Dosen UMM Jelaskan Mengapa Brainstorming hingga Editing Punya Nilai Ekonomi, Menanggapi Dugaan Markup Videografer

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Isu dugaan markup anggaran videografer yang mencuat belakangan ini memantik perdebatan publik. Dalam kasus tersebut, jaksa dan auditor disebut menilai proses seperti cutting, editing, dubbing, hingga brainstorming konsep tidak memiliki nilai ekonomi sehingga tidak layak dibayar. Pandangan ini menuai perhatian karena dianggap mengabaikan proses kreatif yang justru menjadi fondasi utama lahirnya karya. Menanggapi hal itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setyo Wibowo, M.Si., menegaskan bahwa ide dan proses kreatif merupakan komponen penting yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri kreatif. Menurutnya, penilaian yang hanya melihat hasil teknis tanpa mempertimbangkan proses kreatif berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap cara kerja industri kreatif. Ia menekankan bahwa sebelum kamera dinyalakan, terdapat tahapan panjang yang melibatkan riset, pengembangan konsep, hingga penyusunan strategi komunikasi yang membutuhkan keahlian khusus. “Dalam dunia kreatif, justru ide itu yang paling mahal. Karena ide adalah roh dari sebuah karya. Kreativitas selalu dimulai dari gagasan yang mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa,” ujarnya. Novin menjelaskan bahwa proses produksi karya kreatif dimulai dari tahap development. Pada fase ini, kreator melakukan riset untuk memahami kebutuhan klien, karakter audiens, serta tujuan komunikasi. Dari riset tersebut kemudian lahir konsep, ide cerita, hingga naskah yang menjadi dasar keseluruhan produksi. Menurutnya, tahap pengembangan ide menjadi proses paling menantang sekaligus paling menentukan kualitas karya. “Sering kali orang hanya melihat kamera dan hasil akhirnya. Padahal sebelum itu ada proses panjang yang tidak terlihat, mulai dari riset, diskusi konsep, sampai penyusunan strategi komunikasi. Semua itu membutuhkan waktu, keahlian, dan pengalaman,” jelasnya. Setelah itu, proses berlanjut ke tahap pre-production, production, hingga post-production. Pada tahap pra-produksi, tim kreatif menyusun kebutuhan teknis seperti pembentukan kru, penyusunan anggaran, pencarian lokasi, dan perizinan. Tahap produksi berfokus pada pengambilan gambar sesuai konsep. Sementara pada pasca-produksi dilakukan editing visual, pencampuran audio, hingga penambahan narasi untuk memperkuat pesan karya. Ia menilai, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia. Editor, penulis naskah, animator, hingga pengisi suara memiliki peran penting dalam membangun kualitas karya. “Jika proses kreatif dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, maka yang dirugikan bukan hanya pekerja kreatif, tetapi juga kualitas karya itu sendiri. Industri kreatif bisa kehilangan ruang untuk berkembang karena ide tidak lagi dihargai. Padahal, ekonomi kreatif justru tumbuh dari kekuatan gagasan,” tegasnya. Lebih lanjut, Novin menekankan pentingnya penghargaan terhadap nilai ekonomi ide. Jika proses kreatif tidak dihargai secara layak, hal tersebut berpotensi mencederai pekerja kreatif. Ia juga mendorong pembentukan asosiasi profesi sebagai ruang advokasi dan perlindungan bagi pelaku industri kreatif, sekaligus meningkatkan literasi publik mengenai nilai ekonomi dari kreativitas. ANS Ia pun berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat terus mendorong penguatan ekosistem industri kreatif melalui kebijakan yang mendukung kolaborasi, perlindungan profesi, serta peningkatan literasi masyarakat terhadap nilai ekonomi dari kreativitas. Dengan demikian, industri kreatif tidak hanya berkembang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

Layanan Kesehatan Jemput Bola, Fikes UMM Hadirkan Matahari Homecare untuk Pasien Kronis

Malangpariwara.com – Meningkatnya kasus penyakit kronis di tengah masyarakat mendorong inovasi layanan kesehatan yang lebih adaptif dan mudah dijangkau. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang melalui Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) meluncurkan program Matahari Homecare, sebuah layanan perawatan kesehatan berbasis kunjungan ke rumah pasien. Program ini hadir sebagai solusi bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam mengakses fasilitas kesehatan, baik karena kondisi fisik, penyakit yang diderita, maupun kendala ekonomi. Dengan konsep layanan langsung ke rumah, pasien tetap dapat memperoleh perawatan secara optimal tanpa harus datang ke rumah sakit. Matahari Homecare dirancang untuk memberikan layanan kesehatan yang menyeluruh, mulai dari upaya peningkatan, pemeliharaan, hingga pemulihan kondisi pasien. Pendekatan ini juga bertujuan mendorong kemandirian pasien dalam menjalani proses perawatan di lingkungan tempat tinggalnya. Program tersebut merupakan hasil sinergi antara FIKES dan Fakultas Kedokteran UMM. Kolaborasi lintas disiplin ini menghadirkan layanan kesehatan berbasis keilmuan yang tidak hanya fokus pada aspek medis, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat luas. Selain itu, program ini turut bekerja sama dengan Rumah Zakat guna memperluas akses layanan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu. Salah satu layanan yang menjadi unggulan adalah fisioterapi untuk pasien yang membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, seperti penderita pascastroke dan gangguan mobilitas. Terapi dilakukan di rumah pasien sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih nyaman dan berkelanjutan. Penanggung jawab Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bentuk komitmen untuk mendekatkan akses kesehatan kepada masyarakat. “Tidak semua pasien mampu datang ke fasilitas kesehatan. Melalui layanan ini, kami ingin memastikan mereka tetap mendapatkan perawatan yang layak dan berkualitas,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi dengan Rumah Zakat menjadi langkah penting dalam memperluas jangkauan layanan, terutama bagi kelompok masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Melalui pendekatan yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan mampu menjadi alternatif solusi layanan kesehatan di tengah meningkatnya kebutuhan perawatan jangka panjang. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya soal pengobatan, tetapi juga kepedulian sosial dan nilai kemanusiaan.(Djoko W)

FIKES UMM Luncurkan Matahari Home Care untuk Perawatan Jangka Panjang di Rumah, Respon Tren Penyakit Kronis Meningkat

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tidak semua pasien mampu datang ke rumah sakit. Keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, hingga faktor ekonomi kerap menjadi penghalang masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak. Menjawab persoalan tersebut, Matahari Homecare hadir sebagai layanan kesehatan berbasis kunjungan rumah yang membawa perawatan langsung ke tempat tinggal pasien. Matahari Homecare merupakan layanan perawatan kesehatan di rumah yang dirancang untuk meningkatkan, mempertahankan, maupun memulihkan kondisi kesehatan pasien sekaligus mendorong kemandirian mereka di lingkungan tempat tinggalnya. Layanan ini menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang komprehensif, khususnya bagi individu maupun keluarga yang membutuhkan perawatan jangka panjang tanpa harus meninggalkan rumah. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sinergi lintas fakultas tersebut menghadirkan layanan kesehatan berbasis keilmuan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Tak hanya itu, Matahari Homecare juga menggandeng Rumah Zakat untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Kerja sama ini memungkinkan pasien kurang mampu tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa terbebani biaya besar. Salah satu layanan unggulan dalam program ini adalah fisioterapi bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik, seperti pasien pascastroke, gangguan mobilitas, maupun kondisi lain yang memerlukan terapi berkelanjutan. Pelayanan dilakukan langsung di rumah pasien sehingga proses rehabilitasi dapat berlangsung lebih nyaman, konsisten, dan efektif. PIC Matahari Homecare, Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D.(PT), menjelaskan bahwa program ini hadir sebagai komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. “Melalui Matahari Homecare, kami berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Rumah Zakat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pelayanan. “Kolaborasi ini memungkinkan kami memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat yang kurang mampu. Matahari Homecare tidak hanya bergerak dalam layanan kesehatan, tetapi juga membawa misi kemanusiaan agar masyarakat mendapatkan perawatan yang layak,” tambahnya. Melalui pendekatan layanan kesehatan berbasis rumah yang humanis dan komprehensif, Matahari Homecare diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan yang lebih mudah dijangkau. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.(Ans)

Ramai Soal Markup Videografer, Dosen UMM Tegaskan Brainstorming hingga Editing Punya Nilai Tinggi

  pwmu.co – Isu dugaan markup anggaran videografer yang belakangan mencuat memicu perdebatan publik terkait nilai ekonomi dalam industri kreatif. Sejumlah pihak disebut menilai proses seperti brainstorming, editing, hingga dubbing tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga dianggap tidak layak dibayar.Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Novin Farid Setyo Wibowo, menegaskan bahwa ide dan proses kreatif justru merupakan bagian paling penting dalam sebuah karya. Menurutnya, penilaian yang hanya berfokus pada hasil akhir tanpa mempertimbangkan proses kreatif dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap cara kerja industri kreatif. Ia menjelaskan bahwa sebelum proses produksi dimulai, terdapat tahapan panjang yang melibatkan riset, pengembangan konsep, hingga penyusunan strategi komunikasi. “Dalam dunia kreatif, justru ide itu yang paling mahal. Karena ide adalah roh dari sebuah karya,” ujarnya. Novin menambahkan bahwa proses produksi dimulai dari tahap pengembangan (development), di mana kreator melakukan riset untuk memahami kebutuhan klien, karakter audiens, serta tujuan komunikasi. Dari proses tersebut kemudian lahir konsep, ide cerita, hingga naskah yang menjadi dasar keseluruhan produksi. Selanjutnya, tahapan berlanjut ke pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, tim kreatif menyusun kebutuhan teknis seperti pembentukan kru, penyusunan anggaran, pencarian lokasi, hingga perizinan. Tahap produksi berfokus pada pengambilan gambar sesuai konsep, sementara tahap pasca-produksi mencakup proses editing visual, pencampuran audio, serta penambahan narasi. Ia menegaskan bahwa seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Editor, penulis naskah, animator, hingga pengisi suara memiliki peran penting dalam membangun kualitas sebuah karya. “Jika proses kreatif dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, maka yang dirugikan bukan hanya pekerja kreatif, tetapi juga kualitas karya itu sendiri,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menilai bahwa kurangnya penghargaan terhadap nilai ekonomi ide dapat menghambat perkembangan industri kreatif. Karena itu, ia mendorong pembentukan asosiasi profesi sebagai wadah advokasi dan perlindungan bagi pelaku industri kreatif, sekaligus meningkatkan literasi publik mengenai pentingnya kreativitas. Ia juga berharap pemerintah dapat memperkuat ekosistem industri kreatif melalui kebijakan yang mendukung kolaborasi, perlindungan profesi, serta peningkatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ekonomi dari kreativitas. Dengan demikian, industri kreatif tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Kritik Diperlukan untuk Menjaga Negara Tetap Waras

pwmu – Anda pernah mengenal grup lawak legendaris Bagito? Grup itu terdiri dari Miing (Dedi Gumelar), Didin (Didin Pinasti), dan Unang (Hadi Wibowo). Mereka pernah menjadi ikon hiburan televisi Indonesia melalui acara seperti Bagito Show di RCTI dan Gebyar BCA di Indosiar. Namun, di balik kelucuan yang mereka tampilkan, tersimpan sebuah peristiwa penting yang menunjukkan betapa sensitifnya hubungan antara kritik, humor, dan kekuasaan. Ceritanya begini. Pada 23 Oktober 1999, Bagito tampil dalam acara Gebyar BCA. Seperti biasa, mereka menyelipkan satire dan kritik sosial dalam materi lawakan. Dalam salah satu adegan, Miing memerankan Presiden saat itu, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia berakting seolah sedang menelepon Perdana Menteri Australia, Paul Keating. Namun, adegan itu menjadi kontroversial karena Miing meletakkan gagang telepon di jidat dan mata. Gestur tersebut dianggap menyindir kondisi penglihatan Gus Dur. Apa yang kemudian terjadi? Reaksi publik pun keras. Para pendukung Gus Dur, terutama dari kalangan NU, merasa tersinggung dan marah. Adegan lawakan Bagito dianggap sebagai penghinaan terhadap kondisi fisik seorang kepala negara. Situasi menjadi tegang, dan Bagito diliputi rasa cemas atas dampak yang mungkin mereka hadapi. Dua hari kemudian, 25 Oktober 1999, Bagito akhirnya bertemu langsung dengan Gus Dur untuk meminta maaf. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu? Sangat mengejutkan. Gus Dur tidak marah. Ia justru memberikan respons yang mencerminkan kedewasaan dan pemahaman mendalam tentang demokrasi. “Nggak masalah, Bang Miing. Jangan berhenti mengkritik pemerintah. Kalau berhenti mengkritik, negara ini bisa hancur. Teruskan saja, mungkin caranya saja yang perlu diperbaiki,” ujar Gus Dur. Miing yang masih cemas kemudian bertanya apakah ia masih boleh tampil di televisi. Gus Dur menjawab santai, “Jangan tanya saya. Tanya yang punya TV. Kalau dilarang, kasih tahu saya.” Pesan Gus Dur sederhana, tetapi sangat kuat. Kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Tanpa kritik, kekuasaan bisa kehilangan arah. Ia memahami bahwa sebagai pemimpin, dirinya bukan lagi milik pribadi atau kelompok tertentu, melainkan milik publik. Pemimpin itu “Milik Publik” Sikap Gus Dur mencerminkan pemahaman bahwa seorang pemimpin adalah figur publik yang terbuka terhadap penilaian, termasuk kritik. Ketika seseorang memilih menjadi pejabat atau pemimpin, ia secara otomatis menyerahkan sebagian besar ruang privatnya kepada publik. Konsep ini tidak mudah diterima oleh semua orang. Menjadi pemimpin berarti siap menjadi sorotan, siap dinilai, dan siap dikritik. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin sempit ruang privasinya. Hal ini bukan tanpa alasan, karena keputusan dan kebijakan yang diambil berdampak pada banyak orang. Dalam konteks ini, kritik bukanlah serangan pribadi, melainkan bentuk partisipasi masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Kritik bisa datang dari berbagai kalangan, dengan cara dan gaya yang berbeda. Ada yang halus, ada yang tajam, bahkan ada yang sarkastis. Semua itu adalah bagian dari dinamika demokrasi. Masalah menjadi rumit ketika pemimpin tidak siap menghadapi kritik. Alih-alih menjadikannya sebagai bahan evaluasi, kritik justru dianggap sebagai ancaman. Padahal, tanpa kritik, seorang pemimpin bisa terjebak dalam “ruang gema”, hanya mendengar pujian dan kehilangan sudut pandang yang nyata. Tidak Perlu Baper Dalam dinamika politik Indonesia saat ini, isu kritik terhadap pemimpin kembali menjadi sorotan. Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menyinggung soal kritik dalam berbagai kesempatan. Dalam salah satu pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa kritik itu penting, tetapi harus disampaikan secara konstruktif. Ia menyebut bahwa kritik yang membangun akan membantu pemerintah bekerja lebih baik, sementara kritik yang hanya menjatuhkan tanpa solusi tidak produktif. “Silakan koreksi, silakan kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus,” katanya saat memberikan sambutan dalam perayaan Natal Nasional di Jakarta, 5 Januari 2026. Namun, di sisi lain, muncul persepsi di masyarakat bahwa ada kecenderungan ketidaknyamanan terhadap kritik, terutama yang disampaikan secara keras atau satir. Hal ini menimbulkan perdebatan, apakah kritik masih benar-benar diterima sebagai bagian dari demokrasi, atau mulai dibatasi oleh sensitivitas kekuasaan. Lihat misalnya kritik masyarakat yang ditanggapi secara emosional. Berbagai kegiatan kritis diawasi, bahkan muncul tindakan kekerasan seperti yang dialami aktivis Kontras, Andrie Yunus. Memang pelaku bukan pimpinan tertinggi, tetapi hal tersebut dinilai sebagai dampak dari sikap permisif terhadap kekerasan. Di sinilah relevansi kisah Gus Dur menjadi penting. Ia tidak hanya menerima kritik, tetapi juga melindungi ruang kritik itu sendiri. Bahkan ketika dirinya menjadi objek kritik yang dianggap tidak pantas, ia tetap melihat esensi yang lebih besar, yakni menjaga kebebasan berpendapat. Gus Dur menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa besar ia dihormati, tetapi dari seberapa lapang ia menerima perbedaan, termasuk kritik. Demokrasi bukan tentang kesempurnaan, melainkan proses yang terus diperbaiki. Sikap itu lahir dari pengalaman panjang, pemikiran matang, dan keberanian menghadapi risiko. Tidak semua pemimpin memiliki kapasitas ini, namun justru di situlah tantangannya. Kritik tidak selalu enak didengar. Kadang menyakitkan dan terasa tidak adil. Namun, dari situlah seorang pemimpin bisa belajar dan berkembang. Tanpa kritik, kekuasaan cenderung stagnan dan berpotensi menyimpang. Jangan Jadi Pemimpin Seorang pemimpin tidak boleh alergi terhadap kritik. Kritik adalah cermin, bukan ancaman. Ia menunjukkan apa yang tidak terlihat dan memperbaiki apa yang salah. Jika seseorang tidak siap dikritik, maka sebaiknya tidak memilih jalan menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk mendengarkan. Apa yang perlu dilakukan pemimpin? Pertama, membangun mentalitas terbuka. Kritik harus dilihat sebagai masukan, bukan serangan. Kedua, pemerintah perlu menyediakan ruang dialog yang sehat agar kritik bisa disampaikan secara konstruktif. Ketiga, masyarakat juga perlu belajar menyampaikan kritik dengan cara yang bijak, tajam, tetapi tetap beretika. Keempat, yang paling penting, jangan pernah mematikan kritik. Karena ketika kritik berhenti, di situlah awal kemunduran sebuah negara. Demokrasi hidup dari suara yang beragam, termasuk suara yang tidak menyenangkan. Keberanian menerima kritik adalah tanda sejati dari kepemimpinan yang kuat. *) Editor : Satria

Budaya Masjid dan Pasar di TV Ramadan

radartuban – BULAN Ramadan telah menjadi ajang pertemuan antara budaya masjid dan budaya pasar di televisi (TV). Beragam acara yang bernuansa masjid seperti ceramah agama, talkshow bertema Islam, kajian kitab dan hadis, lomba dai, dan majelis taklim setiap hari muncul di TV. Pada saat yang sama, di TV juga muncul budaya pasar lewat berbagai program hiburan yang sarat dengan iklan yang mengajak orang berbelanja layaknya di pasar. Menurut Kuntowijoyo, ada dua budaya, yakni budaya masjid dan budaya pasar. Budaya masjid menggambarkan religiusitas dan jauh dari sifat foya-foya. Sementara budaya pasar adalah budaya yang penuh dengan tipudaya dan lebih mementingkan materi. Praktik sejumlah media TV telah membawa pada budaya pasar. Komersialisasi media telah merepresentasikan agama dalam ruang profan dan hedonis. Lihat saja acara Ramadan di sejumlah stasiun TV. Beberapa acara yang menghadirkan para penceramah sering dibalut dalam kemasan komedi. Munculnya beragam acara jelang waktu sahur dan berbuka puasa yang menghadirkan para komedian justru sering menampilkan lelucon yang mengumbar kekerasan, seksualitas, dan sarkasme. Komedi model lelucon kasar (slapstick) justru banyak didemonstrasikan di TV selama Ramadan. Tak jarang justru sang penceramah terbawa pada suasana lucu yang lebih dominan ketimbang isi ceramah yang bermutu. Beberapa pendakwah yang muncul di TV sekaligus menjadi bintang iklan produk tertentu. Bahkan, tak jarang busana dan beragam aksesori yang dikenakan para penceramah itu di endorse merk tertentu. Dalam penampilan sang penceramah dan pengisi acara bernilai promosi produk tertentu. Di sinilah letak persoalan yang bisa bernilai negatif bagi masyarakat. Logika TV Acara Ramadan di TV dari tahun ke tahun cenderung serupa. Acara selalu berulang dengan kemasan yang sama. Tak semua acara dikemas dengan isi yang sejalan dengan nilai-nilai Ramadan. Media audio visual TV ini seperti sekadar memanfaatkan momentum Ramadan untuk mendulang banyak iklan. Ya, inilah logika TV. Karena TV (terutama TV swasta) adalah entitas bisnis, maka logika yang dipakai adalah bagaimana mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Perilaku sejumlah media TV saat Ramadan ini sah-sah saja sebagai lembaga profit. Namun, hendaknya tak ada yang jadi korban dalam praktik ini. Masyarakat luas, para konsumen media idealnya menjadi perhatian utama. TV tak bijak kalau hanya merayu dan memberi iming-iming khalayak agar menonton acara, namun kemanfaatan dari acara itu justru berdampak buruk bagi pemirsa. Logika yang idealnya dibangun oleh TV adalah menempatkan masyarakat sebagai khalayak yang harus diberdayakan, diberi pendidikan dan pencerahan, agar TV juga menjalankan fungsi sebagai sarana untuk mencerdaskan umat. Namun, beberapa pengelola TV selama Ramadan terlihat lebih memilih menjadikan momentum bulan Bulan Suci ini sebagai komoditas yang digunakan untuk merayu penonton agar konsumtif. Logika TV menjadikan segala sesuatu sebagai materi yang layak jual, termasuk agama. Di sinilah proses komodifikasi terjadi. Komodifikasi berarti mengubah agama menjadi barang dagangan yang dapat dijual, membawanya ke cara transaksi dagang layaknya di pasar. Lewat acara Ramadan tak jarang muncul tren baju koko dan model hijab atau busana muslim para ustadah. Tak jarang para muslim menggunakan produk-produk seperti yang dikenakan para penceramah karena beranggapan bahwa hal itu sebagai bentuk perwujudan keimanan. Komodifikasi Ramadan Agama dan hal-hal yang terkait dengan agama, seperti Ramadan telah menjadi sebuah komoditas. Seperti layaknya komoditas barang dan jasa, maka sebuah komoditas pasti mempunyai nilai jual yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Di sinilah Ramadan telah dipandang sebagai komoditas dan TV telah melakukan komodifikasi atas agama dan Ramadan. Lihat saja acara-acara pengajian dalam kemasan majelis taklim. Acara dikemas dengan unsur hiburan yang lebih menonjol. Majelis taklim itu dikemas jadi “Taklimtainment”. Sebuah majelis taklim yang disajikan dengan balutan hiburan (entertainment) yang kental. Tak jarang justru muatan hiburannya yang lebih kentara ketimbang esensi dakwahnya. Esensi taklim sebagai sarana pengajaran agama Islam telah terdistorsi karena unsur hiburan yang lebih mengemuka. Budaya konsumtif justru muncul dari acara-acara yang bersifat keagamaan. Terjadi paradoks antara konten pesan-pesan dakwah keagamaan yang dituturkan para penceramah dengan pesan-pesan lain yang melekat dalam diri dan perilaku sang dai. Di satu sisi para penceramah menganjurkan hidup sederhana dan tak bermewah-mewah, sementara pada kesempatan yang sama seperti menganjurkan agar masyarakat membeli produk-produk iklan yang lagi tayang. Inilah tantangan dakwah di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang supercanggih saat ini. Format dakwah di TV yang ideal perlu terus dicari. Jangan sampai terjadi seperti apa kata pepatah Jawa kuno yang mengatakan “Sesuk in akhire zaman, tuntunan dadi tontonan, lan tontonan dadi tuntunan”. Mari bermedia yang sehat, jangan telan mentah-mentah budaya masjid yang telah bercampur dengan budaya pasar yang muncul di layar TV. (*)

Videografer Dituduh Markup Anggaran, Pakar UMM Tegaskan Ide dan Proses Kreatif Punya Nilai Ekonomi

KLIKMU.CO — Tuduhan markup anggaran videografer yang mencuat belakangan ini memantik perdebatan publik. Dalam kasus tersebut, jaksa dan auditor disebut menilai proses seperti cutting, editing, dubbing, hingga brainstorming konsep tidak memiliki nilai ekonomi sehingga tidak layak dibayar. Pandangan ini menuai perhatian karena dianggap mengabaikan proses kreatif yang justru menjadi fondasi utama lahirnya sebuah karya. Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Novin Farid Setyo Wibowo MSi menegaskan bahwa ide dan proses kreatif merupakan komponen penting yang memiliki nilai ekonomi tinggi dalam industri kreatif. Menurutnya, penilaian yang hanya melihat hasil teknis tanpa mempertimbangkan proses kreatif berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap cara kerja industri kreatif. Ia menekankan bahwa sebelum kamera dinyalakan, terdapat tahapan panjang yang melibatkan riset, pengembangan konsep, hingga penyusunan strategi komunikasi yang membutuhkan keahlian khusus. “Dalam dunia kreatif, justru ide itu yang paling mahal. Karena ide adalah roh dari sebuah karya. Kreativitas selalu dimulai dari gagasan yang mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa,” ujarnya, Rabu (1/4/2026). Novin menjelaskan, proses produksi karya kreatif dimulai dari tahap development. Pada fase ini, kreator melakukan riset untuk memahami kebutuhan klien, karakter audiens, serta tujuan komunikasi. Dari riset tersebut kemudian lahir konsep, ide cerita, hingga naskah yang menjadi dasar keseluruhan produksi. Menurutnya, tahap pengembangan ide menjadi proses paling menantang sekaligus paling menentukan kualitas karya. “Sering kali orang hanya melihat kamera dan hasil akhirnya. Padahal sebelum itu ada proses panjang yang tidak terlihat, mulai dari riset, diskusi konsep, sampai penyusunan strategi komunikasi. Semua itu membutuhkan waktu, keahlian, dan pengalaman,” jelasnya. Setelah itu, proses berlanjut ke tahap pre-production, production, hingga post-production. Pada tahap pra-produksi, tim kreatif menyusun kebutuhan teknis seperti pembentukan kru, penyusunan anggaran, pencarian lokasi, dan perizinan. Tahap produksi berfokus pada pengambilan gambar sesuai konsep, sedangkan tahap pasca-produksi meliputi editing visual, pencampuran audio, hingga penambahan narasi untuk memperkuat pesan karya. Ia menilai, seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa industri kreatif tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia. Editor, penulis naskah, animator, hingga pengisi suara memiliki peran penting dalam membangun kualitas karya. “Jika proses kreatif dianggap tidak memiliki nilai ekonomi, maka yang dirugikan bukan hanya pekerja kreatif, tetapi juga kualitas karya itu sendiri. Industri kreatif bisa kehilangan ruang untuk berkembang karena ide tidak lagi dihargai. Padahal, ekonomi kreatif justru tumbuh dari kekuatan gagasan,” tegasnya. Lebih lanjut, Novin menekankan pentingnya penghargaan terhadap nilai ekonomi ide. Jika proses kreatif tidak dihargai secara layak, hal tersebut berpotensi merugikan pekerja kreatif. Ia juga mendorong pembentukan asosiasi profesi sebagai ruang advokasi dan perlindungan bagi pelaku industri kreatif, sekaligus meningkatkan literasi publik mengenai nilai ekonomi kreativitas. Ia berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat terus mendorong penguatan ekosistem industri kreatif melalui kebijakan yang mendukung kolaborasi, perlindungan profesi, serta peningkatan literasi masyarakat. Dengan demikian, industri kreatif tidak hanya berkembang sebagai ruang ekspresi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (Faqih/AS)

UMM Luncurkan Matahari Home Care, Solusi Perawatan Pasien Kronis di Rumah

pwmu.co – Tren penyakit kronis yang terus meningkat mendorong inovasi layanan kesehatan yang lebih adaptif. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan program Matahari Home Care sebagai solusi perawatan jangka panjang berbasis kunjungan rumah. Program ini hadir untuk menjawab persoalan akses layanan kesehatan yang masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit tertentu, maupun kendala ekonomi. Matahari Home Care dirancang sebagai layanan kesehatan di rumah yang bertujuan meningkatkan, mempertahankan, serta memulihkan kondisi pasien, sekaligus mendorong kemandirian mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran UMM. Sinergi lintas disiplin ini menghadirkan layanan berbasis keilmuan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Untuk memperluas jangkauan layanan, program ini juga bekerja sama dengan Rumah Zakat, sehingga masyarakat dengan keterbatasan ekonomi tetap dapat memperoleh layanan kesehatan yang layak. Salah satu layanan unggulan yang ditawarkan adalah fisioterapi bagi pasien yang membutuhkan rehabilitasi fisik, seperti pasien pascastroke dan gangguan mobilitas. Pelayanan dilakukan langsung di rumah pasien, sehingga proses terapi dapat berjalan lebih nyaman, konsisten, dan efektif. Penanggung jawab Matahari Home Care, Rakhmad Rosadi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk mengakses fasilitas kesehatan secara langsung, sehingga layanan berbasis rumah menjadi solusi yang relevan. Selain itu, kolaborasi dengan Rumah Zakat dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas akses layanan, khususnya bagi masyarakat kurang mampu. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga membawa misi kemanusiaan agar setiap individu dapat memperoleh perawatan yang layak. Melalui pendekatan yang humanis dan komprehensif, Matahari Home Care diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat dalam mendapatkan layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, sekaligus memperkuat sistem pelayanan kesehatan berbasis komunitas di Indonesia. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Catat! Deretan Kampus yang Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Content Creator atau Influencer

JAKTIMNEWS.com – Ada beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia yang membuka seleksi masuk mahasiswa baru jalur prestasi/beasiswa content creator. Jalur ini berlaku bagi siswa-siswi yang telah berpengalaman di bidang produksi konten dan dapat dibuktikan dengan capaian pengikut (followers) serta kualitas konten. Tentu jalur satu ini menjadi salah satu jalur seleksi mahasiswa baru yang berbeda dan unik karena mengikuti perkembangan digital. Untuk calon mahasiswa tahun 2026 yang tertarik dengan jalur ini bisa mempertimbangkan beberapa kampus berikut. 1. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kampus PTN di Malang ini membuka jalur seleksi untuk para ‘influencer‘ muda. Pendaftaran jalur content creator tahun 2026 ini memiliki beberapa syarat. Syarat pertama adalah content creator yang berkarya di YouTube wajib memiliki pelanggan minimal berjumlah 5000. Syarat kedua bagi creator yang aktif di Instagram diwajibkan memiliki followers minimal 10.000 dan dengan kriteria konten yang positif serta mengedukasi. Calon mahasiswa bisa mendaftar di rentang tanggal 26 Februari hingga 25 Juni 2026 melalui website resmi kampus UMM. 2. Universitas Aisyiyah Yogyakarta Pilihan kedua ada di Universitas Aisyiyah Yogyakarta yang membuka jalur beasiswa khusus content creator di tahun ini. Beberapa syarat diperlukan bagi calon pendaftar, antara lain memiliki pelanggan YouTube minimal 5000 dan dibuktikan dengan tangkapan layar atau tautan akun. Selain itu bagi siswa yang punya followers Instagram/Tiktok/ X dengan followers minimal 10.000 juga bisa mendaftar. Pendaftaran jalur influencer di Universitas Aisyiyah Yogyakarta berlaku tanggal 17 Januari hingga 10 Maret 2026. 3. UPN Veteran Jakarta Kampus satu ini turut memberi beberapa persyaratan bagi calon pendaftar jalur influncer. Setidaknya pendaftar harus memiliki pelanggan YouTube minimal 10.000. Syarat lain yang bisa dipertimbangkan yaitu minimal memiliki 2 video dengan jumlah penonton sekurang-kurangnya 100.000 dengan tema konten yang mendidik dan memenuhi standar kualitas gambar/editing yang baik. 4. Petra Christian University Beasiswa influencer di Petra Christian University bisa didapat oleh pendaftar yang miliki minimal jumlah pengikut Instagram sebanyak 2000, jumlah likes di akun TikTok sebanyak 2000 atau pelanggan YouTube sebanyak 1000. 5. Universitas Ciputra Jakarta Pilihan kampus lain yang juga menyediakan jalur content creator adalah Universitas Ciputra Jakarta. Terdapat 2 kategori untuk jalur ini yaitu Student Entry dan Student Partner. Syarat mendaftar jalur Student Entry: a. Creator dengan pengikut Instagram sebanyak 10.000-15.000 b. Creator dengan pengikut TikTok sebanyak 10.000-20.000 Syarat mendaftar jalur Student Partner: a. Creator dengan pengikut Instagram >15.000 b. Creator dengan pengikut TikTok >20.000 Tertarik untuk coba mendaftar dengan jalur prestasi/beasiswa content creator?

10 Universitas Islam Swasta Terbaik di Indonesia yang Sudah Terakreditasi, UKT Terjangkau

PIKIRAN RAKYAT – Memilih perguruan tinggi bukan hanya soal jurusan, tetapi juga lingkungan belajar yang mendukung perkembangan akademik dan karakter. Di Indonesia, kampus Islam swasta menjadi salah satu pilihan favorit karena tidak hanya menawarkan pendidikan berkualitas, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan mahasiswa. Mulai dari bidang agama hingga sains, teknologi, kesehatan, dan sosial, universitas Islam swasta kini semakin berkembang dan diminati. Berikut deretan kampus yang bisa kamu pertimbangkan: Universitas Islam Bandung UNISBA menjadi salah satu kampus populer di Jawa Barat. Dengan pilihan fakultas yang lengkap dan program hingga jenjang doktor, kampus ini cocok untuk kamu yang ingin menempuh pendidikan jangka panjang. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Berlokasi di Bantul, Yogyakarta, kampus ini dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi Islam swasta unggulan. Pilihan fakultasnya sangat beragam, mulai dari Agama Islam, Ekonomi, Hukum, hingga Kedokteran dan Teknik. Tak heran jika UMY menjadi incaran banyak calon mahasiswa dari berbagai daerah. Universitas Muhammadiyah Malang Terletak di Kota Malang, UMM memiliki beberapa kampus dengan fasilitas lengkap. Kampus ini dikenal luas sebagai salah satu universitas swasta besar di Indonesia, dengan jurusan populer seperti Teknik, Psikologi, Kedokteran, hingga Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Indonesia Sebagai salah satu kampus Islam tertua di Indonesia, UII memiliki reputasi yang kuat. Berlokasi di Yogyakarta, kampus ini menawarkan berbagai program unggulan, termasuk program internasional yang membuka peluang global bagi mahasiswanya. Universitas Muhammadiyah Surakarta Berada di Sukoharjo, UMS dikenal dengan pilihan jurusan yang sangat lengkap. Mulai dari Kedokteran, Farmasi, Teknik, hingga Komunikasi dan Informatika. Kampus ini juga menyediakan program pascasarjana bagi yang ingin melanjutkan studi. Universitas Ahmad Dahlan Masih di Yogyakarta, UAD menjadi salah satu kampus Muhammadiyah dengan perkembangan pesat. Jurusan yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari Psikologi, Pendidikan, Hukum, hingga Teknologi Industri dan Kesehatan Masyarakat. Universitas Islam Sultan Agung Berbasis di Jawa Tengah, kampus ini memiliki banyak pilihan jurusan seperti Kedokteran, Teknik, Hukum, hingga Keperawatan dan Psikologi. Universitas Prof. Dr. Hamka Terletak di Jakarta, UHAMKA menawarkan berbagai fakultas mulai dari Pendidikan, Ekonomi, hingga Ilmu Kesehatan dan Psikologi. Lokasinya yang strategis menjadi nilai tambah. Universitas Muhammadiyah Purworejo Kampus ini berada di Jawa Tengah dan menyediakan berbagai program studi seperti pendidikan, agribisnis, peternakan, hingga teknik sipil. Universitas Islam Nusantara Berlokasi di Bandung, UNINUS menawarkan banyak jurusan serta program pascasarjana yang mendukung pengembangan akademik lebih lanjut. Universitas Islam swasta di Indonesia terus menunjukkan kualitasnya dengan menyediakan program studi yang lengkap serta fasilitas yang memadai. Tak hanya fokus pada akademik, kampus-kampus ini juga membentuk karakter mahasiswa melalui nilai-nilai keislaman. Bagi kamu yang ingin kuliah di lingkungan religius namun tetap modern dan kompetitif, daftar kampus di atas bisa menjadi referensi terbaik untuk menentukan langkah menuju masa depan.***