UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban Lintas Pulau hingga Lapas dengan Konsep Go Green

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif menjelang Hari Raya Iduladha. Mengusung semangat kepedulian yang inklusif, pendistribusian tahun ini sengaja memperluas jangkauan wilayah, mulai dari kawasan Malang Raya hingga menyeberang ke Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah masif Kampus Putih ini tidak sekadar menyasar kantong persyarikatan Muhammadiyah dan wilayah pelosok terpencil. UMM secara khusus juga menyentuh warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas) serta sejumlah sekolah mitra yang selama ini memiliki kedekatan strategis dengan universitas. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa proses alokasi dan pengiriman puluhan ekor sapi serta kambing tahun ini memang sengaja dirancang untuk menjangkau teritori yang sangat luas. Menurutnya, perluasan wilayah distribusi ini merupakan bentuk respons cepat dalam mengakomodasi berbagai permintaan yang masuk dari elemen masyarakat, yayasan sosial, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang menjadi pilar penyumbang mahasiswa terbanyak bagi UMM. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkap Ali Mahmud saat memberikan keterangan resmi, Selasa (26/5/2026). Demi menjaga kelancaran ibadah dan ketenteraman para penerima manfaat, pihak UMM tidak hanya berfokus pada kuantitas dan pemerataan distribusi semata. UMM juga memberikan jaminan penuh terhadap kualitas, kesehatan, dan kelayakan seluruh hewan kurban yang disalurkan ke masyarakat. Ali Mahmud menegaskan bahwa setiap ekor sapi, kambing, maupun domba telah melewati proses pemeriksaan kesehatan hewan secara ketat oleh tim ahli sebelum dikirim. Langkah preventif dan skrining medis ini wajib dilakukan guna memastikan seluruh hewan berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular yang membahayakan, serta benar-benar telah memenuhi standar syariat Islam untuk berkurban. Di sisi lain, skema distribusi yang diterapkan oleh UMM terbilang sangat humanis dan adaptif. Ali Mahmud menjelaskan bahwa pihak kampus memberikan perhatian khusus bagi warga binaan di lapas dengan menyesuaikan wujud bantuan berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Sebagai contoh, Lapas Kelas I Lowokwaru Malang yang dihuni oleh warga binaan laki-laki akan mendapatkan kiriman berupa hewan kurban dalam kondisi hidup. Sementara itu, untuk lapas perempuan, UMM memilih mengirimkan paket daging yang sudah siap olah demi menyiasati keterbatasan tenaga jagal dan fasilitas pemotongan di dalam lapas tersebut. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegas Ali Mahmud menjelaskan detail teknis pembagian. Tidak berhenti pada nilai sosial dan keagamaan, momentum ibadah kurban kali ini juga dimanfaatkan UMM untuk mengampanyekan gerakan peduli lingkungan secara berkelanjutan. Kampus Putih secara konsisten menerapkan konsep kurban Go Green dengan melarang total penggunaan kantong plastik sekali pakai sebagai pembungkus daging. Sebagai gantinya, pihak panitia memanfaatkan wadah organik yang ramah lingkungan. Langkah hijau ini secara tidak langsung juga ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat bawah karena melibatkan para perajin lokal di sekitar kampus. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali Mahmud secara rinci. Dampak nyata dan multiplier effect dari aksi sosial UMM ini langsung menuai respons positif serta apresiasi mendalam dari berbagai pihak yang menerima manfaat. Salah satunya datang dari institusi pendidikan menengah yang selama ini menjadi mitra erat dalam mencetak generasi berprestasi bersama UMM. Eko, yang merupakan salah satu guru di SMA Negeri 1 Kota Batu, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam atas perhatian konkret yang ditunjukkan oleh Kampus Putih. Menurutnya, kepedulian yang konsisten dari UMM ini sangat membantu menghadirkan kebahagiaan bagi warga sekolah dan lingkungan sekitar. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” pungkas Eko dengan penuh rasa syukur. (dan/kun)

Anak Bergerak, Bangsa Bergerak : Krisis Aktivitas Fisik Anak Sekolah Dasar di Era Digital

pwmu – Oleh : Frendy Aru FantiroKaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Muhammadiyah Malang Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, anak-anak Indonesia justru menghadapi ancaman yang sering dianggap sepele: kurang bergerak. Anak usia sekolah dasar kini semakin akrab dengan layar gawai dibanding lapangan permainan. Fenomena tersebut bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan sudah menjadi persoalan kesehatan, pendidikan, bahkan masa depan bangsa. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan lebih dari 80 persen remaja usia sekolah di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian minimal 60 menit per hari. Kondisi ini menjadi alarm serius karena aktivitas fisik merupakan fondasi utama pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, kesehatan mental, hingga kemampuan kognitif anak. Sebagai akademisi sekaligus praktisi pendidikan olahraga, saya melihat persoalan ini bukan hanya tentang anak yang malas bergerak, tetapi tentang lingkungan yang perlahan menjauhkan anak dari aktivitas fisik alami mereka. Anak-anak hari ini hidup di ruang yang semakin sempit untuk bergerak, sementara dunia digital terus mengambil perhatian mereka setiap waktu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia mengalami peningkatan perilaku sedentari (sedentary behavior), yaitu kebiasaan duduk terlalu lama dengan aktivitas minim gerak. Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, baik untuk hiburan maupun pembelajaran digital. Di sinilah letak persoalan yang sering luput dipahami. Banyak orang tua merasa anaknya aman karena berada di rumah bermain gadget. Padahal secara fisiologis, tubuh anak dirancang untuk bergerak aktif, bukan duduk diam terlalu lama. Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya bukan hanya obesitas. Risiko lain yang mulai muncul sejak usia dini antara lain: penurunan kebugaran jasmani, gangguan postur tubuh, penurunan kemampuan motorik, gangguan konsentrasi belajar, masalah kesehatan mental, hingga meningkatnya risiko penyakit degeneratif di masa depan. Sebagai Kaprodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, saya memandang aktivitas fisik bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Anak yang aktif bergerak bukan hanya lebih sehat secara fisik, tetapi juga lebih percaya diri, lebih fokus belajar, dan lebih baik dalam bersosialisasi. Masih ada anggapan bahwa pelajaran PJOK dua jam per minggu sudah cukup memenuhi kebutuhan gerak anak. Padahal secara ilmiah, asumsi tersebut sangat lemah. WHO merekomendasikan anak usia sekolah melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat minimal 60 menit setiap hari. Artinya, aktivitas fisik harus menjadi budaya hidup sehari-hari, bukan sekadar mata pelajaran formal di sekolah. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membangun budaya aktif tersebut. Namun realitasnya, banyak sekolah tanpa sadar justru membentuk budaya pasif. Anak terlalu lama duduk di kelas, waktu bermain semakin sedikit, ruang terbuka terbatas, dan permainan tradisional mulai ditinggalkan. Padahal, dari sudut pandang ilmu keolahragaan, bermain aktif merupakan media penting dalam perkembangan motorik, koordinasi, karakter sosial, hingga kecerdasan emosional anak. Saya percaya pendidikan modern seharusnya tidak hanya mencetak anak yang pintar secara akademik, tetapi juga anak yang sehat, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Menyalahkan teknologi sepenuhnya juga bukan solusi bijak. Gadget bukan musuh utama. Persoalan sebenarnya adalah ketidakseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik. Hari ini banyak anak lebih mengenal permainan virtual dibanding permainan gerak nyata. Dunia digital menawarkan hiburan instan yang sering membuat aktivitas fisik terasa melelahkan dan kurang menarik. Karena itu, tugas orang tua, guru, dan masyarakat bukan sekadar melarang gadget, tetapi menciptakan lingkungan yang membuat anak senang bergerak. Aktivitas fisik harus dikemas secara menyenangkan, kreatif, dan sesuai perkembangan zaman. Dalam pandangan saya, jika anak kehilangan budaya bergerak sejak dini, maka kita tidak hanya kehilangan generasi sehat, tetapi juga kehilangan generasi tangguh. Aktivitas fisik bukan hanya urusan olahraga. Ini adalah investasi kualitas manusia Indonesia di masa depan. Anak-anak yang aktif bergerak hari ini berpotensi menjadi generasi yang: lebih sehat, lebih disiplin, lebih produktif, lebih tangguh secara mental, dan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan. Sebaliknya, jika budaya pasif terus berkembang, maka bangsa ini akan menghadapi peningkatan beban kesehatan dan penurunan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Melalui momentum ini, saya mengajak seluruh pihak — orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat — untuk kembali menghadirkan ruang gerak bagi anak-anak Indonesia. Karena pada akhirnya, anak yang aktif bergerak bukan hanya tumbuh sehat, tetapi juga tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh.

Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima

timesindonesia, MALANG – Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima, Arief Hidayatullah, memaparkan hasil kajian mendalam mengenai bagaimana kelompok Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, serta penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Kajian ini tidak hanya menjelaskan fenomena radikalisme sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai gejala sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal. Sebagai putra daerah Bima, Arief mengawali penelitiannya dari keprihatinan atas stigma yang kerap melekat pada wilayah kelahirannya. Bima sering dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana fenomena tersebut berkembang dan mengapa daerah ini menjadi salah satu lokasi yang menonjol dalam peta radikalisme di Indonesia Timur. Dari pertanyaan itulah disertasi ini lahir sebagai upaya akademik untuk mengurai persoalan secara lebih utuh dan berbasis analisis ilmiah. Dalam penelitiannya, Arief menjelaskan bahwa radikalisme agama di Bima merupakan bagian dari jaringan radikalisme nasional yang telah berkembang sejak dekade 1990-an. Namun demikian, Bima memiliki karakter lokal tersendiri yang membuatnya menonjol sebagai salah satu kantong ideologis jaringan radikal. Sejumlah kajian terdahulu serta laporan keamanan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah keterhubungan dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), hingga Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Dengan demikian, persoalan radikalisme di Bima tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perkembangan gerakan ekstremisme lintas wilayah. Arief juga menelusuri akar historis kemunculan radikalisme di Bima melalui keterhubungan sejumlah tokoh lokal dengan jaringan NII, JI, dan gerakan jihad lintas daerah. Dalam laporan International Crisis Group, Bima disebut sebagai salah satu daerah tujuan pelarian dan rekrutmen pengikut JI setelah operasi besar-besaran terhadap jaringan teror pasca Bom Bali I. Pada periode berikutnya, hubungan Bima dengan kelompok radikal semakin kuat melalui mobilitas sosial, relasi keluarga, serta jejaring pernikahan antardaerah. Pola ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya tumbuh dari faktor ideologis, tetapi juga diperkuat oleh hubungan sosial yang bersifat personal dan kultural. Salah satu aspek penting yang dibahas dalam disertasi ini adalah hubungan antara jaringan JAD Bima dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Hubungan tersebut memperlihatkan adanya koneksi ideologis dan logistik yang dibangun melalui ikatan kekerabatan dan kedekatan asal daerah. Dalam beberapa kasus, hubungan keluarga menjadi penghubung yang memperkuat mobilisasi anggota dan penyebaran pengaruh ideologis. Hal ini menegaskan bahwa radikalisme di Bima berkembang dalam struktur jaringan yang kompleks, tidak semata-mata berbasis organisasi formal, tetapi juga melalui relasi sosial yang cair dan lintas wilayah. Di sisi lain, Arief menegaskan bahwa konteks sosial masyarakat Bima turut memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, mayoritas penduduk Kota Bima beragama Islam, yang pada satu sisi mencerminkan homogenitas religius, namun di sisi lain juga membuka ruang kompetisi wacana dan otoritas keagamaan. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok keagamaan memiliki peluang untuk berkembang, termasuk kelompok yang kemudian diberi label radikal. Oleh karena itu, radikalisme di Bima perlu dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor historis, demografis, jaringan sosial, dan dinamika keagamaan lokal. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa intensitas aktivitas teror di Bima dapat dilacak melalui sejumlah peristiwa penangkapan dan operasi keamanan yang dilakukan aparat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kasus yang diungkap Densus 88 memperlihatkan bahwa Bima bukan hanya ruang ideologis, tetapi juga ruang operasional bagi jaringan radikal. Daerah ini pernah menjadi tempat persembunyian, basis logistik, maupun lokasi pembinaan bagi para anggota jaringan tertentu. Fakta tersebut memperkuat argumentasi bahwa Bima memiliki posisi penting dalam peta radikalisme nasional. Untuk menganalisis persoalan tersebut, Arief menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Menurut Mead, tindakan sosial manusia tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses penafsiran simbol, makna, dan interaksi sosial. Dalam teori ini, konsep mind, self, dan society menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana individu dan kelompok membentuk identitas serta perilaku sosial. Teori ini digunakan Arief untuk membaca bagaimana kelompok JAD dan JAS membangun sistem makna yang memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara bertindak para anggotanya. Hasil analisis disertasi menunjukkan perbedaan yang cukup tegas antara JAD dan JAS. JAD cenderung membangun kesadaran yang kaku dan dikotomis, dengan struktur interaksi yang sentralistik dan sistem simbol yang lebih tertutup. Sementara itu, JAS memperlihatkan karakter yang lebih fleksibel dan pragmatis, dengan pola interaksi yang partisipatif serta simbol-simbol keagamaan yang lebih terbuka terhadap penafsiran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hadir dalam bentuk tunggal, melainkan memiliki variasi ekspresi, struktur, dan strategi internal yang berbeda. Melalui disertasi ini, Arief Hidayatullah berhasil memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya dalam memahami radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Lebih dari itu, kajian ini menjadi pengingat bahwa upaya memahami radikalisme harus dilakukan secara mendalam, kontekstual, dan berbasis kajian ilmiah agar tidak berhenti pada label atau stigma semata.

Persiapan Kuliah di Kampus Putih: Intip Daftar Biaya Studi Semester (BSS) Program Magister S2 UMM 2026

MALANG, RADAR MALANG – Gelombang “musim maba” di Kota Malang tidak hanya didominasi oleh calon mahasiswa jenjang Sarjana (S1). Minat para praktisi yang ingin menempuh studi pada jenjang Magister (S2) juga terus meningkat tahun ini. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Kota Malang yang menawarkan beberapa program studi Magister (S2). Biaya Studi Semester (BSS) di UMM telah resmi dirilis, berikut adalah rinciannya: Program Studi BSS Semester I BSS Semester II-IV Magister Pendidikan Agama Islam 8.750.000 7.500.000 Magister Hukum 8.750.000 7.500.000 Magister Agribisnis 8.750.000 7.500.000 Magister Psikologi 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Matematika 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Bahasa Indonesia 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Bahasa Inggris 8.750.000 7.500.000 Magister Pendidikan Biologi 8.750.000 7.500.000 Magister Pedagogi 8.750.000 7.500.000 Magister Akuntansi 8.750.000 7.500.000 Magister Sosiologi 8.750.000 7.500.000 Magister Manajemen 8.750.000 7.500.000 Magister Rekayasa Energi Terbarukan 8.750.000 7.500.000 Magister Studi Pemerintahan 8.750.000 7.500.000 Program Studi BSS Semester I BSS Semester II BSS Semester III-IV Magister Keperawatan 10.750.000 9.500.000 7.500.000 Melalui rincian di atas, terlihat bahwa UMM menawarkan biaya yang cukup kompetitif bagi para pencari gelar Magister (S2). Khusus untuk Magister Keperawatan, pembiayaan pada awal semester I cenderung berbeda signifikan dengan program studi lain. Akan tetapi pada semester selanjutnya biaya menjadi turun hingga menyentuh angka Rp7.500.000. Mengingat rangkaian gelombang pendaftaran terus bergerak, para pendaftar diimbau untuk selalu memantau informasi validasi d melalui laman resmi di https://pmb.umm.ac.id/ agar tidak tertinggal informasi penting.

UMM Distribusikan Puluhan Hewan Kurban hingga Pelosok dan Lapas

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban sebagai wujud kepedulian sosial kepada masyarakat.Tahun ini, distribusi hewan kurban dilakukan lebih luas dengan menjangkau wilayah Malang Raya hingga Pulau Sumbawa, termasuk lembaga pemasyarakatan (lapas), sekolah mitra, serta kantong-kantong persyarikatan Muhammadiyah. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., menjelaskan bahwa total hewan kurban yang disalurkan mencapai 18 ekor sapi dan sekitar 50 ekor kambing maupun domba. Hewan-hewan tersebut didistribusikan ke berbagai wilayah dan lembaga yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Kampus Putih. “Distribusi dilakukan mulai dari Sumbawa, Malang Raya, Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ujarnya kepada Humas UMM pada 26 Mei. Selain memperluas jangkauan distribusi, UMM juga memastikan seluruh hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak. Seluruh sapi, kambing, dan domba telah melalui pemeriksaan kesehatan secara ketat untuk memastikan bebas dari penyakit serta memenuhi syariat kurban. UMM juga memberikan perhatian khusus kepada warga binaan lapas dengan menyesuaikan bentuk distribusi sesuai fasilitas yang tersedia. Untuk Lapas Kelas I Lowokwaru Malang, UMM menyerahkan satu ekor sapi hidup. Sementara untuk lapas perempuan, bantuan diberikan dalam bentuk paket daging kurban siap olah. “Karena di lapas perempuan tidak tersedia tenaga pemotong, maka kami menyalurkan daging hasil pemotongan dari kampus,” jelas Ali. Dalam proses distribusinya, UMM tetap mempertahankan konsep kurban ramah lingkungan atau Go Green. Kampus Putih tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai, melainkan memanfaatkan besek bambu hasil kerajinan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri sebagai wadah daging kurban. “Konsep ini sudah konsisten kami jalankan selama bertahun-tahun sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mendukung perajin lokal,” tambahnya. Apresiasi atas distribusi hewan kurban ini juga datang dari berbagai pihak. Guru SMAN 1 Kota Batu, Eko, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan UMM kepada sekolahnya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.(*) *) Penulis : Faqih Ahmad Wafir Rahman Editor : Zahrah Khairani Karim

UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban untuk Lapas, Sekolah, sampai Daerah Pelosok

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban dengan mengusung semangat kepedulian sosial yang inklusif. Distribusi tahun ini tidak hanya menyasar wilayah persyarikatan dan daerah pelosok, tetapi juga warga binaan lembaga pemasyarakatan (lapas) serta sekolah-sekolah mitra. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM Ali Mahmud menjelaskan, penyaluran puluhan ekor sapi dan kambing tahun ini menjangkau wilayah luas, mulai Malang Raya hingga Pulau Sumbawa. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkapnya kepada Humas UMM, Senin (26/5/2026). Dia menambahkan, distribusi tersebut juga mengakomodasi berbagai permintaan dari elemen masyarakat, yayasan, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang selama ini menjadi penyumbang mahasiswa terbanyak bagi Kampus Putih. Selain memastikan pemerataan distribusi, UMM juga menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan kurban yang disalurkan. Ali menegaskan bahwa seluruh sapi, kambing, maupun domba telah lolos pemeriksaan kesehatan secara ketat. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat, bebas penyakit menular, serta memenuhi syariat sebelum diserahkan kepada penerima manfaat. Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa UMM memberikan perhatian khusus kepada warga binaan lapas dengan menyesuaikan bentuk distribusi berdasarkan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” jelasnya. Di tengah proses distribusi tersebut, UMM juga tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan melalui konsep kurban Go Green. Kampus Putih mengganti penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan wadah organik yang ramah lingkungan sekaligus memberdayakan UMKM lokal. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tetapi menggunakan besek bambu hasil kerajinan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali. Dampak positif distribusi hewan kurban itu dirasakan langsung oleh berbagai pihak, salah satunya SMA Negeri 1 Kota Batu. Perwakilan sekolah, Eko, menyampaikan apresiasi atas perhatian UMM. “Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” ujarnya. (Faqih/AS)

UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban dari Malang Raya hingga Sumbawa

MALANG, RADAR MALANG – Mengusung semangat kepedulian sosial yang inklusif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif. Pendistribusian tahun ini difokuskan pada perluasan jangkauan, tidak hanya menyasar kantong-kantong persyarikatan dan wilayah pelosok, tetapi juga didistribusikan secara khusus bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) serta sekolah-sekolah mitra. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa pendistribusian puluhan ekor sapi dan kambing tahun ini menjangkau teritori yang sangat luas, membentang dari Malang Raya hingga ke Pulau Sumbawa. MERATA: UMM menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan yang disalurkan. Ia menambahkan bahwa penyaluran ini turut mengakomodasi berbagai permintaan dari elemen masyarakat, yayasan, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang selama ini menjadi penyumbang mahasiswa terbanyak bagi Kampus Putih. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkapnya 26 Mei kepada Humas UMM. Selain memastikan pemerataan distribusi, UMM juga sangat menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan yang disalurkan. Ali menegaskan bahwa seluruh hewan kurban, baik sapi maupun kambing dan domba, telah dipastikan lolos dalam pemeriksaan kesehatan hewan kurban secara ketat. Langkah preventif ini dilakukan guna menjamin bahwa hewan-hewan tersebut berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular, serta telah memenuhi standar syariat berkurban sebelum diserahkan kepada para penerima manfaat. TERSEBAR: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyalurkan hewan kurban ke berbagai daerah. Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa UMM memberikan perhatian khusus bagi warga binaan dengan menyesuaikan wujud pendistribusian berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Lapas khusus laki-laki mendapatkan hewan kurban hidup, sementara Lapas perempuan menerima paket daging siap olah guna menyiasati keterbatasan tenaga jagal. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk Lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegasnya. Di tengah masifnya proses distribusi tersebut, UMM tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan dengan menerapkan konsep kurban Go Green. Kampus Putih mengganti total penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan wadah organik yang ramah lingkungan sekaligus membawa dampak ekonomi bagi perajin lokal. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali. Dampak positif pendistribusian hewan kurban ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak, salah satunya adalah perwakilan institusi pendidikan yang selama ini menjalin sinergi erat dengan UMM. Guru SMA Negeri 1 Kota Batu, Eko, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas perhatian kampus putih yang telah menyalurkan hewan kurban ke sekolahnya. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” ujar Eko. (*)

Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Disorot, Pakar UMM Sarankan Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

KLIKMU.CO – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun menuai sorotan. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menilai aturan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak diiringi peningkatan kompetensi pedagogi guru dan penyesuaian manajemen sekolah dasar. Arina menegaskan, pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk menangani anak usia 7 hingga 12 tahun. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ujarnya, Minggu (25/5/2026). Menurut dosen PGSD UMM tersebut, Kemendikdasmen perlu segera menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas satu SD agar mereka mampu menghadapi karakter anak usia dini, termasuk dalam mengelola emosi dan tantrum siswa. Selain peningkatan kompetensi guru, Arina menilai sekolah dasar juga harus melakukan penyesuaian manajemen pembelajaran. Ia menyebut ada tiga langkah penting yang perlu diterapkan sekolah. Pertama, sekolah perlu menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. Kedua, sekolah perlu melakukan asesmen awal selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. Ketiga, sekolah harus membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Arina juga membagikan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru agar anak tidak tertekan pada masa awal sekolah. Menurutnya, anak usia 5,5 tahun umumnya hanya mampu fokus selama sekitar 15 menit. Karena itu, pendekatan belajar di kelas perlu menerapkan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” jelasnya. Sebagai penutup, Arina mengingatkan agar kebijakan pelonggaran usia masuk SD tidak diterapkan secara pukul rata. Menurutnya, aturan tersebut sebaiknya tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang lebih ketat. Ia juga meminta pemerintah segera menyiapkan lokakarya pedagogi bagi guru kelas satu SD serta merilis modul praktis transisi PAUD ke SD. “Jika evaluasi tahunan menunjukkan lonjakan stres anak atau angka putus sekolah di awal jenjang dasar meningkat, pemerintah harus berani merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak,” tandasnya. (Faqih/AS)

Dua Mahasiswa UMM Sabet Juara Golf Nasional

  pwmu.co – Olahraga golf acap kali dipandang sekadar sebagai hobi eksklusif kalangan atas atau sekadar jalan santai. Padahal, olahraga ini sejatinya menuntut ketahanan fisik ekstra dan perhitungan presisi di atas padang rumput yang luas.Menepis anggapan miring tersebut sekaligus membuktikan kualitas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menaklukkan teriknya cuaca Surabaya dan sengitnya persaingan dengan memborong gelar juara. Prestasi membanggakan ini ditorehkan pada ajang bergengsi Pertandingan Golf Piala Wali Kota Surabaya di Bukit Darmo Golf, Sabtu-Minggu (16–17/05/2026) lalu yang diikuti oleh 200 pegolf dari berbagai daerah. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM selalu mewadahi potensi mahasiswanya. Sabet 2 Piala Sekaligus Pada kompetisi yang diikuti puluhan peserta unggulan dari berbagai rentang usia tersebut, kontingen Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Golf UMM sukses membawa pulang dua piala sekaligus. Muhammad Fikri Fakhruddin, mahasiswa Program Studi Agribisnis angkatan 2023, tampil apik dengan menyabet juara pada kategori Best Gross Class A+. Kesuksesan ini disempurnakan oleh delegasi lainnya, Aisya Allea, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024, yang mantap mengamankan predikat Runner Up Gross pada kategori Ladies. Pertandingan yang berjalan selama dua hari berturut-turut ini jelas bukan perkara mudah. Para peserta wajib berjalan kaki menempuh 18 hole setiap harinya di bawah sengatan matahari dari siang hingga sore. Menghadapi tantangan berat tersebut, tim UKM Golf UMM telah mematangkan persiapan melalui pemusatan latihan intensif sejak dua minggu sebelum turnamen. Fikri menjelaskan bahwa kunci utama kemenangannya terletak pada kemampuan mengatur strategi manajemen lapangan dan ketepatan memilih alat untuk mencapai target sasaran. “Strateginya yaitu kita melakukan management course di lapangan dengan perhitungan jarak agar bisa menentukan penggunaan stik iron yang tepat untuk mencapai target” jelas Fikri. Uji Mental di Bawah Tekanan Lebih lanjut, kompetisi ini tidak hanya memeras keringat, tetapi juga menjadi ajang melatih seni pengambilan keputusan di bawah tekanan. Akurasi pukulan sangat bergantung pada ketenangan pikiran. Sedikit saja fokus goyah akibat rasa lelah, maka strategi yang telah disusun dapat berantakan. Menghadapi hal tersebut, mental juara Fikri tidak lepas dari fasilitas dan ekosistem kampus yang menunjang. Ia menuturkan bahwa dukungan pendanaan penuh dari pihak kampus. Mulai dari pendaftaran hingga akomodasi, membuat para atlet bisa bertanding tanpa memikirkan beban biaya logistik yang terbilang sangat mahal dalam olahraga ini. “Atlet ini jika tidak mendapat dukungan kampus pasti benar-benar mengeluarkan banyak biaya karena pengeluaran di golf itu sangat besar. Alhamdulillah masalah biaya dari kampus semuanya teratasi” ungkap pemuda tersebut dengan rasa syukur. Prestasi bergengsi di ajang Piala Wali Kota Surabaya ini bukanlah titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan. Ke depannya, Fikri bertekad kuat untuk terus mengasah kemampuannya demi mewujudkan impian besar menjadi atlet golf profesional yang kelak menembus panggung internasional. Apresiasi Kabag Minat Bakat UMM Menutup perbincangan, ia menitipkan pesan pemantik semangat kepada rekan-rekan mahasiswa lain yang sedang merintis jalan di berbagai bidang minat dan bakat. “Kalau kalian memang memiliki niat, usahakan dengan sungguh-sungguh dan jangan setengah-setengah, agar semua yang dibangun bisa terbentuk secara maksimal” pungkasnya. Menanggapi torehan gemilang ini, Kepala Bagian (Kabag) Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir Ary Bakhtiar SP MSi IPM ASEAN Eng turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan pembinaan dan komitmen institusi dalam mengawal potensi mahasiswa. “UMM senantiasa berkomitmen untuk memfasilitasi dan mengembangkan minat bakat mahasiswa secara penuh, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik” terang Ary. “Keberhasilan kontingen UKM Golf memborong juara ini sangat membanggakan. Kami berharap fasilitas dan ekosistem pendukung yang terus disiapkan kampus dapat melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang siap bersaing di level nasional hingga internasional” tegasnya.(*) *) Penulis : Humas UMM | Editor : Danar Trivasya Fikri

Lebih dari Sekadar Ibadah, Rektor UMM Jadikan Kurban Tonggak Gerakan Kesejahteraan Ekonomi

Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan kesenjangan sosial yang masih membayangi masyarakat saat ini, peringatan Idul Adha harus dimaknai lebih dari sekadar ritual penyembelihan hewan tahunan. Momentum ini merupakan panggilan fundamental untuk meneguhkan tauhid sekaligus membangun kepedulian sosial yang nyata guna menggerakkan kesejahteraan ekonomi umat secara komprehensif. Penegasan nilai esensial tersebut menjadi sorotan utama yang digaungkan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si. Menurutnya keteladanan abadi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lahir dari totalitas pengabdian dan pengorbanan kepada Sang Pencipta. Syukur dan ketakwaan, tuturnya, hanya bisa diwujudkan secara utuh melalui integrasi antara kesalehan spiritual dan pengorbanan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat. “Oleh sebab itu, Idul Adha harus membentuk pribadi yang rela memberi, bukan hanya pandai memiliki; rela berbagi, bukan hanya sibuk menumpuk,” tegasnya. Lebih jauh, ia membedah nilai kurban melalui kacamata Tauhid Rahmatiyah, sebuah perspektif di mana pengesaan Allah tidak boleh berhenti di atas sajadah atau mimbar masjid semata, melainkan harus menjelma menjadi energi sosial. Ia menjelaskan bahwa tauhid yang sejati harus memantulkan sifat kasih sayang Allah, sehingga mampu melahirkan kesejahteraan, menumbuhkan ekonomi peradaban, dan menebar kedamaian. “Bahwa ukuran keberhasilan tauhid bukan hanya seberapa tepat rumusan akidah seseorang, tetapi apakah tauhid itu melahirkan rahmat sosial. Apakah manusia hidup lebih sejahtera,” ungkapnya. Penguatan etika sosial ini secara praktis tercermin dari bagaimana daging kurban dikelola dan didistribusikan. Jika dikelola secara profesional dan amanah, syariat kurban akan menjadi sarana pemerataan manfaat yang efektif sekaligus memberdayakan para peternak lokal. Ia juga mengingatkan agar panitia proaktif memastikan distribusi menjangkau dua golongan. Yakni mereka yang meminta maupun mereka yang kesulitan ekonomi namun menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. “Dengan semangat ini, kurban menjadi pelajaran bahwa setiap nikmat harus dikelola dengan benar dan dibagikan dengan adil,” tambahnya. Semangat kerelaan berkorban dan berbagi ini tidak boleh meredup seiring berlalunya bulan Zulhijah. Ibadah kurban sejatinya adalah titik tolak yang mendidik umat Islam untuk membiasakan kejujuran, kepedulian tanpa pamrih, penguatan ekonomi halal, dan pelayanan terhadap kaum duafa secara berkelanjutan. Pesan dan gagasan penggerak kesejahteraan di atas disampaikan langsung oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., saat bertindak sebagai Khatib dalam pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H di halaman Masjid Akbar Moed’har Arifin, Sedayu, Gresik, pada Rabu, 27 Mei 2026.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman