Puluhan Tahun Bersama Pers, Rektor UMM Tegaskan Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media.

Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi perubahan besar dalam dunia media, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media menjadi sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kampus harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi. Dari proses tersebut lahir berbagai pemikiran yang dapat mendorong perubahan sosial. Universitas juga menjadi ruang penting untuk merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Ia menambahkan bahwa hubungan UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. Perkembangan media yang terus berubah juga memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Meski begitu, komitmen UMM untuk menjalin kolaborasi dengan insan pers tetap sama. Menurutnya, keberadaan media turut membawa UMM berkembang menjadi universitas yang berdampak. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut harus dilandasi niat tulus untuk berbuat baik tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok. Selain itu, kerja keras juga menjadi nilai penting yang sering kali diabaikan dalam proses pembangunan. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya. (faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Buka Bersama Media, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik Kenang Tradisi 25 Tahun sejak Zaman Prof Muhadjir Effendy

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempererat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025) pukul 15.30 WIB. Rektor Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hubungan antara UMM dan insan pers telah terjalin sangat lama, bahkan lebih dari dua dekade. Tradisi buka bersama dengan media,  sudah dimulai sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya, Muhadjir Effendy. “Kalau kita flashback ke belakang, pertemuan dengan teman-teman media seperti ini sudah dimulai sejak masa Rektor Prof. Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Menurut Nazaruddin Malik, hubungan antara universitas dan media memiliki peran strategis dalam membaca dan menyampaikan dinamika masyarakat. Di masa lalu, kata dia, media arus utama seperti media cetak menjadi sumber utama informasi publik. Namun saat ini perkembangan teknologi telah mengubah lanskap media secara signifikan. “Dulu kita semua mengamati media mainstream, terutama media cetak. Sekarang medianya berkembang sangat pesat, termasuk media digital dan media sosial yang membuat siapa saja bisa menjadi penyampai informasi,” jelasnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan pers tetap sangat penting sebagai mitra strategis bagi perguruan tinggi dalam menyampaikan gagasan, kritik, dan pemikiran akademik kepada masyarakat luas. Rektor juga menilai perguruan tinggi harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi terhadap kondisi masyarakat. Kepekaan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong perubahan besar dalam kehidupan bangsa. “Universitas harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Kepekaan itulah yang sering kali menjadi pemicu lahirnya perubahan,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Nazaruddin Malik juga menegaskan komitmen UMM untuk menjadi universitas berdampak, yakni kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Ia menjelaskan bahwa semangat tersebut harus dilandasi oleh nilai berbuat baik secara tulus tanpa didorong kepentingan pribadi maupun kelompok. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari hasrat untuk keuntungan pribadi atau golongan. Kita bekerja agar banyak orang merasakan manfaatnya,” ungkapnya. Menurutnya, semangat berbuat baik harus diwujudkan melalui kerja keras yang dilakukan dengan sepenuh hati, penuh konsentrasi, komitmen tinggi, serta dilandasi keikhlasan. “Kalau ingin berbuat baik, bekerjalah sekeras mungkin, dengan sepenuh hati, dengan orientasi pada tujuan dan manfaat bersama, serta hanya mengharap ridho Allah SWT,” tuturnya. Ia pun berharap kolaborasi antara UMM dan insan pers terus terjalin dengan baik, sehingga dapat melahirkan gagasan, inovasi, dan budaya baru yang mampu mendorong kemajuan bangsa. Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri jajaran wakil rektor, pimpinan struktural di lingkungan UMM, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media di Malang Raya. Suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban sebagai ajang silaturahmi sekaligus refleksi bersama di bulan suci Ramadan.

UMM-Insan Media Bukber: Refleksi Silaturahmi Kampus dan Jurnalis

MALANG POST – Suasana hangat penuh keakraban terasa memenuhi aula Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat acara buka puasa bersama (bukber) insan media pada Kamis 5 Maret 2026. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berbuka, melainkan momen silaturahmi serta refleksi panjangnya hubungan antara kampus dengan para jurnalis yang selama ini menjadi jembatan informasi antara kampus dan masyarakat. Dalam sambutannya, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa perkembangan kampus tidak bisa dipisahkan dari peran media. Media telah menjadi saluran penting untuk menyampaikan gagasan, inovasi, dan dinamika dunia perguruan tinggi kepada publik. “Niat baik menjalin komunikasi antara kampus dan media sudah berlangsung lama. Bahkan sejak era kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Muhadjir Effendy, hubungan dengan insan pers telah terbangun dengan baik,” ujar Nazaruddin. Ia menambahkan bahwa perubahan di dunia media turut merombak cara masyarakat mengakses informasi. Dahulu, arus utama berupa media cetak mendominasi; kini, siapa saja bisa memiliki platform sendiri dan menyebarkan informasi dengan mudah melalui teknologi. “Dulu kita mengenal media mainstream, terutama media cetak. Sekarang hampir setiap orang bisa memiliki platform sendiri untuk membagikan berita,” imbuhnya. Namun, bagi Nazaruddin, peran kampus tetap penting sebagai ruang refleksi sosial yang peka terhadap masalah-masalah masyarakat. Sejak dulu, kampus menjadi tempat lahirnya gagasan melalui forum-forum diskusi yang mendorong perubahan sosial. “Kampus adalah tempat bertemunya ide dan cita-cita untuk membangun bangsa yang lebih baik. Dari ruang-ruang diskusi di kampus lahir banyak pemikiran tentang perubahan sosial di Indonesia,” katanya. Nazaruddin juga menegaskan bahwa UMM tumbuh dan berkembang bersama media serta insan pers, yang selama ini menjadi penghubung informasi antara kampus dan publik. Melalui momentum buka puasa bersama ini, ia berharap hubungan yang erat antara perguruan tinggi dan media terus terjalin. Tujuannya adalah menghadirkan informasi yang konstruktif dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas, terutama dalam masa-masa penuh tantangan dan peluang seperti sekarang. Kegiatan hari itu diwarnai tawa, obrolan hangat, dan sharing pengalaman antara dosen, mahasiswa, serta rekan-rekan jurnalis. Suara riang anak-anak sekolah pekik di kejauhan, sementara para tamu membahas isu-isu aktual yang sedang berkembang, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan media tetap relevan untuk membentuk wacana publik yang lebih manusiawi dan berimbang. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Prof Nazaruddin Malik Pimpin 4 Universitas Muhammadiyah, Strategi Berbagi Sumber Daya Jadi Kunci

JATIMTIMES – Kepercayaan besar datang kepada Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Akademisi yang dikenal sebagai ekonom dan pengelola pendidikan tinggi ini kini memegang amanah memimpin empat perguruan tinggi Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia. Situasi yang tidak lazim ini membuat namanya menjadi perbincangan di kalangan akademisi, karena jarang ada satu figur yang dipercaya memimpin beberapa universitas sekaligus. Saat ini, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang untuk periode 2024 hingga 2028. Namun kepercayaan terhadapnya tidak berhenti di kampus yang bermarkas di Malang tersebut. Ia juga resmi ditetapkan memimpin tiga perguruan tinggi Muhammadiyah lainnya yang tersebar di berbagai daerah. Di kawasan timur Indonesia, ia dipercaya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Manado untuk periode 2025 sampai 2029. Amanah lain juga datang dari Universitas Muhammadiyah Kupang yang melantiknya sebagai rektor untuk periode 2025 hingga 2027. Sementara di wilayah Jawa Barat, ia juga dipercaya memimpin Universitas Muhammadiyah Indonesia di Bekasi untuk periode 2025 sampai 2029. Empat kampus dengan karakter wilayah yang berbeda kini berada dalam lingkup kepemimpinannya. Bagi Nazaruddin Malik, kepercayaan tersebut bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang tidak ringan. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan dirinya dipilih untuk memimpin beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut. Namun ia menduga keputusan itu berkaitan dengan pengalaman manajerial yang ia jalankan selama memimpin Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, kemungkinan besar pimpinan Muhammadiyah melihat praktik pengelolaan pendidikan yang telah berkembang di UMM dapat menjadi model untuk mempercepat perkembangan universitas Muhammadiyah di daerah lain. “Saya sendiri tidak tahu persis apa dasar menunjuk saya secara pribadi. Yang paling mungkin karena saya sedang menjadi rektor di UMM, sehingga praktik manajemen pendidikan yang diterapkan di sini bisa ditransfer ke kampus lain,” ujarnya, Kamis, (5/3/2026). Ia menilai pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah di beberapa daerah memang membutuhkan percepatan. Karena itu, dibutuhkan proses transfer pengalaman dan praktik baik yang sudah berjalan di kampus yang lebih mapan. Bagi Nazaruddin Malik, tugas tersebut bukan perkara sederhana. Mengelola satu universitas saja sudah menuntut energi besar, apalagi jika harus mendampingi beberapa kampus yang berada di wilayah berbeda dengan tantangan yang tidak sama. Karena itu ia memilih pendekatan berbagi sumber daya sebagai strategi utama. Dalam skema ini, ia tetap menjalankan tugas utama di Malang, sementara penguatan manajemen di kampus lain dilakukan dengan menempatkan sejumlah dosen dari UMM. Setiap universitas yang sedang didampingi biasanya ditempatkan satu atau dua dosen dari UMM. Para dosen tersebut tidak hanya mengajar, tetapi juga memegang peran strategis dalam pengelolaan kampus. Mereka ditugaskan sebagai sekretaris pelaksana rektor atau koordinator pelaksana rektor. Peran ini membuat mereka menjadi penghubung antara sistem manajemen yang dikembangkan di UMM dengan kebutuhan pengembangan di kampus tujuan. “Simbolisnya memang menempatkan orang. Tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah mentransfer knowledge management. Jadi bagaimana sistem pengelolaan kampus yang berjalan di UMM bisa diterapkan di tempat lain,” kata Nazaruddin. Proses transfer pengetahuan manajemen ini menjadi inti dari strategi percepatan pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah. Melalui pendekatan tersebut, pengalaman pengelolaan akademik, tata kelola kelembagaan, hingga sistem pengembangan sumber daya manusia dapat dibagikan secara langsung. Namun tantangan terbesar yang ia hadapi bukan sekadar persoalan administratif. Setiap kampus memiliki karakter daerah yang berbeda, sehingga pendekatan yang digunakan tidak bisa disamakan. Menurutnya, karakter sosial masyarakat di Malang berbeda dengan Bekasi yang berada di kawasan perkotaan besar dan dekat dengan pusat pemerintahan serta industri. Sementara itu, dinamika sosial di Manado memiliki latar budaya yang berbeda dengan masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk Kupang. Perbedaan karakter tersebut juga memengaruhi cara pengelolaan kampus, pola komunikasi dengan masyarakat, hingga strategi pengembangan institusi. “Karakter di daerah sangat berbeda. Karakter Malang berbeda dengan Bekasi, dan tentu berbeda lagi dengan Manado maupun Kupang. Itu tantangan yang cukup berat,” jelasnya. Selain faktor sosial dan budaya, kondisi organisasi Muhammadiyah di setiap daerah juga memengaruhi perkembangan perguruan tinggi yang dikelolanya. Ia menilai organisasi Muhammadiyah di beberapa wilayah masih dalam tahap penguatan, sehingga membutuhkan waktu untuk berkembang sekuat di Jawa Timur. Perbedaan tingkat kematangan organisasi tersebut turut memengaruhi kecepatan pengembangan kampus. Karena itu, strategi yang diterapkan juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Meski menghadapi berbagai tantangan, Nazaruddin Malik melihat Muhammadiyah memiliki kekuatan organisasi yang cukup solid. Tradisi kepatuhan terhadap keputusan pimpinan membuat seluruh elemen organisasi biasanya bergerak bersama ketika ada program pengembangan yang ditetapkan. Dalam tradisi Muhammadiyah, prinsip taat asas menjadi pegangan. Ketika pimpinan pusat memberikan arahan mengenai arah pengembangan perguruan tinggi, maka seluruh unsur organisasi biasanya menjalankannya secara kolektif. Selain penguatan manajemen internal, Nazaruddin Malik juga mendorong kolaborasi akademik antar perguruan tinggi Muhammadiyah. Gagasan ini tengah didorong oleh Majelis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai bagian dari integrasi jaringan kampus Muhammadiyah di Indonesia. Salah satu program yang sedang disiapkan adalah skema pertukaran mata kuliah atau transfer kredit antar kampus. Melalui skema ini, mahasiswa dari satu universitas Muhammadiyah dapat mengambil beberapa mata kuliah di kampus lain. Nilai dari mata kuliah tersebut nantinya tetap diakui oleh universitas asal mahasiswa. Dengan cara ini, mahasiswa dapat merasakan pengalaman akademik yang lebih luas tanpa harus berpindah universitas secara permanen. Tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, UMM juga mulai membuka peluang kerja sama akademik dengan perguruan tinggi nasional. Salah satu rencana yang sedang dipersiapkan adalah kolaborasi dengan Universitas Indonesia. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa UMM berkesempatan mengambil mata kuliah di Universitas Indonesia selama satu semester. Mata kuliah yang diambil nantinya akan diakui sebagai bagian dari kurikulum di UMM. Bagi Nazaruddin Malik, berbagai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas pendidikan tinggi Muhammadiyah di berbagai daerah. Ia menyadari bahwa amanah memimpin beberapa universitas sekaligus bukan hal biasa. Namun baginya, yang terpenting adalah bagaimana perguruan tinggi yang didampingi dapat berkembang lebih cepat dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Strategi ‘Out of The Box’ Prof Nazaruddin Malik Besarkan 4 Universitas Muhammadiyah

Malang (beritajatim.com) – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., dipercaya untuk mengemban amanah sebagai rektor di empat perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM). Dalam kesempatan wawancara sosok ekonom senior menjelaskan strategi out of the box dalam mengemban amanah di PTM yang tersebar di berbagai penjuru nusantara. Menjalankan empat amanah sekaligus tentu mustahil dilakukan sendirian tanpa sistem yang kuat. Prof. Nazaruddin menjelaskan bahwa ia tetap berbasis di Malang, namun menempatkan representasi kuat di setiap kampus dampingan. “Format manajemennya adalah berbagi sumber daya. Di setiap universitas, saya menempatkan satu atau dua dosen UMM di sana. Mereka menjabat sebagai Sekretaris Pelaksana Rektor,” jelas Prof Nazaruddin pada beritajatim.com, Kamis (5/3/2026). Para dosen pilihan dari UMM ini berfungsi sebagai koordinator pelaksana di lapangan. “Ibaratnya, di UMM ini dapurnya. Menu-menu kebijakan dan standar mutunya digodok di sini, lalu diimplementasikan di sana oleh para sekretaris pelaksana tersebut,” tambahnya. Berdasarkan data yang dihimpun, Prof. Nazaruddin menjabat di empat kampus berbeda dengan rincian: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk periode 2024–2028. Universitas Muhammadiyah Manado pada periode 2025–2029. Universitas Muhammadiyah Kupang untuk periode 2025–2027. Kemudian Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) Bekasi untuk periode 2025–2029. Situasi ini tergolong tidak lazim dalam birokrasi akademik nasional. Biasanya, satu figur hanya fokus memimpin satu institusi. Namun, kepiawaian Prof. Nazaruddin dalam mengelola manajemen pendidikan membuat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memberikan mandat khusus untuk melakukan akselerasi mutu di tiga kampus lainnya. Memimpin kampus di lokasi yang berbeda secara geografis dan kultural mendatangkan tantangan tersendiri. Karakter masyarakat di Bekasi yang urban dan dekat pusat pemerintahan tentu berbeda jauh dengan kultur di Nusa Tenggara Timur (NTT) atau Sulawesi Utara. Selain faktor budaya, Prof. Nazaruddin menyoroti perbedaan tingkat kematangan organisasi Muhammadiyah di tiap daerah. Di Jawa Timur, struktur organisasi sudah sangat solid, yang memudahkan akselerasi universitas. Kondisi ini belum tentu sama di wilayah lain. “Tantangan terberat adalah karakter daerah dan perkembangan organisasi Muhammadiyah setempat yang belum sebagus di Jawa Timur. Itulah yang menentukan kecepatan proses pengembangan universitas tersebut,” tuturnya. Menariknya, Prof. Nazaruddin secara terbuka mengakui bahwa secara normatif-birokratis, memimpin empat kampus sekaligus mungkin menabrak aturan umum. Namun, dalam semangat dakwah dan kemajuan pendidikan Muhammadiyah, efisiensi menjadi prioritas utama. “Kalau di aturan (umum) mungkin tidak boleh ya. Tapi di Muhammadiyah, yang penting adalah bagaimana kita mendorong kemajuan. Hal-hal yang sifatnya birokratis terkadang bisa kita kesampingkan demi meningkatkan kualitas perguruan tinggi secara cepat,” tegasnya. Saat dikonfirmasi mengenai penunjukan beruntun ini, Prof. Nazaruddin mengaku bahwa mandat tersebut adalah tugas berat yang memerlukan strategi manajemen yang presisi. Ia menjelaskan bahwa alasan di balik penunjukan ini adalah upaya percepatan perkembangan kampus Muhammadiyah di daerah. “Mungkin ini adalah bagian dari knowledge transfer. Bagaimana praktik-praktik baik (best practices) dan manajemen pendidikan yang sudah mapan di UMM bisa diterapkan di tiga tempat tersebut,” ujar Prof. Nazaruddin. Ia menegaskan bahwa perannya bukan sekadar simbolis. Fokus utamanya adalah membawa standar kualitas UMM yang sudah dikenal sebagai salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia ke Manado, Kupang, dan Bekasi. Kepemimpinan lintas kampus ini juga membuka peluang emas bagi mahasiswa. Saat ini, PP Muhammadiyah tengah mendorong sistem di mana mahasiswa dari kampus-kampus tersebut bisa mengambil mata kuliah di UMM dan kreditnya diakui di kampus asal. Tak hanya internal Muhammadiyah, Prof. Nazaruddin juga membocorkan rencana kerjasama besar dengan Universitas Indonesia (UI). “Dalam waktu dekat, mahasiswa UMM diperbolehkan mengambil mata kuliah yang diminati di Universitas Indonesia selama satu semester, dan hasilnya akan diakui oleh UMM. Begitu pula sebaliknya,” jelasnya. Menanggapi isu adanya sentimen negatif atau rasa iri dari internal kampus setempat, Prof. Nazaruddin menanggapinya dengan santai. “Budaya di Muhammadiyah adalah Sami’na wa Atho’na (kami mendengar dan kami taat) terhadap instruksi pimpinan pusat demi kepentingan bersama,” katanya menutup pembicaraan. (dan/but)

UMM Perkuat Kemitraan dengan Media Lewat Buka Puasa Bersama di Kampus 3

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjalin kedekatan dengan kalangan media melalui kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (05/03/2025) sore. Acara ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan insan pers di Malang Raya. Rektor UMM, Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa hubungan antara UMM dan media telah terbangun sejak lama dan menjadi bagian penting dalam perjalanan perkembangan kampus. Tradisi berbuka puasa bersama dengan wartawan, menurutnya, telah berlangsung sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya. Ia menuturkan bahwa kegiatan tersebut telah berjalan lebih dari dua dekade, menandakan bahwa UMM tumbuh bersama dukungan berbagai pihak. Termasuk para jurnalis yang turut menyampaikan informasi mengenai berbagai aktivitas dan pemikiran akademik kepada masyarakat. Nazaruddin menjelaskan bahwa peran media dalam kehidupan masyarakat terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi. “Jika dahulu media cetak menjadi rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi, kini media digital dan media sosial semakin mendominasi arus penyebaran berita,” ujarnya. Posisi Strategis Pers Meski begitu, ia menilai keberadaan pers tetap memiliki posisi strategis. Terutama dalam menjaga kualitas informasi dan menyampaikan berbagai gagasan yang lahir dari lingkungan akademik kepada publik secara lebih luas. Menurutnya, perguruan tinggi juga dituntut memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kepekaan tersebut diyakini dapat menjadi pendorong munculnya ide dan inovasi yang mampu memberikan solusi bagi kehidupan bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Nazaruddin juga menegaskan komitmen UMM untuk terus berkembang sebagai kampus yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan sebuah universitas tidak hanya diukur dari prestasi akademik. Tetapi juga dari sejauh mana kontribusinya dirasakan oleh masyarakat luas. Ia menambahkan bahwa semangat memberikan manfaat bagi orang banyak harus dilandasi dengan niat tulus tanpa dilatarbelakangi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Nilai tersebut, menurutnya, menjadi dasar dalam menjalankan berbagai program pengabdian dan pengembangan kampus. Melalui kegiatan buka puasa bersama ini, pihaknya berharap hubungan baik antara UMM dan media dapat terus terjaga. “Kolaborasi yang terbangun diharapkan mampu menghadirkan gagasan, inovasi, serta budaya baru yang mendukung kemajuan masyarakat,” tandas Nazaruddin. Acara tersebut turut dihadiri para wakil rektor, pimpinan unit kerja di lingkungan UMM, tim Humas UMM, serta sejumlah wartawan dari berbagai media di Malang Raya. Suasana berlangsung hangat dan penuh keakraban, menjadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi sekaligus refleksi bersama di bulan suci Ramadan. (Djoko W)

Lewat Sahur On The Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur dan Barbeque di Pinggir Jalan

Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari, 5 Maret 2026. Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. (faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman