Tak Main-Main! Dosen UMM Masuk Top 100 Akademisi Dunia

pwmu.co –Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Indonesia. Sholahuddin Al Fatih, dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, berhasil menembus daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE.Capaian ini bukan sekadar soal produktivitas publikasi, melainkan bukti kedalaman dan dampak nyata karya ilmiah. Dalam pemeringkatan tersebut, Fatih menempati posisi ke-91, sejajar dengan akademisi dari kampus-kampus ternama dunia seperti University of Oxford dan Deakin University. Berbeda dengan pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE berfokus pada rekam jejak individu akademisi secara objektif tanpa skema berbayar. Fatih menjelaskan, terdapat tiga indikator utama dalam penilaian, yakni: Research Gravitas (kedalaman intelektual) Olympic Mean (konsistensi kualitas karya) Interaction Credit (kolaborasi ilmiah) Seluruh indikator tersebut bersumber dari data akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. “Pengakuan ini memvalidasi upaya riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi,” ujarnya, 8 April, kepada Tim Humas UMM. Salah satu karya unggulan Fatih lahir pada masa pandemi 2021, yang mengkaji ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Penelitian ini menyoroti bagaimana aktivitas digital dapat memicu dampak nyata, mulai dari tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Kajian tersebut mempertegas pentingnya kehadiran hukum yang aplikatif dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Sepanjang kariernya, Fatih telah menghasilkan: ±60 artikel terindeks Scopus 5 artikel Web of Science Core Collection Ratusan karya ilmiah di Google Scholar Fokus kajiannya konsisten pada isu-isu strategis seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di era disrupsi. “Kami harus menjembatani hukum agar lebih aplikatif, tidak hanya berhenti di konsep, tetapi hadir nyata di masyarakat,” jelasnya. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari dukungan ekosistem akademik di UMM. Kampus tersebut menyediakan akses jurnal internasional, fasilitas internet memadai, serta insentif publikasi bagi dosen. Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengangkat reputasi UMM di tingkat global sekaligus memotivasi civitas akademika untuk terus berkarya. “Riset harus memberi dampak nyata. Mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Harga Plastik Naik 100 Persen, Pakar Ekonomi UMM Tawarkan Strategi Penyelamatan UMKM

Malang (beritajatim.com) – Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., memberikan tanggapan terkait lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai 100 persen. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMM tersebut memperingatkan bahwa tanpa strategi yang tepat, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner terancam gulung tikar. Wahyudi menegaskan bahwa kenaikan drastis ini merupakan dampak domino dari memanasnya konflik geopolitik global. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang berimbas langsung pada meroketnya harga bahan baku plastik di pasar domestik. “Situasi ini sudah masuk tahap darurat bagi pelaku usaha kecil. UMKM harus segera menjadikan momentum ini untuk mengubah model bisnis, sementara pemerintah wajib melakukan intervensi pasar secara paralel,” ujar Wahyudi saat memberikan analisis ekonomi di kampus UMM, Rabu (9/4/2026). Sebagai langkah konkret, Wahyudi memberikan jurus jitu bagi UMKM untuk menyiasati biaya operasional yang membengkak. Ia menyarankan pelaku usaha kuliner untuk menerapkan strategi diferensiasi harga guna memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai. Langkah ini dilakukan dengan cara memberikan diskon atau harga lebih murah kepada konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah. Menurut Wahyudi, strategi ini merupakan solusi dua arah: menyelamatkan margin keuntungan UMKM sekaligus mengedukasi masyarakat terhadap budaya ramah lingkungan. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik. Langkah taktis ini diyakini ampuh menjaga fondasi finansial UMKM di tengah daya beli masyarakat yang sedang lesu,” jelasnya. Lebih lanjut, Wahyudi memaparkan analisisnya mengenai penyebab utama kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak harga plastik. Ia menilai krisis ini membongkar fakta mengenai rapuhnya kemandirian industri dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika jalur distribusi internasional terganggu oleh gejolak geopolitik, harga di tingkat domestik langsung tercekik,” tegas pakar ekonomi tersebut. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang dinilai terlalu panjang, sehingga menciptakan biaya siluman yang semakin menggerus keuntungan para pedagang kecil di lapangan. Wahyudi juga menekankan bahwa beban inflasi ini tidak boleh hanya dipikul oleh pelaku usaha dan konsumen. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor mulai dari kuliner rumahan, manufaktur, hingga otomotif, ia mendesak negara untuk segera mengambil peran. Ia menyarankan agar pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara-negara non-konflik guna mengamankan stabilitas harga. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas untuk mengamankan stabilitas harga plastik karena daya rusaknya terhadap ekonomi kerakyatan sangat luas,” kata Wahyudi menutup. [dan/aje]
Pakar UMM Beri Jurus Jitu agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar saat Harga Plastik Meroket 100 Persen

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pakar UMM memberi jurus jitu agar UMKM kuliner tidak gulung tikar saat harga plastik meroket hingga 100 persen. Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia. Imbasnya, situasi ini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah. Menurutnya, UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri, kemudian pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi ‘biaya siluman’ yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Penggunaan plastik saat berbelanja./dok. Istimewa Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” ungkap Wahyudi kepada Tim Humas UMM, yang diterima JSN Kamis (9/4). Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ucapnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Wahyudi juga menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik. ***
Akademisi UMM Ingatkan Jebakan Krisis Energi, Komunikasi Publik Pemerintah Jadi Sorotan

KLIKMU.CO — Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata berupa jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga harus dijaga agar tidak terbebani lonjakan subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fitri Rusdianasari SE MSi menyebut kondisi ini sebagai “jebakan krisis energi”, yakni situasi ketika setiap kebijakan publik yang diambil sama-sama memiliki risiko besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang sering kali saling bertolak belakang,” ujarnya, Selasa (7/4/2026). Fitri menjelaskan, krisis energi memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan berdampak langsung pada sektor produksi, mendorong kenaikan harga barang dan jasa (inflasi), yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. Untuk meredam gejolak, pemerintah biasanya menggelontorkan subsidi energi. Namun, kebijakan ini dinilai hanya bersifat jangka pendek jika tidak dikelola secara tepat. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala besar berpotensi menjadi beban fiskal dan memicu peningkatan utang negara,” jelasnya. Menurutnya, pencabutan subsidi secara drastis juga bukan solusi karena dapat memicu guncangan ekonomi di masyarakat. Jalan tengah yang paling rasional adalah menjaga keseimbangan, salah satunya dengan mengalihkan subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang lebih tepat sasaran. “Transformasi subsidi ini penting agar perlindungan sosial tetap berjalan tanpa membebani APBN secara berlebihan,” tambahnya. Lebih lanjut, Fitri menilai Indonesia sejatinya telah memasuki fase awal jebakan krisis energi. Meski demikian, saat ini kondisi fiskal masih ditopang oleh bantalan fiskal (fiscal buffer). “Kita memang masih memiliki buffer, tetapi itu ada batasnya. Tidak bisa diandalkan terus-menerus. Diperlukan langkah strategis, termasuk percepatan transisi menuju energi baru terbarukan agar tidak terus bergantung pada energi fosil,” ujarnya. Di akhir, Fitri menyoroti pentingnya komunikasi publik pemerintah dalam mengelola krisis. Ia menegaskan, kebijakan yang baik sekalipun bisa menimbulkan kepanikan jika tidak disampaikan dengan jelas. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat penting. Publik yang memahami arah kebijakan tidak akan mudah panik, sehingga potensi panic buying dan kelangkaan semu bisa dicegah,” pungkasnya. (*)
Harga Plastik Naik 100 Persen, Pakar UMM Beri Strategi Jitu UMKM

pwmu.co –Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat gejolak geopolitik global dan kenaikan harga minyak mentah kini menekan operasional pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner.Pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang, M. Sri Wahyudi Suliswanto, menilai kondisi ini sebagai krisis serius yang memerlukan solusi cepat dan strategis dari pelaku usaha maupun pemerintah. “UMKM harus menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sementara pemerintah perlu mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik,” ujarnya kepada Tim Humas UMM, (8/4). Di lapangan, kenaikan harga plastik telah berubah menjadi “biaya siluman” yang menggerus margin keuntungan pelaku usaha kecil. Sektor kuliner menjadi yang paling terdampak karena sangat bergantung pada kemasan seperti wadah makanan, gelas, dan kantong plastik. Kondisi ini menempatkan UMKM dalam dilema: Menaikkan harga → berisiko kehilangan pelanggan Menahan harga → terancam gulung tikar Di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas, pilihan tersebut sama-sama berat. Wahyudi menegaskan bahwa krisis ini mengungkap lemahnya kemandirian industri nasional, khususnya dalam bahan baku plastik. “Indonesia sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika jalur distribusi global terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri,” tegasnya. Situasi ini diperparah oleh rantai distribusi domestik yang panjang, sehingga harga semakin tinggi saat sampai ke pelaku usaha kecil. Di tengah tekanan ini, Wahyudi melihat peluang untuk mendorong perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Ia menyarankan strategi sederhana namun efektif: Memberikan diskon bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai Langkah ini tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga berpotensi membangun budaya konsumsi yang lebih ramah lingkungan. Meski UMKM bisa beradaptasi, Wahyudi menegaskan bahwa peran pemerintah tetap menjadi kunci utama. “Pemerintah tidak boleh tutup mata. Harus ada intervensi untuk menjaga stabilitas harga plastik karena dampaknya sangat luas,” ujarnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk: Mencari pemasok bahan baku dari negara non-konflik Menjamin distribusi yang lebih efisien Menjaga stabilitas harga di pasar domestik Krisis ini diharapkan menjadi momentum perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi kunci untuk menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik. Jika dikelola dengan tepat, kondisi ini tidak hanya menyelamatkan UMKM dari krisis, tetapi juga menjadi titik balik menuju ekonomi yang lebih adaptif dan ramah lingkungan. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria
Inovasi Wood Pellet dari Sekam Padi, Dosen UMM Dorong Limbah Jadi Energi Bernilai Jual Tinggi

POJOKSATU.id – Inovasi pemanfaatan limbah berbasis keberlanjutan kembali dikembangkan oleh dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tyas Yuli Rosiani memimpin pengembangan wood pellet berbahan limbah sekam padi, sekaligus menitikberatkan pada desain kemasan produk sebagai strategi peningkatan nilai jual dan daya saing di pasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di PB Gemilang Temu Rejeki, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Unit penggilingan gabah tersebut memiliki potensi limbah sekam mencapai sekitar 400–500 kg per hari, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Tim pengabdian terdiri dari Tyas Yuli Rosiani sebagai ketua, bersama Dana Marsetiya Utama dan Rahmad Wisnu Wardhana. Mereka bekerja secara kolaboratif dalam mendukung pengembangan usaha berbasis limbah ini secara menyeluruh, dengan melibatkan dua mahasiswa Teknik Industri UMM dalam proses pendampingan di lapangan. Pendampingan Produksi dan Edukasi Circular Economy Dalam implementasinya, program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga peningkatan kapasitas mitra secara menyeluruh. Edukasi terkait konsep circular economy diberikan kepada pekerja dengan target peningkatan pemahaman lebih dari 80 persen. Selain itu, pelatihan teknis produksi wood pellet dilakukan secara komprehensif. Pendampingan ini memungkinkan mitra mampu menjalankan proses produksi secara mandiri dan berkelanjutan. Upaya pemanfaatan limbah sekam dilakukan secara bertahap melalui penguatan kualitas produk. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini diolah menjadi energi alternatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan. Strategi Pemasaran dan Peran Penting Kemasan Pada aspek pemasaran, strategi yang dikembangkan mencakup analisis pasar, branding, promosi digital, hingga perluasan distribusi melalui marketplace dan kerja sama industri. Langkah ini ditargetkan mampu meningkatkan margin keuntungan dibandingkan pola penjualan konvensional. Dalam keseluruhan proses tersebut, desain kemasan menjadi elemen kunci yang dikembangkan. Kemasan dirancang modern, informatif, dan menonjolkan identitas produk ramah lingkungan. “Kemasan adalah faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar terhadap produk berbasis limbah. Dengan kemasan yang tepat, produk menjadi lebih kompetitif dan mudah diterima masyarakat,” ungkap Tyas. Kegiatan pengabdian ini didanai melalui skema pendanaan internal Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bentuk dukungan terhadap inovasi dosen dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan solusi berkelanjutan. ***
Harga Plastik Meroket 100 Persen, Dosen UMM Beri Tips Agar UMKM Kuliner Tak Gulung Tikar

MALANG POST – Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat imbas memanasnya konflik geopolitik global yang juga membuat melambungnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia kini mencekik operasional Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Menghadapi krisis fatal ini, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, S.E., M.E., Ph.D., mendesak penyelesaian strategis dari dua arah. UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri. Sementara pemerintah secara paralel dituntut mencari pemasok alternatif dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah bertransformasi menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman dan tas kresek. Biaya produksi yang membengkak tajam memaksa pelaku usaha masuk ke jurang dilema. Jika mereka nekat menaikkan harga jual produk harian, risikonya para pembeli setia akan berlari mencari alternatif lain mengingat kemampuan daya beli masyarakat saat ini tergolong masih lesu. Namun, jika mereka menahan harga demi mempertahankan pelanggan, keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar. Wahyudi memaparkan, akar dari krisis ini secara telanjang membongkar rapuhnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi kepada Tim Humas UMM yang disampaikan ke Malang Post. Kondisi memprihatinkan ini semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang terlampau panjang. Menghadapi kebuntuan ini, Wahyudi melihat peluang mengubah musibah menjadi berkah melalui perubahan perilaku konsumsi di tengah masyarakat. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya memberikan solusi. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang sadar membawa wadah sendiri berhak mendapat harga lebih murah. Langkah taktis ini diyakini tidak hanya menyelamatkan fondasi finansial UMKM, tetapi juga ampuh membangun budaya pro-lingkungan jangka panjang. Namun, Wahyudi mengingatkan beban ini tidak bisa dipikul sendirian. Mengingat komponen plastik digunakan secara masif di berbagai sektor industri di Indonesia, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur skala besar, hingga otomotif. Intervensi negara adalah kebijakan mutlak yang tidak bisa ditawar. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuh pakar ekonomi tersebut dengan penuh penekanan. Terakhir, Ia menyarankan langkah paling konkret saat ini adalah pemerintah aktif memfasilitasi pencarian penyuplai bahan baku dari negara yang aman dari konflik. Kolaborasi komprehensif antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tak sekadar menyelamatkan bisnis UMKM hari ini, tetapi sukses menjadi titik balik masyarakat menuju pola konsumsi cerdas yang sepenuhnya bebas dari jerat ketergantungan limbah plastik.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Kembangkan Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Borong Tiga Penghargaan Internasional

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) acapkali diwarnai kendala di lapangan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan. Menjawab keresahan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, merancang inovasi NutriTrack MBG sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, serta mencatat data distribusi makanan secara real-time. Berkat invasi tersebut, ia bersama timnya sukses membawa tiga penghargaan sekaligus di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23-26 Februari lalu. Pemuda asal Banjarbaru tersebut bersama timnya tak tanggung-tanggung memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Daffa menjelaskan, kompetisi tingkat internasional ini menantang pesertanya untuk merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ide timnya murni lahir dari realita evaluasi program MBG di Indonesia. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelas Daffa. Berangkat dari masalah tersebut, Daffa dan timnya mempresentasikan NutriTrack MBG di hadapan dewan juri internasional. Aplikasi digital ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang berfokus pada keamanan pangan dan ketepatan sasaran. Agar pengawasan dan evaluasi program MBG berjalan transparan, aplikasi ini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Keunggulan utama dari aplikasi ini mencakup transparansi informasi gizi dan pelacakan distribusi secara real-time. Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein. Sementara itu, sistem pencatatan distribusi real-time dirancang untuk memastikan transparansi waktu, yang mencakup informasi detail mulai dari jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu pesanan tersebut harus sampai di tangan siswa. Gagasan inovatif dan kerja sama tim yang solid ini pada akhirnya berhasil memukau dewan juri. Bagi Daffa, pencapaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di kancah global. Pengalaman kompetisi ini juga memberinya perspektif baru yang mendalam. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Melalui keberhasilannya, Daffa menitipkan pesan bagi generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman. “Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” pungkasnya.(*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Indonesia Masuk Jebakan Krisis Energi, Akademisi UMM Soroti Komunikasi Publik Pemerintah

MALANG POST – Di tengah eskalasi konflik geopolitik global yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman nyata, yakni jebakan krisis energi. Tekanan inflasi yang mengintai serta tren pelemahan nilai tukar rupiah menempatkan pemerintah dalam posisi trade-off yang dilematis. Di satu sisi, negara wajib memproteksi daya beli masyarakat kelas bawah yang makin tercekik, namun di sisi lain, kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dijaga agar tidak jebol akibat bengkaknya beban subsidi. Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fitri Rusdianasari, S.E., M.Si., menyebut fenomena ini sebagai ‘jebakan krisis energi’ sebuah kondisi pelik di mana setiap opsi kebijakan publik yang diambil sama-sama membawa risiko ekonomi yang besar. “Dalam kebijakan publik, kita tidak bisa memaksimalkan dua tujuan secara bersamaan. Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” tegas Fitri pada Selasa (7/4) kepada Tim Humas UMM. Fitri memaparkan, krisis energi selalu memicu efek domino yang sistemik. Kenaikan harga energi sebagai komponen vital akan langsung memukul sektor produksi. Hal ini otomatis mengerek harga barang dan jasa (inflasi), yang pada ujungnya memukul telak daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan. Untuk meredam gejolak ini, pemerintah kerap menenggak ‘obat pereda nyeri’ berupa kucuran subsidi energi. Meski ampuh menahan gejolak sosial dalam jangka pendek, Fitri memperingatkan bahaya laten dari kebijakan populis tersebut jika tidak dikalibrasi ulang. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” paparnya. Lantas, apa solusinya? Mencabut subsidi secara drastis dan menyerahkannya pada mekanisme pasar jelas bukan pilihan bijak karena akan memicu shock ekonomi di level akar rumput. Menurut Fitri, jalan tengah yang paling rasional adalah mengelola keseimbangan. Transformasi dari subsidi berbasis komoditas menjadi subsidi langsung yang tepat sasaran mutlak diperlukan, agar jaring pengaman sosial tetap berfungsi tanpa membuat APBN berdarah-darah. Lebih jauh, pakar ekonomi ini menilai Indonesia sejatinya sudah menginjakkan kaki di jebakan krisis tersebut. Beruntung, Indonesia saat ini masih tertolong oleh bantalan fiskal (fiscal buffer) untuk menahan rambatan harga global. Namun, ia mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” ungkapnya. Sebagai penutup, Fitri menyoroti satu aspek krusial yang kerap luput dalam penanganan krisis: manajemen komunikasi publik pemerintah. Kebijakan sebaik apa pun berpotensi memicu kekacauan jika dibumbui informasi yang simpang siur. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” pungkas Fitri. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah MalangBisa Mengajar di Thailand

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Menjadi guru tidak lagi harus terkurung di ruang kelas lokal. FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini membuka pintu lebar ke kancah dunia. Kampus ini berkomitmen membawa mahasiswanya menembus pasar kerja global. Komitmen itu dibuktikan dalam Open House Internasional pada, Selasa (7/4). Acara ini dihadiri ratusan siswa SMA asal Malang. Menariknya, hadir pula siswa dari Attarkiah Islamiah Institute, Thailand. FKIP UMM tidak hanya menawarkan teori. Program unggulannya adalah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Internasional. Lewat program ini, mahasiswa bisa praktik mengajar langsung di luar negeri. Dekan FKIP UMM Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., memberikan penegasan. Menurutnya, jejaring internasional kampus adalah investasi nyata bagi mahasiswa. “Jejaring ini bukan sekadar formalitas. Kami ingin dampak nyata. Mahasiswa kami sudah lama sukses mengajar di Thailand. Ini adalah bukti komitmen kami,” tegas Prof. Mahfud. Selain pengalaman mengajar, UMM juga menawarkan “karpet merah” beasiswa. Koordinator Mobilitas Internasional IRO UMM, Very Kurnia Aditama, M.Pd., menjelaskan berbagai skema menarik. Ada beasiswa KNB, TIAS, hingga NAM Scholarship. Namun, yang paling menggiurkan adalah beasiswa mandiri bernama UMM SUMMIT Scholarship. Beasiswa ini terbagi menjadi dua kategori utama. “Skema Kategori A sangat istimewa. Mahasiswa dibebaskan biaya kuliah penuh dan mendapat uang saku bulanan. Kami ingin memastikan akses pendidikan global menjadi lebih mudah,” kata Very. Suasana acara berlangsung sangat interaktif. Siswa lokal dan siswa asal Thailand tampak asyik berdiskusi. Mereka mengikuti sesi diskusi, presentasi prodi, hingga berkeliling melihat fasilitas kampus (campus tour). FKIP UMM sukses menciptakan simulasi dunia kerja internasional di dalam kampus. Melalui kegiatan ini, wawasan global para peserta diharapkan semakin terbuka. Langkah ini sekaligus memperkuat kerja sama pendidikan lintas negara di masa depan.(imm/lim)