UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Konservasi Air Global

ASATUNEWS – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menyandang status sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penunjukan strategis ini menempatkan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal isu kelestarian air di tingkat global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa pencapaian ini didasari oleh rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan pihak kampus secara konsisten. Berdasarkan laporan Maklumat dan Surabaya Post, penetapan tersebut membawa mandat besar dalam menangani krisis air dan energi di berbagai wilayah terdampak. Misi utama dari kemitraan internasional ini mencakup intervensi lingkungan di kawasan Subak, Tabanan, Bali, guna memulihkan daerah resapan air dari degradasi lahan. UMM menerapkan teknologi pertanian pintar atau smart farming untuk memperbaiki kesuburan tanah yang sebelumnya rusak akibat pemakaian pestisida kimia secara masif. “Kita tidak merawat airnya langsung, tapi lewat smart farming dan energi terbarukan, kita otomatis menyelamatkan daerah resapan,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM. Upaya konservasi di wilayah Bali tersebut sebelumnya telah mendapatkan apresiasi berupa penghargaan dari UNESCO pada tahun 2024. Selain fokus di Pulau Dewata, UMM menerjunkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru sekaligus menekan angka stunting. Tim ahli tengah menguji coba teknologi desalinasi bertenaga surya agar masyarakat setempat mendapatkan akses air bersih tanpa bergantung pada perubahan musim. Pada sektor energi terbarukan, Kampus Putih telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas sebagai sumber tenaga. Fasilitas ini berfungsi menyuplai energi listrik ramah lingkungan untuk area kampus serta kawasan Wisata Sengkaling. Program pelestarian lingkungan ini juga mencakup pengembangan ekowisata berbasis air di Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Model ini mengintegrasikan perlindungan alam dengan pemberdayaan ekonomi warga lokal agar ekosistem tetap terjaga secara berkelanjutan. Pihak universitas menegaskan komitmen ini selaras dengan nilai Islam Berkemajuan untuk menjamin ketersediaan sumber daya alam bagi generasi masa depan. Saat ini, UMM berperan sebagai motor kolaborasi riset internasional dalam menjaga ketahanan ekosistem air demi keberlangsungan hidup jangka panjang.
UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Konservasi Air dan Energi

(Sumber Humas UMM). READERS.ID – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair dan Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penetapan ini menjadikan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa status ini merupakan hasil dari rekam jejak panjang riset dan pengabdian masyarakat. Penunjukan tersebut memberikan mandat besar bagi kampus untuk melakukan intervensi lingkungan di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu fokus utama adalah penyelamatan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali, yang menghadapi ancaman degradasi lahan akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan. UMM menerapkan inovasi green farming dan smart farming untuk memulihkan kualitas tanah serta menjaga daerah resapan air di kawasan tersebut. Dilansir dari maklumat.id, kontribusi konservasi di Subak ini sebelumnya telah membuahkan penghargaan dari UNESCO pada tahun 2024. Upaya tersebut berhasil menekan angka alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan vila dengan meningkatkan efisiensi hasil panen petani setempat. Selain di Bali, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan memperkuat ketahanan pangan. Program di wilayah ini juga mencakup penanganan stunting serta pengembangan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya untuk penyediaan air bersih. Di sektor energi terbarukan, kampus mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran Sungai Brantas. Fasilitas ini telah beroperasi di lingkungan kampus dan kawasan wisata Sengkaling sebagai model pengembangan energi bersih berbasis air. “Visi ini sejalan dengan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kita berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan. Anak cucu kita butuh lingkungan yang sustain, termasuk airnya,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM sebagaimana dilaporkan surabayapost.id. Ekspansi program juga menyasar pengembangan ekowisata di wilayah Kabupaten Malang, seperti di Sumber Maron dan Boonpring Turen. Model pembangunan ini mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Mendunia! UMM Jadi Mitra Resmi UNESCO Urus Kelestarian Air, Garap Subak Bali hingga NTT

Mendunia! UMM Jadi Mitra Resmi UNESCO Urus Kelestarian Air, Garap Subak Bali hingga NTT. (Sumber Humas UMM). MALANG, SurabayaPost.id – Nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendunia. Kampus Putih resmi ditunjuk UNESCO sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem tahun 2026. Dengan status ini, UMM masuk jajaran elit: satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya UNESCO mengawal isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menyebut capaian ini bukan kebetulan. “Ini buah dedikasi panjang riset dan pengabdian. Visi UMM untuk berdampak di level internasional membuat kami terus berinovasi sampai akhirnya diakui UNESCO,” tegasnya, Minggu (13/4/2026). Status mitra resmi UNESCO membawa tiga mandat besar bagi UMM. Garap Subak Bali, Selamatkan Resapan Air Kegiatan Pengembangan dan Pemeliharaan Subak Bali oleh UMM Misi pertama adalah menyelamatkan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali yang sempat krisis. Penggunaan pestisida kimia berlebihan membuat tanah mengeras dan kesuburan merosot drastis. Banyak petani akhirnya alih fungsi sawah jadi vila. Akibatnya, daerah resapan air hilang. UMM turun tangan dengan green farming dan smart farming. Hasilnya, kesehatan tanah pulih dan efisiensi panen naik. Petani pun kembali bertahan di sawah. “Kita tidak merawat airnya langsung, tapi lewat smart farming dan energi terbarukan, kita otomatis menyelamatkan daerah resapan. Dari sanalah, 2024 lalu UMM dapat penghargaan UNESCO atas konservasi Subak,” terang Salis. 52 Akademisi Diterjunkan ke NTT Misi kedua menyasar Indonesia Timur. UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Tugasnya tiga: memetakan titik sumber air baru, membangun ketahanan pangan, dan menekan stunting. Sebagai kelanjutan, UMM kini menyiapkan teknologi desalinasi bertenaga surya. Harapannya, warga NTT bisa dapat pasokan air bersih tanpa tergantung musim. Sulap Brantas Jadi Listrik, Hidupkan Ekowisata Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM Misi ketiga adalah pembuktian di sektor energi terbarukan. Lewat PLTMH 1 dan 2 di kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling, UMM menyulap aliran Sungai Brantas jadi listrik ramah lingkungan. UMM juga ekspansi membantu PLTMH di daerah lain, termasuk menghidupkan ekowisata Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Salis menegaskan, status UNESCO Chair adalah amanah, bukan piala untuk dipajang. “Visi ini sejalan dengan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kita berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan. Anak cucu kita butuh lingkungan yang sustain, termasuk airnya,” pungkasnya. Dengan status baru ini, UMM berkomitmen jadi motor kolaborasi riset dan aksi lapangan. Dari Malang, untuk kelestarian air dunia. (lil).
UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Konservasi Air Global 2026

(Sumber Humas UMM). ASATUNEWS – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penunjukan ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa status tersebut diraih melalui rekam jejak riset dan pengabdian masyarakat yang konsisten. Menurut laporan Maklumat dan Surabaya Post, penetapan ini membawa tanggung jawab besar dalam mengatasi krisis air dan energi di berbagai wilayah. Misi utama kemitraan ini mencakup intervensi di kawasan Subak, Tabanan, Bali, untuk menyelamatkan daerah resapan air dari degradasi lahan. UMM menerapkan teknologi green farming dan smart farming guna memulihkan kesuburan tanah yang sebelumnya rusak akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan. “Kita tidak merawat airnya langsung, tapi lewat smart farming dan energi terbarukan, kita otomatis menyelamatkan daerah resapan,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM. Upaya konservasi di Bali ini sebelumnya telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO pada tahun 2024. Selain di Bali, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan menekan angka stunting. Tim ahli sedang menyiapkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya demi menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat setempat tanpa bergantung pada musim. Di sektor energi terbarukan, Kampus Putih telah mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran Sungai Brantas. Fasilitas ini menyuplai energi listrik ramah lingkungan untuk lingkungan kampus serta kawasan Wisata Sengkaling. Program pelestarian lingkungan ini juga diperluas melalui pengembangan ekowisata berbasis air di Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Model pengembangan tersebut mengintegrasikan perlindungan alam dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan. Pihak kampus menegaskan komitmen ini sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan untuk menjaga ketersediaan sumber daya alam bagi generasi mendatang. UMM kini berperan sebagai motor kolaborasi riset internasional dalam menjaga ekosistem air demi keberlangsungan hidup jangka panjang.
UMM Raih Status UNESCO Chair Perkuat Konservasi Air di Bali dan NTT

(Sumber Humas UMM). KORAN MANADO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penunjukan ini menjadikan UMM sebagai satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang bermitra dengan UNESCO dalam isu kelestarian air global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa status ini didapat melalui rekam jejak riset panjang. Dilansir dari maklumat.id dan surabayapost.id, UMM kini mengemban tanggung jawab mengawal tiga agenda strategis nasional terkait lingkungan dan energi. Fokus pertama meliputi pemulihan sistem irigasi Subak di Tabanan, Bali, yang terdampak penggunaan pestisida kimia berlebihan. Melalui pendekatan green farming dan smart farming, UMM berupaya mengembalikan kesuburan tanah guna mencegah alih fungsi lahan menjadi kawasan vila. Langkah konservasi di Bali tersebut sebelumnya telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO pada tahun 2024. Upaya ini dinilai berhasil menjaga daerah resapan air melalui integrasi teknologi pertanian berkelanjutan. Pada program kedua, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan menangani masalah stunting. Kampus juga sedang menyiapkan teknologi desalinasi bertenaga surya untuk penyediaan air bersih di wilayah tersebut. Sektor energi terbarukan menjadi mandat ketiga melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Fasilitas ini memanfaatkan aliran Sungai Brantas di lingkungan kampus dan kawasan wisata Sengkaling sebagai model energi bersih. “Visi ini sejalan dengan Islam Berkemajuan Muhammadiyah. Kita berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan. Anak cucu kita butuh lingkungan yang sustain, termasuk airnya,” ujar Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM. Ekspansi program turut menyasar pengembangan ekowisata berbasis lingkungan di Sumber Maron dan Boonpring Turen, Kabupaten Malang. Model ini menggabungkan aspek konservasi alam dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
UMM Resmi Jadi Mitra Strategis UNESCO

CANGGIH: Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM menjadi salah satu aset penting dijadikannya kampus ini menjadi mitra UNESCO MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir sejarah di panggung internasional. Pada tahun 2026, Kampus Putih secara resmi ditetapkan sebagai mitra strategis global melalui status UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem. Pencapaian tersebut menempatkan UMM dalam jajaran elit pendidikan dunia, menjadikannya satu dari hanya tiga kampus di Indonesia yang dipercaya mengemban amanah besar tersebut. Penetapan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari konsistensi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa inovasi adalah harga mati bagi perguruan tinggi yang ingin berdampak. “Visi kami bukan sekadar menjadi menara gading. Kami ingin setiap riset di laboratorium memiliki kaki untuk berjalan dan memberikan solusi nyata bagi krisis global,” ungkap Salis. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM kini memotori tiga program strategis untuk keberlanjutan air. Salah satu jejak paling nyata adalah penyelamatan kawasan Subak, Bali. Saat itu, krisis air dan alih fungsi lahan mengancam kedaulatan pangan lokal. UMM hadir dengan teknologi smart farming untuk memulihkan kesehatan tanah yang rusak akibat zat kimia. “Kita memang tidak secara khusus merawat airnya secara langsung saat itu. Namun, melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kita secara otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sanalah, pada tahun 2024 lalu, UMM mendapat penghargaan bergengsi UNESCO atas upaya konservasi di Subak,” jelas Salis lebih lanjut. Tak berhenti di Bali, UMM juga melebarkan sayap ke Indonesia Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan membangun ketahanan pangan. Proyek ini kian ambisius dengan pengembangan teknologi desalinasi air laut bertenaga surya untuk menjawab kebutuhan air bersih masyarakat pesisir. Di sektor energi, UMM telah lama menjadi pionir melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas. Fasilitas ini tidak hanya menjadi sumber listrik ramah lingkungan bagi kampus, tetapi juga telah dikembangkan di berbagai lokasi ekowisata seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen. Bagi Salis dan keluarga besar UMM, pengakuan dunia ini adalah bentuk dakwah lingkungan yang berlandaskan nilai Islam Berkemajuan. Ia menekankan pentingnya warisan bagi generasi mendatang agar tetap bisa menikmati bumi yang layak huni. “Kita tidak hanya berpikir tentang hari ini, tapi berpikir 50, 100, hingga 500 tahun ke depan untuk anak cucu kita. Mereka membutuhkan lingkungan yang tetap sustain, termasuk ketersediaan airnya. Inilah tugas kemanusiaan yang sebenarnya,” pungkas Salis. (imm/udi) WhatsAppFacebookXPrintSambung
UMM Resmi Jadi Mitra UNESCO, Perkuat Peran Global dalam Konservasi Air

Rektor UMM Resmikan Program Air Bersih Berbasis Masyarakat di Desa Tliu, NTT.(Ist) Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Pada tahun 2026, kampus yang dikenal dengan julukan Kampus Putih ini resmi dipercaya sebagai mitra UNESCO dalam program Sustainable Water Ecosystem. Penetapan ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang memperoleh status bergengsi tersebut. Capaian ini menjadi bukti nyata konsistensi UMM dalam menghadirkan kontribusi bagi masyarakat dan lingkungan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari perjalanan panjang riset dan pengabdian yang terus dikembangkan hingga mampu menjangkau level global. Sebagai mitra resmi UNESCO, UMM mengemban tanggung jawab besar dalam mengawal keberlanjutan ekosistem air. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Salah satu langkah konkret dilakukan di kawasan Subak Tabanan, sistem irigasi tradisional yang telah diakui dunia. UMM merespons ancaman krisis air akibat alih fungsi lahan dan penggunaan bahan kimia berlebih yang merusak struktur tanah. Melalui penerapan konsep green farming dan smart farming, UMM membantu memulihkan kualitas lahan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber air. Tak hanya di wilayah barat Indonesia, UMM juga memperluas kiprahnya ke kawasan timur, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 52 akademisi diterjunkan untuk melakukan pemetaan sumber air baru, memperkuat ketahanan pangan, serta menekan angka stunting. Ke depan, UMM tengah menyiapkan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya sebagai solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro milik UMM.( Ist ) Di sektor energi terbarukan, UMM menunjukkan kapasitasnya melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan aliran Sungai Brantas menjadi sumber energi ramah lingkungan menjadi bukti nyata integrasi antara konservasi air dan pengembangan energi berkelanjutan. Program ini juga turut mendorong pertumbuhan ekowisata di sejumlah wilayah seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen. PLTMH UMM di Sumber Maroon.(Ist) Meski telah mendapatkan pengakuan internasional, UMM menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi. Status sebagai mitra UNESCO dipandang bukan sekadar prestasi, melainkan amanah untuk terus berada di garis depan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan visi jangka panjang yang berlandaskan nilai Islam Berkemajuan, UMM menempatkan pelestarian air sebagai investasi masa depan. Upaya ini tidak hanya untuk menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber daya air bagi generasi mendatang.(Djoko W)
Saling Menggugat di Akhirat, Peringatan Keras bagi Umat

Ilustrasi Ai Oleh : Dr. Ajang KusmanaDosen AIK Universitas Muhammadiyah Malang PWMU – Saling menggugat di akhirat merupakan sebuah kepastian bagi manusia yang selama hidup di dunia berbuat zalim, lalai dalam mendidik keluarga, atau menjalin hubungan dalam kemaksiatan. Hubungan darah maupun persahabatan tidak menjamin keselamatan, kecuali yang dibangun atas dasar ketakwaan. Pengadilan Allah SWT akan menuntut pertanggungjawaban atas setiap perbuatan, sekecil apa pun, termasuk hak-hak yang pernah dizalimi. Beberapa pihak yang berpotensi saling menggugat di akhirat antara lain: 1. Orang Tua dan Anak Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mendidik keluarga. Anak dapat menggugat orang tuanya jika tidak diberikan pendidikan agama dan bimbingan menuju kebaikan. 2. Suami dan Istri Istri berhak menggugat suami atas perlakuan buruk, kelalaian dalam nafkah lahir dan batin, serta kurangnya pendidikan agama dalam keluarga. 3. Teman dan Sahabat Persahabatan yang tidak didasari iman dan justru menjerumuskan pada kemaksiatan akan berubah menjadi permusuhan di akhirat. 4. Pemimpin dan Pengikut Pengikut yang tersesat dapat menuntut pemimpin yang menyesatkan mereka di dunia. Beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya gugatan di akhirat: Kezaliman terhadap sesama Melalaikan tanggung jawab Persahabatan yang tidak dilandasi ketakwaan Sebaliknya, hubungan yang dibangun atas dasar iman dan cinta karena Allah tidak akan saling menggugat, melainkan saling memberi syafaat. Setiap amal akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk segera bertaubat, meminta maaf, dan memperbaiki hubungan sebelum datangnya hari kiamat. Allah SWT berfirman: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ (30) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ (31) “Sesungguhnya engkau akan meninggal ( Muhammad ) dan mereka akan meninggal (30) kemudian pada hari kiamat kalian akan berbantah-bantahan dihadapan Tuhan kalian (31).” (QS. Az Zumar: 31) Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini mengandung peringatan penting tentang kematian, anjuran beramal, serta kesiapan menghadapi akhirat. Semua manusia, tanpa kecuali, akan menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Manusia memiliki kecenderungan untuk berdebat dan merasa paling benar. Namun, sikap ini justru dapat merusak hubungan sosial dan menjauhkan dari kebenaran. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Alquran ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah.” (QS Al-Kahfi: 54) Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa berbantah-bantahan adalah perilaku yang dilarang, karena berpotensi menimbulkan fitnah dan menjauhkan dari hikmah. Rasulullah SAW bersabda: “Jangan membantah saudaramu, jangan mengejeknya dan jangan berjanji kepadanya, lalu engkau tidak menepati.” Dalam hadis lain: “Tinggalkanlah saling berbantahan karena saling berbantahan tidak dapat dipahami hikmahnya dan tidak dapat dijamin selamat dari fitnahnya.” Dalam Islam, muflis bukan sekadar orang yang tidak memiliki harta, tetapi mereka yang bangkrut karena dosa terhadap sesama. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ” قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. أخرجه مسلم و أحمد وغيرهم Hadis ini menegaskan bahwa kezaliman terhadap sesama manusia dapat menghapus pahala ibadah dan bahkan menyeret seseorang ke dalam azab. Saling menggugat di akhirat adalah konsekuensi dari kehidupan yang tidak dilandasi iman dan akhlak. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu menjaga hubungan dengan sesama, menghindari kezaliman, serta membangun kehidupan yang berlandaskan ketakwaan. Hindari perdebatan yang sia-sia, perbaiki hubungan, dan jalani hidup dengan penuh tanggung jawab. Karena pada akhirnya, semua manusia akan berdiri di hadapan Allah SWT—bukan untuk saling membela diri, tetapi untuk mempertanggungjawabkan setiap amal.
Deteksi Anemia tanpa Jarum, Dosen UMM Ciptakan Aplikasi Berbasis AI

Tampilan aplikasi “Eye-Nemia+” yang dikembangkan oleh dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Aplikasi ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi potensi anemia melalui analisis citra konjungtiva mata hanya dengan menggunakan kamera smartphone. Pemeriksaan anemia kini tak lagi menakutkan. Melalui inovasi berbasis AI, Dosen Vokasi UMM menghadirkan aplikasi yang mampu mengestimasi kadar hemoglobin hanya dari foto mata menggunakan kamera smartphone. Tagar.co – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, pemeriksaan kesehatan kini semakin praktis dan mudah diakses. Menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap prosedur pengambilan darah yang sering dianggap tidak nyaman, Dosen Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., berhasil mengembangkan sebuah aplikasi deteksi anemia mandiri berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diberi nama Eye-Nemia. Inovasi ini memungkinkan pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan hanya dengan memanfaatkan kamera smartphone, sehingga dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja dari rumah. Pengembangan teknologi medis ini tidak dilakukan secara individual. Lailis berkolaborasi dengan tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin dari Vokasi UMM, di antaranya La Febry Andira Rose Cynthia, S.T., M.T. dan Zulfatman, Ph.D. Kolaborasi tersebut bertujuan menghadirkan layanan deteksi dini kesehatan yang inklusif, praktis, serta mampu mengurangi ketergantungan masyarakat pada fasilitas klinis konvensional. “Selama ini banyak orang menunda pemeriksaan karena malas harus datang ke fasilitas kesehatan dan menjalani prosedur ambil darah yang tidak nyaman. Padahal, deteksi dini itu krusial untuk mencegah kondisi yang lebih serius. Saya ingin membuat solusi praktis agar masyarakat bisa lebih sadar dan rutin mengecek kesehatannya secara mandiri,” tegas Lailis, dikuyop dari siaran pers Humas UMM, Selasa (14/4/26). Sebagai Dekan Vokasi UMM, Lailis menjelaskan bahwa aplikasi tersebut bekerja dengan memanfaatkan citra konjungtiva—selaput lendir pada mata—sebagai indikator visual anemia. Foto mata yang diambil menggunakan kamera ponsel akan diproses oleh sistem AI yang telah dilatih dengan basis data khusus. Teknologi ini mampu membaca pola kecerahan serta karakteristik warna yang berkorelasi dengan kadar hemoglobin (Hb), kemudian mengklasifikasikannya menjadi estimasi nilai. Mekanisme ini menjadi terobosan penting karena mampu menggeser praktik uji laboratorium menjadi pemeriksaan sederhana melalui perangkat pribadi. “Yang kami kembangkan bukan sekadar aplikasi, tetapi sebuah sistem canggih yang mampu menerjemahkan data visual menjadi informasi kesehatan medis. Proses ini membutuhkan pemodelan yang sangat presisi agar hasilnya tetap akurat ketika dipakai oleh berbagai pengguna dengan kondisi berbeda,” jelasnya. Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T., Dosen sekaligus Dekan Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), penggagas aplikasi deteksi anemia berbasis kecerdasan buatan “Eye-Nemia+”. Gagasan inovatif ini bukanlah hasil kerja instan. Penelitian tersebut berawal dari studi doktoral Lailis di bidang kedokteran yang menitikberatkan pada pemodelan kesehatan melalui variabel citra. Dalam proses pengembangannya, sistem berbasis machine learning ini terus “belajar” menghubungkan kondisi mata dengan kadar hemoglobin. Hingga saat ini, tingkat akurasi aplikasi telah mencapai sekitar 80 persen, sebuah capaian yang menjanjikan untuk teknologi yang masih berada dalam tahap pengembangan lanjutan. “Karena riset ini bertumpu pada machine learning, maka semakin banyak dan beragam datanya, hasil analisanya akan semakin tajam. Saat ini sistemnya terus kami sempurnakan agar klasifikasinya makin presisi untuk penggunaan massal,” ungkapnya. Ke depan, Lailis memproyeksikan aplikasi ini menjadi alat deteksi mandiri yang dapat digunakan secara rutin oleh masyarakat luas. Pengembangannya juga difokuskan untuk membantu kelompok rentan yang memerlukan pemantauan kadar hemoglobin secara berkala tanpa rasa sakit, seperti ibu hamil. “Harapannya, teknologi seperti ini bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan layanan kesehatan. Deteksi dini tidak harus selalu menunggu antrean di rumah sakit, tetapi bisa dimulai dari kesadaran individu dari rumah masing-masing untuk memantau kondisi tubuhnya,” tutup Lailis optimis. Dengan inovasi ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan solusi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Aplikasi deteksi anemia berbasis AI ini diharapkan menjadi langkah awal menuju layanan kesehatan yang lebih inklusif, cepat, dan mudah diakses oleh semua kalangan. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni