Kisah Zair, Mahasiswa UMM Jalani Ramadan di Negeri Minoritas Muslim

Menjalani ibadah puasa Ramadhan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitasnya selama menjalankan ibadah puasa di Portugal. Zair sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 yang saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadhan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadhan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadhan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya 8 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Meski begitu, ia mengaku tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadhan di perantauan. Terlebih, tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam. Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi mereka. Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadhan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalankan. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Ia bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengatakan bahwa restoran kesukaannya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya belajar. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadhan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani.(rik/faq)   Penulis: Roudhodul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Pusat Studi Kebudayaan UMM Bedah Kampung Budaya Polowijen Lewat Kajian Multidisipliner

Pentas tari toping di Kampung Budaya Polowijen. Istimewa Tugusatu.com, MALANG—Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Kepala PSK UMM, Daroe Iswatiningsih, menjelaskan selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan,  Frida Kusumastuti, menjelaskan setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelasnya. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.

Bakti Sosial Ramadan UMM di Gondanglegi, Ratusan Paket Sembako dan Layanan Kesehatan Dibagikan

Semangat menebar kebaikan di bulan Ramadan kembali diwujudkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kegiatan bakti sosial yang digelar di Masjid Al-Khairat Sepanjang pada 9 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga Dusun Krajan, Desa Sepanjang, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, yang antusias mengikuti berbagai rangkaian program sosial. Kegiatan bakti sosial ini juga diisi dengan berbagai program pelayanan masyarakat, seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan pembagian obat dari RSU UMM, permainan edukatif (fun game) untuk anak-anak, serta sosialisasi parenting bagi para orang tua. Selain itu, tim UMM juga membagikan sekitar 300 paket sembako kepada warga yang membutuhkan. Program ini menjadi bentuk kepedulian kampus terhadap masyarakat, khususnya di bulan Ramadan yang identik dengan semangat berbagi. Kegiatan ini juga menghadirkan mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) yang merupakan perpustakaan keliling UMM. Kehadiran kedua mobil tersebut disambut antusias oleh anak-anak yang tampak senang memilih dan membaca berbagai buku yang tersedia. Aktivitas ini sekaligus menjadi upaya menumbuhkan minat baca sejak dini di tengah masyarakat. Perwakilan UMM, Dr. Faridi, M.Si., dalam sambutannya membuka acara dengan salam serta ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ia menyapa warga dengan hangat, bahkan sempat mencairkan suasana dengan candaan menggunakan bahasa Madura. Meski demikian, ia mengaku bukan berasal dari Madura, melainkan dari Probolinggo. Faridi sapaan akrabnya juga menyampaikan salam dari pimpinan UMM, termasuk Rektor UMM, yang pada waktu bersamaan tengah menjalankan agenda Safari Ramadan di kampus bersama berbagai unit usaha UMM, seperti rumah sakit, hotel, hingga pom bensin. Karena itu, pimpinan universitas tidak dapat hadir langsung di lokasi kegiatan. Menurutnya, bakti sosial merupakan agenda tahunan universitas sebagai wujud komitmen UMM untuk terus hadir di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas menyelenggarakan pendidikan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial sebagaimana amanah pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. “Tugas perguruan tinggi bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Faridi juga mengingatkan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM). Ia mengutip pandangan mantan pejabat kabinet Presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang menyatakan bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, strategi Muhammadiyah sejak awal yang fokus membangun lembaga pendidikan merupakan langkah penting untuk mencetak generasi unggul. Ia juga berpesan agar umat Islam tidak hanya mendalami ilmu fikih, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berperan di tengah perkembangan zaman. Sementara itu, Pimpinan Ranting Muhammadiyah setempat, Edi Yuliant, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Masjid Al-Khairat sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. “Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada UMM. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” ujarnya. Kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga yang hadir memanfaatkan kesempatan tersebut tidak hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan sembako, tetapi juga untuk mempererat hubungan dengan civitas akademika UMM yang hadir di tengah masyarakat.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

10 Rekomendasi Kampus Islam Swasta Terbaik di Indonesia

10 Rekomendasi Kampus Islam Swasta Terbaik di Indonesia  MEDAN AKTUAL – Perguruan tinggi berbasis Islam di Indonesia semakin diminati dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pendaftar setiap tahunnya. Banyak calon mahasiswa tertarik karena kampus Islam tidak hanya menawarkan pendidikan akademik, tetapi juga pembinaan nilai-nilai keislaman. Di Indonesia, perguruan tinggi Islam terbagi menjadi dua jenis, yaitu negeri dan swasta. Untuk kampus negeri dikenal dengan PTKIN yang meliputi Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Sementara itu, perguruan tinggi Islam swasta juga memiliki kualitas pendidikan yang tidak kalah baik. READ ALSO Digital Library Kampus Terbaik di Sumatera Utara: Modern, Lengkap, dan Terakreditasi 7 Perpustakaan Digital Terbaik di Indonesia 2026: Baca Buku Gratis dan Legal! Berikut ini daftar rekomendasi kampus Islam swasta terbaik di Indonesia yang bisa menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Rekomendasi Universitas Islam Swasta Terbaik Perguruan tinggi Islam swasta di Indonesia menawarkan berbagai program studi, mulai dari ilmu agama hingga bidang sains, teknologi, kesehatan, dan sosial. Berikut beberapa kampus yang cukup dikenal dan memiliki banyak peminat. 1. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta merupakan salah satu kampus Islam swasta ternama di Indonesia. Kampus ini berada di kawasan Kasihan, Bantul, Yogyakarta. UMY menyediakan berbagai fakultas seperti Fakultas Agama Islam, Ekonomi, Hukum, Ilmu Sosial dan Politik, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Pertanian, Teknik, Pendidikan Bahasa, serta program vokasi. 2. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Malang memiliki tiga lokasi kampus di Kota Malang. Kampus ini dikenal sebagai salah satu universitas swasta besar di Indonesia. Beberapa fakultas yang tersedia di UMM antara lain Fakultas Teknik, Pertanian, Peternakan dan Perikanan, Psikologi, Kedokteran, serta Fakultas Ilmu Kesehatan yang menyediakan berbagai program studi kesehatan. 3. Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Islam Indonesia merupakan salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia yang berada di Yogyakarta. UII memiliki beberapa fakultas seperti Fakultas Ekonomi, Hukum, Ilmu Agama Islam, Kedokteran, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta Fakultas Teknologi Industri. Kampus ini juga memiliki program internasional. 4. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Universitas Muhammadiyah Surakarta berlokasi di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Kampus ini memiliki banyak pilihan fakultas, mulai dari Kedokteran, Kedokteran Gigi, Ilmu Kesehatan, Teknik, Ekonomi, Hukum, Farmasi, Psikologi, Geografi, hingga Komunikasi dan Informatika. Selain itu, UMS juga menyediakan berbagai program pascasarjana bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. 5. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Universitas Ahmad Dahlan juga merupakan perguruan tinggi di bawah organisasi Muhammadiyah yang berlokasi di Yogyakarta. Kampus ini memiliki beberapa lokasi kampus di kota tersebut. UAD menawarkan banyak fakultas seperti Psikologi, Agama Islam, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Hukum, Sastra dan Ilmu Komunikasi, Teknologi Industri, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Ekonomi, serta Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Kampus Islam Swasta Lainnya yang Layak Dipertimbangkan Selain lima kampus di atas, masih ada beberapa universitas Islam swasta lain yang juga memiliki kualitas pendidikan yang baik. 6. Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Universitas Islam Sultan Agung yang berada di Jawa Tengah menyediakan berbagai fakultas seperti Kedokteran, Teknik, Hukum, Ekonomi, Agama Islam, Teknologi Industri, Psikologi, Keperawatan, Ilmu Komunikasi, hingga Pendidikan. 7. Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) UHAMKA merupakan universitas Islam swasta yang berada di Jakarta. Kampus ini memiliki beberapa lokasi kampus di ibu kota. Fakultas yang tersedia di antaranya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ekonomi dan Bisnis, Teknik, Farmasi dan Sains, Ilmu Sosial dan Politik, Ilmu Kesehatan, Psikologi, serta Fakultas Agama Islam. 8. Universitas Muhammadiyah Purworejo Universitas Muhammadiyah Purworejo berada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kampus ini menyediakan berbagai program studi seperti Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, Manajemen, Agribisnis, Peternakan, hingga Teknik Sipil. 9. Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Universitas Islam Nusantara berlokasi di Bandung. Kampus ini menawarkan berbagai fakultas seperti Ekonomi, Hukum, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Teknik, Pertanian, Ilmu Komunikasi, serta Fakultas Agama Islam. Selain itu, UNINUS juga menyediakan program pascasarjana seperti Manajemen Pendidikan, Hukum Bisnis, dan Pendidikan Agama Islam. 10. Universitas Islam Bandung (UNISBA) Universitas Islam Bandung merupakan salah satu perguruan tinggi Islam swasta yang cukup terkenal di Jawa Barat. Kampus ini memiliki banyak fakultas seperti Ilmu Komunikasi, Kedokteran, Syariah, Dakwah, Tarbiyah, MIPA, Teknik, Hukum, Ekonomi, serta Psikologi. UNISBA juga menyediakan berbagai program magister dan program doktor, termasuk program doktor Ilmu Hukum. Kesimpulan Perguruan tinggi Islam swasta di Indonesia menawarkan banyak pilihan program studi dengan kualitas pendidikan yang baik. Selain memberikan pembelajaran akademik, kampus-kampus ini juga menanamkan nilai-nilai keislaman kepada para mahasiswanya. Bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di lingkungan kampus Islam, daftar universitas di atas bisa menjadi referensi untuk memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan minat dan rencana karier di masa depan.

Konflik AS-Israel-Iran Ancam Krisis Energi dan Pangan RI

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Berita Jejak Fakta – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi serta pangan di Indonesia. Prediksi ini disampaikan oleh pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana. Dion Maulana menilai bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia, akibat potensi penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz. Gangguan pada distribusi minyak dunia, menurutnya, akan memicu kenaikan harga BBM. Hal ini akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan berpotensi menyebabkan inflasi. “Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujar Dion di Malang, Selasa (3/3/2026). Penutupan Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia, tidak hanya akan mempengaruhi harga minyak dunia, tetapi juga berpotensi memicu perubahan kebijakan luar negeri negara-negara besar. “Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” jelasnya. Dion juga menekankan pentingnya bagi pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga energi dan pangan akibat tekanan eksternal tersebut. Source: beritasatu.com

Dari Sarangan ke Surabaya: Siapa di Balik Logo PWMU.CO?

Ridlo Setyono, kreator yang membuat logo PWMU.CO. Foto: Dok/Pri Sepekan setelah Rapat Kerja di Sarangan, gema semangat itu rupanya belum juga mereda. Ide-ide yang lahir di kaki Gunung Lawu masih terasa hangat di benak para pengurus Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK). Mereka kembali berkumpul. Kali ini bukan di hotel pegunungan, melainkan di Kantor PWM Jatim, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya. Di tempat itulah, langkah-langkah lanjutan mulai dirumuskan. Lebih konkret, lebih fokus, dan semakin mendekati wujud nyata. Berikut lanjutan kisah lahirnya portal berkemajuan PWMU.CO. Siang itu Surabaya sedang terik-teriknya. Matahari seolah tepat bertengger di atas ubun-ubun, memantulkan panas yang menyengat dari halaman kantor. Aktivitas di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim tetap berjalan seperti biasa. Beberapa pegawai lalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara suara percakapan dari ruang-ruang rapat terdengar samar. Di salah satu ruangan, Nadjib Hamid, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, tampak berada di tempatnya. Dia sedang menjalani rutinitas siang di kantor—menerima tamu, berdiskusi, dan menuntaskan sejumlah urusan organisasi. Ustaz Nadjib juga menunggu para pengurus LIK yang dijadwalkan menggelar rapat siang itu. Seperti kebiasaannya setiap kali ada pertemuan di kantor PWM, sebelumnya ia telah meminta staf untuk menyiapkan makan siang lengkap dengan aneka camilan sebagai pendamping rapat. Suasana pertemuan pun diharapkan tetap berlangsung hangat. Diskusi berjalan serius, tetapi tetap terasa akrab. Rapat tidak lagi berkutat pada konsep besar seperti visi atau misi. Semua sudah disepakati di Sarangan. Kini pembicaraan bergerak lebih praktis. Bahkan bisa dibilang lebih “membumi”. Fokusnya satu: bagaimana membuat PWMU.CO tampil lebih meyakinkan di ruang digital. Diskusi mengalir cepat. Ada yang mengusulkan tampilan halaman depan dibuat lebih bersih agar mudah dibaca. Ada pula yang menyoroti pentingnya rubrikasi yang jelas supaya pembaca tidak kebingungan mencari berita. Beberapa yang lain bicara tentang gaya penulisan, ritme pemberitaan, hingga bagaimana menjaga agar konten tetap segar setiap hari. Suasana rapat terasa hidup. Kadang serius, kadang diselingi canda ringan. Tapi satu hal yang sama: semua orang ingin portal yang baru lahir itu benar-benar tampil sebagai media dakwah digital Muhammadiyah Jawa Timur. *** Di antara berbagai pembahasan teknis yang mengisi rapat siang itu, ada satu hal yang paling ditunggu: logo PWMU.CO. Permintaannya jelas. Logo PWMU.CO harus benar-benar mewakili identitas Muhammadiyah. Sekali orang melihatnya, mereka langsung paham sedang berhadapan dengan apa. Karena itu, desainnya dituntut kuat, sederhana, sekaligus mudah diingat. Para pengurus LIK usaia rapat di Kantor PWM Jatim. Foto: Dok/ Rully Anwar Bukan sekadar untuk mempercantik tampilan website. Logo ini nantinya juga akan dipakai untuk berbagai kebutuhan administratif: mulai dari kop surat, banner kegiatan, hingga rencana mencetak kaus bagi tim redaksi dan para relawan yang ikut menghidupkan portal ini. Tak heran, ketika pembahasan mulai mengerucut pada desain logo, perhatian peserta rapat langsung tertuju ke satu titik. Beberapa sketsa mulai dibicarakan. Ada yang memberi masukan soal warna, ada yang mengomentari bentuk huruf, ada pula yang menimbang apakah simbolnya cukup merepresentasikan semangat Muhammadiyah Jawa Timur. Diskusi kecil itu tampak sederhana. Namun di baliknya tersimpan kesadaran besar: sebuah media yang ingin tumbuh besar harus dimulai dari identitas yang kuat. Dan di ruang rapat sederhana di Kertomenanggal itulah, perlahan-lahan wajah PWMU.CO mulai dibentuk. Tak lama kemudian, Nasrullah yang datang bersama Jamroji membawa kabar yang ditunggu-tunggu. “Logonya sudah jadi. Ini yang buat Mas Ridlo,” katanya. Nama yang disebut Nasrullah adalah Ridlo Setyono, S.Pd, staf akademik di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nasrullah kemudian bercerita bagaimana proses logo itu lahir. Awalnya, beberapa hari seulang dari Magetan, dia mencoba membuat sketsa sendiri untuk logo PWMU.CO. Saat mengutak-atik desain, ia menemukan bentuk huruf yang terasa unik. “Awalnya mau dibuat wordmark, mirip logo Tempo. Tapi setelah dicoba, kok terasa kaku,” aku dosen UMM itu. Malam itu rupanya cukup panjang. Nasrullah berkali-kali mencoba berbagai kemungkinan desain, tetapi belum juga menemukan bentuk yang terasa pas. Hingga akhirnya, menjelang larut malam, ia menemukan satu bentuk yang berbeda. “Yang terakhir itu menemukan logo seperti yang sekarang. Logo yang bisa dibaca bolak-balik,” ujarnya. Nasrullah kemudian meminta Ridlo Setyono untuk mengeksekusi sketsa logo yang sudah ia temukan itu. Gayung pun bersambut. Ridlo lantas menyempurnakan garis-garisnya, menata komposisinya, hingga akhirnya lahirlah logo PWMU.CO seperti yang dikenal sekarang. Ketika logo itu ditunjukkan di ruang rapat, suasana sejenak menjadi hening. Beberapa orang mendekat, memperhatikan dengan saksama. Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang tersenyum. Ridlo lalu menjelaskan filosofi di balik desain yang ia buat. Menurutnya, gambar matahari berbintang dalam logo itu bukan sekadar ornamen. Ia menggambarkan beragam ide, gagasan, dan pemikiran warga persyarikatan. Nasrullah, Rohman Budijanto, Imam Prihadiyoko, dan Rully Anwar. Foto: Dok/LIK Semua itu kelak bisa dituangkan dalam media PWMU.CO, menjadi cahaya yang menerangi dakwah organisasi yang berkemajuan. “Harapannya sederhana,” ujar Ridlo pelan. “Media ini bisa menjadi tempat bertemunya banyak pikiran baik. Dari situlah dakwah Muhammadiyah bisa terus bersinar dan memberi manfaat bagi siapa saja.” Sementara itu, huruf PWMU dirancang dengan lekuk yang seimbang—elastis dan fleksibel. Bagi Ridlo, bentuk ini melambangkan ruang media yang terbuka, tempat berbagai ide bisa hadir secara terukur dan bermakna. Tulisan-tulisannya diharapkan tetap ringan, menyentuh, menggembirakan, sekaligus mengasyikkan untuk dibaca. “Media itu tidak harus selalu berat. Yang penting pesannya sampai, menyentuh hati, dan membuat orang senang membaca,” jelasnya. Keunikan lain dari huruf PWMU adalah bentuknya yang tetap terbaca meski dibolak-balik. Ridlo menyebutnya sebagai simbol keseimbangan. “Artinya media ini harus nyaman untuk semua. Berimbang, tidak berat sebelah, dan bisa diterima oleh berbagai kalangan,” tambahnya. Pilihan warna pun tidak dibuat sembarangan. PW diberi warna biru sebagai simbol persyarikatan Muhammadiyah—tenang, kokoh, dan terpercaya. Sedangkan MU berwarna oranye, melambangkan ghirah atau semangat yang menyala-nyala. “Oranye itu warna energi. Semangat untuk menulis, berbagi cerita, dan terus menghidupkan dakwah lewat kata-kata,” ujar Ridlo. Di bagian bawah logo itu kemudian ditambahkan sebuah kalimat pendek yang sarat makna: “Dakwah Berkemajuan.” Slogan itu bukan sekadar pelengkap visual. Ia menjadi arah sekaligus janji. Bahwa PWMU.CO akan hadir sebagai ruang dakwah yang dinamis, realistis, logis, dan cerdas—ciri khas warga Muhammadiyah yang berkemajuan. (bersambung) *) Penulis : Agus Wahyudi | Editor : muhkholidas

Kolaborasi UMM dan Warga Kebalen Hidupkan Tradisi Patrol Sahur

Kolaborasi UMM dan Warga Kebalen Hidupkan Tradisi Patrol Sahur, Foto: Istimewa/PWMU.CO pwmu.co –Tradisi patrol sahur untuk membangunkan warga saat bulan Ramadan selalu memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Semangat tradisi itu pula yang dihidupkan kembali oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kolaborasi bersama Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) dengan menggelar kegiatan patrol sahur di kawasan Kebalen Wetan Gang 8, pada 8 Maret 2026. Kegiatan tersebut berlangsung meriah dan berhasil menyedot perhatian lebih dari 300 warga yang turut berkeliling kampung. Kehadiran ratusan warga membuat suasana dini hari di kawasan tersebut terasa semarak, terlebih masyarakat setempat memiliki lagu patrol khas yang hampir dihafal oleh seluruh lapisan warga. Patrol Sahur Meriah dengan Lagu Tradisional Dalam kegiatan tersebut, warga bersama panitia berjalan mengelilingi kampung sambil memainkan alat musik sederhana dan menyanyikan lagu patrol yang menjadi identitas masyarakat setempat. Kekompakan warga yang menyanyikan lagu patrol secara bersama-sama membuat suasana sahur terasa hangat dan penuh kebersamaan. Tradisi ini sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga di lingkungan kampung. UMM Hadirkan Sahur Premium untuk Warga Tak hanya menghidupkan tradisi patrol sahur, UMM juga menghadirkan pengalaman sahur yang berbeda bagi warga dengan menggelar pertunjukan live cooking di tengah permukiman masyarakat. Hidangan yang disajikan bahkan menggunakan standar masakan hotel bintang empat yang berasal dari Rayz Hotel UMM, sehingga memberikan pengalaman sahur yang unik bagi warga setempat. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi kampus dalam meramaikan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” ujar Maharina. Tercatat lebih dari 300 porsi hidangan sahur dibagikan kepada warga yang mengikuti kegiatan tersebut. Mobil Perpustakaan Keliling Hadirkan Hiburan Edukatif Sambil menunggu waktu imsak, warga juga mendapatkan hiburan edukatif melalui kehadiran perpustakaan keliling Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, menjelaskan bahwa kendaraan tersebut membawa ratusan buku bacaan yang dapat dinikmati oleh anak-anak selama kegiatan berlangsung. Selain membaca buku, para ibu yang hadir juga diajak mengikuti berbagai permainan interaktif yang disiapkan panitia dengan hadiah menarik berupa doorprize. “Sebelumnya Mobil KaCa ini juga aktif berkeliling menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor,” jelas Wildan. Warga Sambut Positif Kolaborasi dengan UMM Kegiatan sahur bersama yang menghadirkan berbagai inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat setempat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol sahur, mengaku senang dengan kehadiran UMM yang membawa banyak fasilitas menarik bagi warga. Ia berharap kolaborasi antara kampus dan masyarakat seperti ini dapat terus dikembangkan dengan berbagai agenda kreatif lainnya, tidak hanya pada momen Ramadan. *) Penulis : Humas UMM *) Editor : Satria

Food Waste Program Makan Bergizi Gratis Disorot, Akademisi Nilai Penyaluran Perlu Lebih Tepat Sasaran

Food Waste Program Makan Bergizi Gratis Disorot, Akademisi Nilai Penyaluran Perlu Lebih Tepat Sasaran Tingginya limbah makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis menjadi sorotan. Akademisi menilai program tersebut perlu lebih tepat sasaran dan disertai edukasi agar makanan tidak terbuang sia-sia. MALANG – Salah satu persoalan yang mulai mendapat sorotan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah tingginya sisa makanan atau food waste. Ironisnya, sebagian besar limbah tersebut merupakan edible food, yakni makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan sekitar 1,1 hingga 1,4 juta ton limbah makanan dari program MBG terbuang. Dari jumlah tersebut, sekitar 451 ribu hingga 603 ribu ton di antaranya merupakan makanan yang masih bisa dimakan. Melansir dari The Conversation berdasarkan penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), terdapat beberapa faktor yang menyebabkan makanan dari program MBG banyak terbuang. Pertama adalah preferensi makanan, di mana sebagian siswa kurang menyukai menu tertentu seperti sayur, telur rebus, atau buah dengan tekstur tertentu. Faktor kedua berkaitan dengan kesegaran bahan makanan. Dalam sejumlah temuan, sayur dan buah yang disajikan terkadang mengalami perubahan tekstur, warna, hingga bau. Sementara faktor ketiga adalah sistem pengelolaan sampah yang dinilai belum optimal. Menanggapi fenomena tersebut, akademisi sekaligus dokter Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. Febri Endra Budi S., M.Kes., FISPH., FISCM, menilai salah satu penyebab lainnya adalah penerima program yang belum sepenuhnya tepat sasaran. “MBG seharusnya difokuskan pada sekolah yang memang siswanya diketahui kurang gizi atau yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya. Baca juga Legenda Ken Dedes dan Joko Lulo, Mitos Pernikahan Polowijen–Dinoyo di Kota Malang Menurut dr. Febri, pemerintah perlu melakukan analisis lebih mendalam terhadap sekolah penerima program MBG, karena tidak semua sekolah memiliki kebutuhan yang sama. Bahkan, beberapa sekolah dari kalangan ekonomi menengah ke atas diketahui menolak program tersebut karena merasa mampu memenuhi kebutuhan makan siswanya secara mandiri. Hal ini juga sejalan dengan penelitian dari CELIOS yang menyebutkan bahwa distribusi program MBG secara merata dinilai kurang efisien dibandingkan program bantuan sosial lainnya seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), atau Program Indonesia Pintar (PIP). Penelitian tersebut merekomendasikan agar program MBG dijalankan secara lebih selektif dengan memprioritaskan anak-anak yang paling membutuhkan, seperti mereka yang mengalami malnutrisi atau stunting, hidup dalam kemiskinan ekstrem, serta tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dr. Febri menambahkan bahwa jika program MBG benar-benar diberikan kepada kelompok yang membutuhkan, potensi makanan terbuang dapat ditekan. “Jika diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, terutama yang bahkan kesulitan untuk makan sehari-hari, kemungkinan besar makanan tidak akan terbuang,” jelasnya. Harga Minyak Dunia Tembus US$113 per Barel, Ekonom UB Ingatkan Dampak Serius bagi Ekonomi Indonesia Ia juga menyarankan agar pengelolaan program MBG dapat melibatkan kantin sekolah. Menurutnya, pengelola kantin biasanya memiliki kedekatan dengan siswa sehingga lebih memahami selera dan kebutuhan mereka. Selain itu, sekolah juga dapat memberikan edukasi kepada siswa terkait manfaat menu makanan yang disajikan dalam program MBG. “Guru bisa menjelaskan, misalnya hari ini menunya ikan, ikan memiliki manfaat untuk membantu perkembangan otak,” pungkasnya. (*)

Patrol Sahur Kebalen Malang Semarak, UMM Sajikan Sahur Hotel Bintang Empat untuk Warga

  Malang (beritajatim.com) – Suasana dini hari di kawasan Kebalen Wetan Gang 8, Kota Malang, mendadak riuh dan semarak pada Minggu (8/3/2026). Ratusan warga mengikuti tradisi patrol sahur yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk). Kegiatan bertajuk Sahur Bareng Gerpakkk ini tidak hanya sekadar membangunkan warga untuk makan sahur, tetapi juga menghadirkan pengalaman sahur istimewa dengan menu standar hotel bintang empat. Selain itu, warga juga mendapat fasilitas edukasi literasi di tengah pemukiman padat penduduk. Lebih dari 300 warga dari berbagai usia antusias berkeliling kampung menyuarakan musik patrol. Warga Kebalen memiliki lagu patrol khusus yang menjadi identitas lokal dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga menciptakan harmoni yang kompak saat mengiringi langkah para peserta. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya kampus untuk lebih dekat dengan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal selama Ramadan. “Kami ingin meramaikan budaya lokal. Selain ikut patrol, kami menghadirkan live cooking dengan menu dari hotel milik UMM, yaitu Rayz UMM Hotel. Semoga ini menjadi penyemangat warga untuk menjaga ibadah puasa,” ujarnya. Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah penyajian lebih dari 300 porsi hidangan sahur premium. Warga berkesempatan mencicipi masakan standar hotel bintang empat yang dimasak langsung di lokasi melalui konsep live cooking. Sembari menunggu waktu imsak, warga juga disuguhi aktivitas literasi melalui kehadiran Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Perpustakaan keliling tersebut menyediakan ratusan koleksi buku bacaan yang dapat dinikmati anak-anak di lokasi kegiatan. Koordinator Mobil KaCa, Hassanalwildan, menjelaskan bahwa armada literasi tersebut aktif berkeliling di berbagai daerah sebagai bagian dari rangkaian program Ramadan. “Mobil KaCa aktif bergerak di berbagai titik, mulai dari agenda Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor,” paparnya. Kemeriahan acara juga dirasakan para ibu di kawasan Kebalen yang diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan hadiah menarik berupa doorprize. Salah satu pemuda setempat, Naufal Adnan, mengaku senang dengan kolaborasi antara kampus dan masyarakat tersebut. Menurutnya, kehadiran fasilitas kampus di tengah lingkungan perkampungan memberikan warna baru bagi tradisi Ramadan di wilayah tersebut. “Sangat senang ada fasilitas lengkap seperti ini. Harapannya, UMM bisa terus berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lain untuk membuat agenda unik, tidak hanya saat Ramadan saja,” pungkasnya. [dan/beq]

Dari Patrol ke Live Cooking: Inovasi Sahur UMM & Gerpakkk Hidupkan Budaya Lokal Malang Raya

MALANG POST – Tradisi patrol sahur yang melekat di hati masyarakat Indonesia kembali hidup malam itu. Di Kebalen Wetan Gang 8, wilayah Kebalen Wetan, 8 Maret 2026. Suasana sahur di bulan Ramadan terasa lebih bersahabat berkat inisiatif gabungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk). Mereka menampilkan sebuah patrol sahur yang unik. Tidak sekadar keliling kampung. Melainkan juga menghadirkan pengalaman kuliner dan edukasi yang menyemai nilai kebersamaan. Lebih dari sekadar ritual dini hari, kegiatan ini menarik perhatian lebih dari 300 warga yang ikut serta berkeliling kampung dengan irama lagu patrol khas setempat. Uniknya, lagu patrol tersebut telah dihafal hingga ke berbagai lapisan masyarakat, membuat suasana dini hari itu terasa semakin semarak dan kompak. Ritme kebersamaan melengkapi kesan hangat yang tumbuh sejak langkah pertama patrol. Aktivitas tidak berhenti pada keliling kampung. UMM menghadirkan pengalaman sahur premium di tengah permukiman warga melalui pertunjukan live cooking masakan kelas hotel bintang empat. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud kontribusi kampus dalam meramaikan budaya lokal di bulan suci. “Selain ikut patrol, kami juga menyediakan live cooking dan makanan dari Rayz Hotel UMM, hotel kebanggaan kampus putih. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” ujarnya dengan penuh harap. Tak kurang dari 300 porsi hidangan disajikan dan dinikmati warga pada pagi hari itu. Sembari menunggu waktu imsak, warga mendapat fasilitas tambahan berupa perpustakaan keliling, Mobil Kamis Membaca (KaCa) milik UMM. Koordinator KaCa, Hassanalwildan, menyampaikan bahwa Mobil KaCa membawa ratusan buku bacaan yang menjadi hiburan edukatif bagi anak-anak. Tak ketinggalan, para ibu diajak ikut berpartisipasi dalam beragam games interaktif yang menyuguhkan doorprize menarik. “Sebelumnya, Mobil KaCa juga telah aktif keliling, menyediakan bacaan di berbagai kegiatan seperti Ngabuburead di Gresik dan Merjosari, hingga Sahur on The Road bersama komunitas motor beberapa waktu lalu,” tambah wildan, sapaan akrabnya. Inovasi sahur bersama ini menuai respons positif dari warga setempat. Naufal Adnan, salah satu peserta patrol, mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran UMM yang membawa fasilitas menarik. Ia berharap kolaborasi semacam ini bisa terus diperluas dengan berbagai komunitas lain, sehingga agenda yang lebih unik bisa diselenggarakan tidak hanya pada momen Ramadan, tetapi juga di kala-kala istimewa lainnya. Transformasi sederhana dari tradisi patrol sahur menjadi sebuah peristiwa komunitas yang merangkum hiburan, edukasi, dan kehangatan sosial telah memberikan contoh nyata bagaimana kampus bisa berperan sebagai penggerak budaya lokal. Di tengah-tengah kebersamaan, warga Kebalen Wetan pun merasakan pesan Ramadan yang penuh makna: berbagi, menjaga solidaritas, dan merajut keterhubungan melalui sederet pengalaman yang tak terlupakan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)