CoE Kelapa Sawit UMM Permudah Mahasiswa Terjun ke Dunia Industri

KLIKMU.CO — Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi dari yang awalnya belum bisa menjadi kompeten ini menjadi wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak pola pembelajaran konvensional dengan menerjunkan mahasiswa langsung ke dunia industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, menjadi salah satu bukti keberhasilan program tersebut. Sebelum mengikuti CoE pada semester lima, ia mengaku pemahamannya tentang dunia industri masih terbatas pada teori dan simulasi di kelas. Ia merasa belum siap menghadapi kompleksitas operasional di lapangan. Namun, semuanya berubah setelah ia lolos seleksi dan menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami peningkatan kompetensi yang signifikan. “Awalnya kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, penuh tekanan, dan dinamis dibandingkan kampus. Sempat merasa kesulitan mengikuti alurnya karena semuanya berbasis praktik. Namun, di situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi. Dari yang awalnya hanya memahami teori sistem produksi, saya akhirnya bisa melihat langsung alur pengolahan bahan baku, pengendalian kualitas, hingga evaluasi efisiensi kerja di lapangan,” ungkap Novan, Senin (6/4/2026). Keberhasilan tersebut tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar komprehensif. Salah satu keunggulannya adalah konversi SKS secara penuh, sehingga aktivitas magang diakui sebagai bagian dari pembelajaran formal tanpa menghambat masa studi mahasiswa. Selain itu, pengalaman di lapangan juga menjadi bekal penting dalam penyusunan tugas akhir. Permasalahan nyata yang dihadapi mahasiswa dapat dikembangkan menjadi studi kasus yang relevan dan aplikatif. Tak hanya itu, mahasiswa juga memperoleh jejaring profesional serta portofolio kerja yang memiliki nilai tambah di dunia kerja. Dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, Baiq Firyal Salsabila Safitri ST M Sc, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan industri menjadi kunci dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini merupakan komitmen UMM dalam melahirkan lulusan yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga talenta yang siap beradaptasi dan berkontribusi sejak awal mereka memasuki dunia kerja,” ujarnya. Melalui program ini, UMM terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik nyata yang berdampak langsung bagi mahasiswa dan dunia industri. (Faqih/AS)

Bukan Sembarang Pemeringkatan, Dosen UMM Raih Top 100 Dunia

Menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. Prinsip inilah yang mengantarkan Dr. Sholahuddin Al Fatih, M.H., Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menempati daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE baru-baru ini. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan deretan peneliti top dari kampus bergengsi mancanegara, seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global secara objektif, tanpa memberlakukan skema subscribe berbayar. Fatih menjelaskan, pemeringkatan kredibel ini menggunakan tiga indikator metrik ketat untuk menyaring pilar intelektual sejati. Ketiganya meliputi Research Gravitas untuk mengukur kedalaman intelektual, Olympic Mean yang menyaring konsistensi mutu karya, serta Interaction Credit sebagai apresiasi atas kolaborasi substantif. Seluruh data tersebut dilacak secara murni dari profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Saat pertama kali mengetahui capaian gemilang ini, pria yang akrab disapa Fatih tersebut sangat mengapresiasi sistem measuresHE yang benar-benar mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominatornya tanpa memandang label nama besar. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke 91” tegasnya 8 April lalu pada Tim Humas UMM. Bukti nyata dari prinsip “riset berdampak” itu tercermin dari salah satu karya unggulannya yang lahir pada masa pandemi 2021 lalu. Riset tersebut membedah tentang ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Meski topiknya sangat dekat dengan keseharian, justru di sanalah letak kekuatannya. Fatih mengkaji bagaimana ruang digital mampu memicu dampak nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Kajian ini sekaligus menegaskan bahwa hukum harus hadir secara praktis, dan tidak boleh berhenti hanya di tataran teori. Sepanjang karier akademiknya, Fatih telah menelurkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Dari deretan karya tersebut, ia konsisten membedah isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. Kontribusinya terasa di dua sisi: memperkaya diskursus akademik sekaligus memberikan sudut pandang yang solutif dalam praktik di lapangan. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelas Fatih. Kesuksesan riset Fatih tentu tak lepas dari dukungan ekosistem mumpuni di UMM. Sebagai Kampus Putih yang mengedepankan inovasi, UMM menopang kelancaran riset para dosen melalui akses jurnal primer, fasilitas internet maksimal, hingga pemberian dana insentif publikasi. Ke depan, Fatih berharap kiprah akademisnya ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional. Ia pun membagikan rahasia suksesnya, yakni merawat konsistensi ide dengan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap hari. “Capaian ini menjadi dorongan agar UMM semakin dikenal secara global, sekaligus memacu semangat menulis para dosen dan mahasiswa. Riset itu harus memberi dampak nyata. Jadi, mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju!” pesannya memotivasi.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

FKIP UMM Tawarkan Kesempatan Mengajar Lintas Negara dan Beasiswa Internasional

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terus memperkuat komitmen internasionalisasi pendidikan. Hal ini diwujudkan melalui gelaran Open House Internasional yang berlangsung pada Selasa (7/4/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa SMA dari berbagai sekolah mitra di Malang, serta dihadiri siswa internasional dari Attarkiah Islamiah Institute, Narathiwat, Thailand. Kehadiran mereka menjadi simbol kuatnya kolaborasi lintas negara yang dibangun FKIP UMM. Acara disambut langsung oleh jajaran pimpinan FKIP, di antaranya Dekan Moh. Mahfud Effendi, Wakil Dekan I Husama, dan Wakil Dekan II Faizin, bersama pimpinan program studi. Dalam sambutannya, Dekan FKIP menegaskan bahwa jejaring internasional yang dimiliki bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa, terutama dalam penguatan kompetensi global. “FKIP UMM menawarkan kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di berbagai negara, salah satunya Thailand. Program ini telah berjalan lama dan terbukti sukses dalam bidang pendidikan maupun pengabdian,” ungkapnya. Program PLP Internasional menjadi salah satu keunggulan FKIP UMM. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengajar langsung di luar negeri. Hal ini menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan global. Selain membuka peluang pengalaman global, FKIP UMM juga menghadirkan berbagai skema beasiswa bagi mahasiswa internasional. Koordinator Program Mobilitas Internasional di International Relations Office (IRO) UMM, Very Kurnia Aditama, memaparkan sejumlah program unggulan. Beberapa beasiswa yang ditawarkan antara lain: Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Scholarship The Indonesian Aid Scholarship (TIAS) Non-Aligned Movement (NAM) Scholarship Selain itu, UMM juga menyediakan beasiswa mandiri, yaitu UMM SUMMIT Scholarship. “Beasiswa UMM SUMMIT terbagi dalam dua kategori. Kategori A mencakup pembebasan biaya kuliah, biaya hidup, dan program BIPA. Sementara kategori B mencakup pembebasan biaya kuliah dan program BIPA,” jelasnya. Kegiatan open house dikemas secara interaktif melalui sesi diskusi, presentasi program studi, hingga campus tour. Peserta diajak mengenal langsung fasilitas perkuliahan serta berbagai peluang pengembangan akademik dan non-akademik di FKIP UMM. Interaksi antara siswa lokal dan internasional selama kegiatan berlangsung menjadi nilai tambah tersendiri. Pertukaran budaya yang terjadi membuka wawasan global sekaligus memperkuat jejaring pendidikan lintas negara. Melalui kegiatan ini, FKIP UMM berharap dapat terus memperluas kerja sama internasional serta memberikan akses pendidikan global yang lebih luas bagi mahasiswa. Langkah ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi juga menjadi jembatan menuju pengalaman global yang kompetitif dan berdaya saing tinggi. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang

Prodi Informatika UMM Raih Akreditasi Internasional IABEE, Perkuat Daya Saing Global Lulusan

Kota Malang, Hariancendekia.com – Program Studi (Prodi) Sarjana Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meraih akreditasi internasional dari The Indonesian Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) pada 31 Maret 2026 di Jakarta. Capaian ini menjadi bukti penguatan mutu akademik berbasis standar global sekaligus menegaskan kesiapan UMM bersaing di tingkat internasional. Status Accredited dari IABEE diberikan untuk disiplin Computer Science, Informatics, and similarly named programs. Pengakuan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Informatika UMM telah memenuhi standar internasional yang terukur, relevan, dan berkelanjutan. Ketua Prodi Informatika UMM, Dr. Ir. Agus Eko Minarno, S.Kom., M.Kom., IPM., menegaskan bahwa akreditasi IABEE memiliki makna strategis di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin ketat. “Pengakuan ini mencerminkan keseriusan institusi dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, penguatan kurikulum, proses akademik yang konsisten, serta budaya evaluasi yang berkesinambungan,” ujar Agus. Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni, dengan dukungan penuh dari pimpinan universitas. Capaian ini juga memberikan jaminan kualitas bagi mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa proses pendidikan yang dijalani berada dalam ekosistem yang berorientasi kuat pada mutu. Di sisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai akreditasi ini sebagai wujud konkret komitmen kampus dalam menembus persaingan global. “Penghargaan di mana Teknik Informatika UMM mendapatkan akreditasi internasional IABEE ini, sekali lagi menjadi komitmen sekaligus bukti bahwa UMM siap bersaing di tingkat global,” kata Salis.

Harga Plastik Meroket 100 Persen, Pakar UMM Beri Jurus Jitu agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar

Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah, UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi kepada Tim Humas UMM, (8/4). Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Berkat CoE Kelapa Sawit, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif Masuk Dunia Industri

www.majelistabligh.id – Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Adalah Novan Adhi Ramadhan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM menjadi bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Ia kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus, ” ujar ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya, pada Tim Humas UMM. Novan Adhi Ramadhan. (dok umm) Ia sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, ia akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya. “Bagaimana proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” jelasnya. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). “Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*/tim)

Akademisi Sepakat dengan Sikap Pemerintah soal 3 TNI Gugur: Tak Hanya Terkait Kepentingan Nasional

JAKARTA, KOMPAS.TV – Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Prasetya mengaku sepakat dengan sikap pemerintah yang tak terburu-buru mengambil keputusan terkait gugurnya tiga prajurit TNI anggota pasukan penjaga perdamaian di Lebanon. Dion berpendapat, masalah terkait insiden yang mengakibatkan gugurnya personel TNI tersebut sangat rumit. Sebab, hal itu bukan hanya berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia saja, tetapi juga identitas di mata internasional. “Pertama, saya sepakat dengan pemerintah yang tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, misalnya menarik pasukan gitu ya, dengan bersikap reaktif gitu ya,” kata dia dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Rabu (8/4/2026). “Karena ini sangat rumit sebenarnya problem ini. Tidak hanya berkaitan dengan kepentingan nasional kita. Bahwa kita itu sebagai negara middle power yang memang sudah terkenal bahwa kita sebagai salah satu penyumbang terbesar pasukan perdamaian dunia,” bebernya. Menurutnya, Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang terbesar pasukan penjaga perdamaian sudah menjadi salah satu identitas di mata dunia. Faktor lain yang juga harus menjadi pertimbangan adalah berkaitan dengan ‘kursi’ yang ingin diamankan oleh Indonesia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Yang kedua, ini berkaitan juga dengan kursi yang sebenarnya ingin kita amankan di Dewan Keamanan gitu lho,” katanya. “Kita ingin memiliki satu justifikasi bahwa kita itu aktif dalam penjaga perdamaian dunia, sehingga kalau dengan reaktif kita menarik pasukan kita yang jumlanya itu sangat besar. Yang paling besar ya di Unifil ya, 756,” lanjutnya. Jika Indonesia menarik pasukan yang dikirimkan, menurutnya, hal itu justru akan menghancurkan bangunan identitas yang sudah lama dibangun. Dalam dialog itu, ia juga menyampaikan, dalam politik internasional yang ‘bermain’ bukanlah hukum internasional, melainkan kekuasaan. “Hukum internasional adalah bagian perwujudan dari bagaimana kekuasaan itu dimanaged,” tuturnya. Dion menambahkan, dalam resolusi konflik ada tahapan yang harus dilalui, yakni peacemaking, peacekeeping, dan peacebuilding. Saat ini status pasukan UNIFIL sebenarnya adalah penjaga perdamaian atau peacekeeping, dan seharusnya sudah tidak ada lagi kekerasan di lapangan. “Nah itu harusnya dahului dengan peacemaking. Peacemaking itu adalah upaya yang dilakukan oleh UN atau PBB untuk memunculkan negosiasi atau diplomasi antar pihak-pihak yang bertikai. Itu sebenarnya sudah muncul di tahun 2006, akhirnya memunculkan mandat 1701 itu kan,” ungkapnya. “Masalahnya sekarang adalah, sepertinya kita mundur satu langkah gitu lho. Jadi dari peacekeeping menjadi harusnya peacemaking lagi, gitu. Karena kondisi lapangan sudah tidak stabil lagi dan itu yang membahayakan pasukan kita,” katanya. Dengan status yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian, lanjut Dion, para personel tersebut tidak dibekali dengan peralatan sebagai pembuat kedamaian atau peacemaking. “Dalam kondisi ini, tadi kan disampaikan kita tampaknya mundur satu langkah. Yang harusnya tugasnya peacekeeping tapi jadi peacemaking. Dan kita tidak dikirimkan dalam perangkat untuk itu,” katanya. Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi menegaskan, pemerintah melakukan evaluasi terkait pengiriman prajurit TNI sebagai anggota pasukan penjaga perdamaian. “Kalau pertanyaan sampai ke keputusan penarikan, itu belum ya,” kata dia, seperti dikutip dari berita video Kompas TV, Rabu. “Tapi bahwa dengan adanya kejadian yang kemarin, tentu kami pemerintah terus melakukan koordinasi dipimpin oleh Bapak Menlu, melakukan evaluasi, nanti kita tunggu perkembangannya,” tegasnya.  

UMM Gagas Beasiswa Khusus Aktivis Kampus

KOMPAS.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan langkah progresif untuk mengikis anggapan negatif bahwa menjadi aktivis kampus hanya membuang waktu dan menunda kelulusan. Perguruan tinggi dengan julukan Kampus Putih itu berencana mengapresiasi kiprah para penggerak organisasi melalui skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi. Rencana besar ini mencuat dalam forum Dialektika Kampus Putih yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu (4/4/2026). Forum yang awalnya merupakan ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri tersebut berubah menjadi panggung kabar gembira bagi ratusan fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa). Mengubah paradigma aktivis Wakil Rektor III UMM Nur Subeki menegaskan komitmen universitas untuk mengubah paradigma mengenai aktivis. Menurutnya, kontribusi mahasiswa yang aktif di BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah aset berharga bagi reputasi universitas. ”Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujarnya melansir laman UMM, Selasa (7/4/2026). Ke depan, lanjutnya, keaktifan para mahasiswa tersebut akan dikategorikan sebagai prestasi. Dirinya meyakini bahwa berkiprah di organisasi adalah bentuk pencapaian yang luar biasa. Tak hanya dukungan materi, UMM juga berkomitmen memberikan fasilitas pendampingan. Pihak kampus akan mengawal setiap inisiatif mahasiswa. Termasuk Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan lapangan.  Jawaban atas keresahan mahasiswa Kebijakan ini disambut positif oleh Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal. Ia menilai langkah ini sebagai solusi atas dilema yang sering dialami mahasiswa dalam membagi fokus antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab organisasi. ”Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin. Dengan adanya beasiswa bagi para pengurus ormawa, dirinya yakin minat mahasiswa dalam berorganisasi akan meningkat tajam. Berorganisasi, lanjutnya, adalah soft skill yang tidak didapatkan di dalam kelas. Senada dengan hal tersebut, perwakilan UKM yang hadir, Siti Aminah, mengaku lega dengan adanya kebijakan ini. Ia merasa peran aktivis yang selama ini dianggap bekerja di balik layar akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. “Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti. Dengan dukungan beasiswa dan pengakuan resmi, para aktivis UMM diharapkan tidak hanya lulus sebagai sarjana secara akademik. Tetapi juga tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kemandirian serta integritas tinggi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang