Donald Trump, antara TACO dan Strategi

kompas.com – KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump akhirnya bersedia untuk merundingkan 10 poin yang diajukan Iran. Padahal, sebelumnya, Trump sesumbar ingin menghabisi Iran. AS mengultimatum akan menghancurkan Iran jika tidak segera membuka Selat Hormuz dalam tenggat waktu 48 jam. Sekitar 90 menit sebelum deadline ultimatum berakhir, Trump membatalkan rencana serangan dan bersedia untuk gencatan senjata selama dua pekan ke depan. Sikap Trump semacam ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, Trump memang selalu maju-mundur. Awalnya mengancam keras dengan retorika militer, menetapkan ultimatum dramatis, lalu melunak sebelum eskalasi. Banyak pengamat melihatnya sebagai inkonsistensi Trump. Bahkan muncul istilah satir, yakni TACO: “Trump Always Chickens Out” (Trump selalu pengecut). TACO sebagai Strategi Istilah TACO sudah muncul sejak Mei 2025, dalam perbincangan di media sosial masyarakat AS. Istilah ini dibakukan oleh kolumnis Financial Times, Robert Amstrong, untuk menggambarkan pola tingkah Trump yang suka melempar ancaman, tapi di hari berikutnya menciut. Dan, TACO itu berulang kali ditunjukkan Trump selama ketegangan dengan Iran meningkat sejak 28 Februari lalu. Bagi pengamat Hubungan Internasional, pola TACO tampak membingungkan. Sebab, diplomasi klasik harusnya menuntut konsistensi sinyal. Ancaman harus kredibel. Jika terlalu sering ditarik kembali, maka reputasi negara bisa melemah. Namun, Trump tampaknya tidak bermain dalam kerangka diplomasi klasik semacam itu. Trump justru tampak menikmati itu sebagai strategi, yakni ancam-mundur sebagai metode negosiasi atau kita bisa menyebutnya sebagai “TACO diplomacy”. Dalam studi hubungan internasional, pendekatan ini sejatinya memiliki akar intelektual. Konsep coercive diplomacy menjelaskan bahwa ancaman tidak selalu dimaksudkan untuk diwujudkan. Ancaman justru berfungsi sebagai alat menciptakan tekanan psikologis agar lawan memilih kompromi tanpa perang. Dan, perang adalah kegagalan terakhir, sebab keberhasilan sejati adalah ketika lawan mengalah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Trump sepertinya mentransformasikan logika ini ke dalam konteks berbeda. Trump tidak hanya menaikkan tekanan diplomatik, tetapi juga menjadikannya pertunjukan publik global. Ancaman disampaikan bukan dalam ruang negosiasi tertutup, melainkan melalui panggung media, konferensi pers, dan media sosial. Dunia tidak hanya menjadi saksi, tapi juga dunia dijadikan audiensnya. Trump menciptakan krisis, memperbesar ketidakpastian, lalu menawarkan jalan keluar yang tampak sebagai kemenangan tanpa perang. Ketika gencatan senjata diumumkan, Trump dapat mengklaim dua hal sekaligus: tetap terlihat kuat karena berani mengancam, sekaligus terlihat rasional karena menghindari konflik besar. Jika kita melihat lebih dalam, strategi Trump ini menunjukkan bahwa sasaran (audiens) sebenarnya bukan hanya Iran. Paling tidak ada dua audiens yang terus Trump kelola secara bersamaan. Pertama, lawan eksternal yang dipaksa merespons tekanan. Kedua, publik domestik AS yang diharapkan oleh Trump menilai kepemimpinan dirinya melalui persepsi kekuatan. Dalam politik domestik AS, presiden tidak hanya harus menang secara strategis, tetapi juga secara performatif. Ancaman militer memberikan citra kepemimpinan tegas. Gencatan senjata memberikan citra negarawan yang menghindari perang mahal. Bagi Trump, kombinasi keduanya menciptakan narasi kemenangan politik tanpa biaya konflik nyata. Ketidakpastian Global Namun, bagi tatanan global, strategi Trump bisa memiliki implikasi lebih luas. Jika diplomasi berubah menjadi siklus ancaman dan de-eskalasi yang berulang, dunia memasuki era ketidakpastian. Negara-negara lain menjadi sulit membedakan mana ancaman nyata dan mana sekadar taktik negosiasi. Paradoksnya, justru ketidakpastian itulah yang mungkin oleh Trump dijadikan sebagai sumber kekuatan. Masalahnya, dunia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian. Ketika ancaman menjadi rutinitas, respons terhadap ancaman justru bisa berubah ekstrem. Sikap TACO berpotensi merusak stabilitas jangka panjang. Sebab, diplomasi tradisional dibangun atas kepercayaan dan prediktabilitas. Sementara diplomasi populis, seperti yang dimainkan Trump, bertumpu pada kejutan dan dramatisasi. Kasus Iran memperlihatkan pergeseran ini. Akibat TACO, konflik tidak lagi bergerak secara linear, tapi bergerak dalam siklus spektakel: ancaman, ketegangan global, reaksi pasar, lalu de-eskalasi mendadak. Bisa jadi, pertanyaannya bukan apakah Trump benar-benar mundur. Namun, apakah “mundur” itu sejak awal memang bagian dari strategi? Bisa jadi, publik salah membaca. Bukan Trump gagal menjalankan ancaman, tapi mungkin ancaman itu tidak pernah benar-benar diniatkan untuk diwujudkan. Sebab, ancaman adalah instrumen, bukan tujuan. Jadi, perlu diakui bahwa “TACO diplomacy” membawa perubahan besar dalam praktik hubungan internasional saat ini, di mana kekuasaan dan kekuatan dijalankan melalui ketidakpastian yang disengaja. Dalam era populisme global, ancaman bukan selalu tanda perang akan datang. Kadang, ancaman justru adalah bahasa negosiasi itu sendiri. Dan, ini salah satu pelajaran paling penting dari episode ketegangan antara AS dan Iran. Bagaimana menurut Anda?
Lonjakan Harga Plastik Hantam UMKM, Akademisi Dorong Dua Intervensi

JATIMTIMES – Tekanan biaya produksi kini makin terasa di sektor kuliner skala kecil. Lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berada di posisi serba sulit. Kenaikan ini dipicu situasi global yang memanas, berdampak langsung pada mahalnya bahan baku plastik dan harga minyak mentah. Dampaknya tidak sederhana. Bagi UMKM kuliner, kemasan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam operasional harian. Ketergantungan tinggi terhadap plastik menjadikan kenaikan harga ini sebagai beban tambahan yang terus menggerus keuntungan. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Sri Wahyudi Suliswanto menilai kondisi ini sebagai sinyal lemahnya ketahanan industri nasional. Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada impor bahan baku menjadi akar persoalan yang membuat harga domestik mudah terguncang saat terjadi krisis global. “Ketika rantai pasok internasional terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Ini menunjukkan kita belum mandiri,” ujarnya, Kamis, (9/4/2026). Di sisi lain, pelaku UMKM kini dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berisiko. Menaikkan harga jual berpotensi menurunkan daya beli konsumen yang saat ini belum sepenuhnya pulih. Namun jika harga tetap dipertahankan, margin keuntungan akan terus tergerus hingga mengancam kelangsungan usaha. Wahyudi menyebut kondisi ini sebagai tekanan biaya tersembunyi yang perlahan namun pasti melemahkan fondasi bisnis kecil. Situasi tersebut juga diperparah oleh rantai distribusi dalam negeri yang panjang, sehingga harga di tingkat pelaku usaha menjadi semakin tinggi. Meski demikian, ia melihat peluang perubahan di tengah krisis. Momentum ini dinilai tepat untuk mendorong pergeseran perilaku konsumsi masyarakat agar tidak lagi bergantung pada plastik sekali pakai. Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah skema harga berbeda. Konsumen yang membawa wadah sendiri dapat diberikan potongan harga sebagai insentif. Menurut dia, pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan secara bertahap. Namun, ia mengingatkan bahwa solusi tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pelaku usaha. Mengingat penggunaan plastik sangat luas, mulai dari sektor kuliner hingga industri besar, keterlibatan pemerintah menjadi kunci. “Harus ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga. Dampaknya tidak hanya dirasakan UMKM, tapi lintas sektor,” tegasnya. Ia pun mendorong pemerintah untuk segera membuka akses pasokan bahan baku dari negara yang tidak terdampak konflik global. Upaya ini dinilai sebagai langkah realistis untuk menekan harga dalam jangka pendek. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi penting dalam menghadapi situasi ini. Tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan UMKM, tetapi juga sebagai titik awal perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan minim ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Harga Plastik Meroket 100%, Akademisi Sebut Momentum Kurangi Penggunaan

Bisnis.com, MALANG—Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100% akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional UMKM, namun juga momentum menerapkan kebijakan melarang penggunaan plastik sekali pakai. Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, mengatakan kondisi tersebut perlu disikapi UMKM untuk segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. “UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek,” katanya, Kamis (9/4/2026). Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM menilai, biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegasnya. Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Namun, dia menilai, hal justru menjadi peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya. Dia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, dia mengingatkan, beban ini tidak bisa dipikul sendirian, mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” katanya. Dia menyarankan, langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastic.
10 PTS Terbaik Versi Uniranks 2026, Tebak Kampus Mana Nomor Satu?

detik.com, Jakarta – Ada banyak sekali perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia. Calon mahasiswa baru angkatan tahun ini memiliki banyak pilihannya yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Salah satu cara untuk mempermudah dalam memilih PTS adalah melalui peringkat universitas, seperti ranking yang dirilis oleh Uniranks ini contohnya. Yuk, simak 10 PTS terbaik 2026! PTS Terbaik Versi Uniranks 2026 Dipaparkan dalam laman resmi Uniranks, ini kampus-kampus swasta terbaik di Indonesia dalam edisi pemeringkatan terbarunya: 1. Telkom University Peringkat Indonesia: 11 Peringkat Asia: 395 2. Binus University Peringkat Indonesia: 12 Peringkat Asia: 397 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat Indonesia: 19 Peringkat Asia: 622 4. Universitas Islam Indonesia Peringkat Indonesia: 23 Peringkat Asia: 752 5. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat Indonesia: 24 Peringkat Asia: 787 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat Indonesia: 32 Peringkat Asia: 1086 7. Universitas Dian Nuswantoro Peringkat Indonesia: 33 Peringkat Asia: 1089 8. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat Indonesia: 37 Peringkat Asia: 1120 9. Universitas Mercu Buana Peringkat Indonesia: 38 Peringkat Asia: 1136 10. Universitas Gunadarma Peringkat Indonesia: 41 Peringkat Asia: 1186. Metodologi Pemeringkatan Dalam pemeringkatan ini, tim Uniranks menerapkan metodologi berdasarkan sejumlah pilar penting termasuk kesejahteraan mahasiswa, keterserapan di dunia kerja, kualitas akademik, transformasi digital, reputasi global, dan inovasi. Tujuan dari pemeringkatan ini adalah membantu mahasiswa membuat keputusan dengan memberikan pandangan multidimensional tentang universitas di seluruh dunia. Uniranks memanfaatkan berbagai teknologi dalam penyusunan peringkatnya seperti penggunaan analitik berbasis AI dan ulasan ahli independen. Apabila dijabarkan, maka proses pengumpulan data peringkat Uniranks adalah berdasarkan lima metode utama yaitu: Pengumpulan data dan pengindeksan web dengan didukung AI Kemitraan data pihak ketiga Pengajuan profil secara mandiri oleh universitas Survei dan rating dari pemangku kepentingan Audit pakar oleh tim elite Uniranks. Itulah PTS terbaik di Indonesia yang bisa kalian lirik dalam seleksi mahasiswa baru tahun ini. Apa kampus yang ingin kalian tuju?