UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen “Kampus Berdampak” ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis. Langkah strategis kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lewat fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” pungkasnya. (diko)

Bangun 4 PLTMH di Malang, UMM Dipercaya UNESCO Kawal Misi Kelestarian Air Dunia

Salah satu PLTMH dari Universitas Muhammadiyah Malang yang berada di Sumber Maroon, menjadi salah satu alasan ditunjuk sebagai mitra UNESCO./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membangun beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di wilayah di Malang. Pembangunan PLTMH ini sebagai salah satu bukti komitmen UMM sebagai institusi pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Keberadaan PLTMH ini juga menjadi bagian dari alasan Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian prestisius ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga kampus di Indonesia yang berhasil meraih status kemitraan global tersebut. Pencapaian luar biasa ini bukanlah proses instan, melainkan buah dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa visi UMM untuk memberikan kontribusi di level internasional telah mendorong kampus ini terus berinovasi hingga sukses menembus kemitraan UNESCO. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini mengemban amanah besar memotori program keberlanjutan ekosistem air. Komitmen ‘Kampus Berdampak’ ini direalisasikan melalui tiga program strategis. Pertama, merespons krisis air dan alih fungsi lahan yang mengancam sistem irigasi tradisional warisan dunia di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Kala itu, penggunaan pestisida kimia berlebihan memicu degradasi kualitas lahan, membuat tanah keras, dan menurunkan tingkat kesuburan secara drastis. Kondisi krisis ini mendesak petani mengambil jalan pintas dengan mengalihfungsikan sawah menjadi kawasan vila, yang berdampak fatal pada hilangnya daerah resapan air. UMM pun hadir memberikan solusi nyata melalui penerapan inovasi green farming dan smart farming guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi panen. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” ungkap Salis. Kedua, komitmen UMM turut menyasar pengembangan wilayah Indonesia Timur dengan menerjunkan 52 Akademisi kampus putih ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi utama pengerahan ahli ini berfokus pada pemetaan titik sumber air baru, membangun sistem ketahanan pangan, dan menekan angka stunting. Sebagai proyek lanjutan, UMM saat ini tengah menyiapkan implementasi teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin pasokan air bersih bagi masyarakat setempat. PLTMH di kampus UMM menjadi bukti institusi pendidikan ikut andil membangun ekosistem energi terbarukan. Ketiga, di sektor energi terbarukan, UMM membuktikan kapasitasnya sebagai eksekutor melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Keberadaan fasilitas PLTMH 1 dan 2 di kompleks kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, aliran Sungai Brantas berhasil disulap menjadi sumber listrik ramah lingkungan. UMM juga berekspansi membantu pengembangan PLTMH di berbagai wilayah, termasuk menghidupkan sektor ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Pengakuan level dunia dari UNESCO tidak membuat UMM berpuas diri. Salis menegaskan, status ini merupakan amanah dan penyemangat agar kampus konsisten berada di garda terdepan dalam isu keberlanjutan. Visi pelestarian ini lekat dengan napas Islam Berkemajuan milik persyarikatan Muhammadiyah. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya,” tegasnya. ***

Incaran Calon Mahasiswa Baru, Intip 4 Kampus di Malang dengan Prodi Manajemen Akreditasi “Unggul”

INCARAN MABA: Manajemen merupakan salah satu prodi dengan persaingan yang tinggi. (Pinterest) MALANG, RADAR MALANG – Suasana “musim maba” kini mulai menyelimuti Kota Malang. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah mulai mencari informasi pendidikan dan platform pendaftaran kampus. Di antara ratusan pilihan program studi, jurusan Manajemen tetap konsisten menduduki takhta sebagai prodi dengan jumlah peminat terbanyak dan keketatan yang tinggi.  Kota Malang beruntung memiliki empat kampus yang telah memastikan prodi Manajemen mereka berada di level “Unggul”, yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), UIN Maulana Malik Ibrahim, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Universitas Brawijaya (UB) Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB adalah salah satu yang paling sulit ditembus di Jawa Timur. Prestasi mahasiswanya di ajang Business Plan tingkat nasional dan internasional tak perlu diragukan lagi. Jejaring alumni yang menjamur di berbagai sektor perusahaan bisa menjadi salah satu peluang bagi lulusannya untuk langsung terserap di dunia kerja. Universitas Negeri Malang (UM) Berada di bawah naungan FEB UM, prodi Manajemen di kampus ini menawarkan pembelajaran berkualitas dan berbagai fasilitas unggulan. Salah satunya adalah Laboratorium Manajemen Terpadu. Prestasi mahasiswa UM seringkali menonjol dalam ajang kreativitas dan riset manajemen tingkat nasional. UIN Maulana Malik Ibrahim UIN Maliki Malang menawarkan warna berbeda bagi mereka yang ingin mendalami manajemen dibarengi dengan fondasi etika dan nilai-nilai Islam yang kuat. Berbagai prestasi juga sering ditorehkan oleh mahasiswanya, baik nasional maupun internasional. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sebagai perwakilan perguruan tinggi swasta terbaik, Manajemen UMM membuktikan kualitasnya melalui kurikulum yang sangat adaptif terhadap kebutuhan industri terkini. UMM memiliki terobosan program Center of Excellence (CoE), sebagai kampus swasta unggul selama bertahun-tahun menjamin fasilitas laboratorium manajemen dan jaringan kemitraan dengan dunia usaha (DUDI) yang sangat luas. Hadirnya empat kampus dengan prodi Manajemen terakreditasi Unggul ini makin mengukuhkan posisi Malang sebagai “Kota Pendidikan” yang inklusif. Calon mahasiswa kini tinggal menyesuaikan fokus minat mereka. Yang pasti, lulusan manajemen dari keempat kampus ini telah disiapkan untuk menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.

Aplikasi Deteksi Anemia Berbasis AI, Cukup Kamera HP Tanpa Jarum Suntik

Lailis Syafa’ah, dosen vokasi dari Universitas Muhammadiyah Malang. Foto: dok.UMM MAKLUMAT – Inovasi di bidang kesehatan terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Kini, aplikasi deteksi anemia berbasis kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai solusi praktis untuk memantau kadar hemoglobin tanpa perlu tes darah. Terobosan ini dikembangkan oleh Lailis Syafa’ah, dosen vokasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui teknologi ini, masyarakat dapat melakukan deteksi anemia secara mandiri hanya dengan memanfaatkan kamera smartphone. Lailis menjelaskan, aplikasi deteksi anemia tersebut dirancang untuk menjawab kendala klasik masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan karena harus melalui prosedur pengambilan darah. Sokongan Kecerdasan Buatan “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani tes darah. Padahal deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius,” ujarnya. Secara teknis, aplikasi ini bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva atau selaput lendir pada mata. Pengguna cukup memotret bagian mata menggunakan kamera ponsel, kemudian sistem AI akan menganalisis tingkat kecerahan dan warna untuk memperkirakan kadar hemoglobin (Hb). Hasil analisis tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi estimasi kondisi anemia. Dengan demikian, proses yang sebelumnya harus dilakukan di laboratorium kini dapat dilakukan secara cepat hanya melalui perangkat pribadi. Baca Juga  PLN Nusantara Power Bawa Inovasi Energi Hijau ke Panggung Dunia Keakuratan Teknologi Kesehatan Pengembangan aplikasi deteksi anemia ini tidak dilakukan secara individu. Lailis menggandeng tim lintas disiplin dari lingkungan vokasi UMM, termasuk dosen dan mahasiswa, untuk memastikan sistem yang dibangun memiliki akurasi dan keandalan yang baik. “Ini bukan sekadar aplikasi biasa, tetapi sistem yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi medis. Dibutuhkan pemodelan yang presisi agar hasilnya tetap akurat untuk berbagai kondisi pengguna,” jelasnya. Riset ini sendiri berawal dari studi doktoral Lailis yang berfokus pada pemodelan kesehatan berbasis citra. Seiring pengembangannya, sistem terus dilatih menggunakan pendekatan machine learning agar mampu mengenali pola hubungan antara kondisi mata dan kadar hemoglobin. Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Saat ini, tingkat akurasi aplikasi deteksi anemia tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Angka ini dinilai cukup menjanjikan untuk tahap pengembangan, sekaligus membuka peluang untuk pemanfaatan lebih luas di masyarakat. Ke depan, aplikasi ini diharapkan menjadi alat deteksi mandiri yang bisa digunakan sehari-hari, terutama bagi kelompok yang membutuhkan pemantauan rutin seperti ibu hamil. “Harapannya, masyarakat bisa lebih sadar untuk memeriksa kesehatannya sendiri. Deteksi dini tidak harus selalu ke rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari rumah dengan teknologi yang mudah diakses,” pungkasnya.

Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

Ilustrasi freepik.com premium Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan terobosan baru dalam penerimaan mahasiswa dengan membuka jalur khusus bagi influencer dan konten kreator. Cukup dengan portofolio digital serta jumlah followers tertentu, calon mahasiswa berkesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa harus mengikuti ujian tulis. Tagar.co – Kabar gembira sekaligus angin segar bagi para kreator muda yang ingin mengembangkan intelektualitas tanpa harus meninggalkan hobi kreatifnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur khusus influencer dan konten kreator. Pendaftaran dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026. Melalui terobosan ini, puluhan ribu pengikut di media sosial serta portofolio digital kini dapat menjadi “paspor” untuk menembus Kampus Putih tanpa harus mengikuti ujian tulis. Kebijakan tersebut menjadi bukti nyata adaptasi UMM terhadap perkembangan era digital dan dinamika profesi generasi muda. Adapun persyaratan yang ditetapkan cukup relevan dengan keseharian anak muda masa kini. Calon pendaftar diwajibkan memiliki minimal 5.000 subscriber di platform YouTube atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan Namun demikian, jumlah pengikut bukan satu-satunya tolok ukur. UMM tetap menerapkan seleksi ketat dengan menekankan bahwa konten yang dihasilkan harus bersifat kreatif, edukatif, serta menyebarkan energi positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tidak semata mengejar popularitas, tetapi juga mengedepankan kualitas dan rekam jejak digital yang baik. Menanggapi terobosan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bentuk nyata adaptasi institusi pendidikan terhadap literasi digital generasi Z. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh menutup mata terhadap lahirnya profesi-profesi baru yang berkembang dari kemajuan teknologi. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar. Melalui jalur ini, UMM ingin mewadahi bakat tersebut agar anak muda kita tak sekadar asal viral, tetapi juga dibekali dengan fondasi akademik yang matang dan berintegritas,” tegasnya, dikutop dari siaran pers Humas UMM, Selasa (14/4/26). Baca Juga:  UMM Salurkan THR Rp314,6 Juta untuk 525 Guru dan Karyawan AUA di Malang Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini merupakan investasi strategis untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab sosial. “Kami mencari mereka yang bisa menginspirasi publik. Jika mereka sudah mahir berkomunikasi secara visual di media sosial, UMM siap memolesnya menjadi talenta profesional yang dampaknya jauh lebih luas bagi masyarakat,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini, dia berharap UMM tidak hanya mampu menjaring bibit-bibit unggul di ranah digital, tetapi juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai kampus yang proaktif dalam membaca perkembangan zaman. (#) Penyunting Mohammad Nurfatoni

Dosen UMM Permudah Cek Anemia Melalui Kamera HP Berkat Inovasi AI

Aplikasi cek anemia Eye-Nemia yang dibuat oleh dosen Universitas Muhammadiyah Malang./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., sukses menciptakan aplikasi deteksi anemia mandiri. Terobosan dilakukan Prof. Lailis Syafaah dengan memanfaatkan perkembangan zaman termasuk dengan keberadaan kecerdasan buatan (AI) di era digital. Menanggapi situasi di era yang serba digital, menurut Lailis, urusan cek kesehatan pun bisa dibuat makin praktis dan di ujung jari–mudah dijangkau. Dosen Vokasi ini berupaya menepis ketakutan banyak orang terhadap jarum suntik dalam hal pemeriksaan anemia. Kini, hanya bermodal kamera smartphone dan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang membaca citra mata, tes hemoglobin bisa dilakukan kapan saja dari rumah. Terobosan teknologi medis ini tidak digarap secara individual. Lailis menggandeng tim dosen dan mahasiswa Vokasi UMM lintas disiplin, termasuk La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T. dan Zulfatman, Ph.D. Berkat kolaborasi ini, mereka menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, dan mendobrak ketergantungan pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” ungkap Lailis, dikutip dari rilis UMM (14/4). Figur yang juga sebagai Dekan Vokasi ini menjelaskan, secara teknis aplikasi tersebut bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva (selaput lendir) mata sebagai indikator visual. Foto mata yang diambil lewat kamera ponsel akan langsung diproses oleh AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Sistem secara pintar membaca pola kecerahan dan karakteristik warna mata yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), lalu mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini sukses menggeser praktik uji laboratorium menjadi sekadar sentuhan jari di layar perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika dipakai oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” bebernya. Gagasan revolusioner ini bukan proyek instan. Risetnya bermula dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang berfokus pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Pada pengembangannya, sistem ini terus ‘belajar’ menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga kini, tingkat akurasi aplikasi telah menyentuh kisaran 80 persen, sebuah indikator menjanjikan untuk riset yang masih dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisanya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” jelasnya. Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri harian bagi masyarakat luas. Secara spesifik, pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang membutuhkan pemantauan hemoglobin rutin tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tandas Lailis. Adapun mengenai prevalensi anemia di Indonesia menurut WHO (2023) masih cukup tinggi, dengan data Riskesdas 2018 menunjukkan angka 32% pada remaja usia 15-24 tahun, yang berarti 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Kemudian, studi 2023 mencatat prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 35,5% dan kelompok wanita usia subur 30,7%. Anemia umumnya disebabkan kekurangan zat besi dan berisiko meningkatkan stunting. Terbaru menurut SKI 2023, prevalensi anemia di Indonesia mencapai 16,2% pada seluruh kelompok umur, dengan angka lebih tinggi pada kelompok spesifik. Penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi, yang sering kali berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, kebugaran, serta risiko stunting pada anak yang dilahirkan. Menghadapi keadaan ini, Pemerintah Indonesia melalui Kemenkes sedang berupaya mengatasinya dengan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri dan ibu hamil. ***

Kata Pakar UMM Soal Krisis Energi dan Komunikasi Publik Pemerintah

Ilustrasi. Strategi komunikasi publik guna mencegah kepanikan warga di tengah ancaman krisis energi global. (Foto: Canva). Dosen UMM Fitri Rusdianasari mendesak pemerintah merombak strategi komunikasi publik guna mencegah kepanikan warga di tengah ancaman krisis energi global. MALANG, HUMASINDONESIA.ID – Selat Hormuz tertutup rapat. Jalur nadi yang memompa 20 persen pasokan minyak dan gas dunia ini mendadak mati. Ketegangan bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat yang pecah sejak 28 Februari 2026 adalah penyebabnya. Banyak negara merasakan dampaknya. Tak terkecuali Indonesia. Dalam situasi seperti ini, pemerintah seakan dihadapkan dengan buah simalakama. Membiarkan harga bahan bakar meroket gila-gilaan akan mencekik leher rakyat kecil. Namun, mengguyur subsidi habis-habisan pun tidak bisa dipandang sebagai pilihan karena hanya akan merobek kantong Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menyimak dinamika yang berkembang, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Fitri Rusdianasari mengatakan, sejatinya pemerintah memang tidak bisa memperjuangkan dua hal sebagaimana di atas secara bersamaan. “Menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan stabilitas fiskal adalah dua hal yang seringkali saling bertolak belakang atau menjadi sebuah trade-off,” ungkap Fitri merespons ancaman ekonomi tersebut, Rabu (8/4/2026) dikutip dari laman resmi UMM. Bom Waktu Subsidi Fitri menyebut, subsidi dalam konteks seperti sekarang bisa bekerja seperti pereda nyeri. Namun, ingatnya, perlu adanya pengelolaan yang ketat. “Subsidi memang bisa menjadi tameng daya beli sesaat. Tetapi, jika tidak dikelola dengan presisi, subsidi dalam skala masif akan menjadi bom waktu yang membebani fiskal, bahkan memicu lonjakan utang negara,” urainya. Selaras dengan itu, lanjut Fitri, bantalan dana darurat negara juga pasti akan menyusut. Sebagai opsi, katanya, pengambil kebijakan harus lekas banting setir beralih ke sumber terbarukan. “Kita memang masih punya buffer, tetapi itu ada batasnya dan tidak bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada langkah strategis dan reformasi struktural, terutama percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), agar kita tidak terus terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan fosil ini,” lanjut Fitri. Lebih dari itu, menurut Fitri, strategi komunikasi publik memegang kendali penuh untuk merawat kewarasan warga dari gempuran hoaks. “Komunikasi publik yang jernih, transparan, dan satu pintu sangat vital. Publik yang teredukasi dan memahami arah kebijakan pemerintah tidak akan mudah panik, sehingga fenomena kelangkaan semu akibat panic buying bisa dicegah sedini mungkin,” tandas Fitri. (Arfrian R.)

UMM Buka Jalur Kuliah Tanpa Tes Khusus Konten Kreator

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang kembali menghadirkan inovasi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru. Kampus yang dikenal sebagai Kampus Putih ini resmi membuka jalur khusus bagi influencer dan konten kreator tanpa tes tulis.Program ini dibuka mulai 1 April hingga 25 Juni 2026, sekaligus menjadi angin segar bagi generasi muda yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan dunia kreatif digital. Melalui jalur ini, jumlah pengikut dan portofolio digital menjadi salah satu indikator utama seleksi. Calon mahasiswa cukup memiliki minimal 5.000 subscriber di YouTube atau 10.000 followers di Instagram maupun TikTok. Namun demikian, UMM tidak hanya menilai popularitas. Konten yang dihasilkan harus memenuhi kriteria kreatif, edukatif, serta membawa dampak positif. Hal ini menegaskan bahwa kampus tetap mengedepankan kualitas dan integritas, bukan sekadar angka. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman, khususnya literasi digital generasi Z. “Dunia sudah berubah, dan cara kita menilai kecerdasan anak bangsa juga harus berekspansi. Para konten kreator ini adalah public relations bagi generasinya. Mereka punya panggung, algoritma, dan pengaruh besar,” ujarnya. Menurutnya, melalui jalur ini UMM ingin mewadahi potensi kreatif anak muda agar tidak hanya berorientasi pada viralitas, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang kuat. “UMM ingin membekali mereka dengan integritas dan kemampuan akademik, sehingga tidak sekadar dikenal, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tambahnya. Lebih lanjut, program ini juga dipandang sebagai langkah strategis untuk mencetak lulusan yang cakap digital sekaligus beretika. “Kami mencari mereka yang mampu menginspirasi publik. Jika sudah mahir berkomunikasi di media sosial, maka kami akan mengembangkan potensi tersebut menjadi kompetensi profesional,” imbuhnya. Dengan hadirnya jalur influencer ini, UMM tidak hanya membuka peluang baru bagi kreator muda, tetapi juga mempertegas posisinya sebagai kampus yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman. Kini, karya kreatif di dunia digital bukan sekadar hobi, tetapi dapat menjadi jalan menuju pendidikan tinggi dan masa depan yang lebih cerah. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Inovasi Dosen UMM, Cek Anemia Pakai Kamera HP

Cek Anemia Pakai Kamera pwmu.co –Di era digital, pemeriksaan kesehatan kini semakin praktis. Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang, Lailis Syafa’ah, berhasil mengembangkan aplikasi deteksi anemia berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang hanya memanfaatkan kamera smartphone.Inovasi ini memungkinkan masyarakat melakukan pengecekan kadar hemoglobin (Hb) secara mandiri tanpa harus melalui prosedur pengambilan darah di fasilitas kesehatan. Pengembangan teknologi ini tidak dilakukan secara individu. Lailis menggandeng tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin di lingkungan Vokasi UMM, di antaranya La Febry Andira Rose Cynthia dan Zulfatman. Melalui kolaborasi tersebut, tim berupaya menghadirkan solusi deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, dan mudah diakses oleh masyarakat luas. “Banyak orang menunda pemeriksaan karena harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur yang tidak nyaman. Padahal deteksi dini sangat penting,” ujar Lailis. Secara teknis, aplikasi ini bekerja dengan menganalisis citra konjungtiva (selaput lendir) pada mata. Pengguna cukup mengambil foto mata menggunakan kamera ponsel, kemudian sistem AI akan memproses gambar tersebut. Teknologi ini membaca pola kecerahan dan karakteristik warna mata yang berkaitan dengan kadar hemoglobin, lalu mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai Hb. “Ini bukan sekadar aplikasi, tetapi sistem yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi medis secara presisi,” jelasnya. Inovasi ini merupakan hasil riset panjang yang berawal dari studi doktoral Lailis di bidang pemodelan kesehatan berbasis citra. Saat ini, tingkat akurasi aplikasi telah mencapai sekitar 80 persen. Sistem berbasis machine learning ini akan terus berkembang seiring bertambahnya data yang digunakan untuk pelatihan. “Semakin banyak data, maka hasil analisis akan semakin akurat. Sistem ini masih terus kami sempurnakan,” ungkapnya. Ke depan, aplikasi ini ditargetkan menjadi alat deteksi mandiri yang dapat digunakan sehari-hari oleh masyarakat. Secara khusus, inovasi ini juga diharapkan membantu kelompok rentan seperti ibu hamil yang membutuhkan pemantauan hemoglobin secara rutin tanpa prosedur yang menyakitkan. “Teknologi ini diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini bisa dimulai dari rumah,” tutup Lailis. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Ekosistem Air Berkelanjutan 2026

(Sumber Humas UMM). SULTRA MEDIA – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Senin, 13 April 2026. Status prestisius ini menjadikan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya menjadi mitra global UNESCO dalam mengawal isu kelestarian air. Penetapan ini didasari oleh rekam jejak panjang riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan Kampus Putih tersebut di berbagai wilayah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa visi internasionalisasi kampus menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan strategis dengan badan dunia tersebut. Sebagai mitra resmi, UMM menjalankan tiga mandat besar, dimulai dengan intervensi konservasi di kawasan Subak, Tabanan, Bali. Program ini fokus pada pemulihan kesuburan tanah melalui inovasi green farming dan smart farming guna mencegah alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan vila. Upaya di Bali tersebut sebelumnya telah membuahkan penghargaan dari UNESCO pada tahun 2024 karena keberhasilan menjaga daerah resapan air. Selain di Bali, UMM juga memperluas dampak operasionalnya ke wilayah Indonesia Timur dengan mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Tim tersebut bertugas memetakan sumber air baru, memperkuat ketahanan pangan, serta menekan angka stunting di wilayah NTT. UMM saat ini sedang menyiapkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi warga setempat tanpa bergantung pada musim. Pada sektor energi terbarukan, UMM memanfaatkan aliran Sungai Brantas melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 1 dan 2. Fasilitas ini telah beroperasi di lingkungan kampus dan kawasan Sengkaling sebagai model pengembangan energi bersih sekaligus penggerak ekowisata di Sumber Maron dan Boonpring Turen. “Visi ini sejalan dengan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kita berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan. Anak cucu kita butuh lingkungan yang sustain, termasuk airnya,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM sebagaimana dilansir dari surabayapost.id. Pihak kampus menegaskan bahwa status UNESCO Chair ini merupakan amanah untuk terus memperluas kolaborasi riset dan aksi lapangan bagi kelestarian lingkungan. UMM berkomitmen menjadi motor penggerak konservasi air global dari pusat operasionalnya di Malang.