UMM Siapkan Beasiswa Khusus Aktivis, Dinilai Sebagai Jalur Prestasi

Suasana forum Dialektika Kampus Putih yang digelar BEM UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu, 4 April 2026. (Foto: BEM UMM) KETIK, MALANG – Aktivitas organisasi mahasiswa yang selama ini sering dianggap hanya kegiatan tambahan, kini mulai mendapat perhatian lebih di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui forum “Dialektika Kampus Putih” yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu, 4 April 2026, pihak kampus menyampaikan rencana kebijakan baru terkait mahasiswa aktivis. UMM tengah menyiapkan beasiswa khusus bagi mahasiswa yang aktif di organisasi, seperti BEM, Senat, Himpunan, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Tidak hanya itu, keaktifan dalam organisasi juga akan dikategorikan sebagai bentuk prestasi. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, menegaskan bahwa kampus selama ini konsisten mendukung kegiatan mahasiswa. “UMM berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan kemahasiswaan. Seperti PPK Ormawa, mahasiswa kami fasilitasi mulai dari pendampingan hingga pelaksanaan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa dukungan tersebut tidak hanya terbatas pada program internal kampus. “Kalau mahasiswa mengikuti lomba akademik maupun non-akademik, pasti kami dukung,” lanjutnya. Rencana beasiswa aktivis ini menjadi langkah yang lebih konkret. Artinya, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan mulai dihargai sebagai bagian penting dari proses pengembangan diri. Di sisi lain, Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyebut kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi pascalebaran, tetapi juga ruang penyampaian aspirasi mahasiswa. “Di sini juga diagendakan untuk berdiskusi dan menyampaikan berbagai aspirasi maupun keluhan dari teman-teman Ormawa,” jelasnya. Menurutnya, BEM telah menjalankan berbagai program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa selama satu periode kepengurusan. Baca Juga: Jaga Tradisi 25 Tahun, UMM Perkuat Silaturahmi Bersama Insan Pers di Momen Ramadan “Berbagai program kerja sudah kami rancang dan banyak yang terlaksana untuk mahasiswa berdasarkan kebutuhan mereka,” tambahnya. Ia juga mengajak mahasiswa untuk lebih aktif dalam organisasi karena manfaat yang didapat cukup besar. “Pengalaman soft skill yang didapatkan akan menjadi bekal ke jenjang selanjutnya,” ungkapnya. Meski demikian, kebijakan ini tentu membutuhkan mekanisme yang jelas, terutama dalam penilaian dan penyaluran beasiswa agar tepat sasaran. Dengan langkah ini, UMM menunjukkan bahwa aktivitas organisasi mahasiswa bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi mulai menjadi bagian dari nilai prestasi yang diakui kampus.(*)
Mahasiswa UMM Terjun ke Industri Sawit, Siap Kerja Sejak Kuliah

Mahasiswa UMM Terjun ke Industri Sawit, Siap Kerja Sejak Kuliah pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus inovatif dengan menghadirkan program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit. Program ini membuka jalur cepat bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke dunia industri sejak masih kuliah. Salah satu peserta program, Novan Adhi Ramadhan, mahasiswa Teknik Industri UMM, merasakan transformasi besar dalam kompetensi dan kesiapan kerja. Sebelum mengikuti program CoE, Novan mengaku pemahamannya tentang industri masih terbatas pada teori dan simulasi di kelas. Namun, setelah lolos seleksi dan menjalani magang di PT Eagle High Plantations Tbk, ia merasakan langsung dinamika dunia kerja yang sesungguhnya. “Awalnya kaget dengan ritme kerja industri yang cepat dan penuh tekanan. Tapi justru di situ saya belajar banyak, dari alur produksi hingga evaluasi efisiensi kerja,” ungkapnya. Selama program berlangsung, Novan terlibat langsung dalam: Proses pengolahan bahan baku Pengendalian kualitas produksi Evaluasi efisiensi operasional Pengalaman ini membuatnya tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung di lapangan. Program CoE Kelapa Sawit dirancang dengan berbagai manfaat strategis bagi mahasiswa, di antaranya: Konversi SKS penuh dari kegiatan magang Pengalaman kerja nyata di industri besar Data langsung untuk tugas akhir Networking profesional eksklusif Portofolio kerja bernilai tinggi Dengan skema ini, mahasiswa dapat mempercepat kesiapan karier tanpa mengorbankan masa studi. Dosen penanggung jawab CoE Kelapa Sawit UMM, Baiq Firyal Salsabila Safitri, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia industri. “Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga siap bekerja, adaptif, dan mampu berkontribusi sejak hari pertama,” ujarnya. Program CoE Kelapa Sawit menjadi bukti bahwa kolaborasi antara kampus dan industri mampu menciptakan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Transformasi yang dialami mahasiswa seperti Novan menunjukkan bahwa pengalaman praktis adalah kunci utama dalam membangun karier di era industri modern. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Akademisi UMM Ingatkan Bahaya Heat Stroke di Tengah Cuaca Panas Ekstrem

Malangpariwara.com – Fenomena iklim ekstrem yang kerap disebut “El Nino Godzilla” membawa dampak signifikan berupa peningkatan suhu panas di berbagai wilayah. Kondisi ini menjadikan jalanan dan area terbuka berisiko tinggi bagi kesehatan, terutama bagi pekerja lapangan yang terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu lama. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep.,(ist) Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., mengingatkan bahwa ancaman serius yang mengintai di tengah cuaca panas ekstrem adalah heat stroke atau serangan panas. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur suhu secara normal, sehingga panas terperangkap di dalam tubuh. “Heat stroke jauh lebih berbahaya dibandingkan dehidrasi biasa. Pada kondisi ini, produksi keringat bisa berhenti, sehingga tubuh tidak mampu mendinginkan diri,” jelas Nur. Ia menambahkan, paparan suhu tinggi akibat fenomena El Nino menjadi faktor utama pemicu heat stroke. Risiko akan semakin meningkat jika seseorang mengalami kekurangan cairan, kurang istirahat, serta mengenakan pakaian yang tidak menyerap keringat. Menurutnya, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak fatal. “Pada tahap parah, heat stroke bisa menyebabkan kerusakan otak, gangguan fungsi organ, hingga memicu pingsan dan mengancam nyawa,” tegasnya. Kelompok pekerja lapangan seperti pengemudi ojek online, kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan menjadi pihak yang paling rentan. Selain durasi paparan panas yang tinggi, penggunaan perlengkapan kerja seperti jaket tebal dan helm tertutup juga memperburuk kondisi karena memerangkap panas di dalam tubuh. Sebagai langkah pencegahan, Nur menyarankan pekerja untuk selalu membawa air minum dan rutin mengonsumsi cairan tanpa menunggu rasa haus. Ia juga menekankan pentingnya istirahat di tempat teduh selama 20–30 menit, serta menghindari aktivitas berat pada jam rawan panas, yakni pukul 10.00 hingga 13.00. “Jika harus mengenakan jaket kerja, sebaiknya resleting dibuka sedikit agar sirkulasi udara tetap terjaga dan panas tubuh bisa keluar,” ujarnya. Selain itu, pekerja diminta lebih peka terhadap kondisi tubuh. Gejala seperti pusing, mual, lemas, dan kebingungan harus segera direspons dengan menghentikan aktivitas dan mencari tempat yang lebih sejuk. Nur juga mengingatkan pentingnya asupan nutrisi yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh. Di sisi lain, ia mendorong perusahaan agar lebih peduli terhadap keselamatan pekerja dengan menerapkan kebijakan yang adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem. “Perusahaan perlu mengatur jam kerja yang lebih fleksibel, menyediakan air minum yang cukup, serta memastikan adanya tempat istirahat yang layak dan tidak berada di area panas,” pungkasnya. Melalui edukasi preventif ini, diharapkan masyarakat, khususnya pekerja lapangan, dapat lebih waspada terhadap risiko heat stroke. Upaya sederhana namun konsisten diyakini mampu menekan angka kejadian dan melindungi kesehatan di tengah ancaman perubahan iklim global.(Djoko W)
Tak Sekadar Kuliah, FKIP UMM Tawarkan Kesempatan Mengajar Lintas Negara dan Beasiswa Jalur Internasional

Pengalaman belajar lintas budaya dan peluang mengajar di kancah global kini semakin mudah diakses oleh calon mahasiswa. Komitmen ini dibuktikan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui ajang Open House Internasional yang digelar pada Selasa (7/4/2026). Acara ini tidak hanya diikuti oleh siswa sekolah menengah atas dari berbagai sekolah mitra di Malang, tetapi juga dimeriahkan oleh kehadiran siswa internasional dari Attarkiah Islamiah Institute, Narathiwat, Thailand. Kehadiran para siswa disambut hangat oleh jajaran pimpinan FKIP UMM, di antaranya Dekan FKIP Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., Wakil Dekan I Dr. Husama, M.Pd., Wakil Dekan II Dr. Faizin, M.Pd., serta jajaran pimpinan program studi. Dalam sambutannya, Dekan FKIP menekankan bahwa jejaring internasional yang dibangun oleh FKIP UMM bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan dampak nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa. Salah satu program unggulannya adalah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional. “Sebagai bukti nyata komitmen internasionalisasi, FKIP UMM menawarkan kegiatan PLP di berbagai negara, salah satunya di Thailand. Kegiatan ini telah terlaksana sejak lama dan berjalan sukses, baik dalam bidang pendidikan maupun pengabdian oleh dosen-dosen FKIP UMM,” tegas Prof. Mahfud. Tidak hanya menawarkan pengalaman global, ajang ini juga dimanfaatkan untuk membedah peluang beasiswa, khususnya bagi calon mahasiswa internasional. Koordinator Program Mobilitas Internasional di International Relations Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd., memaparkan berbagai kemudahan akses pendidikan di Kampus Putih. Very menjelaskan sejumlah skema beasiswa bergengsi dari pemerintah Indonesia yang bisa diakses, seperti Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), dan Non-Alignment Movement (NAM) Scholarship. Selain itu, UMM juga memiliki jalur beasiswa mandiri bernama UMM SUMMIT Scholarship. “Beasiswa UMM SUMMIT ini seluruhnya dibiayai oleh kampus UMM dan terbagi dalam dua skema. Kategori A menawarkan pembebasan biaya kuliah penuh, biaya hidup (living allowance), dan program BIPA. Sementara Kategori B menawarkan pembebasan biaya kuliah dan program BIPA,” jelas Very. Rangkaian acara open house ini dirancang interaktif untuk memberikan gambaran utuh mengenai dunia pendidikan tinggi. Melalui sesi diskusi, presentasi program unggulan prodi, hingga campus tour, para peserta diajak melihat langsung fasilitas perkuliahan serta peluang pengembangan akademik dan non-akademik di FKIP UMM. Interaksi lintas budaya yang terjalin antara siswa lokal dan siswa dari Attarkiah Islamiah Institute Thailand selama acara berlangsung menjadi nilai tambah tersendiri. Lewat kegiatan ini, FKIP UMM berharap wawasan global para peserta dapat terbuka lebar, sekaligus semakin mempererat kerja sama pendidikan lintas negara di masa depan.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Akademisi UMM Peringatkan Ancaman El Nino Godzilla bagi Pekerja Lapangan

Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep. (Foto: Istimewa) Malang (beritajatim.com) – Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., memberikan peringatan bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi di bawah terik matahari. Penjelasan ini disampaikan menyusul fenomena iklim ekstrim El Nino Godzilla yang kini tengah melanda dan mengubah area terbuka menjadi zona bahaya bagi kesehatan manusia. Paparan suhu panas yang menyengat di berbagai wilayah memicu ancaman medis serius berupa heat stroke atau serangan panas, yang dapat berujung pada kematian bagi para pekerja luar ruangan. Nur Melizza menjelaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi medis darurat yang terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu internalnya. Kondisi ini jauh lebih berbahaya dibandingkan dehidrasi biasa karena mekanisme pendinginan alami tubuh mengalami kegagalan total. “Kondisi paling parah itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ. Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa,” tegas Nur dalam keterangannya di Malang, Selasa (7/4/2026). Menurutnya, saat serangan panas terjadi, produksi keringat akan terhenti total sehingga suhu panas terperangkap di dalam tubuh. Faktor pemicu utamanya adalah cuaca panas ekstrem akibat El Nino, yang diperparah jika seseorang kurang mengonsumsi air, kurang istirahat, serta menggunakan pakaian yang menghambat penguapan keringat. Risiko mematikan ini mengintai kelompok pekerja lapangan yang tidak memiliki pilihan selain beraktivitas di luar ruangan. Mereka adalah pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan (satpam). Nur menyoroti bahwa kerentanan ini tidak hanya disebabkan oleh durasi paparan sinar matahari, tetapi juga perlengkapan kerja yang dikenakan. Penggunaan jaket tebal bagi ojol dan kurir, atau helm keselamatan tertutup pada pekerja konstruksi, justru membuat suhu panas makin mudah terperangkap dan memanggang tubuh dari dalam. Untuk menekan angka fatalitas di tengah krisis iklim global ini, Nur Melizza membagikan langkah preventif krusial yang wajib diterapkan oleh pekerja lapangan. Pertama, hidrasi konsisten dengan membawa botol air minum berukuran sedang dan rutin meminum air putih. Jangan menunggu tenggorokan terasa haus untuk minum. Kedua, istirahat terjadwal, menyempatkan waktu istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh dan sejuk. Ketiga, hindari jam rawan, membatasi aktivitas fisik berat pada puncak suhu panas, yakni antara pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. “Cara lainnya dengan sirkulasi pakaian. Jika wajib mengenakan jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan ritsleting sedikit terbuka agar terjadi pertukaran udara. Segera hentikan seluruh aktivitas jika mulai merasakan gejala pusing, mual, lemas, atau kebingungan,” ujarnya. Selain kesadaran individu, Nur juga memberikan saran tegas kepada pihak korporasi agar lebih adaptif dalam melindungi nyawa karyawannya. Perusahaan didesak untuk memberikan fleksibilitas pada jam kerja dan menyediakan fasilitas pendukung di lapangan. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkasnya. (dan/ted)
5 Perguruan Tinggi Terbaik di Malang dengan Program Studi Pertanian

5 Perguruan Tinggi Terbaik di Malang dengan Program Studi Pertanian MEDAN AKTUAL – Kota Malang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Jawa Timur yang memiliki berbagai perguruan tinggi unggulan. Selain terkenal dengan iklimnya yang sejuk dan suasana akademik yang kondusif, Malang juga menjadi tujuan favorit calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu bidang studi yang cukup diminati di kota ini adalah pertanian. Hal tersebut tidak terlepas dari potensi sektor agraria di Jawa Timur yang besar serta kebutuhan akan tenaga profesional di bidang pangan, agribisnis, dan teknologi pertanian. Program studi pertanian di Malang berkembang seiring tuntutan zaman. Tidak hanya membahas teknik bercocok tanam, tetapi juga mencakup bioteknologi, manajemen agribisnis, ketahanan pangan, hingga inovasi pertanian berbasis teknologi. Berikut lima perguruan tinggi di Malang yang dikenal memiliki program studi pertanian berkualitas, dilansir dari laman Dosen Mahasiswa. 1. Universitas Brawijaya (UB) Universitas Brawijaya merupakan salah satu kampus negeri ternama di Indonesia. Fakultas Pertanian UB telah lama menjadi rujukan dalam pendidikan dan penelitian bidang agraria. Program studi yang ditawarkan meliputi Agroteknologi, Agribisnis, Ilmu Tanah, Proteksi Tanaman, hingga Teknologi Industri Pertanian. UB dikenal aktif melakukan riset dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan varietas unggul serta inovasi sistem pertanian berkelanjutan. Fasilitas laboratorium yang lengkap serta lahan praktik menjadi keunggulan tersendiri bagi mahasiswa. Selain itu, jejaring kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta membuka peluang magang dan penelitian yang luas. 2. Institut Pertanian Malang (IPM) Institut Pertanian Malang merupakan institusi yang secara khusus memfokuskan diri pada bidang pertanian dan pengembangannya. Kurikulum di IPM dirancang untuk menyeimbangkan teori dan praktik, sehingga lulusan diharapkan siap terjun ke dunia kerja maupun menjadi wirausahawan di sektor agribisnis. Program studi di IPM menekankan inovasi teknologi pertanian modern, termasuk penggunaan sistem irigasi cerdas dan pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan lahan. Kampus ini juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan usaha berbasis pertanian melalui inkubator bisnis yang tersedia. 3. Politeknik Pembangunan Pertanian Malang (Polbangtan Malang) Polbangtan Malang merupakan perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Pertanian yang fokus mencetak tenaga terampil di sektor pertanian. Sistem pendidikan di Polbangtan lebih menitikberatkan pada praktik lapangan dibandingkan teori di kelas. Mahasiswa Polbangtan dibekali keterampilan teknis, seperti budidaya tanaman pangan, hortikultura, serta manajemen penyuluhan pertanian. Lulusan kampus ini banyak berkontribusi sebagai penyuluh pertanian, teknisi lapangan, maupun pengusaha agribisnis. Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi menjadi nilai tambah bagi institusi ini. 4. Universitas Islam Malang (UNISMA) Universitas Islam Malang juga memiliki Fakultas Pertanian yang cukup diperhitungkan. Kampus ini mengintegrasikan ilmu pertanian dengan nilai-nilai keislaman, sehingga mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat. Program studi seperti Agroteknologi dan Agribisnis menjadi andalan UNISMA. Selain itu, kampus ini aktif melakukan penelitian terkait pertanian organik dan pengembangan usaha tani berbasis masyarakat. Lingkungan akademik yang religius dan kondusif menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa. 5. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Universitas Muhammadiyah Malang termasuk perguruan tinggi swasta besar yang memiliki reputasi nasional. Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM menawarkan program studi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian modern. UMM mendorong mahasiswa untuk berinovasi melalui program kewirausahaan dan penelitian terapan. Fasilitas laboratorium, kebun percobaan, serta kerja sama internasional menjadi faktor pendukung kualitas pendidikan di kampus ini. Selain itu, UMM juga aktif dalam pengembangan pertanian ramah lingkungan. Kesimpulan Malang menjadi salah satu kota terbaik untuk menempuh pendidikan di bidang pertanian. Lima perguruan tinggi yang telah disebutkan memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing, mulai dari universitas riset, institusi berbasis vokasi, hingga kampus swasta yang inovatif. Calon mahasiswa dapat memilih sesuai minat, kebutuhan, dan rencana karier di masa depan. Dengan perkembangan teknologi dan tantangan ketahanan pangan global, peran lulusan pertanian semakin strategis. Memilih kampus yang tepat akan membantu mahasiswa memperoleh kompetensi yang relevan serta peluang karier yang luas di sektor agraria dan agribisnis.
Soroti Komunikasi Publik Pemerintah, Akademisi UMM Ingatkan RI Masuk Jebakan Krisis Energi

Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’ sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” tegas Fitri pada Selasa (7/4) kepada Tim Humas UMM. Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Hal ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Untuk meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” paparnya. Lantas, apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fitri menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis: manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” pungkas Fitri.(alg/faq) Penulis: Mushtafa Akmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Fenomena El Nino Godzilla, akademisi ingatkan ancaman heat stroke

Bisnis.com, MALANG — Fenomena iklim “El Nino Godzilla” tengah mengubah area terbuka menjadi zona bahaya akibat paparan suhu panas yang sangat ekstrem berupa ancaman fatal bernama heat stroke (serangan panas) yang mengintai nyawa para pekerja di luar ruangan. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nur Melizza mengatakan kelompok pekerja seperti pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan (satpam) kini berada di garis terdepan risiko heat stroke. “Heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu,” kata Nur Melizza, Selasa (7/4/2026). Dia menambahkan kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa. Suhu panas dari luar terus menumpuk di dalam tubuh yang berakibat produksi keringat terhenti total dan panas terperangkap. Fenomena El Nino Godzilla menjadi faktor utama pemicu cuaca panas ekstrem ini. Risiko tersebut akan makin parah jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, serta memakai pakaian yang tidak menyerap keringat. “Kondisi paling parah itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ. Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa,” ucap Nur mengingatkan besarnya bahaya El Nino Godzilla. Lebih lanjut, Nur menyoroti mengapa kelompok pekerja lapangan sangat rentan menjadi korban. Selain karena terus terpapar sinar matahari secara langsung selama berjam-jam, kewajiban mereka untuk memakai perlengkapan kerja seperti jaket tebal bagi ojol dan kurir, atau helm tertutup pada pekerja konstruksi membuat suhu panas makin mudah terperangkap dan memanggang tubuh dari dalam. Untuk menghindari bahaya mematikan ini, dia memberikan sejumlah kiat pencegahan. Yang paling utama pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Dia menyarankan untuk rutin minum air putih dan jangan pernah menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga wajib menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh. Sebisa mungkin batasi aktivitas fisik berat pada jam rawan panas, yakni pukul 10.00 pagi hingga 13.00. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka. Tujuannya agar panas tubuh bisa bertukar lebih mudah dengan udara luar,” jelasnya. Fenomena El Nino Godzilla, Akademisi Ingatkan Ancaman Heat Stroke Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza. Istimewa Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga harus diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi. Pada akhir penjelasannya, Nur memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur. Dia berharap edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan. Dengan pemahaman yang tepat, mereka tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa harus mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem.
Bahaya Cuaca Panas Bagi Pekerja Lapangan

Ilustrasi cuaca panas Sketsamalang.com – Fenomena El Nino dengan suhu panas ekstrem meningkatkan risiko kesehatan serius bagi masyarakat, terutama pekerja lapangan. Akademisi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., mengingatkan potensi fatal heat stroke yang mengintai para pekerja yang beraktivitas di bawah terik matahari. Kelompok rentan meliputi pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan. Mereka harus bekerja di ruang terbuka dalam waktu lama, sehingga berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan panas berlebih. Nur menjelaskan, heat stroke merupakan kondisi serius ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu secara normal. Kondisi ini lebih berbahaya dibandingkan dehidrasi biasa karena panas terperangkap di dalam tubuh akibat berhentinya produksi keringat. “Dalam kondisi parah, heat stroke dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan organ, hingga pingsan yang mengancam nyawa,” ujarnya. Akademisi Keperawatan UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep. Menurutnya, risiko semakin meningkat jika pekerja kurang mengonsumsi cairan, minim waktu istirahat, serta mengenakan pakaian yang tidak menyerap keringat. Selain itu, perlengkapan kerja seperti jaket tebal dan helm tertutup juga dapat memperparah kondisi karena memerangkap panas di dalam tubuh. Untuk mencegah heat stroke, Nur menyarankan pekerja lapangan agar selalu membawa air minum dan mengonsumsi cairan secara rutin tanpa menunggu rasa haus. Ia juga menganjurkan istirahat selama 20–30 menit di tempat teduh serta membatasi aktivitas berat pada pukul 10.00 hingga 13.00. “Jika harus mengenakan jaket, sebaiknya resleting dibuka sedikit agar sirkulasi udara tetap berjalan,” jelasnya. Selain itu, pekerja diminta lebih peka terhadap kondisi tubuh. Gejala seperti pusing, mual, lemas, hingga kebingungan harus segera direspons dengan menghentikan aktivitas dan mencari tempat yang lebih sejuk. Tak hanya pekerja, Nur juga mendorong perusahaan untuk mengambil peran dalam melindungi karyawan. Ia menyarankan kebijakan kerja yang lebih fleksibel, penyediaan air minum yang cukup, serta fasilitas tempat istirahat yang layak. “Perusahaan perlu memastikan pekerja tidak beristirahat di tempat panas dan memiliki akses perlindungan yang memadai,” tegasnya. Ia berharap edukasi ini dapat menekan angka kasus heat stroke di tengah ancaman perubahan iklim global. Dengan langkah pencegahan sederhana namun konsisten, pekerja lapangan tetap dapat menjalankan aktivitas secara aman tanpa mengorbankan kesehatan.
Fenomena El Nino Godzilla Ancam Pekerja Luar Ruangan dengan Heat Stroke

Fenomena iklim “El Nino Godzilla” tengah mengubah area terbuka menjadi zona bahaya akibat paparan suhu panas yang sangat ekstrem berupa ancaman fatal bernama heat stroke (serangan panas) yang mengintai nyawa para pekerja di luar ruangan. ANTARA FOTO/Sul BERITA JEJAK FAKTA – enomena iklim El Nino Godzilla menyebabkan suhu panas ekstrem, mengubah area terbuka menjadi zona berbahaya. Kondisi ini secara serius mengancam nyawa para pekerja di luar ruangan karena paparan panas yang berlebihan dapat memicu serangan fatal yang dikenal sebagai heat stroke. Nur Melizza, seorang dosen Keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti bahwa kelompok pekerja tertentu berada pada garis depan risiko ini. Mereka termasuk pengemudi ojek daring, kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, dan petugas keamanan. “Heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu,” terang Nur Melizza pada Selasa (7/4/2026), seperti dilansir dari Surabaya. Ia menambahkan bahwa kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa. Suhu panas dari lingkungan akan terus menumpuk di dalam tubuh, menghentikan produksi keringat secara total, dan akibatnya panas terperangkap. El Nino Godzilla menjadi pemicu utama cuaca panas ekstrem ini. Risiko heat stroke akan semakin meningkat jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, atau menggunakan pakaian yang tidak mampu menyerap keringat dengan baik. Kondisi paling parah dari heat stroke dapat menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ tubuh. Nur Melizza mengingatkan, “Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa.” Ini menegaskan betapa berbahayanya El Nino Godzilla bagi kesehatan manusia. Kelompok pekerja lapangan sangat rentan menjadi korban karena beberapa faktor. Selain paparan sinar matahari langsung selama berjam-jam, mereka juga sering diwajibkan memakai perlengkapan kerja yang tebal. Misalnya, jaket untuk pengemudi ojek online dan kurir, atau helm tertutup bagi pekerja konstruksi. Perlengkapan ini justru membuat suhu panas lebih mudah terperangkap dan ‘memanggang’ tubuh dari dalam. Kiat Pencegahan dan Peran Perusahaan Untuk menghindari bahaya mematikan ini, Nur Melizza memberikan sejumlah kiat pencegahan. Hal paling utama adalah pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Ia menyarankan untuk rutin minum air putih dan tidak menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga disarankan untuk menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh. Pembatasan aktivitas fisik berat juga penting pada jam rawan panas, yaitu antara pukul 10.00 pagi hingga 13.00. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka,” jelasnya. Tujuannya adalah agar panas tubuh dapat bertukar lebih mudah dengan udara luar. Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan mengalami kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga perlu diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi yang cukup. Pada akhir penjelasannya, Nur Melizza juga memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur. Edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan, memungkinkan mereka menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem