Jaga Tradisi 25 Tahun, UMM Perkuat Silaturahmi Bersama Insan Pers di Momen Ramadan

KETIK, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar agenda buka puasa bersama media di Aula BAU Kampus 3 pada Kamis, 5 Maret 2026. Acara ini menjadi momentum untuk memperkuat hubungan panjang yang telah terjalin hangat antara kampus dengan insan pers. Kegiatan silaturahmi ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Forum ini juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Diskusi yang mengalir dalam suasana akrab tersebut menyoroti perjalanan kolaborasi apik yang telah dibangun selama ini. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa tradisi buka puasa bersama media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan rektor-rektor terdahulu, salah satunya Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Selama lebih dari 25 tahun, agenda ini konsisten dijalankan sebagai bagian dari hubungan historis antara UMM dan media. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang,” ujar Prof. Dr. Nazaruddin Malik. “Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” imbuhnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Menggelar buka puasa bersama media sebagai bentuk memperkuat hubungan jangka panjang bersama insan pers pada Kamis, 5 Maret 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com) Ia menjelaskan bahwa lanskap media di Indonesia telah mengalami perubahan signifikan. Dahulu, media cetak menjadi sumber informasi utama dengan akses luas di ruang publik. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah pola distribusi informasi secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Meski terjadi disrupsi, Nazaruddin menilai peran pers tetap krusial dalam kehidupan sosial, terutama dalam membentuk pemikiran publik. Perkembangan gagasan masyarakat banyak dipengaruhi oleh peran media dalam berbagai momentum sejarah bangsa. Oleh karena itu, hubungan antara kampus dan media bersifat sangat strategis. Menurut Nazaruddin, universitas memiliki tanggung jawab untuk menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi bagi masyarakat. Melalui proses inilah lahir pemikiran untuk mendorong perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Hubungan UMM dan media diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. UMM berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan insan pers agar tetap menjadi universitas yang memberikan dampak nyata. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa menjadi universitas yang berdampak tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga tentang manfaat nyata yang dirasakan masyarakat luas. Semangat ini harus dilandasi niat tulus dan kerja keras. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya.(*)

Dulu Jual Lumpia di Kelas, Kini Alumnus UMM Ekspor Keripik Buah ke Manca Negara

MALANG, SURYAKABAR.com – Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan, ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri sapaan akrabnya memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujar Dzikri, Kamis (5/3/2026). Dzikri mengakui, fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti, UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif. (*)

Dari Desa ke Pasar Dunia, Alumni UMM Ekspor Keripik Buah

pwmu.co – Langkah berani tak selalu lahir dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global melalui inovasi produk olahan pertanian. Abdullah Dzikri, alumnus Program Studi Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying yang bahkan telah menembus pasar internasional, termasuk Singapura. Inovasi Keripik Buah dengan Teknologi Vacuum Frying Usaha yang dirintis Dzikri memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini memungkinkan produk tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan baku yang digunakan. Inovasi tersebut muncul dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen petani. Pada saat panen raya, harga komoditas pertanian sering kali jatuh, sementara ketika musim paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan yang lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi melalui pengolahan inovatif. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Fondasi Kewirausahaan dari Bangku Kuliah Dzikri mengakui bahwa fondasi mental kewirausahaannya terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, sistem pembelajaran di kampus tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Mahasiswa didorong untuk menciptakan produk, memasarkan hasilnya, hingga melakukan evaluasi terhadap proses bisnis yang dijalankan. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Belajar Bisnis Sejak Mahasiswa Semangat berwirausaha itu telah ia bangun sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, Dzikri memilih belajar bisnis secara langsung dengan berdagang. Ia memulai dengan menjual lumpia di kelas, lalu memperluas penjualannya hingga ke berbagai fakultas di lingkungan kampus. Pengalaman tersebut membentuk keberanian dan daya juangnya dalam dunia usaha. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi produk olahan. Kemitraan dengan Petani dan Pemberdayaan Masyarakat Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada model kemitraan langsung dengan petani desa sebagai pemasok bahan baku. Bahan baku diperoleh tanpa perantara sehingga memberikan keuntungan yang lebih adil bagi petani. Selain itu, proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis tersebut tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Tembus Pasar Ekspor Perjalanan usaha tersebut mencapai tonggak penting pada Oktober 2025 ketika Dzikri berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah mempersiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif.

Dari Jualan di Kelas hingga Ekspor, Alumni UMM Sukses Kembangkan Keripik Buah ke Pasar Global

Malangpariwara.com – Seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat membawa produk lokal menembus pasar internasional. Ia adalah Abdullah Dzikri, lulusan Agribisnis UMM tahun 2017, yang kini berhasil mengembangkan usaha keripik buah dan sayur. Produk olahannya yang menggunakan teknologi vacuum frying bahkan telah dipasarkan hingga Singapura. Teknologi Pengolahan yang Digunakan Usaha yang dirintis Dzikri memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Teknik ini mampu menjaga warna alami serta rasa asli bahan baku sehingga kualitas produk tetap terjaga. Inovasi tersebut muncul dari pengamatannya terhadap fluktuasi harga hasil pertanian. Saat panen melimpah harga sering turun drastis, sementara pada musim paceklik biaya produksi justru meningkat sehingga diperlukan solusi pengolahan yang memberi nilai tambah. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Terbentuknya Motivasi Berwirausaha Dzikri mengungkapkan bahwa semangat berwirausaha mulai terbentuk ketika ia menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Sistem pembelajaran yang memadukan teori dan praktik mendorong mahasiswa untuk langsung mencoba memproduksi serta memasarkan produk. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat berbisnis itu telah ia latih sejak masih menjadi mahasiswa. Ia memulai dengan berjualan lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke berbagai fakultas. Pengalaman tersebut membentuk keberanian dan ketekunan dalam menjalankan usaha. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil meraih penghargaan pada kategori inovasi produk olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari dunia usaha. Mahasiswa didorong melakukan kunjungan lapangan ke petani, UMKM, hingga perusahaan besar guna memahami dinamika bisnis secara nyata. Ia bahkan pernah mengikuti kunjungan industri ke perusahaan nasional seperti Indomie. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai pengelolaan bisnis dari skala kecil hingga industri besar. Keunggulan Produk Usaha Dzikri Keunggulan usaha yang dijalankannya juga terletak pada pola kemitraan dengan petani desa. Bahan baku diperoleh secara langsung tanpa perantara, sementara proses produksi turut melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial bagi masyarakat. Kehadiran usaha ini turut membuka peluang kerja serta meningkatkan nilai jual hasil pertanian lokal. Pada Oktober 2025, Dzikri berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 kemasan keripik ke Singapura. Saat ini ia tengah mempersiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Menurutnya, kemampuan membaca data dan memahami kebutuhan pasar menjadi kunci penting untuk bersaing di tingkat global. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak masa perkuliahan di UMM. Kisah Dzikri menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga melahirkan wirausaha yang inovatif. Kampus ini mendorong mahasiswa menjadi pencipta lapangan kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Djoko W)

Kampus Tak Bisa Berdampak Tanpa Media, UMM dan Insan Pers Perkuat Silaturahmi, Tradisi Kolaborasi Lebih dari 25 Tahun

POJOKSATU.id – Hubungan panjang antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan insan pers kembali terjalin hangat melalui kegiatan buka puasa bersama yang digelar di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi antara pimpinan universitas, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain mempererat hubungan, forum tersebut juga menjadi ruang refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung akrab sekaligus penuh diskusi tentang perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media yang telah terjalin selama puluhan tahun. Tradisi yang Terjaga Lebih dari 25 Tahun Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Menurutnya, tradisi tersebut telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang. Dalam setiap etape perjalanan itu selalu lahir hal-hal baru yang memperkaya hubungan antara kampus dan media. Ini menunjukkan bahwa UMM berkembang bersama insan pers,” ujarnya. Perubahan Lanskap Media Nazaruddin menjelaskan bahwa perjalanan media di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar dari waktu ke waktu. Pada masa lalu, media cetak menjadi sumber utama informasi bagi masyarakat. Wartawan memiliki posisi penting dalam menyampaikan berita dan sering kali memiliki akses luas di berbagai ruang publik. Namun perkembangan teknologi kemudian mengubah lanskap media secara drastis. “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan kalau ke mana-mana membawa kartu pers itu sering kali bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi. Pola reproduksi informasi juga menjadi semakin beragam,” jelasnya. Kampus dan Media sebagai Mitra Strategis Meski dunia media terus berubah, Nazaruddin menilai peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik. Dalam berbagai momentum sejarah bangsa, perkembangan gagasan masyarakat juga banyak dipengaruhi oleh media. Karena itu, hubungan antara kampus dan media dinilai sangat strategis. Universitas memiliki tanggung jawab untuk peka terhadap kebutuhan masyarakat serta mampu menyerap aspirasi sosial. Dari proses tersebut lahir berbagai gagasan dan solusi yang dapat mendorong perubahan sosial sekaligus merawat cita-cita bangsa menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Menurut Nazaruddin, hubungan antara UMM dan media dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan. “UMM sekarang tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Pola reproduksi informasi kini sangat beragam. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. anya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga manfaat nyata bagi masyarakat luas. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak. Nilai kerja keras ini yang sering kali diabaikan,” pungkasnya. ***

Akademisi UMM Soroti Kasus Makanan Tak Layak dalam Program MBG

timesjatim, MALANG – Munculnya sejumlah temuan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak layak atau tidak memenuhi standar gizi memicu sorotan publik. Program nasional yang baru pertama kali dilaksanakan ini dianggap masih menghadapi kendala kesiapan sistem, terutama dalam hal pengawasan kualitas. Dokter sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM., menyatakan bahwa meskipun program ini memiliki tujuan mulia, aspek monitoring dan evaluasi (monev) masih sangat lemah. Ia menilai kontrol Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) terhadap menu yang disajikan masih minim. “Menurut saya, penyebab ditemukannya banyak kasus makanan basi atau tidak layak adalah kurangnya monitoring dan evaluasi,” ujar dr. Febri saat diwawancarai, Sabtu (7/3/2026).  Dokter sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. dr. Febri Endra Budi S., M. Kes., FISPH., FISCM. (FOTO: Dok. dr. Febri Endra) Ia menceritakan pengalamannya menemukan kasus serupa di sebuah SMA, di mana menu MBG berupa nasi goreng yang dibagikan sudah dalam kondisi basi. Saat itu, ia langsung meminta kepala sekolah untuk memantau dan mengecek fisik makanan secara langsung sebelum didistribusikan kepada siswa. “Saya berpesan, begitu makanan keluar dari mobil distribusi, segera dicek. Lakukan sampling pada bagian depan, tengah, dan belakang kiriman,” imbuhnya. Risiko Kontaminasi dan Proses Distribusi dr. Febri menyarankan pihak sekolah untuk tegas mengembalikan makanan jika terdeteksi bau tidak sedap atau perubahan kualitas fisik. Selain kualitas bahan, ia juga menyoroti kebersihan wadah makan (ompreng) yang digunakan. Berdasarkan pengamatannya, proses pencucian wadah yang tidak standar berisiko memicu kontaminasi bakteri atau virus. Faktor teknis saat pengemasan juga menjadi penyebab makanan cepat basi. Menurutnya, uap panas dari makanan yang langsung ditutup rapat dan dikirim menjadi pemicu utama. “Kemungkinan besar kasus nasi goreng basi yang saya temui polanya seperti itu; makanan masih panas langsung ditutup dan dikirim,” jelasnya. Akurasi Gizi dan Aspek Kehalalan Dari sisi medis, dr. Febri mengingatkan bahwa perhitungan kalori harus akurat. Ahli gizi yang terlibat wajib mengevaluasi setiap menu harian guna memastikan MBG tidak justru menjadi sumber penyakit bagi siswa. Kasus keracunan makanan yang sempat terjadi harus menjadi pelajaran serius bagi SPPG untuk meninjau ulang kualitas bahan baku. “Keamanan pangan harus diperhatikan menyeluruh; mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan di suhu yang tepat, penggunaan alat pengolahan yang bersih, hingga memastikan makanan matang sempurna,” tegasnya. Aspek religi dan preferensi diet juga menjadi catatan penting. Ia menekankan bahwa makanan yang disajikan harus memenuhi kriteria halalan thayyiban bagi siswa Muslim, sekaligus menghormati siswa beragama lain, seperti siswa Hindu yang tidak mengonsumsi daging sapi. “Dari proses memilih bahan baku hingga sampai di tangan siswa, itu harus menjadi satu rangkaian kehalalan dan kepantasan,” pungkasnya. Sebagai penutup, dr. Febri menekankan bahwa keberhasilan program MBG sangat bergantung pada ketatnya pengawasan di setiap lini, mulai dari produksi hingga distribusi, guna memastikan peningkatan status gizi siswa tercapai secara efektif. (*)

Dokter UMM Soroti Menu Program MBG yang Dinilai Belum Seimbang

timesindonesia, MALANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah terus mendapat sorotan dari kalangan tenaga kesehatan. Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan menu yang disajikan dinilai belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang. Dokter sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM, menyampaikan bahwa makanan bergizi seimbang harus mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang cukup. “Kalau dulu kita mengenal istilah 4 sehat 5 sempurna, yakni terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur mayur, buah, dan susu,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (7/3/2026). Ia menjelaskan, kebutuhan gizi dasar idealnya terdiri dari sekitar 40 persen karbohidrat, 40 persen protein, dan sisanya lemak. Dalam konteks program MBG, menurutnya, yang perlu diperhatikan secara serius adalah jumlah kalori dalam setiap menu yang disajikan kepada siswa. Dokter Febri menambahkan bahwa kebutuhan kalori harian anak rata-rata sekitar 1.500 kalori. Karena itu, perhitungan nilai kalori dalam menu MBG harus dilakukan secara tepat. Selain komposisi gizi, pemilihan bahan baku makanan juga dinilai penting. Hal ini mengingat sasaran program adalah siswa sekolah yang menjalani aktivitas belajar hingga sore hari. Pemilihan bahan pangan yang kurang tepat berpotensi menimbulkan rasa kantuk setelah makan. “Kadang anak-anak setelah makan MBG justru mengantuk. Bahan pangan yang bisa memicu rasa kantuk sebaiknya dikurangi,” imbuhnya. Ia juga menyoroti menu MBG selama Ramadan yang banyak beredar di media sosial. Sejumlah unggahan menunjukkan menu yang diterima siswa didominasi roti, abon, keripik, hingga makanan ringan. Menurutnya, hal tersebut tidak menjadi masalah selama kandungan gizi dan kalorinya dihitung secara presisi oleh pihak dapur penyedia makanan. Namun ia mengingatkan bahwa beberapa produk seperti abon kerap memiliki kandungan daging yang sangat sedikit karena lebih banyak menggunakan bahan pengisi. Dokter Febri juga mengingatkan agar penggunaan ultra processed food (UPF) atau makanan olahan berlebih tidak terlalu sering dimasukkan dalam menu MBG. “Contohnya roti, harus diperhatikan jenis pengembang yang digunakan serta tanggal kedaluwarsanya. Jangan sampai ada roti berjamur yang disuguhkan,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran ahli gizi dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, setiap menu yang akan disajikan perlu melalui proses monitoring dan evaluasi untuk memastikan keamanan pangan hingga sampai ke tangan siswa. Ia juga menyarankan pemerintah menempatkan ahli gizi di setiap satuan penyedia makanan sebagai pengawas kualitas yang independen. Monitoring dan evaluasi, kata dia, harus dilakukan secara ketat dan transparan agar tujuan meningkatkan kualitas generasi muda dapat tercapai. “Monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan secara ketat supaya anggaran yang dikeluarkan tidak sia-sia dan cita-cita mencetak generasi unggul bangsa dapat tercapai,” ucapnya. (*)

Aisyiyah Jawa Timur Gaungkan Ramadan Berkemajuan di UMM

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah kegiatan Silaturahmi Aisyiyah Jawa Timur yang mengangkat tema Ramadan Berkemajuan: Menumbuhkan Kesalehan Personal dan Integritas Berdasarkan Aqidah dan Akhlak, Rabu (4/3/2026). Agenda ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur Dra Siti Dalilah Candrawati MAg sebagai pembicara utama. Ia menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang berlandaskan nilai keagamaan sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam pemaparannya, Dalilah menjelaskan bahwa konsep Islam Berkemajuan menekankan pentingnya pemahaman agama yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tetap terbuka terhadap dinamika sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi landasan bagi umat Islam untuk membangun kehidupan yang tidak hanya religius secara personal, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. “Islam Berkemajuan menekankan bahwa pemahaman agama harus bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi tetap mampu merespons perubahan zaman. Dari situlah lahir masyarakat yang berilmu, moderat, serta memiliki integritas dalam kehidupan sosial,” ujar Dalilah dalam forum yang dihadiri ratusan peserta itu. Dia menambahkan, nilai-nilai Islam Berkemajuan juga mendorong umat untuk memadukan ajaran agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Integrasi antara nilai spiritual dan perkembangan intelektual dinilai penting agar umat mampu menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. “Nilai-nilai keislaman tidak boleh berjalan sendiri tanpa didukung kemajuan ilmu pengetahuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, umat Islam dapat membangun masyarakat yang terbuka, berintegritas, dan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” jelasnya. Lebih lanjut, mantan ketua PWA Jawa Timur itu menyebut bahwa semangat Islam Berkemajuan mengajak umat Islam untuk membangun sikap moderat serta menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan kepedulian sosial. Dalam konteks kehidupan berbangsa, sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga harmoni masyarakat sekaligus mendorong kemajuan bersama. “Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada aqidah dan akhlak, tetapi juga aktif berperan dalam menjawab persoalan-persoalan sosial. Umat didorong untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan, memperkuat integritas, dan memanfaatkan teknologi secara positif,” katanya. Dia juga menekankan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain meningkatkan kualitas ibadah personal, Ramadan juga menjadi waktu refleksi untuk memperbaiki sikap, memperkuat kepedulian sosial, serta meningkatkan integritas dalam berbagai aspek kehidupan. “Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat karakter dan tanggung jawab sosial. Dari situ kita belajar bagaimana nilai-nilai agama dapat diwujudkan dalam tindakan nyata,” ungkapnya. Sementara itu, Wakil Rektor V UMM Prof Dr Tri Sulistiyaningsih MSi menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan refleksi spiritual dengan penguatan nilai-nilai intelektual di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam menghadirkan ruang dialog yang mendorong lahirnya pemikiran keislaman yang moderat dan relevan dengan perkembangan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai integritas, moralitas, dan kepedulian sosial. Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat karakter sekaligus memperluas wawasan keislaman yang berkemajuan,” ujarnya. Dia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih berintegritas dan berorientasi pada kemajuan bersama. “Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai-nilai Islam yang mampu mendorong transformasi personal sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dan bangsa,” pungkasnya. (Faqih/AS)

Pusat Studi Kebudayaan UMM Jadikan Kampung Budaya Polowijen Obyek Kajian Multidisipliner

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kebudayaan bagi kalangan akademisi. Melalui seri webinar Ramadhan 1447 H, Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Kepala PSK UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., menjelaskan bahwa Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Menurutnya, kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si., menjelaskan bahwa setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelas Frida. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.(ANS)

Dari Jualan di Kelas hingga Ekspor, Alumni UMM Sukses Kembangkan Keripik Buah ke Pasar Global

Malangpariwara.com – Seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dapat membawa produk lokal menembus pasar internasional. Ia adalah Abdullah Dzikri, lulusan Agribisnis UMM tahun 2017, yang kini berhasil mengembangkan usaha keripik buah dan sayur. Produk olahannya yang menggunakan teknologi vacuum frying bahkan telah dipasarkan hingga Singapura. Teknologi Pengolahan yang Digunakan Usaha yang dirintis Dzikri memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Teknik ini mampu menjaga warna alami serta rasa asli bahan baku sehingga kualitas produk tetap terjaga. Inovasi tersebut muncul dari pengamatannya terhadap fluktuasi harga hasil pertanian. Saat panen melimpah harga sering turun drastis, sementara pada musim paceklik biaya produksi justru meningkat sehingga diperlukan solusi pengolahan yang memberi nilai tambah. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Terbentuknya Motivasi Berwirausaha Dzikri mengungkapkan bahwa semangat berwirausaha mulai terbentuk ketika ia menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Sistem pembelajaran yang memadukan teori dan praktik mendorong mahasiswa untuk langsung mencoba memproduksi serta memasarkan produk. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat berbisnis itu telah ia latih sejak masih menjadi mahasiswa. Ia memulai dengan berjualan lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke berbagai fakultas. Pengalaman tersebut membentuk keberanian dan ketekunan dalam menjalankan usaha. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil meraih penghargaan pada kategori inovasi produk olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih memberi ruang luas bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari dunia usaha. Mahasiswa didorong melakukan kunjungan lapangan ke petani, UMKM, hingga perusahaan besar guna memahami dinamika bisnis secara nyata. Ia bahkan pernah mengikuti kunjungan industri ke perusahaan nasional seperti Indomie. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai pengelolaan bisnis dari skala kecil hingga industri besar. Keunggulan Produk Usaha Dzikri Keunggulan usaha yang dijalankannya juga terletak pada pola kemitraan dengan petani desa. Bahan baku diperoleh secara langsung tanpa perantara, sementara proses produksi turut melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial bagi masyarakat. Kehadiran usaha ini turut membuka peluang kerja serta meningkatkan nilai jual hasil pertanian lokal. Pada Oktober 2025, Dzikri berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 kemasan keripik ke Singapura. Saat ini ia tengah mempersiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Menurutnya, kemampuan membaca data dan memahami kebutuhan pasar menjadi kunci penting untuk bersaing di tingkat global. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak masa perkuliahan di UMM. Kisah Dzikri menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga melahirkan wirausaha yang inovatif. Kampus ini mendorong mahasiswa menjadi pencipta lapangan kerja yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Djoko W)