Universitas Muhammadiyah Malang Buka Beasiswa Khusus Aktivis Kampus, Tertarik?

goodnews – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merencanakan skema beasiswa khusus bagi para aktivis kampus. Kebijakan ini bertujuan untuk mengikis stigma negatif bahwa aktif di organisasi hanya membuang waktu dan menunda kelulusan, sekaligus memberikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa. Kampus berjuluk Kampus Putih ini berkomitmen untuk mengategorikan keaktifan di BEM, Senat, HMJ, hingga UKM sebagai sebuah prestasi yang layak mendapatkan dukungan finansial dan akademis. ”Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” kata Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki. Tak hanya dukungan materi, UMM juga akan memberikan fasilitas pendampingan intensif bagi setiap inisiatif mahasiswa. Hal ini mencakup pengawalan terhadap Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan untuk memastikan dampak positif bagi masyarakat. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan minat mahasiswa untuk berkecimpung di organisasi tanpa perlu khawatir akan ketertinggalan secara akademis. Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 TNI AU dirayakan hari ini, Kamis (9/4/2026). Dalam rangka memperingati momen bersejarah tersebut, beberapa aktivitas upacara ziarah ke taman makam pahlawan (TMP) telah dilaksanakan. Dilansir dari rilis TNI AU, Pangkalan TNI AU Lanud Sutan Sjahrir mengadakan Upacara Ziarah Rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Negara, Padang, Sumatra Barat, pada Rabu (8/4/2026). Aktivitas tersebut bertujuan sebagai wujud penghormatan bagi para pahlawan bangsa yang telah gugur demi membela negara. Selain itu, juga sebagai pengingat untuk segenap keluarga besar TNI AU dan prajuritnya agar senantiasa menjunjung nilai pengorbanan, pantang menyerah, dan perjuangan selama melaksanakan pengabdian. Adapun di hari yang sama, upacara ziarah dan tabur bunga juga dijalankan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kesuma Trikora Waena, Jl. Raya Abepura, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Adapun rangkaian kegiatan Upacara Ziarah HUT TNI AU ke-80 diisi dengan: Penghormatan kepada arwah para pahlawan Mengheningkan cipta, serta Peletakan karangan bunga oleh inspektur upacara sebagai simbol penghargaan atas jasa-jasa para pejuang bangsa. Sejarah lahirnya TNI AU pada 9 April sendiri bermula dari pembentukan organisasi Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945. Setelah melalui berbagai transformasi, pada 9 April 1946, lahirlah Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang kini diperingati setiap tahun sebagai Hari TNI AU. Pernah menjadi pasukan udara yang paling disegani di Asia Tenggara, TNI AU awalnya ‘hanya’ bermodalkan pesawat rampasan dari Jepang dengan ahli yang juga sangat terbatas.

Mahasiswa UMM Ciptakan Matahari Homecare, Solusi Layanan Kesehatan Tanpa ke Rumah Sakit

INDOZONE.ID – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dari Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) dan Fakultas Kedokteran (FK) membuat inovasi layanan kesehatan bernama Matahari Komecare. Ide tersebut muncul dari berbagai tantangan yang dirasakan masyarakat terhadap akses menuju rumah sakit. Berbagai kendala seperti sulitnya bergerak karena faktor usia atau penyakit, hingga keterbatasan biaya, sering kali membuat seseorang mengurungkan niatnya untuk berobat. Matahari Homecare adalah program perawatan kesehatan di rumah yang dirancang khusus untuk membantu proses pemulihan, menjaga kebugaran, hingga meningkatkan kemandirian pasien di lingkungan mereka sendiri. Program ini merupakan bagian dari upaya pemberian layanan kesehatan yang menyeluruh, terutama bagi keluarga yang memerlukan pendampingan medis jangka panjang tanpa harus bolak-balik ke rumah sakit. Kerja sama lintas disiplin ilmu mahasiswa UMM memastikan bahwa layanan yang diberikan memiliki standar keilmuan kuat dan berdampak bagi warga. Selain itu, program tersebut juga menggandeng lembaga Rumah Zakat untuk menjangkau masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas. Melalui kemitraan strategis ini, warga yang kurang mampu tetap bisa mendapatkan perawatan medis berkualitas tanpa harus terbebani oleh biaya yang tinggi. Salah satu layanan yang menjadi andalan adalah fisioterapi. Layanan ini ditujukan bagi pasien yang membutuhkan pemulihan fisik secara rutin, seperti penderita pascastroke atau mereka yang memiliki gangguan gerak lainnya. Dengan dilakukan di rumah, pasien dapat menjalani terapi dengan lebih tenang, konsisten, dan efektif karena berada di lingkungan yang akrab bagi mereka. Rakhmad Rosadi, selaku penanggung jawab (PIC) Matahari Homecare, menegaskan bahwa inisiatif yang dilakukan adalah wujud nyata komitmen dalam mempermudah akses kesehatan. “Tidak semua pasien memiliki kemampuan untuk datang langsung ke fasilitas kesehatan, baik karena keterbatasan mobilitas, kondisi penyakit, maupun faktor ekonomi. Dengan pelayanan di rumah, pasien tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan secara optimal,” jelasnya. Lebih lanjut, Rakhmad menuturkan bahwa kolaborasi dengan Rumah Zakat adalah langkah penting untuk membawa misi kemanusiaan. Tidak hanya memberikan pengobatan medis, tetapi juga menunjukkan kepedulian sosial terhadap sesama. Matahari Homecare diharapkan menjadi jawaban bagi masyarakat yang mendambakan layanan kesehatan yang ramah, mudah dijangkau, dan berkualitas. Program tersebut membuktikan bahwa pelayanan kesehatan terbaik adalah yang mampu hadir di saat dan tempat pasien paling membutuhkannya. Matahari Homecare diharapkan menjadi jawaban bagi masyarakat yang mendambakan layanan kesehatan yang ramah, mudah dijangkau, dan berkualitas. Program tersebut membuktikan bahwa pelayanan kesehatan terbaik adalah yang mampu hadir di saat dan tempat pasien paling membutuhkannya.

FKIP UMM Tawarkan Kesempatan Mahasiswa Mengajar Lintas Negara dan Beasiswa Jalur Internasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan kesempatan kepada mahasiswanya untuk menjadi pengajar lintas negara hingga beasiswa jalur internasional. Kabar baik ini disampaikan dalam Open House Internasional yang digelar pada Selasa (7/4/2026). Acara ini diikuti oleh siswa sekolah menengah atas dari berbagai sekolah mitra di Malang, dan dimeriahkan juga dengan kehadiran siswa internasional dari Attarkiah Islamiah Institute, Narathiwat, Thailand. Melalui acara ini terungkap bahwa pengalaman belajar lintas budaya dan peluang mengajar di kancah global kini semakin mudah diakses oleh calon mahasiswa UMM. Kehadiran para siswa disambut hangat oleh jajaran pimpinan FKIP UMM, di antaranya Dekan FKIP Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., Wakil Dekan I Dr. Husama, M.Pd., Wakil Dekan II Dr. Faizin, M.Pd., serta jajaran pimpinan program studi. Melalui sambutannya, Dekan FKIP menekankan bahwa jejaring internasional yang dibangun oleh FKIP UMM bukan sekadar formalitas, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pengembangan kompetensi mahasiswa. Salah satu program unggulannya adalah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional. “Sebagai bukti nyata komitmen internasionalisasi, FKIP UMM menawarkan kegiatan PLP di berbagai negara, salah satunya di Thailand. Kegiatan ini telah terlaksana sejak lama dan berjalan sukses, baik dalam bidang pendidikan maupun pengabdian oleh dosen-dosen FKIP UMM,” ungkap Prof. Mahfud. Selain menawarkan pengalaman global, ajang ini juga dimanfaatkan untuk membedah peluang beasiswa, khususnya bagi calon mahasiswa internasional. Koordinator Program Mobilitas Internasional di International Relations Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd., memaparkan berbagai kemudahan akses pendidikan di Kampus Putih. Very menjelaskan sejumlah skema beasiswa bergengsi dari pemerintah Indonesia yang bisa diakses, seperti Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship, The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), dan Non-Alignment Movement (NAM) Scholarship. Selain itu, UMM juga memiliki jalur beasiswa mandiri bernama UMM SUMMIT Scholarship. “Beasiswa UMM SUMMIT ini seluruhnya dibiayai oleh kampus UMM dan terbagi dalam dua skema. Kategori A menawarkan pembebasan biaya kuliah penuh, biaya hidup (living allowance), dan program BIPA. Sementara Kategori B menawarkan pembebasan biaya kuliah dan program BIPA,” tutur Very. Rangkaian acara open house ini dirancang interaktif untuk memberikan gambaran utuh mengenai dunia pendidikan tinggi. Melalui sesi diskusi, presentasi program unggulan prodi, hingga campus tour, para peserta diajak melihat langsung fasilitas perkuliahan serta peluang pengembangan akademik dan non-akademik di FKIP UMM. Interaksi lintas budaya yang terjalin antara siswa lokal dan siswa dari Attarkiah Islamiah Institute Thailand selama acara berlangsung menjadi nilai tambah tersendiri. Lewat kegiatan ini, FKIP UMM berharap wawasan global para peserta dapat terbuka lebar, sekaligus semakin mempererat kerja sama pendidikan lintas negara di masa depan. ***

Jangan Remehkan El Nino Godzilla, Akademisi UMM: Heat Stroke Ancam Pekerja Lapangan

MALANG POST – Fenomena iklim “El Nino Godzilla” tengah mengubah jalanan dan area terbuka menjadi zona bahaya akibat paparan suhu panas yang sangat ekstrem. Di balik teriknya matahari, ancaman fatal bernama heat stroke (serangan panas) mengintai nyawa para pekerja yang tak punya pilihan selain beraktivitas di luar ruangan. Kelompok pekerja seperti pengemudi ojek online (ojol), kurir ekspedisi, pekerja konstruksi, petani, hingga petugas keamanan (satpam) kini berada di garis depan risiko mematikan tersebut. Merespons urgensi keselamatan ini, Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nur Melizza, S.Kep., Ns., M.Kep., membagikan panduan krusial agar para pahlawan lapangan ini mampu melindungi diri dan tetap aman. Nur menjelaskan bahwa heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan otomatis untuk mengatur suhu. Kondisi medis ini jauh lebih parah daripada dehidrasi biasa. Suhu panas dari luar terus menumpuk di dalam tubuh. Akibatnya, produksi keringat terhenti total dan panas terperangkap. Faktor pemicu utamanya tentu saja adalah cuaca panas ekstrem dari fenomena El Nino. Risiko ini akan makin parah jika seseorang kurang minum, kurang istirahat, serta memakai pakaian yang tidak menyerap keringat. “Kondisi paling parah itu bisa menyebabkan kerusakan otak dan gangguan fungsi organ. Tubuh kekurangan oksigen dan bisa memicu pingsan hingga mengancam nyawa,” tegas Nur mengingatkan besarnya bahaya kondisi tersebut. Lebih lanjut, Nur menyoroti mengapa kelompok pekerja lapangan tersebut sangat rentan. Selain karena terus terpapar sinar matahari secara langsung selama berjam-jam, kewajiban mereka untuk memakai perlengkapan kerja. Seperti jaket tebal bagi ojol dan kurir, atau helm tertutup pada pekerja konstruksi membuat suhu panas makin mudah terperangkap dan memanggang tubuh dari dalam. Untuk menghindari bahaya mematikan ini, Nur memberikan sejumlah kiat pencegahan. Pekerja wajib membawa persediaan air minum berukuran sedang setiap kali bekerja. Sangat disarankan untuk rutin minum air putih dan jangan pernah menunggu sampai tenggorokan terasa haus. Pekerja juga wajib menyempatkan istirahat sekitar 20 hingga 30 menit di tempat yang teduh. Sebisa mungkin batasi aktivitas fisik berat pada jam rawan panas, yakni pukul 10.00 pagi hingga 13.00 siang. “Jika harus memakai jaket sesuai aturan perusahaan, biarkan resleting sedikit terbuka. Tujuannya agar panas tubuh bisa bertukar lebih mudah dengan udara luar,” jelasnya. Peka terhadap sinyal tubuh adalah kunci utama keselamatan pekerja lapangan. Segera hentikan aktivitas jika tubuh mulai merasa pusing, mual, lemas, atau bahkan kebingungan. Selain menjaga asupan cairan, nutrisi makanan juga harus diperhatikan agar tubuh memiliki cadangan energi. Pada akhir penjelasannya, Nur memberikan saran tegas kepada pihak korporasi. Kebijakan tempat kerja harus adaptif demi menyelamatkan nyawa karyawannya. “Perusahaan mohon mengatur jam kerja yang lebih fleksibel. Sediakan juga air minum yang cukup dan berikan tempat istirahat yang layak, jangan dibiarkan istirahat di tempat panas,” pungkas Nur. Terakhir, ia berharap edukasi preventif ini diharapkan mampu menekan angka fatalitas di tengah ancaman krisis iklim global. Upaya sederhana namun konsisten diyakini dapat menjadi pelindung utama bagi pekerja lapangan. Dengan pemahaman yang tepat, mereka tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara aman tanpa harus mengorbankan kesehatan di tengah paparan panas ekstrem.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Berikan Beasiswa dan Pengakuan Prestasi bagi Mahasiswa Aktivis

koranmanado – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah proaktif untuk mengatasi pandangan negatif yang kerap melekat pada aktivisme kampus, yaitu anggapan bahwa kegiatan tersebut menghambat kelulusan. Kampus berjuluk Kampus Putih ini berencana memberikan apresiasi kepada para penggerak organisasi mahasiswa melalui skema beasiswa khusus serta pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi. Inisiatif signifikan ini diumumkan dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM pada Sabtu (4/4/2026). Acara yang awalnya bertujuan sebagai ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri tersebut, berubah menjadi platform penyampaian kabar baik bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) di lingkungan UMM, demikian dilansir dari Edukasi. Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyampaikan komitmen universitas untuk mengubah paradigma mengenai peran aktivis. Menurutnya, kontribusi yang diberikan oleh mahasiswa aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset berharga yang mendukung reputasi institusi. “Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Nur Subeki, seperti dikutip dari laman UMM pada Selasa (7/4/2026). Lebih lanjut, Nur Subeki menjelaskan bahwa keaktifan mahasiswa di organisasi akan dikategorikan sebagai bentuk prestasi. Pihak universitas meyakini bahwa berkiprah di berbagai organisasi adalah pencapaian luar biasa yang patut diapresiasi. Selain dukungan materi, UMM juga berkomitmen menyediakan fasilitas pendampingan. Kampus akan mendampingi setiap inisiatif mahasiswa, termasuk dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), mulai dari tahap perencanaan hingga implementasi di lapangan. Respons Positif dari Mahasiswa Kebijakan baru ini mendapatkan sambutan hangat dari Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal. Ia menilai langkah ini sebagai solusi strategis atas dilema yang sering dihadapi mahasiswa dalam menyeimbangkan antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab di organisasi. “Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Dia optimistis bahwa adanya beasiswa bagi pengurus ormawa akan meningkatkan minat mahasiswa dalam berorganisasi, mengingat pengalaman berorganisasi membentuk keterampilan lunak (soft skill) yang tidak diperoleh di kelas. Senada dengan Wahyuddin, Siti Aminah, perwakilan UKM yang turut hadir, mengaku lega dengan adanya kebijakan ini. Ia merasa peran aktivis yang selama ini cenderung ‘bekerja di balik layar’ akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti. Dengan adanya beasiswa dan pengakuan resmi ini, para aktivis UMM diharapkan tidak hanya berhasil sebagai sarjana secara akademik. Mereka juga diharapkan mampu tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian dan integritas tinggi, siap berkontribusi bagi masyarakat.

UMM Beri Beasiswa dan Pengakuan Prestasi bagi Mahasiswa Aktivis

readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah maju untuk menghapus pandangan negatif yang kerap melekat pada aktivis kampus. Kebanyakan orang sering menganggap bahwa keterlibatan dalam organisasi hanya akan menghabiskan waktu dan menunda kelulusan mahasiswa. Perguruan tinggi yang dikenal sebagai Kampus Putih ini berencana memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang aktif berorganisasi melalui skema beasiswa khusus. Selain itu, kiprah mereka juga akan diakui sebagai bentuk prestasi mahasiswa. Rencana strategis ini muncul dalam acara Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM. Acara tersebut berlangsung di Convention Hall Sengkaling Kuliner pada Sabtu, 4 April 2026, seperti dilansir dari Edukasi. Forum yang awalnya diadakan sebagai ajang silaturahmi setelah Idul Fitri ini, kemudian berubah menjadi wadah penyampaian kabar baik bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) yang hadir. Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyampaikan komitmen universitas untuk mengubah pandangan terhadap aktivis. Menurutnya, kontribusi mahasiswa yang aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), merupakan aset penting bagi reputasi universitas. “Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Subeki, yang juga dikutip dari laman UMM pada Selasa, 7 April 2026. Subeki menambahkan, ke depannya, keaktifan mahasiswa ini akan dikategorikan sebagai prestasi. Dia percaya bahwa partisipasi aktif dalam organisasi merupakan pencapaian yang luar biasa. Selain dukungan finansial, UMM juga berkomitmen menyediakan fasilitas pendampingan. Pihak kampus akan mendampingi setiap inisiatif mahasiswa, termasuk dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Respons Positif dari Mahasiswa dan Pengurus Organisasi Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyambut baik kebijakan baru ini. Ia melihat langkah universitas sebagai solusi atas dilema yang sering dihadapi mahasiswa, yaitu tantangan dalam menyeimbangkan antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab organisasi. “Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Dengan adanya beasiswa bagi para pengurus ormawa, Wahyuddin optimistis bahwa minat mahasiswa untuk berorganisasi akan meningkat signifikan. Menurutnya, berorganisasi merupakan bentuk pengembangan soft skill yang tidak didapatkan di dalam kelas. Senada dengan Wahyuddin, perwakilan UKM, Siti Aminah, mengungkapkan rasa leganya terhadap kebijakan ini. Ia merasa bahwa peran aktivis yang selama ini sering dianggap bekerja di balik layar akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti. Melalui dukungan beasiswa dan pengakuan resmi ini, para aktivis UMM diharapkan tidak hanya lulus sebagai sarjana secara akademik. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian serta integritas yang tinggi.

pwmu.co – Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak dunia, Indonesia dihadapkan pada ancaman serius berupa jebakan krisis energi. Tekanan inflasi serta pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi dilematis antara menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal.Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Fitri Rusdianasari, menyebut kondisi ini sebagai jebakan krisis energi—situasi di mana setiap kebijakan publik yang diambil memiliki risiko ekonomi yang sama besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan sekaligus. Menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas fiskal sering kali menjadi trade-off,” ujarnya, Selasa (7/4). Fitri menjelaskan bahwa krisis energi memicu efek domino yang luas. Kenaikan harga energi sebagai komponen utama produksi akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sehingga memicu inflasi yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan. Untuk meredam gejolak tersebut, pemerintah umumnya mengandalkan subsidi energi. Namun, kebijakan ini dinilai hanya efektif dalam jangka pendek. “Subsidi memang bisa menjadi tameng sementara. Tetapi jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala besar bisa menjadi beban fiskal serius bahkan memicu lonjakan utang,” jelasnya. Menurut Fitri, pencabutan subsidi secara drastis bukanlah solusi, karena berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi di tingkat masyarakat bawah. Jalan tengah yang paling rasional adalah melakukan transformasi kebijakan subsidi. Subsidi berbasis komoditas perlu dialihkan menjadi subsidi langsung yang lebih tepat sasaran, sehingga perlindungan sosial tetap berjalan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lebih lanjut, Fitri menilai Indonesia sebenarnya sudah berada dalam fase awal jebakan krisis energi. Meski saat ini masih ditopang oleh bantalan fiskal (fiscal buffer), kondisi tersebut tidak bisa diandalkan dalam jangka panjang. “Kita masih punya buffer, tetapi ada batasnya. Diperlukan langkah strategis, termasuk percepatan transisi menuju energi baru terbarukan agar tidak terus bergantung pada energi fosil,” ungkapnya. Selain aspek kebijakan ekonomi, Fitri juga menyoroti pentingnya komunikasi publik pemerintah dalam menghadapi krisis. Ia menilai informasi yang tidak jelas dapat memicu kepanikan di masyarakat. “Komunikasi publik yang transparan dan satu pintu sangat penting. Jika masyarakat memahami kebijakan pemerintah, maka panic buying dan kelangkaan semu bisa dicegah,” pungkasnya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Jalur Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit, Jalur Cepat Bangun Karir

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*)

Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

Program CoE Kelapa Sawit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong mahasiswa terjun langsung ke industri, mengasah keterampilan praktis, sekaligus membangun portofolio dan jejaring profesional sejak masa kuliah. Tagar.co – Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi dari yang semula “belum bisa” menjadi “kompeten” ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang sebagai kampus inovatif, mandiri, dan berdampak. Baca juga: UMM Meluncurkan Identitas Baru sebagai Kampus Islami Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM menghadirkan pendekatan pembelajaran yang progresif dengan menempatkan mahasiswa langsung di jantung industri sejak masih kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, menjadi salah satu contoh keberhasilan program tersebut. Sebelum mengikuti CoE pada semester lima, ia mengaku pemahamannya tentang dunia industri masih terbatas pada teori dan simulasi di kelas. Ia merasa belum siap menghadapi kompleksitas operasional di dunia kerja yang sesungguhnya. Perubahan besar terjadi ketika ia lolos seleksi ketat program CoE dan menjalani magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk. Di perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional itu, Novan mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan. Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal “Awalnya saya kaget dengan ritme kerja industri yang cepat, penuh tekanan, dan sangat dinamis dibandingkan suasana kampus. Sempat merasa tertinggal karena semuanya berbasis praktik lapangan. Namun justru di situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi. Dari hanya memahami teori sistem produksi, saya akhirnya bisa melihat langsung alur pengolahan bahan baku, pengendalian mutu secara presisi, hingga evaluasi efisiensi kerja di lapangan,” ujar Novan saat diwawancarai 6 April 2026. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari ekosistem CoE yang dirancang komprehensif dan aplikatif. Program ini memberikan berbagai keuntungan bagi mahasiswa, salah satunya konversi Satuan Kredit Semester (SKS) secara penuh. Dengan demikian, seluruh aktivitas magang diakui sebagai bagian dari pembelajaran formal tanpa menghambat masa studi. Selain itu, pengalaman menyelesaikan permasalahan nyata di industri menjadi bekal berharga untuk penyusunan tugas akhir berbasis studi kasus. Mahasiswa juga memperoleh akses jaringan profesional yang luas serta portofolio kerja yang memiliki nilai jual tinggi di dunia kerja. Dosen Penanggung Jawab CoE Kelapa Sawit UMM, Baiq Firyal Salsabila Safitri, menegaskan bahwa kolaborasi antara akademik dan praktik industri menjadi kunci utama dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Baca Juga:  Kenangan bersama Mas Mirdasy, Kematian Hadiah bagi Orang Beriman “Kehadiran CoE Kelapa Sawit merupakan bentuk komitmen UMM dalam mencetak lulusan yang unggul dan relevan dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga talenta tangguh yang adaptif, kompeten, dan siap berkontribusi sejak hari pertama bekerja,” ujarnya. Melalui program ini, UMM terus menunjukkan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata sebagai jembatan menuju dunia profesional. (#)

Akademisi UMM Ingatkan RI Masuk Jebakan Krisis Energi dan Soroti Komunikasi Publik Pemerintah

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., memperingatkan bahwa Indonesia sedang masuk jebakan krisis energi dan menyoroti komunikasi publik dari pemerintah saat situasi ini terjadi. Akademisi UMM ini membagikan pendapatnya tentang eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, yang turut memengaruhi Indonesia. Eskalasi konflik ini membuat Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Pada satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Fitri Rusdianasari menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’, yakni sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” ungkap Fitri kepada Tim Humas UMM (7/4) yang diterima JSN, Rabu (8/4). Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Agar dapat meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” jelasnya. Apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” lanjutnya. Krisis energi akibat gejolak konflik global dapat menjebak Indonesia dalam kebijakan nasional yang sulit./dok. Istimewa Fitri juga menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis yaitu manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” tandas Fitri. Seperti yang diketahui saat ini, terjadi ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026. Letusan konflik ini kemudian memicu keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz yang merupakan salah satu jantung peredaran 20 persen minyak dan gas dunia. Imbasnya, Indonesia juga dibayangi oleh potensi krisis energi akibat konflik geopolitik antara Iran dengan AS dan Israel ini. Inilah yang membuat salah satu pakar dari UMM, yakni Fitri Rusdianasari turut buka suara sembari berharap situasi ini dapat segera berakhir dan Indonesia keluar dari ancaman krisis energi. ***