Inilah Keutamaan Sholat Tarawih dari Malam Pertama Hingga Malam ke 30

PORTAL SULUT – Berikut ini keutamaan sholat Tarawih dari malam 1 hingga ke 30. Shalat Tarawih adalah shalat malam atau Qiyamul Lail yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan dan hukum Shalat Tarawih di bulan Ramadhan adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Keutamaan Shalat Tarawih sangatlah besar dan sayang untuk dilewatkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah Muharram, dan seutama-utama shalat setelah Shalat Fardhu adalah salat lail. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam seorang laki-laki dari Qudho’ah lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut engkau andaikata saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan engkau Rasul Allah, saya shalat lima waktu, saya puasa di bulan Ramadhan, saya mengerjakan Qiyam Ramadhan dan saya mengeluarkan zakat?, Maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa yang meninggal di atas hal ini maka ia termasuk dari para shodiqin dan orang-orang yang mati syahid. Shalat Tarawih memiliki banyak keutamaan dan atau Fadhilah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuni dosa dan memberikan banyak imbalan kepada hambanya yang rajin dan ikhlas menjalankan Shalat Tarawih di setiap malam bulan Ramadhan. Melewatkan satu malam saja kita akan merasa sangat merugi. Lalu apa saja Fadhilah Shalat Tarawih di bulan Ramadhan itu? Dikutip Portal Sulut dari Channel YouTube Tadabbur Ilmi, dalam kitab Durratun Nashihin terdapat suatu hadits dari Ali Bin Abi Thalib Radhiallahu Anhu, ia menyebutkan bahwa Fadhilah Shalat Tarawih pada bulan Ramadhan itu berbeda-beda setiap malamnya. Fadhilah pada malam pertama seorang mukmin akan keluar dari dosanya seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya. Pada malam kedua diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya jika keduanya beriman. Pada malam ketiga malaikat memanggil dari bahwa Arsy mulailah beramal tentu Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu. Pada malam ke-empat akan mendapatkan pahala seperti membaca Taurat, Zabur, Injil dan Al Furqon. Pada malam kelima Allah SWT memberikannya pahala seperti orang yang mengerjakan shalat di Masjidil Haram di Masjid Madinah dan di Masjid Aqsa. Pada malam ke-enam Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya pahala orang yang bertawaf di Baitullah makmur dan memohonkan ampun untuknya semua debu dan batu. Pada malam ketujuh seakan-akan dia telah berjumpa dengan Nabi Musa Alaihissalam dan membelanya melawan Firaun dan Haman. Pada malam kedelapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan memberinya seperti apa yang diberikannya kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam. Pada malam kesembilan seakan-akan dia telah beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala seperti ibadahnya nabi Muhammad Sallallahu Allaihi Wasallam. Pada malam kesepuluh Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Pada malam ke-11 dia akan keluar dari dunia seperti pada saat dia dilahirkan dari ibunya. Pada malam ke-12 dia akan datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan pada malam purnama. Pada malam ke-13 dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dan selamat dari segala keburukan. Pada malam ke-14 para Malaikat akan datang dan bersaksi untuknya bahwa dia benar-benar telah mengerjakan Shalat Tarawih dan Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat. Pada malam ke-15 semua malaikat pemikul Arsy dan pemikul kursi mendoakan kepadanya. Pada malam ke-16 Allah Subhanahu Wa Ta’ala menulis untuknya selamat dari masuk neraka dan diberi kebebasan untuk masuk ke dalam Surga. Pada malam ke-17 dia akan diberi pahala seperti pahalanya para nabi. Pada malam ke-18 Malaikat memanggilnya “Hai hamba Allah sesungguhnya Allah telah ridha kepadamu dan kedua orang tuamu. Pada malam ke-19 Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat derajatnya di surga firdaus. Pada malam ke-20 dia diberi pahala seperti pahala orang yang mati syahid dan para sholihin. Pada malam ke-21 Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah gedung dari Nur di Surga. Pada malam ke-22 dia akan datang di hari kiamat dengan aman dari segala macam kesusahan dan kesedihan. Pada malam ke-23 Allah Subhanahu Wa Ta’ala membangunkan untuknya sebuah kota di Surga. Pada malam ke-24 dia akan memiliki 24 doa yang dikabulkan Pada malam ke-25 Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menghilangkan siksa kubur darinya. Pada malam ke-26 Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menerima pahalanya selama 40 tahun. Pada malam ke-27 dia akan lewat di atas sirod pada hari kiamat seperti kilat yang menyambar. Pada malam ke-28 Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengangkat 1000 derajat baginya di Surga. Pada malam ke-29 Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberinya pahala 1000 kali ibadah haji yang diterima. Dan pada malam ke-30 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman “Hai hamba-ku makanlah dari buah-buahan surga, mandilah dari air sungai Salsabil, Aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah hambaku. Demikianlah Fadhilah jika kita melaksanakan Shalat Tarawih dari malam pertama sampai malam ke-30.***
Membuka Peluang dari Traktat Jakarta dan Hadapi Persepsi Ancaman

metrotvnews, Jakarta: Penandatanganan Treaty on Common Security atau Traktat Jakarta 2026 antara Indonesia dan Australia bukan sekadar kelanjutan dari kerja sama pertahanan rutin, ini adalah pertaruhan geopolitik paling signifikan di dekade ini. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mencoba merajut mekanisme konsultasi keamanan yang lebih terstruktur dengan tetangga selatannya. Namun, bagi para analis studi keamanan, traktat ini membawa satu pertanyaan eksistensial bagi politik luar negeri bebas-aktif: mampukah dua negara dengan memori sejarah dan persepsi ancaman yang berbeda berdiri di atas pijakan yang sama ketika menghadapi manuver militer Tiongkok di halaman belakang mereka? Titik pelik dari traktat ini bukanlah pada apa yang tertulis di atas kertas, melainkan pada apa yang terjadi di perairan. Isu persepsi ancaman menjadi gajah di dalam ruangan yang sulit diabaikan. Kita harus berkaca pada insiden Februari tahun lalu, ketika kapal perang Angkatan Laut Tiongkok (PLA-N) melakukan latihan perang dengan amunisi tajam (live fire drills) di perairan internasional Laut Tasmania. Bagi publik Australia, kehadiran militer Tiongkok yang merangsek jauh ke selatan dan bahkan jauh dari Laut China Selatan dan mendekati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Australia dianggap sebagai alarm bahaya tingkat tinggi. Kejadian ini tidak biasa dan sangat provokatif bagi Canberra, karena menunjukkan bahwa “benteng alami” Australia di Pasifik Selatan tidak lagi tak tersentuh. Di sinilah letak jurang persepsi yang mendalam. Indonesia, selama bertahun-tahun, cenderung mengadopsi respons yang jauh lebih lunak terhadap agresivitas Tiongkok. Di Laut China Selatan, misalnya, Indonesia merespons agresifitas PLA-N relatif lebihl lunak jika dibandingkan dengan Filipina atau Vietnam. Jakarta sering kali memilih jalur diplomasi sunyi untuk menghindari konfrontasi terbuka yang dapat mengganggu stabilitas investasi dan ekonomi. Sementara Australia melihat kehadiran PLA-N di Laut Tasmania sebagai ancaman keamanan nasional, Jakarta mungkin hanya melihatnya sebagai bagian dari dinamika “kebebasan navigasi” di perairan internasional. Perbedaan suhu dalam memandang Beijing inilah yang berpotensi menjadi kerikil tajam dalam implementasi Traktat Jakarta 2026. Dilema ALKI Masalah ini menjadi semakin teknis dan berbahaya ketika kita memasukkan variabel Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Secara geografis, ALKI adalah “jalan tol” maritim yang sah bagi kapal-kapal asing, termasuk kapal perang, untuk melintas dari utara ke selatan. Meski pada insiden tahun lalu kapal Tiongkok mungkin tidak menggunakan ALKI, skenario masa depan sangat mungkin berubah. Jika Tiongkok memutuskan untuk menggunakan ALKI sebagai jalur utama pengerahan kekuatan angkatan lautnya menuju perairan Australia untuk melakukan tekanan psikologis atau militer, Indonesia akan terjebak dalam dilema kedaulatan yang mustahil. Bayangkan jika tensi antara Canberra dan Beijing mencapai titik didih. Dalam kerangka Traktat Jakarta yang baru, Australia kemungkinan besar akan menuntut solidaritas dari Indonesia untuk membatasi atau bahkan menutup akses ALKI bagi armada tempur Tiongkok. Secara hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982, Indonesia memiliki kewajiban untuk menjamin hak lintas alur laut kepulauan. Meski demikian, dalam kondisi force majeure, Indonesia dibenarkan ketika terpaksa menutup sementara akses ALKI dengan alasan keamanan, keselamatan navigasi, atau pertahanan negara. Namun, jika Indonesia tetap membiarkan kapal-kapal Tiongkok melintas menuju teras rumah Australia, Canberra akan memandang Traktat Jakarta sebagai dokumen kosong yang tidak berguna saat mereka benar-benar membutuhkan perlindungan keamanan bersama. Di sisi lain, jika Indonesia mengikuti keinginan Australia, Jakarta akan dianggap telah meninggalkan prinsip bebas-aktif dan secara terbuka bergabung dalam kebijakan containment (pembendungan) terhadap Tiongkok, yang pastinya akan memicu balasan ekonomi dan politik dari Beijing. Ketidaksamaan persepsi ini kian diperparah oleh narasi yang berjalan paralel. Pemerintah Indonesia melalui Menlu Sugiono menekankan bahwa traktat ini hanyalah mekanisme konsultasi, bukan pakta pertahanan atau aliansi militer. Namun, narasi yang berkembang di media internasional dan Australia justru menangkap sinyal sebaliknya. Indonesia harus mampu meng-counter anggapan ini. Sejumlah laporan menyoroti bahwa di bawah Traktat Jakarta, kedua negara akan mempertimbangkan respons militer bersama jika salah satu pihak diserang. Adanya program embedded position bagi perwira senior TNI di Angkatan Bersenjata Australia (ADF) juga dibaca oleh publik internasional sebagai langkah menuju interoperabilitas penuh, sebuah ciri khas dari aliansi militer formal. Risiko persepsi ini adalah bahaya nyata bagi kedaulatan Indonesia. Jika pihak ketiga, dalam hal ini Tiongkok, membaca langkah Indonesia sebagai pergeseran menuju aliansi Barat, maka ruang manuver diplomasi Indonesia akan menyempit drastis. Indonesia tidak lagi dipandang sebagai mediator jujur di kawasan, melainkan sebagai bidak dalam papan catur persaingan kekuatan besar. Oleh karena itu, transparansi mengenai apa yang dimaksud dengan “beroperasi dari negara masing-masing” dalam teks traktat tersebut menjadi sangat krusial. Prosedur operasional standar (SOP) harus dibuat dengan sangat ketat untuk memastikan bahwa kerja sama ini tidak menjadi pintu belakang bagi pangkalan militer asing atau forward presence yang provokatif. Pentingnya Mutual Trust Agar Traktat Jakarta memberikan untung strategis, Indonesia harus memimpin desain implementasinya dengan prinsip “keamanan maritim bersama” yang inklusif, bukan konfrontatif. Indonesia harus memanfaatkan traktat ini untuk memperoleh peningkatan kapasitas yang konkret melalui Australia-Indonesia Defence Cooperation Agreement (DCA). Transfer pengetahuan dalam hal keamanan maritim, penanggulangan bencana, dan teknologi pertahanan harus menjadi prioritas utama. Dengan fokus pada bidang-bidang dengan risiko politik rendah namun manfaat publik tinggi, Indonesia dapat memperkuat otot pertahanannya tanpa harus terlibat dalam politik blok yang mematikan. Selain itu, Indonesia perlu memperjelas posisinya terhadap ekosistem keamanan Australia yang lain, seperti Five Power Defence Arrangements (FPDA) dan AUKUS. Meskipun Australia memiliki komitmen dengan negara-negara lain, Traktat Jakarta harus memastikan bahwa aktivitas yang dilakukan dalam kerangka tersebut tidak mengganggu kepentingan nasional Indonesia. Mekanisme konsultasi rutin yang dijanjikan traktat ini harus dijadikan kanal resmi untuk klarifikasi dini dan deconfliction kebijakan, sehingga yang muncul adalah rasa aman bersama, bukan kecurigaan yang didorong oleh disinformasi. Pada akhirnya, kerja sama Indonesia–Australia hanya akan berhasil jika kedua negara berhenti berpura-pura bahwa mereka memiliki persepsi ancaman yang identik. Kejujuran diplomatik sangat diperlukan. Indonesia harus dengan tegas menyatakan batas-batas kedaulatannya, termasuk ketidakmampuan secara hukum untuk menutup ALKI hanya demi kepentingan politik satu pihak. Sebaliknya, Australia harus menghormati posisi bebas-aktif Indonesia sebagai aset stabilitas kawasan, bukan sebagai kelemahan. Sebagai dua negara tetangga yang secara geografis dikutuk untuk selalu berdampingan, namun hubungan keduanya ditentukan dengan mempraktikkan kehati-hatian strategis. Traktat Jakarta 2026 harus menjadi instrumen untuk memperkuat otonomi strategis Indonesia, bukan menjadi pintu masuk bagi komitmen yang melampaui kepentingan nasional. Jika dikelola dengan transparansi dan berjangkar pada kedaulatan, Indonesia dapat mengambil manfaat maksimal dari kemitraan ini tanpa harus kehilangan jati diri diplomasi di tengah badai kompetisi Indo-Pasifik yang kian tak menentu.
Hilal Tak Nampak, Satu Ramadan Kamis

Hasil Sidang Isbat Kemenag RI, Hormati Perbedaan MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hingga Selasa (17/2) sore kemarin, hilal belum tampak di seluruh Indonesia, termasuk melalui pengamatan di Pendopo Panji Kantor Bupati Malang, Jalan Panji, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Pengamatan dilaksanakan oleh BMKG Geofisika Malang bersama Kemenag Kabupaten Malang dan Pemkab Kabupaten Malang, serta ormas Islam se-Kabupaten Malang. “Berdasarkan hasil perhitungan, saat matahari terbenam, hilal masih negatif di seluruh Indonesia. Jadi, hilal bisa dikatakan tidak terlihat,” ujar Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri. Ia menjelaskan bahwa di seluruh Indonesia hilal di bawah ufuk atau tidak terihat hingga sore. Karena untuk tinggi hilal di Indonesia mulai minus 2,41 di Jayapura dan minus 0,93 di Sumatera Barat. Sebagai perlengkapan pengamatan hilal, lanjut Mamuri, pihaknya menyiapkan teropong di depan Pendopo Panji, Kabupaten Malang. “Sebagai seremoni kelengkapan pengamatan hilal, maka kami lakukan di bawah. Kalaupun kami di atas (Lantai 9 Gedung Kantor Bupati Malang. red) tetap tidak terlihat karena posisi hilal di bawah ufuk,” ujar Mamuri. “Kalau pasca maghrib (kemarin) dipastikan tidak terlihat, karena posisi bulan itu bergeraknya ke bawah. Jadi pasti tidak terlihat karena masih minus,” sambungnya. Mamuri menambahkan pihaknya akan tetap melakukan pengamatan secara mandiri Rabu (18/2) hari ini, tetapi melalui Kantor BMKG Stasiun Geofisika Malang, yang berada di Karangkates, Sumberpucung, Kabupaten Malang. “Kalau pengamatan secara Kementerian Agama final karena sudah genap 30 hari bulan hijriah di bulan ini. Tapi nanti kami BMKG tetap akan melakukan pengamatan besok (hari ini), tapi di kantor kami,” tandasnya. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang, Sahid menyampaikan perbedaan awal Ramadan sebuah keniscayaan di tingkat negara bahkan, dunia. Seperti diketahui Muhammadiyah telah menentukan awal Ramadan pada Rabu (18/2). “Perbedaan adalah sebuah keniscayaan di tingkat negara bahkan, dunia. Terkait penentuan satu Ramadan 1447 hijriah, ini sejak awal diestimasi ada perbedaan. Karena memang metode yang digunakan antara satu dengan lainnya berbeda, ” ujar Sahid. Ia menambahkan bahwa perbedaan awal Ramadan sudah pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Maka dari itu yang terpenting menjalankan ibadah puasa secara khusuk. Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis 19 Februari 2026, usai diputuskan melalui Sidang Isbat yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa. “Hasil Sidang Isbat menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada hari Kamis,” ujar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar saat memimpin konferensi pers keputusan hasil sidang Isbat. Keputusan ini berbeda dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menetapkan awal Ramadhan lebih cepat satu hari atau jatuh pada Rabu (18/2). Perbedaan metode menjadi dasar perbedaan penetapan awal Ramadhan. Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya menjelaskan posisi hilal di wilayah Indonesia saat rukyat berada pada kisaran minus 2 derajat 24 menit 43 detik hingga minus 0 derajat 55 menit 41 detik, dengan elongasi antara 0 derajat 56 menit 23 detik hingga 1 derajat 53 menit 36 detik. Sementara kriteria MABIMS (Menteri-Menteri Agama dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) menetapkan tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat. Maka 1 Ramadhan ditetapkan pada Kamis. Dengan penetapan resmi pemerintah itu, maka pada Rabu (18/2) malam, umat Islam di Indonesia dapat melaksanakan Shalat Tarawih. Sidang isbat ini diikuti sejumlah perwakilan organisasi keagamaan, ahli astronomi, Komisi VIII DPR RI, hingga perwakilan negara sahabat.(den/ntr/jon)
Rektor UMM: Ramadan Momentum Lahirkan Ulul Albab dan Peradaban Unggul

KLIKMU.CO – Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual. Hal ini ditegaskan dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2/2026). Rektor menyerukan agar bulan suci ini tidak hanya menjadi rutinitas ritual semata, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan nyata. Berdasarkan pemahaman itu, Nazar mengajak jamaah merenung secara mendalam mengenai esensi ibadah di malam pertama Ramadan. Ia menekankan bahwa ritual seperti sholat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi pendorong kemajuan sosial (indigenous forces) tanpa pamrih. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa maju mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan yang berkelanjutan, sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam Islam. “Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar. Gagasan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter yang pasif menjadi pribadi yang tangguh dan progresif. Ia pun mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi Ulul Albab, golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Lebih lanjut, Nazar menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Menurutnya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial. Puasa hadir sebagai mekanisme latihan disiplin untuk menahan ego sektoral maupun individual tersebut. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya. Dalam kerangka yang lebih luas, Nazar menguraikan makna jihad dalam perspektif modern dan profesional. Jihad tidak lagi dimaknai secara sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan penuh inovasi. Hal ini penting agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. “Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan, dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan dapat mengkristal menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, kampus tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan membawa kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya. (Faqih/AS)
KBP Digital Diluncurkan, Budaya Malangan Siap Go Digital

RRI.CO.ID, Malang – Momentum bersejarah tercipta dalam Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9 pada Minggu, 15 Februari 2026, dengan diluncurkannya KBP Digital, sebuah platform digital berbasis dokumentasi budaya Malangan. Peluncuran dilakukan secara resmi oleh Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai wujud sinergi antara dunia akademik dan komunitas budaya dalam menjaga warisan lokal di era transformasi digital. KBP Digital merupakan karya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 yang selama masa pengabdian mendokumentasikan, menyusun, dan mengemas kekayaan budaya Kampung Budaya Polowijen dalam bentuk e-book dan arsip digital. Platform ini dapat diakses melalui pemindaian barcode yang terhubung ke aplikasi Linktree, sehingga masyarakat luas dapat menjelajahi konten budaya secara praktis dan terbuka. Peluncuran didampingi oleh Dr. Daroe Wahyutiningsih, Kepala Lembaga Kebudayaan UMM sekaligus Dosen Pendamping Lapangan. Turut hadir dan menyaksikan Rendra Fatrisna Kurniawan, Analis Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, serta I Ketut Widi Eka Wirawan, Camat Blimbing Kota Malang. Momentum tersebut berlangsung dalam suasana khidmat pada sesi Megengan dan Wilujengan KBP #9, yang juga dihadiri berbagai komunitas budaya Kota Malang. Adapun isi KBP Digital meliputi e-book dan dokumentasi Topeng Malang, Batik Malang, Wayang Malang, kerajinan anyaman bambu, gerabah, pawon tradisional, hingga ragam makanan dan minuman tradisional khas Malang. Seluruh konten dirancang sebagai bank data budaya yang sistematis, edukatif, sekaligus promotif. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP menyampaikan rasa bangga dan haru atas kontribusi mahasiswa dalam pelestarian budaya melalui pendekatan teknologi. “Perubahan budaya itu pasti, modernisasi budaya itu perlu, transformasi budaya itu wajib, dan adaptasi budaya itu keniscayaan. Melalui digitalisasi Kampung Budaya Polowijen ini, kita menjadikan teknologi sebagai strategi pelestarian. Budaya harus didata, didokumentasikan, dan dipublikasikan agar dunia mengetahui betapa kaya dan beragamnya budaya kita, khususnya budaya Malangan,” tegasnya. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tradisi tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga terdokumentasi secara ilmiah dan digital agar dapat diakses lintas generasi. Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, turut mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN. Ia menjelaskan bahwa KBP Digital bukan lahir secara instan, melainkan melalui proses pembelajaran intensif dalam program Sinau Budaya. Mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai ilmu budaya, pariwisata, komunikasi, administrasi kesekretariatan, pengolahan makanan tradisional, kerajinan anyaman, pengelolaan lahan tanaman, pertukangan, hingga produksi konten budaya untuk media sosiall. “Semua ilmu itu kami bagikan kepada mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi praktik langsung di lapangan. KBP Digital adalah hasil dari proses laku budaya dan kerja kolektif,” ujarnya. Peluncuran KBP Digital menjadi bagian integral dari rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9 yang berlangsung sejak pagi hari. Kegiatan diawali dengan Tandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan tanaman toga sebagai simbol ketahanan pangan dan kepedulian lingkungan. Selanjutnya digelar Workshop Busana Khas Malang untuk memperkuat identitas budaya daerah melalui praktik membatik, berkebaya, berkain, bersanggul, dan berudeng. Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP Kepala LPPM UMM di dampingi Dr. Daroe Iswatingsih, M.Pd Kepala Lembaga Kebudayaan UMM saat Lounching KBP Digital oleh Mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14 (foto:rri/mey) Memasuki siang hingga sore, festival menghadirkan Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai bentuk regenerasi nilai tradisi. Sore hari menjadi puncak acara melalui prosesi Megengan yang meliputi mocopatan, launching KBP Digital oleh Kepala LPPM UMM, serta wilujengan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci. Festival kemudian ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Dengan hadirnya KBP Digital, Kampung Budaya Polowijen menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi. Justru melalui digitalisasi, tradisi menemukan ruang baru untuk hidup, berkembang, dan dikenal dunia. Inisiatif ini diharapkan menjadi model pengembangan kampung budaya berbasis dokumentasi, edukasi, dan teknologi yang berkelanjutan di Kota Malang. (Mey)
Rektor UMM Ungkap Ramadan Sebagai Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul

Rektor UMM Ungkap Ramadan Sebagai Momentum Lahirkan Manusia Ulul Albab dan Peradaban Unggul MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi dan mandiri memaknai Ramadan 1447 Hijriah sebagai titik tolak kebangkitan peradaban kaum intelektual. Hal ini ditegaskan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., dalam ceramah Tarawih perdana di Masjid AR. Fachruddin, Selasa (17/2/2026). Ia menyerukan agar bulan suci ini tidak hanya menjadi rutinitas ritual semata. Melainkan ruang pembentukan karakter dan intelektual untuk melahirkan generasi Ulul Albab yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan yang nyata. Berangkat dari pemahaman tersebut, Nazar mengajak jamaah untuk merenung secara mendalam mengenai esensi ibadah di malam pertama ramadan ini. Ia menekankan bahwa ritual seperti sholat, puasa, dan zakat harus terinternalisasi menjadi pendorong kemajuan sosial (indigenous forces) tanpa pamrih. Ia mencontohkan bagaimana bangsa-bangsa maju mampu berinovasi karena memiliki etos perbaikan yang berkelanjutan, sebuah nilai yang sejatinya sangat ditekankan dalam Islam. “Jika seluruh dimensi ibadah melekat terintegrasi sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita, maka selalu akan ada dorongan untuk membuat kemajuan-kemajuan baru, bukan justru melakukan perusakan,” tegas Nazar. Gagasan itu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ranah individu. Dalam konteks pendidikan tinggi, Kampus Putih berkomitmen menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai fondasi utama Center of Excellence. Nazar memandang pendidikan sebagai instrumen strategis untuk mereformasi bangsa dari karakter yang pasif menjadi pribadi yang lebih tangguh dan progresif. Ia mendorong mahasiswa dan dosen untuk menjadi Ulul Albab, golongan pemikir yang cerdas secara intelektual sekaligus peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Pendidikan harus menjadi ibadah yang melahirkan kebudayaan luhur serta semangat pembaruan tiada henti demi kemaslahatan umat. Lebih jauh, Nazar menyinggung tantangan sosial seperti ketidaktertiban ruang publik hingga fenomena tragedy of commons. Menurutnya, perilaku koruptif bukan hanya soal materi, tetapi juga ketidakmampuan menahan ego di ranah sosial. Puasa hadir sebagai mekanisme latihan disiplin untuk menahan ego sektoral maupun individual tersebut. “Puasa Ramadan melahirkan kedisiplinan, sekaligus kedisiplinan itu dapat mencegah karakter yang korup, di mana perilaku korup bisa dimaknai luas sebagai ketidakpedulian terhadap hak orang lain di ruang publik,” jelasnya. Dalam kerangka yang lebih luas, Nazar menguraikan makna jihad dalam perspektif modern dan profesional. Jihad tidak lagi dimaknai secara sempit, melainkan sebagai badzlul juhdi atau ikhtiar maksimal dalam bekerja dan berkarya. Seorang muslim yang berpuasa harus memiliki etos kerja superior, solutif, dan penuh inovasi. Hal ini penting agar umat Islam tidak hanya menjadi konsumen peradaban, tetapi juga produsen kebudayaan yang disegani dunia. “Bangsa yang unggul adalah bangsa yang di dalam kesehariannya selalu berpikir untuk melakukan perubahan sedapat mungkin, perubahan yang membawa kebaikan, perubahan yang memberi dampak kemajuan dan membesarkan hati semua orang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut. Menutup ceramahnya, Nazar berharap momentum Ramadan dapat mengkristal menjadi gerakan kolektif. Dengan demikian, kampus tidak hanya melahirkan insan yang saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial dan intelektual, serta mampu memberikan solusi konkret bagi permasalahan bangsa. “Marilah kita jadikan titik berpikir kita bagaimana mewujudkan the society of Ulul Albab, masyarakat yang dipenuhi keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik dan memberikan kemajuan bagi lingkungannya,” pungkasnya.(Ans)
Mantan Menhan Timor-Leste Sabet Gelar Doktor Sosiologi Militer di UMM

pwmu.co – Transformasi militer dari kekuatan perjuangan menjadi institusi pertahanan profesional menjadi pokok bahasan dalam Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto yang berlangsung di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 14 Februari 2026.Dalam disertasinya, ia mengkaji proses profesionalisasi militer Timor-Leste sebagai fondasi penting bagi penguatan demokrasi serta stabilitas negara pascakonflik. Penelitian tersebut menyoroti perubahan struktural dan kultural dalam tubuh militer, sekaligus membedah relasi antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Kiprah akademik Julio memiliki sejarah panjang bersama UMM. Ia pernah menempuh studi di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998. Saat memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan, ia memilih kembali ke almamaternya. Ketertarikannya pada bidang Sosiologi Militer membawanya untuk berguru kepada Prof. Muhadjir Effendy, yang kemudian berkenan menjadi pembimbingnya. Sidang promosi tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat penting Timor-Leste, di antaranya Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, Wakil Menteri Urusan Parlemen sekaligus mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor-Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay, Executive Director Human Capital Development Fund Julio Aparicio, serta Deputy Director Human Capital Development Fund Rogerio Lay. Kehadiran mereka mempertegas relevansi strategis riset ini bagi pembangunan nasional Timor-Leste. Dalam paparannya, Julio menegaskan bahwa sosiologi militer memandang militer bukan semata institusi pertahanan, melainkan juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan dinamika kekuasaan yang terus berkembang. Ia menelusuri perjalanan militer Timor-Leste dari pasukan gerilya pembebasan menuju tentara profesional dalam sistem negara demokratis. Pendekatan penelitian dilakukan secara interdisipliner dengan memadukan sosiologi politik, sejarah sosial, studi organisasi, hingga antropologi. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik memiliki karakter berbeda dibandingkan negara besar. Transformasi tersebut bukan berarti menghapus identitas lama, melainkan merekonstruksi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern. Julio menekankan bahwa profesionalisasi militer merupakan proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar pembenahan struktur. Di banyak negara pascakonflik, profesionalisme sering dipahami sebatas modernisasi alutsista dan sistem komando. Padahal, tantangan mendasar terletak pada pembentukan kultur organisasi, legitimasi publik, serta penguatan supremasi sipil dalam sistem demokrasi. Ia juga mengulas dinamika pascareferendum 1999 saat Timor-Leste membangun negara baru. Perdebatan muncul antara mempertahankan struktur lama atau membentuk militer profesional yang sepenuhnya baru. Pada akhirnya, dipilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional tanpa menghilangkan spirit historisnya. Krisis politik 2006 turut menjadi momentum penting dalam mempercepat pembentukan regulasi, peningkatan profesionalisme, dan peneguhan kontrol sipil. Temuan utama riset ini menunjukkan bahwa profesionalisme militer di negara pascakonflik tumbuh melalui interaksi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis internal, konflik, serta tekanan internasional berfungsi sebagai pendorong perubahan. Dalam konteks tersebut, militer tidak hanya berperan sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang terbentuk melalui sejarah panjang perjuangan. Salah satu promotor, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP., menilai disertasi ini memberi kontribusi signifikan bagi pengembangan kajian sosiologi militer, khususnya di Asia Tenggara. Ia menyebut penelitian tersebut menghadirkan sudut pandang baru mengenai transformasi militer di negara pascakonflik yang berlangsung melalui proses sosial kompleks. Menurutnya, profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi. Militer dapat tumbuh menjadi institusi profesional tanpa memutus akar sejarah perjuangannya. Justru, identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk memperkuat legitimasi, membangun kepercayaan publik, dan meneguhkan posisi militer dalam sistem negara demokratis.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim
UMM Lahirkan Doktor Sosiologi Militer dari Timor Leste

POS-KUPANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melahirkan satu lagi doktor dalam bidang militer khusunya sosiologi militer. Doktor baru itu merupakan mantan Menteri Pertahanan Timor Leste yang kini lebih aktif sebagai akademisi dan pengajar di berbagai kampus. Julio Tomas Pinto, mantan menteri yang resmi menyandang gelar doktor sosiologi militer itu mempertahankan disertasinya tentang transformasi militer negara Timor Leste dari basis perjuangan menuju institusi profesional di Ruang sidang doktoral di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu 14 Februari 2026. Julio yang mengajar juga di Universitas Nasional Timor Leste itu membawa refleksi tentang masa depan pertahanan Timor Leste. Hampir empat tahun ia menempuh studi doktoral di Malang. “Saya sudah lama kuliah di sini, hampir empat tahun. Hari ini saya mempresentasikan riset tentang transformasi militer Timor Leste menuju profesionalisme, dan puji Tuhan dinyatakan lulus,” ujarnya. Dalam disertasi berjudul Transformasi Militer Timor Leste Dari Perjuangan Menuju Profesionalisme, Julio membedah proses profesionalisasi militer sebagai fondasi penting dalam konsolidasi demokrasi negara pascakonflik. Ia menyoroti perubahan struktur, budaya organisasi, hingga relasi antara militer dan masyarakat sipil dalam masa transisi politik. Menurutnya, profesionalisasi militer di negara kecil memiliki tantangan tersendiri. “Transformasi ini bukan menghapus identitas lama, melainkan menata ulang nilai dan tradisi gerilya agar selaras dengan tuntutan institusi modern,” tegasnya. Ia menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, militer harus berdiri netral dan fokus pada fungsi pertahanan. Tidak terlibat politik, tidak masuk ke ranah bisnis, dan tidak melampaui mandat konstitusional. Timor Leste sendiri, kata dia, telah menetapkan dalam undang undang pertahanan bahwa militernya bersifat self defense force. “Tentara kami hanya untuk pertahanan, bukan ofensif. Sebagai negara kecil, diplomasi dan soft power harus dikedepankan,” jelasnya. Hubungan regional juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Julio menyebut Indonesia sebagai mitra strategis yang turut berkontribusi dalam profesionalisasi militer Timor Leste, bersama Australia dan sejumlah negara demokratis lain melalui kerja sama pertahanan dan pendidikan. Julio menambahkan, bahwa gelar doktor bukan garis akhir. Ia melihatnya sebagai tanggung jawab moral untuk terus mengawal reformasi pertahanan di Timor Leste agar konsisten dengan prinsip demokrasi dan supremasi sipil. “Ini bagian dari kontribusi saya untuk memastikan militer kami profesional dan berorientasi pada perdamaian,” katanya. Sementara itu, keputusannya memilih UMM bukan tanpa alasan. Ia pernah menjadi alumni kampus tersebut dan memahami kultur akademiknya. “Saya tahu karakter akademik di sini. Karena itu saya kembali untuk memperdalam ilmu sosial,” katanya. Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik, SE MSi, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai topik yang diangkat sangat relevan bagi negara yang tengah membangun sistem kelembagaan modern. “Kami mengucapkan selamat kepada Dr. Julio Tomas Pinto dan pimpinan pascasarjana yang telah mengantarkan beliau meraih gelar doktor di bidang sosiologi. Tema yang diangkat sangat strategis karena berbicara tentang transformasi organisasi dalam konteks kebangsaan,” ujarnya.
KKN Tematik UMM Luncurkan KRPL Karang Kitri dan Toga RW 2 Polowijen dalam Festival Kampung Budaya Polowijen #9

Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. (HO/KLIKTIMES.COM) KLIKTIMES.COM | MALANG– Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang, kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal. KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) merupakan program pemanfaatan pekarangan rumah secara berkelanjutan untuk budidaya tanaman pangan, sayur, buah, serta tanaman obat keluarga (toga). Konsep ini menekankan kemandirian pangan berbasis rumah tangga, optimalisasi lahan sempit perkotaan, serta penguatan gizi keluarga melalui hasil tanam mandiri. Bagi wilayah perkotaan seperti Polowijen yang memiliki keterbatasan ruang, inovasi pemanfaatan lahan menjadi solusi strategis dan berkelanjutan. Kegiatan penanaman ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Polowijen, Ketua PKK RW 02, serta Ketua PKK RT 03 RW 02. Keterlibatan aktif unsur PKK menunjukkan sinergi kelembagaan dalam membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan keluarga berbasis partisipasi warga. Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. (HO/KLIKTIMES.COM) Amalia Safitri Ketua PKK RW 03 Kelurahan Polowijen merasa senang bahwa mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen berkontribusi terhadap lingkungan baik memalui Posyandu dan penyediaan lahan KRPL RW 02 Kelurahan Polowijen “Tanaman ini bukan sekedar penanda bahwa kelompok kami siap mengkuti lomba kampung bersinar Kota Malang 2026 tapi jauh dari itu kita akan kembali membudayakan tanama pangan dan toga di ilingkungan kita agar lebih bermanfaat pada semuanya” kedepan kita juga akan kembangkan green house yang lebih luas dilingkungan ini juga Ungkap Fitri Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. Mahasiswa turut mendampingi pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman obat-obatan, sekaligus memberikan edukasi pengelolaan sederhana namun produktif. Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, langkah ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, produktif, dan ramah lingkungan. Program KRPL tidak hanya berdampak pada aspek pangan dan kesehatan keluarga, tetapi juga memperkuat indikator kebersihan, kerapian, inovasi, serta partisipasi masyarakat — unsur penting dalam penilaian Lomba Kelurahan Bersinar. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya. (HO/KLIKTIMES.COM) “Kami berharap KRPL ini dapat di rawat oleh ibu ibu PKK sehingga kalo tahun ini diikutkan lomba Kelurahan bersinar kami akan ikut senang, nanti kami juga ikut memanta dan membantu merawat secara berkelanjutan”. Tambah Putra Bayu Wakil Ketua kelompok 14 mahasiswa Hukum UMM. Acara dilanjutkan dengan Workshop Busana Khas Malang yang meliputi pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik memakai jarik, bersanggul, serta penggunaan Udeng Malang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap busana tradisi sebagai identitas budaya daerah. Siang Hari, digelar Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan pentas tari, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai upaya regenerasi seni tradisi. Yang isinya tari topeng tari tradisional dan tari kreasi dari KBP, Sanggar Jejeg Wira dan Miben Voice Pada sore hari berlangsung prosesi Megengan, meliputi mocopatan, launching KBP Digital, penandatanganan MoU antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan Megengan sebagai ungkapan syukur dan doa bersama menyambut bulan suci. Festival ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng Malang, yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga. Tak ketingggalan juga dalam waktu bersamaan ada kegiatan pentas seni budaya dari kelompok bantengan Bantala Winoro Mukti binaan RW 02 Kelurahan Polowijen serta bazar makanan yang turut memeriahkan acara di Polowijen sebagai salah satu pusat seni budaya. Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya.
UMM Gaungkan Ramadan Berkemajuan: Sinergi Spiritualitas dan Keilmuan di Tengah Dinamika Zaman

KLIKMU.CO — Di tengah derasnya arus digital, banjir informasi, dan gaya hidup serba cepat yang kerap membuat manusia kehilangan arah, Ramadan hadir sebagai ruang jeda untuk menata kembali makna hidup. Menjawab tantangan zaman tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggaungkan semangat Ramadan Berkemajuan melalui kajian Tarhib Ramadan yang digelar Kamis (12/2/2026) di Masjid AR. Fachruddin. Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Rofiq Mudzakkir Lc MA PhD sebagai narasumber utama, sekaligus mengajak sivitas akademika menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berilmu. Mengusung tema Ramadan Berkemajuan: Menyiapkan Diri Menjadi yang Bertaqwa dan Berilmu, Rofiq menyoroti realitas manusia modern yang kerap terjebak dalam distraksi dan pengalihan fokus. Kesibukan duniawi serta derasnya arus teknologi, menurutnya, sering kali menjauhkan manusia dari tujuan hakiki penciptaannya. Ramadan hadir sebagai momentum emas untuk melakukan reorientasi diri. “Momen Ramadan sebenarnya adalah momen untuk kembali kepada siapa diri kita yang sebenarnya, yaitu hamba Allah yang tugasnya mencari rida-Nya,” tegasnya. Ia juga mengajak jamaah lebih peka membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam. Ibadah puasa, jelasnya, bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi melatih manusia memahami ritme waktu dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bagian dari keteraturan kosmis ciptaan Allah. Kesadaran terhadap ritme ini akan melahirkan kedisiplinan sekaligus memperdalam ketundukan spiritual. Salah satu poin menarik yang disampaikan Rofiq adalah keindahan diksi Al-Qur’an dalam menempatkan urgensi aktivitas manusia. Ia menjelaskan, ketika berbicara tentang mencari rezeki, Al-Qur’an menggunakan kata famsyu (berjalanlah). Namun, saat menyeru manusia menuju ampunan dan perlindungan Allah, diksi yang digunakan meningkat menjadi fafirru (berlarilah). “Al-Qur’an membedakan urgensi dengan sangat indah. Untuk urusan dunia cukup berjalan biasa, namun saat menuju Allah gunakan fafirru atau berlarilah kencang, karena ini kondisi darurat untuk menyelamatkan jiwa kita,” ungkapnya. Lebih jauh, Rofiq mengingatkan agar interaksi dengan Al-Qur’an selama Ramadan tidak dilakukan secara parsial. Ia mengkritisi kecenderungan sebagian orang yang hanya mengejar target kuantitas bacaan (tilawah) tanpa memahami maknanya (tadabbur), atau sebaliknya terlalu fokus pada kajian tanpa membiasakan diri membaca secara rutin. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan agar ibadah mencapai kualitas yang optimal. “Jangan dipilih salah satu. Dua-duanya harus seimbang. Baca Al-Qur’an setiap hari minimal satu juz dan upayakan setiap hari ada ayat yang kita tadaburi agar meresap ke dalam hati,” pesannya. Sementara itu, Wakil Rektor I UMM Prof Akhsanul In’am PhD dalam sambutannya mengajak seluruh jamaah melakukan refleksi menyeluruh sebelum memasuki Ramadan. Dengan pendekatan manajerial “4M” (Memahami, Merencanakan, Melaksanakan, dan Mengevaluasi), ia menekankan bahwa ibadah perlu dirancang secara sadar dan terukur agar menghasilkan perubahan nyata. “Mari kita mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam satu tahun terakhir, lalu implementasikan perbaikannya di bulan suci ini agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa,” tuturnya. Melalui kegiatan Tarhib Ramadan ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya berinovasi secara akademik, tetapi juga konsisten menghadirkan ruang penguatan spiritual. Sinergi antara keilmuan dan nilai-nilai keislaman menjadi fondasi penting dalam membentuk insan yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. (Faqih/AS)