Ratusan Peserta Hadiri Silaturahmi Aisyiyah Jatim di UMM

pwmu.co – Ratusan peserta menghadiri kegiatan Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang membahas konsep Islam Berkemajuan dalam momentum Ramadhan.Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu (04/03/2026). Kegiatan ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai unsur organisasi dan masyarakat. Agenda tersebut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang tetap berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Konsep Islam Berkemajuan Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Integrasi Nilai Agama dan Ilmu Pengetahuan Lebih lanjut, Dalilah menegaskan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat Islam mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Membangun Sikap Moderat dan Integritas Dalilah juga menyampaikan bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ramadhan sebagai Momentum Refleksi Menurutnya, bulan Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Nilai Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menilai kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mampu mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat serta relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria
Ajang Bukber Sering Bikin Minder? Psikolog UMM Ungkap Cara Hadapi Social Comparison Saat Reuni

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Buka bersama (bukber) yang semestinya menjadi ruang hangat untuk menyambung silaturahmi, tak jarang berubah menjadi arena perbandingan sosial. Obrolan seputar karier, bisnis, studi, hingga status pernikahan sering kali membuat sebagian orang merasa minder dan mempertanyakan posisi hidup mereka sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa rendah diri tersebut bukan muncul karena acara bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda. Hal ini memicu upward social comparison, yaitu kondisi saat seseorang membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih unggul. “Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, secara tidak sadar kita membandingkan diri kita. Responnya bisa berupa perasaan iri, cemas, hingga minder,” terang Atika, Kamis 5 Maret 2026. Menurut Atika, dorongan perbandingan ini terasa lebih kuat saat bertemu teman lama, seperti rekan SMA atau kuliah. Adanya sejarah dan titik awal yang sama membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Seseorang cenderung merasa posisi hidupnya seharusnya tidak jauh berbeda dengan teman seangkatannya. Padahal, Atika menegaskan bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang unik. “Meskipun perasaan minder itu normal, kita harus mampu memaknainya secara proporsional. Membandingkan diri dengan yang lebih sukses sebenarnya bisa menjadi motivasi, asalkan tidak menjatuhkan harga diri,” jelasnya. Atika juga menyoroti peran media sosial yang sering memperburuk kondisi ini. Konten yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan kecil kesuksesan yang tidak merepresentasikan realitas secara utuh. Terlalu sering mengamati kehidupan orang lain secara dangkal terbukti dapat menurunkan self-esteem seseorang. Untuk tetap percaya diri saat bukber, Atika menyarankan agar individu mulai fokus pada pengembangan diri sendiri. Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri menuliskan perkembangan pribadi yang telah dicapai, sekecil apa pun itu. “Penting untuk menyadari bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. Jangan biarkan standar orang lain merusak kebahagiaan silaturahmi Anda,” pungkasnya.(edr)
Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual

Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang menekankan pentingnya menghadirkan ajaran Islam secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip akidah dan akhlak. Tagar.co – Konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah mendorong umat Islam menghadirkan ajaran agama secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip dasar akidah dan akhlak. Hal itu mengemuka dalam Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (4/3/2026). Hadir sebagai pembicara utama, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag. Dia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan menekankan pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunah, sekaligus terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah di hadapan ratusan peserta. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong integrasi antara spiritualitas dan kemajuan intelektual. Menurutnya, ajaran agama tidak boleh dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Baca Juga: Ribuan Mahasiswa Siap Ramaikan KKI dan Abdidaya Ormawa 2025 di UMM “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Sikap Moderat Lebih jauh, Dalilah menegaskan bahwa semangat Islam Berkemajuan juga mendorong umat Islam untuk membangun sikap moderat, menjunjung tinggi integritas moral, serta memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia menilai bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan nilai-nilai tersebut, tidak hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam sikap dan tanggung jawab sosial sehari-hari. “Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Wakil Rektor V Universitas Muhammadiyah Malang Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si. (kedua dari kanan) menyerahkan cenderamata kepada Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., dalam Silaturahmi ‘Aisyiyah Jawa Timur di UMM, Rabu (4/3/2026). (Tagar.co/Humas UMM) Ruang Refleksi Spiritual Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Baca Juga: Jiwa Al-Maun Vs Jiwa Kapitalisme “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” ujarnya. (#)
Psikolog UMM: Rasa Minder Saat Bukber Dipicu Perbandingan Sosial

pwmu.co – Fenomena rasa minder saat buka puasa bersama (bukber) ternyata lebih dipicu oleh kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian teman, bukan karena kegiatan bukber itu sendiri.Hal tersebut dijelaskan oleh dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., yang menilai bahwa perasaan minder sering muncul ketika seseorang bertemu kembali dengan teman lama yang memiliki progres kehidupan berbeda. Menurutnya, dalam situasi seperti itu seseorang tanpa sadar melakukan upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap memiliki pencapaian lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya pada 4 Maret kepada Tim Humas UMM. Perbandingan dengan Teman Lama Lebih Personal Lebih lanjut, Atika menjelaskan bahwa dorongan untuk membandingkan diri akan semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama, seperti teman SMA atau teman kuliah. Hal ini terjadi karena adanya faktor kemiripan latar belakang yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Banyak orang menganggap bahwa mereka memiliki titik awal kehidupan yang sama, sehingga secara tidak sadar menjadikan pencapaian teman sebagai tolok ukur keberhasilan diri saat ini. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama,” jelasnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa perasaan minder dalam situasi sosial sebenarnya merupakan hal yang normal. Secara alami manusia memang memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri guna mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini. Perbandingan Sosial Tidak Selalu Berdampak Negatif Menurut Atika, proses membandingkan diri dengan orang lain tidak selalu membawa dampak buruk. Dalam beberapa kondisi, hal tersebut justru dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Melihat pencapaian orang lain yang lebih tinggi dapat memicu semangat untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, menyadari bahwa masih banyak orang yang menghadapi tantangan lebih berat juga dapat menumbuhkan rasa syukur. Selama dimaknai secara proporsional, perbandingan sosial justru bisa membantu seseorang memahami perjalanan hidupnya dengan lebih bijak. Media Sosial Memperkuat Perasaan Minder Namun demikian, Atika juga mengingatkan bahwa media sosial sering kali memperkuat kecenderungan seseorang untuk melakukan perbandingan sosial. Menurut berbagai riset, semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain melalui media sosial, maka semakin rendah tingkat self-esteem yang dimiliki. Hal ini terjadi karena konten yang ditampilkan di media sosial umumnya hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak sepenuhnya merepresentasikan realitas yang sebenarnya. “Konten di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik seseorang, sehingga orang lain mudah merasa tertinggal jika tidak memaknainya secara bijak,” ujarnya. Cara Mengatasi Rasa Minder Saat Bertemu Banyak Orang Untuk menjaga kepercayaan diri saat menghadiri pertemuan sosial seperti buka puasa bersama, Atika menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada pencapaian orang lain yang terlihat lebih tinggi. Ia mendorong setiap orang untuk melihat perjalanan hidup secara lebih proporsional serta mengalihkan energi pada pengembangan diri. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai dalam hidup. Cara ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap individu bertumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. Jika perasaan overthinking berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, Atika menegaskan bahwa mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang bijak.
Ramadhan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

MALANG | JATIM1NEWS.COM: Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadhan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” pada Rabu, 04 Maret 2026. Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(Ans)
Bukber Jadi Ajang Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ini Penjelasan Psikolog UMM

Malangpariwara.com – Kegiatan buka puasa bersama yang sejatinya menjadi momen mempererat hubungan sering kali tanpa disadari berubah menjadi ruang untuk membandingkan diri dengan orang lain. Obrolan seputar karier, usaha, pendidikan, hingga pernikahan dapat memicu sebagian orang untuk menilai kembali posisi dan pencapaian dirinya dibandingkan dengan orang lain. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan disebabkan oleh kegiatan bukber itu sendiri. Perasaan tersebut muncul ketika seseorang bertemu teman dengan perkembangan hidup berbeda sehingga tanpa sadar melakukan upward social comparison. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Bertemu Teman Lama Berikan Dorongan Untuk Membandingkan Diri Ia menambahkan bahwa dorongan membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama. Faktor kesamaan latar belakang membuat orang merasa memiliki titik awal yang sama sehingga menjadikan teman sebagai tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Teman sekolah atau kuliah sering dianggap memiliki perjalanan awal yang serupa sehingga memicu perbandingan yang terasa lebih personal. Semakin besar rasa kemiripan tersebut, semakin besar pula kecenderungan menjadikannya sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri, baik dari segi karier, relasi, maupun finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Menurutnya, proses membandingkan diri tidak selalu berdampak negatif. Jika dimaknai secara sehat, perbandingan tersebut justru dapat memotivasi seseorang untuk berkembang sekaligus menumbuhkan rasa syukur. Media Sosial Berpengaruh pada Kecenderungan Membandingkan Diri Atika juga menyoroti peran media sosial yang sering memperkuat kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Paparan kehidupan orang lain secara terus-menerus dapat memengaruhi cara individu menilai dirinya. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki. Padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk menjaga kepercayaan diri saat bertemu banyak orang, ia menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada pencapaian orang lain. Penting untuk melihat perjalanan hidup secara lebih proporsional serta memusatkan energi pada pengembangan diri. Ia juga menyarankan kebiasaan sederhana seperti menuliskan beberapa perkembangan positif yang telah dicapai sebagai pengingat proses pertumbuhan pribadi. Jika perasaan cemas atau overthinking berlangsung lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat menjadi solusi yang tepat. (Djoko W)
Ramadan Berkemajuan Disuarakan di UMM, Aisyiyah Jatim Tekankan Integritas Umat

Sketsamalang.com – Dihadiri oleh ratusan audiens, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema “Ramadan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak” Rabu (4/3/2026). Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., sebagai pembicara utama yang menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situ lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum tersebut. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Ia juga menekankan bahwa bulan Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadhan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadhan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistiyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.(*)
Bukber Tak Perlu Minder, Psikolog UMM: Tiap Orang Punya Ritme Hidup Berbeda

MALANG POST – Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan. Bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya. Melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya. Tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita.” “Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 4 Maret 2026 pada Tim Humas UMM yang disampaikan ke Malang Post. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama. Lantaran ada faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama. Sehingga secara tidak sadar, dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama.” “Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial.” “Semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. Serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
UMM Gelar Buka Bersama Media, Rektor: Kampus Tumbuh Bersama Insan Pers

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan temu media dan buka bersama yang digelar pada Kamis, (5/32026). Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU UMM ini dihadiri oleh berbagai media lokal, nasional, influencer, serta media persyarikatan Muhammadiyah. Sejumlah media mainstream dan media persyarikatan yang hadir di antaranya PWMU.CO, Suara Muhammadiyah, Maklumat.id, hingga Majelistabligh.id. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik beserta jajaran wakil rektor. Acara diawali dengan kultum Ramadan yang memberikan penguatan spiritual bagi para tamu undangan sebelum memasuki sesi dialog dan silaturahmi media. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan bahwa hubungan antara UMM dan media bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan tumbuh secara alami seiring kebutuhan kampus untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, sejak lama UMM menyadari pentingnya media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan gagasan, aktivitas, serta kontribusi kampus kepada publik. “UMM itu tumbuh bersama media dan insan pers. Ini semua tidak disetting, tetapi memang kebutuhan kampus agar dikenal orang, agar kita bisa memahami masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, melalui media, kampus juga dapat menangkap berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat sehingga dapat meresponsnya secara lebih peka. “Kampus harus memahami masyarakat, memiliki kepekaan terhadap apa yang dialami masyarakat. Kampus harus bisa merasakannya,” tambahnya. Prof. Nazaruddin Malik juga berbagi pengalaman terkait dunia jurnalistik. Ia mengaku pernah merasa cocok menjadi wartawan. Namun, ketika itu ia mendapatkan pesan dari mantan Rektor UMM Prof. Muhadjir Effendy. “Saya dulu sepertinya cocok menjadi wartawan. Tapi Prof. Muhadjir Effendy bilang, jangan jadi wartawan nanti seperti saya,” ujarnya sambil tersenyum, disambut tawa hadirin. Meski demikian, ia menilai bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini membuat fungsi jurnalistik menjadi semakin terbuka bagi banyak orang. Menurutnya, di era media sosial sekarang, hampir setiap orang dapat menjalankan fungsi kewartawanan dalam mendistribusikan informasi. “Sekarang semua orang bisa menjalankan fungsi wartawan karena media sosial hari ini sangat terbuka dan kompleks dalam mendistribusikan informasi,” jelasnya. Di akhir sambutannya, Rektor UMM juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam merespons berbagai dinamika global yang berkembang saat ini, terutama di bulan Ramadan. “Kita belajar menahan diri untuk tidak ikut perang. Perangnya di Iran, puasanya di Indonesia,” pungkasnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi silaturahmi UMM dengan media yang telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor Prof. Muhadjir Effendy. Selain mempererat hubungan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara kampus dan insan pers dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan produktif.
UMM Perkenalkan Tagline Baru: Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda Buka Puasa Bersama Media pada Kamis (5/3/2026) di Aula Badan Administrasi Umum (BAU) UMM.Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara UMM dan insan pers sekaligus memperkenalkan tagline baru kampus, yakni “UMM Kampus Inovasi Mandiri dan Berdampak.” Acara diawali dengan kultum yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Fatoni. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menegaskan pentingnya literasi dalam Islam. Menurutnya, perintah Iqra’ menjadi landasan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi membaca, menulis, dan menyebarkan pengetahuan. “Wahyu pertama menunjukkan bahwa Islam adalah agama literasi. Karena itu, umat Islam didorong untuk terus belajar, memahami, dan menyebarkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan,” ujarnya. Kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video bertajuk Wartawan di Hati UMM yang menggambarkan hubungan erat antara UMM dan para jurnalis yang selama ini turut mengawal perkembangan kampus. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menuturkan bahwa tradisi buka puasa bersama media sudah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor UMM sebelumnya, Prof. Muhadjir Effendy. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan hubungan antara kampus dan media. “UMM tumbuh bersama media dan insan pers. Kebutuhan untuk dikenal dan dipahami masyarakat itu bersifat natural, dan di situlah peran media menjadi sangat penting,” jelasnya. Menurutnya, dunia media saat ini juga mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya didominasi media arus utama, kini berkembang berbagai platform baru baik mainstream maupun non-mainstream dengan pola produksi informasi yang semakin beragam. Hal ini menuntut pengelola perguruan tinggi untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas dalam membangun komunikasi publik. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan arah baru pengembangan UMM melalui tagline “UMM Kampus Inovasi Mandiri & Berdampak.” Tagline ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga menghadirkan inovasi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. Menutup sambutannya, Prof. Nazar mengajak seluruh pihak untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum muhasabah dan memperkuat nilai ketakwaan. Ia menekankan bahwa inti dari berbuat baik adalah bekerja dengan sepenuh hati tanpa didorong kepentingan pribadi atau golongan. “Jika ingin berbuat baik, bekerjalah sekeras mungkin dengan penuh keikhlasan, fokus pada tujuan bersama, dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Dengan cara itu, kita bisa memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. Melalui kegiatan ini, UMM berharap hubungan baik dengan media terus terjaga sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menyebarluaskan berbagai inovasi dan kontribusi kampus kepada masyarakat luas.(*)