Upaya Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM Cetak Generasi Emas yang Unggul

Sosialisasi Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM di Bojonegoro. Foto: Dok Tugumalang.id – Program Studi D3 Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan berbagai cara untuk mencetak generasi emas yang unggul. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi pendidikan yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro serta Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro beberapa waktu lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong generasi muda agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta memersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja. Dalam prosesnya, Perwakilan Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro, Aufar, menekankan bahwa di tengah persaingan global saat ini keberhasilan generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Sosialisasi Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM di Bojonegoro. Foto: Dok Selain kompetensi akademik, siswa juga perlu dibekali berbagai keterampilan lunak (soft skill) seperti komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. ”Perpaduan antara pendidikan formal dan soft skill yang kuat diyakini mampu mencetak generasi unggul yang siap bersaing maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri,” jelasnya. Sebab itu, kesempatan itu tentunya bisa diperoleh dengan memilih lembaga pendidikan tinggi yang tepat. Salah satunya di Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM yang menekankan kuliah praktik yang nyata. Ketua Program Studi D3 Perbankan dan Keuangan, Novi Primita Sari, SE., M.Ec.Dev., menjelaskan prodi yang dipimpinnya memiliki sejumlah keunggulan. Sistem pembelajaran dirancang secara adaptif dan aplikatif melalui pendekatan Project Based Learning dan Teaching Factory. ”Sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memeroleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan industri,” jelasnya. Program studi ini juga didukung oleh berbagai mitra strategis seperti BPRS Arsa Syariah Sinar Sejahtera, Rayz Hotel, dan Dea Bakery. Kolaborasi ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi profesional, memperoleh pengalaman kerja nyata, serta meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, mahasiswa dibekali berbagai sertifikasi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti sertifikasi brevet pajak, sertifikasi kewirausahaan dari Wadhwani Foundation, serta sertifikasi Fintech Syariah dari AFSI. Tersedia pula berbagai program beasiswa, baik nasional maupun internasional, seperti Erasmus+, China Corner, ISMA, dan skema lainnya. Melalui berbagai program unggulan tersebut, Prodi D3 Perbankan dan Keuangan UMM berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja maupun dalam membangun usaha mandiri. Keberadaan Vokasi UMM mendapat apresiasi dari Ibu Bupati Bojonegoro, Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM., yang menilai bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada perolehan gelar, tetapi juga sebagai sarana membentuk sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi era kemajuan. Ia menegaskan bahwa persiapan menuju Generasi Emas Indonesia 2030 harus dimulai sejak dini. Generasi muda Bojonegoro diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, terampil, berkarakter, serta memiliki semangat belajar yang tinggi agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. Reporter : M Ulul Azmy Editor: Herlianto. A

Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Solution Center Excellence

HORMAT: Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si saat peringatan Hardiknas.   MALANG, RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5) dengan nuansa yang komprehensif. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi strategis institusi yang disampaikan melalui amanat Rektor UMM, tetapi juga mewadahi ruang dialektika kritis mahasiswa dan dosen menyoroti pragmatisme pendidikan nasional di Indonesia. Dalam upacara yang diikuti ribuan sivitas akademika kampus putih, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa transformasi budaya dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang diiringi menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) adalah tantangan besar modern bagi kita semua. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak bisa lagi sekadar merespons persoalan zaman dengan pendekatan konvensional. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Ini menuntut perbaikan kualitas menyeluruh, dari proses pembelajaran hingga relevansi lulusan dengan masyarakat,” ujar Nazar, sapaan akrabnya. Ia menempatkan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi yang harus diterjemahkan secara kontekstual agar pendidikan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. REFLEKSI: Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menulis pesan tentang pendidikan. Guna mewujudkan visi tersebut, UMM memantapkan tiga pilar strategis: Service Excellence Hub untuk peningkatan layanan, Industry Solution Partner untuk menjawab kebutuhan riil dunia usaha, serta Innovation and Talent Incubator guna melahirkan inovator tangguh. Dalam momentum ini, UMM juga memberikan apresiasi kepada dosen peraih rekor MURI dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak, dosen bermasa abdi 25 tahun tanpa henti, humas terbaik, dan mahasiswa berprestasi. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Di sisi lain, semangat kritis tetap menyala di UMM. Merespons wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan bagi industri, sivitas akademika menggelar aksi “Pohon Harapan Pendidikan” di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 kampus UMM. Acara yang diisi dengan menyanyikan lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga musikalisasi puisi ini menjadi medium artikulasi publik untuk menyuarakan kegelisahan terhadap arah pendidikan bangsa masa kini. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menyatakan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih demi membangun kesadaran kolektif. Ia mengkritisi wacana efisiensi struktural yang kerap mengabaikan dimensi kultural dan esensi sejati dari sebuah pendidikan. “Kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar dan industri. Pendidikan memiliki dimensi ideologis luas. Refleksi ini adalah upaya mencegah agar pendidikan kita tidak direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tegas Faizin. Baginya, pendidikan unggul hanya lahir dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari keluarga, institusi, hingga sistem sosial. “Kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar dan industri. Pendidikan memiliki dimensi ideologis luas. Refleksi ini adalah upaya mencegah agar pendidikan kita tidak direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tegas Faizin. Baginya, pendidikan unggul hanya lahir dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari keluarga, institusi, hingga sistem sosial. Semangat ini terekam jelas pada “Pohon Harapan Pendidikan” yang dipenuhi tulisan bernada reflektif dan kritis. Salah satunya datang dari Erika Firdayanti, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, yang menuliskan pesannya secara lugas “Pendidikan bukan sekadar formalitas administratif belaka, melainkan cerminan mutlak lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” pesannya Rangkaian peringatan Hardiknas 2026 ini membuktikan komitmen UMM. Kampus putih tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi bertransformasi menjadi solution center yang siap memberikan jawaban konkret bagi kesejahteraan masyarakat. Di saat yang bersamaan, UMM tetap memegang teguh perannya sebagai arena dialektika terpelajar, memastikan pendidikan senantiasa berpijak pada nalar kritis, nilai luhur, dan kesadaran kolektif membangun kemajuan masa depan bangsa.(*) Editor : A. Nugroho

Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital

MALANG, Suara Muhammadiyah – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur, dorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya (26/4). Tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur”. Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki umkm perempuan di Nasyiatul Aisyiyah, setelah dilakukan riset singkat ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konfensional Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar.  Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, M.Med.Kom, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktek melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI, bukan sekedar teori dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku umkm tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakanya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/dosen-umm-dorong-umkm-perempuan-jatim-naik-kelas-lewat-inovasi-pemasaran-digital

Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Solution Center Excellence

Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Solution Center Excellence pwmu.co –Transformasi budaya serta perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang berlangsung di tengah menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) menjadi tantangan besar yang harus dijawab dunia pendidikan. Hal ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026), yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menjadi respons terhadap perubahan, tetapi harus menjadi solusi atas berbagai persoalan global. Nazar, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tantangan global tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan pendidikan konvensional. Keterbatasan sumber daya alam di tengah meningkatnya kebutuhan manusia menjadi ancaman serius yang menuntut perubahan paradigma pendidikan. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta,” ujarnya. Ia menekankan bahwa hal tersebut hanya dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam arah pengembangannya, Nazar juga mengaitkan pendidikan modern dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, filosofi pendidikan nasional tersebut harus diterjemahkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis, tetapi menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata.   Untuk mewujudkan visi tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan: Service Excellence Hub — peningkatan kualitas layanan pendidikan Industry Solution Partner — menjawab kebutuhan nyata dunia industri Innovation and Talent Incubator — mendorong lahirnya inovasi dan talenta unggul “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas, UMM juga memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi, antara lain: Dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak Peraih rekor MURI tahun 2026 Dosen dengan masa pengabdian 25 tahun Humas terbaik tingkat fakultas dan program studi Mahasiswa berprestasi tingkat universitas Momentum Hardiknas di UMM tahun ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa berjalan dalam pola lama (status quo). Perguruan tinggi dituntut untuk lebih kritis, responsif, dan solutif dalam menghadapi tantangan global. Pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana.   *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMKM Perempuan Minim Manfaatkan Medsos, Dosen UMM Hadirkan Program Sisterpreneur

Tim dosen UMM menghadirkan program sisterpreneur untuk mendorong inovasi pemasaran para pelaku UMKM perempuan. (Foto: Dok. Panitia) MAKLUMAT — Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mendorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya. Tiga dosen tersebut, Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur” pada 26 April 2026 lalu, yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Program tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu memperluas jangkauan pasar di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi rendahnya omzet penjualan UMKM perempuan di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Berdasarkan riset singkat yang dilakukannya, tidak semua pelaku usaha memanfaatkan media sosial secara maksimal sehingga pasar masih terbatas pada penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas pasar. Baca Juga  Wamendag Roro: Digitalisasi UMKM Bukan Sekadar Masuk E-Commerce “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima Maklumat.id pada Ahad (3/5/2026). Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari M.Med.Kom, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam paparannya, ia memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diajak praktik langsung mengoptimalkan media sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim dosen agar peserta dapat memahami penerapan strategi secara konkret. Baca Juga  Komisi VII DPR RI Soal Tarif Resiprokal AS: Harus Waspada, Tapi Juga Peluang Besar Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu menjadikan pemasaran digital sebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha.

Dari Konvensional ke Digital, Dosen UMM Bimbing UMKM Perempuan Jatim Tembus Pasar Lebih Luas

Dosen UMM Bimbing UMKM Perempuan Jatim Tembus Pasar Lebih Luas SURABAYA| JATIMSATUNEWS.COM: Upaya mendorong pelaku UMKM perempuan agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi terus digencarkan. Berangkat dari rendahnya pemanfaatan media sosial dalam pemasaran, tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan” di Surabaya, Minggu (26/4). Program ini digagas oleh Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut menyasar pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Nasyiatul Aisyiyah, khususnya yang berada di bawah naungan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Jawa Timur. Puluhan peserta dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti pelatihan yang memadukan teori dan praktik ini. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya jangkauan pemasaran UMKM perempuan. Berdasarkan riset singkat yang dilakukan, banyak pelaku usaha yang masih mengandalkan metode konvensional dan belum memaksimalkan media sosial sebagai sarana promosi. “Padahal, jika dimanfaatkan secara optimal, media digital mampu memperluas pasar dan meningkatkan omzet penjualan secara signifikan. Kami ingin para pelaku UMKM perempuan ini lebih siap bersaing di era digital,” ujarnya. Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali berbagai strategi pemasaran digital yang aplikatif. Salah satu narasumber, Arum Martikasari, menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang adaptif melalui formula PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan). Strategi ini dinilai mampu membantu pelaku UMKM membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens di media sosial. “Konten yang terarah akan membuat produk lebih mudah dikenal dan diminati. UMKM tidak hanya harus hadir di media sosial, tetapi juga harus mampu mengelolanya secara strategis,” jelas Arum. Tak hanya teori, peserta juga diajak praktik langsung mengoptimalkan media sosial dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim dosen, sehingga peserta dapat memahami langkah-langkah penggunaan secara lebih jelas dan tidak kebingungan saat menerapkannya. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama pelatihan. Yunik, salah satu anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. Ia kini lebih percaya diri dalam membuat konten promosi berbasis digital. “Saya jadi paham cara menggunakan media sosial, bahkan dengan bantuan AI. Ini sangat membantu untuk mengembangkan usaha saya,” tuturnya. Melalui program Sisterpreneur ini, tim dosen UMM berharap pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu bertransformasi dari pemasaran konvensional menuju digital. Dengan strategi yang tepat dan berkelanjutan, mereka diharapkan tidak hanya meningkatkan omzet, tetapi juga memperkuat daya saing di tengah pasar yang semakin kompetitif.

Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional

Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru hadir sebagai ruang kritik yang terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan, dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium “Pohon Harapan Pendidikan”. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd.,menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan tersebut, “Pohon Harapan Pendidikan” menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Hardiknas 2026, UMM Cetak Generasi Emas Lewat Kejuaraan Karate Nasional Piala Rektor

Salah satu pertandingan Piala Rektor UMM Open Karate Championship (Foto: Dani Alifian) Malang (beritajatim.com) – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar ajang bergengsi Kejuaraan Karate Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026. Perhelatan akbar ini berlangsung meriah di Dome UMM pada Sabtu (2/5/2026), menjadi wadah bagi ratusan atlet karate dari berbagai provinsi di Indonesia. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., secara resmi membuka kejuaraan ini dengan pemukulan gong sebagai simbolisasi dimulainya kompetisi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa olahraga bela diri merupakan instrumen krusial dalam membentuk kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan tangguh di masa depan. ​“Hari ini kita mengenang jasa pahlawan pendidikan, dan semangat itu kami manifestasikan melalui olahraga. Kami berharap dari Dome UMM ini lahir bibit talenta baru yang tidak hanya mengharumkan nama bangsa di tingkat nasional, tetapi juga internasional,” ujar Prof. Nazaruddin Malik. Suasana pembukaan Piala Rektor UMM Open Karate Championship 2026 (Foto: Humas UMM) Penyelenggaraan ini mendapat dukungan penuh dari Pengurus Besar (PB) Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI). UMM berkomitmen menjadikan Rektor Cup sebagai agenda tahunan yang masuk dalam kalender tetap karate nasional sebagai sarana tolok ukur kualifikasi bagi para atlet setelah menjalani latihan panjang di daerah masing-masing. Ketua Panitia Pelaksana, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., melaporkan bahwa kejuaraan tahun ini mencatatkan partisipasi yang luar biasa. Sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen turut ambil bagian, bersaing memperebutkan medali di 974 kelas pertandingan. Kategori yang dipertandingkan sangat komprehensif, mulai dari kelas usia dini, pra-pemula, pemula, cadet, junior, under-21, hingga kategori senior. Peserta tidak hanya berasal dari Jawa Timur, namun juga meluas hingga Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Bali, yang mewakili berbagai dojo, klub, maupun Pengcab FORKI. “Tujuan utama kami adalah menciptakan sistem pembinaan yang berkesinambungan. Event ini dirancang untuk mengembangkan kecerdasan fisik, intelektual, mental, dan spiritual generasi muda Indonesia secara bersamaan,” jelas Ary Bakhtiar. Ajang ini diharapkan menjadi panggung pembuktian bagi para atlet muda untuk menunjukkan hasil kerja keras mereka selama ini. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, menegaskan komitmen universitas dalam mendukung lahirnya talenta masa depan yang siap bersaing di kancah global. ”Event ini menjadi sarana penting bagi para atlet untuk mengukur kualifikasi mereka. Kami memohon maaf jika masih ada kekurangan dalam teknis penyelenggaraan, namun kami bertekad untuk terus memperbaiki kualitas agar kejuaraan ini menjadi kalender tetap karate di tingkat nasional,” pungkasnya. (dan/ted)

Semarak Hardiknas, UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional Rektor Cup 2026

Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggelar ajang olahraga prestisius bertajuk Rektor Cup Open Karate Championship 2026.(Djoko W) Malangpariwara.com – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menggelar ajang olahraga prestisius bertajuk Rektor Cup Open Karate Championship 2026, Sabtu (2/5/2026). Bertempat di Dome UMM, kejuaraan ini menghadirkan ratusan atlet karate dari berbagai daerah yang siap menunjukkan kemampuan terbaiknya di atas matras. Sambutan Rektor UMM, Nazaruddin Malik.(Djoko W)Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menegaskan bahwa penyelenggaraan kejuaraan ini bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul. Ia menyebut, olahraga bela diri seperti karate memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kedisiplinan, serta ketangguhan mental generasi muda. Menurutnya, semangat Hari Pendidikan Nasional sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga, yakni kerja keras, sportivitas, dan pantang menyerah. Dari ajang ini, UMM berharap lahir atlet-atlet potensial yang mampu berprestasi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. UMM juga mengapresiasi dukungan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia yang telah memberikan izin serta dukungan terhadap terselenggaranya kejuaraan tersebut. Ke depan, kampus ini berkomitmen menjadikan ajang Rektor Cup sebagai agenda rutin tahunan dalam kalender olahraga karate nasional. Ketua panitia pelaksana, Ary Bakhtiar, menjelaskan bahwa kejuaraan ini dirancang sebagai bagian dari sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada kemampuan fisik, kegiatan ini juga diarahkan untuk mengasah aspek mental, intelektual, hingga spiritual para peserta. “Kejuaraan ini menjadi sarana evaluasi sekaligus pengembangan bagi atlet. Kami ingin berkontribusi dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara karakter,” ujarnya. Komite beregu putra sebagai pertandingan pembuka sebelum diresmikan Rektor UMM.(Djoko W ) Antusiasme peserta terlihat dari tingginya jumlah keikutsertaan. Sebanyak 825 atlet dari 63 kontingen ambil bagian dalam kejuaraan ini. Mereka berlaga di 974 nomor pertandingan yang terbagi dalam berbagai kategori usia, mulai dari usia dini hingga senior. Peserta datang dari berbagai wilayah, di antaranya Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, mewakili dojo, klub, maupun pengurus cabang FORKI. Melalui kejuaraan ini, UMM kembali menegaskan perannya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional sekaligus pembinaan generasi muda. Ajang ini diharapkan menjadi wadah lahirnya atlet karate berprestasi yang siap bersaing di level yang lebih tinggi, sekaligus membentuk pribadi tangguh dalam menghadapi tantangan masa depan.(Djoko W)

Hardiknas 2026, Rektor UMM Tegaskan Posisi Kampus sebagai Pusat Layanan Unggul

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi memberikan amanat pada Hardiknas 2026. (Humas UMM/Klikmu.co) KLIKMU.CO – Transformasi budaya serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung sumber daya alam (SDA) menjadi tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Nazaruddin Malik MSi dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan Kampus Putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka refleksi arah pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai aktor kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar, sapaan akrabnya, menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan dalam pola status quo. Pidato rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana. (Faqih/AS)