com|| Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbagi teknologi pupuk hayati kepada para petani di Desa Nobi-Nobi, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin (16/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari riset dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan produksi pertanian di lahan kering. Dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM, Henik Sukorini bersama Erny Ishartati menjelaskan bahwa teknologi yang dibagikan kepada petani telah melalui proses penelitian yang matang. “Bagian dari penelitian kami itu, sebelum ke petani, kami buktikan dulu kalau bagus baru kami bagikan. Karena temuan kami ini baru pertama kali dicoba di lahan kering di luar Jawa. Selama ini kami uji di lahan kering di Pulau Jawa yang masih relatif subur,” jelas Henik kepada MataTimor.com di sela-sela kegiatan. Menurutnya, tahun ini UMM bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dalam pelaksanaan penelitian di TTS. Penelitian tersebut dipimpin oleh Ir. I N Prijo Soetedjo, MS, PhD, bersama mahasiswa. Henik menyebutkan, terdapat empat produk yang dikembangkan, yakni dua jenis pupuk hayati dan dua jenis bakteri. Salah satunya adalah bakteri Mikoriza, yang merupakan temuan tim UMM. “Miogorisa ini kami kombinasikan untuk memperbaiki pertumbuhan tanaman, terutama dalam kondisi kekeringan dan cekaman air. Hasilnya sangat bagus dan perbedaannya sangat jauh. Di lahan uji coba di Nobi-Nobi ada yang diberi pupuk hayati dan ada yang tidak. Tongkol jagung yang diberi pupuk jauh lebih besar dibanding yang tidak diberi,” ungkapnya. Dengan hasil tersebut, UMM merasa yakin untuk memperkenalkan dan membagikan teknologi tersebut kepada petani secara lebih luas. Henik menegaskan, pemilihan Nusa Tenggara Timur sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. UMM memiliki prioritas untuk mendukung ketahanan pangan di daerah yang rentan kekurangan pangan. “Di kampus Muhammadiyah Malang ada tujuan membantu ketahanan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan. Dari prioritas itu dipilih NTT. Di NTT bisa Soe, bisa TTU, intinya di wilayah yang mengalami kekeringan. Karena bakteri yang kami temukan khusus untuk mengatasi kekeringan, maka kami minta Undana memilih daerah yang tanahnya kering. Dipilihlah TTS karena musim hujannya lambat datang,” jelasnya. Desa Nobi-Nobi menjadi lokasi pertama penelitian dan uji coba di TTS. Selain melakukan uji lapangan, tim UMM dan Undana juga mengajarkan secara langsung cara pembuatan pupuk hayati kepada masyarakat. “Bahan untuk membuat pupuk ini sangat banyak di TTS. Jangan bergantung kepada kami. Kami sudah kasih tahu caranya supaya mandiri dan bisa buat sendiri. Tetapi untuk bakteri itu bagian dari teknologi, jadi petani tidak sembarangan membuatnya. Untuk yang masih ragu, silakan buktikan sendiri di lahannya,” tegas Henik.

Aspikom Lantik Pengurus Baru

jaim.times, MALANG – Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Koordinator Wilayah Jawa Timur secara resmi melantik jajaran pengurus baru periode 2025-2029 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu (14/2/2026). Ketua ASPIKOM Korwil Jatim resmi disandang oleh akademisi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. yang menggantikan kepengurusan sebelumnya. Tak hanya pelantikan, acara ini juga dibarengi dengan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Daerah guna merumuskan program strategis ilmu komunikasi di Jawa Timur. Mengusung tema “Memperkuat Peran Strategis Ilmu Komunikasi dalam Peta Jalan Dikti Saintek yang Berdampak untuk Pembangunan di Jawa Timur”, momentum pelantikan ini penting untuk menyatukan visi 41 perguruan tinggi se-Jawa Timur. Awang Dharmawan, menyoroti potensi besar sumber daya manusia (SDM) komunikasi di wilayahnya. Menurutnya, terdapat lebih dari 16.000 mahasiswa dari sekitar 40 program studi rumpun ilmu komunikasi di Jawa Timur. Rencananya kedepan, kerja sama dengan industri dan pemerintah, seperti Dinas Kominfo Jawa Timur. “Kita perluas supaya ASPIKOM dapat memberikan dampak nyata pada masyarakat, ini juga bukan sekedar kuantitas, tetapi melahirkan peradaban baru,” ujarnya. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., juga menyambut hangat ASPIKOM. Ia pun menegaskan bahwa saat ini harus sinergi tingkat tinggi, bukan persaingan individual. “Paradigma “hebat sendirian” dinilai tak lagi relevan di era kolaborasi,” tegasnya dalam sambutan. Prof. Tri menegaskan kemajuan hanya dapat dicapai melalui sinergi, sebagaimana terlihat dari keterlibatan berbagai asosiasi seperti Perhumas dalam forum tersebut. Ia juga menekankan pentingnya laboratorium komunikasi di setiap kampus sebagai pusat pengembangan keilmuan untuk meraih akreditasi unggul. Dosen didorong melanjutkan studi hingga S3 dan meraih gelar Guru Besar guna memperkuat mutu pendidikan. Kegiatan ini dihadiri Ketua Umum ASPIKOM Pusat Prof. Dr. Anang Sujoko dan Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur Sherlita Ratna Dewi Agustin, sebagai bentuk komitmen mewujudkan pendidikan komunikasi yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri. (*)

Kolaborasi UMM dan Petani Dorong Kopi Srandil Jadi Komoditas Unggulan

Dokumentasi Kegiatan Pelatihan Budidaya Kopi Srandil (Foto: Panitia) RRI.CO.ID, Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berkolaborasi dengan masyarakat dalam pengembangan potensi lokal. Kolaborasi kali ini melalui pelatihan budidaya kopi di Desa Tlekung, Kota Batu. Pelatihan ini tak hanya membekali teknik budidaya, tetapi juga menumbuhkan harapan agar kopi lokal mampu menggerakkan ekonomi desa secara berkelanjutan sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan. Program ini difokuskan pada pengembangan kopi endemik Srandil agar bisa menjadi komoditas unggulan lokal. Tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa UMM memberikan pelatihan teknis kepada anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sumber Makmur Sembada, mulai dari teknik grafting atau sambung pucuk hingga perbanyakan tanaman melalui stek untuk menghasilkan bibit kopi unggul yang lebih seragam dan adaptif terhadap kondisi lingkungan. Tak hanya soal memperbanyak bibit, para petani juga diajak memahami pentingnya pemangkasan cabang kopi. Lewat praktik langsung di lapangan, mereka belajar bagaimana pemangkasan yang tepat dapat memperbaiki struktur tanaman, melancarkan sirkulasi udara, dan meningkatkan hasil panen. Peserta juga dikenalkan dengan teknologi solar dryer, alat pengering tenaga surya yang dilengkapi sistem otomatisasi suhu dan kelembaban. Dengan alat ini, proses pengeringan biji kopi menjadi lebih stabil dan higienis, sehingga kualitas kopi tetap terjaga meski cuaca sedang tidak menentu. “Kami ingin petani tidak hanya mampu menghasilkan bibit unggul, tetapi juga memahami teknik budidaya dan pascapanen yang baik agar kopi Srandil memiliki kualitas yang mampu bersaing,” ujar Ilmam Zul Fahmi selaku Ketua tim pengabdian, Selasa (18/02/2025). Program ini menjadi langkah strategis untuk menjadikan kopi endemik Srandil sebagai identitas lokal sekaligus sumber ekonomi masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan pemanfaatan teknologi tepat guna.