7 Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE Asia University Rankings 2026, Bisa Jadi Pilihan Jalur Mandiri

Ilustrasi kampus. (Foto: iStock) JATIMTIMES – Jawa Timur masih menjadi salah satu daerah favorit bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain memiliki banyak kampus ternama, provinsi ini juga dikenal menawarkan biaya hidup yang relatif terjangkau dibanding sejumlah kota besar lain di Indonesia. Tak heran jika setiap tahun, ribuan calon mahasiswa menjadikan Surabaya, Malang, hingga Jember sebagai tujuan utama untuk kuliah. Apalagi, beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur juga berhasil masuk daftar kampus terbaik tingkat Asia versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. Kehadiran kampus berkualitas dengan lingkungan belajar yang baik membuat Jawa Timur semakin menarik, terutama bagi peserta yang ingin mencoba jalur mandiri setelah seleksi nasional. Kota Pendidikan Favorit di Jawa Timur Surabaya dikenal sebagai pusat bisnis dan industri di Jawa Timur. Banyak kampus besar berada di kota ini, sehingga mahasiswa memiliki peluang lebih luas untuk magang maupun membangun relasi profesional sejak dini. Sementara, Malang kerap disebut sebagai kota pelajar. Suasana akademik yang nyaman, udara sejuk, serta biaya hidup yang lebih ramah di kantong menjadikan kota ini favorit mahasiswa dari berbagai daerah. Di sisi lain, Jember juga terus berkembang sebagai kota pendidikan dengan kampus negeri yang punya reputasi baik. 7 Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE Asia University Rankings 2026 Berikut daftar perguruan tinggi di Jawa Timur yang masuk pemeringkatan THE Asia University Rankings 2026 dan bisa menjadi referensi memilih kampus melalui jalur mandiri: • Universitas Airlangga (Unair) • Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) • Universitas Negeri Malang (UM) • Universitas Brawijaya (UB) • Universitas Jember (Unej) • Universitas Negeri Surabaya (Unesa) • Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Tentang THE Asia University Rankings 2026 Sebagai informasi, THE Asia University Rankings 2026 menilai 929 perguruan tinggi dari 36 negara di Asia. Pemeringkatan ini menggunakan 18 indikator kinerja yang dirancang untuk mengukur kualitas kampus secara menyeluruh. Penilaian tersebut mencakup beberapa aspek penting, antara lain: • kualitas pengajaran • lingkungan penelitian • produktivitas riset • reputasi akademik • jaringan internasional • kerja sama dengan industri • kontribusi inovasi bagi masyarakat Melalui indikator tersebut, THE menilai kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkualitas sekaligus mendorong penelitian yang bermanfaat bagi dunia industri dan publik. Bagi calon mahasiswa yang masih mencari kampus melalui jalur mandiri, daftar perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur ini bisa menjadi pertimbangan. Selain kualitas pendidikan yang sudah diakui, wilayah Jawa Timur juga menawarkan banyak pilihan kota kuliah dengan karakter dan biaya hidup yang beragam.
Fungsi Intelektual dan Kritis Tergerus, Kademisi UMM Paparkan Dampak Sarjana Pendidikan Dihapus
Ketua Prodi UMM Kritik Wacana Penghapusan Program Studi Keguruan

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini./Istimewa BERITA JEJAK FAKTA – Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, menanggapi keras wacana penghapusan program studi keguruan yang dilontarkan pemerintah pada Senin (4/5/2026). Kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam proses pembentukan karakter bangsa. Rencana penghapusan ini sebelumnya digulirkan oleh Sekjen Kemdiktisaintek, Prof. Badri Munir Sukoco, dengan alasan menyesuaikan lulusan dengan kebutuhan industri. Dilansir dari Bisnis.com yang berbasis di Surabaya, Isnaini menyebut wacana ini mencerminkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki beban strategis yang lebih besar daripada sekadar mengikuti arus pasar kerja. Ia menegaskan bahwa kampus seharusnya menjadi ruang inkubasi bagi pemikiran kritis masyarakat, bukan sekadar pemasok tenaga kerja teknis bagi industri. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus,” ujar M. Isnaini, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa UMM. Isnaini menambahkan bahwa fokus pada keterampilan teknis semata akan menjauhkan filosofi pendidikan dari nilai memanusiakan manusia. Ia berpendapat jika tolok ukurnya hanya serapan kerja, keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) sudah cukup tanpa memerlukan perguruan tinggi. Terkait isu kelebihan jumlah lulusan, Isnaini memandang masalah utama terletak pada distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang tidak merata secara nasional. Hambatan struktural inilah yang seharusnya dibenahi pemerintah guna mengatasi ketimpangan jumlah guru antarwilayah. Sebagai alternatif, pemerintah disarankan memperketat evaluasi kualitas dan akreditasi program studi daripada melakukan penutupan total. Langkah tersebut dinilai lebih bijak dalam menjaga ekosistem keilmuan kependidikan tanpa mengorbankan kualitas manusia Indonesia di masa depan.
Wacana Sarjana Pendidikan Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi

Perbesar Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini./Istimewa Ringkasan BeritaWacana penghapusan program studi keguruan demi relevansi industri dinilai dapat menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam pembentukan karakter bangsa. Akademisi menekankan pentingnya pendidikan sebagai ruang inkubasi pemikiran kritis dan pembentukan nilai estetika serta moral, bukan sekadar keterampilan teknis. Solusi yang diusulkan adalah memperketat regulasi dan evaluasi kualitas program studi berdasarkan akreditasi, bukan menutupnya secara menyeluruh, untuk menjaga kualitas lulusan dan ekosistem keilmuan.*Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI Bisnis.com, MALANG — Wacana penghapusan program studi keguruan yang digaungkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) Prof. Badri Munir Sukoco dengan alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, mengatakan wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya dikutip Senin (4/5/2026). Dia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Isnaini menekankan sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, dia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, dia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” ucapnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, dia mengingatkan bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. (K24)
Kampus UMM Sukses Naikkan Peringkat di Level Internasional THE AUR 2026

Peringkat UMM melonjak dua kali lipat berdasarkan pemeringkatan dari THE AUR. Foto: dok.UMM. MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi internasional. Berdasarkan rilis resmi dari lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education Asia University Rankings (THE AUR) 2026, pada 23 April 2026 lalu, posisi UMM dinilai masih kompetitif. Keberhasilan UMM meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030. Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menyambut positif raihan ini. Menurutnya capaian ini murni pengakuan pemeringkatan internasional. “Tahun lalu kami berada di peringkat 1.501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia,” ujarnya, Senin (4/6/2026). Prestasi di tingkat nasional yang diraih UMM tak kalah penting. Di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kukuh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE AUR tahun ini. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui lima indikator utama, yakni teaching, research environment, research quality, industry, dan international outlook. Baca Juga Banjir Malang Raya Meningkat, Dosen Teknik Sipil UMM Sodorkan Solusi Rina, sapaan lekatnya, menegaskan keunggulan paling mencolok terletak pada sektor industry income. Iingginya poin di sektor ini tak lepas dari keberadaan unit bisnis, yang salah satunya rumah sakit. “Keberadaan RS berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus, selain bisa mendulang pendapatan,” imbuhnya menjelaskan. Pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. UMM juga memiliki keunggulan atas kualitas riset yang berfokus pada impact, berkat tingginya sitasi dari peneliti lain. Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong.
Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Embuskan Suara Kegelisahan Pendidikan Nasional

Pohon Harapan UMM ‘mengembuskan suara kegelisahan’ pendidikan nasional pada momentum Hardiknas 2026./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026 dijadikan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai momen untuk menyuarakan kegelisahan tentang kondisi pendidikan nasional dewasa ini. Salah satu kegelisahan yang menyeruak adalah tentang wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri. Wacana ini menjadi perhatian serius bagi warga UMM dan momen peringatan Hardiknas 2026 menjadi ruang kritik terbuka. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyuarakan argumen, kegelisahan, dan harapan mereka terkait arah pendidikan nasional melalui medium ‘Pohon Harapan Pendidikan’. Rangkaian acara ini dikemas sarat makna sosial dan intelektual, melampaui sekadar kegiatan seremonial. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Semuanya dirancang sebagai medium artikulasi publik kampus yang menggabungkan ekspresi estetis dengan kritik sosial. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM sekaligus penanggung jawab kegiatan, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa tema ‘Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan’ dipilih untuk membangun kesadaran kolektif. Ia menegaskan, wacana penghapusan program studi perlu dikritisi lebih jauh, apakah benar berorientasi pada peningkatan kualitas, atau sebatas efisiensi struktural. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan industri. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tutur Faizin. Ia menambahkan bahwa pendidikan yang unggul adalah hasil kerja kolektif lintas sektor, mulai dari keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, hingga sistem sosial. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Pohon Harapan Pendidikan menjadi titik partisipasi yang paling dinamis. Medium ini dipenuhi berbagai tulisan dari sivitas akademika, yang tidak hanya berisi harapan normatif, tetapi juga kritik tajam terhadap sistem pendidikan yang dirasa semakin administratif dan kehilangan substansinya. “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pesan Erika merepresentasikan penolakan mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif yang menuntut terjaganya esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini membuktikan bahwa kampus masih memegang teguh perannya sebagai arena dialektika yang sehat. Di tengah kuatnya arus pragmatisme dan efisiensi pasar, inisiatif ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus selalu berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif untuk membangun masa depan bangsa yang berkelanjutan. *** Editor: YAN
UMM Sabet Top 15 Nasional THE Asia University Rankings 2026

MALANG, SURYAKABAR.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan yang mempertegas kualitasnya di kancah pendidikan internasional. Berdasarkan rilis resmi lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 pada 23 April 2026 lalu, Kampus Putih sukses mengamankan posisi yang sangat kompetitif. Keberhasilan UMM dalam meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030. Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menegaskan, pencapaian ini murni merupakan wujud pengakuan pemeringkatan internasional. Baca Juga: UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional, Siapkan Hadiah Puluhan Juta dan Golden Ticket Mahasiswa Baru “Tahun lalu kita di peringkat 1501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia. Prestasi di tingkat nasional pun tak kalah gemilang, di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kokoh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE pada tahun ini,” jelasnya di sela peringatan Hardiknas. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui 5 indikator utama, yakni Teaching, Research Environment, Research Quality, Industry, dan International Outlook. Keunggulan paling mencolok dari UMM terletak pada sektor Industry Income. Rina sapaan akrabnya menjelaskan, tingginya poin di sektor ini didukung oleh atmosfer kampus yang baik berkat keberadaan unit bisnis, seperti rumah sakit. Baca Juga: Mahasiswa UMM Gandeng Warga Kenalkan Budidaya Bioflok Solusi Lahan Terbatas Fasilitas tersebut dinilai tidak sekadar mendatangkan pendapatan bagi institusi, tetapi juga berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus. Selain itu, melalui pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. Selain itu, UMM dinilai unggul berkat kualitas risetnya yang berfokus pada impact. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah artikel yang dipublikasikan dosen, melainkan pada tingginya angka sitasi dari peneliti lain. Baca Juga: Hari Puisi Nasional, Dosen FKIP Unusa Luncurkan Buku Kumpulan Puisi Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong perkembangannya. Terakhir, ia menerangkan, pemeringkatan ini adalah bentuk nyata rekognisi internasional atas dedikasi kinerja akademik UMM. Diharapkan, momentum kebanggaan ini tidak sekadar menjadi selebrasi, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pada kelima indikator aktivitas akademik kampus putih di masa mendatang. (abs)
Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional

Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional pwmu.co –Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan nuansa berbeda. Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, kampus ini justru membuka ruang kritik melalui gerakan “Pohon Harapan Pendidikan”. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyampaikan aspirasi, kegelisahan, serta harapan terhadap arah pendidikan nasional. Kegiatan ini menjadi ruang partisipatif yang mempertemukan refleksi intelektual dengan ekspresi publik. Rangkaian acara dikemas sarat makna sosial dan intelektual. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu nasional, dilanjutkan penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Momentum ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi medium artikulasi publik kampus yang memadukan ekspresi estetis dengan kritik sosial terhadap kebijakan pendidikan. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk menumbuhkan kesadaran kolektif. Ia menyoroti wacana penghapusan program studi yang perlu dikaji secara kritis, apakah benar untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau sekadar efisiensi struktural. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan unggul merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan ini, Pohon Harapan Pendidikan menjadi pusat partisipasi yang paling dinamis. Beragam tulisan dari sivitas akademika menghiasi medium tersebut, berisi harapan sekaligus kritik terhadap sistem pendidikan yang dinilai semakin administratif dan kehilangan esensinya. Salah satu aspirasi datang dari mahasiswa: “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernyataan ini mencerminkan sikap kritis mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif dalam menjaga esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini menegaskan bahwa kampus masih menjadi ruang dialektika yang sehat. Di tengah arus pragmatisme dan efisiensi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus tetap berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif. Lebih dari sekadar peringatan, momentum ini menjadi refleksi bersama untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang berkelanjutan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Wacana sarjana pendidikan dihapus demi industri, ini kata akademisi

Wacana Sarjana Pendidikan Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi© Bisnis.com Bisnis.com, MALANG — Wacana penghapusan program studi keguruan yang digaungkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) Prof. Badri Munir Sukoco dengan alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, mengatakan wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya dikutip Senin (4/5/2026). Dia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Isnaini menekankan sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, dia menilai, persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, dia menyarankan, agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi ‘unggul’ dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” ucapnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, dia mengingatkan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(K24)
Kolaborasi UMM dan SMAN 1 Pandaan Gelar Program “Jejakku, Bumiku”, Dorong Pelajar Tekan Jejak Ekologis 30 Persen

PANDAAN, PIJARNEWS.ID – Menghadapi tantangan kerusakan lingkungan yang kian kompleks, peran generasi muda dinilai semakin krusial sebagai agen perubahan. Guna menumbuhkan kesadaran ekologis secara kolektif di kalangan pelajar, program edukasi bertajuk “Jejakku, Bumiku” resmi digulirkan melalui kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan SMA Negeri 1 Pandaan. Program yang berlangsung pada Jumat (17/4/2026) ini dirancang untuk membedah korelasi langsung antara aktivitas harian manusia dengan dampaknya terhadap kelestarian alam. Melalui inisiatif edukatif ini, para pelajar diajak untuk memahami sekaligus mempraktikkan berbagai langkah sederhana yang berdampak nyata terhadap penurunan jejak ekologis. Beberapa aksi nyata yang disosialisasikan meliputi pengurangan mobilitas menggunakan kendaraan bermotor pribadi, efisiensi penggunaan energi listrik, pemanfaatan barang-barang daur ulang, hingga anjuran untuk mengurangi konsumsi daging harian. Berdasarkan kajian yang disampaikan dalam program tersebut, apabila serangkaian langkah kecil ini diterapkan secara konsisten, jejak ekologis seorang individu diproyeksikan dapat menyusut secara signifikan hingga 30 persen. Penurunan angka ini diyakini mampu memberikan kontribusi krusial dalam menekan laju defisit ekologis di tingkat global, sekaligus mewujudkan ekosistem bumi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Lebih jauh, “Jejakku, Bumiku” juga berupaya menanamkan kebiasaan gaya hidup hijau (green lifestyle) agar tertanam menjadi karakter para siswa selaku generasi penerus bangsa. Pembiasaan gaya hidup ini mencakup pengelolaan air bersih secara bijak, diet penggunaan sampah plastik, serta transisi menuju penggunaan transportasi yang ramah lingkungan. Tidak sekadar berkutat pada aspek mitigasi limbah dan emisi, forum ini turut memperkenalkan konsep restorasi ekologi secara komprehensif. Para siswa diedukasi bahwa pemulihan lingkungan tidak boleh direduksi maknanya hanya sebatas kegiatan penanaman pohon (go green), melainkan harus mencakup upaya pemulihan fungsi ekosistem secara menyeluruh agar rantai keseimbangan alam dapat kembali beroperasi sebagaimana mestinya. Sinergi antara UMM dan SMA Negeri 1 Pandaan ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan memerlukan kolaborasi lintas institusi pendidikan. Transformasi gaya hidup masyarakat memang harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembentukan kesadaran di bangku sekolah yang kemudian diwujudkan menjadi tindakan nyata. Mengingat menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, masa depan kelestarian alam kini sangat bergantung pada aksi konkret generasi muda yang dimulai pada hari ini.