UMM Siap Cetak Generasi Petani Modern dengan Teknologi Berkelanjutan

Isu kedaulatan pangan menjadi tantangan global yang kian mendesak di tengah perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan lonjakan kebutuhan dunia. Menjawab persoalan ini, Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan International Guest Lecture bertajuk “Achieving Food Sovereignty through the Integration of Smart and Sustainable Agricultural Technologies” pada Rabu, 8 April 2026. Acara ini menghadirkan dua akademisi dari Shandong Agricultural University, China. Dalam paparannya, Zhang Chao, Ph.D. menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak bisa lagi dipisahkan dari pemanfaatan teknologi cerdas. China sudah sukses mengembangkan sistem pertanian modern dengan mengintegrasikan Beidou Navigation, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan platform smart cloud. Integrasi ini memungkinkan pengelolaan lahan pertanian yang presisi, berbasis data, dan adaptif terhadap dinamika lapangan. “Sistem kami mampu menghubungkan sensor, drone, dan jaringan digital dalam satu ekosistem terpadu. Kita bisa menggunakan telepon atau komputer untuk melakukan kontrol jarak jauh. Kehadiran AI dan sistem otomatis menjadi kunci dalam menciptakan pertanian presisi yang minim ketergantungan pada tenaga manual,” jelas Zhang Chao. Ia menambahkan, teknologi ini adalah solusi strategis atas krisis iklim, menjadikan sektor pertanian lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Sementara itu, Xiaoyun Wang, Ph.D. memaparkan capaian teknologi pertanian China, khususnya pada industri sayuran. Pemanfaatan protected agriculture seperti greenhouse terbukti mampu memperpanjang masa tanam, menstabilkan produksi, dan meningkatkan kualitas panen. Didukung inovasi pengelolaan tanah yang komprehensif, China sukses mengukuhkan diri sebagai salah satu eksportir sayuran terbesar di dunia. “Fokus kita adalah bagaimana sistem teknologi China dapat diterapkan di Indonesia untuk mengembangkan industri sayur. Kami berharap inovasi ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan kolaborasi lintas negara,” ungkap Wang. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi di Indonesia harus disesuaikan dengan kondisi lokal, seperti tingginya curah hujan dan karakteristik khas tanah tropis, agar memberikan manfaat maksimal bagi sektor pertanian nasional. Disisi lain, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., turut menegaskan bahwa dinamika global menuntut kesiapan mahasiswa untuk bersaing di kancah internasional. “The world is getting borderless, yang menandakan bahwa batas geografis bukan lagi penghalang. So prepare yourself to compete in international level,” pesannya. Salis menekankan bahwa masa depan sangat bergantung pada sektor strategis seperti pangan, teknologi, dan energi. Melalui forum internasional ini, UMM tidak hanya memperluas jejaring, tetapi juga memperkuat kapasitas mahasiswa. Dengan sinergi antara teknologi canggih dan sumber daya manusia yang unggul, kedaulatan pangan akan menjadi target yang sangat realistis untuk diwujudkan.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kenaikan Harga Plastik Cekik UMKM, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Gangguan Pasok Nafta

asatunews – Lonjakan harga plastik yang signifikan telah menimbulkan tekanan besar bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di bidang makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Kenaikan ini, yang dilaporkan mencapai 30 hingga 80 persen pada April 2026, berimbas langsung pada biaya produksi dan profitabilitas UMKM. Menteri UMKM Maman Abdurrahman, seperti dilansir dari Money, menyatakan bahwa meskipun pelaku usaha berupaya menahan harga jual untuk menjaga daya beli konsumen, margin keuntungan mereka menyusut drastis. Situasi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik. Peningkatan harga plastik disebabkan oleh gangguan rantai pasok global, khususnya pada pasokan nafta, bahan baku utama plastik berbasis petrokimia. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menghambat distribusi nafta, memicu koreksi pasokan di tingkat hulu. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menambahkan bahwa sekitar 70 persen suplai nafta sempat terhenti karena konflik yang mempengaruhi jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz. Kelangkaan nafta ini, menurut Maman Abdurrahman, membuat bahan baku plastik sulit didapatkan, mendorong harga naik tajam di pasaran. Di tingkat pedagang, tekanan harga sudah sangat terasa. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan mengungkapkan bahwa harga plastik telah naik bertahap, mencapai puncak kenaikan sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelum Ramadan. Misalnya, harga plastik yang sebelumnya Rp 10.000 per pak terus merangkak naik Rp 500 hingga Rp 700 setiap pekannya. Pemilik toko plastik Restu Anggi juga merasakan hal serupa, dengan lonjakan harga plastik bening untuk pembungkus mencapai 50% di tingkat konsumen, seperti dikutip dari Katadata.co.id. Dampak Kenaikan Biaya pada UMKM Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair) Atik Purmiyati menegaskan bahwa kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi, berpotensi menggerus keuntungan usaha. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan modal dan sumber daya manusia di kalangan UMKM. M. Sri Wahyudi Suliswanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menilai situasi ini sebagai tekanan biaya struktural yang sulit dihindari, menunjukkan kurangnya kemandirian industri dalam negeri. Banyak pelaku UMKM terpaksa memangkas margin keuntungan atau mengurangi ukuran produk (shrinkflation) untuk menjaga harga tetap kompetitif. Beberapa pedagang bahkan mulai beralih ke plastik daur ulang yang lebih murah, meskipun kualitas dan keamanannya untuk kemasan makanan masih diragukan, seperti diberitakan oleh Metro TV. Strategi Industri dan Pemerintah Hadapi Krisis Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan industri merancang beberapa strategi. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan. Selain itu, industri aktif mencari sumber pasokan nafta baru di luar kawasan Timur Tengah, seperti dari Asia Tengah, Afrika, dan Amerika, meskipun waktu distribusi bisa lebih lama. Di tingkat pabrik, efisiensi dilakukan dengan mengurangi ketebalan plastik tanpa mengurangi fungsi kemasan. Maman Abdurrahman juga mengemukakan strategi jangka panjang melalui substitusi bahan baku berbasis minyak bumi dengan alternatif nabati seperti rumput laut dan singkong. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor nafta dan memanfaatkan sumber daya domestik. Sementara itu, di sisi pelaku UMKM, adaptasi dilakukan dengan penyesuaian volume produk, diversifikasi pasar, hingga mengganti jenis kemasan dengan bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung atau singkong. Pembelian bahan baku dalam jumlah besar secara kolektif juga menjadi cara untuk menekan biaya. Upaya Menjaga Pasokan dan Stabilitas Pemerintah berupaya memastikan pasokan plastik tetap tersedia di pasar dan masyarakat tidak perlu panik. Menperin Agus Gumiwang menegaskan komitmen pemerintah untuk mengamankan pasokan dengan mengoptimalkan berbagai kanal alternatif. Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur untuk menjaga daya tahan sektor. Hal ini dilakukan seiring upaya menyeimbangkan ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan keberlanjutan industri di tengah tekanan global terhadap bahan baku plastik. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk berperan aktif mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan praktik daur ulang. Inisiatif ini tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, membantu menstabilkan industri di masa mendatang.
Harga Plastik Melonjak, UMKM Kuliner Tertekan Gejolak Global

koranmanado – Lonjakan harga plastik yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir menciptakan tekanan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini secara spesifik memukul sektor makanan dan minuman, yang sangat bergantung pada penggunaan kemasan sekali pakai. Kenaikan harga yang mencapai puluhan hingga ratusan persen tersebut tidak hanya menambah beban biaya produksi, tetapi juga menimbulkan dilema berat dalam upaya menjaga kelangsungan usaha, sebagaimana dilansir dari Money. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa harga plastik di Indonesia telah melonjak antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Menurut Atik, lonjakan ini tidak terlepas dari dampak konflik geopolitik global yang memengaruhi pasokan minyak dunia. “Kenaikan tersebut karena bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia bergantung pada impor sebesar 60 persen,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (10/4/2026). Ketergantungan impor ini membuat harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global, sehingga distribusi terganggu dan harga minyak mentah naik, biaya bahan baku plastik pun ikut merangkak. Pandangan serupa disampaikan oleh pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sri Wahyudi Suliswanto. Ia menilai kenaikan harga plastik yang mencapai 100 persen dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dan bahan baku dampak konflik global. Wahyudi menegaskan, “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik.” UMKM Kuliner Paling Terdampak Kenaikan harga plastik paling dirasakan oleh UMKM sektor makanan dan minuman. Jenis usaha ini sangat mengandalkan kemasan plastik seperti wadah makanan, gelas minuman, dan kantong pembungkus. Atik menjelaskan bahwa kondisi ini memperberat beban UMKM yang seringkali memiliki keterbatasan modal dan sumber daya. “Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” katanya. Wahyudi menambahkan, ketergantungan tinggi pada plastik menjadikan UMKM kuliner sebagai sektor paling rentan. Ia menyebut kemasan plastik sebagai kebutuhan tak terhindarkan dalam operasional harian pelaku usaha kecil. Lonjakan harga ini kemudian menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan, yang meski tidak selalu terlihat langsung oleh konsumen, berdampak signifikan pada struktur biaya usaha. Dilema Pelaku Usaha dan Keterbatasan Struktural Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya plastik menempatkan UMKM pada pilihan sulit. Mereka dihadapkan pada risiko jika menaikkan harga jual produk, yaitu konsumen beralih ke alternatif lain di tengah daya beli masyarakat yang terbatas. Namun, jika harga tetap ditahan, margin keuntungan akan tergerus dan berpotensi mengancam kelangsungan usaha. Kondisi ini digambarkan Wahyudi sebagai dilema serius, di mana UMKM harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnis. Selain itu, ketergantungan 60 persen pada impor bahan baku plastik serta panjangnya rantai distribusi domestik memperparah tekanan harga di tingkat pelaku usaha kecil. Strategi Adaptasi dan Peran Pemerintah Di tengah tekanan ini, para pakar menekankan inovasi sebagai langkah bertahan bagi UMKM. Atik mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian, seperti mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga, diversifikasi pasar, atau mencari alternatif kemasan ramah lingkungan, misalnya berbahan pati jagung, tebu, singkong, hingga serat nanas. Namun, penggunaan kemasan ramah lingkungan ini masih belum masif. Wahyudi menekankan pentingnya perubahan perilaku konsumsi dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” tuturnya. Strategi adaptasi lain yang disarankan adalah penerapan diferensiasi harga, di mana konsumen yang membawa wadah sendiri dapat memperoleh harga lebih murah. Menurut Wahyudi, langkah ini menekan biaya produksi dan mendorong perubahan perilaku konsumen ke arah lebih ramah lingkungan. Meski inovasi penting, intervensi pemerintah tetap krusial. Wahyudi menegaskan, “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran.” Ia juga menyarankan pemerintah mencari pemasok bahan baku alternatif dari negara yang tidak terdampak konflik untuk menjaga stabilitas pasokan. Di balik tekanan, kondisi ini juga dipandang sebagai momentum perubahan pola produksi dan konsumsi plastik sekali pakai. Baik Atik maupun Wahyudi menilai krisis ini dapat menjadi titik awal transformasi menuju penggunaan kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan, yang memerlukan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen.
Harga Plastik Naik Tajam, UMKM Kuliner Paling Terdampak

JAKARTA, KOMPAS.com — Lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Kenaikan harga yang mencapai puluhan hingga bahkan ratusan persen tersebut tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga memunculkan dilema serius dalam menjaga keberlanjutan usaha. Kenaikan harga plastik terjadi di tengah gejolak global yang memengaruhi pasokan bahan baku dan harga energi. Dampaknya merambat hingga ke tingkat pelaku usaha kecil yang selama ini memiliki keterbatasan modal dan fleksibilitas operasional. Harga plastik naik signifikan akibat faktor global Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Menurut dia, lonjakan tersebut tidak terlepas dari konflik geopolitik global yang berdampak pada pasokan minyak dunia. “Kenaikan tersebut karena bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia bergantung pada impor sebesar 60 persen,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (10/4/2026). Ketergantungan pada impor ini membuat harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Ketika distribusi terganggu dan harga minyak mentah meningkat, biaya bahan baku plastik pun ikut terdorong naik. Kondisi serupa juga disampaikan oleh pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sri Wahyudi Suliswanto. Ia menilai lonjakan harga plastik hingga 100 persen dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi. UMKM kuliner paling terdampak Dampak kenaikan harga plastik paling terasa pada UMKM sektor makanan dan minuman. Hal ini karena jenis usaha tersebut sangat bergantung pada kemasan plastik seperti wadah makanan, gelas minuman, hingga kantong pembungkus. Atik menjelaskan bahwa kondisi ini memperberat beban UMKM yang sudah memiliki keterbatasan modal dan sumber daya. “Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” ujarnya. Sementara itu, Wahyudi menilai ketergantungan tinggi terhadap plastik menjadikan UMKM kuliner sebagai sektor paling rentan. Ia menyebut kemasan plastik sebagai kebutuhan yang tidak dapat dihindari dalam operasional harian pelaku usaha kecil. Lonjakan harga ini kemudian berubah menjadi apa yang disebut sebagai “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan. Dalam praktiknya, biaya tambahan ini tidak selalu terlihat secara langsung oleh konsumen, tetapi berdampak signifikan pada struktur biaya usaha. Dilema antara menaikkan harga atau menahan beban Kenaikan biaya produksi akibat mahalnya plastik menempatkan pelaku UMKM dalam posisi sulit. Mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berisiko. Jika pelaku usaha menaikkan harga jual produk, ada kemungkinan konsumen akan beralih ke alternatif lain, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas. Namun, jika harga tetap ditahan, margin keuntungan akan semakin tergerus dan berpotensi mengancam kelangsungan usaha. Wahyudi menggambarkan kondisi ini sebagai dilema serius. UMKM harus memilih antara mempertahankan pelanggan atau menjaga keberlanjutan bisnisnya. Keterbatasan struktural memperparah dampak Selain faktor eksternal, dampak kenaikan harga plastik juga diperparah oleh kondisi struktural dalam negeri. Salah satunya adalah ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku plastik. Atik menyebut bahwa sekitar 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih berasal dari impor. Kondisi ini membuat harga plastik domestik sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Di sisi lain, Wahyudi menyoroti panjangnya rantai distribusi domestik yang turut memperbesar tekanan harga di tingkat pelaku usaha kecil. Kombinasi antara ketergantungan impor dan distribusi yang tidak efisien membuat kenaikan harga menjadi lebih tajam di tingkat hilir, termasuk UMKM. Inovasi menjadi respons utama pelaku UMKM Di tengah tekanan tersebut, para pakar menekankan pentingnya inovasi sebagai langkah bertahan bagi UMKM. Atik mendorong pelaku usaha untuk melakukan berbagai penyesuaian, seperti mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga, melakukan diversifikasi pasar, hingga mencari alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan. Ia menyebut beberapa opsi substitusi seperti kemasan biodegradable berbahan pati jagung, tebu, singkong, hingga serat nanas. Namun, penggunaan kemasan ramah lingkungan ini dinilai masih belum masif di kalangan UMKM. Sementara itu, Wahyudi menekankan pentingnya perubahan perilaku konsumsi sebagai bagian dari solusi. Ia mendorong pelaku UMKM untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” ujarnya. Strategi adaptasi di tingkat pelaku usaha Salah satu strategi yang disarankan adalah penerapan diferensiasi harga. Dalam skema ini, konsumen yang membawa wadah sendiri dapat memperoleh harga lebih murah dibandingkan yang menggunakan kemasan plastik dari penjual. Menurut Wahyudi, langkah ini tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku konsumen ke arah yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, strategi ini dinilai dapat menjadi solusi jangka pendek untuk menjaga keseimbangan antara biaya operasional dan daya beli konsumen. Peran pemerintah dinilai krusial Meski inovasi di tingkat pelaku usaha penting, para pakar menilai intervensi pemerintah tetap menjadi faktor kunci dalam meredam dampak kenaikan harga plastik. Wahyudi menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa membiarkan UMKM menghadapi tekanan ini sendirian. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran,” tutur dia. Ia juga menyarankan agar pemerintah aktif mencari pemasok bahan baku alternatif dari negara yang tidak terdampak konflik guna menjaga stabilitas pasokan. Momentum perubahan pola konsumsi Di balik tekanan yang terjadi, kondisi ini juga dipandang sebagai momentum untuk mendorong perubahan dalam pola produksi dan konsumsi, khususnya terkait penggunaan plastik sekali pakai. Baik Atik maupun Wahyudi menilai bahwa krisis ini dapat menjadi titik awal bagi transformasi menuju penggunaan kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Namun, transformasi tersebut memerlukan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen. Tanpa dukungan dari berbagai pihak, upaya adaptasi yang dilakukan UMKM dinilai tidak akan cukup untuk mengatasi tekanan yang ada.
Dosen UMM Tembus Jajaran 100 Akademisi Terbaik Dunia

KOMPAS.com – Seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) Sholahuddin Al Fatih sukses meraih prestasi di kancah global. Tak tanggung-tanggung, namanya tercatat dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan peneliti dari kampus bergengsi dunia. Seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti secara objektif tanpa skema langganan berbayar. Gunakan 3 indikator Pria yang akrab disapa Fatih tersebut menjelaskan bahwa pemeringkatan ini menggunakan tiga indikator metrik ketat untuk menempatkan akademisi sebagai pilar intelektual sejati. Tiga indikator tersebut meliputi Research Gravitas yang mengukur kedalaman intelektual, Olympic Mean untuk menyaring konsistensi mutu karya, serta Interaction Credit sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi substantif. Seluruh data tersebut dilacak secara murni melalui profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Saat mendapatkan kabar soal capaian ini, Fatih mengapresiasi metode yang digunakan measuresHE dalam menentukan siapa saja yang pantas masuk daftar tersebut. MeasuresHE benar-benar mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominatornya tanpa memandang label nama besar. Fatih sendiri memegang prinsip bahwa menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” tegas Fatih dilansir dari laman UMM, Jumat (10/4/2026). Riset yang berdampak Sepanjang kariernya, ia telah menghasilkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Isu yang ia angkat konsisten bersinggungan langsung dengan masyarakat. Seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Bukti nyata dari riset berdampak tercermin dalam karya unggulannya yang lahir saat pandemi 2021. Ia membedah ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Meski topiknya dekat dengan keseharian, riset ini justru memiliki kekuatan besar dalam mengkaji bagaimana ruang digital memicu tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Riset tersebut sekaligus menegaskan bahwa hukum tidak boleh berhenti di tataran teori, tetapi harus hadir secara praktis. Atas berbagai risetnya, kontribusi Fatih terasa di dua sisi, yakni memperkaya diskursus akademik sekaligus memberikan sudut pandang yang solutif dalam praktik lapanga. Dukungan ekosistem kampus Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan UMM yang menyediakan ekosistem riset yang mumpuni, mulai dari akses jurnal primer, fasilitas internet, hingga insentif publikasi. Fatih berharap capaiannya ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional sekaligus memotivasi rekan sejawat serta mahasiswa. Ia pun membagikan rahasia suksesnya, yakni merawat konsistensi ide dengan rutin mencatat kerangka pemikiran setiap hari. “Capaian ini menjadi dorongan agar UMM semakin dikenal secara global, sekaligus memacu semangat menulis para dosen dan mahasiswa. Riset itu harus memberi dampak nyata. Jadi, mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju!” pungkasnya.
Harumkan Indonesia, Dosen UMM Masuk 100 Besar Akademisi Dunia

goodnews – Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), Sholahuddin Al Fatih, sukses mengukir prestasi gemilang di kancah internasional. Namanya resmi tercatat dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE, menempatkannya sejajar dengan para peneliti dari institusi elite seperti Oxford University dan Deakin University. Hal ini menjadi istimewa karena measuresHE menggunakan sistem penilaian objektif melalui tiga indikator metrik ketat yaitu Research Gravitas (kedalaman intelektual), Olympic Mean (konsistensi mutu), dan Interaction Credit (kolaborasi substantif). Data tersebut dilacak secara murni melalui profil akademik terverifikasi tanpa memandang label besar institusi asal peneliti. Fatih dikenal sebagai akademisi yang produktif dengan ratusan karya di Google Scholar serta puluhan artikel terindeks Scopus dan Web of Science. Fokus risetnya konsisten mengangkat isu-isu yang bersinggungan langsung dengan masyarakat, seperti disrupsi hukum akibat teknologi dan dinamika media sosial. Baginya, hukum tidak boleh hanya berhenti pada tataran konsep, melainkan harus aplikatif dan memberikan solusi nyata bagi implementasi di lapangan. Karya unggulannya yang membedah konsekuensi hukum ekspresi masyarakat di media sosial menjadi bukti nyata bagaimana riset akademik dapat menjawab tantangan zaman.
Harga Plastik Meroket, UMKM Kuliner Disarankan Terapkan Strategi Diskon Ramah Lingkungan

Malang, Tugumalang.id – Lonjakan harga plastik hingga 100 persen akibat memanasnya konflik geopolitik global mulai berdampak signifikan pada biaya operasional UMKM kuliner di Malang. Kenaikan harga bahan baku ini tidak hanya membebani pelaku usaha kecil, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga makanan dan minuman di tingkat konsumen. Menghadapi situasi tersebut, pakar dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan sejumlah strategi untuk membantu UMKM tetap bertahan. Menurut Pakar Ekonomi UMM, M. Sri Wahyudi Suliswanto, kondisi ini membutuhkan penyelesaian strategis dari dua arah sekaligus. Pemerintah didorong untuk segera mencari pemasok alternatif dari negara yang tidak terdampak konflik, sementara pelaku UMKM perlu melakukan penyesuaian strategi bisnis agar tetap kompetitif. ‘‘Dari sisi UMKM harus segera menjadikan situasi darurat ini sebagai momentum menyetop plastik sekali pakai lewat diskon khusus bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri,’’ ungkapnya, Jumat (10/4/2026). Di lapangan, tren kenaikan harga ekstrem ini telah berubah menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan para pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap wadah makanan, gelas minuman, hingga tas plastik sekali pakai. Biaya produksi yang membengkak memaksa pelaku usaha berada dalam dilema. Jika menaikkan harga jual, mereka berisiko kehilangan pelanggan karena daya beli masyarakat masih relatif lesu. Sebaliknya, jika harga tetap dipertahankan, keberlangsungan usaha justru terancam. ‘‘Tapi kalau mereka menahan harga, ada risiko keberlangsungan usaha justru terancam gulung tikar,’’ ujarnya. Ketergantungan Impor Picu Lonjakan Harga Plastik Wahyudi menjelaskan, akar persoalan ini menunjukkan lemahnya kemandirian industri dalam negeri, khususnya pada sektor bahan baku plastik. Ketergantungan terhadap impor membuat harga domestik sangat rentan terhadap gejolak global. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tertekan,” ungkapnya. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh rantai distribusi domestik yang panjang, sehingga harga bahan baku semakin tinggi saat sampai ke tangan pelaku UMKM. Situasi ini, menurut Wahyudi, sekaligus membuka peluang perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan. ’’Jadi, ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” tegasnya. Diskon Wadah Sendiri Jadi Strategi UMKM Bertahan Sebagai solusi praktis, Wahyudi menyarankan pelaku UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang membawa wadah sendiri dapat diberikan harga lebih murah sebagai bentuk insentif sekaligus edukasi lingkungan. Langkah ini dinilai tidak hanya membantu mengurangi biaya operasional, tetapi juga berpotensi membangun budaya konsumsi ramah lingkungan secara jangka panjang. Namun demikian, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa ditanggung pelaku usaha sendirian. Ia menilai intervensi pemerintah menjadi langkah mutlak mengingat penggunaan plastik yang sangat luas di berbagai sektor industri, mulai dari kuliner rumahan, manufaktur, hingga otomotif. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” imbuhnya. Langkah konkret yang dapat dilakukan pemerintah saat ini adalah memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang tidak terdampak konflik. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tidak hanya menyelamatkan bisnis UMKM saat ini, tetapi juga menjadi titik balik menuju pola konsumsi yang lebih bijak dan berkelanjutan.
Lonjakan Harga Plastik Tekan UMKM, Sektor Kuliner Paling Terpukul

Kalangan Jambi– Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di bidang makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Lonjakan harga yang mencapai puluhan hingga ratusan persen tersebut tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga menimbulkan dilema bagi pelaku usaha dalam menjaga kelangsungan bisnis mereka. Kenaikan harga plastik ini terjadi di tengah dinamika global yang memengaruhi ketersediaan bahan baku serta harga energi. Dampaknya pun merembet hingga ke pelaku usaha kecil yang memiliki keterbatasan modal dan fleksibilitas operasional. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh konflik geopolitik global yang memengaruhi pasokan minyak dunia. Menurutnya, sekitar 60 persen bahan baku plastik di Indonesia masih bergantung pada impor, sehingga harga dalam negeri sangat rentan terhadap gangguan pasokan global. Pendapat serupa disampaikan oleh pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M Sri Wahyudi Suliswanto. Ia menilai lonjakan harga plastik yang bahkan mencapai 100 persen disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah serta bahan baku akibat konflik global. Ia menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik membuat harga domestik mudah terdampak ketika terjadi gangguan distribusi internasional dan kenaikan harga minyak dunia. Dampak kenaikan harga plastik paling terasa pada UMKM di sektor makanan dan minuman. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan terhadap berbagai jenis kemasan plastik, seperti wadah makanan, gelas minuman, dan kantong pembungkus. Atik menambahkan bahwa kondisi ini semakin memperberat beban UMKM yang sebelumnya sudah menghadapi keterbatasan modal dan sumber daya, karena kenaikan harga plastik secara langsung meningkatkan biaya produksi dan berpotensi mengurangi keuntungan. Sementara itu, Wahyudi menilai bahwa tingginya ketergantungan terhadap plastik membuat sektor kuliner menjadi yang paling rentan terdampak. Ia menyebutkan bahwa penggunaan kemasan plastik merupakan kebutuhan yang sulit dihindari dalam operasional sehari-hari pelaku usaha kecil.
Top 10 PTS Terbaik di Indonesia Versi Uniranks 2026, Salah Satunya Ada di Malang!

MALANG, Tugumalang.id – Berikut ini daftar top 10 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Indonesia versi Uniranks yang dirilis di tahun 2026 ini. Daftar PTS terbaik di Indonesia ini dapat menjadi referensi bagi calon mahasiswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Seperti diketahui, Uniranks merupakan salah satu lembaga pemeringkatan perguruan tinggi di dunia yang kredibel. Dalam menyusun pemeringkatan, Uniranks menggunakan metodologi berdasarkan sejumlah pilar penting, di antaranya kesejahteraan mahasiswa, keterserapan alumni di dunia kerja, kualitas akademik, transformasi digital, reputasi global, serta inovasi yang dilakukan oleh masing-masing PTS. Pengumpulan data yang dilakukan oleh Uniranks, salah satunya menggunakan analitik berbasis kecerdasan buatan atau AI, serta ulasan dari ahli independen. Adapun proses pengumpulan data berdasarkan lima metode utama, yakni pengumpulan data dan pengindeksan web dengan didukung AI, kemitraan data pihak ketiga, pengajuan profil secara mandiri oleh universitas, survei dan rating dari pemangku kepentingan, dan audit pakar oleh tim elite Uniranks. Berikut ini daftar top 10 PTS terbaik di Indonesia versi Uniranks 2026 sebagai referensi bagi calon mahasiswa dalam memilih perguruan tinggi impian. 10 PTS Terbaik di Indonesia 1. Telkom University · Peringkat Indonesia: 11 · Peringkat Asia: 395 2. Binus University · Peringkat Indonesia: 12 · Peringkat Asia: 397 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta · Peringkat Indonesia: 19 · Peringkat Asia: 622 4. Universitas Islam Indonesia · Peringkat Indonesia: 23 · Peringkat Asia: 752 5. Universitas Ahmad Dahlan · Peringkat Indonesia: 24 · Peringkat Asia: 787 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta · Peringkat Indonesia: 32 · Peringkat Asia: 1086 7. Universitas Dian Nuswantoro · Peringkat Indonesia: 33 · Peringkat Asia: 1089 8. Universitas Muhammadiyah Malang · Peringkat Indonesia: 37 · Peringkat Asia: 1120 9. Universitas Mercu Buana · Peringkat Indonesia: 38 · Peringkat Asia: 1136 10.Universitas Gunadarma · Peringkat Indonesia: 41 · Peringkat Asia: 1186
Lonjakan Harga Plastik Jadi Beban Berat UMKM Makanan dan Minuman

batuahnews – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor makanan dan minuman, menghadapi tekanan berat menyusul lonjakan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga kemasan sekali pakai ini memicu dilema serius terkait biaya produksi dan keberlanjutan bisnis mereka, seperti dilansir dari Money. Kenaikan harga plastik tercatat mencapai puluhan hingga ratusan persen per April 2026. Situasi ini diperparah oleh gejolak global yang berdampak pada pasokan bahan baku serta harga energi. Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM dari Universitas Airlangga (UNAIR), Atik Purmiyati, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik di Indonesia berkisar antara 30 persen hingga 80 persen hingga April 2026. Ia menjelaskan, lonjakan ini tidak terlepas dari konflik geopolitik global yang memengaruhi pasokan minyak dunia. “Kenaikan tersebut karena bahan baku utama pembuatan plastik di Indonesia bergantung pada impor sebesar 60 persen,” ujar Atik, dikutip dari laman resmi Unair pada Jumat (10/4/2026). Ketergantungan impor ini menyebabkan harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Ketika jalur distribusi terganggu dan harga minyak mentah meningkat, biaya bahan baku plastik ikut terdorong naik. Senada, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, menilai bahwa lonjakan harga plastik hingga 100 persen dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dan bahan baku akibat konflik global. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegas Wahyudi. UMKM Kuliner Rasakan Pukulan Terberat Dampak kenaikan harga plastik paling terasa pada UMKM di sektor makanan dan minuman. Jenis usaha ini sangat bergantung pada kemasan plastik, seperti wadah makanan, gelas minuman, hingga kantong pembungkus, yang menjadi kebutuhan tak terhindarkan dalam operasional harian. Atik menjelaskan bahwa kondisi ini menambah beban UMKM yang seringkali memiliki keterbatasan modal dan sumber daya. “Kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi hingga dapat menggerus keuntungan usaha,” katanya. Wahyudi menyebut, lonjakan harga ini berubah menjadi apa yang ia istilahkan sebagai “biaya siluman”. Biaya tambahan ini perlahan menggerus margin keuntungan dan berdampak signifikan pada struktur biaya usaha, meski seringkali tidak terlihat langsung oleh konsumen. Dilema Pelaku Usaha: Naikkan Harga atau Tahan Beban? Peningkatan biaya produksi akibat mahalnya plastik menempatkan pelaku UMKM pada posisi sulit. Mereka dihadapkan pada dua pilihan berisiko: menaikkan harga jual produk atau menahan beban biaya. Jika harga produk dinaikkan, ada risiko konsumen beralih ke alternatif lain, terutama di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas. Namun, jika harga tetap ditahan, margin keuntungan akan semakin menipis dan berpotensi mengancam kelangsungan usaha. Wahyudi menggambarkan situasi ini sebagai dilema serius, di mana UMKM harus memilih Keterbatasan Struktural dan Solusi Inovatif Selain faktor eksternal, dampak kenaikan harga plastik diperparah oleh ketergantungan tinggi Indonesia terhadap impor bahan baku plastik, yakni sekitar 60 persen. Wahyudi juga menyoroti panjangnya rantai distribusi domestik yang turut memperbesar tekanan harga di tingkat pelaku usaha kecil. Para pakar menekankan pentingnya inovasi sebagai langkah bertahan bagi UMKM. Atik mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian, seperti mengurangi volume produk tanpa menaikkan harga, diversifikasi pasar, atau mencari alternatif kemasan ramah lingkungan, misalnya berbahan pati jagung, tebu, atau serat nanas. Namun, penggunaan kemasan ramah lingkungan ini masih belum masif. Wahyudi juga menekankan perubahan perilaku konsumsi, mendorong UMKM mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Ia menyarankan strategi diferensiasi harga, di mana konsumen yang membawa wadah sendiri dapat memperoleh harga lebih murah, yang tidak hanya menekan biaya produksi tetapi juga mendorong perilaku ramah lingkungan. Peran Pemerintah Crucial Meskipun inovasi di tingkat pelaku usaha penting, intervensi pemerintah tetap menjadi faktor kunci untuk meredam dampak kenaikan harga plastik. Wahyudi menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan UMKM menghadapi tekanan ini sendirian. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran,” tegas Wahyudi. Ia juga menyarankan pemerintah untuk mencari pemasok bahan baku alternatif dari negara yang tidak terdampak konflik guna menjaga stabilitas pasokan. Kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan pola produksi dan konsumsi menuju penggunaan kemasan yang lebih efisien dan berkelanjutan, namun transformasi ini memerlukan kolaborasi dari pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen.