Safari Ramadan UMM Tekankan Ramadan Jadi Laboratorium Etika, Bukan Sekedar Tradisi Semata

Ramadan bukan sekadar jeda dari rutinitas makan dan minum. Ia adalah momentum koreksi diri bahkan kritik terhadap cara manusia memaknai ambisi, kuasa, dan hasratnya sendiri. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Malang pada 24 Februari lalu. Mengusung tema “Ramadhan Berkemajuan: Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial”, giat ini menghadirkan Dr. M. Nurul Humaidi, M.Ag. yang menekankan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan sistematis untuk mengendalikan watak dasar manusia yang cenderung rakus terhadap kekuasaan dan kenikmatan dunia. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa Ramadan berasal dari kata ar-ramadh yang berarti panas membakar. Namun, menurutnya, yang seharusnya terbakar bukan hanya dosa, melainkan juga keserakahan manusia. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kisah awal manusia sejak Nabi Adam, yang jatuh akibat godaan keabadian dan kekuasaan. Dalam perspektif itu, puasa hadir sebagai pendidikan spiritual yang terus diulang setiap tahun agar manusia belajar menahan diri dari kecenderungan yang sama. “Inti puasa adalah pengendalian diri, bukan sekadar lapar dan haus. Orang yang makan atau minum karena lupa tetap sah puasanya. Artinya, esensi puasa bukan pada rasa lapar, tetapi kemampuan mengontrol diri. Siapa pun yang gagal menahan diri pasti jatuh baik pejabat, orang kaya, maupun rakyat biasa,” ujarnya. Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti kecenderungan sebagian umat yang memahami ibadah secara kaku tanpa membuka ruang ijtihad pada aspek instrumental. Ia mencontohkan dinamika penentuan awal Ramadan di lingkungan Muhammadiyah yang bertransformasi dari rukyat menuju hisab hingga gagasan kalender hijriah global tunggal. Menurutnya, perubahan metode tersebut bukan inkonsistensi, melainkan keberanian intelektual membaca realitas dengan pendekatan ilmiah. Pembaruan, tegasnya, hanya berlaku pada instrumen, sementara substansi ibadah mahdhah tetap merujuk pada tuntunan Nabi Muhammad. Ia juga memaparkan tiga tingkatan puasa: jasmani, nafsani, dan ruhani. Puasa jasmani berkaitan dengan pengendalian fisik. Puasa nafsani menuntut disiplin lisan dan perilaku sosial, sedangkan puasa ruhani berorientasi pada kedekatan spiritual dengan Allah. “Jika seseorang masih gemar berdusta dan menyakiti orang lain, Allah tidak memiliki kepentingan dengan lapar dan dahaganya,” tegasnya. Tema Safari Ramadan dinilai relevan bagi dunia akademik yang kerap berada di antara dua ekstrem: spiritualitas tanpa intelektualitas yang berujung ritualisme kering, atau intelektualitas tanpa kepedulian sosial yang mudah melahirkan kesombongan akademik. Melalui kegiatan ini, kampus menegaskan diri bukan hanya sebagai ruang produksi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter tempat mahasiswa dan akademisi belajar menahan diri dari penyalahgunaan kuasa, kerakusan jabatan, serta pengabaian terhadap sesama. Pada akhirnya, Ramadan diposisikan bukan sekadar tradisi yang berakhir bersama takbir Idulfitri, melainkan laboratorium etika yang melatih manusia agar tidak terjatuh pada nista. Safari Ramadan menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari capaian intelektual, tetapi dari keberhasilan manusia menundukkan dirinya sendiri.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Takjil Ramadan Antimainstream, Agribisnis UMM Tebar Ratusan Paket Sayur ke Pengguna Jalan

KLIKMU.CO — Menjelang azan magrib berkumandang, ratusan paket sayur segar tersusun rapi di halaman kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan kolak, bukan es buah, dan bukan pula makanan siap santap seperti tradisi pembagian takjil pada umumnya. Ramadan kali ini, Program Studi Agribisnis UMM justru menghadirkan konsep berbeda dengan membagikan paket sayur segar kepada para pengguna jalan, Senin (24/2/2026). Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Jika takjil biasanya identik dengan makanan instan atau minuman manis, Agribisnis UMM menghadirkan “reformasi berbagi” melalui paket sayur segar yang telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Program Studi Agribisnis UMM M. Zul Mazwan SP MSc menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut merupakan bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga menjadi salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya. Sebanyak 200 paket sayur berhasil disiapkan mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. “Kami sudah paketkan sayur-sayurannya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan. (Faqih/AS)

Inovasi Takjil Sehat: Agribisnis UMM Bagikan Sayur Segar untuk Buka Puasa

Malang (beritajatim.com) – Menjelang waktu berbuka puasa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pemandangan berbeda terlihat di kampus. Program Studi Agribisnis UMM membuat gebrakan unik dengan membagikan ratusan paket sayur mayur segar kepada para pengguna jalan. Jika biasanya takjil identik dengan makanan manis atau gorengan, kali ini mereka mengusung konsep yang lebih sehat dan bergizi. Kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial biasa. Dikenal sebagai “reformasi berbagi,” tujuan utama pembagian sayur segar ini adalah menggeser tradisi takjil yang berfokus pada makanan instan menuju bahan pangan sehat. Selain itu, kegiatan ini juga menarik perhatian warga Malang yang ikut merasakan manfaatnya. Untuk mewujudkan program ini, Agribisnis UMM menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan ini berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang dalam program Center of Excellence (CoE) untuk mendukung pengembangan ilmu agribisnis yang aplikatif di masyarakat. Ketua Program Studi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa pembagian sayur ini merupakan wujud nyata dari penerapan nilai keilmuan agribisnis yang mengutamakan keberlanjutan dan ketahanan pangan. “Kegiatan ini merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan kami tidak hanya teoritis, tetapi aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ungkap Zul Mazwan, pada acara yang berlangsung pada Senin (24/2/2026). Salah satu keunikan dari kegiatan ini terletak pada cara pengemasan paket sayur. Sebanyak 200 paket sayur segar telah disiapkan, dengan setiap paket dikategorikan berdasarkan menu masakan tertentu, seperti Paket Sayur Sop, Paket Sayur Asem, Paket Sayur Bayam, dan Paket Capcay. Masyarakat yang menerima paket ini bisa langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka puasa yang praktis dan sehat. Konsep ‘satu paket, satu menu’ sengaja diterapkan agar masyarakat dapat dengan mudah mengolah bahan pangan yang diterima. Tak heran, dalam waktu singkat seluruh paket yang telah disiapkan ludes dibagikan, karena antusiasme yang luar biasa dari masyarakat yang ingin menikmati hidangan sehat untuk berbuka.

3 Kampus PTMA Masuk 5 Besar PTS Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Awal 2026

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), berhasil masuk jajaran 5 besar kampus swasta terbaik di Indonesia versi Webometrics di awal tahun 2026 ini. Selain itu, ada juga Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang berhasil masuk jajaran 10 besar. Sebagai informasi, Webometrics adalah situs independen untuk pemeringkatan kampus secara global, yang tidak hanya berfokus terhadap penelitian, tetapi juga mengevaluasi kampus berdasarkan aspek digital, pengaruh akademik, keterbukaan, serta visibilitas global mereka. Dalam penilaiannya, Webometrics menggabungkan indikator visibilitas atau dampak berdasarkan jumlah domain rujukan eksternal sebesar 50%; transparansi atau keterbukaan dengan kutipan dari 310 peneliti yang paling banyak dikutip (tidak termasuk 20 peneliti yang paling banyak dikutip) berdasarkan profil Google Scholar, dengan bobot penilaian sebesar 10%; serta parameter keunggulan berupa makalah penelitian dalam 10% teratas yang paling banyak dikutip (2019–2023) berdasarkan Scopus / Scimago, dengan bobot penilaian sebesar 40%. Pengumpulan data yang dilakukan disebut mencakup lebih dari 32.000 institusi yang tersebar di lebih dari 200 negara. Data tersebut diperbarui sebanyak dua kali dalam setahun, pada Januari dan Juli. Kampus PTMA Tembus 5 Besar dan 10 Besar Berdasarkan data terbaru yang diperbarui Webometrics pada Januari 2026, UMY menjadi Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) yang mampu menduduki peringkat 3 kampus swasta tanah air, dengan menempati rangking 18 secara nasional baik negeri maupun swasta, serta berada di urutan 1760 secara internasional. Jika dilihat dari indikator yang ditetapkan Webometrics, UMY di urutan 1277 untuk visibilitas dan dampak, urutan 1729 untuk keterbukaan atau transparansi, serta peringkat 3093 untuk keunggulan. Selanjutnya, ada UMM yang secara visibilitas dan dampak menempati urutan 915, secara keterbukaan atau transparansi di urutan 1515, dan secara keunggulan di urutan 3645. Hal itu mengantarkan UMM bercokol sebagai PTS terbaik ke-4 di Indonesia, dengan rangking nasional di peringkat 21 dan rangking internasional di peringkat 1896. Kemudian, UMS secara visibilitas dan dampak menempati urutan 2035, secara keterbukaan atau transparansi di urutan 1302, dan secara keunggulan di urutan 3899. Penilaian tersebut membuat UMS berada di urutan 5 PTS terbaik tanah air, dengan menempati rangking 25 secara nasional dan 2248 secara internasional. Tak cuma itu, ada juga UAD yang mampu menempati urutan ke-10 kampus PTS terbaik tanah air, dengan menduduki peringkat nasional urutan ke 40 dan rangking internasional di nomor 2900. Kampus Swasta Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Bina Nusantara (Binus) University: nasional 11 / internasional 1268 Telkom University: nasional 13 / internasional 1310 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY): nasional 18 / internasional 1760 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): nasional 21 / internasional 1896 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS): nasional 25 / internasional 2248 Universitas Medan Area (UMA): nasional 27 / internasional 2393 Universitas Pelita Harapan (UPH): nasional 33 / internasional 2553 Universitas Kristen Satya Wacana: nasional 36 / internasional 2688 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar): nasional 39 / internasional 2892 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta: nasional 40 / internasional 2900 Universitas Gunadarma: nasional 41 / internasional 2921 Universitas Islam Indonesia (UII): nasional 45 / internasional 2997 Universitas Islam Malang (Unisma): nasional 46 / internasional 3114 Universitas Islam Sultan Agung Semarang: nasional 49 / internasional 3173 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa): nasional 52 / internasional 3233 Universitas Mercu Buana (UMB): nasional 53 / internasional 3263 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya: nasional 54 / internasional 3285 Universitas Surabaya (Ubaya): nasional 56 / internasional 3340 Universitas Sanata Dharma: nasional 62 / internasional 3520 Universitas Teknokrat Indonesia: nasional 63 / internasional 3596

Mahasiswa UMM Sabet Medali Perak di Malaysia Lewat Inovasi AI Pencegah Komplikasi Kehamilan

KUALA LUMPUR, TEROPONGMEDIA.ID – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Indonesia di kancah internasional. Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil meraih medali perak (Silver Medal) dalam ajang 2nd International Student Competition (ISC) 2026 yang digelar di Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia, pada 14–15 Februari 2026. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM memperkenalkan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di bidang kesehatan ibu dan anak bertajuk NEOSENTIA (Real Time Maternal Risk Detection and Prevention through Multilingual AI Guardian Driven System). Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi risiko komplikasi kehamilan secara real time melalui pendekatan non-invasif. Ketua tim, Vera Miftakul Rahma Kamal, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kepedulian terhadap tingginya angka komplikasi kehamilan akibat keterlambatan deteksi dini. “Kami ingin menghadirkan sistem yang mampu membantu ibu hamil dan tenaga medis dalam memantau kondisi kehamilan secara real time, sehingga risiko komplikasi bisa dicegah sejak dini,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM, Jumat (27/2/2026). Sistem NEOSENTIA bekerja dengan mengintegrasikan data dari perangkat wearable, laporan gejala mandiri ibu hamil, serta rekam medis elektronik. Dengan teknologi ini, potensi komplikasi dapat terdeteksi lebih awal sehingga tenaga kesehatan dapat melakukan intervensi secara cepat dan tepat. Pembimbing tim, dr. Desy Andari, M.Biomed., menilai inovasi tersebut memiliki potensi besar untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan. “Pendekatan non-invasif dan berbasis AI ini sangat relevan untuk menjawab tantangan layanan kesehatan ibu di wilayah dengan akses tenaga medis yang terbatas,” katanya. Keunggulan lain dari NEOSENTIA adalah fitur multibahasa, yang memungkinkan aplikasi ini digunakan secara luas, termasuk di komunitas dengan tingkat literasi kesehatan yang beragam. Hal ini menjadikan inovasi tersebut tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga relevan secara sosial. Ajang ISC 2026 sendiri diikuti oleh lebih dari 100 tim finalis dari delapan negara Asia dan Afrika. Capaian ini menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat global dengan inovasi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Keberhasilan tim UMM ini sekaligus menjadi bukti bahwa pengembangan teknologi berbasis AI di sektor kesehatan memiliki potensi besar dalam menekan risiko komplikasi kehamilan serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, khususnya di negara berkembang.

Ramadan Jadi Momentum Penguatan Spiritualitas dan Intelektualitas di UMM

MAKLUMAT – Di tengah atmosfer Ramadan yang sarat refleksi, ratusan sivitas akademika memadati Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM itu tak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi forum konsolidasi nilai, yakni menguatkan spiritualitas sekaligus intelektualitas di lingkungan kampus. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual seremonial. Ramadan, menurutnya, harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya di hadapan peserta pengajian. Konsep Ilmu dan Keimanan Ia mengingatkan, orang pintar tanpa takwa bisa menjadi bencana bagi dunia. Ilmu yang tidak dibimbing iman berpotensi melahirkan kesombongan, bahkan kehancuran. Kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak selalu disertai integritas moral. Bagi Dadang, spiritualitas dan intelektualitas tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna jika tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Ia juga menyoroti paradoks kehidupan beragama saat ini. Aktivitas ritual meningkat, tetapi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan turunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Problem umat, katanya, bukan minimnya ibadah, melainkan lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Spiritualitas Bukan Soal Konsep Dalam konteks itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus hadir sebagai etos perubahan. Bukan sekadar wacana normatif, melainkan gerakan yang menyentuh struktur sosial. Penguatan SDM pun menjadi bagian penting dalam pengajian tersebut. Dadang menekankan tradisi membaca dan belajar sebagai fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu penyebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. “Penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” tegasnya. Spiritualitas dan Kepedulian Sosial Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi kolektif bagi kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar perguruan tinggi tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Pengajian ini bukan soal forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai. Di sini spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan,” ujarnya. Melalui momentum Ramadan, UMM berupaya meneguhkan jati diri sebagai kampus yang tak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga berintegritas. Di tengah tantangan zaman, perpaduan iman dan ilmu menjadi fondasi agar kecerdasan tidak kehilangan arah, dan spiritualitas tidak berhenti pada simbol semata.

Ramadan dan Polemik Rakaat Tarawih, Pakar UMM Ungkap Sejarah Ijtihad di Balik Perbedaan

pwmu.co – Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih kerap menjadi perbincangan hangat setiap Ramadan. Tak jarang, perbedaan angka seolah menjadi tolok ukur sah atau tidaknya ibadah.Padahal, di balik variasi tersebut tersimpan khazanah ijtihad yang panjang, argumentatif, dan kaya dalam tradisi fikih Islam. Dosen Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa perbedaan itu bukan bentuk pertentangan, melainkan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi dalam memahami sumber hukum Islam. “Perbedaan jumlah rakaat tarawih terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari al-Quran, Sunnah, ijma’, dan qiyas. Al-Quran memang memerintahkan salat melalui ayat-ayat seperti aqimus shalah, tetapi tidak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai bayan tafsir atau penjelas terhadap ayat-ayat yang bersifat global. Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, maka perbedaan tersebut tidak menjadi persoalan,” ujarnya 24 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Lebih jauh, Tanzil sapaan akrabnya menjelaskan secara historis umat Islam merujuk pada imam-imam mazhab yang memiliki metode istinbat hukum berbeda, sehingga melahirkan variasi praktik yang sama-sama memiliki landasan. Mazhab Hanafi menetapkan 20 rakaat berdasarkan ijma’ sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mazhab Maliki menetapkan 36 rakaat dengan merujuk pada praktik penduduk Madinah. Sementara itu, Mazhab Syafi’i dan Hanbali cenderung menetapkan 20 rakaat dengan dasar hadis mauquf dan amalan sahabat pascawafat Nabi. Sedangkan Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan 11 rakaat dengan merujuk pada hadis Aisyah tentang praktik salat malam Rasulullah. “Dalam hadis riwayat Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadan maupun di luar Ramadan. Riwayat muttafaq ‘alaih itu menjelaskan bahwa Nabi salat empat rakaat dengan panjang dan kekhusyukan yang luar biasa, lalu empat rakaat berikutnya dengan kualitas serupa, kemudian ditutup tiga rakaat witir. Dari sinilah dipahami formasi 4-4-3 yang menjadi dasar praktik 11 rakaat di kalangan Muhammadiyah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa konsep Qiyamul Ramadan pada dasarnya identik dengan Qiyamul Lail. Karena itu, tarawih tidak terlepas dari witir sebagai penutup salat malam. Variasi seperti 2-2-2-2-1 atau 4-4-3 merupakan bentuk teknis pelaksanaan yang tetap berada dalam koridor dalil sahih. Dalam beberapa riwayat, Nabi juga pernah melaksanakan witir sembilan rakaat atau dengan formasi lainnya. Dalam perspektif qiyas, karena salat malam tidak dibatasi jumlahnya, maka komposisi rakaat tarawih dipahami secara fleksibel selama tidak menyelisihi prinsip-prinsip dasar syariat. “Yang menjadi persoalan justru ketika suatu amalan tidak memiliki dalil, atau dalilnya lemah bahkan maudhu’. Itu yang harus dihindari. Karena itu, umat Islam seharusnya tidak menjadikan perbedaan jumlah rakaat sebagai sumber perpecahan. Keragaman tersebut menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam. Perbedaan antara empat mazhab dan Muhammadiyah bukan perpecahan, melainkan kekayaan dalam memahami dalil,” tegasnya. Pada akhirnya, Tanzil menekankan bahwa esensi tarawih bukan terletak pada angka, melainkan pada kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadan. Ia juga mengingatkan bahwa semangat qiyamul lail tidak seharusnya berhenti setelah Ramadan usai, sebab salat malam merupakan sunnah yang dicontohkan Nabi sepanjang tahun. Dengan demikian, perbedaan jumlah rakaat hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Prof Dadang Kahmad Kritik Ibadah Ritual Tanpa Dampak Sosial

KLIKMU.CO – Orang pintar tanpa bertakwa kepada Allah SWT bisa menjadi bencana bagi dunia. Demikian pesan Prof Dr H Dadang Kahmad MSi dalam Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM bertema Menguatkan Spiritualitas, Intelektualitas, dan Kepedulian Sosial di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026). Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah itu menekankan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban. Baginya, Ramadan adalah momentum konsolidasi vertikal kepada Allah sekaligus penguatan horizontal untuk menjangkau dan memuliakan sesama. “Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya. Dia menegaskan, takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus terinternalisasi menjadi karakter sosial. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan. Di situlah agama benar-benar hidup dalam realitas, bukan sekadar simbol. “Problem besar umat hari ini bukan pada minimnya ritual, melainkan pada lemahnya dampak sosial dari keberagamaan. Terjadi paradoks ketika aktivitas ibadah meningkat, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan menurunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Dalam konteks itu, sekularisasi bukan sekadar pemisahan agama dan dunia, melainkan kegagalan menghadirkan nilai ilahiah di ruang publik,” paparnya. Karena itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus tampil sebagai etos perubahan yang menyentuh struktur sosial, bukan hanya wacana normatif,” tegasnya. Dadang mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan kebencian, apalagi merendahkan dan mencaci orang lain. Dari sinilah pentingnya integritas intelektual ditegaskan. Ilmu tanpa iman, menurutnya, dapat melahirkan kesombongan bahkan kehancuran. Ia mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak dibimbing nilai takwa. Jika intelektualitas tidak disertai integritas, ia bisa menjadi alat manipulasi. Karena itu, spiritualitas dan intelektualitas harus senantiasa ditautkan. Dalam konteks peningkatan SDM, ia menekankan bahwa tradisi membaca dan belajar merupakan fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu sebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban. Karena itu, penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. “SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” pungkasnya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa etos kerja dan kepedulian sosial adalah napas Muhammadiyah yang harus terus dirawat. Ia menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat empati dan kerja sama lintas elemen kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar kampus tidak tercerabut dari realitas masyarakat. “Melalui momentum Ramadan, semoga kita diberi kekuatan hati untuk berbahu-bahu memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa. Pengajian ini tidak sekadar menjadi forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai, tempat spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan sebagai wajah persyarikatan yang mencerahkan,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Cara Unik Prodi Agribisnis UMM Bagi Takjil Ramadan Sayur-Mayur ke Pengguna Jalan

Malang, Tugumalang.id – Program Studi Agribisnis UMM punya cara unik dalam menjalankan tradisi bagi-bagi takjil ketika Ramadan. Jika biasanya yang dijadikan adalah makanan minuman siap saji, Prodi Agribisnis membagikan sayur-mayur kepada pengguna jalan. Aksi unik yang dilakukan pada 24 Februari 2026 lalu itu pun kontan menuai perhatian masyarakat. Konsep berbagi ini menjadi warna baru dalam semarak Ramadan di lingkungan kampus. Paket sayur segar yang dibagikan juga telah disesuaikan dengan menu masakan sehat untuk berbuka puasa. Ketua Prodi Agribisnis UMM, M. Zul Mazwan, S.P., M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan berbagi paket sayur tersebut menjadi bentuk nyata penerapan nilai keilmuan agribisnis yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Agribisnis UMM turut menggandeng PT Bumiaji Sejahtera sebagai mitra strategis. Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dalam program Center of Excellent (CoE) yang mendukung penguatan pembelajaran berbasis praktik serta kolaborasi antara kampus dan industri. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk pertanian yang dibagikan sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami rantai agribisnis secara langsung. Kegiatan ini, jelas dia merupakan implementasi nilai agribisnis yang menekankan aspek keberlanjutan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan produk pertanian. Berbagi sayur-mayur di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. ”Hal ini menunjukkan bahwa keilmuan agribisnis tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” jelasnya. Dalam kegiatan itu, sekitar 200 paket sayur berhasil disiapkan oleh mahasiswa. Antusiasme masyarakat pun tinggi. Dalam waktu singkat, seluruh paket habis dibagikan, menunjukkan bahwa inovasi berbagi dalam bentuk bahan pangan segar mendapat respons positif. Keunikan lainnya terletak pada konsep pengemasan yang telah disesuaikan berdasarkan satu menu masakan. Setiap paket dirancang menjadi satu hidangan lengkap, seperti sop, sayur asam, sayur bayam, hingga capcay. Konsep ini memudahkan penerima untuk langsung mengolahnya menjadi sajian berbuka yang sehat dan praktis. ”Kami sudah paketkan sayur-mayurnya berdasarkan satu menu sayur,” tambahnya. Melalui kegiatan ini, Agribisnis UMM menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar produksi komoditas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Reformasi berbagi dari makanan instan menuju bahan pangan segar menjadi simbol bahwa pertanian dapat hadir sebagai solusi ketahanan pangan sekaligus penggerak gaya hidup sehat masyarakat. Ke depan, inovasi berbagi berbasis produk pertanian ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi ciri khas Agribisnis UMM dalam menghadirkan kontribusi nyata yang menyatukan akademik, pemberdayaan ekonomi lokal, kemitraan industri, serta nilai kemanusiaan di bulan suci Ramadan.

UMM Luncurkan Sistem Pengolahan Sampah Terpadu di TPS Kampus: Langkah Nyata Menuju Zero Waste

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen nyata sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak dengan meluncurkan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya merespons meningkatnya persoalan sampah dan krisis lingkungan, tetapi juga memperkuat target pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta mendukung penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Sistem ini menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Berdasarkan laporan kegiatan, UMM dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Komposisi sampah meliputi plastik sekitar 45 persen (sekitar 540 kg/hari), limbah organik terkontaminasi plastik sekitar 360 kg (30 persen), dan limbah ranting mencapai 300 kg (25 persen). Sebelumnya TPS hanya menjadi tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan, sehingga banyak sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus. Ketua pelaksana proyek, Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, menjelaskan bahwa kebutuhan menunjukkan adanya pengelolaan lingkungan yang terukur untuk evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” katanya pada 21 Februari lalu. Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM, unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, dan kerja sama dengan berbagai lembaga. Proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” ujar Iis. Tiga alat utama yang dipasang meliputi: 1. Mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam, menghasilkan serpihan 5–10 mm untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik. 2. Mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam, menghasilkan serbuk biomassa sebagai media tanam atau kompos. 3. Alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan 90–92 persen. Sistem ini dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dimasukkan langsung ke mesin pemilah beserta kantong plastiknya. Plastik ringan terlempar ke bagian belakang, sedangkan sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan. Iis menambahkan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena TPS berada di area lereng, sehingga tidak memerlukan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa dan bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya. Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini memiliki potensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, dan menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)