Intip Biaya Kuliah UMM 2026 untuk Semua Jurusan S1

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) KOMPAS.com – Biaya kuliah di kampus swasta menjadi hal yang penting diperhatikan calon mahasiswa. Jika kamu ingin kuliah di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), sudah ada biaya kuliah semua jurusan untuk tahun akademik 2026/2027. Dilansir dari laman resmi UMM, Minggu (17/5/2026), komponen biaya kuliah di UMM adalah BSS atau Biaya Studi Semester. Calon mahasiswa baru reguler/gelombang II dikenai kenaikan BSS untuk komponen DPP sebesar ±10 persen dan dibayarkan sekali pada saat Daftar Ulang (Her-Registrasi) Mahasiswa Baru. Komponen biaya di UMM Biaya Studi Semester (BSS) terdiri dari biaya: Daftar Ulang, SPP, DPP, Layanan IT, dan Layanan Perpustakaan. Biaya Studi Semester (BSS) dapat dibayarkan tiga kali tiap semester yaitu: Angsuran ke-1 (Saat KRS), Angsuran ke-2 (Menjelang UTS), dan Angsuran ke-3 (Menjelang UAS). Biaya Studi Semester I (BSS-1) Angsuran ke-1 dibayarkan saat Daftar Ulang (Her-Registrasi). Sementara biaya KKN, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda dibayarkan tersendiri. Biaya kuliah UMM 2026 Berikut biaya kuliah UMM 2026 untuk semua jurusan: Farmasi BSS semester 1 reguler I: Rp 31,1 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 34,6 juta BSS semester 2-3: Rp 29,1 juta BSS semester 4-8: Rp 16,5 juta Kedokteran BSS semester 1 reguler I: Rp 103.350.000 BSS semester 1 reguler II: Rp 123.350.000 BSS semester 2-3: Rp 101,7 juta BSS semester 4-8: Rp 27,3 juta Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) BSS semester 1 reguler I: Rp 6,6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 7,6 juta BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Ekonomi Syariah, Pendidikan Bahasa Arab BSS semester 1 reguler I: Rp 6,950 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 7,950 juta BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Kesejahteraan Sosial, Sosiologi BSS semester 1 reguler I: Rp 7,2 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,7 juta BSS semester 2-7: Rp 7,8 juta BSS semester 8: Rp 5,550 juta Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional BSS semester 1 reguler I: Rp 10.050.000 BSS semester 1 reguler II: Rp 13,550 juta BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Ilmu Pemerintahan BSS semester 1 reguler I: Rp 8,250 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,2 juta BSS semester 2-7: Rp 8,850 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,250 juta BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan BSS semester 1 reguler I: Rp 6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8 juta BSS semester 2-7: Rp 6,6 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Pendidikan Biologi BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,750 juta BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Lihat Foto Ilustrasi biaya kuliah di Universitas Sanata Dharma (Tangkap layar laman Universitas Sanata Dharma) Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar BSS semester 1 reguler I: Rp 7,050 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 9,550 juta BSS semester 2-7: Rp 7,650 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Teknik Sipil BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 12,3 juta BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Informatika BSS semester 1 reguler I: Rp 10,5 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 14 juta BSS semester 2-7: Rp 11,1 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Manajemen BSS semester 1 reguler I: Rp 11,55 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 14,7 juta BSS semester 2-7: Rp 12,150 juta BSS semester 8: Rp 7,5 juta Akuntansi BSS semester 1 reguler I: Rp 9,6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,9 juta BSS semester 2-7: Rp 10,2 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Ekonomi Pembangunan BSS semester 1 reguler I: Rp 8,7 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta BSS semester 2-7: Rp 9,3 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Kehutanan, Peternakan, Akuakultur BSS semester 1 reguler I: Rp 7,8 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 9,2 juta BSS semester 2-7: Rp 8,4 juta BSS semester 8: Rp 5,625 juta Psikologi, Hukum BSS semester 1 reguler I: Rp 10,050 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 13,2 juta BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Ilmu Keperawatan BSS semester 1 reguler I: Rp 17,350 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 19,6 juta BSS semester 2-7: Rp 16,050 juta BSS semester 8: Rp 12,3 juta Fisioterapi BSS semester 1 reguler I: Rp 15,7 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 17,7 juta BSS semester 2-7: Rp 14,4 juta BSS semester 8: Rp 11,1 juta. Demikian informasi mengenai biaya kuliah UMM 2026 yang perlu diperhatikan calon mahasiswa baru.
Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

BERJASA: Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc, tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). MALANG, RADAR MALANG – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Menyambut peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar. (*) Editor : A. Nugroho
Tekan Emisi Gas Rumah Kaca: Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam Laboratorium Karbon

MALANG POST – Anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang melanda dunia saat ini menuntut aksi nyata dari sektor akademisi, bukan sekadar teori di atas kertas. Merespons urgensi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara konsisten membuktikan komitmennya sebagai Kampus Inovasi yang berdampak bagi lingkungan. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Ia sukses menjadi penerima pendanaan bergengsi tingkat nasional, yakni Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026. Lewat gagasan solutifnya, proposal riset tersebut berhasil disetujui dengan perolehan dana hibah fantastis sebesar Rp450.000.000, yang kian mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai pusat pencetak solusi atas masalah lingkungan. Mengusung tajuk riset “Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang”, proyek lintas disiplin ini secara strategis dirancang untuk mereduksi emisi gas rumah kaca. Nugroho memaparkan bahwa daya tarik utama dari riset ini bukan terletak pada kajian literatur. Melainkan pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup. Ia menjelaskan bahwa living lab adalah sebuah pendekatan eksperimental di mana penelitian tidak dikerjakan di dalam ruangan tertutup, melainkan langsung dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi di alam terbuka bersama elemen masyarakat dan pemerintah. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” jelasnya. Untuk mengeksekusi gagasan inovatif ini, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Langkah intervensi awal akan dimulai dengan memetakan potensi serapan karbon, yang kemudian dilanjutkan dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembekalan ini ditujukan untuk memicu efek domino; tidak hanya menyelamatkan kualitas ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” terangnya. Keberhasilan menembus seleksi ketat program nasional ini tak lepas dari kerja keras enam akademisi lintas disiplin yang terus difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Harapannya, inisiatif ini tidak mandek ketika masa program usai, melainkan diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen. Sebagai penutup, pakar kehutanan ini memberikan pesan khusus agar riset yang diproduksi oleh perguruan tinggi mampu memberikan manfaat konkret bagi persoalan yang sedang dihadapi publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesannya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pemimpin Panggung dan Rakyat yang Mudah Terbius

Presiden Prabowo Subianto saat pidato peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Sabtu 16/5/2026. Pemimpin sejati jangan hanya mendengarkan dari pidatonya. Lihat bagaimana ia bersikap ketika tidak sedang tampil. Lihat keputusan-keputusannya saat tidak populer. Itulah watak aslinya. tagar.co – Oleh Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?” Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Museum HAM Marsinah di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026), sempat memantik perhatian publik. Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian orang terasa merakyat. Ada kesan ingin menunjukkan gejolak nilai tukar rupiah tidak terlalu berdampak langsung pada masyarakat kecil di desa. Namun dari situlah sebenarnya publik bisa belajar satu hal penting. Dalam melihat seorang pemimpin, masyarakat tidak cukup hanya mendengar pidato atau potongan pernyataan yang terdengar menarik di permukaan. Karena pidato sering hanya menjadi front stage. Sebuah panggung depan yang memang dirancang untuk konsumsi publik. Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan konsep dramaturgi dalam kehidupan sosial. Ia membagi perilaku manusia menjadi dua ruang yakni front stage dan back stage. Front stage adalah panggung depan. Tempat seseorang menampilkan citra terbaiknya di depan publik. Sementara back stage adalah ruang belakang. Tempat karakter asli muncul tanpa tata cahaya dan tanpa tepuk tangan. Dalam politik, konsep ini terasa sangat relevan. Seseorang bisa terlihat merakyat di depan kamera. Bisa berbicara tentang kejujuran, kesederhanaan, dan bahkan pengorbanan. Namun di belakang layar, perilakunya bisa bertolak belakang. Karena itu masyarakat sebenarnya tidak cukup hanya mendengar pidato. Mereka harus melihat konsistensi tindakan. Sayangnya, publik sering berhenti pada kesan permukaan. Baca Juga: Bayi Monyet dan Boneka Orangutan Mendadak Laris Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia mengakses berita melalui media sosial dan platform digital. Artinya, mayoritas publik hari ini lebih banyak mengonsumsi tampilan visual dan potongan narasi singkat dibanding membaca konteks utuh. Akibatnya, pencitraan menjadi sangat mudah diproduksi. Yang viral dianggap paling benar. Dampaknya, yang paling sering muncul dianggap paling bekerja. Mereka yang pandai menyusun kata dianggap paling memahami rakyat. Padahal realitas tidak sesederhana itu. Percaya Tampilan Dalam buku Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer (2020), saya pernah mengutip pendapat psikolog komunikasi Albert Mehrabian. Ia pernah melakukan penelitian tentang komunikasi nonverbal pada akhir 1960-an. Dari penelitian itulah Mehrabian menemukan dalam komunikasi yang menyangkut perasaan dan sikap, hanya 7 persen makna yang berasal dari kata-kata. Sementara 38 persen dipengaruhi nada suara, dan 55 persen berasal dari ekspresi wajah serta bahasa tubuh. Meski teori ini sering disalahpahami sebagai rumus universal komunikasi, inti pesannya tetap relevan. Manusia ternyata lebih percaya pada gestur, ekspresi, dan konsistensi perilaku dibanding sekadar kata-kata. Oleh karena itu publik sebenarnya bisa membaca siapa yang tulus dan siapa yang sekadar memainkan panggung. Masalahnya, masyarakat sering terlalu sibuk menikmati kemasan luar. Baca Juga: Hidup Ingin Terlihat Hebat Kita hidup di era ketika yang tampak sering lebih penting dibanding isi. Politik berubah menjadi produsen citra. Semua dikemas rapi, bisa dramatis. Nah, empati pun kadang diproduksi layaknya konten. Padahal inti komunikasi justru sering terletak pada apa yang tidak diucapkan. Misalnya, perhatikan cara seseorang memperlakukan bawahan. Atau cara mengambil keputusan saat krisis. Mungkin juga saat sedang tidak direkam kamera. Semua itu jauh lebih jujur dibanding pidato penuh retorika. Penelitian Edelman, Trust Barometer (2024), juga menunjukkan fenomena menarik. Secara umum, 63 persen masyarakat khawatir pemimpin publik sengaja menyebarkan informasi menyesatkan demi kepentingan tertentu. Orang bisa jadi mulai lelah dengan kata-kata besar tanpa tindakan nyata. Namun di Indonesia, budaya simbolik masih sangat kuat. Lihat spanduk besar dipajang. Slogan-slogan yang sangat heroik. Semua itu tampak megah di permukaan. Tetapi substansi sering tertinggal jauh di belakang. Kita lebih mudah terpukau oleh gaya bicara dibanding keberanian mengambil keputusan sulit. Kita lebih cepat kagum pada pencitraan dibanding kerja sunyi yang hasilnya nyata. Padahal kepemimpinan bukan kompetisi siapa paling pandai tampil di depan kamera. Tak Harus Ada Tepuk Tangan Perjuangan menghadirkan kesadaran publik memang tidak mudah. Jalannya panjang dan menikung. Kondisi itu memang melelahkan. Bahkan sering menghadirkan tumbal. Mereka yang memilih bekerja dalam diam sering kalah populer dibanding mereka yang sibuk membangun citra. Mereka yang fokus pada hasil kadang kalah sorotan dibanding mereka yang piawai memainkan emosi publik. Tetapi sejarah biasanya jauh lebih jujur dibanding suasana sesaat. Baca Juga: Nuzululqur’an di Zaman Digital Banyak tokoh besar justru tidak terlalu sibuk membangun pencitraan. Mereka lebih fokus bekerja. Mereka tahu tidak semua hal harus diumumkan. Juga, tidak semua tindakan perlu dipuji. Tidak semua perjuangan harus tampak heroik di depan kamera. Karena tujuan besar memang membutuhkan kesabaran panjang. Di titik inilah masyarakat sebenarnya diuji. Apakah ingin terus menjadi penonton yang hanya menikmati panggung depan, atau mulai belajar memahami ruang belakang yang lebih sunyi namun lebih jujur. Kedewasaan publik ditentukan oleh kemampuan membedakan mana yang esensi dan mana yang artifisial. Sebab bangsa yang terlalu mudah terpukau oleh tampilan luar akan terus melahirkan pemimpin-pemimpin pencitraan. Sebaliknya bangsa yang mulai menghargai integritas dan kerja nyata akan perlahan melahirkan kepemimpinan yang lebih sehat. Jika ingin mengenal siapa pemimpin sejati, jangan hanya dengarkan pidatonya. Lihat bagaimana ia bersikap ketika tidak sedang tampil. Lihat keputusan-keputusannya saat tidak populer. Lihat apakah tindakannya tetap sama ketika kamera mati. Karena karakter asli manusia tidak muncul di atas panggung. Karakter asli muncul saat tidak ada yang melihat. (#) Penyunting Sugeng Purwanto
Masyarakat Peringati Hari Buku Nasional untuk Kenang Abdul Malik Fadjar

Pojok Papua – Masyarakat Indonesia memperingati momentum Hari Buku Nasional pada Minggu, 17 Mei 2026 sebagai pengingat penting akan sosok pencetusnya, Abdul Malik Fadjar, di tengah tantangan krisis daya kritis akibat arus kecerdasan buatan dan banjir informasi instan. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dinilai sebagai visioner literasi yang menjadikan buku sebagai alat pembebasan berpikir dan fondasi kemajuan bangsa. Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan sekadar rendahnya minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir akibat buku yang hanya dianggap pelengkap pendidikan formal. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Menurut penjelasan Faizin, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002 merupakan sebuah langkah rekayasa budaya untuk membangun kesadaran nasional bahwa literasi adalah pilar utama kehidupan berbangsa, bukan sekadar langkah seremonial biasa. “Sebagai pencetus, beliau selalu melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional,” jelas Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Tokoh Muhammadiyah tersebut juga mewujudkan perhatian besarnya terhadap pembangunan ekosistem literasi melalui pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di Kota Malang sebagai ruang hidup bagi budaya membaca dan pengembangan pemikiran masyarakat. Kecintaan Malik Fadjar terhadap dunia literasi dibuktikan secara nyata dengan menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya demi menjaga semangat membaca tetap hidup di tengah masyarakat. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin, Direktur RBC A. Malik Fadjar Institute. Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute telah berkembang menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat pembentukan nalar publik melalui berbagai program seperti Ruang Gagasan, riset pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa.
Inovasi Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam sebagai Laboratorium Karbon, Tekan Emisi Gas Rumah Kaca

Nugroho Tri Waskitho, dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM yang menghadirkan Inovasi Living Lab untuk menekan emisi gas rumah kaca./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memahami adanya anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang melanda dunia saat ini. Fenomena ini kemudian dinilai UMM sangat menuntut aksi nyata dari sektor akademisi, bukan sekadar teori di atas kertas. Merespons urgensi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan tersebut, UMM secara konsisten membuktikan komitmennya sebagai Kampus Inovasi yang berdampak bagi lingkungan. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Ia sukses menjadi penerima pendanaan bergengsi tingkat nasional, yakni Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026. Melalui gagasan solutifnya, proposal riset tersebut berhasil disetujui dengan perolehan dana hibah fantastis sebesar Rp450.000.000, yang kian mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai pusat pencetak solusi atas masalah lingkungan. Mengusung tajuk riset ‘Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang’, proyek lintas disiplin ini secara strategis dirancang untuk mereduksi emisi gas rumah kaca. Nugroho memaparkan bahwa daya tarik utama dari riset ini bukan terletak pada kajian literatur, melainkan pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup. Ia menjelaskan bahwa living lab adalah sebuah pendekatan eksperimental di mana penelitian tidak dikerjakan di dalam ruangan tertutup, melainkan langsung dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi di alam terbuka bersama elemen masyarakat dan pemerintah. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” ungkap Nugroho pada rilis UMM Sabtu (16/5). Guna mengeksekusi gagasan inovatif ini, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Langkah intervensi awal akan dimulai dengan memetakan potensi serapan karbon, yang kemudian dilanjutkan dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove. Nugroho menegaskan, pembekalan ini ditujukan untuk memicu efek domino; tidak hanya menyelamatkan kualitas ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” jelasnya. Keberhasilan menembus seleksi ketat program nasional ini tak lepas dari kerja keras enam akademisi lintas disiplin yang terus difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Ia berharap, inisiatif ini tidak mandek ketika masa program usai, melainkan diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen. Pakar kehutanan ini juga memberikan pesan khusus agar riset yang diproduksi oleh perguruan tinggi mampu memberikan manfaat konkret bagi persoalan yang sedang dihadapi publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesan Nugroho. *** Editor: YAN
Jangan Cuma Lihat Ukuran, Ini 5 Tips Pilih Hewan Kurban dari Ahlinya

Hewan kurban di Kabupaten Malang jelang Hari Raya Idul Adha 2024 (blok-a.com/Putu Ayu Pratama S) Malang, Blok-a.com – Menjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat mulai sibuk mencari hewan kurban. Tanpa ditemani oleh ahli yang berpengalaman, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dalam memilih hewan kurban. Tidak cepat tergiur oleh ukuran tubuh yang besar atau patokan harga yang mahal. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., menegaskan bahwa ukuran tubuh bukanlah satu-satunya penentu. Kondisi kesehatan hewan justru menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat serta dagingnya aman untuk dikonsumsi. Tips Memilih Hewan Kurban Agar tidak salah pilih, berikut adalah lima tips mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana, langsung dari ahlinya. 1. Amati Postur dan Cara Berdiri Hewan Langkah awal yang paling mudah dilakukan adalah dengan melihat postur tubuh hewan kurban secara menyeluruh dari berbagai sudut posisi. Prof. Lili menyarankan pembeli untuk jeli melihat cara berdiri ternak tersebut. “Pertama kita lihat dulu (hewan) ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UMM pada Sabtu (16/5/2026). Seperti diketahui, menurut syariat, hewan yang mengalami cacat fisik tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban. Cacat fisik yang dimaksud, seperti pincang, kurus, atau ada bagian tubuhnya yang terpotong. 2. Cek Kejernihan Mata dan Kemulusan Kulit Kondisi mata dan kulit juga merupakan indikator yang akurat untuk mengecek kesehatan hewan, terutama untuk mendeteksi penyakit luar. Dalam syariat juga dikatakan bahwa hewan yang buta sebelah atau buta total, apalagi yang berpenyakit menular, dilarang untuk dikorbankan. Menurut Prof. Lili, gangguan penglihatan pada hewan sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Sementara pada bagian kulit, juga wajib diperiksa dari infeksi parasit seperti kudis. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” jelasnya. 3. Waspadai Tanda-Tanda PMK dan Antraks Penyakit menular akut seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks harus diwaspadai karena sangat berdampak pada kelayakan daging kurban. Gejala PMK pada hewan ditandai dengan lendir berlebih di mulut, luka pada gusi/lidah, serta radang di sela kuku. Sementara untuk antraks, gejala umumnya berupa kejang-kejang yang kadang disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. 4. Perhatikan Nafsu Makan dan Ketentuan Usia Hewan yang sehat akan makan dengan aktif dan rajin bergerak dengan bugar. Dan agar memperoleh kuantitas daging yang maksimal, pembeli disarankan memilih hewan yang berbadan gemuk. Di samping kondisi fisiknya, faktor umur juga tidak boleh luput dari perhatian. Usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. 5. Istirahatkan Hewan Sebelum Disembelih Faktor krusial yang kerap diabaikan oleh panitia kurban adalah manajemen stres pada hewan ternak. Ini kerap terjadi setelah proses pengiriman atau transportasi jarak jauh. Hewan yang kelelahan tidak boleh langsung disembelih karena bisa menurunkan mutu daging akibat sindrom Dark, Firm, Dry (DFD) yang membuat daging menjadi gelap, keras, dan kering. Di akhir penjelasannya, Prof. Lili berharap panduan fisik ini dapat membantu masyarakat agar bertindak lebih teliti. Pasalnya, selain ritual rutin tahunan, ibadah kurban juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. (ova)
Hari Buku Nasional Jadi Momentum Mengenang Malik Fadjar dan Semangat Literasi

Foto: Dok. Universitas Muhammadiyah Malang News.mediamu, MALANG — Peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menjadi momentum untuk mengenang sosok Abdul Malik Fadjar sebagai pencetus Hari Buku Nasional sekaligus tokoh pendidikan Muhammadiyah yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap budaya literasi di Indonesia. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta derasnya arus informasi digital, Malik Fadjar memandang tradisi membaca sebagai fondasi penting untuk menjaga daya kritis masyarakat. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang itu dikenal tidak hanya sebagai mantan Menteri Pendidikan Nasional dan mantan Rektor UMM, tetapi juga figur yang konsisten mendorong penguatan budaya membaca dan tradisi berpikir di tengah masyarakat. Direktur Rumah Baca Cerdas A. Malik Fadjar Institute UMM, Faizin, mengatakan Malik Fadjar melihat persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga melemahnya tradisi berpikir masyarakat. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, mudah diprovokasi, dan lemah daya nalarnya,” ujarnya. Menurut Faizin, gagasan Hari Buku Nasional yang dicetuskan Malik Fadjar pada 2002 bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Hari Buku Nasional, kata dia, menjadi pengingat pentingnya budaya membaca sebagai bagian dari pembangunan bangsa. “Hari Buku Nasional yang beliau gagas merupakan upaya membangun kesadaran bahwa literasi adalah fondasi kemajuan bangsa,” katanya. Ia menjelaskan, Malik Fadjar memandang buku sebagai sarana membangun cara berpikir yang kritis, rasional, dan terbuka. Karena itu, tradisi membaca dinilai perlu terus dijaga di tengah perkembangan teknologi digital dan arus informasi instan. Komitmen Malik Fadjar terhadap literasi juga diwujudkan melalui pendirian Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Ia menghibahkan ribuan koleksi buku pribadinya agar dapat diakses masyarakat luas. “Agar budaya baca tidak hilang ditelan perkembangan zaman, beliau memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC,” kenang Faizin. Saat ini, RBC A. Malik Fadjar Institute terus melanjutkan semangat tersebut melalui berbagai program pengembangan literasi dan pendidikan. Program itu meliputi Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga layanan Perpustakaan Keliling Mobil Bakti untuk Bangsa. Melalui peringatan Hari Buku Nasional, semangat literasi yang diwariskan Malik Fadjar diharapkan dapat terus mendorong masyarakat menjaga budaya membaca dan tradisi ilmu pengetahuan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.
Hari Buku Nasional, Nurudin: Literasi Kunci Kemajuan Bangsa di Tengah Gempuran Konten Digital

Nurudin, Dosen Komunikasi UMM sekaligus Penulis Buku. (Foto: Nurudin for Ketik.com) KETIK, MALANG – Momentum Hari Buku Nasional dimaknai bukan sekadar peringatan tahunan oleh penulis sekaligus akademisi, Nurudin. Menurutnya, budaya membaca dan menulis merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas masyarakat sekaligus kemajuan sebuah bangsa. Ia menilai buku bukan hanya kumpulan tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman, gagasan, hingga refleksi kehidupan yang mampu membentuk pola pikir masyarakat menjadi lebih kritis. “Bagi saya, Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk kembali mengingat bahwa kemajuan bangsa selalu berkaitan erat dengan kualitas literasinya. Buku bukan hanya kumpulan halaman berisi tulisan, melainkan ruang dialog yang mempertemukan pengalaman dan gagasan untuk kemajuan bangsa,” ujarnya, Sabtu, 16 Mei 2026. Budaya membaca, tambahnya, tidak akan tumbuh hanya melalui kampanye sesaat. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga kebijakan pemerintah yang memberi akses luas terhadap buku dan ruang literasi. “Hari Buku Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan pikiran masyarakat melalui literasi yang kuat,” kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang ini. Ia menegaskan budaya membaca dan menulis memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat. Membaca dinilai mampu memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, sekaligus menumbuhkan empati sosial. Sementara itu, menulis menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan, merapikan pola pikir, hingga meninggalkan jejak pengetahuan bagi generasi berikutnya. “Masyarakat yang terbiasa membaca dan menulis biasanya lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Budaya literasi juga berpengaruh pada kreativitas, inovasi, bahkan kemajuan ekonomi,” jelasnya. Dalam pengamatannya, kondisi literasi masyarakat Indonesia saat ini berada pada situasi yang kompleks. Di satu sisi, perkembangan teknologi digital membuka akses informasi yang sangat luas, termasuk bagi generasi muda. Namun di sisi lain, budaya serba instan membuat sebagian masyarakat mulai kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam. “Banyak anak muda terbiasa mengonsumsi informasi singkat dan instan sehingga kesabaran membaca teks panjang mulai berkurang. Literasi hari ini bukan lagi sekadar bisa membaca atau tidak, tetapi kemampuan memahami, menyaring, dan mengkritisi informasi,” terangnya. Meski demikian, Nurudin melihat masih banyak ruang optimisme. Ia menilai munculnya komunitas baca, klub buku, hingga ruang diskusi kreatif di berbagai daerah menunjukkan minat literasi sebenarnya masih tumbuh di kalangan generasi muda. Menurutnya, media sosial dan konten digital juga dapat menjadi peluang besar apabila dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung budaya literasi. “Media sosial bisa menjadi ancaman sekaligus peluang. Jika hanya dipenuhi konten dangkal tentu akan melemahkan minat membaca mendalam. Tetapi di sisi lain, media digital juga membuka jalan baru bagi dunia literasi karena banyak buku dan diskusi kini dikenalkan melalui video singkat, podcast, maupun media sosial,” ungkapnya. Penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku ini menilai, tantangan terbesar saat ini bukan melawan perkembangan teknologi, melainkan bagaimana memanfaatkan teknologi agar menjadi jembatan menuju budaya membaca yang lebih kuat. Nurudin juga menekankan bahwa generasi muda tidak bisa dipaksa mencintai buku hanya melalui nasihat. Menurutnya, minat membaca harus dibangun melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan anak muda. “Generasi muda perlu diperlihatkan bahwa membaca itu menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka. Buku tentang musik, olahraga, bisnis, kesehatan mental, atau kisah inspiratif bisa menjadi pintu masuk agar mereka tertarik membaca,” ujarnya. Selain menghadirkan buku sesuai minat pembaca muda, ia juga mendorong agar ruang literasi seperti diskusi buku, festival literasi, klub membaca, hingga konten digital bertema buku dikemas lebih kreatif dan akrab dengan gaya komunikasi generasi muda. “Ketika seseorang menemukan buku yang terasa berbicara tentang dirinya, biasanya minat membaca akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkasnya.(*)
UMM Jadi Inkubator Cendekiawan Daerah Lewat Kolaborasi Pemda-Pemprov

UMM Jadi Inkubator Cendekiawan Daerah Lewat Kolaborasi Pemda-Pemprov pwmu.co –Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, ketimpangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) antarwilayah masih menjadi tantangan besar bagi bangsa. Merespons persoalan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang mengambil peran strategis sebagai fasilitator pendidikan unggul melalui kerja sama beasiswa dengan sejumlah pemerintah daerah (Pemda) dan pemerintah provinsi (Pemprov). Kolaborasi berkelanjutan tersebut diproyeksikan terus meluas hingga menjangkau seluruh provinsi di Indonesia guna memastikan putra-putri daerah memperoleh akses pendidikan berkualitas. Dalam skema kerja sama tersebut, UMM berperan sebagai inkubator akademik yang memfasilitasi proses pembelajaran sekaligus menjaga standar mutu pendidikan. Kepala Bagian Kesejahteraan Mahasiswa dan Alumni UMM, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa kemitraan ini menjadi bentuk sinergi kampus dalam mendukung program unggulan pemerintah daerah, salah satunya program 1.000 sarjana. “Latar belakang utama dari kolaborasi ini adalah penyelarasan visi dengan pemerintah setempat, seperti menyukseskan program 1.000 sarjana yang digerakkan oleh Pemda,” ujarnya. Dalam program tersebut, biaya kuliah hingga kebutuhan hidup mahasiswa sepenuhnya menjadi kebijakan dan tanggung jawab pemerintah daerah. Menurut Novi, UMM tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan pengalaman sosial dan jejaring nasional bagi mahasiswa utusan daerah. Mahasiswa dari berbagai wilayah seperti Kalimantan Timur maupun Sulawesi Tengah mendapatkan kesempatan memperluas wawasan dan membangun relasi lintas daerah saat menempuh pendidikan di Pulau Jawa. “Kualitas diri mahasiswa akan meningkat karena mereka memiliki networking yang lebih luas dan pengalaman belajar dari luar wilayah asal mereka,” tegasnya. Melalui lingkungan akademik yang beragam, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi sumber daya manusia unggul yang siap kembali membangun daerah asalnya masing-masing. Untuk menjaga akuntabilitas program dan kualitas lulusan, UMM menerapkan sistem evaluasi yang komprehensif bagi penerima beasiswa. Universitas secara rutin memantau perkembangan akademik mahasiswa, termasuk memastikan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75 serta menghindari tumpang tindih penerimaan beasiswa dari instansi lain. “Dukungan ini membuka pintu bagi anak bangsa untuk meraih cita-cita dan kami berharap mereka lulus tepat waktu agar segera mengabdi di wilayah masing-masing,” pungkas Novi. Program kolaborasi strategis tersebut menjadi bukti bahwa sinergi lintas institusi merupakan kunci penting dalam pemerataan pendidikan nasional. Ke depan, UMM berkomitmen memperluas jangkauan kerja sama hingga menyentuh seluruh pelosok Indonesia. Harapannya, mahasiswa tidak hanya berhasil meraih gelar akademik, tetapi juga pulang membawa inovasi dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah asalnya. (*) *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria