Jalur Cepat Bangun Karier, Mahasiswa UMM Bawa Portofolio Eksklusif dari CoE Kelapa Sawit

MALANG, RADAR MALANG – Melampaui batasan teori di bangku kuliah, Novan Adhi Ramadhan kini mampu terjun langsung menangani operasional industri kelapa sawit berskala besar. Transformasi nyata dari yang awalnya ‘belum bisa’ menjadi ‘kompeten’ ini adalah wujud nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai kampus inovasi mandiri dan berdampak. Melalui program Center of Excellence (CoE) Kelapa Sawit, UMM mendobrak kebiasaan lama dengan menerjunkan mahasiswa ke jantung industri sejak masa kuliah. Novan, mahasiswa Program Studi Teknik Industri UMM, adalah bukti nyata dari efektivitas pendekatan ini. Sebelum mengikuti program bergengsi tersebut pada semester lima, ia mengaku pemahamannya terkait dunia industri sangat terbatas pada buku teks dan simulasi di dalam kelas. Ia merasa masih meraba-raba dan belum siap untuk menghadapi kompleksitas operasional pabrik yang sebenarnya. Advertisement UNGGUL: Novan bersama rekannya di perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Namun, semuanya berubah drastis setelah ia dinyatakan lolos seleksi ketat CoE dan diberangkatkan untuk menjalani program magang profesional di PT Eagle High Plantations Tbk, sebuah perusahaan pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Di sana, ia mengalami lonjakan kompetensi yang sangat signifikan. “Awalnya tentu kaget dengan ritme kerja industri yang jauh lebih cepat, di bawah tekanan tinggi, dan sangat dinamis dibandingkan lingkungan kampus. Sempat merasa tidak bisa mengikuti alurnya karena semuanya murni praktik lapangan. Namun, justru di titik itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Dari yang awalnya hanya tahu teori sistem produksi secara konseptual, saya akhirnya dituntut dan berhasil mengerti secara langsung bagaimana alur pengolahan bahan baku sesungguhnya, proses pengendalian kualitas mutu secara presisi, hingga merumuskan evaluasi efisiensi kerja langsung di lapangan,” ungkap Novan menceritakan pengalaman transformatifnya 6 April lalu pada Tim Humas UMM. Keberhasilan Novan melesat dari fase ‘tidak bisa’ menjadi sosok yang ‘kompeten’ ini tidak lepas dari ekosistem program CoE yang dirancang penuh dengan berbagai keuntungan (benefit) bagi mahasiswanya. Dari sisi efisiensi akademik, program unggulan ini menawarkan keuntungan konversi SKS secara utuh. Artinya, seluruh aktivitas magang di industri tersebut diakui sebagai pembelajaran formal, sehingga mahasiswa tidak akan rugi waktu kuliah. Lebih dari itu, permasalahan nyata yang diselesaikan Novan di lapangan langsung menjadi bekal data dan topik studi kasus yang sangat kuat untuk menyusun tugas akhir. Mahasiswa juga secara otomatis mendapatkan keuntungan berupa perluasan jaringan (networking) profesional yang eksklusif serta portofolio kerja dengan nilai jual tinggi. Transformasi keahlian dan kematangan mental mahasiswa inilah yang menjadi target utama dari UMM. Baiq Firyal Salsabila Safitri, S.T., M.Sc., selaku dosen penanggung jawab (PIC) CoE Kelapa Sawit UMM, menyatakan bahwa kurikulum kampus memang harus ditopang dengan kolaborasi praktis agar lulusan tidak gagap saat memasuki dunia kerja. Advertisement “Kehadiran CoE Kelapa Sawit ini adalah wujud komitmen tegas UMM dalam melahirkan lulusan yang berkompetensi unggul dan relevan dengan kebutuhan nyata Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Kami memastikan setiap mahasiswa yang dicetak melalui program ini bukan sekadar sarjana biasa, melainkan talenta-talenta tangguh yang siap tarung, mudah beradaptasi, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi industri sejak hari pertama mereka bekerja,” pungkas Firyal.(*)

20 Best Universities in Indonesia, Most Prestigious Ranking

JAKARTA, KalderaNews.com – The National Achievement Center (Puspresnas) has officially released the list of the most accomplished universities in Indonesia for 2026. This organization, operating under the Ministry of Basic and Secondary Education (Kemendikdasmen), ranks institutions based on the total number of achievements accumulated since 1998. The 2026 list is dominated by state universities, though several top-tier private universities have also secured spots within the top 20. These rankings serve as a vital reference for students choosing a campus that fosters talent and competitive excellence. Top 20 Most Accomplished Universities in Indonesia 2026 Based on the Management Information System for Talent (SIMT), here are the 20 best universities in Indonesia ranked by their total achievements: Universitas Gadjah Mada (UGM): 669 achievements Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): 666 achievements Universitas Brawijaya (UB): 606 achievements Universitas Negeri Yogyakarta (UNY): 504 achievements Universitas Indonesia (UI): 410 achievements Universitas Pendidikan Indonesia (UPI): 345 achievements Universitas Negeri Surabaya (Unesa): 335 achievements Universitas Diponegoro (Undip): 312 achievements IPB University (IPB): 300 achievements Telkom University: 300 achievements Parahyangan Catholic University (Unpar): 298 achievements Universitas Negeri Malang (UM): 281 achievements Hasanuddin University (Unhas): 281 achievements Universitas Sebelas Maret (UNS): 261 achievements Universitas Negeri Jakarta (UNJ): 250 achievements Bandung Institute of Technology (ITB): 234 achievements Universitas Airlangga (Unair): 232 achievements Universitas Negeri Semarang (Unnes): 215 achievements University of Muhammadiyah Malang (UMM): 205 achievements Tanjungpura University: 197 achievements Accelerating Student Talent: The Case of Universitas Brawijaya (UB) Universitas Brawijaya (UB) successfully maintained its position in the top three by adding three new achievements compared to 2025. Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah, S.Pi, MT, Head of the Student Talent Development Unit at UB, stated that this success is the result of transforming student business processes into a “training center” model. Key strategies implemented by top universities like UB include: Talent Clustering: Students are grouped based on their specific interests and talents, such as reasoning, robotics, arts, and sports. Mandatory Competition Participation: Regularly participating in 23 mandatory competition categories managed by the Indonesian Talent Development Center (BPTI), including PIMNAS and the Indonesian Robot Contest. Non-Academic Transcripts: Implementing programs like the Student Activity Unit (SKM) to record non-academic achievements—such as organizational leadership and competition wins—into official non-academic transcripts. With the release of the 2026 Puspresnas rankings, prospective students can better identify which Indonesian universities provide the most dynamic ecosystems for developing their personal and professional potential. Tips for Choosing the Best University: Why Achievement Matters Choosing a university is a major decision that will determine the direction of your career and character development. Among the many options available, university achievement stands out as one of the most valid indicators of an institution’s quality. Here are some tips for choosing the best university by considering achievement as a primary criterion: 1. Check the National and International Achievement Track Record The best universities usually have a consistent track record of excellence. In Indonesia, you can refer to data from the National Achievement Center (Puspresnas), which releases a list of campuses with the highest accumulated achievements. Campuses that consistently rank at the top, such as UGM, ITS, or Universitas Brawijaya, demonstrate that they have talent development systems that have been proven over decades. 2. Look for a Talent Development Ecosystem A campus’s achievements are more than just numbers; they reflect the internal ecosystem. Choose a university that has a specific unit for talent development or a student training center. Top-tier campuses do not just encourage students to join competitions; they actively perform interest and talent clustering, ranging from robotics and reasoning to arts and sports, and provide intensive mentoring. 3. Verify the Availability of Non-Academic Transcripts In today’s professional world, GPA is not the only factor considered. The best universities typically have systems to record a student’s non-academic achievements, organizational leadership, and committee involvement into an official transcript or a Diploma Supplement (SKPI). This shows that the campus values your self-development process outside the classroom. Why Choosing an Accomplished University is Important Here are several reasons why university achievement should be your top consideration: A Competitive and Positive Environment. Being in a campus that hungers for achievement will motivate you to grow. You will be surrounded by peers with high fighting spirits and competent mentors in their respective fields. Supportive Facilities. Highly accomplished campuses often receive better support and facilities from the government and industry. This allows you to experiment with the latest technology or high-quality training facilities. Recognition in the Professional World. Companies often assess a university’s reputation through the achievements of its students. Graduates from campuses active in national competitions, such as PIMNAS or the Indonesian Robot Contest, are often perceived to have stronger problem-solving skills and a winning mentality. Extensive Networking Access. Achievement brings national and international recognition. Prestigious campuses generally have strong partnership networks with industries and foreign universities, making it easier for you to access internships or advanced scholarships. University achievement is tangible proof of the quality of human resources and the educational system implemented by the institution. By choosing an accomplished campus, you are placing yourself in an environment ready to support the acceleration of your best potential. Check out other KalderaNews.com news and articles on Google News

Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

KEDIRI lintasjatimnews — Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali menjadi perhatian, seiring munculnya berbagai fenomena perilaku siswa yang dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Namun, pertanyaan mendasar pun muncul : masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini? Khoirul Anam, mahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang, menilai bahwa praktik hukuman fisik sesungguhnya sudah tidak sejalan dengan perkembangan ilmu pendidikan modern. Ia menjelaskan bahwa secara historis, hukuman fisik memang pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Akan tetapi, pendekatan tersebut kini mulai ditinggalkan. Mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. Pada fase ini, anak belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut. Sementara itu, tokoh behaviorisme B.F. Skinner memang menekankan pentingnya penguatan (reinforcement), namun berbagai penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman fisik cenderung hanya memberikan efek jangka pendek. “Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Bahkan, hukuman fisik berisiko memunculkan perilaku agresif dan kecemasan,” ujarnya. Pandangan tersebut diperkuat oleh kajian American Academy of Pediatrics tahun 2018 yang menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang serta berdampak negatif terhadap perkembangan emosional anak. Dalam konteks pendidikan nasional, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru diharapkan berperan sebagai fasilitator yang membimbing, bukan sosok otoritas yang menakutkan. Sebagai alternatif, pendekatan disiplin positif semakin mendapat perhatian. Tokoh pendidikan Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya hubungan yang saling menghargai antara guru dan siswa. Pendekatan ini mendorong penggunaan konsekuensi logis serta keterlibatan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka. Contohnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, guru dapat mengajak mereka untuk bertanggung jawab membersihkan lingkungan serta merefleksikan pentingnya hidup sehat. Cara ini dinilai lebih efektif karena tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai. Meski demikian, tantangan di lapangan tidak bisa diabaikan. Guru kerap menghadapi keterbatasan waktu, jumlah siswa yang besar, hingga beban administratif yang tinggi. Dalam kondisi tertentu, hukuman fisik masih dianggap sebagai jalan pintas. Namun, pendekatan ini dinilai berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yakni membentuk karakter siswa yang mandiri dan bertanggung jawab. Karena itu, sekolah diharapkan mampu menjadi ekosistem yang mendukung perubahan paradigma. Pelatihan guru dalam manajemen kelas, kebijakan perlindungan anak yang tegas, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun budaya disiplin yang sehat. Dengan demikian, dalam konteks kekinian, hukuman fisik dinilai tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing secara tepat, disiplin akan tumbuh sebagai kesadaran, bukan paksaan.

AI Masuk Sekolah, Pedagogi Tertinggal

timesindonesia, Malang – Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai diajarkan di ruang kelas, persoalannya bukan lagi sekadar apa yang diajarkan, melainkan bagaimana siswa masih benar-benar belajar. Yang mengkhawatirkan, sekolah cepat-cepat menggunakan AI, sementara pedagogi yang seharusnya menjadi ruh dari pendidikan justru relatif jalan di tempat, ketinggalan. Dalam sejumlah laporan media nasional, arah kebijakan pendidikan di Indonesia semakin jelas menempatkan AI dan coding sebagai bagian dari pembelajaran. Memang, langkah ini patut didukung karena menyiapkan generasi masa depan. Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah ditanyakan dengan sungguh-sungguh, apakah kesiapan pedagogi kita sepadan dengan lompatan teknologi ini? Sebenarnya, yang jadi masalah bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita memaknai kegiatan belajar. Belajar, menurut pedagogi klasik, ya proses berpikir bukan sekadar mencetak jawaban. AI datang dengan logika lain yakni kecepatan dan kemudahan. Dua hal yang sering bertolak belakang. Ketika siswa dapat memperoleh esai, ringkasan, bahkan analisis hanya dalam hitungan detik, maka yang terancam bukan sekadar kejujuran akademik, melainkan proses kognitif itu sendiri. Persoalan ini tidak bisa dipahami hanya sebagai masalah kedisiplinan tetapi menyentuh aspek yang lebih mendasar yakni bagaimana proses berpikir siswa terbentuk. Dalam kajian ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading (Risko & Gilbert, 2016), yaitu kecenderungan manusia memindahkan sebagian proses berpikirnya kepada alat eksternal seperti teknologi digital. Studi yang dipublikasikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2023) mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tanpa desain pedagogik yang tepat justru dapat menurunkan kualitas pemahaman mendalam siswa. Anak-anak jadi tidak lagi terbiasa berpikir kritis. Mereka hanya memilah-milah jawaban dari mesin, seperti tukang sortir, bukan pemikir. Kekhawatiran ini disebut Kurniawan & Murtadho (2025) sebagai paradoks kognitif, di mana AI dapat meningkatkan personalisasi sekaligus berpotensi menggerus aspek kognisi inti seperti keterlibatan kognitif (cognitive engagement), retensi, dan pemikiran tingkat tinggi. Akibatnya, efisiensi yang diraih dalam penyelesaian tugas tidak diimbangi dengan pemerolehan pemahaman yang mendalam. Di sinilah terlihat adanya pedagogical lag atau ketertinggalan pedagogi dalam merespons perkembangan teknologi. Banyak guru mulai menggunakan AI, tetapi lebih sering untuk efisiensi administratif seperti membuat soal, merancang materi, atau menyusun laporan. Transformasi pada level pembelajaran seperti membangun dialog reflektif, mendorong inquiry, atau mengasah nalar kritis belum terjadi secara signifikan. Padahal, dalam kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan pengetahuan pedagogik dan konten. Tanpa itu, teknologi hanya menjadi alat substitusi, bukan transformasi. Dalam model SAMR, ini disebut level terbawah yakni mengganti alat tanpa mengubah cara belajar sama sekali. Lebih jauh lagi, kehadiran AI juga mengguncang apa yang disebut sebagai epistemic authority guru atau otoritas sebagai sumber pengetahuan. Jika sebelumnya guru adalah rujukan utama, kini siswa memiliki alternatif yang tampak lebih cepat, lengkap, dan selalu tersedia. Dalam situasi ini, peran guru tidak mungkin lagi bertahan sebagai penyampai informasi. Ia harus bergeser menjadi fasilitator yang membimbing proses berpikir, bukan sekadar penyedia jawaban. Sayangnya, perubahan peran ini tidak otomatis terjadi. Data dari laporan UNESCO (2023) menunjukkan bahwa banyak negara, termasuk di kawasan berkembang, masih menghadapi kesenjangan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi secara pedagogis. Pelatihan yang ada sering berfokus pada penggunaan alat, bukan pada perubahan cara mengajar. Realitas di Indonesia memperkuat kesenjangan ini. Penelitian Halhaji dan Murniati (2025) menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengintegrasikan AI berbasis kerangka TPACK masih belum merata. Tantangan ini semakin berlapis. Selain persoalan kompetensi, terdapat pula ketimpangan akses, beban administratif guru, serta perubahan kebijakan yang cepat. Akibatnya, inovasi pedagogik sering berhenti pada tataran wacana. Sekolah tampak modern dari luar, tetapi praktik belajar di dalamnya belum banyak berubah. Kalau terus begini, bisa-bisa kita punya generasi yang mahir menggunakan teknologi, tetapi hampa kedalaman nalar. Mereka mampu menghasilkan teks, tetapi tidak terbiasa membangun argumen; cepat menemukan jawaban, tetapi rapuh dalam memahami masalah. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar persoalan pendidikan, melainkan persoalan peradaban. Ormek di Kampus Biru Karena itu, yang mendesak bukan sekadar memasukkan AI ke dalam kurikulum, tetapi menata ulang pedagogi itu sendiri. Pembelajaran harus diarahkan pada proses yang tidak mudah digantikan oleh mesin, di mana berpikir kritis, refleksi, dialog, dan penalaran tetap menjadi perhatian utama. Evaluasi pun perlu berubah tidak lagi hanya menilai jawaban, tetapi cara berpikir Di tengah semua itu, peran guru justru menjadi semakin penting. Bukan hanya sebagai sumber informasi, melainkan sebagai penjaga proses berpikir. Teknologi dapat mempercepat jawaban, tetapi hanya pedagogi yang dapat menjaga makna belajar.

Masih Relevankah Hukuman Fisik di Sekolah Dasar?

Oleh : Khoirul AnamMahasiswa S2 Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang pwmu – Isu kedisiplinan di sekolah dasar kembali mengemuka, terutama ketika perilaku siswa dinilai semakin menantang. Di tengah dinamika tersebut, sebagian pihak masih memandang hukuman fisik sebagai cara cepat untuk menertibkan siswa. Pertanyaannya, masih relevankah pendekatan ini dalam konteks pendidikan masa kini? Secara historis, hukuman fisik pernah dianggap wajar sebagai bagian dari pembentukan karakter. Namun, perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi menunjukkan arah yang berbeda. Jean Piaget menegaskan bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret, di mana mereka belajar melalui pemahaman sebab-akibat yang logis, bukan melalui rasa takut. Sementara itu, B.F. Skinner dalam teori behaviorisme memang mengakui pentingnya penguatan (reinforcement), tetapi penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hukuman—terutama yang bersifat fisik—lebih sering menimbulkan efek jangka pendek dan berisiko memunculkan perilaku agresif atau kecemasan. Sejalan dengan itu, kajian modern seperti yang dirangkum oleh American Academy of Pediatrics (2018) menegaskan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional anak. Anak mungkin patuh sesaat, tetapi tidak memahami nilai di balik aturan. Dalam konteks pendidikan, kepatuhan tanpa pemahaman bukanlah tujuan utama. Di Indonesia, semangat Kurikulum Merdeka justru menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning) dan penguatan karakter melalui pendekatan yang humanis. Disiplin tidak lagi dimaknai sebagai kepatuhan kaku, melainkan sebagai kesadaran diri yang tumbuh dari pemahaman. Guru didorong menjadi fasilitator yang membimbing, bukan otoritas yang menakutkan. Pendekatan disiplin positif menjadi alternatif yang semakin relevan. Tokoh seperti Jane Nelsen melalui konsep Positive Discipline menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling menghargai, memberikan konsekuensi logis, serta melibatkan siswa dalam memahami dampak dari perilaku mereka. Misalnya, ketika siswa tidak menjaga kebersihan kelas, alih-alih dihukum fisik, mereka diajak bertanggung jawab membersihkan dan merefleksikan pentingnya lingkungan yang sehat. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai. Di lapangan, tantangan tentu tidak sederhana. Guru sering dihadapkan pada keterbatasan waktu, jumlah siswa yang banyak, serta tekanan administratif. Dalam situasi tertentu, hukuman fisik mungkin terasa sebagai jalan pintas. Namun, jalan pintas ini justru berpotensi mengabaikan tujuan pendidikan jangka panjang, yaitu membentuk karakter yang mandiri dan bertanggung jawab. Sekolah perlu hadir sebagai ekosistem yang mendukung perubahan paradigma ini. Pelatihan guru tentang manajemen kelas, dukungan kebijakan yang tegas terhadap perlindungan anak, serta kolaborasi dengan orang tua menjadi kunci. Disiplin tidak bisa hanya dibebankan kepada guru, tetapi harus menjadi budaya bersama. Dengan demikian, dalam konteks kekinian dan semangat Kurikulum Merdeka, hukuman fisik tidak lagi relevan sebagai metode pendisiplinan siswa sekolah dasar. Pendidikan bukan tentang menundukkan, melainkan menuntun. Ketika siswa dipahami, dihargai, dan dibimbing dengan pendekatan yang tepat, disiplin tidak perlu dipaksakan—ia akan tumbuh dengan kesadaran.

Bukan Sekadar Unit Bisnis, Bengkel Rinjani UMM Punya Program Diklat Otomotif Gratis hingga Salurkan Lulusan ke Jepang

Bengkel Rinjani yang bernaung di bawah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan diri bukan sekadar unit bisnis biasa. Melalui Rinjani Skills Development Center (RSDC), bengkel ini menginisiasi program pendidikan dan pelatihan otomotif gratis selama enam bulan bagi pemuda dari keluarga kurang mampu. Menariknya, program ini tidak hanya menyalurkan lulusannya ke jaringan perusahaan otomotif nasional, tetapi juga membuka peluang emas bagi mereka untuk bekerja di Jepang. Kepala RSDC, Eddy Prasetyawan Adisubroto, S.T., menjelaskan bahwa program sosial unggulan ini telah berjalan sejak tahun 2008. Sasarannya adalah para lulusan SMA, SMK, atau MA dari seluruh pelosok Indonesia, baik dari sekolah Muhammadiyah maupun sekolah negeri. Prioritas utama RSDC adalah merangkul para pemuda dengan latar belakang prasejahtera hingga yang berstatus yatim piatu. “Ini adalah murni program sosial. Anak-anak yang tinggal dan belajar di asrama kami, seluruh kebutuhan konsumsi hariannya kami tanggung sepenuhnya. Kami ingin membekali mereka dengan ilmu yang sungguh berguna bagi masa depan mereka nanti,” ungkapnya. Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa program diklat RSDC ini sangat berbeda dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin) reguler yang umumnya diikuti oleh siswa kelas 2 SMK. Jika siswa magang biasa lebih terfokus pada area mesin, peserta diklat RSDC mendapatkan kurikulum yang jauh lebih komprehensif. Selama enam bulan penuh, mereka tidak hanya mengupas mesin otomotif, tetapi juga dilatih secara intensif mengenai perawatan bodi, serta pemeliharaan detail interior dan eksterior mobil. Keseriusan RSDC dalam mengawal masa depan siswanya turut dibuktikan melalui luasnya jaringan kerja sama industri. Ratusan alumni kini telah terserap di berbagai perusahaan rekanan, seperti Denso, Astra Malang, hingga Wira Sejahtera Auto 2000 Jakarta. Penempatan kerja para alumni ini tersebar luas mulai dari wilayah Jabodetabek, Sumatera, Yogyakarta, hingga ke Papua. Tidak berhenti di tingkat nasional, RSDC juga memfasilitasi siswanya untuk meluaskan sayap karier ke kancah internasional. Menjelang akhir masa pendidikan, para siswa diajak mengunjungi Training Center (TC) Vokasi UMM untuk mengenal secara langsung dunia pelatihan kerja ke Jepang. “Kami tidak membatasi lingkup di Indonesia saja. Jika berminat, kami akan salurkan mereka untuk ikut tes. Saat ini, sudah ada sekitar enam anak yang berangkat dan bekerja di Jepang pada sektor yang lebih luas, seperti konstruksi, manufaktur, perikanan, hingga pertanian. Tiga orang lainnya kini masih dalam tahap pendidikan bahasa di TC vokasi,” papar Eddy. Melalui program pendidikan berkelanjutan ini, Eddy berharap kehadiran Bengkel Rinjani dan RSDC mampu menjadi jalan keluar bagi pemuda yang kurang beruntung. “Harapan saya, mereka bisa mengembangkan ilmunya, mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi individu yang sukses serta bernilai bagi masyarakat luas,” pungkasnya.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman