Baliho ”Aku Harus Mati” Ancam Kesehatan Mental, Pakar UMM Jelaskan Alasan Ilmiahnya

Baliho bertuliskan “Aku Harus Mati” yang menjadi sorotan karena dinilai berpotensi berdampak pada kesehatan mental masyarakat. (Pemprov DKI Jakarta) KLIKMU.CO – Fenomena shock marketing di ruang publik kembali menuai sorotan. Kali ini, baliho bertuliskan kalimat ekstrem “Aku Harus Mati” dinilai berpotensi membahayakan kesehatan mental, terutama bagi kelompok rentan. Pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) May Lia Elfina menegaskan bahwa penggunaan pesan provokatif di ruang publik merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Dia menjelaskan bahwa dari sudut pandang psikologi klinis, terdapat perbedaan mendasar antara ruang publik dan ruang privat seperti bioskop. Di ruang publik, semua orang dapat terpapar pesan tanpa seleksi, sehingga tidak ada kontrol terhadap dampak psikologis yang ditimbulkan. Ia menilai, kalimat “Aku Harus Mati” yang bersifat absolut dan tanpa konteks dapat menjadi pemicu berbahaya. Bagi individu dengan riwayat depresi, trauma, atau pikiran negatif, pesan tersebut dapat memunculkan validasi terhadap kondisi psikologis yang sedang dialami. “Pesan ini sangat berbahaya karena bisa memicu relapse atau serangan panik secara mendadak. Secara psikologis, manusia merespons ancaman dengan melawan, lari, diam, atau tunduk. Paparan seperti ini dapat langsung mengaktifkan amigdala dan memicu stres akut,” tegasnya. May menambahkan, risiko paparan semakin besar ketika baliho tersebut dilihat oleh anak-anak dan remaja yang belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang matang. Mereka berpotensi menangkap pesan secara harfiah, sehingga dapat memengaruhi pola pikir dan menormalisasi gagasan tentang kematian sebagai jalan keluar. Lebih lanjut, ia menyoroti perbedaan antara edukasi kesehatan mental dan strategi promosi yang hanya mengedepankan sensasi. Menurutnya, edukasi yang tepat harus memberikan konteks, solusi, dan harapan, bukan sekadar kejutan visual tanpa tanggung jawab moral. Dia juga mengingatkan adanya risiko Werther effect, yaitu fenomena ketika paparan konten terkait bunuh diri dapat memicu perilaku imitasi pada individu rentan, terlebih jika tidak disertai pesan bantuan atau solusi. “Mengingat kasus bunuh diri di Malang belakangan ini cukup tinggi, stimulus provokatif seperti ini bisa menjadi penguat risiko yang memperburuk kondisi psikologis masyarakat,” ujarnya. Sebagai solusi, May mendorong industri kreatif agar lebih bijak dalam mengangkat isu kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa promosi boleh saja kreatif, namun harus tetap mengedepankan prinsip tidak membahayakan. Menurutnya, pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam menyaring konten reklame di ruang publik. Pelibatan psikolog klinis dinilai mendesak untuk menilai tingkat risiko psikologis sebelum iklan ditayangkan. “Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyeleksi konten visual reklame. Pelibatan pakar psikologi kini sangat diperlukan agar ruang publik tetap aman dan ramah mental bagi siapa pun,” pungkasnya. (Faqih/AS)

UMM Jadi Mitra UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air

mepnews.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang meraih status kemitraan global bagi Organisasi PBB yang mengurus Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan itu. Dikabarkan situs resmi umm.ac.id, pencapaian ini hasil dari dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi SPsi MPsi PhD, menegaskan visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus berinovasi hingga menembus kemitraan UNESCO. Sebagai UNESCO Chair and Host Institution, UMM mengemban amanah memotori program keberlanjutan ekosistem air. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Karena terdesak, petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi vila sehingga berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM lalu hadir memberikan solusi melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kami memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sana, pada 2024, UMM mendapat penghargaan UNESCO atas upaya konservasi subak,” kata Salis. Kedua, UMM menerjunkan 52 akademisi ]ke Nusa Tenggara Timur untuk pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kami tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan, untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” kata ia. (Faqih Ahmad)

Aplikasi Pemantau Makanan Karya Mahasiswa UMM Raih 3 Penghargaan Internasional

Perbesar Mahasiswa UMM, Muhammad Daffa Azmi kembangkan Inovasi NutriTrack MBG. Foto: Dok. UMM KUMPARAN- Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, bersama timnya mengembangkan sebuah aplikasi bernama NutriTrack MBG yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan. Inovasi ini mengantarkan mereka meraih tiga penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia-Singapore yang digelar pada 23-26 Februari lalu. Dalam kompetisi tersebut, tim Daffa mendapatkan penghargaan First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Ajang ini menantang peserta untuk merancang solusi atas berbagai persoalan global yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Perbesar Karyawan mengemas paket makanan bergizi gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (23/2/2026). Foto: Adiwinata Solihin/ANTARA FOTO NutriTrack MBG dikembangkan berdasarkan kondisi di lapangan, khususnya dalam evaluasi program MBG di Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak, namun masih ditemukan sejumlah kendala, seperti kasus keracunan, keterlambatan distribusi, hingga kualitas makanan yang kurang baik. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelas Daffa seperti dikutip dari laman UMM, Senin (13/4). Melihat hal tersebut, aplikasi ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Tujuannya adalah mendukung proses pengawasan dan evaluasi agar berjalan lebih transparan. Perbesar Guru mendata ompreng paket Makan Begizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Tamansari, Kabupaten Bogor, Selasa (16/12/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan Salah satu fitur utama NutriTrack MBG adalah transparansi informasi gizi. Melalui fitur ini, pengguna dapat mengetahui kandungan nutrisi makanan secara lebih rinci, termasuk jumlah kalori dan protein. Selain itu, terdapat juga sistem pencatatan distribusi secara real-time yang memungkinkan pengguna memantau proses pengiriman makanan, mulai dari waktu keberangkatan hingga estimasi tiba. Menurut Daffa, pengalaman mengikuti kompetisi ini memberikan kesempatan untuk belajar sekaligus memahami bagaimana solusi yang dikembangkan dapat diterapkan secara lebih luas. Ia juga mendorong generasi muda untuk berani mencoba hal baru dan tidak ragu mengembangkan ide yang dimiliki. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” katanya.

UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Fasilitas PLTMH Sumber Maroon yang dikembangkan UMM menjadi bukti nyata sinergi antara teknologi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM) Universitas Muhammadiyah Malang resmi menjadi mitra UNESCO dalam program pelestarian ekosistem air berkelanjutan, menandai kiprah global kampus dalam menghadirkan solusi nyata bagi krisis air dan ketahanan pangan. Tagar.co — Di tengah meningkatnya ancaman krisis air global, sebuah kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan Indonesia. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih resmi ditetapkan sebagai mitra Unesco melalui program Unesco Chair and Host Institution on Sustainable Water Ecosystem. Pengakuan prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengemban mandat global tersebut. Kepercayaan ini bukanlah hasil yang diraih secara instan. Ia merupakan buah dari perjalanan panjang riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat yang dilakukan secara konsisten. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan bahwa visi UMM untuk berkontribusi di tingkat internasional telah menjadi motor penggerak berbagai inisiatif strategis kampus. “Status ini adalah amanah besar. Sejak awal, UMM berkomitmen menjadi impactful university yang mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan global, khususnya terkait keberlanjutan sumber daya air,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (13/4/26). Panen padi organik di Subak Tabanan, Bali, menandai kontribusi nyata Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam menjaga keberlanjutan ekosistem air. Melalui inovasi green farming dan smart farming, UMM tidak hanya melestarikan warisan budaya dunia, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM Menyelamatkan Warisan Dunia di Subak Bali Salah satu kiprah penting UMM terlihat di kawasan Subak, Tabanan, Bali—sistem irigasi tradisional yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco. Kawasan ini sempat menghadapi ancaman serius akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan yang menyebabkan degradasi kualitas tanah. Tanah menjadi keras dan kehilangan kesuburannya, memaksa sebagian petani mengalihfungsikan lahan sawah menjadi kawasan vila. Dampaknya tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada hilangnya daerah resapan air. UMM hadir dengan solusi berbasis green farmingdan smart farming. Pendekatan ini berhasil memulihkan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi produksi pertanian. Upaya tersebut juga secara tidak langsung menjaga keberlanjutan sumber daya air di kawasan tersebut. Berkat kontribusi ini, pada tahun 2024 UMM menerima penghargaan dari Unesco atas keberhasilannya dalam mendukung konservasi ekosistem Subak. “Kami memang tidak merawat air secara langsung saat itu. Namun melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, daerah resapan air dapat terselamatkan,” jelas Salis. Membawa Harapan Air Bersih ke Nusa Tenggara Timur Komitmen UMM terhadap keberlanjutan air juga menjangkau wilayah Indonesia Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melakukan pemetaan sumber air baru, memperkuat sistem ketahanan pangan, serta menekan angka stunting. Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan keterbatasan akses air bersih di daerah tersebut. Sebagai kelanjutan dari misi ini, UMM tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya, sebuah inovasi yang diharapkan mampu menyediakan pasokan air bersih secara berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Fasilitas PLTMH milik UMM menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa dalam mengembangkan teknologi energi bersih serta solusi keberlanjutan. (Tagar.co/Dokumentasi Humas UMM Energi Terbarukan dari Aliran Sungai Brantas Selain konservasi air, UMM juga menunjukkan kapasitasnya dalam pengembangan energi terbarukan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Fasilitas PLTMH 1 dan 2 yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas di kawasan kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling menjadi bukti nyata integrasi antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan energi bersih. Baca Juga:  Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual Tidak berhenti di lingkungan kampus, UMM turut membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah. Inisiatif ini bahkan mendorong pertumbuhan sektor ekowisata, seperti di kawasan Sumber Maron dan Boonpring Turen, yang kini dikenal sebagai destinasi wisata berbasis keberlanjutan. Amanah untuk Masa Depan Pengakuan dari Unesco menjadi tonggak penting bagi perjalanan UMM, namun bukanlah titik akhir. Bagi Kampus Putih, status ini merupakan tanggung jawab untuk terus berada di garis depan dalam upaya pelestarian lingkungan. Semangat tersebut sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah—sebuah visi yang menekankan keberlanjutan dan kemaslahatan bagi generasi mendatang. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga 50, 100, bahkan 500 tahun ke depan. Anak cucu kita membutuhkan lingkungan yang tetap lestari, termasuk ketersediaan air bersih,” pungkas Salis. Dengan langkah-langkah strategis yang terus berkembang, Universitas Muhammadiyah Malang tidak hanya mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, tetapi juga menghadirkan harapan nyata bagi masa depan bumi yang lebih berkelanjutan. (*)

UMM Dipercaya UNESCO untuk Misi Pelestarian Air Dunia

UMM resmi dipercaya UNESCO dalam program Ekosistem Air Berkelanjutan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi di bidang lingkungan dan riset. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Hal itu menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi SPsi MPsi PhD menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar untuk memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, respons terhadap krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Pada kawasan tersebut, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah mengeras, serta menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi ini mendorong sebagian petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak pada berkurangnya daerah resapan air. UMM kemudian hadir melalui inovasi green farming dan smart farming untuk mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis, Senin (13/4/2026). Langkah strategis kedua adalah pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 akademisi Kampus Putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi ini berfokus pada pemetaan sumber air baru, pembangunan sistem ketahanan pangan, serta penurunan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM juga menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM menunjukkan kapasitasnya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Melalui fasilitas PLTMH 1 dan 2 di lingkungan kampus serta Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas dimanfaatkan sebagai sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga turut mengembangkan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk mendukung ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan dari UNESCO ini tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan bahwa status tersebut merupakan amanah sekaligus dorongan untuk terus berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini selaras dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tetapi juga 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap berkelanjutan, termasuk ketersediaan air,” pungkasnya. (Faqih/AS)

UMM Malang Apresiasi Aktivis Kampus dengan Beasiswa dan Prestasi

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) Readers.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 4 April 2026, mengumumkan rencana memberikan apresiasi bagi aktivis kampus melalui skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi. Kebijakan ini merupakan respons terhadap anggapan negatif bahwa keaktifan di organisasi kampus menghambat kelulusan. Rencana ini muncul dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner. Forum tersebut awalnya bertujuan untuk silaturahmi pasca-Idul Fitri, namun kemudian berubah menjadi momen penting pengumuman kebijakan baru. Wakil Rektor III UMM, Nur Subeki, menyampaikan bahwa kontribusi mahasiswa dalam BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset berharga bagi universitas. Laman UMM melaporkan bahwa pihak universitas sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi aktivis. Menurut Nur Subeki, universitas ingin memastikan aktivis tidak hanya cakap berorganisasi, tetapi juga mendapat dukungan finansial dan akademis dari kampus. Keaktifan mahasiswa di organisasi akan dikategorikan sebagai prestasi. UMM juga berkomitmen memberikan pendampingan, termasuk dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Presiden Mahasiswa UMM, Wahyuddin Fahrurrijal, menyambut baik kebijakan ini. Ia mengatakan langkah ini sebagai solusi atas dilema mahasiswa dalam membagi fokus antara biaya kuliah, tuntutan akademik, dan tanggung jawab organisasi. Ia yakin, dengan adanya beasiswa minat mahasiswa untuk berorganisasi akan meningkat. Siti Aminah, perwakilan UKM yang hadir, juga menyuarakan dukungan terhadap kebijakan tersebut. Ia merasa peran aktivis yang seringkali bekerja di balik layar akhirnya mendapatkan apresiasi yang setara. Ia menambahkan, “Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai.” Dengan dukungan beasiswa dan pengakuan resmi, UMM berharap aktivisnya dapat lulus sebagai sarjana yang mandiri, serta memiliki integritas tinggi. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan semangat aktivisme di kalangan mahasiswa dan memberikan dampak positif bagi reputasi UMM.

Cek Anemia Kini Cukup Pakai Kamera HP Berkat Inovasi AI Dosen UMM

Di era yang serba digital, urusan cek kesehatan pun makin praktis dan di ujung jari. Menepis ketakutan banyak orang terhadap jarum suntik, Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., sukses menciptakan aplikasi deteksi anemia mandiri. Hanya bermodal kamera smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membaca citra mata, tes hemoglobin kini bisa dilakukan kapan saja dari rumah. Terobosan teknologi medis ini tidak digarap secara individual. Lailis menggandeng tim dosen dan mahasiswa Vokasi UMM lintas disiplin, termasuk La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T. dan Zulfatman, Ph.D. Lewat kolaborasi ini, mereka berupaya menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, dan mendobrak ketergantungan pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” tegas Lailis. Wanita yang juga Dekan Vokasi tersebut menjelaskan, bahwa secara teknis aplikasi tersebut bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva (selaput lendir) mata sebagai indikator visual. Foto mata yang diambil lewat kamera ponsel akan langsung diproses oleh AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Sistem secara pintar membaca pola kecerahan dan karakteristik warna mata yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), lalu mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini sukses menggeser praktik uji laboratorium menjadi sekadar sentuhan jari di layar perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika dipakai oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” jelasnya. Gagasan revolusioner ini bukan proyek instan. Risetnya bermula dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang berfokus pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Dalam pengembangannya, sistem ini terus “belajar” menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga kini, tingkat akurasi aplikasi telah menyentuh kisaran 80 persen, sebuah indikator menjanjikan untuk riset yang masih dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisanya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” ungkapnya. Ke depan, Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri harian bagi masyarakat luas. Secara spesifik, pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang membutuhkan pemantauan hemoglobin rutin tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tutup Lailis optimis.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Raih Pengakuan Akademik Dunia

Sholahuddin Al Fatih, Dosen FH UMM masuk daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE(dok. UMM) READER.ID – Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil meraih pengakuan sebagai salah satu akademisi terbaik dunia. Pencapaian luar biasa ini diumumkan pada Jumat, 10 April 2026, menempatkan namanya dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia bidang Ilmu Sosial versi measuresHE. Prestasi ini mensejajarkan Fatih dengan para peneliti dari universitas ternama dunia, termasuk Universitas Oxford di Inggris dan Deakin University di Australia. Penilaian measuresHE, berbeda dari pemeringkatan institusi pada umumnya, berfokus pada rekam jejak individu peneliti. Metode yang digunakan measuresHE melibatkan tiga indikator utama: Research Gravitas untuk mengukur kedalaman intelektual, Olympic Mean untuk menilai konsistensi mutu karya, dan Interaction Credit sebagai bentuk apresiasi kolaborasi. Data-data ini diperoleh melalui profil akademik terverifikasi, seperti Scopus dan Web of Science, menurut laporan yang dilansir dari Edukasi. Fatih menyampaikan apresiasi atas metode yang digunakan measuresHE. Ia menekankan bahwa prestasi ini bukan hanya tentang jumlah publikasi, melainkan pembuktian dampak nyata riset ilmiah. Sepanjang karirnya, ia telah menghasilkan sekitar 60 artikel terindeks Scopus dan ratusan karya di Google Scholar. Fatih juga menjelaskan bahwa risetnya berfokus pada isu-isu yang relevan dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum. Ia menegaskan pentingnya riset yang aplikatif. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” ujar Fatih, dilansir dari laman UMM. Pencapaian Fatih didukung penuh oleh UMM, yang menyediakan ekosistem riset yang mumpuni. Fatih berharap prestasi ini dapat memotivasi rekan sejawat dan mahasiswa, serta mengharumkan nama UMM di dunia internasional. Ia juga membagikan rahasia suksesnya, yaitu konsistensi dalam mencatat kerangka pemikiran setiap hari.