Alumni UMM Tembus Karier Eropa, Jadi Engineer di Inggris

Alumni UMM Tembus Karier Eropa, Jadi Engineer di Inggris, Foto: Syariful Rizqi/PWMU.CO pwmu.co – Berkarier di kancah internasional menjadi impian banyak anak muda. Namun bagi Syariful Rizqi, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hal tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan realitas yang kini ia jalani.Pria yang akrab disapa Eki itu berhasil menembus pasar kerja Eropa sebagai Field Technical Engineer di perusahaan asal Inggris (UK). Ia mendapat penugasan klien onsite di Ukraina, Polandia, hingga kawasan Europe, Middle East, and Africa (EMEA). Tanggung Jawab Krusia Eki merupakan alumnus Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMM angkatan 2015. Dalam kesehariannya, ia memegang tanggung jawab penting memastikan operasional bisnis klien berjalan tanpa gangguan. Tugasnya meliputi penanganan masalah perangkat lunak dan perangkat keras, desktop support, hingga network troubleshooting di sejumlah kantor klien, khususnya di Polandia. “Tanggung jawab saya memastikan seluruh sistem pendukung kerja berjalan optimal. Prinsip kerja di sini menuntut ketepatan, kecepatan, dan efektivitas. Ada istilah zero mistake tolerance yang membuat saya harus benar-benar fokus dan teliti dalam setiap tugas,” ungkap Eki kepada tim humas pada 24 Februari. Standar profesional yang tinggi tersebut menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga dalam perjalanan karier globalnya. Pengalaman Internasional Kesuksesan Eki menembus karier internasional tidak lepas dari pengalaman yang ia bangun selama menempuh pendidikan di UMM. Semasa mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan internasionalisasi melalui International Relations Office (IRO) UMM. Ia kerap memfasilitasi profesor dari luar negeri serta terlibat dalam proyek sosial kolaborasi mahasiswa lintas negara. “Pengalaman di UMM, terutama saat berinteraksi dengan mahasiswa dan pakar dari berbagai negara, sangat mengubah cara pandang saya. Jaringan internasional yang saya bangun saat itu masih memberikan dampak positif hingga perjalanan karier saya sekarang,” jelasnya. Menurut Eki, keterlibatan dalam kegiatan internasional sejak dini membentuk mental adaptif dan memperluas jejaring profesional yang sangat berguna saat memasuki dunia kerja global. Budaya Kerja Eropa Berbicara mengenai budaya kerja, Eki menyoroti perbedaan signifikan antara lingkungan kerja di Indonesia dan Eropa. Ia menilai aspek work-life balance sangat dijunjung tinggi. Rekan kerjanya menghargai waktu istirahat dan tidak bekerja pada hari libur. Selain itu, struktur organisasi serta deskripsi pekerjaan ditetapkan secara jelas. Karyawan memiliki batas tanggung jawab yang tegas dan berhak menolak tugas di luar kewenangannya. Sistem meritokrasi berjalan profesional, di mana penilaian kinerja berbasis kompetensi dan hasil kerja. Meski bekerja di lingkungan internasional yang kompetitif, Eki mengaku tidak mengalami culture shock berarti. Ia justru merasa lingkungan kerja yang suportif membantunya berkembang secara profesional. Pesan untuk Mahasiswa UMM Kepada mahasiswa UMM, Eki berpesan bahwa kemampuan teknis memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan. Menurutnya, sikap rendah hati, etika kerja, serta kemampuan komunikasi menjadi kunci utama untuk bertahan dan berkembang di lingkungan global. “Konsistensi dalam sikap dan etika kerja inilah yang akhirnya membuat saya bisa bertahan dan terus berkembang bekerja di luar negeri,” pungkasnya. Kisah Eki menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi di Indonesia memiliki peluang besar bersaing di tingkat internasional, asalkan dibarengi kesiapan kompetensi, jaringan, dan karakter profesional yang kuat. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria

Perang Iran Memanas, RI Terancam Krisis Energi dan Pangan

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. (Istimewa) Malang, Beritasatu.com – Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Menurutnya, gangguan distribusi minyak dunia akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya, harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak dan berpotensi memicu inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujar Dion di Malang, Selasa (3/3/2026). Ia menjelaskan, penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut tidak hanya berdampak pada harga minyak dunia, tetapi juga dapat memicu perubahan kebijakan luar negeri negara-negara besar. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” jelasnya. Dion juga meminta pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi lonjakan harga energi dan pangan akibat tekanan eksternal tersebut.

UMM Kenalkan Inovasi Pemanfaatan Trichoderma, Siswa Ubah Sampah Organik Jadi Kokedama

Siswa mengubah sampah organik jadi kokedama bersama tim Pengabdian UMM. (Istimewa/PWMU.CO) pwmu.co – Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan bertajuk “Inovasi Pemanfaatan Trichoderma sp. dalam Proses Pre-Komposting untuk Pembuatan Kokedama sebagai Media Edukasi Lingkungan” di SMA Muhammadiyah 1 Malang.Kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab persoalan nasional terkait peningkatan volume sampah, khususnya limbah organik yang mendominasi komposisi sampah rumah tangga di Indonesia. Permasalahan sampah organik yang belum terkelola optimal menjadi tantangan serius dalam pembangunan berkelanjutan. Limbah sisa makanan dan dedaunan kerap berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pengolahan yang memadai. Melalui pendekatan bioteknologi sederhana, tim pengabdian memperkenalkan proses pre-komposting berbasis agen hayati Trichoderma sp. sebagai solusi percepatan dekomposisi sekaligus peningkatan kualitas kompos. Kegiatan ini dipimpin oleh Nur Izzatul Maulidah selaku ketua tim, bersama Agus Zainudin dan Wahid Muhammad Shodiq. Dalam pelaksanaannya, kegiatan diawali dengan penyampaian materi di aula sekolah yang membahas urgensi pengelolaan limbah organik, konsep pre-komposting, serta peran mikroorganisme dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Siswa diperkenalkan teknik kokedama, yaitu metode penanaman tanaman tanpa pot dengan memanfaatkan media tanam berbasis kompos yang dibentuk menyerupai bola. “Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik tidak harus mahal dan rumit. Dengan memanfaatkan Trichoderma sp. dan bahan sederhana seperti nasi, jagung dan sebagainya, proses dekomposisi bisa dipercepat dan hasilnya dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam,” ujar Nur Izzatul Maulidah dalam sesi diskusi. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik yang dibagi dalam tiga tahapan. Tahap pertama adalah perbanyakan Trichoderma sp. menggunakan media jagung. Inokulum yang telah dibuat kemudian disimpan untuk diamati pertumbuhannya satu minggu setelah kegiatan guna memastikan perkembangan jamur berjalan optimal. Tahap kedua berupa pembuatan kompos dari sampah rumah tangga dengan penambahan Trichoderma sp. sebagai aktivator. Boks pembuatan kompos yang digunakan dalam praktik tersebut ditempatkan di lingkungan sekolah agar proses pengomposan dapat terus berlangsung dan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan. Tahap ketiga adalah pembuatan kokedama menggunakan kompos hasil pengolahan. Siswa membentuk bola media tanam, membungkusnya dengan sabut kelapa, lalu menanam tanaman hias sehingga menghasilkan produk yang estetis dan bernilai guna. Hasil kokedama tersebut dibawa pulang oleh masing-masing siswa. Antusiasme terlihat jelas ketika para siswa dengan bangga menunjukkan hasil karya mereka. “Saya baru tahu kalau sampah rumah tangga bisa jadi media tanam yang bagus. Senang sekali bisa membuat kokedama sendiri dan membawanya pulang,” ungkap Shinta Dwi Aurora salah satu siswa peserta kegiatan. Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan refleksi untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi dan praktik yang telah dilakukan. Secara umum, kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis praktik mampu meningkatkan pemahaman sekaligus membangun kesadaran lingkungan secara lebih efektif. Model edukasi lingkungan berbasis inovasi Trichoderma sp. dan pembuatan kokedama ini dinilai memiliki potensi untuk direplikasi di berbagai sekolah di Indonesia. Selain sederhana dan berbiaya rendah, metode ini juga sejalan dengan upaya penguatan pendidikan karakter peduli lingkungan serta mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah, inovasi kecil berbasis mikroorganisme ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan di tingkat nasional.(*) *) Penulis : Wahid M. Shodiq *) Editor : Zahrah Khairani Karim

Prodi HKI UMM Gelar Observasi Gerhana Bulan dan Shalat Khusuf

Prodi HKI UMM Gelar Observasi Gerhana Bulan dan Shalat Khusuf, Foto: Ist/PWMU.CO pwmu.co  – Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB.Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum langit yang sarat makna.  Antara Sains dan Spiritualitas Fenomena gerhana bulan kembali menyita perhatian umat Islam. Bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan melalui perhitungan ilmiah, gerhana dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bagi sivitas akademika Prodi HKI UMM, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah sekaligus ajakan untuk memperbanyak ibadah, khususnya shalat khusuf. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya. Integrasi Ilmu dan Iman Menurut Tanzil, mahasiswa tidak cukup memahami gerhana sebatas teori pergerakan benda langit dan perhitungan astronomis. Pembelajaran harus membentuk karakter akademik yang utuh, menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual. Ketika mahasiswa menyaksikan gerhana, lalu melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak doa, di situlah ilmu dan iman bertemu. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan, mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dalam perspektif Islam, gerhana bukanlah fenomena alam biasa. “Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ia mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta berada dalam kendali-Nya. Tidak ada yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya,” tuturnya. Penjelasan Ilmiah Gerhana Bulan Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses ini dapat dijelaskan secara rasional dan terukur melalui kajian astronomi. Namun dalam Islam, peristiwa tersebut juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, serta melaksanakan shalat khusuf sebagai bentuk penghambaan dan refleksi diri. Tanzil menjelaskan bahwa shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukan pertanda mistis atau berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah. Edukasi Publik dan Penguatan Keimanan Melalui kegiatan observasi ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa dan masyarakat dapat memaknai gerhana bulan bukan hanya sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk kembali mengingat kebesaran Allah dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada-Nya. Selain menjadi sarana edukasi ilmiah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan karakter mahasiswa agar memiliki integritas akademik sekaligus spiritualitas yang kokoh. Momentum gerhana bulan pun diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa sains dan agama bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua jalan yang saling melengkapi dalam memahami semesta dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. *) Editor : Satria

Amati gerhana bulan, HKI UMM pertemukan dimensi akademik dan spiritual

Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB. By :  Sigit Kurniawan Update: 2026-03-03 09:50 GMT Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com. Elshinta.com – Menyambut fenomena gerhana bulan, Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM pada Selasa (3/3/2026), pukul 16.00–21.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang edukatif sekaligus reflektif yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual dalam satu momentum langit yang sarat makna. Fenomena gerhana bulan kembali menyita perhatian umat Islam. Bukan sekadar peristiwa astronomi yang dapat dijelaskan melalui perhitungan ilmiah, gerhana dimaknai sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bagi sivitas akademika Prodi HKI UMM, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah sekaligus ajakan untuk memperbanyak ibadah, khususnya shalat khusuf. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata integrasi pembelajaran ilmu falak dengan penguatan spiritualitas mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami gerhana sebatas teori pergerakan benda langit dan perhitungan astronomis. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Selasa (3/3). Ia menambahkan bahwa pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik yang utuh. Mahasiswa didorong memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Ketika mereka menyaksikan gerhana, lalu melaksanakan shalat khusuf dan memperbanyak doa, di situlah ilmu dan iman bertemu. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Lebih lanjut, Tanzil menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, gerhana bukanlah fenomena alam biasa. “Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. Ia mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta berada dalam kendali-Nya. Tidak ada yang terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya,” tuturnya. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses ini dapat dijelaskan secara rasional dan terukur melalui kajian astronomi. Namun dalam Islam, peristiwa tersebut juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, serta melaksanakan shalat khusuf sebagai bentuk penghambaan dan refleksi diri. Menurut Tanzil, shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Pelaksanaannya menjadi wujud ketaatan sekaligus kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta. Ia mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis tersebut menegaskan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis atau berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan murni tanda kebesaran Allah. Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak terjebak pada mitos yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, melainkan menjadikan gerhana sebagai momentum untuk memperkuat iman dan memperbaiki kualitas diri. Melalui kegiatan ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa dan masyarakat dapat memaknai gerhana bulan bukan hanya sebagai peristiwa astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk kembali mengingat kebesaran Allah dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada-Nya.

Akademisi UMM Kritik Tajam Prioritas LPDP pada Bidang STEM, Bisa Krisis Nilai Bangsa

Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., (Foto: Istimewa) Malang (beritajatim.com) – Kebijakan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang kini cenderung memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menuai sejumlah kritik. Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., memperingatkan bahwa pengabaian terhadap ilmu sosial-humaniora dapat memicu krisis nilai dan jati diri bangsa. Menurut Prof. Wahyudi, polemik LPDP yang ramai diperbincangkan publik bukan sekadar masalah teknis administratif. Hal ini merupakan cermin dari arah pembangunan nasional yang sedang dipertaruhkan, terutama dalam cara negara memaknai peran ilmu pengetahuan di tengah derasnya arus globalisasi. Fenomena penerima beasiswa (awardee) yang enggan kembali ke tanah air setelah menempuh studi di luar negeri menjadi sorotan utama. Prof. Wahyudi menilai hal ini sebagai evidence sosial adanya keretakan dalam ikatan kebangsaan. “Itu bukan sekadar persoalan individu, tetapi tanda bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya saat diwawancarai tim Humas UMM pada 02 Maret 2026. Ia menambahkan, rasa nyaman menetap di luar negeri dan perlahan menjauh dari identitas Indonesia menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan loyalitas terhadap negara jika tidak dibarengi dengan fondasi karakter yang kuat. Kebijakan yang mengutamakan STEM lahir dari paradigma lama yang menganggap ilmu eksakta sebagai satu-satunya motor penggerak ekonomi. Sementara itu, ilmu sosial seringkali hanya ditempatkan sebagai pelengkap atau aksesori pembangunan yang tidak mendesak. Padahal, dalam perspektif sosiologi pembangunan, keberlanjutan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan atau kecanggihan teknologi, melainkan juga dari pembentukan etika publik, kesadaran kolektif masyarakat, dan kohesi sosial yang kuat. “Ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. Manusia tidak boleh hanya cerdas secara teknis, tapi harus matang secara moral,” tegas Prof. Wahyudi. Lebih lanjut, Prof. Wahyudi memperingatkan bahaya lahirnya “Generasi Teknokratik” yang kaku jika dominasi STEM tidak diseimbangkan dengan perspektif humanistik. Ia merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Jika pendidikan hanya fokus pada parameter rasional semata, manusia berisiko kehilangan sensitivitas kemanusiaan. Untuk membendung hal tersebut, ia menyarankan penerapan Paradigma Profetik sebagaimana digagas oleh Kuntowijoyo. “Pembangunan tidak cukup berhenti pada aturan, strategi, dan target pertumbuhan. Ia harus menyentuh hakikat keadilan sosial dan martabat manusia sebagai tujuan akhir,” imbuhnya. Prof. Wahyudi juga menyoroti bahwa kebijakan pendidikan Indonesia sering kali hanya mengekor arus global, mulai dari era Millennium Development Goals (MDGs) hingga Sustainable Development Goals (SDGs). Strategi penyiapan SDM kita cenderung didikte oleh kebutuhan pasar global dan lembaga internasional seperti IMF dan World Bank. Dampaknya bisa fatal bagi struktur sosial di Indonesia. Indonesia berisiko hanya menjadi pelaksana agenda luar, bukan perumus arah bangsa sendiri. Selain itu, mobilitas vertikal sulit dijangkau kelas menengah ke bawah jika akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya dikuasai segelintir elite. Lalu, pembangunan yang tidak sensitif terhadap realitas kelas akan memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Sebagai penutup, ia mengingatkan agar LPDP dan kebijakan pendidikan nasional keluar dari jebakan logika angka. Tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh. “Tanpa sentuhan nilai sosial, Indonesia hanya akan mencetak lulusan yang unggul secara teknis namun miskin empati terhadap persoalan bangsanya sendiri,” tutup Guru Besar UMM tersebut. (dan/ian)

Akademisi UMM Kritik LPDP yang Prioritaskan STEM ketimbang Sosial-Humaniora: Bisa Picu Krisis Nilai Bangsa

Akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Wahyudi Winarjo MSi. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Kebijakan beasiswa LPDP yang memprioritaskan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dibandingkan ilmu sosial-humaniora menuai sorotan tajam dari akademisi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Wahyudi Winarjo MSi. Dia menegaskan bahwa polemik LPDP yang belakangan ramai diperbincangkan tidak bisa dibaca semata sebagai kebijakan teknis pendidikan, melainkan sebagai refleksi arah pembangunan nasional yang sedang dipertaruhkan, terutama dalam cara negara memaknai peran ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. “Peristiwa yang ramai soal LPDP itu menjadi evidence sosial bahwa ada yang perlu dibenahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Melihat fenomena sebagian penerima beasiswa yang setelah lama menempuh studi di luar negeri justru merasa lebih nyaman menetap di sana dan perlahan menjauh dari ikatan kebangsaan. Itu bukan sekadar persoalan individu, tetapi tanda bahwa orientasi pembangunan dan penguatan nasionalisme kita belum sepenuhnya kokoh,” ujarnya pada Senin (2/3/2026). Prof Wahyudi menjelaskan bahwa prioritas terhadap STEM lahir dari paradigma lama yang menganggap ilmu eksakta sebagai motor utama pembangunan ekonomi, sementara ilmu sosial dan humaniora ditempatkan sebagai pelengkap yang tidak mendesak. Padahal, dalam perspektif sosiologi pembangunan, sejatinya pembangunan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka dan kemajuan teknologi, tetapi juga menyangkut pembentukan etika publik, kesadaran kolektif, serta kohesi sosial yang menjadi fondasi keberlanjutan sebuah bangsa. “Paradigma dikotomi antara eksakta dan sosial itu harus diubah karena tidak mungkin ilmu sosial diabaikan dalam mengawal pembangunan. Ilmu sosial-humaniora berfungsi mengasah kepekaan nurani dan membangun keseimbangan antara rasionalitas, iman, dan nilai kemanusiaan. Ilmu sosial itu menyentuh hati, menyentuh religiositas atau spiritualitas, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara moral,” tegasnya. Prof Wahyudi juga melihat bahwa orientasi pembangunan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan mengikuti arus global sejak era Millennium Development Goals hingga Sustainable Development Goals, di mana arah kebijakan nasional kerap selaras dengan prioritas lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank yang secara tidak langsung memengaruhi strategi penyiapan sumber daya manusia berbasis kebutuhan pasar global dan daya saing ekonomi. “Risikonya, kita hanya menjadi potret dari pemikiran dunia, bukan perumus arah kita sendiri, melainkan bagian dari struktur sosial yang timpang. Mobilitas vertikal akan semakin sulit dijangkau oleh kelompok kelas menengah ke bawah jika akses pendidikan unggul dan jejaring global hanya terbuka bagi segelintir orang, sehingga kesenjangan sosial-ekonomi berpotensi melebar sebagai konsekuensi logis dari pembangunan yang kurang sensitif terhadap realitas kelas,” ujarnya. Ia pun mengingatkan bahaya lahirnya generasi teknokratik yang kaku apabila dominasi STEM tidak diimbangi perspektif humanistik, dengan merujuk pada positivisme Auguste Comte yang terlalu menekankan rasionalitas empiris. Menurutnya, jika hanya berpikir positivistik, orang bisa kehilangan sensitivitas kemanusiaan dan terjebak pada parameter-parameter rasional semata, padahal manusia harus tetap berjalan di wilayah kemanusiaannya. “Maka dari itu, negara perlu menyeimbangkan inovasi teknologi dengan penguatan nilai melalui paradigma profetik sebagaimana diperkenalkan Kuntowijoyo, karena pembangunan tidak cukup berhenti pada aturan, strategi, dan target pertumbuhan, tetapi harus menyentuh hakikat keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, serta martabat manusia sebagai tujuan akhir,” ujarnya. Pada akhirnya, Prof Wahyudi mengingatkan bahwa LPDP dan kebijakan pendidikan nasional seharusnya tidak terjebak pada logika angka dan pertumbuhan ekonomi semata. Tanpa sentuhan nilai dan kepekaan sosial, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang unggul secara teknis tetapi miskin empati, sementara tujuan sejati pembangunan adalah memerdekakan dan memartabatkan manusia Indonesia secara utuh. (Faqih/AS)