Pakar Hukum Islam UMM Luruskan Mitos Larangan Potong Kuku Jelang Hari Kurban

Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha, linimasa media sosial dan ruang diskusi masyarakat kerap diwarnai oleh polemik tahunan yang berulang. Bolehkah memotong kuku dan rambut bagi mereka yang hendak berkurban, Menjawab kebingungan massal yang sering kali mengganggu kekhusyukan ibadah ini, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kepakaran akademisnya hadir memberikan pencerahan. Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) UMM, Soni Zakaria, S.Sy., M.H., membedah tuntas landasan syariat di balik silang pendapat tersebut agar umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban dengan keyakinan penuh dan tanpa rasa waswas. ​Soni menguraikan bahwa anjuran menahan diri dari memotong kuku dan rambut ini secara spesifik ditujukan kepada shohibul qurban atau pihak yang menanggung biaya kurban. Aturan ini diterapkan secara proporsional. Sebagai contoh, jika seorang ayah berkurban untuk keluarganya, maka hanya sang ayah yang disunahkan menahan diri. Sebaliknya, jika kurban ditunaikan melalui praktik patungan sapi oleh tujuh orang, maka seluruh pesertanya otomatis terkena anjuran ini. Masa berlakunya dihitung sejak hilal bulan Dzulhijjah terlihat, dan berakhir sesaat setelah hewan kurban disembelih. ​”Memang benar ada tuntunan dari Rasulullah agar seseorang yang berniat berkurban untuk tidak memotong kuku dan rambut mulai dari awal Dzulhijjah hingga hewan itu disembelih,” paparnya. ​Terkait hal yang kerap memantik perdebatan, yakni status hukum larangan tersebut, Soni membedah bahwa akar perbedaannya terletak pada metode ulama dalam merumuskan fikih. Mazhab Hanbali memaknai hadis secara tekstual sehingga memvonis perbuatan itu diharamkan. Sebaliknya, mayoritas ulama (jumhur) seperti mazhab Syafi’i dan Maliki menurunkannya menjadi makruh. Sejalan dengan jumhur ulama, Majelis Tarjih Muhammadiyah menetapkan instruksi tersebut murni sebagai adab kesunahan. Meski aturan ini menyerupai larangan bagi jamaah haji yang sedang berihram, pekurban tetap memiliki kelonggaran, seperti kebolehan berpakaian biasa dan memakai wewangian. Jika pekurban terpaksa merapikan diri akibat alasan medis atau kebersihan, pahalanya tidak akan gugur. ​”Menurut Majelis Tarjih, memotong kuku atau rambut pada periode tersebut sama sekali tidak membatalkan ibadah kurban. Kurban yang ditunaikan tetap sah secara syariat,” tegasnya. ​Lebih jauh, tersimpan pesan spiritual yang agung di balik anjuran syariat ini. Soni memaparkan bahwa seluruh anggota tubuh yang terjaga dari potongan kelak akan menjadi saksi ketaatan di akhirat, sekaligus menjadi pembuka jalan ampunan Allah. Namun, karena polemik ini memicu silang pendapat yang murni berada di ranah cabang fikih (furu’iyyah), Muhammadiyah sangat menekankan pentingnya sikap saling menghargai (tasamuh). Menghadapi derasnya arus debat keagamaan di era digital, ia menyarankan masyarakat agar senantiasa memvalidasi dalil ke lembaga otoritatif. ​”Keluarga adalah institusi pertama dan madrasah utama. Kalau komunikasi dan diskusi keagamaan di dalam keluarga sudah terbangun kuat, masyarakat kita tidak akan mudah terombang-ambing,” pesan Soni. ​Pada akhirnya, esensi dari ibadah kurban bukanlah sekadar perdebatan tak berkesudahan tentang ranting-ranting hukum fikih, melainkan tentang keikhlasan total dan kepedulian sosial untuk berbagi dengan sesama. Pemahaman agama yang moderat, komprehensif, serta dibangun dari literasi keluarga yang kuat diyakini akan menjadi benteng tangguh bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan pendapat di tengah masyarakat.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Waspada Penyakit dari Tikus, Dosen Kedokteran UMM Ungkap Gejala dan Pencegahan Hantavirus

Tingginya curah hujan yang kerap memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya membawa ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga penyakit berbahaya lain yang ditularkan oleh hewan pengerat, yakni Hantavirus. Memiliki gejala awal yang sangat menyerupai DBD, penyakit ini patut diwaspadai karena dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru dan ginjal jika terlambat ditangani. ​Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus. Berbeda dengan leptospirosis (penyakit kencing tikus) yang disebabkan oleh bakteri, hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara. ​“Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya. ​Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi virus ini terbagi dalam dua kondisi utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengganggu fungsi ginjal, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Gejala awalnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas layaknya flu biasa. Namun seiring waktu, pasien bisa mengalami sesak napas, perdarahan, hingga munculnya ruam kulit yang spesifik. ​“Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya. ​Hingga saat ini, belum ada obat spesifik maupun vaksin yang ditemukan untuk mematikan hantavirus. Penanganan medis hanya berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap berjalan dengan baik. Risiko penularan virus ini akan semakin melonjak saat musim hujan dan banjir, di mana kawanan tikus kerap keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap di dalam rumah. ​“Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambah Febri. ​Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap mengedepankan tindakan preventif secara disiplin. Langkah mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, yakni dengan rutin membersihkan lingkungan serta menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sepatu, dan sarung tangan saat membersihkan gudang. Menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup juga sangat vital untuk membentuk sistem imun tubuh. ​“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Solusi Petani Cengkeh: Mahasiswa UMM Ciptakan Clove Separator EVO

MALANG POST – Di tengah tuntutan efisiensi biaya pertanian dan ancaman tingginya inflasi bahan pokok yang membayangi kesejahteraan petani lokal, inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci kelangsungan usaha tani. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkeh semi-otomatis bernama Clove Separator EVO. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret bagi petani cengkeh di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini terbebani oleh tingginya biaya tenaga kerja dan lambatnya proses panen secara manual. Mesin ini merupakan karya inovatif Risqi Andy Sulbi Sasmita dan timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Sebelumnya, proses pemisahan bunga dan tangkai cengkeh secara tradisional memakan waktu sangat lama, di mana tenaga manusia hanya sanggup menghasilkan maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa inovasi mesin ini dirancang secara khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi petani hingga puluhan kali lipat namun dengan harga beli yang ramah di kantong. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan melonjak drastis hingga 50 kilogram per jam dengan hanya membutuhkan satu hingga dua operator. Mesin ini beroperasi secara sistematis; bunga cengkeh yang masuk ke dalam corong akan melewati rotor penggilingan, lalu disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM ini juga memastikan rancangan alat tersebut tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna berkat arahan langsung dari para dosen pembimbing. Alat yang lahir dari proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga menawarkan kemudahan perawatan harian. Rencananya, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan secara langsung saat masa panen raya. Ia berharap karya mahasiswa dari Kampus Putih UMM ini bisa memantik semangat sivitas akademika lain untuk terus berkreasi memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi bukti nyata bahwa hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar wacana akademis. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus terbukti mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Harapannya, inovasi ini segera mendapatkan dukungan untuk diproduksi secara massal agar kesejahteraan petani cengkeh di berbagai pelosok Nusantara dapat terus melesat.(M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Pakar Ekonomi UMM Bagikan Strategi Amankan Dompet Saat Dolar Melonjak

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc, memberikan strategi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial saat Pelemahan mata uang Rupiah atas Dolar AS. Pelemahan mata uang Rupiah ini dinilai sebagai ancaman nyata yang mulai menyusup ke dapur masyarakat luas. Yunan menjelaskan bahwa lonjakan kurs Dolar AS memicu efek domino yang langsung membebani pos pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini terjadi lantaran tingginya ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah komoditas impor di pasar internasional. ​”Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkap Yunan kepada Tim Humas UMM pada Selasa (19/5/2026). Menurut Yunan, banyak masyarakat yang keliru dan merasa aman hanya karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal, biaya hidup masyarakat dipastikan akan tetap membengkak seiring dengan merangkaknya biaya produksi pada sektor industri lokal. ​”Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegas pakar ekonomi UMM tersebut. ​Menghadapi situasi makroekonomi yang fluktuatif ini, Yunan mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Langkah awal yang paling krusial untuk dilakukan saat ini adalah mengamankan ketersediaan dana darurat dan menunda konsumsi yang sifatnya tidak mendesak. ​”Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya. ​Di samping itu, Yunan juga menyoroti ancaman inflasi yang diperparah oleh perilaku keuangan masyarakat yang gemar memanfaatkan layanan kredit instan. Kebiasaan ini dinilai menciptakan ilusi finansial yang berpotensi menguras habis tabungan di masa depan. ​”Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambah Yunan mengingatkan. ​Kendati situasi ekonomi tampak menantang, Yunan justru mendorong generasi muda untuk jeli melihat penguatan Dolar AS sebagai momentum emas. Fluktuasi kurs ini dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang penghasilan mandiri berbasis pasar global. ​”Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya optimis. ​Sebagai langkah penyelamatan jangka pendek, masyarakat diharapkan segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadi masing-masing. Langkah darurat seperti berhenti berlangganan layanan digital yang tidak krusial serta memangkas gaya hidup konsumtif wajib diambil. ​”Sebab, dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang diperoleh, melainkan dari seberapa sehat dan rasional mereka mengelola keuangan,” kata Yunan Syaifullah, menutup. (dan/ted)

UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia

UMM Hadirkan Beragam Program Beasiswa untuk Dukung Talenta Muda Indonesia. (Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang atau UMM menyiapkan puluhan program beasiswa inklusif bagi lebih dari 6.000 calon mahasiswa baru.Kebijakan ini menjadi bentuk komitmen kampus dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menghapus anggapan bahwa kuliah berkualitas identik dengan biaya mahal. Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menuturkan bahwa keberagaman program beasiswa tersebut merupakan bagian dari pengelolaan keuangan universitas yang berorientasi pada keadilan dan keberlanjutan. Menurutnya, pendanaan kampus dikelola secara strategis agar program bantuan pendidikan dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak mahasiswa berprestasi. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan implementasi nyata semangat filantropi pendidikan Muhammadiyah melalui Kampus Putih. Sejalan dengan visi universitas, berbagai skema beasiswa itu dirancang untuk menjaring talenta terbaik dari seluruh daerah di Indonesia tanpa memandang latar belakang ekonomi. UMM ingin membuka kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda agar dapat mengakses pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing global. Program beasiswa yang ditawarkan juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Salah satunya Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas yang memberikan potongan 50 persen Biaya Studi Semester I bagi lulusan pendidikan menengah. Selain itu, tersedia Beasiswa Jalur Prestasi Akademik dan Nonakademik yang memungkinkan calon mahasiswa diterima tanpa tes seleksi. Menariknya, UMM juga memberi ruang bagi kreator konten digital. Influencer seperti YouTuber dengan minimal 5 ribu subscriber maupun selebgram dengan minimal 10 ribu pengikut dapat mengikuti jalur ini selama memiliki konten yang kreatif, edukatif, dan bernilai positif. Tidak hanya fokus pada prestasi, UMM juga memberikan perhatian pada aspek sosial melalui Beasiswa Yatim Piatu bagi siswa kurang mampu. Program ini mencakup pembebasan Dana Pengembangan Pendidikan dan SPP hingga delapan semester. Sementara pada jenjang pascasarjana, tersedia Beasiswa 5.000 Doktor untuk kepala dan wakil kepala sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah. Ekosistem pendanaan pendidikan di UMM turut diperkuat melalui kerja sama dengan pemerintah dan dunia industri. Kampus ini juga menyediakan Beasiswa KIP serta Beasiswa Mitra Industri dan Unit Bisnis UMM yang didukung sejumlah perusahaan milik universitas. Selain membantu pembiayaan studi, program tersebut juga membuka peluang magang dan pengembangan karier profesional bagi mahasiswa.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

Sempat Mengais Limbah di Eropa, Alumnus UMM Ini Jadi Bos Spa Beromzet Ratusan Juta

Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis UMM angkatan 2011, yang kini membangun bisnis beromzet ratusan juta per bulan di Polandia. (Faqih/PWMU.CO). pwmu.co –Membangun bisnis spa beromzet ratusan juta rupiah per bulan di Polandia bukanlah pencapaian instan bagi Galang. Alumnus Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2011 ini harus merintis karirnya di Eropa dari titik terendah. Yakni dengan memeras keringat sebagai petugas kebersihan gudang dan mengurus sisa limbah demi bertahan hidup. Keberangkatannya ke Eropa pada Mei 2021 bukanlah perjalanan yang mulus. Setelah berkali-kali gagal menembus visa kerja ke Australia, Selandia Baru, dan Kanada sejak 2017, ia membidik Polandia yang saat itu minim lirikan pekerja Indonesia. Fase Belajar Bertahan Setibanya di sana, kenyataan keras langsung menyapanya. Galang mengungkapkan bahwa pengalaman awalnya di Eropa sangatlah berat karena ia harus bekerja kasar tanpa modal bahasa asing yang mumpuni. “Sesampainya di Polandia, saya bekerja sebagai petugas kebersihan gudang tanpa membutuhkan kemampuan bahasa khusus. Mulai dari membersihkan area produksi, mengangkut kardus, hingga membersihkan sisa limbah kerja setiap hari” terang Galang. “Pengalaman itu memang berat, tetapi justru menjadi fase penting untuk belajar bertahan, memahami budaya kerja Eropa, dan membentuk mental sebagai perantau” tegasnya pada Senin (18/05/2026) lalu. Tak ingin selamanya menjadi pekerja kasar, Galang beralih profesi menjadi pegawai di sebuah restoran kebab selama hampir tiga setengah tahun. Di sanalah ia mulai menyerap bahasa Polandia, sistem pajak, legalitas usaha, dan celah bisnis di Eropa. Ia menyadari bahwa kesuksesan di luar negeri membutuhkan kejelian melihat peluang, bukan sekadar bekerja dan menerima gaji. “Banyak orang datang ke luar negeri hanya bekerja biasa, tapi ada juga yang mencoba membangun sesuatu yang lebih besar” katanya. Jeli Melihat Peluang Peluang emas itu ia temukan pada bisnis relaksasi bertema Asia yang masih langka di Polandia. Galang kemudian menggandeng terapis asal Bali untuk merintis usaha spa, meski harus membagi waktu dengan pekerjaannya di restoran kebab. Ia menjelaskan bahwa membuka usaha di Eropa menuntut pemahaman regulasi yang sangat ketat dan perhitungan finansial yang matang. “Membangun usaha di Eropa tidak sesederhana membuka bisnis di Indonesia. Saya harus memahami regulasi yang sangat detail, mulai dari pajak perusahaan, keamanan pelanggan, administrasi usaha, hingga kewajiban menggunakan jasa lawyer dan akuntan” jelas Galang. Kini, berkat insting bisnis yang telah terasah sejak menjadi sales di Indonesia, usaha “Tera Thai Salon Day Spa” miliknya melesat. Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, bisnis tersebut meraup omzet Rp500 hingga Rp600 juta per bulan dan bersiap membuka cabang baru di Kota Gdansk. Kisah inspiratif Galang ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda bahwa kesuksesan di negeri orang bukanlah undian berhadiah. Melainkan hasil dari ketahanan mental, kemauan beradaptasi, dan keberanian mengambil risiko. “Kadang kita tidak pernah tahu rezeki ada di mana kalau tidak berani mencoba dan terus belajar” pungkasnya menutup cerita. *) Penulis : Faqih Editor : Danar Trivasya Fikri

Pernah Jualan Hasil Bumi hingga Jadi Sekda Demak, Akhmad Sugiharto Buktikan Kesuksesan Butuh Ketangguhan

Sekda Kabupaten Demak Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara di hadapan ribuan Wisudawan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), beberapa waktu lalu.(Foto: Dok. UMM). “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain.” DEMAK, SUDUTPANDANG.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Akhmad Sugiharto, ST, MM, mengungkap perjalanan hidupnya yang pernah berjualan hasil bumi sebelum akhirnya mengemban amanah jabatan strategis di pemerintahan. Pengalaman tersebut, membuktikan bahwa kesuksesan membutuhkan ketangguhan dan kerja keras. Kisah penuh perjuangan dan inspiratif tersebut disampaikan Akhmad saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) beberapa waktu lalu. Di hadapan ribuan wisudawan, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan sejak merantau ke Kota Malang pada 1991 untuk menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil UMM. Sekda Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang, beberapa waktu lalu (Foto: Dok. UMM). Akhmad mengenang masa awal dirinya merantau ke Kota Apel pada 1991 untuk menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Sipil UMM. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, Akhmad menjalani kehidupan mahasiswa secara sederhana. Meski demikian, ia tetap aktif mengikuti kegiatan organisasi dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Menurutnya, pengalaman hidup selama masa kuliah menjadi bekal penting dalam membangun kemampuan beradaptasi dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. “Di UMM saya belajar bukan hanya soal akademik, tetapi juga bagaimana bertahan dalam situasi sulit dan tetap memiliki semangat untuk terus maju,” ungkap Akhmad. Tantangan terbesar, lanjutnya, justru datang setelah lulus kuliah pada 1997. Berulang kali melamar pekerjaan namun belum berhasil membuatnya harus mencari cara lain untuk bertahan hidup. Akhmad pun sempat berjualan hasil bumi, sebuah fase yang diakuinya menjadi titik paling berat sekaligus paling berharga dalam hidupnya. Dari pengalaman itu, ia belajar bahwa keberhasilan tidak dibangun dalam semalam. Ketekunan, doa orang tua dan keyakinan untuk terus berusaha menjadi kekuatan utama yang membuatnya mampu bangkit. Sekda Kabupaten Demak, Akhmad Sugiharto, ST, MT, saat menjadi pembicara dalam Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang, beberapa waktu lalu (Foto: Dok.UMM). Usaha keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 1998, Akhmad berhasil lolos seleksi CPNS dan mulai mengabdikan diri di pemerintahan. Tak hanya sukses dalam karier birokrasi, Akhmad juga dikenal melalui inovasinya di bidang infrastruktur. Selain dikenal di bidang birokrasi, Akhmad juga disebut menggagas pembangunan jalan beton atau rigid pavement di Kabupaten Demak pada 2010. Konsep pembangunan jalan tersebut dinilai lebih kuat dan tahan lama dibandingkan jalan aspal konvensional, serta kemudian diadopsi sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Menurut Akhmad, keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan yang diraih, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain,” tegasnya. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi kegagalan karena setiap tantangan merupakan bagian dari proses pembentukan karakter dan mental yang kuat. Menurutnya, tantangan hidup justru menjadi proses penting dalam membentuk mental yang kuat dan karakter kepemimpinan. Perjalanan hidup Akhmad Sugiharto menjadi gambaran bahwa kerja keras, ketekunan, dan integritas dapat menjadi modal untuk meraih keberhasilan di tengah berbagai keterbatasan.(red).

Gerak Cepat, PMB Kampus Swasta Sudah Dibuka sejak Akhir 2025

ANIMO TINGGI: UMM sudah membuka pendaftaran PMB sejak akhir 2025. (umm.ac.id) MALANG KOTA, RADAR MALANG – Gerak cepat sudah ditunjukkan kampus-kampus swasta di Kota Malang dalam Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB). Mulai akhir 2025 lalu, mayoritas dari mereka sudah membuka pendaftaran. Langkah tersebut dilakukan karena jumlah pelajar lulusan SMA/SMK sederajat dari Kota Malang tak terlalu banyak. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, jumlahnya 19.618 pelajar. Empat kampus negeri masih menjadi tujuan favorit para pelajar tersebut. Yakni Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, Universitas Brawijaya, dan Politeknik Negeri Malang (Polinema). Meski masih ada proyeksi menggaet calon mahasiswa dari luar Kota Malang, kampus swasta menolak pasif. ”Kami mulai membuka pendaftaran sejak 1 November 2025 lalu,” ujar Kepala Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Maharina Novia Zahro. Pendaftaran pertama dibuka untuk jalur prestasi mulai 1 November 2025 hingga 25 Februari 2026. Tesnya hanya dengan mengunggah nilai rapor calon mahasiswa baru pada semester 1 sampai 4 saja. Saat ini, UMM masih membuka pendaftaran jalur prestasi periode II. Dibuka mulai 26 Februari sampai 25 Juni mendatang. Selain jalur prestasi, UMM juga membuka pendaftaran jalur reguler. Dimulai 1 November 2025 hingga 30 Juni mendatang. Penilaiannya lebih beragam. Mulai dari rapor atau ijazah, hingga tes motivasi. Rata-rata jalur pendaftaran di UMM memang dimulai sejak 1 November 2025 lalu. Animo pendaftar di sana juga selalu melampaui kuota yang ditentukan. ”Sebagai contoh tahun lalu kami membuka kuota sekitar 6 ribu kursi, dan pendaftarnya sampai 9 ribu calon maba,” lanjut Maharina. Biaya pendaftaran yang dipatok untuk calon maba tidak terlalu tinggi. Untuk jenjang SI dan vokasi dibanderol Rp 400 ribu saja. Sementara untuk profesi Rp 450 ribu. Di sisi lain, Tim Marketing Bina Nusantara (Binus) Malang Amelia menuturkan, pihaknya juga membuka pendaftaran lebih awal. Proses registrasi terus dibuka hingga 22 Mei mendatang. ”Sebab kami jadwalkan perkuliahan mulai September 2026,” kata dia. Banyak kegiatan yang dilakukan Binus untuk menggaet mahasiswa. Mulai dari sosialisasi hingga memasang iklan di reklame pinggir jalan. Selain itu mereka juga banyak memasang penawaran beasiswa hingga 50 persen untuk calon maba. Update terakhir, kuota beberapa jurusan favorit di sana hampir penuh. (aff/by) Editor : Bayu Mulya Putra

Pernah Jualan Hasil Bumi hingga Jadi Sekda Demak, Akhmad Sugiharto Buktikan Kesuksesan Butuh Ketangguhan

Sekda Demak Akhmad Sugiharto saat memberikan motivasi kepada wisudawan UMM tentang pentingnya kerja keras, ketekunan, dan keberanian menghadapi kegagalan. SuaraMerdeka – Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Demak. Tak hanya sukses dalam karier birokrasi, Akhmad juga dikenal melalui inovasinya di bidang infrastruktur. Pada 2010, ia menggagas pembangunan jalan beton atau rigid pavement di Demak. Konsep tersebut terbukti lebih kuat dan tahan lama dibandingkan jalan aspal konvensional, bahkan kemudian diikuti sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Bagi Akhmad, keberhasilan sejati bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. “Kesuksesan sejati bukan diukur dari tingginya posisi yang kita capai, tetapi dari manfaat yang bisa kita hadirkan untuk orang lain,” tegasnya di hadapan para wisudawan. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, tantangan hidup justru menjadi proses penting dalam membentuk mental yang kuat dan karakter kepemimpinan. Kisah hidup Akhmad Sugiharto menjadi gambaran nyata bahwa ketangguhan, kerja keras dan integritas mampu mengubah keterbatasan menjadi keberhasilan besar. (Red).***