UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Konservasi Air dan Energi

(Sumber Humas UMM). HARIAN BASIS – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penunjukan ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Visi internasionalisasi kampus menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan strategis dengan organisasi PBB tersebut. Sebagai pemegang mandat UNESCO, UMM menjalankan intervensi di kawasan Subak, Tabanan, Bali, untuk mengatasi degradasi lahan akibat pestisida kimia. Inovasi green farming dan smart farming diterapkan guna memulihkan kesuburan tanah dan menjaga daerah resapan air yang terancam alih fungsi menjadi vila. “Melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sana, pada 2024, UMM mendapat penghargaan UNESCO atas upaya konservasi subak,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM, dilansir dari situs resmi umm.ac.id. Di wilayah Indonesia Timur, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan menekan angka stunting. Tim ahli saat ini sedang menyiapkan teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat setempat. Sektor energi terbarukan juga menjadi fokus melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 1 dan 2 di kompleks kampus serta Sengkaling. Teknologi ini memanfaatkan aliran Sungai Brantas sebagai sumber listrik ramah lingkungan yang juga diimplementasikan di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Status UNESCO Chair ini dianggap sebagai amanah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sesuai nilai Islam Berkemajuan. Program-program yang dijalankan bertujuan memastikan ketersediaan sumber daya air bagi generasi mendatang hingga ratusan tahun ke depan.
Menjawab Krisis Ekonomi Global, Enam Doktor FEB UMM Rumuskan Strategi Pembangunan Inklusif

Di tengah arus perubahan ekonomi global yang semakin kompleks, kebutuhan pendekatan baru dalam pembangunan berkelanjutan menjadi sangat mendesak. Merespons tantangan tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) menyelenggarakan Colloquium Post Doctoral bertajuk “Risalah Ekonomi dan Bisnis Berkemajuan: Integrasi Business Sustainability dalam Mendukung Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan”. Kegiatan ini digelar Selasa, 14 April 2026, di Aula GKB 4 UMM, sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan dan mendiseminasikan hasil riset para dosen yang baru merampungkan studi doktoral. Terdapat enam dosen yang mempresentasikan disertasinya, yakni M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., Dr. Ida Nuraini, M.Si., Yeyen Pratika, MBA., Ph.D., Dr. Sri Wahjuni L., M.M., Ak., CA., Fika Fitriasari, M.M., Ph.D., dan Novita Ratna Satiti, M.M., Ph.D. Kolokium ini bertujuan memetakan kepakaran dosen sekaligus memperkuat kontribusi keilmuan dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi yang inklusif. Forum ini juga memastikan agar hasil disertasi dapat diaplikasikan lebih luas oleh akademisi dan pemangku kebijakan. Dalam presentasinya, M. Sri Wahyudi S., M.E., Ph.D., menyoroti persoalan kemiskinan dan ketimpangan global. Menurutnya, indikator kesejahteraan dari lembaga seperti World Bank dan UNDP masih terlampau materialistik dan belum mencakup aspek moral. Melalui perspektif Islam, ia menawarkan pendekatan holistik yang mengukur kesejahteraan lewat penjagaan terhadap lima dimensi utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. “Selama ini kesejahteraan sering diukur dari angka ekonomi semata. Kita perlu indikator utuh. Integrasi nilai spiritual adalah kunci agar pembangunan tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga martabat manusia,” tegasnya. Sementara itu, Dr. Ida Nuraini, M.Si. membahas isu ketimpangan ekonomi wilayah, terutama kesenjangan kawasan barat dan timur Indonesia. Ia mengkritik kebijakan pembangunan daerah yang cenderung copy-paste tanpa menimbang potensi lokal, yang justru berisiko menghambat kesejahteraan masyarakat. “Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Perencanaan pembangunan harus berbasis data serta kebutuhan nyata lokal,” ungkap Ida. Ia kemudian mengusulkan pendekatan berbasis ekologi wilayah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai solusi mengatasi ketimpangan. Disisi lain, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kolokium ini adalah agenda strategis untuk mengembangkan institusi dan mengidentifikasi kepakaran dosen. Ia mendorong para doktor baru agar segera mengakselerasi kenaikan jabatan akademik. “FEB memiliki potensi besar melahirkan banyak guru besar. Momentum ini penting diiringi inovasi seperti program mikrokredensial dan kolaborasi internasional untuk meningkatkan daya saing institusi,” ujarnya. Secara keseluruhan, kolokium ini menjadi refleksi kritis mengenai arah pembangunan ekonomi di Indonesia. Melalui penegasan akan pentingnya integrasi aspek ekonomi, sosial, dan spiritual, gagasan ini diharapkan berkontribusi nyata dalam mewujudkan ekosistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Khusus Konten Kreator

Kabar gembira sekaligus angin segar bagi para kreator muda yang ingin mengasah intelektualitas tanpa harus meninggalkan hobi kreatifnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru jalur khusus influencer dan konten kreator mulai 1 April hingga 25 Juni 2026 mendatang. Lewat gebrakan ini, puluhan ribu followers dan portofolio digital di dunia maya kini menjadi ‘paspor’ sakti untuk masuk Kampus Putih tanpa perlu pusing memikirkan ujian tulis. Syarat yang ditawarkan sangat relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Para calon pendaftar cukup membuktikan diri dengan kepemilikan minimal 5.000 subscriber di platform YouTube, atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun, tingginya angka pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap memasang filter ketat: konten yang diproduksi wajib bersifat kreatif, edukatif, dan menularkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak sedang memburu popularitas semata, melainkan mencari substansi dan rekam jejak digital yang baik. Menanggapi terobosan ini, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa langkah ini adalah bentuk nyata adaptasi kampus terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, institusi pendidikan tidak boleh tutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru dari rahim teknologi. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini adalah investasi strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini diharapkan tidak hanya menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga mengukuhkan posisi UMM sebagai kampus yang proaktif membaca zaman. Kini, saatnya mengubah karya kreatif di dunia maya menjadi tiket menuju masa depan yang cerah.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Dipercaya UNESCO Kawal kelestarian Air Dunia
Kupilih Jalur Langit Kuras Emosi Penonton
Mahasiswa UMM Taklukkan Lab Rahasia di Taiwan
UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Ekosistem Air Berkelanjutan

(Sumber Humas UMM). BATUAH NEWS.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Status kemitraan global ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya UNESCO untuk mengawal isu kelestarian air dan ekosistem secara internasional. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa penetapan ini merupakan hasil dari rekam jejak panjang riset serta pengabdian masyarakat yang konsisten. Menurutnya, visi kampus untuk berkontribusi di level global menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan strategis dengan organisasi PBB tersebut. Sebagai mitra resmi, UMM menjalankan tiga mandat besar, salah satunya adalah pemulihan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali, yang terancam degradasi lahan. Melalui inovasi green farming dan smart farming, kampus berupaya mengembalikan kesehatan tanah yang mengeras akibat penggunaan pestisida kimia berlebih sekaligus mencegah alih fungsi lahan menjadi kawasan vila. “Kami memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM. Selain di Bali, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan titik sumber air baru dan membangun sistem ketahanan pangan guna menekan angka stunting. Proyek di wilayah Indonesia Timur ini juga mencakup persiapan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi warga setempat. Di sektor energi terbarukan, UMM memanfaatkan aliran Sungai Brantas melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling. Inovasi ini telah dikembangkan lebih luas untuk mendukung sektor ekowisata di wilayah Malang, seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen. Status UNESCO Chair ini dipandang sebagai amanah untuk terus melakukan kolaborasi riset dan aksi lapangan demi keberlanjutan lingkungan. Langkah ini sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam bagi generasi mendatang dalam jangka panjang.
Women Empowerment Bukan Sekadar Tren, UMM Ajarkan Cara Perempuan Ambil Peran Nyata di Masyarakat

Momentum International Women’s Day kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor. Mewujudkan hal tersebut, Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI). Sinergi ini diwujudkan melalui webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026). Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si., webinar ini dihadiri oleh ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ, Prof. Ma’mun Murod, M.Si., yang menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang inklusif. “Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya. Diskusi utama dalam webinar ini memfokuskan secara tajam pada urgensi pendidikan sebagai instrumen utama pemberdayaan perempuan. Dr. Tutik Sulistyowati, M.Si., selaku Tim Dewan Pakar PSP2A UMM, menegaskan bahwa akses pendidikan adalah langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan. “Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” papar Tutik. Isu tersebut kemudian diperdalam oleh Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Ia menyoroti secara khusus krusialnya realisasi pemerataan akses pendidikan tersebut hingga ke pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegas Rita. Sesi diskusi berlangsung sangat dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog komprehensif mengenai bagaimana cara mengukur kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Ia juga menyoroti ketersediaan dukungan anggaran pemerintah serta peran krusial masyarakat sipil dalam mengawasi implementasi kebijakan tersebut di lapangan. Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi yang terbangun tidak berhenti pada forum diskusi akademik semata. Lebih dari itu, gagasan ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi mewujudkan bangsa yang inklusif, setara, dan berkeadilan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT. (Foto: Istimewa) MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Kegiatan Pengembangan dan Pemeliharaan Subak Bali oleh UMM. (Foto: Istimewa) Pertama, merespon krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM. (Foto: Istimewa) Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). PLTMH UMM di Sumber Maroon. (Foto: Istimewa) Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Satu Keluarga Jadi Pelaku Curanmor di Malang dan Hilangnya Kontrol Moral

KOMPAS.ID – Seorang ayah, anak, dan menantu di Kabupaten Malang, Jawa Timur, diduga terlibat dalam jaringan pencurian kendaraan bermotor atau curanmor. Ketiganya diringkus aparat Kepolisian Resor Malang dalam waktu kurang dari satu pekan. Tiga pelaku dalam satu keluarga itu adalah seorang laki-laki berinisial M (67), warga Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, anak laki-laki M yang berinisial AK (38) dan menantu perempuan M berinisial DR (38) yang tinggal di Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari. DR digelandang lebih dulu pada Minggu (5/4/2026) setelah diamankan warga karena kedapatan berusaha mengambil sepeda motor di area persawahan Dusun Krajan, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari.