RS UMM Beri Edukasi Olahraga Aman Saat Puasa di PDA Kota Batu

Penyuluhan Kesehatan Ramadan Digelar di PDA Kota Batu (Anna Astuti/PWMU.CO) pwmu.co – Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) bekerja sama dengan Lazismu dan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Batu menyelenggarakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “Tetap Aktif dan Bugar Selama Puasa Ramadan: Tips dan Trik Latihan yang Aman”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan PDA Kota Batu pada Jumat (7/3/2026). Penyuluhan kesehatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang terdiri atas guru Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) serta para ustaz dan ustazah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Aisyiyah. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi mengenai cara menjaga kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Perwakilan Lazismu, Rama, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara berbagai pihak dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. “Membahagiakan bisa bersinergi dengan UMM dan PDA dalam memfasilitasi penyuluhan kesehatan dari RS UMM. Ini adalah wujud nyata kepedulian kita bersama untuk menjaga kesehatan umat,” ujarnya. Ketua PDA Kota Batu, Nurul Wahidah Himarawati, juga menyampaikan terima kasih kepada Lazismu dan RS UMM atas terselenggaranya kegiatan penyuluhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh para guru IGABA dan pengajar TPQ Aisyiyah yang berperan dalam kegiatan pendidikan keagamaan di masyarakat. “Kami mengundang para guru IGABA dan TPQ Aisyiyah karena mereka adalah garda terdepan dalam mendidik generasi penerus. Materi penyuluhan ini sangat penting dalam rangka ‘menjaga hidup umat dan masyarakat’, agar kita semua bisa beribadah dengan sehat. Semoga ke depan sayap dakwah kita bisa lebih luas lagi,” tutur Nurul Wahidah Himarawati. Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan tausiyah oleh Nur Hanafiyah yang mengaitkan pentingnya menjaga kesehatan dengan semangat menjalankan ibadah selama bulan Ramadan. RS UMM Sampaikan Tips Menjaga Kebugaran Selama Puasa (Anna Astuti/PWMU.CO) “Ibu-ibu sekalian, kita adalah para pejuang jihad. RS UMM, IGABA, dan seluruh undangan yang hadir hari ini adalah bagian dari jihad. Sesuai dengan QS At Taubah ayat 20, orang-orang yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya adalah mereka yang derajatnya lebih tinggi. Menjaga kesehatan agar bisa beribadah dengan optimal juga termasuk bagian dari jihad di jalan Allah,” pesannya. Materi utama dalam kegiatan penyuluhan disampaikan oleh dr. Aulia Syavitri Dhamayanti, Sp.K.F.R., dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari RS UMM. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa olahraga tetap dapat dilakukan selama menjalankan ibadah puasa dengan memperhatikan waktu, intensitas, serta durasi latihan. “Apakah boleh olahraga selama bulan puasa? Jawabannya: BOLEH, bahkan dianjurkan! Tujuan puasa salah satunya adalah detoksifikasi dan penyegaran tubuh. Dengan olahraga yang tepat, detoksifikasi akan berjalan lebih optimal,” jelas dr. Aulia. Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa waktu yang dapat dipilih untuk berolahraga selama bulan Ramadan, antara lain sebelum berbuka puasa, setelah salat Tarawih, serta setelah sahur. Pada waktu-waktu tersebut, olahraga ringan seperti berjalan santai, peregangan, atau latihan ringan lainnya dapat dilakukan dengan durasi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh. Selain itu, ia juga menjelaskan beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan selama bulan puasa, seperti latihan aerobik dengan intensitas sedang, latihan peregangan, serta latihan penguatan otot dengan frekuensi yang terbatas. Dalam penyampaiannya, dr. Aulia juga mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan selama menjalankan ibadah puasa. Ia menyarankan agar kebutuhan cairan tubuh dipenuhi pada waktu berbuka hingga sahur. “Minum cukup saat berbuka sampai sahur. Boleh ditambah 150–300 ml air setiap 15 menit latihan, namun ini bisa berubah tergantung kondisi cuaca dan medis masing-masing,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan peserta untuk menyesuaikan aktivitas olahraga dengan kondisi tubuh serta menghindari latihan fisik yang terlalu berat selama menjalankan ibadah puasa. Kegiatan penyuluhan kesehatan tersebut diakhiri dengan penyerahan bingkisan Ramadan dari RS UMM kepada para peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. (*) *) Penulis : Anna Astuti | Editor : Tanwirul Huda

Ramadan di Portugal, Puasa Tetap Nyaman di Negeri Minoritas Muslim

Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjalani ibadah Ramadan di Kota Braga, Portugal. (Dok pribadi/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitas selama berpuasa di Portugal. Zair, sapaan akrabnya, merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022 yang saat ini mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, Kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar satu persen dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya Ahad (8/3/2026). Meski begitu, ia tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di perantauan. Tahun ini juga menjadi pengalaman pertamanya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu puasa berlangsung sekitar 12 jam. Informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa pun mudah diakses melalui Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat yang menyediakan jadwal ibadah Ramadan melalui situs resmi mereka. Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalani. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa, bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan itu juga mengaku memiliki keahlian baru sejak berpuasa di negeri orang, yakni memasak. Ia lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsinya. Bahkan, ia membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun dalam beberapa situasi, Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengaku memiliki restoran favorit, yakni restoran Turki yang tidak jauh dari kampusnya. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga memberikan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadan di luar negeri menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani. (Faqih/AS)

Komunitas Motor UMM Nikmati Sahur Bersama Tunawisma

Relawan UMM dan komunitas MURID membagikan sahur barbeque kepada tunawisma dan masyarakat di kawasan Pasar Besar Malang. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Sahur di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari (5/3/2026). Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID) alias komunitas motor. Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara civitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan Sahur On The Road untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID Zakarija Achmat SPsi MSi, yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Ia menyebutkan bahwa komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat di tengah kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat. Konsep barbeque ini sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” ujarnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. (Faqih/AS)

Marak Hoaks Seputar Vaksin, Komunikasi Pemerintah Harus Kuat

Perbesar Hoaks seputar vaksin kerap beredar di masyarakat. (AFP/Johannes Eisele) Liputan6.com, Jakarta – Maraknya hoaks seputar vaksin saat pandemi covid-19 membuat semua elemen harus mewaspadai tren serupa di masa mendatang. Pengelolaan informasi menjadi kunci untuk melawan hoaks pada masa mendatang. Hal ini disampaikan dalam disertasi karya Nasrullah yang merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam risetnya, Nasrullah meneliti model komunikasi publik pemerintah melalui media sosial atau Government Social Media (GSM) dalam meredam dampak infodemik, khususnya saat pandemi Covid-19. Ia mengidentifikasi lebih dari 8 ribu hoaks terkait vaksin yang beredar dengan pola dan sumber yang beragam. Narasi yang muncul tidak hanya berupa klaim medis palsu, tetapi juga teori konspirasi dan potongan informasi yang dipelintir sehingga tampak meyakinkan. “Hoaks vaksin diproduksi dengan berbagai pola. Ada yang memakai bahasa ilmiah semu, ada yang memanfaatkan emosi dan ketakutan publik,” ujarnya dilansir laman resmi UMM. “Selain faktor politik, rendahnya tingkat literasi informasi masyarakat menjadi tantangan utama. Kemampuan memilah dan memverifikasi informasi yang belum merata membuat publik rentan terpapar konten menyesatkan, termasuk pada berbagai isu viral terkini di ruang digital,” katanya menambahkan. Ia juga menjelaskan kesiapan komunikasi digital pemerintah harus berkelanjutan. Pasalnya, infodemik seperti saat pandemi tidak pernah benar-benar selesai namun hanya bentuknya yang berubah. “Gelombang disinformasi dapat muncul sewaktu-waktu, termasuk pada isu kebijakan baru, kesehatan, dan teknologi. Itu sebabnya kolaborasi multipihak sangat penting untuk memperkuat literasi digital publik,” ucapnya. “Keberhasilan kebijakan publik sangat ditentukan oleh kepercayaan dan pemahaman masyarakat. Tanpa komunikasi yang kuat, kebijakan terbaik pun bisa ditolak,” katanya. Sebagai rekomendasi, ia merumuskan standar mitigasi komunikasi krisis bagi pemerintah, baik secara preventif maupun reaktif. Pendekatan preventif dilakukan dengan membangun ekosistem informasi positif, sementara pendekatan reaktif dijalankan melalui respons cepat saat hoaks muncul. “Saya menyebutnya model kultivasi ekosistem positif dan strategi pemadam kebakaran (firefighter strategy). Pemerintah harus punya sistem deteksi dini dan respons cepat agar hoaks tidak terlanjur dipercaya publik,” katanya mengakhiri.

Gerpakkk, Fenomena Patroli Sahur di Malang yang Viral

Kegiatan patroli sahur di Kampung Kebalen. (Instagram/@gerpakkk) Malang, IDN Times – Setiap memasuki bulan Ramadan, para pemuda di Kebalen Wetan Gang 8, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang disibukkan dengan kegiatan membangunkan warga untuk sahur. Ratusan orang akan berkeliling kampung sambil menyanyikan lagu-lagu dangdut lawas hingga menjadi tradisi turun temurun. 1. Patroli Sahur di Kampung Kebalen ternyata sudah ada sejak 1980an Kegiatan patroli sahur di Kampung Kebalen. (Instagram/@gerpakkk) Salah seorang peserta Gerpakkk (Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama), Naufal Adnan mengatakan jika tradisi ini sebenarnya sudah ada sejak 1980an. Tapi kegiatan ini perlahan redup karena semakin sedikit yang melakukan patroli sahur. “Tapi pada tahun 2000an tradisi ini hidup kembali karena anak-anak mudanya ingin mengembalikan budaya ini. Sehingga terlahir Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama sampai saat ini,” terangnya pada Selasa (10/3/2026). Ia menjelaskan jika biasanya lebih dari 100 orang yang melakukan patroli sahur, tidak hanya warga dari Kotalama saja yang ikut, bahkan warga dari kampung-kampung lain juga ikut hadir karena kemeriahannya. Biasanya mereka melantunkan lagu-lagu dangdut lawas diiringi alat mudik seperti gitar sampai kentongan untuk memeriahkan patroli sahur. 2. Sejumlah musisi hingga influencer ikut dalam patroli sahur ini Kegiatan patroli sahur di Kampung Kebalen. (Instagram/@gerpakkk) Tidak hanya masyarakat sekitar yang ikut patroli sahur ini, nama-nama musisi seperti Denny Caknan hingga influencer King Abdi juga pernah memeriahkan kegiatan ini. Kedatangan nama-nama terkena ini membuat masyarakat semakin semangat melestarikan budaya ini. “Mungkin baru di kampung ini tradisi patrol yang ramai. Biasanya pada nalam terakhir nanti biasanya pesertanya semakin banyak, karena pasti banyak warga asli sini yang pulang kampung,” bebernya. 3. UMM juga ikut memeriahkan kegiatan patroli sahur di Kampung Kebalen Kegiatan patroli sahur di Kampung Kebalen. (Instagram/@gerpakkk) Kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Maharina Novia Zahro mengatakan jika kampusnya juga ikut memeriahkan patroli sahur ini pada Minggu (8/3/2026). Di sana mereka membuat kegiatan live cooking sehingga menyedot perhatian 300 lebih warga. Kemudian juga membagikan lebih dari 300 porsi sahur. “Kami menyediakan live cooking dan makanan dari hotel yang kampus putih miliki, yakni Rayz Hotel UMM. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim, untuk menjaga semangat berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” ujarnya. Selain itu, warga juga mendapatkan hiburan edukatif melalui kehadiran perpustakaan keliling Mobil Kamis Membaca (KaCa) untuk menunggu waktu imsak. Kendaraan tersebut membawa ratusan buku bacaan yang dapat dinikmati oleh anak-anak selama kegiatan berlangsung.

Keripik Vacuum Frying Tembus Singapura: Inovasi Alumnus Agribisnis UMM

MALANG POST – Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri sapaan akrabnya memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah.” “Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya kepada Tim Humas UMM pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui, fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix.” “Tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Jalani Ramadan di Portugal, Ini Kisah Mahasiswa UMM Muhammad Zair

Muhammad Zair Baitil Atiq di depan kampus Universitas Minho, kota Braga, Portugal (foto: Faqih/PWMU.CO) Menjalani ibadah puasa Ramadan di negeri orang tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Jauh dari keluarga, suasana yang tidak seramai di Indonesia, hingga kebiasaan baru dalam menjalani ibadah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Muhammad Zair Baitil Atiq untuk tetap produktif menjalani aktivitasnya selama menjalankan ibadah puasa di Portugal. Zair sapaan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2022. Saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus di Universitas Minho, kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana atmosfer Ramadan di negara dengan populasi muslim yang sangat kecil. Menurut Zair, Ramadan di Portugal memiliki suasana yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Jika di tanah air masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias, di Portugal ia merasakan suasana yang lebih tenang karena umat Islam hanya sekitar 1% dari total populasi. “Di Indonesia orang-orang sangat excited menyambut Ramadhan. Kalau di sini rasanya seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya. Meski begitu, ia mengaku tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di perantauan. Terlebih, tahun ini menjadi pengalaman pertama baginya menjalani bulan suci tanpa keluarga sekaligus merayakan Idulfitri di luar negeri. Dari segi durasi berpuasa, Ramadan di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan waktu berpuasa hanya sekitar 12 jam. Ia menambahkan bahwa informasi terkait waktu sahur, imsak, hingga berbuka puasa sangat mudah diakses. Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Portugal maupun komunitas muslim setempat menyediakan jadwal ibadah selama Ramadhan melalui situs resmi mereka. Menariknya, Zair bercerita pengalamannya Ramadan di Portugal juga memperlihatkan tingginya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengungkapkan bahwa teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang sedang ia jalankan. Bahkan, mereka memahami beberapa batasan yang harus ia jaga sebagai seorang muslim. “Teman-teman di kelas sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa. Bahkan mereka juga tahu saya tidak bisa makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” jelasnya. Mahasiswa asal Kalimantan ini juga mengungkapkan keahlian barunya semenjak berpuasa di negeri orang, yaitu memasak. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih sering memasak sendiri untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi nya. Ia bahkan membawa beberapa bumbu khas Indonesia dari tanah air. Namun, di beberapa situasi mendadak Zair juga berbuka puasa di restoran. Ia mengatakan bahwa restoran kesukaannya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus tempatnya belajar. Selain menyediakan menu halal seperti kebab, restoran tersebut juga menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi Zair, menjalani Ramadan di Portugal menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang menjalani program serupa untuk tetap menikmati setiap proses yang dijalani. *) Penulis : Faqih *) Editor : muhkholidas

Kisah Sukses Bisnis Alumnus UMM: Dulu Jual Lumpia di Kelas, Kini Ekspor Keripik Buah ke Mancanegara

Abdullah Dzikri menunjukkan produk keripik buah dan sayur hasil olahannya yang diproduksi dengan teknologi vacuum frying dan kini telah menembus pasar ekspor ke Singapura. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Langkah berani tak selalu dimulai dari kota besar. Di sebuah desa, seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan bahwa ilmu yang ditempa di bangku kuliah mampu menembus pasar global. Abdullah Dzikri, alumnus Agribisnis UMM tahun 2017, kini sukses mengembangkan usaha keripik buah dan sayur berbasis teknologi vacuum frying. Produk olahannya bahkan telah menembus pasar Singapura. Usaha yang dirintis Dzikri, sapaan akrabnya, memanfaatkan teknologi penggorengan kedap udara dengan suhu rendah. Metode ini mampu menjaga warna dan cita rasa asli bahan baku. Inovasi tersebut lahir dari kegelisahannya melihat fluktuasi harga hasil panen. Saat panen raya, harga hasil pertanian kerap jatuh, sementara pada masa paceklik biaya produksi justru meningkat. Ia kemudian mencari solusi agar produk pertanian memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual yang lebih tinggi. “Saya menjalankan usaha produksi keripik sayur dan buah dengan memanfaatkan teknologi vacuum frying, yaitu metode penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Melalui proses ini, produk yang dihasilkan tetap mempertahankan warna serta cita rasa asli dari bahan bakunya,” ujarnya pada 5 Maret lalu. Dzikri mengakui fondasi mental kewirausahaannya telah terbentuk sejak menempuh pendidikan di Program Studi Agribisnis UMM. Menurutnya, perkuliahan tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung. Mahasiswa didorong menciptakan produk, memasarkan, hingga mengevaluasi hasilnya. Pola pembelajaran tersebut membentuk keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak dini. “Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Kami tidak hanya mempelajari teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya secara langsung. Proses tersebut benar-benar mengajarkan kami berwirausaha dari tahap paling awal,” katanya. Semangat itu sudah ia tempa sejak masih menjadi mahasiswa. Meski tidak terlalu aktif dalam organisasi kampus, ia memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari menjual lumpia di kelas, kemudian memperluas penjualannya hingga ke fakultas lain. Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta daya juangnya dalam berbisnis. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil menjadi salah satu pemenang pada kategori inovasi olahan. Menurutnya, lingkungan akademik di Kampus Putih sangat terbuka. Mahasiswa didorong terjun langsung ke petani, UMKM, hingga industri besar untuk melakukan analisis usaha. Ia bahkan sempat mengikuti kunjungan industri ke perusahaan skala nasional seperti Indomie, yang memberinya gambaran mengenai manajemen usaha dari skala kecil hingga besar. Keunggulan lain dari usaha yang dijalankannya terletak pada kemitraan langsung dengan petani desa. Bahan baku diperoleh tanpa perantara, sementara proses produksi juga melibatkan pemberdayaan ibu-ibu di sekitar tempat usaha. Model bisnis ini tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Puncaknya, pada Oktober 2025, Dzikri melakukan ekspor perdana sebanyak 12.000 produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer. Saat ini, ia tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan untuk memperluas pasar hingga ke Australia dan kawasan Timur Tengah. “Pesan saya, mulailah sejak sekarang dan jangan menunggu usaha menjadi sempurna. Justru melalui proses memulai itulah kita belajar memahami dinamika usaha serta melakukan evaluasi secara bertahap,” tegasnya. Bagi Dzikri, kunci untuk bersaing di pasar global adalah kemampuan memahami data serta membaca kebutuhan konsumen. Bekal tersebut telah ia peroleh sejak bangku kuliah. Kisahnya menjadi bukti bahwa UMM sebagai kampus inovasi dan mandiri tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga mencetak pencipta lapangan kerja yang tangguh dan adaptif. (Faqih/AS)

Pengamat Kritik Wacana Prabowo Jadi Mediator Konflik

Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto yang ingin memediasi negara-negara yang berperang. Dalam teori resolusi konflik, mediasi dinilai sulit dilakukan jika pertemp Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator bagi negara-negara yang sedang berperang. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan saat pertempuran masih terjadi. Dion Maulana menyampaikan bahwa mediasi idealnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026). Lebih lanjut, Dion juga mendorong evaluasi terhadap posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menekankan bahwa kredibilitas forum perdamaian seharusnya tercermin dalam tindakan nyata para anggotanya. Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional, dan tidak hanya mengikuti arus politik global. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya. Dion menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah mencapai level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap sebagai ancaman utama. “Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya. Ia menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, yang memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran. Dion menambahkan, Presiden Donald Trump mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meskipun situasi memanas, Dion meminta publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga. “Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya. Dion menegaskan bahwa eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meskipun dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.

Ramadan di Portugal, Mahasiswa UMM Jalani Puasa di Negeri Minoritas Muslim

Muhammad Zair Baitil Atiq. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga menjadi pengalaman berbeda. Itulah yang dirasakan Muhammad Zair Baitil Atiq, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Saat ini ia tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Universidade do Minho, Portugal. Bagi Zair, menjalani Ramadan di Portugal menghadirkan suasana yang jauh berbeda dengan yang ada di Indonesia. Negara di Eropa tersebut memiliki populasi muslim yang sangat kecil, sehingga nuansa Ramadan tidak semeriah di tanah air. Mahasiswa angkatan 2022 itu saat ini mengikuti program pertukaran pelajar Erasmus Programme dan tinggal di kota Braga, Portugal. Selama menjalani program tersebut, ia merasakan langsung bagaimana menjalankan ibadah puasa di lingkungan dengan jumlah umat Islam yang hanya sekitar satu persen dari total populasi. “Kalau di Indonesia orang-orang sangat antusias menyambut Ramadan. Di sini rasanya lebih tenang, seperti kita saja yang merayakan,” ujarnya. Dukungan Keluarga Besar Meski begitu, Zair tetap berusaha menikmati setiap momen Ramadan di negeri orang. Tahun ini bahkan menjadi pengalaman pertamanya menjalani puasa sekaligus merayakan Idulfitri jauh dari keluarga. Dari sisi durasi, waktu berpuasa di Portugal relatif lebih singkat dibandingkan di Indonesia. Zair menyebutkan lama puasa sekitar 12 jam. Baca Juga  Tata Cara Salat Gerhana Menurut Muhammadiyah: Dalil, Waktu, dan Khutbahnya Informasi jadwal sahur, imsak, hingga berbuka juga mudah ia dapat melalui komunitas muslim. Selain itu, informasi yang ia peroleh melalui jaringan Persatuan Pelajar Indonesia di Portugal yang rutin membagikan jadwal ibadah selama Ramadan. Respek dan Tingginya Toleransi Menariknya, pengalaman Ramadan di Portugal juga memperlihatkan kuatnya sikap saling menghargai antar pemeluk agama. Zair mengaku teman-temannya di kampus sangat menghormati ibadah yang ia jalankan. “Teman-teman sangat respect. Mereka tahu saya sedang puasa dan juga tahu saya tidak makan babi atau minum alkohol. Jadi kalau mengajak hangout, mereka memilih tempat yang sesuai,” katanya. Selama berada di Portugal, Zair juga mengaku memiliki kebiasaan baru, yakni memasak sendiri. Hal itu dilakukan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi tetap halal. Ia bahkan membawa beberapa bumbu dari tanah air untuk keperluan memasak. Pengalaman dan Pembelajaran Namun dalam situasi tertentu, ia juga berbuka puasa di restoran. Salah satu tempat favoritnya adalah restoran Turki yang berada tidak jauh dari kampus. Restoran tersebut menyediakan menu halal seperti kebab dan bahkan memberikan takjil gratis bagi umat muslim yang berbuka puasa. Bagi mahasiswa asal Kalimantan itu, menjalani Ramadan di Portugal menjadi pengalaman berharga yang memberinya banyak pelajaran tentang toleransi serta penghargaan terhadap perbedaan. Baca Juga  Ini Jempolan! Dua Mahasiswa UMM Paparkan Ide Bisnis di Korea Ia berpesan kepada mahasiswa lain yang berkesempatan mengikuti program serupa di luar negeri untuk tetap menikmati setiap proses. Tak lupa ia meminta untuk memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran hidup.