UMM Kolaborasi dengan Google, Puluhan Dosen Ikuti Sertifikasi Gemini AI

Puluhan Dosen UMM Ikuti Sertifikasi Gemini AI. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan tinggi kini menjadi kebutuhan penting untuk mendukung kualitas pembelajaran yang lebih adaptif dan inovatif. Hal tersebut disampaikan oleh Arija Rose Wanodya dalam kegiatan Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5/2026). Dalam pemaparannya, Rose menjelaskan bahwa AI tidak ditujukan untuk menggantikan tenaga pendidik, melainkan membantu memperkuat peran mereka. Melalui platform Google Workspace for Education, teknologi AI generatif dapat dimanfaatkan sebagai asisten kolaboratif yang mendukung berbagai pekerjaan administratif secara lebih cepat dan efisien. Ia mencontohkan, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pembuatan kuis, hingga penyusunan rubrik penilaian kini dapat dilakukan dengan lebih akurat dan praktis. Dengan efisiensi tersebut, dosen dan guru memiliki lebih banyak waktu untuk berfokus pada interaksi langsung dengan mahasiswa, pendampingan emosional, serta penguatan karakter peserta didik. Senada dengan hal itu, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Suyatno, menegaskan bahwa dosen perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kegiatan hasil kolaborasi antara Indosat dan Google Education tersebut diikuti oleh 30 dosen muda sebagai bagian dari langkah strategis UMM menghadapi era disrupsi digital. Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki kemampuan teknologi yang tinggi dan dapat memperoleh informasi secara instan melalui internet. Karena itu, dosen dituntut menghadirkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan. “Ketika dosen baru menuliskan topik di papan tulis, mahasiswa sudah lebih dulu mencari referensinya di internet. Jika metode pembelajaran tidak berkembang, maka pengajar akan tertinggal,” ujarnya. Suyatno juga menyoroti fenomena tugas makalah yang kini memiliki tingkat kemiripan tinggi akibat kemudahan akses AI. Ia menilai, kehadiran mahasiswa di ruang kelas sering kali hanya sebatas fisik, sementara perhatian mereka lebih banyak tertuju pada perangkat digital. Ia menambahkan bahwa AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, penolakan terhadap AI justru dapat membuat institusi pendidikan kehilangan daya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Kegiatan pelatihan kemudian dilanjutkan dengan ujian sertifikasi Gemini AI pada sesi berikutnya. Melalui program ini, UMM berharap para dosen muda mampu menjadi penggerak literasi digital di lingkungan kampus sehingga tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inovatif, inklusif, dan relevan untuk menghadapi tantangan global.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

Relevansi Pekerja Sosial di Era AI, UMM Tegaskan Teknologi Tak Bisa Gantikan Empati Kemanusiaan

Di tengah masyarakat yang kian terfragmentasi dan dunia yang semakin dikendalikan oleh teknologi cerdas, sebuah pertanyaan kritis muncul: masih relevankah profesi pekerja sosial saat ini? Pertanyaan tajam ini menjadi pemantik utama dalam peringatan Hari Pekerja Sosial Internasional yang digelar oleh Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (12/5/2026). Menjawab tantangan tersebut, UMM menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “Co-Building Hope and Harmony: A Harambee Call to Unite a Divided Society” di Aula BAU UMM. Forum strategis ini menghadirkan pakar lintas negara, yakni Dekan FISIP UMM Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si., Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Ketua Umum DPP IPSPI Dr. Puji Pujiono, MSW, RSW., dan pakar kesejahteraan sosial Lutfi J. Kurniawan. Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, menegaskan bahwa pekerja sosial kini diharamkan bersikap anti-teknologi. Pola pelayanan konvensional sudah saatnya bergeser menuju ekosistem hibrida dan digital yang berbasis data, cepat, dan responsif. “Teknologi itu alat, bukan pengganti manusia. Karena itu, penting membangun smart social service yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan analisis data. Pekerja sosial kini tidak hanya dituntut memiliki kemampuan pendampingan, tetapi juga keterampilan komunikasi digital, pengelolaan data, hingga asesmen berbasis teknologi,” tegas Fauzik. Untuk merespons hal ini, ia mendorong pembaruan kurikulum pendidikan melalui mata kuliah Digital Social Work. Namun, ia juga memberikan peringatan keras: modernisasi tidak boleh menggerus nilai kemanusiaan. Tantangan terbesar di era digital justru bagaimana menjaga empati dan melindungi privasi data klien di tengah layanan yang serba terotomatisasi. Dari perspektif serumpun, Prof. Madya Dr. Mohd Suhaimi Bin Mohamad menyoroti ketimpangan struktural dalam profesi ini. Ia mengungkapkan bahwa praktik kerja sosial di Malaysia masih menghadapi kendala besar karena ketiadaan undang-undang khusus seperti yang telah dimiliki Indonesia. Akibatnya, baik klien maupun pekerja sosial rentan karena tidak memiliki payung hukum yang kuat. Menurutnya, ini adalah tantangan bersama di kawasan Asia Tenggara yang tengah mengalami pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. “Profesi pekerja sosial membutuhkan pengakuan yang jelas melalui sistem hukum, standardisasi pendidikan, dan legitimasi politik. Mengadaptasi konsep jurisdiksi profesi dari Andrew Abbott, batas ruang kerja dan kewenangan pekerja sosial harus ditegaskan,” paparnya. Pria itu juga menawarkan solusi berlandaskan prinsip ‘Global Standard, Local Practice’ sebuah pendekatan agar praktik kerja sosial berstandar internasional, namun tetap relevan dan peka terhadap budaya lokal. Hal ini wajib didukung dengan kolaborasi lintas negara, standardisasi kurikulum, serta peningkatan jam praktik lapangan. Melalui forum internasional ini, UMM membuktikan bahwa peringatan Hari Pekerja Sosial bukan sekadar seremonial belaka. Acara ini menjadi ruang refleksi tajam mengenai arah masa depan profesi. Kesimpulan utamanya jelas: Sekencang apa pun disrupsi teknologi dan perubahan sosial terjadi, pekerjaan sosial akan selalu relevan karena dunia akan selalu membutuhkan sentuhan empati, solidaritas, dan keberpihakan nyata pada kemanusiaan.(vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Gandeng Google Education dan Indosat, Latih 30 Dosen Muda Sertifikasi Gemini AI

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Google Education dan Indosat melatih serta membekali 30 dosen muda melalui program sertifikasi Gemini AI pada Selasa (12/5/2026). Program ini menjadi langkah strategis untuk memastikan tenaga pendidik mampu mengikuti percepatan perkembangan teknologi dan kebutuhan mahasiswa di era digital. Melalui sertifikasi tersebut, para dosen diharapkan dapat mentransformasi metode pembelajaran agar lebih adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Google Education Specialist, Arija Rose Wanodya, menjelaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini telah berkembang dari sekadar tren menjadi kebutuhan utama dalam dunia pendidikan. “AI hadir untuk memberdayakan pendidik, bukan menggantikan peran mereka. Dengan asisten kolaboratif ini, tugas-tugas repetitif seperti penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian objektif dapat diselesaikan dengan presisi tinggi,” ujar Rose. Ia menambahkan bahwa kehadiran AI dalam ekosistem Google Workspace for Education memberikan ruang lebih besar bagi dosen untuk fokus pada aspek pengajaran yang bersifat humanis, seperti bimbingan emosional, interaksi langsung, dan pembentukan karakter mahasiswa. Senada dengan itu, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menekankan pentingnya adaptasi teknologi di dunia pendidikan, terutama menghadapi perubahan perilaku mahasiswa yang semakin cepat dalam mengakses informasi. Menurutnya, dosen harus mampu merancang metode pembelajaran yang lebih inovatif agar tidak tertinggal dari pola belajar mahasiswa yang sudah sangat digital. “Baru saja kita menuliskan judul materi di papan tulis, mahasiswa sudah mencarinya sendiri di internet. Jika dosen tidak mampu meramu metode mengajar yang lebih cerdas dan inovatif, kita pasti akan tertinggal jauh di belakang mereka,” tegas Suyatno. Ia juga menyoroti tantangan akademik saat ini, termasuk meningkatnya potensi plagiasi tugas akibat penggunaan AI yang tidak terkontrol, sehingga menuntut perubahan dalam sistem evaluasi pembelajaran. Dalam arahannya kepada peserta pelatihan, Suyatno menegaskan pentingnya sikap adaptif terhadap teknologi, bahkan menyamakan penolakan terhadap AI dengan kegagalan beradaptasi pada era transformasi digital sebelumnya. Kegiatan yang ditutup dengan ujian sertifikasi Gemini AI ini diharapkan mampu melahirkan dosen-dosen pionir literasi digital di lingkungan UMM, yang kemudian dapat menularkan pemahaman tersebut kepada rekan sejawat lainnya. UMM menargetkan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, dan kompetitif secara global melalui pemanfaatan AI dalam proses pendidikan. “Pemanfaatan AI ini bukan sekadar untuk gaya-gayaan, melainkan tuntutan nyata zaman. Jika kita memilih untuk bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps. Kita harus mampu menjinakkan teknologi ini untuk kepentingan pendidikan,” pungkas Suyatno. [dan/beq]

UMM Gandeng Google, Bekali Puluhan Dosen dengan Sertifikasi Gemini AI

Universitas Muhammadiyah Malang menggandeng Google untuk pembekalan sertifikasi Gemini AI kepada puluhan dosen./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang menggandeng Google untuk membekali puluhan dosen dengan sertifikasi Gemini AI. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem pendidikan tinggi saat ini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan sebuah kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kondisi ini diungkapkan Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, dalam agenda Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (12/5). Melalui paparannya, Rose sapaan akrabnya, menegaskan bahwa AI hadir sebagai katalisator untuk memberdayakan pendidik, bukan untuk menggantikan peran mereka. Melalui pemanfaatan platform Google Workspace for Education, AI generatif berfungsi layaknya asisten kolaboratif tanpa lelah yang mampu mengakselerasi berbagai tugas administratif repetitif. “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian yang objektif kini dapat dilakukan dengan sangat presisi. Efisiensi ini memberikan ruang waktu berharga bagi pendidik untuk kembali fokus pada aspek esensial yakni interaksi langsung, bimbingan emosional, dan pengembangan karakter anak didiknya,” ungkap Rose. Sejalan dengan wawasan tersebut, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menyatakan bahwa dosen dituntut terus beradaptasi dengan teknologi. Agenda kolaborasi antara Indosat dan Google Education ini secara khusus diikuti oleh 30 dosen muda, sebagai langkah konkret UMM dalam merespons disrupsi digital. Suyatno menyoroti fenomena mahasiswa masa kini yang semakin mahir teknologi namun cenderung pasif di ruang kelas. Menurutnya, sejak masifnya penggunaan AI, mahasiswa bisa menggali informasi dengan sangat cepat. “Kalau kita menulis judul di papan tulis, misalnya tentang animal breeding, mereka sudah mencari sendiri di internet. Jika dosen tidak meramu metode mengajar yang lebih cerdas, kita pasti akan tertinggal,” ujar Suyatno. Ia juga mengkritisi pemberian tugas berupa makalah ketik yang tingkat kesamaannya kini bisa mencapai 80 persen. Ia mengingatkan bahwa raga mahasiswa sering kali terlihat ada di kelas, tetapi jiwa dan pikiran mereka sepenuhnya tertuju pada layar gawai pintar masing-masing. “AI ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah tuntutan nyata kebutuhan zaman. Sama seperti taksi konvensional yang dulu sempat menolak kehadiran transportasi online, jika kita terus bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps,” tegasnya. Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist, mengisi Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google yang digelar UMM./dok. UMM Pelatihan Pemanfaatan AI dan Sertifikasi Gemini AI Google digelar./dok. UMM UMM ingin terus berkembang sesuai zaman termasuk mempelajari AI agar dapat memaksimalkannya untuk pendidikan yang bermanfaat./dok. UMM Puluhan dosen UMM mengikuti pelatihan dan sertifikasi Gemini AI Google./dok. UMM Acara pelatihan intensif ini dilanjutkan dengan ujian sertifikasi pada sesi kedua. UMM sangat berharap, melalui sertifikasi Gemini AI ini, para dosen muda mampu menularkan virus positif literasi digital kepada rekan sejawat lainnya. Dengan langkah tersebut, diharapkan tercipta ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, serta senantiasa relevan dalam membekali generasi muda menghadapi tantangan global. *** Editor: YAN

Generasi Terserah dan Krisis Kepedulian Politik Anak Muda

Penulis: Nurudin * MAKLUMAT — Malam itu, sebuah kafe kecil penuh anak muda. Musik pelan terdengar dari sudut ruangan. Beberapa sibuk membuat tugas kuliah dan konten media sosial. Sebagian lain tertawa sambil bermain game dan main kartu. Lalu obrolan berubah ketika seseorang menyinggung soal politik. Suasana langsung berbeda. “Ah, jangan bahas politik. Capek.” “Politik itu kotor.” “Siapa pun yang naik, hidupku tetap begini.” Kalimat-kalimat itu terdengar memang ringan. Mungkin juga sering dianggap biasa. Tapi sebenarnya, di situlah masalah besar sedang tumbuh. Banyak anak muda mulai memilih tidak peduli pada politik. Mereka merasa politik terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggapnya terlalu rumit dan penuh kebohongan. Akhirnya, mereka memilih menjauh. Padahal tanpa disadari, keputusan politik justru menentukan hampir seluruh masa depan mereka. Fenomena apatisme politik di kalangan generasi muda bukan cerita baru. Namun hari ini, gejalanya seolah terasa semakin nyata. Media sosial dipenuhi anak muda yang lebih nyaman membahas tren hiburan dibanding kebijakan publik. Politik dianggap identik dengan korupsi, drama elite, saling serang, dan janji palsu. Tidak sedikit yang menganggap apapun suara mereka tidak akan mengubah apa pun. Sikap seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Ketika generasi muda memilih diam, keputusan tetap berjalan. Misalnya, undang-undang tetap dibuat. Kebijakan juga tetap ditentukan. Hanya saja semuanya berlangsung tanpa keterlibatan mereka. Padahal generasi muda itu sekelompok yang paling lama merasakan dampak keputusan negara di masa datang. Politik Tidak Jauh dari Anak Muda Bisa ajdi banyak orang muda menganggap politik hanya urusan pejabat dan partai. Padahal politik hadir dalam hampir semua hal yang mereka jalani setiap hari. Ketika biaya kuliah naik, itu hasil keputusan politik. Ketika lapangan kerja makin sempit, itu juga berkaitan dengan kebijakan politik. Bahkan harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi, hingga kualitas internet yang mereka gunakan setiap hari, semuanya dipengaruhi keputusan pemerintah. Yang aneh, banyak anak muda baru merasa marah ketika dampaknya sudah langsung mengenai hidup mereka. Mereka kadang baru sadar saat lulus kuliah sulit mendapat pekerjaan. Juga, merasa gaji tidak sebanding dengan biaya hidup. Padahal biaya pendidikan yang orang tua mereka keluarkan tidak sedikit. Mau protes, kebebasan mulai terasa sempit. Apakah mereka benar-benar apatis politik? Sebenarnya tidak juga jika dilihat dari perbincangan mereka di medis sosial dan kehidupan nyata. Sebagian besar generasi muda sebenarnya mengikuti isu politik, tetapi hanya di permukaan. Mereka melihat potongan video debat, cuplikan kontroversi atau drama media sosial. Namun sedikit yang benar-benar memahami substansi kebijakan. Akibatnya, politik berubah menjadi tontonan, bukan ruang partisipasi. Di media sosial, politik sering tampil seperti pertandingan antar kubu. Orang lebih sibuk membela tokoh favorit dibanding membahas solusi. Diskusi berubah menjadi saling hina. Kritik Juga dibalas fanatisme. Situasi ini membuat banyak anak muda semakin malas terlibat karena merasa politik hanya berisi keributan. Padahal demokrasi tidak bisa hidup tanpa partisipasi publik, terutama generasi muda. Jumlah pemilih muda di Indonesia sangat besar. Pada Pemilu 2024, lebih dari 50 persen pemilih berasal dari kalangan muda dan pemilih pemula. Angka itu menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya memiliki kekuatan besar menentukan arah bangsa. Masalahnya, kekuatan itu sering tidak digunakan secara maksimal. Sebagian mungkin memilih golput. Sebagian tidak peduli mencari informasi. Sebagian lagi merasa politik tidak penting selama hidup pribadi masih berjalan normal. Padahal sejarah menunjukkan perubahan besar sering lahir dari keberanian anak muda untuk terlibat. Reformasi 1998 digerakkan mahasiswa. Gerakan sosial tentang lingkungan hidup banyak dipelopori generasi muda, bukan? Bahkan berbagai perubahan budaya digital hari ini juga lahir dari keberanian anak muda menyuarakan sesuatu. Artinya, generasi muda sebenarnya bukan kelompok lemah. Mereka punya energi, kuantitaasnya besar dan pengaruh sosial yang kuat. Namun semua itu menjadi sia-sia ketika berubah menjadi sikap masa bodoh. Asal Jangan Jadi Corong Kekuasaan Di sisi lain, keterlibatan politik juga perlu dijaga agar tidak kehilangan arah. Anak muda memang perlu peduli politik, tetapi bukan berarti harus membela kekuasaan secara membabi buta. Ini jelas menghawatirkan. Banyak anak muda awalnya kritis ketika berada di luar lingkaran kekuasaan. Mereka aktif menyuarakan keresahan publik. Berani mengkritik kebijakan dan terlihat idealis. Namun ketika sudah dekat dengan jabatan, masuk partai, atau mendapat posisi tertentu, sikap itu perlahan berubah. Daya kritisnya mendadak hilang. Akibatnya, kesalahan penguasa selalu dibenarkan. Rakyat yang protes justru dianggap pengganggu. Anak muda akhirnya berubah menjadi “juru bicara kekuasaan”, bukan lagi penyambung suara masyarakat. Padahal esensi keterlibatan politik bukan sekadar mendukung pemerintah atau oposisi. Yang lebih penting adalah menjaga keberpihakan pada kepentingan publik. Anak muda harus tetap punya keberanian untuk mengatakan salah jika memang salah. Bahkan ketika kritik itu ditujukan kepada kelompok yang mereka dukung sendiri. Sikap kritis seperti ini penting karena kekuasaan tanpa pengawasan selalu berpotensi menyimpang. Sejarah di banyak negara menunjukkan bahwa demokrasi melemah ketika masyarakat terlalu fanatik kepada tokoh atau kelompok tertentu. Media sosial membuat situasi ini semakin mudah terjadi. Banyak anak muda hari ini terjebak dalam “pemujaan berhala politik”. Politikus diperlakukan seperti selebritas. Semua tindakan dibela. Semua kritik dianggap serangan pribadi. Padahal demokrasi membutuhkan warga yang berpikir kritis, bukan penggemar politik yang hanya sibuk membela tokoh favorit. Anak muda perlu sadar bahwa menjadi kritis bukan berarti membenci negara. Justru kritik adalah bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa. Negara yang sehat lahir dari masyarakat yang berani mengawasi kekuasaan, bukan masyarakat yang diam atau terlalu takut mengkritik. Oleh karena itu, generasi muda perlu mengambil posisi yang seimbang. Jangan apatis terhadap politik. Tetapi jangan juga kehilangan akal sehat ketika berada dekat dengan kekuasaan. Pada akhirnya, politik akan selalu memengaruhi hidup generasi muda, suka atau tidak. Menjauh dari politik bukan berarti terbebas dari dampaknya. Justru ketika anak muda memilih diam, mereka sedang membiarkan orang lain menentukan masa depan mereka. Namun keterlibatan politik juga harus dibarengi sikap kritis agar anak muda tidak berubah menjadi sekadar pembela kekuasaan. Sebab demokrasi membutuhkan generasi muda yang peduli, berani bersuara, dan tetap mampu menjaga jarak sehat terhadap siapa pun yang sedang berkuasa.*** *) Penulis: Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Lewat Program FLSP, UMM Buktikan Komitmen Cetak SDM Berdaya Saing Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap bersaing di kancah internasional. Komitmen ini dibuktikan secara nyata melalui kelulusan mahasiswa dalam program Foreign Language for Special Purpose (FLSP) yang dirayakan secara meriah pada ajang FLSP FESTAPHORIA X PRIME UMM 2026. Mengusung tema “Fostering Global Minds Through Language and Talent”, selebrasi kelulusan ini dipadati ribuan mahasiswa di Helipad UMM pada Rabu (13/5). Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., memaparkan bahwa pendidikan bahasa asing intensif yang berjalan selama satu tahun tersebut merupakan langkah konkret Kampus Putih dalam membekali mahasiswanya untuk menghadapi dunia kerja. Ia menyebutkan, universitas memiliki target khusus agar setiap lulusan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki senjata ampuh berupa kompetensi 3B. “UMM menginginkan mahasiswanya memiliki kemampuan 3B. B yang pertama adalah penguasaan bahasa asing. B yang kedua adalah penguasaan bahasa program digital yaitu Python, dan B yang ketiga adalah penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai bahasa resmi,” ungkapnya. Senapas dengan hal tersebut, kemampuan bahasa asing yang mumpuni ini dinilai menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kesempatan di level dunia. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., menekankan bahwa UMM memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa untuk mencari pengalaman ke luar negeri. Mulai dari kesempatan beasiswa Erasmus+ untuk kuliah di Eropa, hingga akses diskusi dengan ekspatriat melalui fasilitas American, Aussie, Chinese, dan Japan Corner di perpustakaan. “Sekali lagi Adik-adik semua, sejatinya capaian ini bukan akhir dari kegiatan belajar bahasa asing. Tapi sebenarnya adalah awal dari teman-teman semua untuk bisa terbang lebih tinggi, bukan hanya di kancah Jawa Timur atau Indonesia, namun membangun jejaring dan mendapatkan pengalaman luar negeri yang beragam,” jelasnya. Gemblengan komprehensif dari program FLSP UMM ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para mahasiswa. Risqi Medani Van de Vrie, mahasiswa Program Studi Manajemen 2024 yang sukses dinobatkan sebagai lulusan FLSP terbaik tingkat universitas, menceritakan pengalamannya mendalami bahasa Mandarin. Ia merasa sangat bangga bisa melewati proses belajar yang menantang dan menyadari bahwa iklim kampus yang positif sangat mendukung prestasinya. “Saya mendorong kalian semua untuk menemukan orang-orang yang akan mendorong kalian menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Memilih orang-orang yang positif dan dapat dipercaya untuk berada di sekitar kita, menurut saya, adalah salah satu kunci menuju kesuksesan,” ucapnya. Lewat perayaan kelulusan ini, Kampus Putih berharap para mahasiswa tidak lekas puas diri. Dengan bekal kompetensi bahasa asing dan ekosistem kampus yang berwawasan global, mahasiswa UMM diharapkan berani mengambil peluang internasional dan membuktikan kualitasnya di masa depan.(faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman