​Pakar UMM Ingatkan Masyarakat, Pilih Hewan Kurban Jangan Hanya Terkecoh Ukuran

Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya 7 Mei lalu pada Tim Humas UMM. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan, melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmaad Wafir Rahman

Mahasiswa UMM Tembus Magang Daihatsu Jepang, Nicholas Saputra Bagikan Pengalaman Kerja ala Negeri Sakura

INDOZONE.ID – Sepuluh mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menembus program magang di perusahaan Daihatsu Kyushu. Salah satu sosok yang menjadi sorotan adalah Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022. Nicholas merupakan satu dari sepuluh mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti program peningkatan kompetensi selama satu tahun penuh, yang dimulai pada 6 Agustus 2025. Perjalanan Panjang Menuju Jepang Kesempatan untuk magang di Jepang tidak datang begitu saja. Nicholas dan rekan-rekannya mendapatkan informasi peluang emas melalui jalur resmi yang disediakan oleh program studi mereka di UMM. Namun, untuk bisa berangkat ke Jepang, mereka harus melewati rangkaian ujian yang sangat kompetitif dan cukup melelahkan. Proses seleksi mencakup berbagai aspek, mulai dari tes fisik yang memastikan kebugaran tubuh mereka tetap prima, hingga psikotes untuk mengukur kesiapan mental. Selain itu, kemampuan akademik mereka juga dievaluasi secara mendalam, serta diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang dasar agar komunikasi di lokasi kerja nantinya dapat berjalan dengan lancar. Keberhasilan mereka melewati tahapan ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi dunia kerja yang nyata. Pengalaman di Lini Produksi Selama berada di Jepang, sepuluh mahasiswa ini ditempatkan pada posisi-posisi strategis dalam proses pembuatan kendaraan. Mereka terlibat langsung dalam berbagai divisi krusial, seperti divisi welding atau pengelasan yang memerlukan tingkat presisi tinggi dalam menyambung rangka mobil. Ada pula yang ditempatkan di divisi painting untuk mempelajari teknik pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi kendaraan, hingga divisi assembly yang merupakan tahap akhir perakitan ribuan komponen menjadi satu unit mobil yang utuh. Nicholas mengakui bahwa bekerja di lingkungan industri Jepang memberikan pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas. Menaklukkan Tantangan Budaya Kerja Meskipun membanggakan, Nicholas mengkau bahwa ia sempat mengalami kejutan budaya atau culture shock pada awal masa kerjanya. Ritme kerja di Jepang yang sangat cepat, padat, dan adanya kewajiban lembur hampir setiap hari sempat membuatnya merasa kaget. Namun, sistem kerja yang transparan memberikan motivasi tersendiri, di mana setiap jam lembur diberikan kompensasi upah yang jauh lebih tinggi dibandingkan jam kerja biasa. Selain ritme kerja, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam komunikasi sehari-hari di pabrik. Namun, Nicholas memandang segala hambatan tersebut sebagai proses untuk membentuk mental yang lebih Tangguh. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” ujarnya. Kisah sukses Nicholas dan rekan-rekannya semakin memperkuat reputasi UMM sebagai institusi pendidikan yang berhasil menghubungkan kurikulum akademik dengan kebutuhan industri dunia. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dari daerah memiliki peluang yang sama untuk bersinar di panggung internasional, asalkan memiliki persiapan yang matang dan dukungan kampus yang kuat.

Seminar PPG UMM Kaji Inklusi Transformatif: Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global

MALANG, RADAR MALANG – Menguatnya fragmentasi sosial global sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan menempatkan pendidikan pada titik krusial. Ketegangan ini mengemuka dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Mengusung tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global, forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro.  Ia menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. Ratusan mahasiswa PPG UMM yang dibekali dan dilengkapi dengan skill global untuk atasi ketimpangan pendidikan. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia yang menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Sehingga mampu merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. Dari Indonesia hingga Australia, seminar internasional PPG UMM dorong keadilan pendidikan. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ujarnya. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar? Maka dari itu, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Seminar internasional PPG UMM diisi oleh para pakar pendidikan Indonesia-Australia. Sementara itu, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma yang membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Ia menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Sementara itu, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM menegaskan bahwa capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegasnya. Pendidikan inklusif yang transformatif harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” ujarnya. Pada akhirnya, pandangan pada standar profesi guru dijelaskan oleh  Neneng Haryati, S.Si, M.M., ia menjelaskan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam hal ini PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab  tantangan global. (*)

Mahasiswa dan Dosen UMM Buat Aplikasi Deteksi Anemia

MALANG, KOMPAS.TV – Welldan Yogia dan Lailis Syafa’ah, mahasiswa dan dosen dari Teknik Informatika dan Teknik Elektro UMM berkolaborasi membuat aplikasi pendeteksi anemia. Penggunaannya sangat mudah, cukup membuka aplikasi di ponsel dan memotret bagian konjungtiva mata Aplikasi ini mengambil sampel dari 200 pasien HD dan ibu hamil di RS di Malang. Pembuatan aplikasi ini terinspirasi dari pengecekan kadar HB yang harus dilalui ibu hamil dan pasien HD dengan menggunakan metode tusuk jari untuk mengambil sampel darah. “Cara kerja aplikasi dari foto konjungtiva mata akan dianalisa diprediksi dan mesin learning sudah ditraining dengan data data konjungtiva mata pasien dan dengan data kadar hemoglobin dengan hasil lab. Pengumpulan prosesnya melakukan di beberapa rumah sakit dengan pasien hemodialisa dan kemoterapi, ada kurang lebih 200 sekian pasien” Ujar Welldan. Akurasi aplikasi ini mencapai 86%. Aplikasi ini sudah mulai bekerjasama dengan satu RS di Kabupaten Malang. “Akurasinya 86 persen dibandingkan dengan ditusuk untuk melihat hemoglobin. Proses pengembangan bagaimana menghindari stunting mulai hamil dijaga HB, kemudian orang Hemodialisa mengakibatkan kecemasan, sebelum mereka cuci darah harus dites dulu kadar HBnya. Perlu dan sudah menggandeng rumah sakit” Terang Lailis.

Psikolog UMM Soroti Trauma Berat 50 Santriwati di Pati, Sebut Dampak Tindakan Asusila Bisa Permanen

TRIBUNSUMSEL.COM — Pelarian Ashari, oknum kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, Kabupaten Pati, akhirnya berakhir. Tersangka yang diduga mencabuli sekitar 50 santriwatinya tersebut kini telah diamankan pihak kepolisian setelah sebelumnya sempat buron. Kabar penangkapan ini membawa secercah harapan bagi pemulihan psikis para korban. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah, sebelumnya sempat menyoroti bahwa tindakan keji pelaku berdampak sangat serius bagi mental santriwati. Ia menekankan adanya dampak jangka pendek hingga jangka panjang yang menghantui para korban akibat manipulasi yang dilakukan pelaku selama di pesantren. Dalam menjalankan aksinya, Ashari menggunakan kedudukan agamanya untuk memperdaya para santriwati Ia mengeklaim diri sebagai sosok khariqul’adah atau wali dengan kemampuan di luar nalar manusia, serta mengaku sebagai keturunan nabi. Doktrin inilah yang digunakan tersangka agar para korban merasa wajib memuliakannya, yang kemudian disalahgunakan untuk tindakan asusila. Kasus ini sebelumnya memicu kemarahan publik hingga mendapat atensi khusus dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendesak tindakan tanpa kompromi. Meski sempat mangkir berkali-kali dari panggilan penyidik dan diduga melarikan diri ke luar wilayah Jawa Tengah, pengejaran intensif kepolisian akhirnya membuahkan hasil. Kini, Ashari harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, sementara fokus tim pendamping dialihkan pada rehabilitasi mental puluhan santriwati yang menjadi korban aksi bejatnya. Baca juga: Sosok Ashari Pengasuh Ponpes di Pati Tersangka Pelecehan 50 Santriwati, Didesak Menteri PPPA Ditahan Dampak Psikologis Bagi Korban Hudaniah menjelaskan kondisi psikologis tiap korban kemungkinan berbeda-beda, ada yang hanya mengalami trauma sementara adapula yang bisa jadi permanen. “Karena kan pasti 50 korban itu beragam ya, beragam keadaan psikologisnya,” ujar Hudaniah, kepada Tribunnews, dalam acara Diskusi Overview Tribunnews yang ditayangkan di akun YouTube Tribunnews, Rabu (6/5/2026). Ia mengatakan dampak trauma bergantung pada banyak faktor, seperti berapa lama korban mengalami kekerasan, seberapa sering peristiwa itu terjadi, hingga apakah korban sempat menceritakan pengalamannya kepada orang lain atau tidak. Menurutnya, sebagian korban kemungkinan mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. “Jadi, stress disorder atau PTSD. Nah, orang-orang PTSD itu biasanya akan mengalami mimpi buruk, selalu melihat pengalaman-pengalaman masa lalunya, ketakutan ketemu orang,” katanya. Hudaniah menambahkan, korban PTSD umumnya mudah terkejut, mengalami gangguan tidur, serta cenderung menghindari pelaku. “Terus gangguan tidur kemudian dia cenderung menghindari pelaku. Jadi misalnya tiba-tiba mundur misalnya gitu,” ucapnya. Selain itu, korban juga bisa mengalami perubahan emosi seperti menjadi lebih pemarah, memiliki rasa malu mendalam, hingga merasa hina dan tidak berharga. TERSANGKA CABUL DITANGKAP- Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, tersangka kasus pencabulan terhadap puluhan santriwati, akhirnya ditangkap setelah kabur ke sejumlah kota (Tribunjateng/Mazka Hauzan Naufal) Hudaniah juga menyoroti kemungkinan hilangnya kepercayaan korban terhadap figur otoritas, termasuk guru maupun pembimbing spiritual. “Nah, bisa juga kehilangan kepercayaan terhadap figur otoritas. Apakah itu guru, apakah itu pembimbing spiritualnya atau figur-figur orang dewasa lain yang brandingnya adalah orang-orang dengan keagamaan gitu ya,” katanya. Menurut Hudaniah, korban juga rentan menyalahkan diri sendiri dan merasa takut untuk bercerita karena khawatir mendapat cibiran dari lingkungan sekitar. Ia mencontohkan, korban kerap berpikir, “aku kalau enggak ke situ tadi aku enggak akan mengalami hal ini”, serta merasa takut ditertawakan jika menceritakan kejadian yang dialaminya. “Jadi ketakutan-ketakutan itu membuat orang menjadi merasa tidak berharga,” ujarnya. Hudaniah mengatakan dampak yang paling berat ialah PTSD dan munculnya perasaan tidak berharga. Dalam jangka panjang, korban juga berpotensi mengalami gangguan seksual, trauma seksual, hingga gangguan emosi. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu keinginan bunuh diri maupun menyakiti diri sendiri. “Itu banyak sekali resiko-resiko yang mereka hadapi, sangat-sangat beratlah resikonya untuk anak-anak ini meskipun keberagamannya juga sekecil apapun tapi itu adalah resikonya berat dan itu tidak sekarang saja tapi sampai mereka ke masa yang akan datang itu,” tutur Hudaniah. (*)  

50 Universitas Berprestasi Nasional 2026 Versi Puspresnas, Kampus Favoritmu Nomor Berapa?

sindonews, JAKARTA – Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen ) merilis daftar universitas berprestasi nasional 2026. Berikut daftar 50 perguruan tinggi dengan capaian prestasi mahasiswa terbanyak di Indonesia. Pemeringkatan ini didasarkan pada jumlah dan kualitas capaian prestasi mahasiswa di berbagai bidang. Data disusun oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia dengan mengacu pada raihan medali dan penghargaan dari berbagai kompetisi resmi tingkat nasional maupun internasional. Dikutip dari laman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (7/5/2026), penilaian mencakup bidang akademik, riset, seni budaya, hingga olahraga yang seluruhnya dihimpun melalui SIMT sebagai pangkalan data talenta nasional. Sebagai instrumen pemetaan talenta, SIMT digunakan pemerintah untuk menilai rekam jejak prestasi perguruan tinggi secara terukur. Selain merefleksikan keberhasilan pembinaan mahasiswa, data ini juga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengembangan talenta nasional dan distribusi insentif pembinaan prestasi di lingkungan pendidikan tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI Prof Yudi Sukmayadi mengatakan, capaian UPI yang berhasil menembus peringkat enam besar nasional merupakan hasil kerja sama bersama seluruh sivitas akademika. Ke depan UPI akan memperkuat strategi pembinaan talenta berbasis data melalui optimalisasi rumah prestasi, meningkatkan perluasan kemitraan dengan dunia industri dan lembaga internasional, serta peningkatan partisipasi aktif semua komponen sivitas akademika sebagai bagian dari pendampingan mahasiswa. Sementara Kepala UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari perubahan proses bisnis kemahasiswaan untuk akselerasi prestasi. “UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa berfungsi sebagai training center bagi mahasiswa. Kami tidak hanya mengirimkan mahasiswa untuk lomba, tetapi kami siapkan melalui klasterisasi minat dan bakat, mulai dari penalaran, robotik, hingga seni dan olahraga,” ujarnya, dikutip dari laman UB. Daftar Universitas Berprestasi Nasional Versi Puspresnas 2026 Puspresnas memuat daftar 717 perguruan tinggi berprestasi di laman simt.kemendikdasmen.go.id. Berikut daftar 50 universitas berprestasi nasional versi Puspresnas 2026. 1. Universitas Gadjah Mada: 669 prestasi 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember: 666 prestasi 3. Universitas Brawijaya: 606 prestasi 4. Universitas Negeri Yogyakarta: 504 prestasi 5. Universitas Indonesia: 410 prestasi 6. Universitas Pendidikan Indonesia: 347 prestasi 7. Universitas Negeri Surabaya: 335 prestasi 8. Universitas Diponegoro: 312 prestasi 9. Universitas Katolik Parahyangan: 307 prestasi 10. Institut Pertanian Bogor: 300 prestasi 11. Universitas Telkom: 300 prestasi 12. Universitas Hasanuddin: 281 prestasi 13. Universitas Negeri Malang: 281 prestasi 14. Universitas Sebelas Maret: 261 prestasi 15. Universitas Negeri Jakarta: 250 prestasi 16. Institut Teknologi Bandung: 234 prestasi 17. Universitas Airlangga: 232 prestasi 18. Universitas Negeri Semarang: 215 prestasi 19. Universitas Muhammadiyah Malang: 205 prestasi 20. Universitas Tanjungpura: 197 prestasi 21. Universitas Negeri Padang: 191 prestasi 22. Universitas Sriwijaya: 189 prestasi 23. Universitas Sumatera Utara: 181 prestasi 24. Universitas Tadulako: 179 prestasi 25. Universitas Negeri Medan: 177 prestasi 26. Universitas Kristen Satya Wacana: 177 prestasi 27. Universitas Sam Ratulangi: 175 prestasi 28. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya: 174 prestasi 29. Universitas Jember: 172 prestasi 30. Universitas Negeri Makassar: 170 prestasi 31. Universitas Surabaya: 170 prestasi 32. Universitas Bina Nusantara: 158 prestasi 33. Universitas Muhammadiyah Surakarta: 135 prestasi 34. Universitas Palangka Raya: 135 prestasi 35. Universitas Syiah Kuala: 134 prestasi 36. Universitas Udayana: 133 prestasi 37. Universitas Riau: 132 prestasi 38. Universitas Islam Indonesia: 124 prestasi 39. Universitas Lambung Mangkurat: 120 prestasi 40. Universitas Padjadjaran: 118 prestasi 41. Universitas Ahmad Dahlan: 117 prestasi 42. Politeknik Negeri Malang: 117 prestasi 43. Universitas Musamus Merauke: 109 prestasi 44. Universitas Andalas: 104 prestasi 45. Institut Teknologi Sumatera: 104 prestasi 46. Universitas Mataram: 103 prestasi 47. Universitas Lampung: 103 prestasi 48. Universitas Pattimura: 102 prestasi 49. Politeknik Negeri Bandung: 99 prestasi 50. Universitas Pertamina: 98 prestasi.

Direktur RS UMM Prof Djoni Djunaedi Setia Kliping Berita, Tiap Pagi Tiga Koran Tak Pernah Absen

RADAR MALANG – Suasana ruang kerja Djoni Djunaedi di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang tampak sederhana. Namun, ada satu sudut yang langsung mencuri perhatian: lemari kaca gelap berisi tumpukan potongan koran yang tersusun rapi. Sebagian potongan ditempel, sebagian lain dimasukkan ke dalam map transparan. Mayoritas berasal dari Jawa Pos dan Radar Malang. Bagi Djoni, kliping itu bukan sekadar arsip, melainkan catatan penting tentang berbagai peristiwa yang layak diingat. Dari Berita Kesehatan hingga Isu Sosial Beragam topik tersimpan dalam koleksi klipingnya. Mulai isu kesehatan, kebijakan publik, hingga fenomena sosial yang sedang ramai dibicarakan masyarakat. “Kalau ada yang menarik atau bisa jadi pelajaran, biasanya saya simpan,” ujar Djoni Djunaedi. Kliping-kliping tersebut rutin diperbarui. Namun, beberapa berita tetap dipertahankan karena dianggap masih relevan hingga sekarang. Tiga Koran Setiap Pagi Jadi Rutinitas Kebiasaan menggunting berita bermula dari rutinitas membeli koran setiap pagi. Selama sekitar tiga dekade, Djoni hampir tidak pernah melewatkan kebiasaan tersebut. Sebelum berangkat kerja, ia biasa mampir ke dua loper langganannya di kawasan Jalan Kawi, Kota Malang. “Biasanya saya ambil tiga koran,” katanya. Hubungannya dengan para loper pun cukup dekat. Bahkan, salah satu penjual koran kerap memberi kabar jika hendak pulang kampung dan tidak berjualan keesokan harinya. Mulai Membaca Koran Sejak Usia Delapan Tahun Kedekatan Djoni dengan media cetak sudah dimulai sejak kecil saat tinggal di Mojokerto. Ayahnya, almarhum Djoyo Djunaedi, rutin berlangganan koran di rumah Dari situlah ia mulai mengenal berbagai bacaan seperti Soerabaiasch Handelsblad, Sin Po, hingga Pewarta Soerabaia. Saat kecil, ia paling menyukai rubrik komik dan anekdot. “Dulu saya paling suka bagian komik dan anekdot,” kenangnya. Berita Lokal Dinilai Lebih Dekat dengan Kehidupan Saat menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada era 1960-an, minat bacanya berkembang ke isu nasional dan politik. Ia masih mengingat ramainya pemberitaan Presiden Soekarno dengan kampanye “Ganyang Malaysia” kala itu. Seiring perkembangan media, Djoni sempat membaca Kompas dan majalah Surya sebelum akhirnya rutin mengikuti Jawa Pos dan Radar Malang. “Berita lokal itu penting, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari,” tutur Djoni Djunaedi. Kliping Jadi Bahan Diskusi dan Refleksi Selain berita utama, Djoni juga gemar membaca kolom opini. Ia kerap mengikuti tulisan para dokter dan akademisi karena dinilai mampu menjadi ruang refleksi. Beberapa potongan opini bahkan dijadikan bahan diskusi di ruang kerjanya. Salah satunya ketika membahas isu kualitas dokter asing yang menurutnya harus dijawab dengan peningkatan kompetensi tenaga medis lokal. “Sebenarnya kita tidak kalah, yang penting mau meningkatkan kualitas,” tegasnya. Meski belum banyak menulis opini di media massa, Djoni tetap aktif menuangkan gagasannya melalui buku bertema kesehatan, salah satunya Wanita Indonesia Sehat. Bagi Djoni, membaca koran bukan sekadar rutinitas lama. Kebiasaan itu menjadi cara untuk terus mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjaga tradisi literasi yang sudah melekat sejak kecil.

Bengkel Rinjani UMM Punya Program Diklat Otomotif Gratis hingga Salurkan Lulusan ke Jepang

pwmu.co – Bengkel Rinjani yang berada di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Malang membuktikan diri bukan sekadar unit bisnis otomotif biasa. Melalui program Rinjani Skills Development Center (RSDC), bengkel ini menghadirkan pendidikan dan pelatihan otomotif gratis selama enam bulan bagi pemuda dari keluarga kurang mampu.Menariknya, program tersebut tidak hanya menyalurkan lulusannya ke berbagai perusahaan otomotif nasional, tetapi juga membuka peluang kerja hingga ke Jepang. Kepala RSDC, Eddy Prasetyawan Adisubroto, S.T., menjelaskan bahwa program sosial ini telah berjalan sejak tahun 2008. Program tersebut menyasar lulusan SMA, SMK, maupun MA dari berbagai daerah di Indonesia, baik dari sekolah Muhammadiyah maupun sekolah negeri. Prioritas utama RSDC adalah membantu pemuda dari keluarga prasejahtera hingga yatim piatu agar memiliki keterampilan dan masa depan yang lebih baik. “Ini adalah murni program sosial. Anak-anak yang tinggal dan belajar di asrama kami, seluruh kebutuhan konsumsi hariannya kami tanggung sepenuhnya. Kami ingin membekali mereka dengan ilmu yang sungguh berguna bagi masa depan mereka nanti,” ungkapnya. Eddy menjelaskan bahwa program diklat RSDC berbeda dengan Praktik Kerja Industri (Prakerin) reguler yang umumnya diikuti siswa SMK. Jika program magang biasa lebih banyak berfokus pada mesin otomotif, peserta diklat RSDC mendapatkan materi yang lebih menyeluruh. Selama enam bulan, mereka dibekali kemampuan di bidang mesin, perawatan bodi kendaraan, hingga pemeliharaan detail interior dan eksterior mobil. Dengan sistem pelatihan yang intensif, peserta diharapkan siap bersaing di dunia industri otomotif secara profesional. Keseriusan RSDC dalam mendampingi masa depan peserta juga terlihat dari luasnya jaringan kerja sama industri yang dimiliki. Ratusan alumni program ini telah bekerja di berbagai perusahaan rekanan seperti Denso, Astra Malang, hingga Wira Sejahtera Auto 2000 Jakarta. Penempatan kerja mereka pun tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jabodetabek, Sumatera, Yogyakarta, hingga Papua. Tidak hanya di tingkat nasional, RSDC juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk meniti karier internasional. Menjelang akhir masa pendidikan, siswa diajak mengunjungi Training Center (TC) Vokasi UMM guna mengenal program pelatihan kerja ke Jepang secara langsung. “Kami tidak membatasi lingkup di Indonesia saja. Jika berminat, kami akan salurkan mereka untuk ikut tes. Saat ini, sudah ada sekitar enam anak yang berangkat dan bekerja di Jepang pada sektor yang lebih luas, seperti konstruksi, manufaktur, perikanan, hingga pertanian. Tiga orang lainnya kini masih dalam tahap pendidikan bahasa di TC vokasi,” papar Eddy. Melalui program pendidikan berkelanjutan tersebut, Eddy berharap keberadaan Bengkel Rinjani dan RSDC dapat menjadi solusi nyata bagi pemuda yang kurang beruntung agar memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. “Harapan saya, mereka bisa mengembangkan ilmunya, mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya, dan membuktikan bahwa mereka bisa menjadi individu yang sukses serta bernilai bagi masyarakat luas,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Referensi Buat Calon Mahasiswa! Ini 7 Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE Asia University Rankings 2026

MALANG, Tugumalang.id – Berikut ini informasi kampus terbaik di Jawa Timur versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. Informasi ini dapat menjadi referensi bagi calon mahasiswa di tengah memasuki masa penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Seperti diketahui pemeringkatan yang dilakukan THE Asia University Ranking kredibel dengan melakukan penilaian terhadap 929 perguruan tinggi dari 36 negara di kawasan Asia. Pemeringkatan ini menggunakan 18 indikator kinerja yang dirancang untuk mengukur kualitas kampus secara komprehensif. Indikator yang menjadi dasar pemeringkatan THE Asia University Rankings antara lain kualitas pengajaran, lingkungan penelitian, produktivitas riset, reputasi akademik, jaringan internasional, kerja sama dengan industri, dan kontribusi inovasi bagi masyarakat. Lewat indikator ini, THE mengukur kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkualitas, sekaligus mendorong penelitian yang bermanfaat bagi dunia industri dan publik. Dari daftar kampus terbaik di Jawa Timur versi THE Asia University Rankings 2026, tiga diantaranya berada di Kota Malang yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berikut ini daftar 7 kampus terbaik di Jawa Timur versi THE Asia University Rankings 2026 sebagai referensi bagi calon mahasiswa: 7 Kampus Terbaik di Jawa Timur Versi THE Asia University Rankings 2026 1. Universitas Airlangga (Unair) 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 3. Universitas Negeri Malang (UM) 4. Universitas Brawijaya (UB) 5. Universitas Jember (Unej) 6. Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 7. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Bagi calon mahasiswa yang saat ini tengah mencari perguruan tinggi tujuan untuk melanjutkan studi. Informasi ini dapat menjadi referensi memilih perguruan tinggi favorit, terutama jelang dibukanya penerimaan mahasiswa baru melalui jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kehadiran kampus berkualitas dengan lingkungan akademik yang baik, membuat beberapa kampus terbaik di Jawa Timur ini dapat dijadikan pilihan utama.

Guru Besar UMM Prof Ishomuddin Pecahkan Rekor MURI sebagai Panelis Forum Internasional Terbanyak

KLIKMU.CO – Konsistensi panjang dalam dunia akademik mengantarkan Guru Besar Program Studi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Ishomuddin MSi meraih penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Dia tercatat sebagai panelis diskusi daring internasional berkesinambungan terbanyak. Penghargaan tersebut diserahkan pada April lalu setelah melalui proses verifikasi. Hingga Januari 2026, Prof Ishomuddin tercatat telah tampil sebanyak 97 kali sebagai panelis dalam forum International Deliberation on Islam, dan jumlah tersebut terus bertambah. Forum International Deliberation on Islam menjadi ruang pertemuan ulama, akademisi, dan cendekiawan dari berbagai negara. Setiap sesi diikuti sekitar 400 hingga 500 peserta dari berbagai belahan dunia, yang mayoritas merupakan profesor dan doktor. Sejak aktif pada 2018, Prof Ishomuddin rutin menyampaikan gagasan keislaman dalam forum tersebut. Dalam berbagai diskusi, ia banyak mengulas epistemologi Islam melalui tiga paradigma utama, yakni Bayani (teks), Burhani (logika), dan Irfani (spiritual). Menurutnya, pendekatan Irfani memiliki posisi penting dalam memahami Islam secara menyeluruh. “Pendekatan Irfani ini sering kali terabaikan, padahal memiliki kedalaman makna yang sangat penting dalam memahami Islam secara komprehensif,” ujarnya. Pemikiran tersebut tidak hanya disampaikan di forum internasional, tetapi juga terus ia kembangkan bersama mahasiswa, dosen, dan kalangan akademisi di tingkat lokal maupun nasional. Selain aktif sebagai panelis internasional, Prof Ishomuddin juga dikenal produktif dalam bidang akademik. Sejak 2013, ia telah menghasilkan sekitar 100 karya yang tercatat sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Melalui berbagai forum internasional yang diikutinya, dosen Fakultas Agama Islam UMM itu membawa misi menyebarkan nilai-nilai Islam moderat dan inklusif. Ia berharap ruang dialog internasional dapat terus menjadi sarana pengembangan keilmuan bagi umat Islam di berbagai negara. Capaian tersebut sekaligus menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam mendorong sivitas akademika untuk berkontribusi di tingkat global. (Faqih/AS)