Dosen UMM Masuk Top 100 Akademisi Terbaik Dunia

KLIKMU.CO – Menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia bukan sekadar perkara memperbanyak publikasi, melainkan pembuktian kedalaman dan dampak nyata sebuah karya keilmuan. Prinsip inilah yang mengantarkan Dr Sholahuddin Al Fatih MH, Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menempati daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Capaian prestisius ini menempatkannya sejajar dengan deretan peneliti top dari kampus bergengsi mancanegara seperti Oxford University (Inggris) hingga Deakin University (Australia). Berbeda dengan ajang pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE secara spesifik menilai rekam jejak individu peneliti di kancah global secara objektif tanpa skema berbayar. Fatih menjelaskan, pemeringkatan ini menggunakan tiga indikator utama, yakni Research Gravitas, Olympic Mean, dan Interaction Credit yang dilacak dari profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi. Saya menempati peringkat 91,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Bukti nyata prinsip riset berdampak itu tercermin dari salah satu karyanya pada masa pandemi 2021 yang membahas ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukumnya. Kajian tersebut menegaskan pentingnya kehadiran hukum secara praktis di tengah dinamika ruang digital. Sepanjang karier akademiknya, Fatih telah menelurkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus, lima artikel di Web of Science Core Collection, dan ratusan karya di Google Scholar. Ia konsisten mengangkat isu teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan, tidak hanya di ranah konsep,” ujarnya. Keberhasilan riset tersebut tidak lepas dari dukungan ekosistem Universitas Muhammadiyah Malang sebagai Kampus Putih yang menyediakan akses jurnal, fasilitas riset, hingga insentif publikasi. Fatih berharap capaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di tingkat global sekaligus memotivasi dosen dan mahasiswa untuk terus berkarya. “Riset itu harus berdampak. Jadi mulai saja, jangan takut ditolak, dan teruslah maju,” pesannya. (Faqih/AS)
Gejolak Geopolitik Picu Lonjakan Harga Kemasan, UMKM Didorong Setop Plastik Sekali Pakai

Halopedeka.com – Memanasnya konflik geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak signifikan terhadap industri plastik dalam negeri. Harga kemasan plastik dilaporkan melonjak hingga 100%, sebuah kondisi yang kini mencekik operasional pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Menanggapi fenomena tersebut, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, menyatakan bahwa situasi darurat ini harus dijadikan momentum bagi UMKM untuk memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai. Menurutnya, UMKM perlu segera beradaptasi dengan memberikan insentif bagi konsumen yang mendukung gerakan ramah lingkungan. “UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek,” ujar Wahyudi pada Kamis (9/4/2026). Dilema Harga dan Daya Beli Dekan FEB UMM ini menjelaskan bahwa pembengkakan biaya produksi menempatkan pelaku usaha pada posisi sulit. Jika harga produk dinaikkan, ada risiko kehilangan pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, margin keuntungan yang tergerus dapat mengancam keberlangsungan usaha. Wahyudi menilai krisis ini menjadi cermin rapuhnya kemandirian industri nasional yang selama ini terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegasnya. Strategi Diferensiasi Harga Sebagai solusi praktis, Wahyudi menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah berhak mendapatkan potongan harga atau harga yang lebih murah. Strategi ini dianggap efektif untuk menyelamatkan finansial UMKM sekaligus membangun budaya pro-lingkungan secara jangka panjang. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” tambahnya. Tuntutan Intervensi Pemerintah Meski UMKM didorong untuk berinovasi, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa dipikul sendirian oleh pelaku usaha. Mengingat plastik adalah komponen masif di berbagai sektor mulai dari manufaktur hingga otomotif, kehadiran negara sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas. Ia mendesak pemerintah untuk segera mencari penyuplai bahan baku alternatif dari negara-negara non-konflik guna menjamin ketersediaan stok dengan harga terjangkau. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” pungkasnya. Melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang taktis, adaptasi pelaku UMKM, dan perubahan perilaku konsumen, krisis ini diharapkan menjadi titik balik bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan limbah plastik.
Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Masuk Jajaran 100 Akademisi Terbaik Dunia

readers.id – Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di kancah global. Namanya tercantum dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia di bidang Ilmu Sosial menurut pemeringkatan measuresHE, sebuah pencapaian yang menempatkannya sejajar dengan peneliti dari institusi bergengsi seperti Oxford University, Inggris, hingga Deakin University, Australia, dilansir dari Edukasi. Pemeringkatan measuresHE memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan penilaian institusi pada umumnya. Mereka secara objektif mengevaluasi rekam jejak individu peneliti tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Penilaian ini berfokus pada kualitas dan dampak karya akademik. Fatih menjelaskan bahwa measuresHE menggunakan tiga indikator metrik yang ketat untuk mengidentifikasi akademisi sebagai pilar intelektual sejati. Indikator-indikator tersebut adalah Research Gravitas, yang mengukur kedalaman intelektual suatu penelitian, Olympic Mean untuk menyaring konsistensi kualitas karya ilmiah, serta Interaction Credit sebagai bentuk apresiasi terhadap kolaborasi yang substantif. Data yang digunakan dalam penilaian ini dilacak secara murni melalui profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Fatih mengapresiasi metode yang diterapkan measuresHE, yang dinilainya mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator tanpa memandang reputasi atau nama besar. Prinsip Riset Berdampak Bagi Fatih, mencapai jajaran elit akademisi dunia bukan sekadar soal memperbanyak publikasi. Ia berpegang pada prinsip bahwa yang terpenting adalah pembuktian kedalaman serta dampak nyata dari sebuah karya keilmuan terhadap masyarakat. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” ujar Fatih, mengutip laman UMM pada Jumat (10/4/2026). Sepanjang kariernya, Sholahuddin Al Fatih telah menghasilkan sekitar 60 artikel yang terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, serta ratusan karya lain di Google Scholar. Isu-isu yang diangkatnya secara konsisten berkaitan langsung dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Salah satu bukti nyata dari risetnya yang berdampak adalah karyanya yang lahir saat pandemi 2021. Riset tersebut membedah ekspresi masyarakat di media sosial serta konsekuensi hukum yang menyertainya. Meskipun topiknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, penelitian ini memiliki kekuatan besar dalam mengkaji bagaimana ruang digital memicu tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Riset itu sekaligus menegaskan bahwa hukum harus hadir secara praktis, tidak hanya berhenti di tataran teori. Dukungan Universitas dan Motivasi Keberhasilan Fatih tidak lepas dari dukungan ekosistem riset yang disediakan oleh UMM. Kampus ini memberikan fasilitas yang mumpuni, mulai dari akses jurnal primer, fasilitas internet, hingga insentif publikasi. Fatih berharap, pencapaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional dan memotivasi rekan sejawat serta para mahasiswa.
Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Aplikasi pemantau kualitas dan distribusi makanan bergizi karya mahasiswa UMM ini sukses mencuri perhatian dunia dalam ajang International Youth Innovation Summit di Malaysia–Singapura. Tagar.co – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, bersama timnya berhasil meraih tiga penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23–26 Februari 2026 melalui inovasi aplikasi NutriTrack MBG, sistem pemantauan kualitas dan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemuda asal Banjarbaru tersebut memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Kompetisi tingkat internasional ini menantang peserta untuk menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Baca juga: Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit Daffa menjelaskan bahwa ide NutriTrack MBG lahir dari evaluasi pelaksanaan program MBG di Indonesia yang masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterlambatan distribusi, makanan yang tidak layak konsumsi, hingga kasus keracunan. Baca Juga: Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah “Program MBG ini merupakan langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa permasalahan seperti keracunan, keterlambatan distribusi, hingga makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelasnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Jumat (10/4/26). NutriTrack MBG dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Aplikasi ini menghadirkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG. Keunggulan utama aplikasi ini meliputi fitur transparansi informasi gizi yang memungkinkan pengguna mengetahui kandungan nutrisi makanan, seperti jumlah kalori dan protein. Selain itu, fitur pelacakan distribusi secara real-time memastikan ketepatan waktu pengiriman makanan hingga sampai ke tangan siswa. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di tingkat global. Bagi Daffa, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru sekaligus menjadi ajang pembelajaran yang berharga. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Baca Juga: Prof. Chun-Yen Chang: AI Bisa Gerus Daya Pikir Kritis, Guru Tetap Kunci Pendidikan Melalui pencapaiannya, Daffa juga menyampaikan pesan inspiratif kepada generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak takut mencoba hal baru. “Jika kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” ujarnya. (*)
10 PTS Terbaik di Indonesia Versi UniRanks 2026, Referensi Penting Calon Mahasiswa Baru

JATIMTIMES – Memilih perguruan tinggi swasta (PTS) kini bukan lagi perkara mudah. Jumlah kampus yang terus bertambah di berbagai daerah membuat calon mahasiswa memiliki banyak opsi, namun di sisi lain juga bisa membingungkan. Salah satu cara yang cukup membantu dalam menentukan pilihan adalah dengan melihat hasil pemeringkatan kampus dari lembaga kredibel, seperti UniRanks. Lembaga pemeringkatan internasional ini kembali merilis daftar universitas terbaik tahun 2026, termasuk daftar PTS terbaik di Indonesia. Peringkat ini bisa menjadi acuan awal untuk menilai kualitas kampus dari berbagai aspek. Daftar 10 PTS Terbaik Versi UniRanks 2026 Berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan melalui laman resmi UniRanks, berikut 10 perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia tahun 2026: 1. Telkom University Peringkat Indonesia: 11 Peringkat Asia: 395 2. Binus University Peringkat Indonesia: 12 Peringkat Asia: 397 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat Indonesia: 19 Peringkat Asia: 622 4. Universitas Islam Indonesia Peringkat Indonesia: 23 Peringkat Asia: 752 5. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat Indonesia: 24 Peringkat Asia: 787 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat Indonesia: 32 Peringkat Asia: 1086 7. Universitas Dian Nuswantoro Peringkat Indonesia: 33 Peringkat Asia: 1089 8. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat Indonesia: 37 Peringkat Asia: 1120 9. Universitas Mercu Buana Peringkat Indonesia: 38 Peringkat Asia: 1136 10. Universitas Gunadarma Peringkat Indonesia: 41 Peringkat Asia: 1186 Metodologi Penilaian UniRanks UniRanks tidak hanya menilai kampus dari satu sisi saja. Pemeringkatan ini dibuat berdasarkan sejumlah indikator penting yang mencerminkan kualitas perguruan tinggi secara menyeluruh. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain kesejahteraan mahasiswa, peluang kerja lulusan, kualitas akademik, hingga kemampuan kampus dalam beradaptasi dengan transformasi digital. Selain itu, reputasi global dan inovasi juga menjadi faktor penting dalam menentukan posisi universitas di tingkat internasional. Tujuannya jelas, yakni memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan. Dalam proses penyusunannya, UniRanks memanfaatkan teknologi modern seperti analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) serta melibatkan penilaian dari para ahli independen. Adapun metode pengumpulan datanya meliputi: • Pengindeksan data berbasis web yang didukung AI • Kerja sama dengan penyedia data pihak ketiga • Pengajuan data langsung dari masing-masing universitas • Survei dan penilaian dari berbagai pemangku kepentingan • Audit oleh tim ahli UniRanks Meski daftar ini dapat dijadikan referensi penting, calon mahasiswa tetap disarankan mempertimbangkan faktor lain seperti minat jurusan, lokasi kampus, biaya kuliah, hingga fasilitas yang ditawarkan. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan peringkat, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan masing-masing.
Mahasiswa UMM Kembangkan Inovasi NutriTrack MBG, Borong 3 Penghargaan Internasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kabar bahagia bagi warga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), karena mahasiswa Ilmu Komunikasi, Muhammad Daffa Azmi berhasil meraih prestasi yang membanggakan. Berawal dari keberadaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang acapkali diwarnai kendala di lapangan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan, mahasiswa Ilkom UMM ini berusaha menjawab keresahan tersebut dengan sebuah inovasi. Daffa merancang inovasi NutriTrack MBG, yaitu sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, serta mencatat data distribusi makanan secara real-time. Berkat inovasi tersebut, ia bersama timnya sukses membawa tiga penghargaan sekaligus di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23-26 Februari lalu. Pemuda asal Banjarbaru tersebut bersama timnya tak tanggung-tanggung dalam meraih prestasi, sebab ia memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Daffa menjelaskan, kompetisi tingkat internasional ini menantang pesertanya untuk merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ide timnya murni lahir dari realita evaluasi program MBG di Indonesia. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” ungkap Daffa. Berangkat dari masalah tersebut, Daffa dan timnya mempresentasikan NutriTrack MBG di hadapan dewan juri internasional. Aplikasi digital ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang berfokus pada keamanan pangan dan ketepatan sasaran. Agar pengawasan dan evaluasi program MBG berjalan transparan, aplikasi ini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Keunggulan utama dari aplikasi ini mencakup transparansi informasi gizi dan pelacakan distribusi secara real-time. Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein. Kemudian, sistem pencatatan distribusi real-time dirancang untuk memastikan transparansi waktu, yang mencakup informasi detail mulai dari jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu pesanan tersebut harus sampai di tangan siswa. Gagasan inovatif dan kerja sama tim yang solid ini pada akhirnya berhasil memukau dewan juri. Bagi Daffa, pencapaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di kancah global. Pengalaman kompetisi ini juga memberinya perspektif baru yang mendalam. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” ujarnya. Melalui keberhasilannya, Daffa menitipkan pesan bagi generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman. “Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” tegasnya. ***
Kisah Adrian, Mahasiswa UMM Lolos Magang Internasional, Bikin Inovasi AI Hingga Dilirik Industri Global

Industri semikonduktor dunia menuntut presisi mutlak tanpa ruang untuk kesalahan. Di sinilah Adrian Mutu Hidayat, mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengambil peran krusial. Melalui Formosa Talent Internship Program di National Formosa University (NFU) Taiwan, ia tidak sekadar belajar, melainkan meracik algoritma machine learning untuk memprediksi cacat produksi di salah satu sektor paling rahasia dan bernilai tinggi di dunia. Keterlibatan Adrian di NFU, kampus yang dikenal unggul dalam kecerdasan buatan dan industri cerdas membuktikan bahwa pengalaman internasional kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan esensial. Sejak Februari 2026, ia terjun langsung dalam aktivitas riset di Lean Management Laboratory, laboratorium yang berfokus pada efisiensi industri dan proses manufaktur berbasis data. Bagi Adrian, atmosfer akademik di Taiwan memberikan kejutan tersendiri karena sangat terintegrasi dengan isu global dan kebutuhan nyata industri. “Di sini hampir semua hal berbasis riset dan data. Bahkan, isu global seperti perang atau kebijakan ekonomi internasional juga dibahas dalam konteks industri,” ungkap Adrian 10 April lalu pada Tim Humas UMM. Yang membuat pengalaman ini semakin signifikan adalah fokus risetnya pada defect prediction (prediksi cacat produksi) guna mengoptimalkan penggunaan bahan baku semikonduktor yang bernilai tinggi. Proyek ini terhubung langsung dengan perusahaan-perusahaan besar dengan tingkat kerahasiaan tinggi, menempatkan mahasiswa sebagai kontributor dalam ekosistem riset strategis. “Dulu saya belum sampai ke tahap ini. Sekarang saya belajar bagaimana melakukan sebuah fokus riset yang lebih spesifik,” jelasnya. Namun, pencapaian ini tentu tidak instan. Adrian mengakui adanya tantangan besar berupa perbedaan standar akademik dan budaya riset. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, dan pola pikir ilmiah yang jauh lebih kuat. “Integrasi internasional di sini sangat terasa. Semua topik diarahkan ke level global, dan itu yang menurut saya masih jarang saya temui sebelumnya,” ujarnya. Di balik keberhasilannya menaklukkan tantangan tersebut, Adrian menegaskan besarnya peran kampus. Dukungan akademik dan administratif dari UMM, khususnya dari pihak program studi yang memberikan fleksibilitas konversi SKS, menjadi kunci kelancaran studinya. “UMM sangat suportif, terutama dalam administrasi dan konversi akademik. Itu yang membuat kami bisa fokus menjalani program ini,” katanya. Langkah berani ini kini membuka jalan yang lebih lebar bagi Adrian. Ia mendapatkan kesempatan fast track menuju jenjang magister di NFU dengan durasi studi yang lebih singkat, sekaligus mengantongi modal penting untuk bersaing di pasar kerja global. Menutup ceritanya, Adrian memberikan pesan tegas kepada sesama mahasiswa UMM agar tidak ragu mengambil peluang internasional. “Kalau ingin merasakan dunia kerja global, program seperti ini sangat layak dicoba. Pengalamannya benar-benar berbeda dan membuka banyak peluang,” pungkasnya. Keberhasilan Adrian menjadi refleksi nyata bahwa UMM tidak hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga siap terjun ke dalam ekosistem riset dan industri global. Di tengah ketatnya persaingan pendidikan tinggi, langkah ini mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang adaptif, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.(alg/faq) Penulis: Mushtafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman