Pakar Teknologi Pangan UMM Bagikan Cara Cerdas Nikmati Daging Kurban Tanpa Takut Asam Urat dan Kolesterol

Momentum perayaan Idul Adha senantiasa identik dengan melimpahnya stok daging dan tradisi menyantap olahan kurban bersama keluarga. Namun, euforia ini kerap diikuti oleh kekhawatiran masyarakat akan ancaman lonjakan kolesterol dan penyakit asam urat. Merespons fenomena tersebut, Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya. Ayu memaparkan bahwa daging sapi maupun kambing sejatinya mengandung protein hewani, lemak, dan purin yang bermanfaat bagi tubuh jika porsinya wajar. Masalah baru timbul saat konsumsi dilakukan secara berlebihan, apalagi jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental, yang mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat. “Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak. Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi,” terangnya 27 Mei lalu kepada Humas UMM. Guna menekan tingginya risiko kesehatan, masyarakat disarankan menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging segar sebelum dimasak. Pakar teknologi pangan ini juga merekomendasikan metode perebusan awal, di mana kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan, menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung. “Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin. Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak,” lanjut Ayu. Terkait manajemen penyimpanan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius. Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya. Sebagai pesan penutup sekaligus langkah pencegahan gizi, orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna. “Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” pungkasnya.(*vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Khotbah Iduladha di UMM: Sembelih Sifat Egoisme dan Konsumtif

Bisnis.com, MALANG — Ibadah kurban menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang terus merusak tatanan bumi. Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Achmad Jainuri mengingatkan bahwa setiap bentuk ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban mutlak menjaga kelestarian alam. Dia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang-buang makanan dan terjebak pada gaya hidup jangka pendek, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah, kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkorban yang ditanamkan harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya saat menyampaikan khutbah Iduladha 1447 Hijriah di Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (27/5/2026). Dia menguraikan, kurban adalah simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan sebuah peradaban. Umat Islam sesungguhnya mampu mengembalikan kejayaan masa lalu asalkan bersedia menyingkirkan egosentrisme yang selama ini menghalangi kepedulian manusia terhadap tatanan sosial maupun alam sekitar. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan untuk menciptakan kebaikan dan melestarikan keseimbangan tatanan kehidupan di alam ini dengan menyingkirkan rintangan serta kesulitan yang ada pada diri kita sendiri,” ucapnya. Sejalan dengan napas perjuangan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan mencetak generasi unggul membutuhkan kerja keras yang didasari ketauhidan berbalut kasih sayang, guna menolak praktik keberagamaan yang sekadar mengandalkan slogan tanpa memberikan kemanfaatan yang nyata bagi peradaban. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sangat sejalan dengan fungsi perguruan tinggi agar memberikan dampak langsung, kemanfaatan kepada masyarakat luas, yakni kampus UMM sebagai solution center of excellence,” ungkapnya.
Catat Rinciannya! UMM Rilis Tarif BSS Resmi S1 Fakultas Agama Islam, FISIP, dan Fakultas Keguruan

MALANG, RADAR MALANG – Musim maba tidak hanya dirasakan oleh kampus negeri, akan tetapi jajaran kampus swasta di Kota Malang juga ikut merasakan suasananya. UMM merupakan salah satu kampus swasta Islam yang menyediakan beberapa program studi Sarjana (S1) dengan akreditasi unggul. Selain itu, penting untuk mengetahui Biaya Studi Semester (BSS) tiap jurusan yang ingin kalian ambil. Sebab, hal ini bisa menjadi skema kalian untuk persiapan finansial selama berkuliah di UMM. Berikut adalah rincian BSS dari Fakultas Agama Islam, FISIP, dan FKIP: Fakultas /Program Studi BSS Semester 1 BSS Semester II-VII BSS Semester II-VIII Gelombang I Gelombang II FAKULTAS AGAMA ISLAM Pendidikan Agama Islam 6.600.000 7.600.000 7.200.000 5.100.000 Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) 6.600.000 7.600.000 7.200.000 5.100.000 Ekonomi Syariah **) 6.950.000 7.950.000 7.200.000 5.100.000 Pendidikan Bahasa Arab 6.600.000 7.600.000 7.200.000 5.100.000 FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK Kesejahteraan Sosial 7.200.000 8.700.000 7.800.000 5.550.000 Ilmu Komunikasi 10.050.000 13.550.000 10.650.000 6.300.000 Ilmu Pemerintahan 8.250.000 11.200.000 8.850.000 5.850.000 Sosiologi 7.200.000 8.700.000 7.800.000 5.550.000 Hubungan Internasional 10.050.000 13.550.000 10.650.000 6.300.000 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Pendidikan Matematika 6.750.000 8.250.000 7.350.000 5.100.000 Pendidikan Biologi 6.750.000 8.750.000 7.350.000 5.100.000 Bahasa & Sastra Indonesia Modern 6.750.000 8.250.000 7.350.000 5.100.000 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 6.000.000 8.000.000 6.600.000 5.100.000 Pendidikan Bahasa Inggris 7.050.000 9.550.000 7.650.000 5.100.000 Pendidikan Guru Sekolah Dasar 7.050.000 9.550.000 7.650.000 5.100.000 Adapun beberapa keterangan tambahan, meliputi: Biaya KKN, Magang, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda dibayarkan tersendiri. Semester lanjut D-3 dimulai di Semester VII dan Program S-1 dimulai Semester IX (kecuali Kedokteran dimulai Semester VIII). Farmasi, Kedokteran dan Psikologi Internasional BSS Semester I sudah termasuk Biaya Paket Daftar Ulang Mata Uang yang digunakan adalah IDR (Rp). *) Mulai 1 Agustus 2026 Camaba Gelombang II dikenai kenaikan BSS. **) Tambahan Biaya Seragam di BSS Semester I. BSS dapat dibayarkan tiga kali tiap semester yaitu: Angsuran ke-1 (saat KRS), Angsuran ke-2 (menjelang UTS) dan Angsuran ke-3 (menjelang UAS). BSS-I Angsuran ke-1 dibayarkan saat Daftar Ulang (Her-Registrasi). Editor : Aditya Novrian
Tradisi Kurban Unik di Malang, Daging Dibagikan dalam Besek Beralas Daun Segar

HALLO MALANG – Perayaan Iduladha di lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun ini kembali menghadirkan cara unik dalam pembagian daging kurban. Kampus yang dikenal dengan julukan Kampus Putih itu membagikan lebih dari 2.500 paket daging menggunakan besek bambu beralas daun dan diikat tali serabut kelapa untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai. Konsep kurban ramah lingkungan tersebut sudah dijalankan UMM selama enam tahun terakhir sebagai respons atas persoalan limbah plastik yang kerap meningkat saat Iduladha. Seluruh paket daging dibagikan tanpa menggunakan kantong kresek hitam yang dinilai berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Ketua Panitia Kurban 1447 Hijriah UMM, Yasin Kusumo Pringgodigdo, mengatakan semangat kurban tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata. Menurutnya, kurban juga harus menjadi bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegas Yasin. Jumlah hewan kurban di UMM tahun ini juga meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 20 ekor sapi dan sejumlah kambing disiapkan untuk didistribusikan kepada masyarakat sekitar kampus, civitas akademika, hingga lembaga pemasyarakatan di Malang. Tak hanya itu, enam ekor sapi hidup juga dikirim ke wilayah Sumbawa untuk memperluas distribusi manfaat kurban. Panitia memastikan seluruh hewan dalam kondisi sehat dan bebas cacat sebelum disembelih. Yasin menjelaskan proses distribusi dilakukan secara terukur dengan menghitung bobot sapi untuk menyesuaikan kebutuhan penerima. Cara tersebut dilakukan agar pembagian daging lebih merata dan sesuai target paket yang telah ditentukan. “Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuh Yasin.
Pesta Babi: Suara Papua yang (Tidak) Ingin Didengar

Oleh: Najamuddin Khairur Rijal* *)Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. suarapapua – Polemik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memperlihatkan satu ironi, bahwa bahkan sebelum suara masyarakat adat Papua benar-benar didengar, ruang untuk mendengarkannya sudah lebih dulu ditutup. Film dokumenter investigatif garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini menyoroti kehidupan masyarakat adat Papua Selatan di tengah ekspansi proyek pangan, bioenergi, dan pembukaan hutan berskala besar. Film ini mengambil latar antara lain di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, dengan perhatian pada masyarakat adat yang mempertahankan tanah leluhur, hutan, sumber pangan tradisional, serta identitas budaya mereka dari tekanan proyek pembangunan. Metafora “babi” digunakan sebagai hewan yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan spiritual bagi masyarakat Papua, terkait dengan ritus, relasi sosial, martabat, dan tatanan hidup komunal. Karena itu, ketika tanah dan hutan hilang, yang terancam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga sistem makanan masyarakat adat. Fakta tentang pembubaran, pembatasan, dan pelarangan pemutaran film ini di sejumlah daerah karena dianggap mengganggu kondusivitas menunjukkan betapa sulitnya membuka ruang percakapan tentang Papua, bahkan ketika medium yang digunakan adalah film dan diskusi publik. Ilmuwan poskolonial Gayatri Chakravorty Spivak dalam karyanya Can the Subaltern Speak? (2009) bertanya, apakah kelompok tertindas (subaltern) dapat diberi ruang untuk berbicara? Masalahnya bukan bahwa subaltern sepenuhnya bisu. Tapi ketika mereka berbicara, suara mereka sering diterjemahkan, disaring, dicurigai, atau bahkan diambil alih oleh pihak lain. Dalam konteks Papua, pertanyaan Spivak bisa diajukan secara tajam: dapatkah masyarakat adat Papua berbicara tentang dirinya sendiri? Atau, setiap kali mereka berbicara, suara itu harus terlebih dahulu melewati sensor negara, bahasa pembangunan, kepentingan investasi, kecurigaan keamanan, dan prasangka publik? Suarapapua.com adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik. Nyatanya, selama ini Papua lebih sering hadir dalam percakapan nasional melalui suara orang lain. Negara berbicara tentang Papua sebagai wilayah pembangunan, korporasi berbicara tentang Papua sebagai ruang investasi, dan aparat berbicara sebagai wilayah keamanan, sementara media sering berbicara tentang Papua hanya ketika ada konflik. Di antara semua suara itu, suara masyarakat adat sendiri kerap terselip sebagai kutipan pendek, atau sekadar latar manusiawi dari cerita besar yang sudah ditentukan sebelumnya. Inilah yang disebut Spivak sebagai bentuk kekerasan epistemik, yakni kekerasan yang tidak selalu bekerja melalui senjata atau paksaan fisik, tetapi melalui penghapusan cara mengetahui, cara mengalami, dan cara menjelaskan dunia. Dalam konteks itu, kehadiran film Pesta Babi dianggap mengganggu karena berusaha mengembalikan pertanyaan-pertanyaan tentang Papua ke ruang publik. Film ini memaksa penonton melihat Papua dari orang-orang yang hidup bersama tanah, dari hutan yang bukan sekadar objek ekonomi, dari babi yang bukan sekadar ternak, dari kecemasan warga tentang masa depan anak-anak mereka. Dengan kata lain, film ini mencoba menggeser Papua dari objek representasi menjadi subjek kesaksian. Karena itu, ketika ruang pemutaran film dibatasi, sesungguhnya yang dihentikan adalah kemungkinan untuk mendengar kesaksian yang tidak nyaman. Jika film dokumenter tentang Papua saja dianggap mengganggu kondusivitas, maka yang sedang rapuh bukan hanya kebebasan berekspresi, melainkan juga imajinasi demokratis kita. Kita ingin Papua masuk dalam pembangunan nasional, tetapi tidak selalu siap mendengar Papua ketika dirinya berbicara dengan bahasanya sendiri. Spivak mengingatkan bahwa tindakan mewakili kelompok tertindas (seperti yang dilakukan Dandhy dan Cypri) selalu mengandung risiko. Bahkan pembelaan atas nama mereka bisa berubah menjadi pengambilalihan suara, jika tidak berhati-hati. Karena itu, tugas publik adalah memperbesar ruang agar Papua dapat berbicara sendiri, dengan istilah mereka sendiri, tentang luka, harapan, tanah, hutan, dan masa depan mereka sendiri. Sesungguhnya, Pesta Babi tidak perlu dibaca sebagai ancaman bagi negara, melainkan sebagai cermin bagi negara. Film ini juga bukan propaganda anti-pembangunan, tapi undangan untuk memeriksa kembali apakah pembangunan masih memiliki telinga untuk mendengar suara kelompok-kelompok yang terpinggirkan dalam narasi besar pembangunan. Sebab, ketika Papua berbicara tetapi ruang dengarnya dibubarkan, masalahnya bukan pada Papua. Masalahnya ada pada bangsa yang terlalu sering mengaku mencintai Papua, tetapi belum sepenuhnya bersedia mendengarkan ceritanya.
Mulai dari Fakultas Teknik hingga Ilmu Kesehatan, Intip Rincian Biaya Studi Semester UMM Tahun 2026

MALANG, RADAR MALANG – Musim maba tidak hanya dirasakan oleh kampus negeri, akan tetapi jajaran kampus swasta di Kota Malang juga ikut merasakan suasananya. UMM merupakan salah satu kampus swasta Islam yang menyediakan beberapa program studi Sarjana (S1) dengan akreditasi unggul. Selain itu, penting untuk mengetahui Biaya Studi Semester (BSS) tiap jurusan yang ingin kalian ambil. Sebab, hal ini bisa menjadi skema kalian untuk persiapan finansial selama berkuliah di UMM. Berikut adalah rincian BSS dari FT, FEB, dan Fakultas Pertanian-Peternakan, dan Fakultas Psikologi, dan FIKES: Fakultas /Program Studi BSS Semester 1 BSS Semester II-VII BSS Semester II-VIII Gelombang I Gelombang II FAKULTAS TEKNIK Teknik Mesin 9.450.000 11.300.000 10.050.000 5.850.000 Teknik Sipil 9.450.000 12.300.000 10.050.000 5.850.000 Teknik Elektro 9.450.000 11.300.000 10.050.000 5.850.000 Teknik Industri 9.450.000 11.300.000 10.050.000 5.850.000 Informatika 10.500.000 14.000.000 11.100.000 6.300.000 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS Manajemen 11.550.000 14.700.000 12.150.000 7.500.000 Akuntansi 9.600.000 11.900.000 10.200.000 5.850.000 Ekonomi Pembangunan 8.700.000 11.300.000 9.300.000 5.850.000 FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN Agroteknologi 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 Agribisnis 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 Teknologi Pangan 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 Kehutanan 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 Peternakan 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 Akuakultur 7.800.000 9.200.000 8.400.000 5.625.000 FAKULTAS PSIKOLOGI Psikologi 10.050.000 13.200.000 10.650.000 6.300.000 Psikologi Internasional 16.950.000 16.950.000 16.800.000 16.800.000 FAKULTAS HUKUM Hukum 10.050.000 13.200.000 10.650.000 6.300.000 FAKULTAS ILMU KESEHATAN Ilmu Keperawatan **) 17.350.000 19.600.000 16.050.000 12.300.000 Fisioterapi **) 15.700.000 17.700.000 14.400.000 11.100.000 Her + BSS Semester I BSS Semester II – III BSS Semester IV – VIII Gelombang I Gelombang II Farmasi 31.100.000 34.600.000 29.100.000 16.500.000 Adapun beberapa keterangan tambahan, meliputi: Biaya KKN, Magang, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda dibayarkan tersendiri. Semester lanjut D-3 dimulai di Semester VII dan Program S-1 dimulai Semester IX (kecuali Kedokteran dimulai Semester VIII). Farmasi, Kedokteran dan Psikologi Internasional BSS Semester I sudah termasuk Biaya Paket Daftar Ulang Mata Uang yang digunakan adalah IDR (Rp). *) Mulai 1 Agustus 2026 Camaba Gelombang II dikenai kenaikan BSS. **) Tambahan Biaya Seragam di BSS Semester I. BSS dapat dibayarkan tiga kali tiap semester yaitu: Angsuran ke-1 (saat KRS), Angsuran ke-2 (menjelang UTS) dan Angsuran ke-3 (menjelang UAS). BSS-I Angsuran ke-1 dibayarkan saat Daftar Ulang (Her-Registrasi).
Ribuan Jamaah Padati Helipad UMM, Khotbah iduladha Sentil Isu Sampah Makanan dan Krisis Ekologi

pwmu.co – Ribuan jamaah memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang dalam pelaksanaan salat iduladha 1447 Hijriah, Selasa (27/5/2026).Di tengah ancaman krisis iklim dan meningkatnya persoalan sampah makanan di Indonesia, momentum iduladha di Kampus Putih tidak hanya dimaknai sebagai ritual penyembelihan hewan Kurban, tetapi juga menjadi refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan gaya hidup konsumtif yang dinilai merusak tatanan bumi. Khotbah iduladha Soroti Krisis Sampah dan Lingkungan Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Achmad Jainuri, M.A., menegaskan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan secara berlebihan dan terjebak dalam pola hidup jangka pendek. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah, kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkorban yang ditanamkan harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Menurut Jainuri, ibadah Kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam sejatinya mampu mengembalikan kejayaan peradaban apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme dan meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan untuk menciptakan kebaikan dan melestarikan keseimbangan tatanan kehidupan di alam ini dengan menyingkirkan rintangan serta kesulitan yang ada pada diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan pesan tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., mengaitkan nilai pengorbanan dengan dedikasi di dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa mencetak generasi unggul membutuhkan kerja keras yang dilandasi ketauhidan dan kasih sayang, sekaligus menolak praktik keberagamaan yang hanya mengandalkan slogan. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sangat sejalan dengan fungsi perguruan tinggi agar memberikan dampak langsung, kemanfaatan kepada masyarakat luas, yakni kampus UMM sebagai solution center of excellence,” ungkap Juanda. Perayaan iduladha di UMM tahun ini membawa pesan bahwa penyembelihan hewan Kurban hanyalah bagian awal dari makna pengorbanan yang sesungguhnya. Masyarakat diajak untuk secara konsisten “menyembelih” sifat rakus, egois, dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, UMM berharap masyarakat mampu membangun peradaban unggul yang membawa rahmat bagi semesta sekaligus menghadirkan solusi nyata atas berbagai krisis zaman. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Khotbah Idul Adha di UMM, Prof Achmad Jainuri Sentil Gaya Hidup Konsumtif Masyarakat Modern

KLIKMU.CO – Di tengah ancaman krisis iklim dan persoalan sampah makanan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia, momen Idul Adha tidak lagi sekadar ritual penyembelihan hewan. Pesan kuat mengenai kepedulian ekologis menggema saat ribuan jamaah Shalat Idul Adha 1447 H memadati area Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (27/5/2026). Ibadah ini menjadi momentum refleksi kolektif untuk menyembelih egoisme dan sifat konsumtif yang merusak tatanan bumi. Bertindak sebagai khatib, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Achmad Jainuri MA mengingatkan bahwa setiap ibadah dalam Islam memiliki implikasi sosial yang luas, termasuk kewajiban menjaga kelestarian alam. Dia menyoroti ironi masyarakat modern yang kerap membuang makanan dan terjebak gaya hidup konsumtif, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia. “Kuliner berlebih hanya akan terbuang di tempat sampah. Kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia termasuk salah satu penghasil sampah terbesar di dunia. Semangat berkurban harus dimaknai sebagai upaya menyembelih kebiasaan yang tidak baik dan merusak lingkungan,” tegasnya. Lebih jauh, Jainuri menjelaskan bahwa kurban merupakan simbol pengorbanan yang menjadi fondasi kebangkitan peradaban. Ia menilai umat Islam mampu mengembalikan kejayaan masa lalu apabila bersedia menyingkirkan egosentrisme yang menghambat kepedulian terhadap sosial dan lingkungan. “Tiada perjuangan tanpa pengorbanan, dan tiada pengorbanan tanpa halangan. Teladan Nabi Ibrahim dimanifestasikan dalam perjuangan menciptakan kebaikan dan menjaga keseimbangan kehidupan dengan menyingkirkan rintangan dalam diri kita sendiri,” paparnya. Sejalan dengan itu, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA mengaitkan nilai pengorbanan dengan dunia pendidikan. Dia menegaskan bahwa pencetakan generasi unggul membutuhkan kerja keras berbasis ketauhidan dan kasih sayang, bukan sekadar slogan keagamaan tanpa dampak nyata. “Keislaman bukan terletak pada kerasnya suara dan panjangnya slogan religius, melainkan pada kemampuan menghadirkan kemanfaatan sosial. Ini sejalan dengan fungsi perguruan tinggi sebagai solution center of excellence,” ungkapnya. Perayaan Idul Adha di Kampus Putih ini meninggalkan pesan esensial bagi umat manusia. Menyembelih hewan kurban hanyalah awal, sementara ujian sesungguhnya adalah kemampuan menahan sifat rakus dan ketidakpedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. Melalui integrasi kesalehan ritual, pendidikan, dan kepedulian ekologis, diharapkan lahir peradaban unggul yang menebar rahmat bagi semesta. (Faqih/AS)
UMM Konsisten Terapkan Go Green Dalam Penyaluran Ribuan Paket Kurban

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui program Kurban berkonsep go green pada perayaan iduladha 1447 Hijriah. Selama enam tahun terakhir, Kampus Putih konsisten meninggalkan penggunaan plastik sekali pakai dalam distribusi daging Kurban. Pada tahun ini, lebih dari 2.500 paket daging Kurban dibagikan menggunakan kemasan tradisional berupa besek bambu yang dialasi daun segar dan diikat menggunakan tali serabut kelapa. Langkah tersebut menjadi jawaban atas persoalan tumpukan sampah plastik yang kerap muncul setiap momentum iduladha. UMM Tinggalkan Kantong Kresek demi Kelestarian Lingkungan Ketua Panitia Kurban 1447 H UMM, Dr. Yasin Kusumo Pringgodigdo, S.Pd.I., M.H.I., menjelaskan bahwa panitia memastikan tidak ada penggunaan kantong kresek hitam yang berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Menurutnya, esensi ibadah Kurban tidak hanya sebatas meraih ketakwaan kepada Allah, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian alam dan peradaban. “Alhamdulillah, kita senantiasa mengusung go green. Jadi, spirit kurban bukan hanya untuk meraih takwa, tapi juga menjaga peradaban dan kelestarian lingkungan,” tegasnya kepada Humas UMM, Selasa (27/5/2026). Penyelenggaraan Kurban tahun ini juga mencatat peningkatan jumlah hewan dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu terdapat 18 ekor sapi, tahun ini UMM menyiapkan 20 ekor sapi serta sejumlah kambing yang dipastikan dalam kondisi sehat dan tanpa cacat. Distribusi daging Kurban dilakukan tidak hanya untuk lingkungan internal kampus dan masyarakat sekitar, tetapi juga disalurkan ke Lapas Perempuan dan Lapas Laki-laki Malang. Selain itu, UMM turut mendistribusikan enam ekor sapi hidup ke wilayah Sumbawa. Untuk memastikan pembagian berlangsung adil dan merata, panitia menerapkan sistem penghitungan berdasarkan persentase karkas dan daging murni dari total bobot sapi. “Kami memilih sapinya sesuai dengan bobot. Ketika di sini butuh distribusi atau internal sebanyak 200 atau 150 paket, kita ambil sapi yang berbobot 500 kilogram. Jadi kita menyembelih sapi berdasarkan timbangan, bukan sekadar estimasi atau asumsi,” imbuhnya. Paket daging yang dibagikan memiliki takaran bervariasi, mulai dari 0,75 kilogram hingga 1 kilogram daging murni yang dilengkapi tulang dan jeroan. Kesuksesan distribusi ribuan paket daging ramah lingkungan tersebut merupakan hasil sinergi dosen, karyawan, panitia inti, tim teknis, relawan mahasiswa, hingga 12 Juru Sembelih Halal (Juleha). Yasin menjelaskan, seluruh proses pengemasan dikawal secara ketat agar tetap higienis, alami, dan sejalan dengan misi pelestarian lingkungan kampus. “Pakai besek, dialasi daun go green, kemudian talinya pakai tali serabut,” tambahnya. Momentum iduladha di UMM tahun ini dinilai menghadirkan pesan moral yang kuat bagi masyarakat luas. Melalui konsep Kurban go green, UMM membuktikan bahwa ibadah ritual keagamaan dapat berjalan harmonis dengan tanggung jawab sosial dan ekologis. Inovasi penggunaan besek bambu diharapkan mampu menginspirasi instansi maupun masyarakat umum untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai demi menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria