Kolaborasi Lintas Negara dan Inovasi Turbin Angin Bawa Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 Hingga Jadi Lulusan Terbaik

Kualitas riset dan iklim akademik bertaraf internasional kembali dibuktikan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi turbin angin ramah lingkungan dan kolaborasi riset lintas negara, Abi Mufid Octavio, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, sukses mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q3. Pencapaian akademik tingkat global ini sekaligus mengantarkannya meraih ekuivalensi bebas skripsi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Riset yang mengusung judul Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine ini bukan sekadar pemenuhan tugas akhir. Proyek ini merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis lintas disiplin dan lintas negara. Penelitian tersebut melibatkan kepakaran dosen Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, serta menggandeng mahasiswa dari National Formosa University, Taiwan. Fokus utama penelitian ini adalah hilirisasi teknologi. Mufid mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang dirancang khusus agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah, memberikan solusi konkret bagi krisis energi di kawasan pedesaan. Dengan memanfaatkan material lokal yang mudah dijangkau di pasaran, teknologi tepat guna ini dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memakan biaya besar. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Rekam jejak akademik Mufid menjadi representasi nyata dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan unggul yang kompetitif secara global. Portofolio risetnya sangat komprehensif; tidak hanya diakui lewat publikasi Scopus, ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Cipta (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan telah menerbitkan buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Inovasinya pun secara rutin mendapatkan pendanaan bergengsi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Di level kompetisi, daya saingnya tak perlu diragukan. Mufid pernah menyabet gelar Juara Kategori Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, meraih medali perak pada kompetisi sains tingkat ASEAN, serta membawa pulang gelar Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid menyadari bahwa seluruh pencapaian intelektualnya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang sangat progresif dalam mewadahi potensi mahasiswanya. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama. Semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid bersiap melanjutkan studi ke jenjang magister untuk terus mengembangkan kapasitas riset dan pengabdiannya. Sebagai peneliti muda yang telah teruji ketekunannya melalui berbagai fase simulasi dan kegagalan desain, ia menekankan pentingnya resiliensi dalam dunia akademik. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya membagikan pesan inspiratif bagi para akademisi muda lainnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Retno Marsudi Hadir di Wisuda UMM, Sebut Inovasi Air Kampus Putih Berdampak Besar bagi Dunia

SOROTAN: Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Radar Malang – MALANG – Di tengah bayang-bayang krisis air yang mengancam dunia, Sejarah baru tercipta bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencetak tonggak pencapaian monumental. Kampus Putih resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Tak main-main, pengakuan prestisius level dunia ini diapresiasi langsung oleh Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Hal itu sekaligus menahbiskan UMM sebagai garda terdepan dari Indonesia dalam menjaga nadi kehidupan ekosistem perairan global. Momen bersejarah ini menjadi sorotan utama dalam prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4). Hadir secara khusus untuk memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi sapaan akrabnya yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 juga memberikan apresiasi tinggi atas rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan UMM. KOMITMEN: Retno dalam Wisuda ke-121 UMM. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno disambut gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan dan orang tua yang memadati arena. Dalam orasinya, diplomat senior ini membongkar realitas mengerikan terkait kondisi air global yang makin terancam oleh perubahan iklim, termasuk lenyapnya 600 gigaton gletser dunia di tahun 2023. Secara garis besar, dunia kini dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Di tahun 2024 saja, bencana ini mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS. Ancaman kekeringan juga diproyeksikan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di tahun 2050. Serta tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit mematikan akibat sanitasi yang buruk. Krisis ini, lanjut Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan secara langsung untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, melalui mandat UNESCO Chair ini, ia menaruh harapan besar agar UMM terus menjadi penggerak inovasi dalam riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin (cooling system) hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa arah pengembangan kampus tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat. Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk melalui pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. “Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Terakhir, ia menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat, mengingat mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah amanah besar. Beliau mendorong para lulusan UMM untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban, serta mampu menjadi sumber kebaikan di mana pun mereka berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia. Editor : A. Nugroho
UMM Pimpin Riset Air Global Versi UNESCO
Kampus UMM Pegang Mandat UNESCO Chair
Wajah ganda Dunia Digital bagi Perempuan
Sosok Ahmad, Penyandang Disabilitas yang Lulus UMM dengan Segudang Prestasi

KOMPAS.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkomitmen untuk terus menjunjung tinggi kesetaraan dan inklusivitas di lingkungan akademik. Hal tersebut dibuktikan secara nyata melalui keberhasilan seorang penyandang disabilitas pengguna kursi roda meraih gelar sarjana pada wisuda ke-121 UMM. UMM sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan prestasi yang gemilang. Kiprah di lingkungan kampusPria yang akrab disapa Akbar itu tercatat aktif terlibat dalam organisasi mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM periode 2023–2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024. Di bawah kepemimpinannya, acara tersebut berhasil meraih juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. Tak cukup berkiprah di internal kampus, Akbar melebarkan sayapnya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Jabatan pertama yang ia emban yakni staf Hubungan Masyarakat (Humas) periode 2022–2023. Berkat hasil kerjanya yang cemerlang, ia didapuk menjadi Ketua Umum di periode berikutnya. UMM sediakan fasilitas kampus yang ramah disabilitasSejak hari pertama menjadi mahasiswa UMM, Akbar merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan fasilitas kampus yang ramah disabilitas. Akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 serta kemudahan mobilitas di banyak fasilitas praktikum memudahkannya untuk leluasa bergerak. “Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya, dilansir dari laman UMM, Selasa (28/4/2026). Ia meyakini bahwa sarana prasarana yang inklusif tersebut memudahkannya menjalani aktivitas perkuliahan selama empat tahun terakhir. Tidak ada perlakuan khusus baginya di ranah akademik. Namun, Akbar menegaskan bahwa kemudahan yang ia rasakan murni sebatas akses fisik. Ia tetap harus memenuhi standar nilai dan melewati ujian yang sama ketatnya dengan mahasiswa lain. Prinsip kesetaraan tersebut memantik semangatnya untuk bersaing sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif. “UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya. Menutup perbincangan, Akbar menitipkan pesan pada seluruh mahasiswa yang sedang berjuang, baik yang memiliki keterbatasan fisik atau tidak, untuk percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil yang setimpal. “Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya.
Fakta Mengerikan Invasi Ikan Sapu-Sapu Bagi Ekologi

Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Wikipedia Tugumalang.id – Di balik tenangnya aliran sungai, tersimpan ancaman ekologis serius yang diam-diam melumpuhkan kelestarian perairan darat Indonesia. Faktornya adalah keberadaan ikan sapu-sapu yang kelihatannya sepele, namun tak bisa dipandang sebelah mata begitu saja. Pakar sekaligus Dosen Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rindya Fery Indrawan mengungkapkan fakta mengerikan jika terjadi ledakan populasi spesies invasif tersebut. Bahkan ia memberikan peringatan keras. Menurut Fery, ledakan populasi spesies invasif ini berpotensi memicu kolapsnya struktur rantai makanan sekaligus menyapu bersih eksistensi ikan-ikan endemik lokal. Proses perusakan ekosistem ini terjadi melalui tiga mekanisme utama yang saling berkaitan. ”Pertama, terjadi kompetisi pakan yang tidak seimbang. Ikan sapu-sapu merebut sumber nutrisi utama seperti alga dan mikroorganisme dasar yang seharusnya menjadi pakan ikan lokal kita,” ungkap Ferry. Kedua adalah dominasi biomassa. Spesies invasif bernama latin Pterygoplichthys pardalis ini terbilang berkembang biak dengan masif hingga mengambil alih ruang hidup ekosistem, seperti krisis yang kini melanda sungai-sungai di ibu kota Jakarta. ”Terakhir, kebiasaan ikan ini menggali lubang di tepian sungai menyebabkan erosi parah dan menghancurkan secara fisik tempat pemijahan alami ikan lokal,” ungkapnya. Baca Juga: Warga Cibir Revitalisasi Taman Jalan Sultan Agung di Kota Batu Lebih memprihatinkan, ikan sapu-sapu memiliki sifat omnivora oportunistik. Saat pakan utama menipis, mereka tak segan memangsa telur dan larva ikan endemik. Aktivitas mereka yang terus menyapu dasar perairan juga membuat telur-telur ikan lokal tertimbun sedimen hingga gagal menetas. ”Spesies perairan bawah seperti nilem, tawes, wader, dan betok pun kini berada di ambang kepunahan lokal,” jelasnya. Sulitnya menekan laju populasi spesies ini tidak lepas dari kemampuannya sebagai super survivor. Tubuh ikan sapu-sapu dilindungi oleh pelat keras dan sirip berduri tajam, menjadikannya mangsa yang dihindari oleh predator alami lokal seperti biawak. Tingkat adaptasinya pun ekstrem; mereka mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen yang sangat minim. Merespons kondisi kritis ini, Laboratorium Perikanan UMM mengambil langkah taktis. Fery memaparkan, pihaknya kini tengah gencar melakukan upaya riset, pemijahan, dan pengembangan ikan lokal, khususnya jenis wader. ”Tujuan utama kami adalah melakukan restocking. Hasil pemijahan ini nantinya akan kita lepas liarkan secara berkala di Kali Brantas untuk merehabilitasi populasi ikan endemik,” tegasnya. Namun, upaya akademisi saja tidak cukup. Fery mendesak adanya mitigasi komprehensif, mulai dari penangkapan massal untuk menekan biomassa, hingga pemanfaatannya secara ekonomi. Daripada dibuang, ikan ini dapat diolah menjadi bahan baku tepung ikan atau pakan ternak berprotein tinggi, dengan catatan tidak untuk konsumsi manusia jika berasal dari perairan tercemar logam berat. Edukasi publik juga menjadi kunci mutlak. Fery melarang keras kebiasaan masyarakat yang sering melepaskan ikan predator peliharaan dari akuarium ke alam liar. ”Ini bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi menjaga keseimbangan alamiah. Jika tidak ada sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, kita berisiko besar kehilangan ikan lokal yang menjadi identitas serta penopang ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya. Reporter : M Ulul Azmy
UMM Buktikan Keunggulan Sebagai Kampus Inovatif di Bidang Kehumasan

Penyerahan penghargaan oleh Ketua PWM Jawa Timur Prof Dr dr Sukadiono MM kepada perwakilan Humas UMM. (dok umm) www.majelistabligh.id – Majelistabligh.id – Kinerja luar biasa dan adaptasi teknologi dalam bidang kehumasan kembali mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi membanggakan. Kampus Putih sukses menyabet penghargaan bergengsi Innovative Public Relation and Information. Momen penyerahan penghargaan ini dilangsungkan pada Sabtu (25/4/2025) bertempat di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menegaskan bahwa apresiasi ini memiliki makna mendalam dan menjadi pemacu semangat bagi UMM untuk terus menyajikan informasi yang cepat, akurat, dan berdampak. “Penghargaan ini memiliki makna yang sangat besar bagi UMM. Ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas komitmen kami yang selalu berupaya relevan dengan perkembangan zaman. Ini adalah hasil kerja keras kolektif seluruh tim dalam membangun jembatan komunikasi yang efektif antara kampus dan masyarakat,” tegasnya. Menanggapi inovasi yang menjadi kunci keberhasilan UMM di bidang public relations, Maharina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa kuncinya terletak pada keberanian melakukan konvergensi media. UMM tidak lagi sekadar mengandalkan rilis berita konvensional, melainkan aktif melakukan integrasi platform digital. Mulai dari pemanfaatan media sosial yang interaktif, produksi konten audio visual secara masif, hingga optimalisasi sistem informasi yang ramah pengguna. “Dampak dari strategi komunikasi yang kami bangun sangat terasa. Bagi civitas akademika, mereka kini lebih cepat mendapatkan akses informasi. Sementara bagi publik luas, mereka bisa melihat secara transparan berbagai capaian prestasi, riset, dan kontribusi nyata UMM bagi bangsa. Keterbukaan inilah yang membuat trust masyarakat kepada UMM terus meningkat,” tambahnya. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa UMM telah menyiapkan sejumlah langkah strategis ke depan untuk terus mengembangkan inovasi informasi agar tidak tertinggal oleh disrupsi digital. “Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem informasi dengan mengadopsi teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan, untuk menganalisis tren publik. Kami ingin menciptakan inovasi informasi yang jauh lebih interaktif. Harapannya, UMM akan terus menjadi trendsetter dalam praktik public relations perguruan tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya. Prestasi yang dianugerahkan oleh portal berita PWMU.co. ini pada akhirnya semakin mengukuhkan posisi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam berkomunikasi. Melalui semangat tiada henti untuk berinovasi, Kampus Putih UMM berkomitmen untuk terus hadir memberikan pencerahan, inspirasi, dan menebar manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui penyajian informasi yang profesional, relevan, dan tepercaya.(*/tim)
Retno Marsudi Puji Inovasi UMM di Saat Dunia Dilanda Tiga Krisis Air Ekstrem

Retno Marsudi saat menyampaikan orasi pada prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4/2026). (dok umm) www.majelistabligh.id – Majelistabligh.id – Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M memberikan apresiasi atas pencapaian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang secara resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Pengakuan prestisius level dunia ini menurutnya sebagai kabar menggembirakan di tengah bayang-bayang krisis air yang mengancam dunia. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno saat menyampaikan orasi pada prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4/2026). Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si saat menyerahkan cindera mata kepada Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. (dok umm) Hadir secara khusus untuk memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi sapaan akrabnya yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 juga memberikan apresiasi tinggi atas rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan UMM. Dalam orasinya, diplomat senior ini membongkar realitas mengerikan terkait kondisi air global yang makin terancam oleh perubahan iklim, termasuk lenyapnya 600 gigaton gletser dunia di tahun 2023. Secara garis besar, dunia kini dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Di tahun 2024 saja, bencana ini mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS. Ancaman kekeringan juga diproyeksikan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di tahun 2050. Serta tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit mematikan akibat sanitasi yang buruk. Krisis ini, lanjut Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan secara langsung untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, melalui mandat UNESCO Chair ini, ia menaruh harapan besar agar UMM terus menjadi penggerak inovasi dalam riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin (cooling system) hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si dalam sambutannya menegaskan bahwa arah pengembangan kampus tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat. Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk melalui pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. “Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Terakhir, ia menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat, mengingat mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah amanah besar. Beliau mendorong para lulusan UMM untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban, serta mampu menjadi sumber kebaikan di mana pun mereka berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia.(*/tim)
Retno Marsudi Soroti Krisis Air Global di Wisuda UMM, Inovasi Kampus Diakui Dunia

Rektor UMM bersama Retno Marsudi (Foto: Humas UMM) Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ah resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Pengakuan dunia ini mendapat apresiasi langsung dari Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, yang menyebut inovasi air UMM berpotensi memberi dampak besar bagi dunia. Momen penting tersebut disampaikan dalam Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4/2026) di dome UMM. Dalam kesempatan itu, Retno Marsudi yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024 hadir memberikan orasi ilmiah sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai garda terdepan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perairan global. Dalam orasinya, Retno menekankan bahwa dunia membutuhkan riset dan pengembangan teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga terjangkau bagi seluruh negara, termasuk negara berkembang. Ia menilai langkah UMM dalam mengembangkan teknologi air, seperti mini hidropower, merupakan kontribusi nyata yang dimulai dari skala kecil namun berdampak besar. “Dunia memerlukan teknologi yang affordable, yang bisa diakses oleh semua negara. Saya melihat UMM sudah memulai langkah itu melalui riset dan inovasi, termasuk pengembangan mini hidropower yang akan saya tinjau langsung,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi tiga tantangan besar terkait air, yakni banjir akibat pengelolaan curah hujan yang buruk, kekeringan ekstrem, serta pencemaran air yang membahayakan kesehatan manusia. Menurutnya, ketiga persoalan tersebut harus segera diatasi secara kolektif karena air merupakan elemen utama kehidupan dan peradaban. “Air adalah kehidupan. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dan peradaban tanpa air,” tegasnya di hadapan ribuan wisudawan. Retno turut memberikan pesan kepada para lulusan agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia mendorong wisudawan UMM untuk terus berkontribusi dalam menjawab persoalan dunia, khususnya terkait krisis air. Apresiasi juga disampaikan Retno terhadap komitmen UMM dalam mengembangkan ekosistem perairan yang tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, langkah-langkah kecil yang dilakukan kampus dapat menjadi bagian penting dari solusi global. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya pelestarian tetapi juga penguatan ekonomi masyarakat. Langkah kecil ini adalah bagian dari langkah besar dunia,” ujarnya disambut tepuk tangan. Dalam paparannya, Retno mengungkap kondisi krisis air global yang semakin mengkhawatirkan akibat perubahan iklim. Ia menyebut hilangnya 600 gigaton gletser dunia pada tahun 2023 sebagai salah satu indikator serius kerusakan lingkungan. Secara global, sekitar 80–90 persen bencana alam dalam satu dekade terakhir berkaitan dengan banjir. Pada 2024 saja, bencana tersebut berdampak pada 400 juta orang dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga 550 miliar dolar AS. Selain itu, ancaman kekeringan diperkirakan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030 dan berdampak pada sebagian besar populasi dunia pada 2050. Wawancara dengan Retno Marsudi (Foto: Humas UMM) Tak hanya itu, sebanyak 2,2 miliar penduduk dunia masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman. Kondisi ini memicu berbagai penyakit akibat buruknya sanitasi, sekaligus memperparah krisis kesehatan global. Retno menambahkan, krisis air juga berpotensi melemahkan ketahanan pangan dunia, mengingat sekitar 70 persen penggunaan air tawar dialokasikan untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, ia berharap mandat UNESCO Chair yang diterima UMM dapat dimanfaatkan untuk mendorong inovasi teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa arah pengembangan kampus kini tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada dampak nyata bagi masyarakat. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan kebutuhan riil di lapangan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air. Menurut Nazaruddin, pengelolaan air yang dikembangkan UMM tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi untuk memperluas akses air bersih, terutama di wilayah yang masih mengalami keterbatasan. “Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Menutup rangkaian acara, Rektor UMM berpesan kepada para wisudawan untuk membawa semangat pelestarian lingkungan dalam setiap langkah mereka. Ia menegaskan bahwa mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah besar yang harus diwujudkan melalui aksi nyata. (dan/but)