Pandangan Dosen UMM: Kepercayaan Konsumen Turun, Ekonomi Tak Cukup Bergairah saat Ramadan

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Ekonom muda yang juga pengajar di Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Mochamad Rofik, menyoroti menurunnya kepercayaan konsumen yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Mochamad Rofik yang menekuni kajian stabilitas keuangan itu mengatakan, berdasarkan data indeks kepercayaan konsumen yang ia baca, turunnya kepercayaan konsumen sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Ia menyebut indeks tersebut sempat mencapai titik terendah pada September 2025 sebelum kembali membaik hingga Desember 2025. “Namun pada Februari 2026 kemarin turun lagi. Secara umum memang menunjukkan tren penurunan,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (13/3/2026). Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan yang tidak terlalu optimistis. Situasi tersebut membuat masyarakat cenderung memilih menyimpan uang dibanding meningkatkan konsumsi. Ia menilai ekspektasi yang melemah itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik, termasuk kebijakan pemerintah yang dianggap kurang memberikan dukungan kuat terhadap penguatan ekonomi. Rofik mencontohkan sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih yang menurutnya berpotensi menimbulkan persepsi kebijakan yang terlalu konsumtif. Ia juga menyinggung wacana yang sempat muncul terkait kemungkinan penutupan minimarket modern apabila program koperasi merah putih berjalan. “Kalau ada pernyataan seperti itu, itu bisa menjadi sinyal buruk bagi pelaku ekonomi,” katanya. Selain faktor domestik, Rofik juga menilai dinamika geopolitik global turut memberi tekanan terhadap perekonomian. Ketegangan antara Israel dan Iran, misalnya, berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional berbagai sektor usaha. Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha biasanya memiliki dua pilihan, yakni menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang. Namun dalam kondisi daya beli masyarakat yang melemah, kedua opsi tersebut sama-sama memiliki risiko bagi pasar. Rofik menilai pemerintah perlu melakukan penghematan anggaran secara selektif dengan meninjau kembali program-program yang dinilai tidak memiliki dampak pengganda besar terhadap perekonomian. Menurutnya, proyek pembangunan yang tidak mendesak sebaiknya ditunda sementara waktu. Ia juga menyebut sejumlah program berbiaya besar perlu dievaluasi apabila kondisi ekonomi tidak memungkinkan. “Cara terbaik adalah menginventarisasi program yang tidak banyak memberikan multiplier effect, itu yang dipotong,” ujarnya. Meski demikian, Rofik menilai fundamental ekonomi domestik Indonesia sebenarnya masih memiliki kekuatan. Ia menyebut sekitar 80 persen aktivitas ekonomi masih ditopang oleh konsumsi domestik, sementara sektor ekspor hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap perekonomian nasional. Kecuali minyak yang dominan impor. Karena itu, ia menilai penguatan ekonomi dalam negeri harus menjadi prioritas. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat produksi domestik. “Kalau domestik dikelola dengan baik, ekonomi kita bisa mandiri. Fokusnya harus ke dalam negeri agar roda ekonomi tetap berjalan, tapi yang terjadi kemarin malah impor 105 ribu pikap dari India. Bayangkan kalau kendaraan sebanyak itu diproduksi dalam negeri,” kata dia. Pelemahan daya beli dirasakan pelaku usaha di Kota Malang. Ahmad Soni seorang karyawan Toko Amanah di kawasan Embong Arab mengatakan Ramadan kali ini pengunjung terasa lebih sepi. Jumlah pengunjung yang datang ke kawasan Embong Arab turun drastis. “Perbandingannya 100 banding 40. Kalau tahun lalu pengunjungnya 100, sekarang sekitar 40 saja,” ujarnya, Kamis (12/3/2026). Ia memperkirakan penurunan jumlah pembeli mencapai sekitar 60 persen dibanding Ramadan sebelumnya. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat. “Sepertinya karena kondisi ekonomi yang lagi sulit,” katanya. Padahal, menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya kawasan Embong Arab mulai ramai sejak pertengahan Ramadan. Pengunjung biasanya berdatangan untuk membeli kurma, roti, hingga bumbu masakan khas jazirah Arab untuk hidangan berbuka atau persiapan Lebaran. Namun tahun ini, meski Ramadan sudah memasuki 10 hari terakhir, lonjakan pengunjung belum juga terlihat. “Saya dulu sampai tidak sempat istirahat karena pembeli datang terus. Kalau pun istirahat ya saat salat saja. Sekarang malah banyak rehatnya,” tutur Soni. Sinyal lain perihal turun ya daya beli adalah prediksi  Pemerintah Kota (Pemkot) Malang akan penurunan mobilitas kendaraan bermotor keluar-masuk wilayah Kota Malang selama masa mudik Lebaran 2026. Penurunan diperkirakan mencapai 1,75 persen, dibandingkan periode mudik tahun 2025. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra. “Prediksi ini khusus untuk Kota Malang. Ada potensi penurunan 1,75 persen untuk pergerakan atau keluar-masuk kendaraan bermotor,” ujarnya. Berdasarkan catatan Dishub Kota Malang, kendaraan masuk pada arus mudik 2025 sebanyak 276.726 unit, sedangkan kendaraan keluar: 276.938 unit. Prediksi pada arus mudik 2026 diperkirakan jumlah kendaraan masuk sebanyak 271.883 unit. Kendaraan keluar 271.092 unit. Widjaja menjelaskan, dinamika cuaca dan kecenderungan masyarakat melakukan penghematan menjadi faktor yang memengaruhi prediksi penurunan mobilitas tersebut. Dishub mencatat dua periode puncak arus mudik pada 2026. Gelombang pertama pasa 13–15 Maret 2026. Gelombang kedua pada 18–19 Maret 2026. “Tahun ini di tengah masa mudik ada cuti bersama Nyepi tanggal 18 Maret dan perayaan Nyepi tanggal 19 Maret. Untuk arus balik masih kami lihat timeline-nya,” tambah Widjaja.

Mengelola Dampak Perang Iran di Dalam Negeri

kompas.id – Perang Iran melawan agresi Amerika Serikat-Israel sudah hampir dua pekan dan tidak ada tanda-tanda selesai dalam waktu dekat. Dampak perang di Timur Tengah ini merambat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, karena sektor energi terguncang. Pemerintah Indonesia perlu segera mengantisipasi dampak panjang perang karena bisa berlangsung lama seperti perang Rusia-Ukraina. Jika perang di Ukraina mengguncang dunia lewat pasokan gandum, perang di Iran menyentuh minyak yang dampaknya lebih mendasar. Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Dion Maulana Prasetya, menilai, dampak ikutan perang ini mulai dari rantai pasok energi, melemahnya ekonomi global, hingga stabilitas politik dalam negeri. ”Belajar dari perang Rusia-Ukraina, dunia semestinya tidak menganggap enteng efek lanjutan konflik karena bisa memukul kebutuhan dasar lintas negara,” kata Dion, Selasa (10/3/2026). Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, situasi di Selat Hormuz berdampak besar pada harga minyak global karena membuat rantai pasok minyak dunia rentan dalam beberapa waktu ke depan. China, India, Jepang, dan Singapura dalam posisi rentan karena pasokan minyak mereka banyak berasal dari kawasan Teluk. Jika pasokan dari Selat Hormuz terganggu, negara-negara tersebut bisa mencari sumber alternatif, misalnya dari Rusia atau AS. Namun, penyesuaian itu tidak akan terjadi seketika dan tetap akan menekan pertumbuhan ekonomi mereka. Bagi Indonesia, dampaknya tidak sepenuhnya sama. Faisal menilai ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak Teluk tidak setinggi negara-negara Asia lain. Sebab, Indonesia masih mendapat pasokan dari negara-negara Afrika, seperti Nigeria dan Angola. ANDRI Namun, itu tidak berarti Indonesia aman. Negara-negara Asia yang rentan justru merupakan mitra dagang utama Indonesia. Karena itu, jika pertumbuhan ekonomi China, Jepang, Singapura, dan negara-negara Asia lain melemah akibat gangguan energi, Indonesia akan terkena imbasnya, terutama dari sisi ekspor. Dengan kata lain, meskipun tekanan langsung dari sisi pasokan minyak mungkin tidak sebesar di negara-negara lain, tekanan tidak langsung melalui perdagangan tetap besar. Kesiapan pemerintah Bagi Indonesia, Dion menilai persoalan mendesak saat ini adalah kesiapan pemerintah menghadapi dampak ekonomi. Ancaman dampak bukan hanya pada pasokan fisik energi, melainkan juga pada tekanan fiskal. ”Kalau subsidi terus diberikan untuk meredam inflasi, APBN kita bisa ambrol karena sekarang sudah defisit 3 persen,” ujarnya. Ia mengatakan, pemerintah semestinya sudah mulai merilis paket kebijakan untuk meredam dampak perang. Yang perlu disiapkan ialah realokasi APBN dan paket kebijakan penyangga. Arah belanja negara harus dibentuk ulang agar lebih siap menghadapi tekanan harga energi dan inflasi.

Menakar Skenario Perang di Timur Tengah

kompas.com – BAGAIMANA jika, seandainya, eskalasi perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat tidak kunjung berakhir? Pertanyaan ini menarik untuk dijawab sebab konflik di Timur Tengah, hampir selalu memiliki resonansi global, baik karena keterlibatan kekuatan besar, jalur energi dunia, maupun simbolisme politik yang melekat pada kawasan tersebut. Untuk menjawabnya, ada beberapa “skenario” yang kemungkinan bisa terjadi. Skenario ini penting untuk membaca arah geopolitik global sekaligus memperkirakan dampaknya terhadap sistem internasional dan negara lain, khususnya Indonesia. Skenario pertama adalah perang terbatas tetapi berkepanjangan (prolonged limited war). Konflik tidak berkembang menjadi invasi darat skala besar, tetapi tetap berlangsung melalui serangan udara, rudal jarak jauh, operasi intelijen, dan serangan siber. Pola seperti ini bukan hal baru dalam relasi antara Iran dan Israel karena selama lebih dari satu dekade terakhir, keduanya terlibat dalam apa yang sering disebut sebagai shadow war, mencakup serangan siber, sabotase fasilitas militer, hingga operasi rahasia terhadap ilmuwan nuklir. Namun perang terbatas punya paradoks. Konflik yang tidak benar-benar selesai seringkali justru berlangsung lebih lama. Dalam literatur keamanan internasional, kondisi ini sering disebut sebagai war of attrition, perang pengurasan sumber daya di mana kedua pihak berusaha bertahan lebih lama daripada lawannya. Skenario kedua adalah meluasnya konflik menjadi perang regional. Timur Tengah adalah kawasan dengan jaringan aliansi dan aktor non-negara yang sangat kompleks. Iran, misalnya, memiliki hubungan erat dengan berbagai kelompok bersenjata di kawasan, mulai dari Hizbullah di Lebanon hingga kelompok milisi di Irak dan Suriah, serta Houthi di Yaman. Jika konflik semakin memanas, jaringan ini berpotensi membuka front baru di berbagai titik kawasan. Dalam situasi seperti ini, Israel dapat menghadapi perang multi-front sekaligus. Semakin banyak front yang terbuka, semakin besar risiko konflik berubah dari perang bilateral menjadi perang regional. Skenario perang regional juga bisa terjadi jika serangan Iran terus menargetkan menyerang pangkalan militer AS yang ada di negara-negara Teluk, seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, negara-negara Teluk mungkin akan membuka pangkalan militer untuk operasi AS lebih luas, atau ikut melakukan serangan terhadap Iran, atau membentuk koalisi pertahanan regional. Jika skenario ini terjadi, konflik dapat berubah menjadi perang Iran versus blok Arab Teluk. Dalam jangka pendek, negara-negara Teluk juga bisa memilih strategi defensif dengan menghindari langkah yang dapat membuat mereka terlibat secara langsung. Atau, skenario lain adalah negara Teluk menekan Washington untuk menghentikan perang. Skenario perang regional ini punya dampak tidak hanya bersifat militer tetapi juga ekonomi global. Timur Tengah merupakan pusat energi global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur laut sempit antara Iran dan Oman, yang menjadi salah satu titik paling strategis dalam geopolitik energi. Sehingga, gangguan terhadap jalur ini dapat dengan cepat memicu lonjakan harga minyak dunia. Bagi negara importir energi seperti Indonesia, fluktuasi harga minyak bukan sekadar isu ekonomi global, tetapi juga persoalan domestik. Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap subsidi energi, memicu inflasi, dan memperlebar defisit anggaran. Lebih lanjut, dinamika terbaru menunjukkan beberapa negara Eropa, seperti Spanyol dan Inggris menegaskan sikap hati-hati dan menolak membantu AS. Di sisi lain, Rusia menyatakan kesiapan membantu Iran, meskipun sejauh ini Iran tidak menunjukkan keinginan untuk menarik dukungan militer eksternal secara terbuka. Situasi ini membuka skenario ketiga, yakni perang dengan koalisi terbatas. Dalam konfigurasi ini, AS dan Israel menjadi aktor militer utama, sementara banyak negara lain memilih posisi lebih hati-hati dengan mendukung secara diplomatik tetapi tidak terlibat langsung dalam operasi militer. Konfigurasi semacam ini mencerminkan perubahan lanskap geopolitik global. Sistem internasional semakin multipolar, di mana negara-negara memiliki ruang lebih besar untuk menentukan sikapnya sendiri terhadap konflik internasional. Sikap Iran yang tidak secara terbuka mengundang bantuan militer Rusia dapat dibaca sebagai strategi untuk menjaga konflik tetap terbatas. Sebab, jika konflik berubah menjadi konfrontasi langsung antara blok besar, misalnya antara AS melawan Rusia, eskalasinya akan jauh lebih sulit dikendalikan. Maka dengan tetap mempertahankan konflik dalam kerangka regional, Iran mungkin berusaha menghindari transformasi perang menjadi krisis global. Skenario keempat berkaitan dengan bentuk perang modern yang semakin kompleks, yakni perang multidomain. Konflik kontemporer tidak hanya berlangsung di medan tempur konvensional, tetapi juga di ruang siber, ruang informasi, dan bahkan ruang angkasa. Serangan terhadap jaringan listrik, sistem komunikasi, atau infrastruktur finansial dapat menjadi bagian dari strategi perang tanpa harus melibatkan pasukan. Dalam beberapa konflik modern, serangan siber bahkan mampu melumpuhkan infrastruktur vital sebuah negara tanpa satu pun tembakan dilepaskan. Jika eskalasi Iran versus Israel-AS bergerak ke arah ini, dampaknya bisa melampaui kawasan Timur Tengah dan mengganggu jaringan ekonomi global. Skenario kelima juga bisa terjadi, yaitu de-eskalasi melalui diplomasi. Sejarah menunjukkan bahwa banyak konflik Timur Tengah akhirnya berhenti bukan karena kemenangan militer mutlak, tetapi karena tekanan politik dan diplomatik internasional. Dalam sistem internasional yang semakin multipolar, banyak aktor yang memiliki kapasitas untuk memainkan peran sebagai mediator. Sekalipun Iran sudah menyatakan tidak akan membuka ruang negosiasi dan akan melakukan pembalasan atas kematian Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah pimpinan tinggi militer, skenario diplomasi tetap diharapkan. Pada akhirnya, menakar skenario perang di Timur Tengah bukan sekadar soal memprediksi siapa yang akan menang atau kalah, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana konflik ini akan membentuk ulang lanskap keamanan global. Jika konflik tetap terbatas, dunia mungkin akan menyaksikan fase baru perang antara Iran dan Israel yang berlangsung dalam intensitas tinggi. Jika meluas menjadi perang regional, stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global akan menghadapi guncangan serius. Tetapi jika diplomasi berhasil menahan eskalasi, krisis ini justru dapat menjadi momentum bagi upaya membangun mekanisme keamanan kawasan yang lebih stabil.

Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

Agroredaksi.com-Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(Sfl)