Bunyikan Gong, Rektor Prof. Nazaruddin Buka UMM Open Karate Championship 2026 di Dome UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: UMM Open Karate Championship 2026 resmi dibuka dengan penuh semangat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (2/5) pukul 10.00 WIB. Pembukaan ditandai dengan prosesi pemukulan gong oleh Rektor UMM, Nazaruddin Umar, sebagai simbol dimulainya kejuaraan karate tingkat nasional tersebut. Dalam sambutannya, Nazaruddin Umar menyampaikan kebanggaannya atas antusiasme para peserta yang mencapai hampir 800 atlet dari berbagai jenjang. Mereka akan bertanding dalam lebih dari 900 nomor kualifikasi pertandingan yang mempertemukan atlet dari empat wilayah provinsi di Indonesia. “Anak-anakku para atlet, kejuaraan ini adalah momentum untuk menunjukkan hasil latihan kalian selama ini. Junjung tinggi sportivitas dan teruslah berjuang memberikan yang terbaik,” ujarnya di hadapan peserta, official, serta para orang tua dan suporter yang memadati arena. Pelaksanaan kejuaraan ini bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, yang menurut Rektor UMM menjadi momentum penting untuk mengingat peran pendidikan dalam membentuk karakter generasi muda, termasuk melalui olahraga bela diri seperti karate. Ia menegaskan bahwa pembinaan olahraga merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Melalui ajang ini, diharapkan lahir bibit-bibit atlet baru yang mampu mengharumkan nama Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Event ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya kita meningkatkan kualitas dan pembinaan atlet karate. Semoga dari sini muncul talenta-talenta unggul masa depan,” tambahnya. Lebih lanjut, ia berharap UMM Open Karate Championship dapat menjadi agenda tahunan yang konsisten diselenggarakan dan semakin diminati oleh atlet dari berbagai daerah. Kejuaraan ini juga diharapkan menjadi ajang strategis untuk mengukur kemampuan sekaligus mempererat persaudaraan antar atlet. Dengan dukungan penuh dari panitia, official, serta para pendukung yang hadir, suasana pembukaan berlangsung meriah dan penuh semangat. Kejuaraan ini diharapkan berjalan lancar hingga penutupan dan memberikan manfaat besar bagi perkembangan olahraga karate di Indonesia. “Semoga Allah memberikan kekuatan, keberkahan, dan keselamatan bagi kita semua sehingga tujuan mulia kejuaraan ini dapat tercapai dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Nicholas Saputra dan 9 Mahasiswa UMM Magang di Daihatsu Kyushu, Sukses Tembus Ketatnya Industri Otomotif Jepang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Sepuluh mahasiswa UMM magang di Daihatsu Kyushu. Mereka berhasil menembus ketatnya persaingan sumber daya manusia di industri otomotif Jepang. Menembus ketatnya industri otomotif Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan dan standar tinggi ini tentu bukanlah perkara mudah. Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang, kampus putih kembali mengukuhkan kualitas mahasiswanya di level internasional. Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022, menjadi salah satu dari 10 mahasiswa tangguh yang berhasil lolos seleksi untuk menjalani program ini selama satu tahun penuh, terhitung sejak 6 Agustus 2025. Kesempatan emas ini diperoleh melalui jalur resmi kampus yang diinformasikan langsung oleh program studi. Untuk mencapai titik tersebut, Nicholas dan kesembilan rekannya harus melewati proses seleksi yang panjang dan tidak sederhana. Rangkaian ujiannya meliputi tes fisik yang menuntut kebugaran prima, psikotes, evaluasi kemampuan akademik, hingga pelatihan bahasa Jepang dasar guna memastikan kesiapan mereka. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga mencerminkan kesiapan mahasiswa UMM dalam menghadapi persaingan global yang sesungguhnya. Pasalnya, dunia industri Jepang sangat lekat dengan budaya kerja yang disiplin, ritme cepat, dan menuntut profesionalisme tinggi. Dalam program tersebut, kesepuluh mahasiswa ditempatkan di berbagai divisi krusial. Mereka terlibat langsung di divisi welding (pengelasan) yang membutuhkan ketelitian menyambung rangka presisi, divisi painting (pengecatan) untuk pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi, hingga divisi assembly (perakitan) yang bertugas merangkai ribuan komponen menjadi mobil utuh. Pengalaman ini memberikan pembelajaran praktis berharga di luar ruang kelas, sekaligus memperkuat kompetensi teknis mereka. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” beber Nicholas. Ia mengaku sempat mengalami culture shock dengan ritme kerja yang padat. Jam kerja yang panjang serta kewajiban lembur yang hampir ada setiap hari sempat membuatnya kaget. Namun di sisi lain, sistem tersebut memberikan kompensasi yang adil dan jelas. Upah lembur yang diterima lebih tinggi dibanding jam kerja normal, sehingga memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa. Di balik capaian tersebut, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi hambatan utama dalam komunikasi di pabrik. Namun, hal itu justru diubah menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketangguhan mental. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” tegasnya. Capaian ini memperkuat citra UMM yang senantiasa sukses menjembatani kualitas akademik dengan realitas industri global. Kisah Nicholas juga membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah mampu menembus panggung internasional berbekal kesiapan, keberanian, dan dukungan ekosistem kampus yang kuat. ***

Daripada Tutup Prodi, UMM Pilih Tingkatkan Kurikulum dan Kompetensi Mahasiswa

KETIK, BATU – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki pandangan tersendiri terhadap rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menutup program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan. Daripada menutup, UMM justru fokus meningkatkan kualitas kurikulum agar setiap jurusan mampu mencetak lulusan siap kerja dan mandiri. Wakil Rektor I UMM Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Teknologi Digital, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menilai kebijakan terkait penataan program studi seharusnya didasarkan pada kajian menyeluruh dan data yang akurat. Menurutnya, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan, yakni penyebab persoalan dan solusi yang akan diambil. “Ketika muncul pernyataan seperti itu, pertama yang harus dicari adalah penyebabnya. Kedua, bagaimana solusinya. Kebijakan tidak bisa dibuat begitu saja, tetapi harus berbasis data,” ujarnya saat diwawancarai Ketik.com, pada Kamis, 30 April 2026. Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Matematika ini menjelaskan, dalam merumuskan sebuah kebijakan setidaknya harus melalui empat tahapan, yakni pemahaman, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat aspek tersebut dinilai penting agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak sekadar berdasarkan asumsi. “Kalau empat aspek itu dilakukan, maka kebijakan yang disampaikan akan akurat, bukan sekadar keinginan sesaat atau berdasarkan kasus tertentu,” katanya. Menurut dia, penutupan program studi bukan satu-satunya jalan keluar. Perguruan tinggi justru perlu melakukan pembaruan kurikulum agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja dan mampu menciptakan peluang kerja secara mandiri. Baca Juga: Rektor UB Respon Isu Penghapusan Prodi, Tak Bisa Asal Tutup Demi Industri! Di lingkungan UMM, kata dia, langkah penyesuaian sudah dilakukan sejak lama melalui pembaruan kurikulum dan penguatan kompetensi mahasiswa agar siap memasuki dunia kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. UMM sudah mengembangkan konsep Center of Excellence (COE), yang kini akan dikembangkan menjadi Center Excellence Solution (CES). Melalui skema tersebut, setiap program studi didorong memiliki keunggulan spesifik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia industri. “Kami tidak hanya menyiapkan mahasiswa menjadi pegawai di tempat lain, tetapi juga bagaimana mereka mampu memberdayakan dirinya sendiri. Itu yang kami lakukan melalui COE yang ke depan dikembangkan menjadi CES,” jelasnya. Prof. Akhsanul menambahkan, setiap program studi pada dasarnya tetap memiliki peluang berkembang selama kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Karena itu, UMM memilih meningkatkan relevansi program studi daripada menutupnya. “Prodi apa pun tidak menjadi masalah selama terus dikembangkan. Kurikulumnya diperbarui, mahasiswanya dibekali kompetensi, dan diarahkan agar bisa bekerja sesuai passion maupun mandiri,” tegasnya. Menurut Prof. Akhsanul, persoalan utama di sejumlah daerah justru terletak pada perencanaan pembukaan program studi yang kurang matang. Ia mencontohkan banyak perguruan tinggi membuka jurusan kesehatan maupun pendidikan secara masif, namun tidak diimbangi kebutuhan pasar dan kualitas pengelolaan. Baca Juga: Rektor UIN Malang Pilih Transformasi Kurikulum Ketimbang Tutup Prodi “Akibatnya, ada perguruan tinggi yang kesulitan mendapatkan mahasiswa, mutu pendidikan menurun, dan biaya pengembangan kurikulum juga menjadi persoalan,” ungkapnya. Selain pembaruan kurikulum, UMM juga menyiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan kerja masa depan melalui konsep Center for Future Work (CFW). Program ini dirancang agar lulusan memiliki kesiapan bekerja sesuai minat, bakat, dan perkembangan dunia kerja ke depan. “Kami sudah lama menyiapkan itu. Mahasiswa harus siap bekerja sesuai passion-nya, sekaligus memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri,” ujarnya. Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco menyampaikan rencana penutupan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri dan pertumbuhan ekonomi masa depan.

Hardiknas 2026, Rektor UMM Dorong Kampus Jadi Pusat Solusi di Tengah Krisis SDA dan Disrupsi IPTEK

Malangpariwara.com – Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang menjadi momentum reflektif sekaligus penegasan arah baru pendidikan tinggi di tengah perubahan global. Rektor UMM, Nazaruddin Malik (Djoko W) Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa derasnya transformasi budaya serta perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang tidak diimbangi dengan ketersediaan Sumber Daya Alam (SDA) telah menjadi tantangan serius yang harus dijawab dunia pendidikan. Dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional yang digelar Sabtu (2/5/2026) dan diikuti ribuan dosen serta tenaga kependidikan, Nazaruddin menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berperan sebagai pengamat perubahan. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus hadir sebagai aktor utama yang mampu memberikan solusi konkret atas persoalan zaman. Menurutnya, pendekatan pendidikan konvensional sudah tidak lagi relevan untuk menjawab kompleksitas tantangan global saat ini. Keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan manusia dinilai sebagai ancaman nyata terhadap keberlanjutan kualitas hidup, sehingga menuntut sistem pendidikan yang lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada pemecahan masalah. “Perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat keunggulan solusi. UMM dituntut hadir sebagai mitra strategis bagi industri, sekaligus menjadi inkubator inovasi dan pengembangan talenta,” ujarnya. Dalam pidatonya, ia juga mengaitkan arah transformasi tersebut dengan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pemikiran tokoh pendidikan nasional itu harus dimaknai secara kontekstual agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan modern, bukan sekadar menjadi simbol historis. Sebagai langkah konkret, UMM menetapkan tiga pilar utama pengembangan institusi. Pertama, Service Excellence Hub yang berfokus pada peningkatan mutu layanan pendidikan. Kedua, Industry Solution Partner yang menguatkan peran kampus dalam menjawab kebutuhan dunia industri. Ketiga, Innovation and Talent Incubator yang diarahkan untuk melahirkan inovasi serta talenta unggul. Nazaruddin menegaskan bahwa ketiga pilar tersebut bukan sekadar konsep normatif, melainkan harus diwujudkan dalam praktik nyata sebagai indikator kualitas perguruan tinggi. Ia menekankan bahwa kampus tidak boleh hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas tersebut, UMM juga memberikan apresiasi kepada sivitas akademika berprestasi. Rektor menyerahkan penghargaan secara simbolis kepada Humas Prodi terbaik 2.(Djoko W) Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak yang juga mencatatkan rekor MURI 2026, dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini menjadi penanda kuat bahwa dunia pendidikan tidak bisa lagi bertahan pada pola lama. Perguruan tinggi dituntut bergerak lebih cepat, kritis, dan responsif terhadap perubahan. Di tengah dinamika global yang kian kompleks, pendidikan harus tampil sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana.(Djoko W)

Dosen Hukum UMM Tembus 100 Besar Akademisi Dunia

RUANG.ID – Jelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang tahun ini diwarnai tantangan besar mengenai relevansi program studi dengan kebutuhan industri, sebuah kabar membanggakan datang dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sholahuddin Al Fatih, dosen Fakultas Hukum UMM, membuktikan bahwa kualitas intelektual Indonesia tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga memimpin di level internasional. Nama Fatih secara mengejutkan mencuat di peringkat ke-91 dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia untuk bidang Ilmu Sosial yang dirilis oleh measuresHE. Pencapaian ini menjadi kado istimewa bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, mengingat ia bersanding dengan para peneliti dari universitas raksasa dunia seperti Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia. Pencapaian ini menjadi angin segar di tengah diskusi hangat Hardiknas mengenai “link and match” antara kampus dengan dunia industri. Fatih menunjukkan bahwa riset hukum dan sosial tidak harus menjadi menara gading yang kaku, melainkan bisa menjadi solusi praktis bagi dinamika zaman. Bukan Sekadar Kejar Tayang Publikasi Metode penilaian yang digunakan measuresHE tergolong sangat ketat dan objektif. Dilansir dari laman resmi Universitas Muhammadiyah Malang (10/4/2026), lembaga ini tidak menggunakan skema langganan berbayar, melainkan murni mengevaluasi rekam jejak individu melalui profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Terdapat tiga indikator utama yang melambungkan nama Fatih: Research Gravitas (kedalaman intelektual), Olympic Mean (konsistensi kualitas), dan Interaction Credit (kekuatan kolaborasi). Fatih sendiri menegaskan bahwa prinsip utamanya adalah dampak nyata. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi,” ungkap Fatih. Hingga saat ini, Fatih telah mengantongi sekitar 60 artikel terindeks Scopus dan ratusan karya di Google Scholar. Namun, kekuatannya bukan pada angka, melainkan pada isu yang ia pilih: irisan antara teknologi, media sosial, dan hukum. Hukum yang Hidup di Era Disrupsi Di saat banyak pihak mengkhawatirkan kurikulum kampus yang tertinggal oleh cepatnya laju industri digital, riset Fatih justru melompat ke depan. Salah satu karyanya yang monumental lahir saat pandemi 2021, ia membedah ekspresi masyarakat di media sosial dan konsekuensi hukumnya. Riset ini menyentuh aspek psikologis sekaligus praktis, membuktikan bahwa hukum harus hadir sebagai panduan di ruang digital yang penuh tekanan. Bagi dunia pendidikan Indonesia, profil Fatih adalah contoh bagaimana seorang akademisi seharusnya bekerja: menjembatani teori yang kompleks dengan implementasi yang membumi. Ia membawa hukum keluar dari teks-teks kuno menuju aplikasi yang mampu memitigasi risiko di dunia industri dan sosial modern. Keberhasilan ini juga merupakan buah dari ekosistem riset yang matang di UMM. Dukungan berupa akses jurnal primer hingga insentif publikasi menjadi bahan bakar bagi para dosen untuk terus berinovasi. Di momentum Hari Pendidikan Nasional ini, prestasi Sholahuddin Al Fatih menjadi pengingat bahwa tantangan adaptasi prodi terhadap dunia industri bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dijawab dengan riset yang tajam, konsisten, dan memiliki manfaat luas bagi masyarakat global.

Wacana Penghapusan Prodi Keguruan Picu Polemik, Ini Kata UMM

pwmu.co – Wacana penghapusan program studi keguruan di Indonesia memicu perdebatan serius di kalangan akademisi. Usulan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berpotensi menyederhanakan makna pendidikan serta mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa.Kritik terhadap wacana ini datang dari berbagai pihak, termasuk akademisi Universitas Muhammadiyah Malang. Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa UMM, M. Isnaini, M.Pd., menilai pendekatan tersebut terlalu pragmatis. Ia menyebut fenomena ini sebagai “tragedi kalkulator pendidikan”, yakni cara pandang yang menilai keberhasilan pendidikan hanya dari angka statistik dan tingkat serapan kerja. Jika logika ini terus digunakan, perguruan tinggi dikhawatirkan akan berubah menjadi sekadar pemasok tenaga kerja bagi industri. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya 29 April lalu pada Tim Humas UMM. Isnaini menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar mencetak tenaga kerja. Ia mengingatkan pentingnya filosofi pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, cara berpikir kritis, serta tanggung jawab sosial, bukan hanya tempat menghasilkan lulusan siap kerja secara teknis. Lebih lanjut, Isnaini menekankan bahwa lulusan kependidikan tidak selalu harus menjadi guru formal. Mereka memiliki fleksibilitas karier yang luas dan mampu berkontribusi di berbagai sektor, termasuk industri. Ia menilai keunggulan lulusan pendidikan terletak pada perspektif humanistik yang mereka miliki—nilai etika, moral, dan kepekaan sosial yang sering kali tidak tercermin dalam data statistik serapan kerja, namun sangat penting dalam dunia profesional. Terkait isu surplus lulusan, Isnaini menilai akar masalahnya bukan pada keberadaan program studi keguruan, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya persoalan struktural yang seharusnya menjadi fokus pembenahan pemerintah, bukan justru menghapus program studi. Sebagai solusi, ia mengusulkan penerapan sistem pengaturan program studi berbasis kualitas melalui mekanisme evaluasi berkala. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus didorong hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. Pendidikan, pada hakikatnya, bukan hanya tentang pekerjaan—tetapi tentang membentuk manusia yang utuh, berpikir kritis, dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Sarjana Pendidikan Terancam karena Industri, Akademisi UMM Angkat Suara

KLIKMU.CO – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk “tragedi kalkulator pendidikan”. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar “pabrik” pemasok tenaga kerja bagi industri. Akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr M. Isnaini MPd menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujar Ketua Prodi BSI Modern itu, Rabu (29/4/2026). Dia menambahkan, pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surpls atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodi tersebut, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. (Faqih/AS)

Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik Sebut Hardiknas Jadi Penguat Tekad UMM Cetak Generasi Berkarakter dan Inovatif

MALANG | KEJORANEWS.COM: Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar pada Minggu, 2 Mei di Lapangan Rektorat Universitas Muhammadiyah Malang berlangsung khidmat sekaligus penuh refleksi. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan peneguhan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam pidatonya, Prof Nazaruddin menyampaikan bahwa Hardiknas memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan pendidikan sekaligus penguat tekad UMM dalam memajukan kualitas pendidikan. “Seperti yang saya ungkapkan dalam pidato, ini adalah saat untuk mengenang jasa para pahlawan, sekaligus memperkokoh tekad UMM dalam memajukan kualitas pendidikan. Itu yang paling penting,” ujarnya. Lebih lanjut, ia memaparkan visi besar UMM sebagai solution center excellence. Konsep tersebut mencakup tiga peran utama kampus. Pertama, sebagai institusi dengan layanan unggul (service excellence), yang mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Kedua, sebagai mitra strategis solusi (solution partner), terutama dalam pengembangan inkubator talenta dan inovasi mahasiswa. Ketiga, sebagai pemberi solusi nyata atas berbagai persoalan masyarakat. “UMM harus menjadi tempat lahirnya kekuatan generasi muda, menjadi inkubator inovasi, dan mampu memberikan solusi atas problem masyarakat—bukan justru menambah persoalan,” tegasnya. Dalam peringatan tersebut, UMM juga melanjutkan tradisi pemberian penghargaan kepada insan kampus berprestasi sebagai bagian dari evaluasi tahunan. Hal ini dinilai penting untuk menjaga semangat kontribusi seluruh elemen kampus. Prof Nazaruddin juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Ia menilai, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kesesuaian antara jurusan dan pekerjaan (link and match), tetapi harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki keterampilan hidup (life skill) dan kapasitas intelektual yang luas. “Kalau pendidikan hanya dilihat secara linier, sekadar mencocokkan dengan pekerjaan, itu terlalu sempit. Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan hidup dan mampu menjalankan kehidupannya secara bermartabat,” jelasnya. Ia menambahkan, tidak ada bidang ilmu yang benar-benar kehilangan relevansi, meskipun minat terhadap program studi bisa mengalami perubahan. Oleh karena itu, yang perlu diperkuat adalah kualitas proses pendidikan secara menyeluruh, termasuk pembentukan karakter dan daya pikir mahasiswa. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini menjadi penegasan bahwa pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya. Dengan komitmen tersebut, UMM terus berupaya melahirkan generasi yang berkarakter, inovatif, dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat luas. ANS

Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik Sampaikan Hardiknas Momentum Perkuat Inovasi dan Karakter Generasi Bangsa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada Minggu, 2 Mei, dimaknai secara mendalam oleh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dalam momentum tersebut, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menegaskan pentingnya penguatan inovasi, karakter, dan daya saing generasi muda di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Dalam sambutannya, Prof Nazaruddin Malik menyampaikan bahwa Hardiknas bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan refleksi bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ia menekankan bahwa dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, khususnya dalam menghadapi era digitalisasi dan transformasi teknologi. “Pendidikan hari ini tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Ini menjadi kunci utama dalam mencetak generasi unggul yang siap bersaing secara global,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa UMM terus berkomitmen untuk menghadirkan sistem pendidikan yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Berbagai program unggulan, mulai dari penguatan riset, kolaborasi internasional, hingga pengembangan kewirausahaan mahasiswa, menjadi bagian dari upaya tersebut. Prof Nazaruddin juga menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor industri. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi faktor penting dalam menciptakan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga siap terjun ke dunia kerja. “Hardiknas ini harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Dengan kerja sama yang kuat, kita bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih maju dan berdaya saing,” tambahnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini juga diisi dengan berbagai kegiatan reflektif dan inspiratif, mulai dari diskusi pendidikan, seminar, hingga aksi sosial yang melibatkan mahasiswa dan dosen. Kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan semangat belajar sekaligus kepedulian sosial di kalangan generasi muda. Dengan semangat Hardiknas, UMM bertekad terus menjadi institusi pendidikan yang berkontribusi nyata dalam mencetak generasi unggul, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan. Daerah𝙈𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜

Peringati Hardiknas, Rektor UMM Dorong Pendidikan Tinggi Jadi Pusat Solusi di Tengah Tantangan Global

Reportasemalang – Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat solusi (solution center of excellence) dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Hal itu disampaikannya saat memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Sabtu (2/5/2026), yang diikuti ribuan dosen, karyawan dan mahasiswa di kampus tersebut. Dalam amanatnya, Nazaruddin menyoroti perubahan pesat di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menurunnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang tidak dapat lagi direspons dengan pendekatan pendidikan konvensional. “Tantangan global saat ini menuntut pendidikan tinggi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. Perguruan tinggi harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta,” ujarnya. Pohon Harapan Hari Pendidikan Nasional Ia menegaskan, peran strategis tersebut hanya dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut, Nazaruddin menekankan pentingnya mengaktualisasikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman, bukan sekadar menjadi simbol historis. Untuk mewujudkan transformasi tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiganya meliputi Service Excellence Hub* yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner* yang berperan menjawab kebutuhan dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator untuk mendorong lahirnya inovasi dan talenta unggul. “Ketiga pilar ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diimplementasikan secara nyata sebagai indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman,” tegasnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas, UMM juga memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi. Penghargaan tersebut meliputi dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI 2026, dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas 2026 di UMM menjadi penegasan bahwa pendidikan tinggi tidak bisa lagi berjalan dalam pola lama. Perguruan tinggi dituntut untuk lebih responsif, kritis, dan solutif dalam menjawab dinamika global yang terus berkembang.