Bisa Lulus S1-S2 Cuma 5 Tahun, Program Terpadu UMM Tawarkan Biaya Terjangkau Bahkan Gratis!

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendobrak tradisi akademik dengan meluncurkan Program Pendidikan S1-S2 Terpadu 10 Semester. Artinya, mahasiswa bakal meraih gelar sarjana dan magisternya hanya dalam lima tahun. Terobosan ini menjadi jawaban atas kebutuhan efisiensi waktu dan biaya bagi mahasiswa yang ingin menuntaskan jenjang sarjana hingga magister secara maraton tanpa jeda. Kepala Biro Pendidikan dan Pengajaran UMM, Zulfatman PhD, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mempermudah transisi akademik mahasiswa sekaligus memangkas birokrasi dan biaya pendidikan. “Kita ingin membuka peluang selebar-lebarnya kepada alumni UMM untuk melanjutkan studi di kampusnya sendiri. Dengan begitu, adaptasinya lebih mudah, keberlanjutan riset dan publikasinya terjamin, dan yang terpenting pembiayaannya jauh lebih terjangkau dibandingkan jalur reguler,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id, Kamis (16/4/2026). Salah satu keunggulan paling menarik dari skema ini adalah fasilitas perkuliahan transisi. Mahasiswa yang telah berada di semester tujuh atau delapan dan sedang fokus mengerjakan skripsi, sudah diperbolehkan mengambil mata kuliah S2 secara gratis. “Nantinya saat resmi menjadi mahasiswa S2, mata kuliah yang sudah diikuti sebelumnya akan langsung dikonversi. Selama masa transisi ini, biayanya jauh lebih murah karena hanya disetarakan dengan biaya semester delapan S1,” jelasnya. Kabar baiknya, jalur istimewa ini tidak bersifat eksklusif. Mahasiswa bertalenta dari berbagai perguruan tinggi luar kampus dipersilakan mendaftar saat mereka resmi menginjak semester tujuh, dengan peluang konversi mata kuliah yang ekuivalen. Mobilitas mahasiswa juga dijamin sangat fleksibel berkat penerapan sistem pembelajaran hybrid dan blended learning. Bahkan, mahasiswa berprestasi tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga uang. “Banyak kemudahan yang bisa dinikmati. Mulai dari proses studi yang cepat selesai, peluang mendapatkan hibah riset dalam maupun luar negeri bersama dosen, hingga potensi besar untuk kuliah S2 secara gratis,” tegas Zulfatman. Saat ini, jalur kesinambungan tersebut telah tersedia untuk 15 Program Studi Magister (S2) dari hampir seluruh rumpun keilmuan S1 di UMM. Pendaftaran program ini dibuka pada setiap awal semester 7 atau 8, bertepatan dengan jadwal pengisian KRS. Untuk dapat bergabung, pendaftar harus berstatus sebagai mahasiswa aktif yang telah menyelesaikan minimal 130 SKS dan telah mengantongi SK Tugas Akhir (Skripsi). Selain itu, calon peserta juga diwajibkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,25, serta membawa surat rekomendasi dari Ketua Program Studi asal yang dibarengi dengan persetujuan dari Kaprodi S2 tujuan. Baca Juga Mendiktisaintek: PTNBH Harus Jadi Lokomotif Inovasi Sains dan Teknologi Melalui lompatan strategis ini, UMM menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengutamakan efisiensi. Program S1-S2 Terpadu ini diharapkan menjadi karpet merah bagi generasi muda dalam mengakselerasi diri menjadi tenaga profesional yang berdaya saing global.
Sesaat Usai Ahli Kubur Dimakamkan: Refleksi Kehidupan di Alam Barzakh

pwmu – Kematian adalah fase yang pasti dialami setiap manusia. Namun, apa yang sebenarnya terjadi sesaat setelah seseorang meninggal dan dimakamkan sering kali dipenuhi berbagai mitos di tengah masyarakat. Padahal, dalam ajaran Islam, hal tersebut telah dijelaskan secara jelas oleh Al-Qur’an dan para ulama. Setelah dikuburkan, manusia akan memasuki alam barzakh, yaitu alam antara dunia dan akhirat yang menjadi tempat penantian hingga hari kebangkitan. Allah SWT berfirman: لَعَلِّىۡۤ اَعۡمَلُ صَالِحًـا فِيۡمَا تَرَكۡتُؕ كَلَّا ؕ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآٮِٕلُهَاؕ وَمِنۡ وَّرَآٮِٕهِمۡ بَرۡزَخٌ اِلٰى يَوۡمِ يُبۡعَثُوۡنَ “‘Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan” (QS al-Mu’minun: 100). Alam barzakh merupakan bagian dari kehidupan akhirat yang menjadi pembatas antara dunia dan kehidupan setelah kematian. Para ulama menjelaskan bahwa ada lima perkara yang akan dihadapi manusia sesaat setelah dikuburkan. Pertama, jasad akan kembali menyatu dengan tanah sebagai asal penciptaan manusia. Dalam kondisi tersebut, seseorang akan merasakan kesepian dan keasingan di alam kubur—sebuah pengalaman yang pasti dialami oleh setiap manusia, baik mukmin maupun kafir. Kedua dan ketiga, manusia akan menghadapi fitnah kubur serta pertanyaan dari dua malaikat. Proses ini dimulai ketika para kerabat telah meninggalkan area pemakaman. Bahkan disebutkan bahwa mayit masih dapat mendengar langkah kaki yang menjauh. Dua malaikat akan bertanya: Siapa Tuhanmu Apa agamamu Siapa nabimu Keempat dan kelima, manusia akan merasakan nikmat atau siksa kubur. Mereka yang mampu menjawab dengan benar akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan, sedangkan yang gagal akan menghadapi siksa. Semua kondisi tersebut sejatinya telah diperingatkan oleh Allah SWT agar manusia mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” (QS al-Hasyr: 18–20). Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 145 juga ditegaskan bahwa setiap makhluk hidup akan mati sesuai ketetapan Allah SWT. Kematian sering kali diiringi kesedihan mendalam bagi yang ditinggalkan. Bahkan, Rasulullah SAW pun meneteskan air mata ketika orang-orang terdekatnya wafat, seperti Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Namun, Islam mengajarkan bahwa kesedihan harus tetap dalam batas kewajaran. Tidak berlebihan hingga menghilangkan semangat hidup atau menimbulkan keputusasaan. Setiap Muslim dituntut untuk beriman kepada qada dan qadar Allah SWT. Kehidupan di dunia hanyalah titipan, dan setiap yang ada akan kembali kepada-Nya pada waktu yang telah ditentukan. Allah SWT berfirman dalam surah An-Nisa ayat 78: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” Sementara itu, dalam surah Al-Jumu’ah ayat 7 disebutkan: “Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat…” Bagi orang yang beriman, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju pertemuan dengan Allah SWT. Sebaliknya, bagi mereka yang lalai, kematian menjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika hati dihiasi keikhlasan, manusia akan lebih mudah menerima ujian. Bahkan, kematian orang terdekat dapat menjadi sarana introspeksi diri serta meningkatkan kualitas ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian, itulah orang yang paling cerdas.” (HR Ibnu Majah, Thabrani dan al-Haitsami).
Di Ruang Tertentu, Pelecehan Seksual Digital Dianggap Candaan

MALANG POST – Ada beberapa tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual tidak langsung. Karena pelecehan seksual, bukan hanya sebuah tindakan seseorang, yang menyentuh bagian intim tubuh. Tapi juga ada tindakan secara verbal. Kata Dosen Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, Ratri Novita Erdianti, S.H., M.H., untuk interaksi intim menyimpang digital, juga masuk pada ranah pelecehan. Apalagi sekarang ini ada UU ITE Pasal 27 Ayat 1, yang mengatur soal bagaimana masyarakat bersikap di dunia digital. “Ada lima alat bukti dalam hukum acara pidana. Yaitu saksi, keterangan ahli, keterangan surat, keterangan terdakwa dan petunjuk.” “Jadi screenshot percakapan pelecehan seksual, bisa masuk ke bagian petunjuk. Sehingga ini bisa mendorong keyakinan hakim, soal adanya kasus pelecehan seksual,” sebutnya. Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Malang, Rika Fu’aturosida, S.Psi., M.A., menambahkan, pelecehan seksual pada perempuan sudah ada sejak dulu. Hanya saja untuk di ruang digital, tergolong media baru seiring masifnya teknologi. Rika menjelaskan, pelecehan ini terjadi ketika ada relasi dan kuasa yang dibiarkan berulang, tanpa adanya konsekuensi, sehingga jadi hal yang dinormalisasi. “Pelecehan seksual yang merambah ke dunia digital, terjadi akibat disana tidak bisa lihat reaksi korban secara langsung, minim konsekuensi dan tidak adanya peneguran,” tegasnya. Rika menambahkan, ketika ada pelaku yang diingatkan, biasanya berlindung di balik kata “bercanda”. Sehingga saat ini antara bercanda dan melukai jadi hal yang kabur batasnya. Sementara itu, Ketua BEM Universitas Negeri Malang, Maulana Nazil menyebut, sebenarnya pelecehan seksual berbasis digital ini bisa saja terjadi, akibat dari kurangnya literasi pada individu itu sendiri. Sebagai langkah mitigasi, sebutnya, pihak BEM UM maksimalkan edukasi dan koordinasi masif dilakukan dengan satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). “Di kondisi ruang digital yang sangat terbuka ini, membuat semua orang berkesempatan lebih leluasa lagi, sehingga potensi interaksi tidak sehat potensial, paparnya. Maulana menambahkan, di ruang ruang tertentu bahkan pelecehan seksual digital dianggap sebagai hal yang dianggap bercanda dan jadi normalisasi. (Wulan Indriyani/Ra Indrata)
Memaafkan dan Syukur Jadi Fondasi Gerakan Muhammadiyah

pwmu – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menyampaikan ceramah reflektif yang menekankan pentingnya mengasah rasa syukur, memperkuat tauhid, serta membangun budaya memaafkan sebagai fondasi utama gerakan Muhammadiyah. Ceramah tersebut disampaikan dalam suasana bulan Syawal, sebagai bagian dari momentum halal bihalal dan evaluasi pasca-Ramadan. Dalam pembukaan ceramahnya, Nazaruddin menegaskan bahwa rasa syukur tidak boleh berhenti pada ucapan semata. Syukur harus diasah secara multidimensi dalam kehidupan sehari-hari. “Syukur itu bukan sekadar lafaz pembuka, tetapi harus menjadi energi yang melahirkan gerakan besar,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Muhammadiyah Enha Kepanjen. Dia mengingatkan bahaya sikap “excited sesaat”, yakni semangat yang hanya muncul pada momen tertentu lalu menghilang tanpa bekas. Menurutnya, sikap tersebut justru merusak konsistensi amal. Moderasi sebagai Wujud Tauhid Nazaruddin menjelaskan bahwa dalam Muhammadiyah, teologi tauhid diwujudkan dalam perilaku moderat (wasathiyah). Moderasi bukan berarti serba membolehkan, melainkan berada di tengah: tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan. “Perilaku moderat itu seperti gelombang yang terus bergerak, konsisten, tidak meledak-ledak lalu hilang,” jelas Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim itu. Dia menambahkan bahwa moderasi lahir dari rasa syukur yang terus diasah, yang menjadi manifestasi keimanan kepada Allah. Menurut Nazaruddin, Ramadan adalah ruang evaluasi untuk mengukur kualitas tauhid dan syukur yang telah dilatih selama setahun. “Ramadan itu tempat kita mengecek, sejauh mana rasa syukur dan kekuatan tauhid kita berkembang,” katanya. Sementara itu, tradisi pengajian Syawal atau halal bihalal menjadi titik kulminasi untuk melakukan refleksi, koreksi, dan perbaikan diri. Memaafkan: Jalan Menuju Kemuliaan Salah satu pesan utama dalam ceramah tersebut adalah pentingnya melatih kemampuan memaafkan. Nazaruddin menekankan bahwa memaafkan bukan hal mudah, tetapi merupakan kunci untuk meraih ampunan Allah. “Dosa kepada sesama hanya bisa diampuni jika kita sudah dimaafkan oleh orang yang kita zalimi,” tegasnya. Dia mengutip berbagai ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan memaafkan, termasuk ajakan untuk menahan amarah dan berlapang dada. Menurutnya, sifat pemaaf akan melahirkan ketenangan hati, keterbukaan, serta kemampuan berpikir jernih. Lebih jauh, Nazaruddin menjelaskan, memaafkan merupakan pintu menuju ihsan, yakni kondisi spiritual di mana seseorang terdorong untuk selalu berbuat baik. “Ihsan itu melahirkan hasrat untuk memberikan yang terbaik dalam setiap tindakan,” ujarnya. Dia menambahkan, kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan kembali kepada diri sendiri, sebagaimana prinsip dalam Al-Qur’an bahwa setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan. Pengalaman Memimpin: Amanah Tanpa Ambisi Nazaruddin juga berbagi pengalaman memimpin beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa amanah tersebut bukan hasil ambisi pribadi, melainkan bagian dari proses pengabdian. “Saya tidak pernah meminta jabatan. Di Muhammadiyah itu, kerja saja. Tunjukkan manfaatnya,” ungkapnya. Dia menilai, kunci keberhasilan organisasi adalah kekompakan, bukan tanpa perbedaan, tetapi mampu bergerak dalam satu irama setelah keputusan diambil. Nazaruddin mengingatkan bahwa konflik internal dapat menghancurkan organisasi. Dia mencontohkan berbagai pengalaman dalam mengelola institusi yang terpuruk akibat perpecahan. “Jangan konflik karena hal kecil. Itu bisa membuat organisasi bangkrut,” katanya. Nazaruddin menekankan pentingnya menghindari budaya “rasan-rasan” tanpa tindakan nyata, dan menggantinya dengan kerja konkret yang memberi solusi. Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, Nazaruddin menyoroti pentingnya teologi Al-Maun sebagai dasar gerakan sosial. Dia menegaskan, kepedulian terhadap fakir miskin, pendidikan, dan kesejahteraan umat harus menjadi gerakan nyata. “Bukan sekadar membantu, tapi membangun masa depan umat,” jelasnya. Ia juga mendorong penguatan ekonomi melalui konsep social enterprise untuk membangun kelas menengah yang kuat di Muhammadiyah. Etos Kerja dan Transformasi Berkelanjutan Nazaruddin menekankan bahwa hasil dari proses spiritual seperti puasa, syukur, dan memaafkan harus melahirkan etos kerja yang kuat dan berorientasi solusi. “Jangan hanya pandai berdiskusi, tapi tidak bekerja. Muhammadiyah itu kerja nyata,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa teologi Muhammadiyah bukan sekadar reformasi, tetapi transformasi berkelanjutan yang terus melahirkan inovasi dan perbaikan. Nazaruddin menegaskan, inti Muhammadiyah adalah perpaduan antara iman dan amal saleh. Ia mengajak seluruh jamaah untuk terus bergerak, berkontribusi, dan menjaga keikhlasan dalam beramal. “Teruslah bermuhammadiyah. Apa yang kita lakukan hari ini, manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang,” pungkasnya. (*)
Tapak Suci UMM Borong Medali di Paku Bumi Open

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Teriakan lantang penuh semangat dalam setiap sesi latihan menjadi energi utama bagi tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kedisiplinan, kekompakan, dan mental juang yang terus diasah terbukti sukses mengantarkan seluruh delegasi atletnya memborong medali pada kejuaraan nasional Paku Bumi Open Championship yang digelar pada 4–5 April di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di kategori Seni Tunggal IPSI, gelar Juara 1 sukses diamankan oleh Nurmalita Aulia di sektor putri dan M. Abdul Rozzaq Naufal di sektor putra. Dominasi tersebut berlanjut pada nomor ganda, di mana pasangan M. Azwin Kurniawan dan M. Allam Imaduddin menyabet Juara 1 Ganda Putra, disusul oleh Balqies Al-Mulkiyah dan Rosyidatul Hasanah yang meraih Juara 1 Ganda Putri. Selain itu, Kelvin Putra Mahendra turut menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Tanding Kelas G Putra. Melengkapi pencapaian luar biasa tim ini, medali perunggu masing-masing berhasil dibawa pulang oleh Nurdin Doni Tupen, Jesica Indira Fauzi, Jeryfer Rinda Salsabila, dan Dzakiyah Talita Saki. Ketua UKM Tapak Suci UMM, Rio Esa Prayoga, menjelaskan bahwa prestasi ini lahir dari persiapan panjang dan terencana. “Latihan dilakukan secara rutin lima kali dalam seminggu. Ritme latihan yang terjaga serta suasana kompetitif di internal tim menjadi faktor penting dalam meningkatkan performa,” ungkapnya. Keberhasilan ini juga didukung penuh oleh fasilitas menyeluruh dari pihak kampus—mulai dari pendanaan operasional, transportasi, hingga penyediaan sarana latihan memadai agar atlet bisa fokus mencetak prestasi. Meskipun seluruh atlet membawa pulang medali, Rio mengingatkan bahwa hasil ini tetap menjadi bahan evaluasi menuju target yang lebih optimal. “Tantangan utama dunia olahraga sering kali datang dari dalam diri atlet itu sendiri. Kuncinya adalah membiasakan diri disiplin, menjaga konsistensi, serta memperkuat doa dan ibadah,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., mengungkapkan rasa bangganya atas capaian gemilang tersebut. Pihaknya menegaskan bahwa universitas akan selalu hadir mendukung pengembangan potensi mahasiswa. “Kami sangat mengapresiasi kerja keras, kedisiplinan, dan mental juara yang ditunjukkan oleh tim Tapak Suci. Prestasi di ajang nasional ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh di bidang non-akademik,” tegasnya. (imm/udi)
Diplomasi Indonesia “mendayung di antara banyak karang”

Jakarta (ANTARA) – Diplomasi Indonesia saat ini menunjukkan upaya “mendayung di antara banyak karang.” Verbeda dengan tujuh dekade silam, ketika Mohammad Hatta memperkenalkan metafora klasik, bahwa Indonesia harus “mendayung di antara dua karang.” Kala itu, dua karang yang dimaksud adalah blok Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet, dua kutub utama dalam pusaran Perang Dingin. Dalam konteks itu, politik luar negeri bebas aktif lahir dari kesadaran bahwa Indonesia tidak boleh terseret arus rivalitas kekuatan besar. Namun dunia hari ini tidak lagi hanya memiliki dua karang. Yang muncul adalah gugusan banyak karang: AS, China, Rusia, Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, bahkan kekuatan regional menengah yang semakin berpengaruh. Dengan realitas itu, diplomasi Indonesia tampak sedang menavigasi di antara banyak karang sekaligus. Dalam dua pekan awal April ini, diplomasi itu menunjukkan perkembangan terkini. Pada 13 April lalu, Indonesia dan AS menyepakati peningkatan kerja sama pertahanan melalui kemitraan strategis yang mencakup keamanan maritim, peningkatan kapasitas militer, hingga kolaborasi teknologi pertahanan melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP). Langkah ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra penting AS dalam stabilitas kawasan Indo-Pasifik tanpa harus terikat dalam aliansi militer formal. Menariknya, pada tanggal yang sama Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin untuk memperkuat kerja sama strategis di bidang energi, ekonomi, dan pertahanan. Sehari berikutnya, mempererat komunikasi dengan Eropa melalui pertemuan dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron. Sebelumnya, pada akhir Maret dan awal April, Prabowo lebih dahulu memperdalam kemitraan dengan Jepang dan Korea Selatan, terutama dalam investasi teknologi dan pengembangan industri. Di saat yang sama, Indonesia juga tetap menjaga kedekatan ekonomi dengan China sebagai mitra dagang utama dan investor strategis. Rangkaian langkah ini menunjukkan pola diplomasi Indonesia yang memperluas ruang manuver dengan menjalin hubungan simultan dengan seluruh pusat kekuatan global. Indonesia tampak sedang mempraktikkan politik luar negeri bebas-aktif dalam versi yang lebih adaptif terhadap dunia multipolar saat ini. Jika dibaca sebagai satu pola, terlihat sebuah strategi bahwa Indonesia berusaha hadir di semua meja sekaligus tanpa memilih satu kubu permanen. Sepertinya inilah wajah baru politik bebas-aktif. Lebih cair, lebih pragmatis, sekaligus lebih berisiko. Tantangan Strategi “mendayung di antara banyak karang” bukan tanpa tantangan. Justru semakin banyak karang, semakin tinggi risiko benturan. Pertama, rivalitas global hari ini jauh lebih kompleks dibanding era Perang Dingin. Ketegangan AS-China meluas dari perdagangan hingga teknologi dan militer. Konflik Rusia dengan negara Eropa dan AS akibat perang di Ukraina menciptakan garis pembelahan geopolitik baru. Di Indo-Pasifik, isu Taiwan dan Laut China Selatan terus meningkatkan ketegangan strategis. Dalam situasi seperti ini, setiap kedekatan diplomatik mudah ditafsirkan sebagai keberpihakan. Ketika Indonesia memperkuat kerja sama pertahanan dengan AS, Beijing tentu akan mengamati dengan hati-hati. Ketika Jakarta membuka ruang kerja sama baru dengan Rusia, Washington juga melakukan pembacaan strategisnya sendiri. Diplomasi multi-arah ini selalu membawa konsekuensi persepsi. Kedua, ada risiko inkonsistensi narasi. Bebas-aktif bukan berarti bebas tanpa arah. Jika tidak diiringi visi strategis yang jelas, diplomasi multi-mitra ini bisa terlihat sekadar reaktif tanpa tujuan geopolitik jangka panjang. Indonesia berisiko terlihat sebagai swing state, bukan kekuatan menengah dengan agenda global. Dunia memang sedang bergerak menuju era multipolar. Tidak ada lagi satu hegemon dominan, tetapi juga belum terbentuk tatanan internasional baru yang mapan. Dalam situasi transisi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia memiliki ruang manuver yang besar jika mampu memainkannya dengan tepat. Dalam konteks itu, Indonesia adalah negara dengan modalitas penting. Ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, demokrasi besar di Global-South, dan penghubung antara Indo-Pasifik dan Samudra Hindia. Artinya, diplomasi Indonesia tidak lagi cukup hanya defensif. Dunia kini mengharapkan Indonesia menjadi stabilizer, penyeimbang yang menjaga ruang dialog tetap terbuka. Jika berhasil, strategi “mendayung di antara banyak karang” dapat menghasilkan tiga keuntungan sekaligus, yakni diversifikasi ekonomi, modernisasi pertahanan, dan peningkatan posisi tawar geopolitik. Namun jika gagal, Indonesia justru dapat terjebak dalam tekanan silang kekuatan besar. Butuh grand strategy Jika menoleh ke belakang, sesungguhnya fondasi strategi ini sudah dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Indonesia terbiasa menjaga hubungan baik dengan berbagai kekuatan sekaligus. Kepemimpinan Indonesia dalam G20, peran aktif di ASEAN, serta tradisi non-blok memberi legitimasi historis bagi diplomasi multi-arah. Prabowo tampaknya melanjutkan warisan ini dengan pendekatan yang lebih langsung dan personal diplomacy. Intensitas kunjungan luar negeri yang tinggi menunjukkan upaya membangun kepercayaan strategis lintas blok. Prabowo menerjemahkan politik bebas-aktif dengan aktif masuk ke banyak jaringan kerja sama sekaligus. Meski begitu, ada beberapa hal penting agar strategi “mendayung di antara banyak karang” tidak berubah menjadi navigasi tanpa kompas. Pertama, Indonesia perlu memperjelas grand strategy luar negeri. Setiap kerja sama harus terlihat sebagai bagian dari visi besar. Apakah untuk industrialisasi, keamanan maritim, transisi energi, atau kepemimpinan Global-South. Tanpa narasi strategis, diplomasi akan tampak sporadis. Kedua, diversifikasi perlu diimbangi kemandirian. Mendekat ke banyak kekuatan tidak boleh menciptakan ketergantungan baru. Prinsipnya bukan “semua dirangkul”, tetapi semua dimanfaatkan untuk kepentingan nasional. Ketiga, Indonesia perlu memainkan peran sebagai bridge builder. Justru karena memiliki hubungan baik dengan banyak pihak, Indonesia memiliki modal untuk menjadi mediator informal di tengah rivalitas global. Dunia membutuhkan ruang netral dan Indonesia memiliki kredensial historis untuk mengisinya. Keempat, konsistensi komunikasi diplomatik menjadi kunci. Pesan Indonesia harus jelas, bahwa kerja sama dengan satu negara tidak pernah dimaksudkan untuk melawan negara lain. Di sinilah ujian diplomasi hari ini. Lanskap dunia telah berubah dan Indonesia tidak lagi berhadapan dengan dua karang raksasa, melainkan dengan lautan yang dipenuhi banyak karang dengan arah arus yang saling bertabrakan. Keberhasilannya bukan ditentukan oleh seberapa dekat Indonesia dengan satu kekuatan besar, melainkan oleh kemampuannya menjaga otonomi strategis di tengah kompetisi global yang semakin keras. Mendayung di antara banyak karang membutuhkan keseimbangan, ketelitian membaca arus, dan keberanian menentukan arah sendiri. *) Najamuddin Khairur Rijal, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang